Jumat, 23 Januari 2009

kepuasan dalam selingkuh

Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat, Namun lama-kelamaan Dewi salah satu staffku yang agak manis malah penasaran dan bertanya lebih jauh tentang orgasme. Ya sebuah misteri yang kelihatannya mudah namun susah diungkapkan.

Memang banyak sekali wanita yang belum sadar akan arti pentingnya sebuah orgasme, bahkan menurut penelitian hanya 30% wanita yang dapat meraih orgasme, banyak hal-hal yang mempengaruhi wanita dalam meraih orgasme, baik dari faktor si wanitanya ataupun dari faktor prianya atau bahkan dari suasana, perasaan, dll. Termasuk Dewi salah satu staffku ini, selama menikah 2 tahun lalu, dia belum tahu apa itu orgasme, yang dia tahu hanya rasa enak saat penis suaminya memasuki kewanitaannya, Dan berakhir saat penis suaminya menyemprotkan cairan hangat kedalam kewanitaannya.

Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lalu aku korek lebih jauh tentang perasaan, foreplay, gaya, waktu, dan lain-lain tentang hubungannya dengan suaminya, Dengan malu-malu Dewi pun menceritakan dengan jujur bahwa selama ini memang dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya orgasme namun dia tak tahu harus bagaimana, yang jelas saat berhubungan dengan suaminya dia cukup foreplay, bahkan suaminya senang mengoral kewanitaannya sampai banjir, dan selama penis suaminya masuk sama sekali tidak ada rasa sakit, yang ada hanya enak saja namun tidak bertepi, rasanya menggantung tidak ada ujung, dan tahu-tahu sudah berakhir dengan keluarnya sperma suaminya ke dalam kewanitaannya.

“Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?” tanyaku.
“Mungkin sekitar 10 menit” jawabnya pasti.
“Gaya apa yang dipakai suami kamu?”
“Macam-macam, Pak, malah sampai menungging segala”
Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang polos.
“Kira-kira berapa besar penis suami kamu?”
“Berapa ya?, saya tidak tahu Pak!” jawabnya bingung.
Akupun jadi bingung dengan jawabannya, tapi aku ada tidak kekurangan akal.
“Waktu kamu genggam punya suami kamu pakai tangan, masih ada lebihnya tidak?”
Dewi diam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat.
“Kayanya masih ada lebih, pas kepalanya, Pak!”
Aku tak dapat menahan senyumku.
“Maksud kamu, ‘helm’nya masih nongol?”
“Ya!” Dewipun tersenyum juga.

Aku suruh tangannya menggenggam, aku pandangi secara seksama tangannya yang sedang mengepal, yang berada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Namun aku sadar bahwa aku ditempat umum.
“Aku perkirakan penis suami kamu berukuran 10-14 cm, berarti masih normal, Wi!”
“Bagaimana dengan kekerasannya?” tanyaku lagi.
“Keras sekali, Pak, seperti batu!”

Aku diam sejenak mencoba berfikir tentang penghambatnya meraih orgasme, sebab dari pembicaraan tadi sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Dewi tidak bisa meraih orgasmenya?

“Kok diam Pak?”
“Aku lagi mikir penyebabnya.”
“Apa mungkin masalah lamanya, Pak? Sebab sepertinya saya sedikit lagi mau mencapai ujung rasa enak, tapi suami saya keburu keluar” terangnya.
Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya, tapi tak lama Dewi sendiri membantahnya.
“Tapi, tidak mungkin kali, Pak, sebab biarpun kadang lebih lama dari sepuluh menit, tapi tetap saya merasa hampir di ujung terus, tanpa pernah terselesaikan.”
Aku sedikit mengerti maksudnya,
“Maksud kamu, kalau 10 menit kamu maunya semenit lagi? Namun kalau 12 menit atau 15 menit pun kamu maunya tetap semenit lagi?” tanyaku.
“Ya, betul, kenapa ya Pak?”
Aku kini mulai mengerti posisi sebenarnya, kemungkinan besar ada titik dalam vaginanya yang belum tersentuh secara maksimal, Itu kesimpulan sementara, Namun aku belum sempat mengucapkan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis.
“Ya udah Wi, nanti kita terusin via SMS, oke?”
“Oke deh!” sahutnya riang sambil meninggalkan aku.

Di meja kerjaku, aku kembali memikirkan benar-benar masalah yang Dewi hadapi, sebenarnya ada niat untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena setelah aku pikir-pikir Dewi punya kelebihan di Buah dada dan pantatnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan bulu-bulu halus, Namun Dewi akrab dengan istriku, dan aku sendiri kenal sudah lama dengannya dan suaminya, ini yang jadi masalah, Lama aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menolongnya semampuku tanpa mengharapkan apapun darinya, Aku yakin aku bisa membantunya berbekal pada pengalamanku selama ini.

Aku kirim SMS kepadanya, “Wi, Sepertinya masalah kamu agak kompleks, Kalau sempat, bisa tidak nanti pulang kerja kita cari tempat yg enak utk mengobrol?”
5 menit aku tunggu belum ada jawaban juga, Aku jadi tegang sendiri, jangan-jangan dia marah, karena aku dianggap kurang ajar, Tapi untunglah tak lama HPku bergetar 2x pertanda SMS masuk, Aku langsung lihat pengirimnya Dewi, aku baca isinya.
“Boleh, tapi jangan di tempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya”
Aku tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lalu aku balas kembali,
“Wi, jangan salah tangkap ajakanku ya.. aku cuma tidak enak saja kalau kita terlalu mencolok, karena kamu istri orang & aku suami orang juga”

Singkat kata Pukul 5 sore kami janjian ketemu di sebuah rumah makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Suasana rumah makan yang agak temaram menambah rileks obrolan kami, Sambil makan kami melanjutkan obrolan kami yang tadi siang, Aku utarakan kesimpulan sementaraku bahwa ada kurang sentuhan di area vaginanya, aku sarankan agar nanti malam mencari titik tersebut dan jika sudah ketemu aku suruh Dewi meminta kepada suaminya untuk menekan lebih kuat saat hubungan intim, Dewi mengangguk mengerti.

“Menurut Bapak, apakah body saya cukup bagus?”
Tiba-tiba saja Dewi bertanya seperti itu. Aku kaget mendengarnya, berarti kemungkinan Dewi kurang percaya diri dengan tubuhnya, dan menurut yang aku tahu ini sangat berbahaya untuk meraih orgasme.
“Wi, dalam sebuah hubungan intim, Jangan merasa body kamu jelek atau vagina kamu tidak wangi atau buah dada kamu jelek atau apa saja yang menurut kamu negatif, itu faktor yang sangat penting dalam meraih orgasme, Ingat Wi, kalau tubuh kamu tidak bagus kan tidak mungkin suami kamu mau mencumbu kamu, dan mau berhubungan dengan kamu!”
“Justru kamu harus berfikir bahwa wajah dan tubuh kamu sangat bagus, buktinya suami kamu minta melulu, kan?”
“Tapi, saya tidak nyaman dengan perut saya yang tidak ramping”
“Wi, yang lebih gendut dari kamu banyak, ingat itu, lagian menurutku perut kamu tidak terlalu gendut, Biasa saja!” jawabku tegas.
“Pokoknya malam ini, kamu coba untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu, dan saat ada sentuhan nikmat yang kamu bilang tidak berujung, suruh suami kamu menekannya lebih kuat, itu saja dulu, besok aku tunggu kabarnya!”
Aku jadi terkesan menyuruh, mungkin karena dikantor Dewi bawahanku, sehingga menjadi kebiasaan. Karena waktu sudah menunjukan jam 19.00 kami pun pulang ke rumah masing-masing, aku antar Dewi sampai tempat dia biasa menunggu angkot.

Keesokan paginya, Aku baru saja ngopi dan HP baru aku aktifkan, Sudah ada pesan dari Dewi, bunyinya singkat, “Belum berhasil, Pak!”.
Aku lihat dikirim jam 23.10 malam, berarti kemungkinan Dewi mengirimnya saat baru selesai berhubungan dengan suaminya.
Sampai dikantor aku baru membalas SMSnya.
“Memang kenapa?”
Tak lama Dewi pun membalasnya.
“Tidak tahu kenapa, apa nanti sore kita bisa ketemu lagi, Pak?, saya merasa nyaman mengobrol dengan Bapak.”

Aku berfikir tentang arti pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau hanya perasaanku saja? Atau memang dia hanya ingin mengobrol saja? Sebagai lelaki jelas aku tidak mungkin menampiknya, Sorenya kami janjian di tempat yang kemaren, dan ungkapan Dewi yang jujur sangat mengagetkanku.
“Pak, terus terang, keinginan saya untuk meriah orgasme jadi tambah kuat, tapi herannya malah saya inginnya dari Bapak, Entahlah saya yakin sekali saya bisa meraihnya bersama Bapak”
Jantungku terasa berhenti berdetak mendengarnya, belum selesai aku menenangkan pikiranku, Dewi kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Tapi bukan berarti saya ingin berhubungan dengan Bapak lho, saya hanya ingin tahu kenapa perasaan saya begini?”
Aku hanya diam, namun aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa kemungkinan Dewi terkesan dengan aku karena aku atasannya, bisa saja dia tanpa sadar kagum dengan cara kerjaku, atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan, Karena kalau secara fisik tidak mungkin, jauh lebih ganteng dan atletis suaminya dari pada aku.
Namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya.

Suasana hening diantara kami beberapa saat, tapi tiba-tiba saja tangan Dewi meraih tanganku,
“Pak.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya
Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Aku balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya,
“Wi, Bagaimana kalau kita diskusi langsung dengan praktek untuk meraih orgasme kamu?” suaraku terasa agak bergetar, mungkin agak canggung.
“Terserah Bapak deh” jawabnya manja sambil mencubit tanganku.

Pucuk dicinta ulampun tiba, aku segera membayar makanan kami dan langsung menuju hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah sampai di kamar hotel yang asri, Kami lamgsung mulai.. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya,

Masih dalam keadaan berpakaian, aku memeluk tubuh Dewi yang padat, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat Dewi, aku rebahkan tubuh mulusnya di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya apalagi di kemaluannya yang begitu lebat menghitam. Aku langsung mengelus buah dadanya yang padat dengan lembut, sementara mulut dan lidahku menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati,
“Tubuh kamu bagus sekali, Wi!” Aku mencoba memberinya rasa percaya diri.

Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat, Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme.

Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya,
Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku.
“Terima kasih, Pak” ia mencium keningku.
“Saya masih mau lagi” ucapnya serak.

Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih orgasme, Dewi begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Dewi bisa meraih orgasmenya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah orgasme tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan orgasmeku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam spermaku, sentuhan buah pantatnya di pangkal senjataku menambah sensasi tersendiri.

“Wi, aku mau keluar, di dalam atau di luar?” sambil aku mempercepat kocokanku.
“Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!” erangnya.
Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Dewi yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam liang vagina Dewi.
Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali.

Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Dewi kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya istriku sekali orgasme tidak bisa lagi orgasme, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Dewi.

Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan istriku dan Dewi dengan suaminya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Dewi yang tidak bisa aku lupakan, Vaginanya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Dewi sendiri pun jelas sangat membutuhkan orgasme dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan suaminya, entahlah sampai kapan..

E N D

tetangga idaman

Kurasa tidak perlu aku ceritakan tentang nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat puluh tahun, kalau dipikir-pikir seharusnya aku sudah punya anak, karena aku sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya. Walaupun aku tidak begitu ganteng, aku cukup beruntung karena mendapat isteri yang menurutku sangat cantik. Bahkan dapat dikatakan dia yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menimbulkan kecemburuan para tetanggaku.

Isteriku bernama Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu keinginan sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang-kadang pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melakukan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin karena belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.

Kegilaan ini dimulai saat hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin karena isteriku yang supel, sehingga cepat akrab dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, woow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila adalah bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.

Mereka pun sama seperti kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini karena tugas baru suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang baru membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami seperti saudara saja karena hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.

Pada suatu malam, saya seperti biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya baru dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak karena selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.

“Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!”
“Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak bisa dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian.” katanya menyebut isteriku.
Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya aku pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.

“Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?” kata isteriku ketika kuajak.
Akhirnya aku malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan langsung tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya aku tidak bertemu Agus, karena sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya aku hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika aku lewat, dia menanyaiku tentang yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga aku langsung saja tidur.

Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang sejak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, aku kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya kalau sudah begini aku langsung menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin karena sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa adalah pagi ini aku benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku seperti kesetanan. Kemaluan Resty kujilati sampai tuntas, bahkan kusedot sampai isteriku menjerit. Edan, kok aku sampai segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.

Isteriku sampai terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty langsung memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan saat itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.
“Mas.., sekarang Mas..!” pinta isteriku memelas.
Akhirnya aku mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.

Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, “Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?”
Aku diam saja karena malu mengatakan bahwa sebenarnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini.

Sorenya Agus datang ke rumahku, “Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?” tanyanya setelah kami berbasa-basi.
“Maksudmu apa Gus..?” tanyaku heran.
“Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi dia melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya.”
Loh, aku heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, baru kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
Agus langsung menambahkan, “Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas.” katanya tanpa malu-malu.

“Begini saja Mas,” tanpa harus memahami perasaanku, Agus langsung melanjutkan, “Aku punya ide, gimana kalau nanti malam kita bikin acara..?”
“Acara apa Gus..?” tanyaku penasaran.
“Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?”
“Pesta apaan..? Gila kamu.”
“Pokoknya tenang aja Mas, kamu cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?”

Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol tentang masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak aneh kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.

Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, aku mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa seperti menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan aku menelanjanginya. Sesaat aku merasa bersalah, kenapa aku melakukan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.

Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya aku sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.

Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
“Kegilaan apa lagi ini..?” batinku.
Seolah-olah Agus mengerti, karena selalu saya perhatikan menawarkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan mulut terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seolah-olah tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus.

Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan badan yang sedikit gemetar karena memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya aku lah yang melakukannya.

Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati daerah kemaluan Rini. Kuelus bagian itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan bagian tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bagian yang berada di antara kedua paha Rini ini.

“Peluklah aku Mas, tolonglah Mas..!” erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya.
Tetapi aku tidak melakukannya. Aku ingin memberikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bagian tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna. Biasanya aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.

Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, mulut kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
“Sshh.., akh..!” Rini menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis.

Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bagian putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara aku berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan dia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.

Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir aku tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan seperti ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku seperti membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seolah-olah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.

Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, dia melenguh hebat hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian aku sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku seperti terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya aku segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.

Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar supaya aku dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan-lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini.
Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, “Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!”
Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika aku melakukannya. Mungkin karena selama ini aku hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun seperti megap-megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat-kuatnya hingga Rini berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seolah-olah tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang adalah sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini.

Luar biasa kemaluan Rini ini, seperti ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya seperti lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat dia berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, karena selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat karena membungkuk.

Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini.

Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa aku menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.

Segera aku mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya aku menindihnya sambil menekuk kedua kakinya sampai kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini.

Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang seperti akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari mulut Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat-kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.

Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat kuat dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya.

Perlahan-lahan otot-ototku mengendur, dan akhirnya kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan aku pun merasakan kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu-malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.

Hingga saat ini peristiwa itu masih jelas dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berhubungan lewat telepon. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan aku tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja..

TAMAT

IBU MAYA

Setelah tamat dari SMU, aku mencoba merantau ke Jakarta. Aku berasal dari keluarga yang tergolong miskin. Di kampung orang tuaku bekerja sebagai buruh tani. Aku anak pertama dan memiliki dua orang adik perempuan, yang nota bene masih bersekolah.

Aku ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMU. Dalam perjalanan ke Jakarta, aku selalu terbayang akan suatu kegagalan. Apa jadinya aku yang anak desa ini hanya berbekal Ijazah SMU mau mengadu nasib di kota buas seperti Jakarta. Selain berbekal Ijazah yang nyaris tiada artinya itu, aku memiliki keterampilan hanya sebagai supir angkot. Aku bisa menyetir mobil, karena aku di kampung, setelah pulang sekolah selalu diajak paman untuk narik angkot. Aku menjadi keneknya, paman supirnya. Tiga tahun pengalaman menjadi awak angkot, cukup membekal aku dengan keterampilan setir mobil. Paman yang melatih aku menjadi supir yang handal, baik dan benar dalam menjalankan kendaraan di jalan raya. Aku selalu memegang teguh pesan paman, bahwa : mengendarai mobil di jalan harus dengan sopan santun dan berusaha sabar dan mengalah. Pesan ini tetap kupegang teguh.

Di Jakarta aku numpang di rumah sepupu, yang kebetulan juga bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan Pulo Gadung. Kami menempati rumah petak sangat kecil dan sangat amat sederhana. Lebih sederhana dari rumah type RSS ( Rumah Susah Selonjor). Selain niatku untuk bekerja, aku juga berniat untuk melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Dua bulan lamanya aku menganggur di Jakrta. Lamar sana sini, jawabnya selalu klise, " tidak ada lowongan ".

Pada suatu malam, yakni malam minggu, ketika aku sedang melamun, terdengar orang mengucap salam dari luar. Ku bukakan pintu, ternya pak RT yang datang. Pak RT minta agar aku sudi menjadi supir pribadi dari sebuah keluarga kaya. Keluarga itu adalah pemilik perusahaan dimana pak RT bekerja sebagai salah seorang staff di cabang perusahaan itu. Sepontan aku menyetujuinya. Esoknya kami berangkat kekawasan elite di Jakarta. Ketika memasuki halaman rumah yang besar seperti istana itu, hatiku berdebar tak karuan. Setelah kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama kemudian muncul seorang wanita yang tampaknya muda. Kami memberi hormat pada wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, karena ketika dia datang, sepontan aku dan pak RT berdiri memberi salam " selamat pagi". Pak RT dipersilahkan kembali ke kantor oleh wanita itu, dan diruangan yang megah itu hanya ada aku dan dia si wanita itu.

" Benar kamu mau jadi supir pribadiku ? " tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya. " Iya Nyonya, saya siap menjadi supir nyonya " Jawabku. " jangan panggil Nyonya, panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya " Sergahnya halus. Aku mengangguk setuju. " Kamu masih kuliah ?" " Tidak nyonya eh…Bu ?!" jawabku. " Saya baru tamat SMU, tapi saya berpengalaman menjadi supir sudah tiga ahun" sambungku.

Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku hingga aku jadi slah tingkah. Diperhatikannya aku dari atas samapi kebawah. " kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa mau jadi supir ?" tanyanya. " Saya butuh uang untuk kuliah Bu " jawabku. " Baik, saya setuju, kamu jadi supir saya, tapi haru ready setiap saat. gimana, okey ? " " Saya siap Bu." Jawabku. " Kamu setiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness, setelah itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian setelah sore, kamu boleh pulang, gimana siap ? " " Saya siap Bu" Jawabku. " Oh..ya, siapa namamu ? " Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Sepontan aku menyambut dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman. " Saya Leman Bu, panggil saja saya Leman " Jawabku. " Nama yang bagus ya ? tau artinya Leman ? " Tanyanya seperti bercanda. " Tidak Bu " Jawabku. " Leman itu artinya Lelaki Idaman " jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku. Aku tersenyum sambil tersipu. lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jika aku bakal mendapat majikan seramah dan se santai Ibu Maya. Aku mencoba juga untuk bergurau, kuberanita diri untuk bertanya pada beliau. " Maaf, Bu. jika nama Ibu itu Maya, apa artinya Bu ? " " O..ooo, itu, Maya artinya bayangan, bisa juga berarti khayalan, bisa juga sesuatu yang tak tampak, tapi ternyata ada.Seperti halnya cita-citamu yang kamu anggap mustahil ternyata suatu saat bisa kamu raih, nah,,,khayalan kamu itu berupa sesuiatu yang bersifat maya, ngerti khan ? " Jawabnya serius. Aku hanya meng-angguk-angguk saja sok tahu, sok mengerti, sok seperti orang pintar.

Jika kuperhatikan, body Ibu Maya seksi sekali, tubuhnya tidak trlampau tinggi, tapi padat berisi, langsing, pinggulnya seperti gitar sepanyol. Ynag lebih, gila, pantatnya bahenol dan buah dadanya wah…wah…wah…puyeng aku melihatnya.

Dirumah yang sebesar itu, hanya tinggal Ibu Maya, Suaminya, dan dua putrinya, yakni Mira sebagai anak kedua, dan Yanti si bungsu yang masih duduk di kelas III SMP, putriny yang pertama sekolah mode di Perancis. Pembantunya hanya satu, yakni Bi Irah, tapi seksinya juga luar biasa, janda pula !

Ibu Maya memberi gaji bulanan sangat besar sekali, dan jika difikir-fikir, mustahil sekali. Setelah satu tahu aku bekerja, sudah dua kali dia menaikkan agjiku, Katanya dia puas atas disiplin kerjaku. Gaji pertama saja, lebih dari cukup untuk membayar uang kuliahku. Aku mengambil kuliah di petang hari hingga malam hari disebuah Universitas Swasta. Untuk satu bulan gaji saja, aku bisa untuk membayar biaya kuliah empat semster, edan tenan….sekaligus enak…tenan….!!! dasar rezeki, tak akan kemana larinya.

Masuk tahun kedua aku bekerja, keakraban dengan Ibu Maya semakin terasa. Setelah pulang Fitness, dia minta jalan-jalan dulu. Yang konyol, dia selalu duduk di depan, disebelahku, hingga terkadang aku jadi kagok menyetir, eh…lama lama biasa.

Disuatu hari sepulang dari tempat Fitnes, Ibu Maya minta diatar keluar kota. Seperti biasa dia pindah duduk ke depan. Dia tak risih duduk disebelah supir pribadinya. Ketika tengah berjalan kendaraan kami di jalan tol jagorawi, tiba-tiba Ibu maya menyusuh nemepi sebentar. Aku menepi, dan mesin mobil BMW itu kumatikan. Jantungku berdebar, jangan-jangan ada kesalahan yang aku perbuat.

" Man,?, kamu sudah punya pacar ? " Tanyanya. " Belum Bu " Jawabku singkat. " Sama sekali belum pernah pacaran ?" " Belum BU, eh…kalau pacar cinta monyet sih pernah Bu, dulu di kampung sewaktu SMP" " Berapa kali kamu pacaran Man ? sering atau cuma iseng ?" tanyanya lagi. Aku terdiam sejenak, kubuang jauh-jauh pandanganku kedepan. Tanganku masih memegang setir mobil. Kutarik nafas dalam-dalam. " Saya belum pernah pacaran serius Bu, cuma sebatas cintanya anak yang sedang pancaroba" Jawabku menyusul. " Bagus…bagus…kalau begitu, kamu anak yang baik dan jujur " ujarnya puas sambil menepuk nepuk bahuku. Aku sempat bingung, kenapa Bu Maya pertanyaannya rada aneh ? terlalu pribadi lagi ? apakah aku mau dijodohkan dengan salah seorang putrinya ? ach….enggak mungkin rasanya, mustahil, mana mungkin dia mau punya menantu anak kampung seprti aku ini ?!

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kepuncak, bahkan sampai jalan-jalan sekedar putar-putar saja di kota Sukabumi. Aku heran bin heran, Bu Maya kok jalan-jalan hanya putar-putar kota saja di Sukabumi, dan yang lebih heran lagi, Bu Maya hanya memakai pakaian Fitness berupa celana training dan kaos olah raga. Setelah sempat makan di rumah makan kecil di puncak, hari sudah mulai gelap dan kami kembali meneruskan perjalanan ke Jakarta. Ditengah perjalanan di jalan yang gelap gulita, Bu Maya minta untu berbelok ke suatu tempat. Aku menurut saja apa perintahnya. Aku tak kenal daerah itu, yang kutahu hanya berupa perkebunan luas dan sepi serta gelap gulita. Ditengah kebun itu bu Maya minta kaku berhenti dan mematikan mesin mobil. Aku masih tak mengerti akan tingkah Bu Maya. Tiba-tiba saja tangan Bu Maya menarik lengaku. " Coba rebahkan kepalamu di pangkuanku Man ?" Pintanya, aku menurut saja, karena masih belum mengerti. Astaga….setelah aku merebahkan kepalaku di pangkuan Bu Maya dengan keadaan kepala menghadap keatas, kaki menjulur keluar pintu, Bu Maya menarik kaosnya ketas. Wow…samar-samar kulihat buah dadanya yang besar dan montok. Buah dada itu didekatkan ke wajahku. Lalu dia berkata " Cium Man Cium…isaplah, mainkan sayang …?" Pintanya. Baru aku mengerti, Bu Maya mengajak aku ketempat ini sekedar melampiaskan nafsunya. Sebagai laki-laki normal, karuan saja aku bereaksi, kejantananku hidup dan bergairah. Siapa nolak diajak kencan dengan wanita cantik dna seksi seperti Bu Maya.

Kupegangi tetek Bu Maya yang montok itu, kujilati putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Maya ter engah-engah tak karuan, menandakan nafsu biarahinya sedang naik. Aku masih mengisap dan menjilati teteknya. Lalu bu Maya minta agar aku bangun sebentar. Dia melorotkan celana trainingnya hingga kebawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Maya tampak bugil. Samar-samar oleh sinar bulan di kegelapan itu. " Jilat Man jilatlah, aku nafsu sekali, jilat sayang " Pinta Bu Maya agar aku menjilati memeknya. Oh….memek itu besar sekali, menjendol seperti kura-kura. tampaknya dia sedang birahi sekali, seperti puting teteknya yang ereksi. Aku menurut saja, seperti sudah terhipnotis. Memek Bu Maya wangi sekali, mungkin sewaktu di restauran tadi dia membersihkan kelaminnya dan memberi wewangian. Sebab dia sempat ke toilet untuk waktu yang lumayang lama. Mungkin disana dia membersihkan diri. Dia tadi ke tolilet membawa serta tas pribadinya. Dan disana pula dia mengadakan persiapan untuk menggempur aku. Kujilati liang kemaluan itu, tapi Bu Maya tak puas. Disuruhnya aku keluar mobil dan disusul olehnya. Bu Maya membuka bagasi mobil dan mengambil kain semacam karpet kecil lalu dibentangkan diatas rerumputan. Dia merebahkan tubuhnya diatas kain itu dan merentangnya kakinya. " Ayo Man, lakukan, hanya ada kita berdua disini, jangan sia-siakan kesempatan ini Man, aku sayang kamu Man " katanya setengah berbisik, Aku tak menjawab, aku hanya melakukan perintahnya, dan sedikit bicara banyak kerja. Ku buka semua pakaianku, lalu ku tindih tubuh Bu Maya. Dipeluknya aku, dirogohnya alat kelaminku dan dimasukkan kedalam memeknya. Kami bersetubuh ditengah kebun gelap itu dalam suasana malam yang remang-remang oleh sinar gemintang di langit. Aku menggenjot memek Bu Maya sekuat mungkin. " jangan keluar dulua ya ? saya belum puas " Pintanya mesra. Aku diam saja, aku masih melakukan adegan mengocok dengan gerakan penis keluar masuk lubang memek Bu Maya. Nikmat sekali memek ini, pikirku. Bu Maya pindah posisi , dia diatas, dan bukan main permainannya, goyangnyanya.

" Remas tetekku Man, remaslah….yang kencang ya ?" Pintanya. Aku meremasnya. " Cium bibirku Man..cium ? Aku mencium bibir indah itu dan kuisap lidahnya dalam-dalam, nikmat sekali, sesekali dia mengerang kenikmatan. " Sekarang isap tetekku, teruskan…terus…..Oh….Ohhhh…..Man…Leman…Ohhh…aku keluar Man….aku kalah" Dia mencubiti pinggulku, sesekali tawanya genit. " kamu curang….aku kalah" ujarnya. " Sekarang gilirang kamu Man….keluarkan sebanyak mungkin ya? " pintanya. " Saya sudah keluar dari tadi Bu, tapi saya tetap bertahan, takut Ibu marah nanti " Jawabku. " Oh Ya?…gila..kuat amat kamu ?!" balas Bu Maya sambul mencubit pipiku.

" Kenapa Ibu suka main di tempat begini gelap ?" " Aku suka alam terbuka, di alam terbuka aku bergairah sekali. Kita akan lebih sering mencari tempat seperti alam terbuka. Minggu depan kita naik kapal pesiarku, kita main diatas kapal pesiar di tengah ombak bergulung. Atau kita main di pinggir sungai yang sepi, ah… terserah kemana kamu mau ya Man ?"

Selesai main, setelah kami membersihkan alat vital hanya dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari jiregen di bagasi mobil, kami istirahat. Bu Maya yang sekarang tidur di pangkuanku. Kami ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul. Setelah sekian lama istirahat, kontolku berdiri lagi, dan dirasakan oleh kepala Bu maya yang menyentuh batang kejantananku. Tak banyak komentar celanaku dibukanya, dan aku dalam sekejap sudah bugil. Disuruhnya aku tidur dengan kaki merentang, lalu Bu Maya membuka celana trainingnya yang tanpa celana dalam itu. Bu Maya mengocok-ngocok penisku, diurutnya seperti gerakan tukang pjit mengurut tubuh pasiennya. Gerakan tangan Bu Maya mengurut naik-turun. Karuan saja penisku semakin membesar dan membesar. Diisapnya penisku yang sudah ereksi besar sekali, dimainkannya lidah Bu Maya di ujung penisku. Setelah itu, Bu Maya menempelkan buah dadanya yang besar itu di penisku. Dijepitkannya penisku kedalam tetek besar itu, lalu di goyang-goyang seperti gerakan mengocok. " Giaman Man ? enah anggak ? " " Enak Bu, awas lho nanti muncrat Bu" jawabku.. " Enggak apa, ayo keluarkan, nanti kujilati pejuhmu, aku mau kok ?!" . Bu Maya masih giat bekerja giat, dia berusaha untuk memuaskan aku. Tak lama kemudian, Bu Maya naik keposisi atas dan seperti menduduki penisku, tapi lobang memeknya dimasuki penisku. Digoyang terus…hingga aku merasakan nikat yang luar biasa. Tiba -tiba Bu Maya terdiam, berhenti bekerja, lalu berjata :" Rasakan ya Man ? pasti kamu bakal ketagihan " Aku membisu saja. dan ternya Ohh….memek Bu Maya bisa melakukan gerakan empot-empot, menyedot-nyedot dan meng-urut-urut batang kontolku dari bagian kepala hingga ke bagian batang bawah, Oh….nikmat sekali, ini yang namanya empot ayam, luar biasa kepiawaian Bu Maya dalam bidang oleh seksual. " Enak syang ?" tanyanya. Belum sempat aku menjawab, yah….aku keluar, air maniku berhamburan tumpah ditenga liang kemaluan Bu Maya.

" Itu yang namanya empot-empot Man, itulah gunanya senam sex, berarti aku sukses l;atihan senam sex selama ini " Katanya bangga. " Sekarang kamu puasin aku ya ? " Kata Bu Maya seraya mengambil posisi nungging. Ku tancapkan lagi kontolku yang masih ereksi kedalam memek bu Maya, Ku genjot terus. " Yang dalam man…yang dalam ya..teruskan sayang…? oh….enak sekali penismu…..oh….terus sayang ?!" Pinta Bu Maya. Aku masih memuaskan Bu Maya, aku tak mau kalah, kujilati pula lubang memeknya, duburnya dan seluruh tubuhnya. Ternyata Bu Maya orgasme setelah aku menjlati seluruh tubuhnya. " kamu pintar sekali Man ? belajar dimana ? " " Tidak bu, refleks saja" Jawabku.

Sebelum kami meninggalkan tempat itu, Bu Maya masih sempat minta satu adegan lagi. Tapi kali ini hanya sedikit melorotkan celana trainingnya saja. demikian pula aku, hanya membuka bagian penis saja. Bu Maya minta aku melakukanya di dalam mobil, tapi ruangannya sempit sekali. Dengan susah payang kami melakukannya dan akhirnya toh juga mengambil posisinya berdiri dengan tubuh Bu Maya disandarkan di mobil sambil meng-angkat sedikit kaki kanannya.

Sejak saat malam pertama kami itu, aku dan Bu Maya sering bepergian keluar kota, ke pulau seribu, ke pinggir pantai, ke semak-semak di sebuah desa terpencil, yah pokoknya dia cari tempat-tempat yang aneh-aneh. Tak kusadari kalau aku sebenarnya menjadi gigolonya Bu Maya. Dan beliaupun semakin sayang padaku, uang mengalir terus ke kocekku, tanpa pernah aku meminta bayaran. Dia menyanggupi untuk membiayai kuliah hingga tamat, asal aku tetap selalu besama Bu Maya yang cantik itu.

sama2





Dengan berpegangan ke pantatnya, mulutku mengocok-ngocok batang kontolnya dan Bang ali menggerak-gerakkan pantatnya dengan sangat cepat, laki-laki tersebut menyodomi mulutku hingga beberapa lama aku melakukannya dan aku melepaskan batang kontolnya dari dalam mulutku, memberi kesempatan kepada Bang Ali untuk menarik nafasnya dan menahan puncak kenikmatannya, karena dengan begitu air maninya tidak cepat keluar. Aku ingin memperlambat permainan, ingin menikmati batang kontolnya yang legit agak lama lagi.

Batang kontol Bang Ali kudirikan tegak hingga menempel ke perutnya, ujung kontolnya mencapai pusarnya, begitu panjangnya, dugaanku sekitar 19 senti, sangat jauh dibandingkan panjang kontolku yang cuma 15 senti dari pangkalnya. Aku menjilati kantong biji totong Bang Ali yang kendor ke bawah seperti karet yang di sekitarnya jembut-jumbut tumbuh, jarang dan panjang. Biji totongnya menjadi sasaran jilatanku berikutnya dan menelannya satu persatu sebelum menelannya secara bersamaan, kedua biji totongnya kutelan dan kutarik-tarik dengan mulutku. Mulutku menggembung, membesar penuh dengan biji kontolnya, tanganku mengelus-elus jembut-jembut di sekitar selangkangannya dekat dengan lubang pantatnya. Laki-laki ini mempunyai bulu banyak dan lebat.

Bang Ali menyerahkan batang kontolnya kembali ke dalam mulutku dan aku langsung menghisapnya, masuk ke dalam mulutku dan menikmati kembali kontolnya, menggerakkan kepalaku ke depan dan ke belakang dengan cepat, mengocok kontol Bang Ali kembali dengan mulutku, memompanya dan gerakan maju mundur pantat Bang Ali semakin cepat pula.

Desahan Bang Ali terus kudengar dan ucapan-ucapan enak, nikmat, geli dan lagi sering diulang-ulangnya. Laki-laki tersebut merasakan permainanku, baru tahu rasa dia. Aku memang ahlinya.

Bang Ali menghentikan gerakannya, mendesah panjang bersamaan kakinya yang mengejang, perutnya kembang kempis. Aku menatapnya yang menengadahkan kepalanya ke atas dengan mata terpejam dan aku merasakan mulutku yang dibanjiri dengan air maninya yang banyak keluar dan kental. Perlahan aku mengeluarkan batang kontolnya yang basah dan menjilati tetesan mani yang keluar dari lubang kencingnya.

Bang Ali memperhatikan permainanku dan laki-laki tersebut mengulurkan tangannya, menarik lenganku, memuji permainanku dan langsung melumat bibirku kembali, mencumbuinya, menciuminya, akhh.. laki-laki tersebut merapatkan tubuhku ke dinding, membalikkan badanku, mengatur posisi badanku, pantatku sedikit naik ke atas. Bang Ali memukul pantatku dan meremas-remasnya.

"Pantat yang bagus", ucapnya dan melanjutkan permainannya menggesekkan batang kontolnya pada belahan pantatku.

Batang kontolnya sedikit demi sedikit masuk ke dalam lubang pantatku. Laki-laki tersebut mendesah dan menarik nafas panjang saat kontolnya menjeblos tepat pada lubang pantatku. Bang Ali menekan pantatnya, Bless..! Batang kontolnya tenggelam ke dalam lubang pantatku.

"Akh..! Enak.." ucapnya beberapa kali.
"Buritmu membetot batang totong Abang", bisiknya.
"Akhh..! Sempit.. Begitu sempit", lanjutnya kemudian.

Lidahnya menjilati leherku, telingaku dan menjulur ke arah mulutku, akupun mengeluarkan lidahku menyambut lidahnya dan lidah kami saling menjilat. Bang Ali menggerak-gerakkan pantatnya ke atas dan ke bawah, kami masih tetap bercumbu sementara tangan Bang Ali sesekali mengocok kontolku. Bulu-bulu dadanya terasa menggelikan saat menyapu punggungku. Sesekali laki-laki tersebut memompa pantatku dengan cepat hingga tubuhku maju mundur, laki-laki tersebut menyodok-nyodok lubang pantatku dengan gerakan cepat dan kemudian memperlambat gerakannya kembali. Aku menikmatinya, mendengar suara desah nafasnya yang keluar menahan puncak kenikmatan yang akan dia rasakan.

Gerakan pantat Bang Ali semakin lambat dan berhenti kemudian membalikkan tubuhku, menggendongku, sebagaimana posisi seperti orang Bangladesh yang pernah melakukannya kepada Bang Ali dan kini Bang Ali mempraktekkannya dengan tubuhku. Tubuhnya yang besar dan berotot dengan mudah mengangkat badanku yang beratnya hanya 56 kg. Tubuhku naik turun diayun Bang Ali. Akhh.. Sensasi permainan yang luar biasa dan belum pernah aku lakukan sebelumnya. Bang Ali menurunkan tubuhku kembali dan pada posisi semula dengan tempat yang berbeda. Aku berpegangan pada pipa keran shower, dari belakang Bang Ali terus menghunjamkan batang kontolnya ke dalam lubang pantatku. Aku memutar keran, sehingga dari pancuran shower seperti air hujan gerimis menyirami pantatku, tepat dimana kontol Bang Ali menyodomi buritku.

Bang Ali menghentikan gerakannya sejenak dan memutar keran di sebelah kirinya, merasakan campuran air dingin dan panas yang tumpah dan sedikit hangat. Bang Ali kembali menggerakkan pantatnya maju mundur ditambah lagi air hangat yang menyirami pangkal kontolnya dan pantatku sehingga sensasi permainan kami semakin luar biasa, Bang Ali tambah bersemangat, demikian juga aku. Sesekali Bang ali menghentikan gerakannya untuk mencumbuiku, menciumiku dan membisikan kata-kata yang memacu semangatku, yang membuatku semakin bergairah pada laki-laki tersebut.

"Enak.. Sayang, nikmat.. Geli.. Akhh..", ucapnya setelah mencumbui bibirku.
"Kamu suka dengan Abang khan? Kamu sayang dengan Abang?" Aku mengangguk.

Bang Ali semakin mempercepat goyangan pantatnya, memompa pantatku, kenikmatan dan kegelian yang dia rasakan membuat gerakannya semakin cepat dan cepat, sehingga tubuhku maju mundur.

Laki-laki tersebut meremas kontolku dengan erat saat menghentikan permainannya, mendesah dengan keras, menikmati puncak kenikmatan yang dia rasakan. Bang Ali memegang perutku dan mengangkat tubuhku hingga kami sama-sama berdiri tegak, laki-laki tersebut langsung menjilati telingaku, sementara aku terus mengocok-ngocok kontolku, menikmati kegelian dan memaksa puncak kenikmatan agar air maniku muncrat keluar. Bang Ali mengambil alih kontolku, laki-laki tersebut mengocok-ngocok kontolku dengan cepat, hingga akkhh.. akupun menikmati puncak kenikmatanku. Air maniku tumpah, tangan Bang Ali belepotan dengan air maniku, kami saling berpandangan dan bercumbu kembali.

Kami keluar dari kamar mandi tersebut setelah membersihkan tubuh kami, aku menyabuni badan Bang Ali demikian juga Bang Ali melakukan hal sama pada tubuhku. Aku mengajaknya kembali untuk meraih puncak kenikmatan bersama-sama di dalam kamarku, laki-laki tersebut bersedia, kami betul-betul belum begitu puas dan akan mengakhiri detik-detik malam ini sampai pagi menjelang. Kami berharap-harap cemas saat memasuki kamarku agar penumpang sekamarku tidak merasa terganggu dengan permainan kami.

"Peduli amat dengan dia", ucap Bang Ali.

Jika permainan kami ketahuan, tidak enak juga dengan laki-laki separuh baya yang menjadi teman sekamarku. Tirai kamar sebagai pemisah ranjang yang ditempati penumpang sekamarku dengan ranjangku langsung kusingkapkan hingga menutupi ranjangku. Aku kembali menelanjangi Bang Ali demikian juga pakaianku. Kontol Bang Ali aku tarik, kontolnya yang masih tertidur sangat menggairahkanku, aku duduk di sisi ranjang sementara Bang Ali berdiri di depanku.

Kontolnya yang berada di depanku langsung kusambut dengan mulutku dan menyedotnya masuk ke dalam, mengocok-ngocok batang kontol laki-laki tersebut hingga kurasakan batang kontol Bang Ali semakin membesar, memanjang dan mengeras. Mulutku terus mengocok-ngocok batang kontol Bang Ali sambil memandanginya. Bang Ali menonton permainanku dan desahan-desahan kenikmatannya semakin jelas terdengar.

"Yah.. Yah.. Teruskan.. Teruskan..", ucapnya memberi semangat kepadaku.

Batang kontol Bang Ali kukeluarkan dan memintanya untuk menyodomiku kembali, laki-laki tersebut juga sudah tidak sabar untuk melakukannya. Di atas ranjang yang sebenarnya hanya untuk satu orang, yah terpaksa kami berhimpitan. Bang Ali menyodomi lubang pantatku dari samping, sementara kakiku sudah ditahan ke atas dengan lututnya.

"Akhh.. Lagi.. Lagi Bang, teruskan", bisikku memberi semangat kepadanya.

Bang Ali terus menyodok-nyodok lubang pantatku dengan batang kontolnya. Beberapa lama dia melakukannya dengan posisi begitu dan Bang Ali meminta posisi baru, mengatur tubuhku, menelungkupkan badanku dan mengganjal selangkanganku dengan bantal sehingga pantatku sedikit tinggi dengan badanku yang lain. Bang Ali langsung menaiki badanku, menggesek-gesekan batang kontolnya di belahan pantatku, kemudian dengan cepat laki-laki tersebut memasukan batang kontolnya ke dalam lubang pantatku dan menekan pantatnya sehingga batang kontolnya masuk lebih dalam lagi ke dalam buritku.

Bang Ali menggerakkan pantatnya maju mundur, ke samping kiri dan kanan sambil desahannya terus keluar dari mulutnya. Kegelian dan kenikmatan yang semakin nyata dia rasakan membuat gerakannya semakin cepat dan cepat, hingga Bang Ali tidak mampu lagi untuk menahan air maninya keluar, saat itu pula laki-laki tersebut mendesah panjang, tubuhnya mengejang, kakinya bergesekan dengan kakiku. Bang Ali mencumbuku kembali dan aku membalas cumbuannya juga.

Akhh.. Permainan liar bersama laki-laki jantan yang aku temukan di kapal Bukit Siguntang ini. Bang Ali keluar meninggalkanku sendiri yang lemas bercampur bahagia. Aku sudah tidak mengingat apa-apa lagi, aku tertidur pulas di ranjang, hingga aku sadar dan membuka mataku saat mendengar suara yang samar-samar dan aku merasakan beberapa kali tubuhku diguncang dan ternyata aku melihat Bang Ali sudah berdiri di depanku, batang kontolnya sudah menempel di bibirku. Laki-laki tersebut tersenyum.

"Abang pukul-pukul mulut kamu dengan kontol Abang, tapi kamu tidak bangun juga"

Aku langsung meraih batang kontol Bang Ali dan kembali mulutku merasakan kekenyalan batang kontolnya. Bang Ali mengajakku untuk ngentot lagi, dan kami melakukannya kembali di kamar mandi yang sama siang itu, meraih kepuasan di saat detik-detik perpisahan kami. Pada pukul empat kapal akan bersandar di pelabuhan Tanjung Priok dan kami masih tetap bermain di kamar mandi 30 menit sebelum bersandarnya kapal.

Aku tidak menemukan Bang Ali lagi saat kakiku menginjak kantor pelabuhan Tanjung Priok. Mama sudah terlihat berteriak-teriak memanggilku dari pintu penjemputan.

Akhh.. Betul-betul memuaskan dan mengasyikkan perjalananku tahun ini, aku tersenyum dengan rasa puas..

KM Bukit Siguntang - 2

"Kalo melihat perempuan seperti singa yang tidak makan satu bulan atau lebih dari itu, apalagi kalo ngentot sama lonte di sana, bayarannya sangat mahal. Kan rugi, hanya untuk membuang mani saja harus bayar mahal, yah terpaksa ngentotnya sekali-sekali saja. Yang lebih sering yah itu, kalo tidak ngocok, sodomi atau sama teman gantian ngocok-ngocok kontol. Kalo Kang Warso tidak pernah mengeluarkan uang untuk ngentot sama lonte di sana, makanya gajinya utuh untuk bini dan anak-anaknya di kampung. Laki-laki tersebut tahan tidak ngentot sama lonte, kalo mau ngentot paling nyodomi laki-laki. Kalo enggak percaya, nanti Abang tunjukan, dia pasti menyuruh si Udin memegang-megang totongnya dan si Udin itu enggak disuruhpun mau mengisap-isap kontol Kang Warso", ucap Bang Ali lagi.
"Kalo Abang?"
"Yah, Abang bisa pakai si Udin lah", ucap Bang Ali sambil tersenyum.
"Terus Abang juga pernah disodomi di sel penampungan juga?"
"Mau tahu yah?", tanya Bang Ali sambil tersenyum.
"Tidak usahlah, cerita jorok", ucap Bang Ali meneguk sisa kopi dari gelas plastiknya.
"Aku justru suka Bang. Aku pernah juga melakukannya, tidak begitu seringlah, makanya kalo aku mendengar cerita sodomi jadi terangsang, apalagi kalo bisa meremas-remas totong Abang sekalian sambil mendengarkan Abang. Kalo melihat postur Abang yang besar begini, pasti kontolnya juga besar yah?", ucapku sambil tersenyum.

Bang Ali memandangku dan tersenyum. Senyumannya yang membuat wajahnya semakin tampan, enak dilihat dengan gigi-giginya yang rapat berwarna kekuning-kuningan. Hidungnya sedikit mancung dengan rambut-rambut halus yang belum dicukur menghiasi di sekitar pipi, dagu, leher dan di atas bibirnya.

Aku memesan dua cangkir kopi lagi mungkin sebagai sogokan yah, dan Bang Ali menjadi bersemangat menceritakan saat tertangkap bersama teman-temannya di lokasi kerja, karena tidak ada paspor dan izin kerja, mereka semua digelandang ke kantor Polisi dan dimasukan ke dalam sel yang kemudian ditransfer ke sel penampungan di daerah Johor sebelum dibuang ke Indonesia. Di sel penampungan inilah Bang Ali di sodomi oleh seorang laki-laki keling, orang Bangladesh. Ajun yang senang karena Bang Ali tidak melawan dalam melakukannya lagi.

"Saat itu Abang bertugas membersihkan toilet sipir, ketika orang Bangladesh tersebut datang mendekati Abang sambil tersenyum, menarik tangan Abang ke dalam kamar kecil tersebut. Abang menolak saat orang keling itu menyuruh mengisap-isap kontolnya yang panjang dan belum sunat lagi, mana jembut-jembutnya lebat, hitam dan panjang-panjang. Orang Keling itu langsung menyodomi Abang, menciumi Abang dengan bernafsu. Abang selalu menghindar saat orang keling itu mau mencium mulut Abang dan entah berapa kali orang keling itu mengubah posisi tubuh Abang dan menyodomi lobang pantat Abang. Untung perbuatan orang keling tersebut ketahuan di saat orang keling tersebut menyodomi Abang dengan posisi menggendong tubuh Abang, dua sipir sel menyeret tubuh orang keling tersebut", ceritanya.

"Ternyata laki-laki tersebut sudah terlalu sering monyodomi laki-laki remaja. Orang keling tersebut dipukuli babak belur sampai mampus, baru tahu rasa dia. Abang dipindahkan ke kamar sel yang lain. Abang minta untuk dipindahkan ke kamar sel Kang Warso. Bersama Kang Warso, tentu saja Abang sedikit aman walau laki-laki tersebut suka nyodomi juga. Abang menolak saat Kang Warso mau menyodomi Abang, untungnya laki-laki tersebut mengerti, Abang hanya disuruh mengocok-ngocok kontolnya sampai dia puas. Pernah juga Kang Warso menyodomi Abang, katanya dia tidak tahan, yah Abang cuma diam saja. Sejak saat itu bukan Kang warso saja yang menyodomi Abang, Johanness, orang Flores yang satu sel dengan Abang juga melakukannya. Dia melihat Abang disodomi Kang Warso malam itu, yah, mau tak mau Abang mengikuti permainannya. Dia orang lama di sel tersebut, boleh dikatakan dia kepala kamar di sel tersebut", lanjutnya.

Saat Bang ali bercerita tentang sodomi tersebut, aku menjadi bergairah dan sangat bernafsu, tanganku meraba-raba kontolnya, mengelus-elusnya. Bang Ali hanya diam saja saat tanganku bereaksi dan terus melanjutkan ceritanya. Pandangan Bang Ali turun ke bawah melihat tanganku yang asyik meraba-raba kontolnya dari balik celananya, laki-laki tersebut tersenyum.

"Kamu mau?", tanya Bang Ali memandangku sambil tersenyum. Aku mengangguk dan kemudian menatapnya.
"Kalo Abang mau, kontol Abang aku isap-isap", tantangku.
"Wah, kebetulan sekali, sudah seminggu ini kontol Abang belum merasakan kenikmatan", ucap Bang Ali dan mengajakku meninggalkan Kantin.

Kami berjalan ke ujung kapal di mana rombongannya berada. Kami berjalan dengan pelan menelusuri dek tujuh di luar kapal, kapal agak oleng karena deburan ombak yang besar menghantam sisi-sisi kapal. Bang Ali merangkulkan tangannya ke pundakku, akh.. aman rasanya dalam rangkulan laki-laki berbadan besar dan tegap ini.

"Abang sodomi nanti yah?", pintanya.
"Tenang Bang, aku akan memberikan kenikmatan yang tak terlupakan di kapal Bukit Siguntang ini", ucapku tersenyum demikian juga Bang Ali.

Aku melihat rombongan Bang Ali yang tertidur dengan pulas. Aku melihat Bang Udin yang tertidur dalam kedamaian di belakang laki-laki berkumis tebal.

"Ayo, Abang sudah tidak sabar lagi", ucap Bang Ali. Aku sedikit terkejut karena asyik memperhatikan Bang Udin.
"Iya, ayo", jawabku gugup lagi.
"Lihat ini", ajak Bang Ali yang langsung berjongkok di hadapan Kang Warso dan mengangkat sarung laki-laki tersebut. Dengan penerangan lampu yang samar-samar, aku melihat Pak Warso tidak memakai kolor, telanjang, sementara tangan Bang Udin memegang batang kontol Pak Warso yang besar dan panjang tersebut.

Bang Ali mengajakku meninggalkan tempat tersebut, tangannya merangkul pundakku kembali dan kami memasuki kamar mandi dek enam, kamar mandi khusus untuk kelas dua, aku yang mengajaknya, kamarku pun tak begitu jauh dari toilet tersebut.

Kami memasuki kamar mandi yang paling ujung dan langsung mengunci pintunya. Bang ali membuka pakaiannya satu persatu, menelanjangi pakaiannya demikian juga aku. Bang ali memperhatikan tubuhku yang telanjang, hingga tak sabar saat melihat tubuhku yang putih dan bersih tersebut dan membantuku membuka celana jeans yang kukenakan.

Kami sudah sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, Bang Ali langsung memeluk tubuhku, mendorong badanku ke pintu dan memepetnya. Dengan sangat bernafsu Bang ali menciumi bibirku, mencumbuinya, melumat habis bibirku, aku membalas cumbuannya dengan bergairah dan sangat bernafsu sekali, ada rasa geli saat bulu-bulu halus di wajah Bang Ali menyentuh mukaku. Tanganku yang dari tadi gatal untuk meremas-remas kontolnya, langsung kutarik. Totongnya begitu besar dan panjang, persis seperti dugaanku. Aku menarik-narik batang kontolnya, mengocok-ngocoknya pelan, Bang Ali semakin bernafsu mencumbuiku. Aku menarik biji totong Bang Ali, menggenggam bersamaan batang kontolnya dan kutarik-tarik.

"Lagi.. Lagi..", ucap Bang Ali di selingi dengan suara desahannya.

Bang Ali melumat bibirku lagi, memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, aku melayani permainannya.

"Akhh..", desah Bang ali lagi, sejenak menghentikan permainannya, menatapku.
"Kamu sudang sangat ahli melakukannya, membuat Abang bertambah semangat dan sangat bernafsu. Ayo sayang, buat Abang merasa senang, perlakukan Abang seperti suamimu atau lebih dari itu".

Aku menciumi dadanya yang bidang dan berbulu, menjilati puting teteknya, mengisap-isapnya dan sesekali kutarik dengan mengatupkan bibirku pada ujung puting teteknya yang berwarna coklat tersebut. Inchi demi inchi tubuh Bang Ali aku jilati, sampai pada perutnya yang berotot dan ditutupi bulu-bulu yang lebat di sekitar pusarnya, hingga jilatan bibirku sampai pada jembut-jembut kemaluannya, aku terus membasahi jembut-jembut laki-laki tersebut dengan air lidahku, Bang Ali mengelus-elus rambutku.

Jilatanku semakin turun dan kini merasakan daging kenyal laki-laki tersebut. Aku sangat menikmati batang kontol Bang ali yang begitu besar dan panjang. Tak sabar merasakan kelezatan daging kenyal Bang Ali, aku langsung menelan batang kontolnya, mulutku merasakan daging kenyal Bang Ali, akhh.. begitu besar, panjang dan membengkok ke samping. Batang kontol Bang Ali semakin mengeras saat kedua bibirku membetot daging besar tersebut, perlahan aku mengeluarkannya hingga sampai ujung batas antara kepala dan batangnya.

Aku merasakan kepala kontol Bang Ali semakin membesar dan padat saja di dalam mulutku, perlahan aku mengeluarkannya, tanganku terus memegang batang kontolnya dengan erat. Kepala kontol Bang Ali aku jilati, lubang kencingnya terbuka lebar, aku menariknya, merekahkannya sehingga lubang kencing kontol Bang Ali semakin terlihat dan menjilati lubang tersebut.

"Akhh.. Desah Bang ali keenakan dan menekan kontolnya kembali ke dalam mulutku.

Aku menelan kontol Bang Ali, merasakan urat-urat batangnya semakin membesar, kedua bibirku merapat hingga ujung gigi taringku merasakan kekenyalan batang kontolnya dan aku semakin menekannya.

"Ooh.. Akkhh..", desah Bang Ali semakin kuat terdengar.

Batang kontol Bang Ali berdenyut-denyut di dalam mulutku, sambil mengelus-elus kedua pahanya yang berbulu lebat, aku terus menikmati kekenyalan batang totongnya.

Perlahan aku menelan batang kontol Bang Ali, memasukkannya senti demi senti ke dalam mulutku hingga kontol Bang Ali tenggelam seluruhnya di dalam mulutku dan merasakan ujung kontolnya memasuki tenggorokanku. Mulutku menjadi penuh dengan kontolnya. Pangkal totongnya lebih besar dari pada batang tengahnya dan ditumbuhi jembut-jembut yang jarang, panjang dan ikal. Sedikit demi sedikit aku mengeluarkan batang kontolnya dengan terus merapatkan lidahku ke arah batang kontolnya, agar aku dapat menikmati kekenyalan dan kekerasan batang totong tersebut.

KM Bukit Siguntang - 1

Perjalanan ini membuatku bosan, di sekelilingku hanya laut yang terlihat dan dua hari satu malam lagi perjalananku akan berakhir, membawaku bertemu dengan Papa dan Mama tercinta. Aku berdiri di dek kapal, memperhatikan kapal yang akan sandar di Pelabuhan Sekupang, Batam.

Tangga mulai dirapatkan ke dermaga, sebagian penumpang mulai turun dengan berdesak-desakkan sambil membawa barang mereka, ada yang menjinjingnya di atas pundak, ada yang meletakan di atas kepala dan lain sebagainya. Yang lebih seru lagi saat penumpang yang akan naik ke kapal, begitu banyak, saling dorong dan berdesak-desakkan mendahului untuk naik ke atas kapal Bukit Siguntang ini. Jepretan kamera tak habis-habisnya kuarahkan pada penumpang kapal tersebut, tak peduli berapa roll film yang akan habis. Dari dulu aku memang menyukai fotografi.

Suara terompet kapal yang keras terdengar beberapa kali menandakan kapal akan segera berangkat, membawa penumpang dengan tujuan Jakarta dan berakhir di Tanjung Perak, Surabaya.

Santai, menikmati pemandangan malam yang indah dengan bintang yang bertaburan, menghiasi langit yang hitam gelap, sesekali pandanganku melihat lalu lalang penumpang kapal, mencari udara segar, atau melihat pedagang yang menawarkan barang dagangannya dan mungkin dengan tujuan yang lain.

Penumpang kapal semakin banyak dari pada sebelumnya, terlihat di sepanjang anjungan kapal dipadati manusia yang karena tidak kebagian tempat di dalam sehingga mereka menempati anjungan kapal ini sebagai tempat tidur dengan menggelar tikar, mereka penumpang kapal kelas ekonomi. Begitu asyiknya dengan pemandangan yang kulihat sambil melamun sehingga tanpa aku sadari dua orang laki-laki sudah berada di sampingku.

"Mau kemana Dik?", tanya laki-laki tersebut. Aku menoleh.
"Oh, Ke Jakarta Bang", jawabku gugup karena kaget.
"Tempat siapa?", tanya laki-laki itu lagi dan naik ke pagar anjungan dan duduk di sampingku.
"Pulang ke rumah Bang"
"Oh, rumahnya di Jakarta?"
"Iya Bang, keluarga ada di sana, lagi liburan sekolah", jawabku menjelaskan.
"Kuliah?"
"Naik kelas 3 SMA, Bang"

Kami mengobrol dengan santai, sesekali tertawa kerena laki-laki tersebut sering melucu. Dengan gayanya yang sedikit kocak dan tidak terlalu kaku sehingga membuat kami menjadi akrab, dan kebosananku dengan perjalanan ini sedikit mencair. Aku memperkenalkan diri pada laki-laki tersebut.

Bang Udin, teman pria tersebut agak pendiam dibandingkan dengan temannya yang satu ini, selalu nyerocos dan sesekali mengomentari atau mengejek orang yang melewati kami. Mereka dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Pati, Jawa Tengah dan akan turun di Jakarta kemudian melanjutkan perjalanan dengan Bus.

"Wah, perjalanan yang sungguh melelahkan", ucapku.
"Yah, apa boleh buat", jawab Bang Ali, pria tersebut.

Ternyata mereka adalah salah seorang TKI yang di'buang' oleh pemerintah Malaysia karena dicap sebagai Pendatang Haram di Negeri Jiran tersebut, dan kebanyakan penumpang yang naik dari Pelabuhan Sekupang, Batam adalah TKI yang akan pulang ke kampung halamannya. Pantas saja kapal jadi penuh begini, pikirku.

"Untung masih ada sisa uang untuk dibawa ke kampung, jadi tidak malu-maluin", ucap Bang Ali.
"Lagian kenapa harus kerja jauh-jauh Bang, di sini kan juga banyak kerjaan"
"Wah, di sini payah, gajinya murah", komentar Bang Ali dan menceritakan pengalamannya di Malaysia.

Sebagai tukang bangunan yang sudah berkali-kali bolak balik ke Malaysia dan membawa "hasil" yang agak lumayan saat laki-laki tersebut balik ke kampung. Keberhasilannya tersebut dapat membahagiakan orangtua dan adik-adiknya, Bang Ali bisa membeli beberapa petak sawah di kampung, membangun rumah orang tuanya, menyekolahkan adik-adiknya dan lain sebagainya. Bang Ali bertekad untuk kembali lagi ke Negeri Jiran tersebut bila situasi sudah aman.

"Kenapa tidak secara resmi saja Bang?", tanyaku.
"Wah, susah, pengurusannya lama dan berbelit-belit. Belum lagi banyak pemotongan dan sebagainya", jawab Bang Ali.

Aku mendengarkan Bang Ali menceritakan dari awal keberangkatannya saat berusia 17 tahun hingga sampai sekarang yang usianya sudah 25 tahun, dan akan menikah saat kepulangannya ini. Cerita saat dia berada di Negeri Jiran tersebut dan sebagainya, sesekali ceritanya terpotong saat aku bertanya dan laki-laki tersebut melanjutkan ceritanya kembali setelah menjawab pertanyaanku.

Bang Udin mohon diri karena telah merasa mengantuk, katanya dan malam pun semakin larut dan dingin, angin bertiup kencang dari segala penjuru dan aku merapatkan jaketku dan mengancingkannya sampai ke atas leher. Panggilan perut memaksaku untuk memberikan sesuatu ke dalamnya dan aku mengajak Bang Ali ke kantin. Laki-laki tersebut menolak dengan halus.

"Aku traktirlah", ucapku mengajaknya lagi. Aku tahu betul kondisinya yang tidak memungkinkan untuk bersenang-senang menghabiskan uang di kapal ini, sementara uang yang dibawa dari Malaysia tidak begitu banyak apalagi harga makanan di kapal ini dua kali lipat dari harga biasanya.

Kemudian kami duduk santai di kantin di kursi yang paling belakang dengan dua cangkir kopi susu dan pop mie yang sudah terhidang di atas meja kami. Aku langsung menyantap pop mie, sambil terus mendengarkan cerita Bang Ali. Volume suaranya sedikit lebih keras karena alunan suara penyanyi amatiran yang berkaraoke di kantin tersebut terdengar sangat keras. Bang Ali mengomentari suara penyanyi tersebut dengan sinis dan mengejek. Aku tertawa mendengarnya, laki-laki ini memang lucu dan mungkin sedikit sirik dengan orang lain, pikirku.

Setelah beberapa kali Bang Ali menawarkan rokok kepadaku dan akhir kuambil sebatang, menyulut ujung rokok tersebut dan mulai menikmati asapnya yang keluar dari kedua lobang hidungku. Aku bukan pecandu rokok, namun sesekali melakukannya demi pergaulan. Sementara mulut Bang Ali dari tadi terus dihinggapi sebatang rokok, selalu menyambung setelah rokok yang diisapnya tadi sudah pendek. Dari hidungnya terus menerus mengeluarkan asap seperti knalpot motor saja.

"Perokok berat juga yah Bang?", sindirku.
"Yah, beginilah, kebiasaan di kamp jadi terbawa di luaran", jawabnya.
"Sehari bisa berapa bungkus Bang?"
"Dua atau tiga bungkuslah, tergantung suasana hati"
"Wah, gila", ucapku terkejut.
"Apalagi kalo kalah main judi, Abang bisa menghabiskan sampai empat bungkus"
"Tambah gila lagi", ucapku lagi.
"Yah, bayangkan saja, kerja bertahun-tahun hanya di lokasi proyek saja, tidak boleh keluar, kalo keluar bisa tertangkap dan dimasukan ke sel sebelum dibuang. Di sel bisa berbulan-bulan atau tahunan dulu, menunggu budak-budak banyak dulu baru dibuang ke Indonesia"

Dari cerita Bang Ali, sedikitnya aku menjadi tahu kondisi pendatang haram di Negeri Jiran tersebut.

"Kita kalo tidak pandai-pandai di sel penampungan, bisa celakalah, kita bisa seenaknya diperlakukan, dipukuli, disuruh-suruh atau bahkan kita bisa disodomi"
"Ah! Di sodomi?", tanyaku.

Bang ali menghentikan pembicaraannya dan meneguk kopi yang ada di depannya.

"Kalo kita tidak banyak berkawan di dalam sel penampungan tersebut kita bisa mampus, di dalam sel penampungan itu bukan orang kita saja. Orang Bangladesh, Thailand, Filiphina, India, ah, banyaklah, mereka pendatang haram juga, tapi yang paling banyak adalah orang Indonesia yang asalnya juga entah dari mana saja, dari Jawa, Flores, Batak dan lainnya".

Ketertarikanku mengenai cerita sodomi tersebut meminta Bang Ali untuk menceritakannya, cerita yang berbau porno yang membangkitkan gairah sexku malam itu, nafsu haus membelai-belai laki-laki di kapal dengan udara yang dingin.

Bang Ali melanjutkan ceritanya dan aku menjadi pendengar terbaiknya malam itu.

Dua tahun berada di Malaysia sebagai tukang bangunan membuat pengalaman Bang Ali bertambah khususnya untuk sex. Di usianya yang masih tergolong remaja, di usia 17 tahun, Bang Ali diajak tetangganya untuk merantau, mengais rezeki ke Negeri Jiran tersebut. Tetangganya yang mengajarkan dan sekaligus menyodomi Bang Ali untuk pertama kalinya.

"Kang Warso, yang menyodomi Abang pertama kali, Abang waktu itu masih polos dan lugu sekali. Sebagai pembantunya Abang sering disuruh memijit badannya selepas kerja, dari pijitan badan, sampai akhirnya Kang Warso minta kontolnya dipijit juga, dikocok-kocok sampai maninya muncrat dan bukan itu saja, Abang juga ditelanjangi Kang Warso dan disodomi. Abang jadi benci sama Kang Warso, tapi lama-lama Abang sadar, ternyata sudah wajar bagi kami, orang perantauan, jauh dari anak istri, jauh dari keluarga, jauh dari tempat hiburan dan semuanya "cap lonceng", ceritanya.


Kisah Seorang Mucikari

Bulan Agustus tahun lalu, saya mendapat seorang klien yang sangat unik dan saking uniknya, sampai-sampai saya harus membeli beberapa tablet aspirin untuk menghilangkan stress yang diakibatkan oleh si klienku itu. Namanya adalah Hermanto berumur 30 tahun, brewokan, berkulit sawo matang, atletis (68 kg), cukup tampan, tapi.. karena sifatnya sangat-sangat-sangat pemalu. Dia bahkan tidak mampu berbicara empat mata dengan orang asing yang kebetulan itu adalah saya. Dia cuma bisa diam, tertunduk dan menggerak-gerakkan kakinya seperti anak umur 10 tahun saja.

Mungkin anda bertanya-tanya apa latar belakang saya. Saya seorang mucikari yang mungkin punya selusin nama samaran (biar aman). Sudah 2 tahun saya menggeluti profesi ini karena sebuah 'peristiwa' yang tidak saya harapkan. Saya punya teman sekantor di tempat kerja saya dulu di salah satu BUMN di pulau Sumatra, namanya Chandra. Dia satu angkatan denganku dan kami sering main tenis bersama. Suatu hari, saya memergokinya sedang ngobrol dengan beberapa pria yang aneh dan tidak pernah aku lihat sebelumnya. Mereka berbicara masalah yang tidak sesuai dengan tempatnya (saat itu di tempat parkir), mereka membicarakan sesuatu yang ada hubungannya dengan seks, pelacuran, perantara, penginapan, bayaran dan lain-lain. Saat itu aku masih belum mengerti, tetapi kemudian aku tanya langsung pada orangnya, akhirnya dia mengaku dan memintaku untuk merahasiakannya.

Sejak saat itu aku tertarik dengan dunia pelacuran, prediksi labanya sangatlah menggiurkan. Kemudian saya mulai mencobanya dengan mengurusi pasien pertama yang dipromosikan oleh Chandra sendiri. Nama klien pertamaku itu adalah Eko berumur 24 tahun, dia gay tulen, merokok dan bertato di dadanya (kalau tidak salah di pantatnya juga sih). Dia juga berduit dan ingin menyewa gigolo yang berkualitas. Lalu aku mendapatkan pria yang dia harapkan, saat itu aku seperti seorang wedding planner saja, ia memintaku menguruskan penginapan, makan malam, musik romantis, bahkan memesan kelambu segala (katanya biar lebih intim). Wah-wah-wah, pekerjaan ini tidak sembarangan juga rupanya (walaupun tidak serumit insinyur atau wanita yang sedang berdandan). Terkadang saya harus memastikan mood si pasien dan si pria panggilannya. Saya juga harus mempertimbangkan segi psikologis mereka agar tidak bermasalah dengan pasangan masing-masing, dan juga tidak kalah pentingnya sisi ketertarikan dengan sesama jenis, hobi, kegemaran, dan sebagainya.

Setelah pengalaman pertamaku menjadi seorang mucikari amatiran, saya mulai berani mencari nama samaran. Nama samaranku yang pertama adalah sebuah nama dari inisialku sendiri (HFT), yaitu Hafid. Setelah itu aku mulai mengurusi dan mencari sendiri klienku dengan membuka sebuah kantor underground. Pekerjaanku dimulai dari seorang dokter yang tampannya bukan main tapi dia ingin mencari gigolo yang bersenjata besar agar anusnya bisa robek sekalian. Hanya memakan waktu sehari, saya sudah memenuhi permintaannya. Dan sudah tentu, ia segera memberiku amplop coklat (tip) yang isinya uang yang lumayan banyak untuk pemula seperti saya. Lalu namaku mulai agak dikenal dikalangan gay tajir saat itu. Sekitar dua sampai tiga pasien aku tangani dalam setiap satu minggunya.

Nah, setelah beberapa klienku sudah kupenuhi permintaannya (dan itu berjalan selama 2 tahun belakangan ini), saya akhirnya dipertemukan dengan Hermanto yang menyusahkan itu. Dia datang sendiri ke kantorku yang sifatnya rahasia, lalu ia menjelaskan masalahnya, latar belakangnya dan keinginannya mencari teman kencan. Waktu itu kami memakan waktu hampir setengah hari hanya untuk menanyainya beberapa pertanyaan saja. Hermanto betul-betul gugup saat kutanyai, dia terus mengusapkan sapu tangan ke jidatnya setiap 30 detik saat saya menanyaikan masalah permintaannya Aku jadi ikut-ikutan bego' karena seperti menanyai anak kecil (seperti anak-anak yang baru masuk sekolah). Akhirnya, menjelang malam, semua hal yang ia ingin sampaikan sudah saya terima, tinggal menentukan harinya saja. Ternyata dia cuma ingin bermain dengan pria mana saja yang mau bermain dengannya, asalkan bayarannya tidak kelewatan. Aku pikir dengan usianya yang sudah matang dan mapan itu, dia bisa dengan mudah mendapatkan pacar. Sayangnya, dia terlalu penakut untuk mengajak berkenalan dengan orang lain. Katanya waktu kecil dulu dia dipingit habis (kok cowok dipingit sih), ^o^ Kasian banget yah?

Akhirnya, aku rela menangani permintaannya walau dengan bayaran yang ia tawarkan (sangat rendah karena dia orang kere). Setelah mendapatkan seorang gigolo bernama Brian yang lagi nganggur sebulan, segera kutentukan hari nge-date mereka. Kusuruh si pria panggilan menunggu di Hard Rock cafe, dan nanti si pelanggan datang tepat dengan jam perjanjian (pukul 9 malam). Kemudian sekitar jam 9.30, si Brian menghubungiku.
"Mana orangnya? Kenapa batang hidungnya nggak muncul-muncul juga? Gua bete nih nungguin, gimana sih."

Kemudian, saya memastikan kebenarannya dengan mendatangi rumah si Hermanto. Eh.. dia malah duduk di sofa dan nonton film India (tapi pakaiannya sudah rapi, sepertinya dia sudah siap berangkat).
"Lho-lho-lho.. ayolah kawan, kamu sudah siap bukan?" Kataku padanya.
"Tidak jadi ah, batalin aja.. aku takut ke tempat begituan."
Ketepuk telapak kananku ke depan jidat dan berseru, "Ya ampun!"

Sempat sebelum pergi kami main tarik-tarikan seperti menyuruh seorang bocah untuk pergi mandi. Lalu akhirnya dia mengalah juga dan segera berangkat dengan motor vespanya ke tempat perjanjian. Khawatir akan terjadi sesuatu lagi, kususul si Hermanto sampai ke cafe. Sempat kulihat mereka saling berjabat tangan (seperti biasa, Hermanto tertuntuk terus), lalu Brian memilih untuk ngobrol sedikit agar lebih akrab. Sebenarnya aku sudah memberitahukan Brian sebelumnya kalau pasien yang satu ini agak lain dari biasanya., jadi dia mencoba melakukan pendekatan dulu supaya rasa canggung si Hermanto bisa dikikis sedikit.

Aku tidak tahu apa pembicaraan mereka, yang jelasnya si Hermanto sangat pendiam dan Brian hampir berbusa mulutnya karena bicara terus-terusan. Saya yang duduk kira-kira berselisih tiga meja dari tempat mereka hanya bisa melihat tindak-tanduk Hermanto yang selalu kikuk dalam setiap situasi. Kupikir semuanya akan berjalan baik-baik saja dan aku bisa menikmati irama musik R&B yang dilantunkan di ruangan itu. Tapi tanpa sepengetahuanku ternyata Hermanto sekarang malah duduk di depanku.
"Mas, perjanjiannya saya batalkan." Katanya dengan suara pelan.
"Apa?! Apa maksudmu..?"
"Tidak Mas, saya akan tetap membayar Mas. Tapi.. saya tidak mau meneruskan ini."
"Lalu.. lalu..?"
"Orang itu.., dia tetap akan kubayar sesuai harga yang Mas berikan."
Kemudian saya hanya bisa merebahkan badanku ke sandaran kursi dan meneguk minumanku sampai habis. Beberapa saat kami berdua tidak berkata apa-apa (saat itu perutku mual). Tiba-tiba dia malah pamit pulang.
"Mas, sudah larut, saya pergi dulu.. terima kasih atas waktunya." Katanya sambil mengulurkan tangan.
"Kita pulang sama-sama, saya juga ada perlu di rumahmu, jaketku ketinggalan."

Hermanto mengantarku sampai ke rumahnya. Saat masuk ke ruang tamu, kulihat jaketku ada di atas meja. Saya meraihnya dan duduk sejenak di sofa melepas lelah.
"Minum dulu Mas." Sahutnya dari dalam dapur.
"nggak usah repot, sebentar juga saya mau pulang."
Tapi tahu-tahunya dia sudah membawa nampan dimana terdapat secangkir kopi yang hangat. Kami ngobrol sedikit tentang pekerjaannya sampai ia malah bercerita pengalaman seksnya sendiri. Selama ini dia hanya bisa menikmati onani saja, sesekali ia bermain dengan bantal guling sambil menonton film blue. Bahkan dia sering meminum air maninya sendiri atau malah menusuk-nusukkan jarinya ke dalam lubang analnya. Pernah dia juga menusukkan ujung botol ke dalam anusnya, pernah pula tempat deodoran, pensil, pulpen (waduh, jangan-jangan mikrofon juga), pokoknya apapun yang menyerupai penis. Mendengar ceritanya aku jadi tambah kasian, terlebih lagi wajahnya saat itu terlihat manis sekali bercerita dengan semangatnya.

Entah dari mana perasaan terangsang itu datang. Saat itu, aku baru bisa memperhatikan dengan jelas wajah si Hermanto ini. Ternyata bibirnya sangat seksi, wajahnya juga sangat maskulin dihiasi janggut yang tidak terurus, tambah lagi kharismanya yang terlihat kebapakan. Aku jadi nafsu sesaat kemudian, lalu akhirnya pandangan kami beradu. Sudah pasti ia tertunduk saat sadar aku ada maksud padanya. Aku beranjak dan mendekatinya karena berpikir kalau dia adalah sosok yang tidak reaktif. Di sofa yang sama, kami duduk bersebelahan. Lalu kuraba tangannya yang berbulu, terus naik sampai menyentuh lehernya. Dia gemetaran dan menutup matanya. Aku jadi semakin bernafsu melihat gelagat malu-malunya. Segera kupegang pipinya dan langsung mendaratkan ciuman birahi ke bibirnya dengan ganas. Dia tetap menutup mata sampai akhirnya dia mulai membalas tindakanku. Dia segera melingkarkan tangannya ke perutku dan membalas ciumanku dengan ciumannya yang malah lebih ganas. Tiba-tiba saja dia berubah menjadi singa jantan yang melumat mulutku dengan buasnya. Dijilatnya tiap sudut wajahku, leherku, telingaku dan seringkali dia meremas pantatku dengan kencang. Aku benar-benar dimabuk kepayang, aku dijadikannya seorang istri semalam saat itu.

Dia membuka kemeja sport-nya dan memeloroti celananya di depan mataku. Aku sudah tidak tahan lagi ingin diraba-raba tetapi harus sabar menunggu sang pangeran. Wow! bukan main seksinya si Hermanto ini bila sedang bugil, dia tipe bear dengan bulu lebat di dadanya yang bidang, di ketiaknya, di seluruh kaki dan tangannya apalagi di selangkangnya, membuat seluruh darahku mengalir naik ke otak. Dia berdiri dengan gagahnya di depanku, sedangkan aku duduk sambil mengisap jari telunjukku di depannya. Dia berdesah keras sembari melanjutkan ciumannya ke mulutku. Kesempatan emas ini tak akan kulewatkan, kuelus seluruh permukaan tubuhnya yang penuh bulu sambil ia melepas kancing kemejaku. Akhirnya dalam sekejap, kami berdua sudah telanjang bulat.

Hermanto kemudian menjilati dadaku, menggigiti putingku, dan terus menggesek-gesekkan penisnya dengan penisku.
"Ohh.. ohh.. shit.. shit.. terus sayang! Enaak.. ohh.." Erangku menahan rasa nikmat.
Lalu Hermanto memintaku untuk melanjutkannya di kamar tidur biar lebih enak. Ia membopongku sambil terus saling menjilat, bertukar liur dan saling meraba. Setelah masuk di kamar, dia menurunkanku secara perlahan di atas ranjang. Kami masih terus saling mencumbu.
Selang beberapa menit ia menciumku sambil berkata "Sayang, mau nggak kamu masukin kontol kamu ke pantatku? Mau ya sayang?"

Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia memberikan sensasi kenikmatan lain dan lebih hebat lagi padaku. Ia membalikkan posisinya dan mengisap penisku. Penis miliknya yang sangat lebat bulunya segera kulahap dan kemainkan lidahku di lubang kencingnya. Kedua tanganku meremas pantatnya dan mencari-cari lubang pantatnya.
"Aahh.. aahh.. aahh.. aku mau keluar nih Mas.. aahh!"
Sedetik setelah ia berhenti berbicara, cairan kental dan hangat telah ia semprotkan ke dalam mulutku. Aku hampir tersedak karena sperma yang ia keluarkan sangat banyak. Kemudian untuk kedua kalinya ia memintaku untuk menusukkan kontolku ke dalam anusnya, kali ini ia meminta sambil menciumi leherku.

"Mas, tusuk pantatku dong, cepetan.." Pintanya manja.
Setelah itu, air maninya kugunakan untuk melumuri penisku. Ia juga membantuku melumuri penisku dengan memakai lidahnya. Kemudian ia mulai tidak sabaran, ia terus memaksaku agar segera melakukannya. Lalu dia mengambil posisi membelakangiku, ashhole-nya terlihat sangat hot dan langsung kujilati karena terangsang.

"Aaahh.. aahh.. enak Mas, terus.. terus Mas.."
Kutusukkan jariku yang bergetah karena air mani ke dalam lubang analnya. Hampir keempat jariku dengan mudahnya masuk menembus pantatnya. Kontolku yang mulai berdenyut-denyut sudah tidak bisa ditahan lagi, lubang pantatnya segera kusodok dan masuk dengan mudahnya. Ooohh.., guratan uratku mulai timbul, kenikmatan tiada tara ini bisa kembali kurasakan setelah dua tahun tidak bersenggama dengan seorang pria lagi. Aku memberikan permainan terbaikku pada si Hermanto, dia tampak sangat menikmati tiap detik keintiman kami. Erangannya selalu menampakkan hasratnya yang begitu besar dalam melakukan hubungan seksual.

Sebelum ejakulasi, ia memintaku mengeluarkan spermaku di dalam kulumannya. Kulaksanakan perintahnya dan dengan rakusnya ia kembali mengisap penisku untuk menunggu cairan lezat yang sangat ia suka. Croot.. croot.. croot.. spermaku ditelannya tanpa sisa. Kemudian, dia kembali menciumiku dengan lembut sambil meremas-remas rambutku. Aku agak capai karena terlalu bersemangat bermain. Ternyata ia masih ingin meneruskan permainan, ia mulai menjilati bagian ketiakku, lalu bergerak turun hingga ke bongkahan pantatku.

Baru pertama kali ini aku begitu dimanjakan, dia melumuri badanku dengan minyak telon. Seluruh permukaan tubuhku dan tubuhnya mengkilat dan licin. Sensasi sentuhan kulit kami setelah diberi pelicin makin terasa nikmat. Aku mulai terangsang oleh setiap gesekan tubuhnya yang berbulu, geli dan membangunkan nafsuku kembali. Kami saling berciuman sambil bergulat ingin menempelkan setiap sudut dan setiap otot-otot di tubuh kami agar bisa bersentuhan, bergesekan dan memberi gairah kasih sayang yang begitu sensual.

*****

Permainan ini terus berlanjut hingga hari hampir menjelang subuh. Kami tidak henti-hentinya berciuman, saling menjilati, dan saling memberi kehangatan.
"Itu kehidupanmu Hermanto." Kataku saat menggigiti daun telinganya.
"Aku yang memilihnya Mas, hidupku penuh dengan ambisi seksualitas yang tinggi. Menurutmu itu gaya hidup? Apa aku akan kesepian?" Tanyanya saat memandangku dengan mesra.
"Aku rasa tidak." Jawabku singkat.

Kisah Seorang Gay Bayaran 02

Mata Rizki terbelalak dan dia kaget sekali saat keluar dari kamar mandi, dilihatnya 2 orang di depan TV sambil melihat film Gay side B.
"Hei.. sudah datang rupanya, gimana dapat nggak..?" sapa Bram kepada salah seorang di depan TV tersebut.
"Lumayan.. dan ini dapat," jawab seseorang itu sambil matanya menatap seseorang disebelahnya.
"Oya.., kenalkan.., ini Luke dan yang itu Eric." Bram mengenalkan mereka pada Rizki.

Rizki segera menjabat tangan Luke dan Eric.
"Oh.. ini Luke, senang berkenalan dengan Anda, dari mana Luke..?" tanya Rizki basa-basi.
"Dari Plasa, beli keperluan rumah." jawab Luke ramah.
"Orang-orang yang cakep dan ramah." batin Rizki.
Memang, Bram, Luke dan Eric adalah orang-orang yang mempunyai fisik hampir sempurna. Malam itu Rizki merasa berada di tengah-tengah orang yang begitu menggiurkan.
"Nonton bareng sini, Aku tadi barusan pinjam film ke Rudy, katanya bagus, adengannya penuh dengan orgy." kata Luke sambil mengganti film tadi dengan film yang baru dia pinjam dari Rudy.

Rizki duduk di sofa di antara Luke dan Bram.
"Bagus nggak Riz..?" komentar Luke kepada Rizki sambil tangannya mulai nakal meraba selangkangan Rizki.
Karena Rizki dibayar untuk itu, Rizki pun diam saja. Apalagi yang meraba adalah orang-orang dengan wajah yang begitu tampan, dengan body yang atletis dan ramah. Rizki membiarkan jemari Luke yang mulai membuka resleting celana yang dia pakai. Dan Luke melanjutkan dengan meremas kemaluan Rizki yang masih tersimpan di dalam celana dalamnya. Tidak sabar dengan tindakan itu dan saking bernafsunya, segera dibalikkannya tubuh Rizki menghadap tubuh Luke. Dan langsung dikulumnya bibir Rizki yang memang sangat seksi dan menantang. Rizki pun dengan pengalamannya segera meladeni permainan yang Luke minta. Saling gigit dan hisap. Pertarungan lidah mewarnai gumulan bibir saat itu. Sedangkan Bram dan Eric asyik menonton film.

Dengan nafsunya, Luke membuka semua pakaian yang dikenakan Rizki. Kini Rizki telanjang bulat di depan para lelaki cakep. Dihisapnya puting Rizki yang beranting dan sesekali digigitnya, hal ini membuat Rizki menggeliat. Luke dengan senangnya memainkan tangannya ke dalam lubang pantat Rizki yang sudah dilumuri lotion oleh Bram. Sedang Eric masih asyik melihat film di VCD player. Setelah lama di puting Rizki, lidah Luke bergerak ke bawah, menjilat kemaluan Rizki.
"Emm.., nikmat..," desah Luke sambil lidahnya tetap memainkan lubang kemaluan Rizki.
Bram yang tadi hanya membantu melumuri lubang pantat Rizki dengan lotion, kini dia pun mulai terangsang dan membuka celananya. Dihadapkannya batang kejantanannya yang sudah keluar dari celananya di depan mulut Rizki. Rizki pun dengan nafsunya segera mengulum kejantanan Bram. Bram memegang kepala Rizki dan menggoyang-goyangkan kepala itu, sehingga kejantanan Bram keluar masuk mulut Rizki.
"Ahh.., nikmat sekali." desah Bram.

Rizki semakin tidak sadar, kakinya Rizki dibuka Luke lebar-lebar, dan dioleskannya lotion sekali lagi ke dalam lubang pantat Rizki.
Dan, "Bleess.." kejantanan Luke yang besarnya hampir sama dengan kejantanan Bram menerobos masuk ke dalam lubang pantat Rizki.
Luke segera menggoyangkan pinggulnya maju mundur di lubang pantat Rizki, semakin lama semakin keras. Sambil kbatang keperkasaan Bram masih dikulum Rizki, kini Bram berposisi menghadap Luke. Mereka pun berciuman dengan liarnya. Kurang lebih 10 menit Luke menempra Rizki.

"Gantian Bram..!" kata Luke saat kejantanannya sudah mau mengeluarkan sperma.
"Aahh.., aku keluar." desah Luke sambil mengeluarkan spermanya di dada Rizki.
Dengan gerak cepat, Bram gantian menempra lubang Rizki yang masih hangat.
"Yes.., tapi rasanya sedikit longgar." komentar Bram yang disambut tawa oleh Luke dan Eric.
Sedang Rizki hanya mampu menahan rasa sakit yang mulai terasa di lubang dia. Rizki hanya diam dan terkadang merintih.

Luke, Bram dan Eric mulai tertawa-tertawa, kini tidak ada rasa halus dan wajah mereka pun tampak liar yang siap memangsa Rizki. Luke yang baru orgasme ternyata tidak tinggal diam, dia kulum kemaluan Rizki dan dikocoknya dengan tangannya. Sedang Bram masih asyik menyodomi Rizki. Rizki pun tidak bisa menahan rasa sakit dan nikmat yang bercampur.
Akhirnya tubuh Rizki mengejang dan, "Cccrruutt..," kemaluan Rizki memuncratkan sperma di mulut dan wajah Luke.

"Emm.., enak juga sperma anak ini." kata Eric yang dari tadi diam.
Ternyata Eric dan Luke asyik ciuman dan Eric dengan rakusnya menjilati sperma yang membasahi wajah Luke. Kini posisi Bram di bawah dan Rizki di atas dengan kejantanan Bram yang masih masuk ke dalam lubang Rizki. Tiba-tiba Rizki menjerit keras, saat dia merasa ada batang kejantanan lain yang masuk lubang dia bersama dengan batang kejantanan Bram. Rizki pun meronta, tapi segera Luke memegangi tubuh Rizki yang meronta, namun Rizki tetap meronta.
Akhirnya, "Plakk.., buugh..," tamparan dan pukulan mendarat di tubuh Rizki.
"Diam..!" hardik Luke yang ternyata lebih kasar dari wajahnya.
"Aahh.., aduuhh..," Rizki akhirnya hanya merintih.

Ternyata dari arah belakang, Eric dengan nafsunya ikut menyodomi Rizki. Lubang pantat Rizki kini dimasuki dua batang kejantanan.
"Kan tidak ada perjanjian seperti ini, Luke..?" tanya Rizki memohon sambil merintih.
Tapi pertanyaan itu tidak digubris oleh Luke dan kawan-kawan. Mereka semakin asyik menikmati tubuh Rizki yang mulai kesakitan.
"Tolong Ric.., cabut kontol Kamu dari lubang pantatku, please.., Aku tidak kuat. Sakit Ric..," rintih Rizki.
Tidak dengan segera Eric mencabut kejantanannya yang sudah masuk dalam lubang pantat Rizki. Selang beberapa menit kemudian, baru Eric mencabut batangnya.

"Bram.., Kamu di atas Bram..," kata Eric meminta posisi Bram di atas.
Kini posisi Bram di atas sedikit menungging menyodomi Rizki.
"Aku ingin merasakan lubang Kamu Bram," kata Eric.
Eric pun mengoleskan lotion ke lubang pantat Bram dan, "Blleess..," kejantanan Eric menerobos lubang Bram.
"Ahh.., yes..," desah Bram.
Eric mulai menggoyang pinggulnya memainkan senjatanya menyodomi lubang Bram. Melihat itu, Luke tidak tinggal diam, dia pun kini mulai memberi kenikmatan kapada Bram, dirabanya putingnya Bram yang mengeras dan digeser-geserkan jemarinya di ujung puting Bram.

"Kamu minum jamu apa Bram, kok lama banget..?" seloroh Luke melihat Bram setelah hampir 20 menit menyodomi Rizki. Bram pun hanya tersenyum.
"Gantian Bram..!" pinta Eric kepada Bram.
Akhirnya, Bram pun mencabut senjatanya dari lubang Rizki. Kini kejantanan Eric masuk ke dalam lubang Rizki. Bahkan Eric dengan kasarnya menggoyang pantat Rizki dengan keras. Yang membuat Rizki menjerit sakit.
"Diam Kamu..! Jika nggak mau diam, Kamu akan rasakan lagi..!" bentak Luke kepada Rizki yang menjerit sehingga membuat Rizki hanya merintih dan menangis.
Rizki merasakan sakit sekali dan rasa panas di lubang pantat dia.

"Aku mau keluar.., aahh.., eemm.., yess..," desah Eric sambil mencabut batang kejantanannya dari lubang pantat Rizki dan memaksa Rizki untuk mengulum senjatanya yang sudah mau memuncratkan sperma.
Rizki tidak mau, dia mau berontak, tapi tangan Luke dengan kerasnya memaksa Rizki untuk membuka mulut dan mengulum batangnya Eric yang baru saja masuk lubang pantatnya.
Rasa sakit, jijik dan lainnya bercampur jadi satu.
Akhirnya, "Ahh.., yeess.., eemm..," desah Eric panjang.
Sperma Eric pun membanjiri mulut Rizki.

Baru 3 menit lubang pantat Rizki istirahat tidak disodomi, tiba-tiba Luke mengambil dan memainkan penis karet ke dalam lubang pantat Rizki dan menggoyangnya dengan keras dan mulutnya pun asyik mengulum batang kemaluan Rizki yang sudah sulit untuk tegang, sedang mulut Rizki mengulum batang kejantanan Luke yang mulai tegang. Mereka berposisi 69. Sedangkan Bram dengan asyiknya menyodomi Luke. Rizki tidak bisa berkutik. Pernah Rizki coba gigit bantang kejantanannya Luke, tapi yang dia dapat, Luke menghajarnya habis-habisan. Tahu kalau kemaluan Rizki susah untuk berdiri, segera Eric mengambil obat viagra dan diminumkannya ke Rizki. Yang akhirnya tidak lama kemudian, kemaluan Rizki pun mulai tegang.

Setelah berdiri tegang, Eric dengan nafsunya memasukkan kemaluan Rizki ke dalam lubang pantatnya yang sudah dilumuri lotion.
"Ehm.., enak juga kemaluan Rizki masuk ke dalam anusku." kata Eric sambil menggoyangkan pantatnya naik-turun.
Sedangkan Rizki sudah tidak bertenaga lagi. Eric dengan liarnya menggoyangkan pinggulnya yang membuat Rizki menjerit kesakitan.
Lalu, "Plak.." sebuah tamparan jatuh di wajah Rizki.

Malam itu Rizki jadi bulan-bulanan Luke, Bram, dan Eric secara bergantian. Merasa capek, mereka tidak istirahat, tapi memasukkan penis karet ke dalam lubang Rizki yang berdarah. Sedangkan tangan mereka secara bergantian mengocok kemaluan Rizki. Semakin Rizki merintih kesakitan, semakin liar mereka bertindak memperkosa Rizki. Rizki tidak ingat berapa kali Rizki disodomi mereka, karena Rizki sempat pingsan. Yang dia tahu, lubang pantatnya berdarah karena hal itu.Dan baru pagi harinya, sekitar jam 4:30, Luke membayar Rizki Rp. 750.000,-.
"Nih.., harga Kamu, Kamu hebat, tapi sayang..," kata Luke sambil menyerahkan uang.
"Cepat pulang..! Dan Kamu tidak ada bukti seumpama Kamu lapor polisi tentang kejadian ini." ancam Luke sambil tersenyum sinis.
Dengan wajah meringis menahan sakit karena wajah dan tubuhnya penuh dengan memar, Rizki menerima uang itu.

Dengan tertatih-tatih karena merasa sangat sakit di anusnya, Rizki meninggalkan rumah keparat itu. Tujuan dia hanya satu, dia ingin ke rumahku karena Rizki di kota ini hanya kost. Dan dia selalu curhat setiap kali dia ada masalah.

Rizki, Rizki.. mimpi apa kamu semalam, uang yang kamu dapatkan semalam, habis untuk biaya berobat.

Kisah Seorang Gay Bayaran 01

Pagi itu, jam 6:00, hari Minggu, aku menikmati secangkir kopi susu sambil membaca koran pagi di teras rumah. Suasana yang tepat untuk bersantai. Lagi asyik-asyiknya aku menghisap rokok A Mild kesukaanku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara dari halaman luar.
"Wan.. Wawan.. tolong Aku please..!" terdengar suara sedikit merintih dari luar.
Aku pun segera berdiri dari kursi malas yang kududuki. Tak berapa lama, muncul temanku, namanya Rizki.
"Wan.. tolong donk Wan.. Aku nggak kuat nih.. tolong Aku.." rintih Riski sambil tubuhnya sempoyongan.
Segera kudatangi dia sambil berlari, lalu kupapah dia masuk ke rumah.
"Kenapa kamu Riz..? Tubuh kamu kok penuh luka..?" tanyaku keheranan melihat tubuh Rizki yang penuh dengan memar dan jalannya sempoyongan.

Rizki adalah teman baikku. Aku mengenal dia sejak kuliah. Wajahnya manis, tubuhnya tidak seberapa tinggi, tapi cukup ideal. Kulitnya bersih tampak terawat sekali.
"Pa.. Papa.., sini donk Pa.. Wawan perlu bantuan nih..!" teriakku tidak sabar memanggil papa-ku.
"Ada apa Wan..?" tanya papaku.
Belum sempat aku menjawab, papa sudah berkata lagi, "Ya ampun.., Kamu kenapa Riz..? Tunggu ya, Om ambil mobil dulu."

Segera kami meluncur ke rumah sakit. Kasihan melihat tubuh Rizki. Tubuh yang biasanya tampak bersih, halus dan wajah yang cakep dan berseri, saat itu penuh dengan memar bekas tamparan dan pukulan.
Setelah Rizki mendapat pengobatan dan perawatan, "Ada apa Riz..? Ceritakan yang sebenarnya.. ayolah..! nggak perlu takut atau malu, kenapa..? siapa yang siksa Kamu..? katakan Riz..!" tanyaku bertubi-tubi dengan tidak sabar.
"Iya Riz..? Ada apa..? Kamu sudah Om anggap sebagai bagian keluarga kami, ceritakanlah..!" balas papaku dengan bijaksana.

Kilas balik

"Halo..! Dengan siapa nih..?" tanya Rizki saat HP-nya berbunyi.
"Emm.. ini Saya bicara dengan Rizki..?" tanya suara di seberang.
"Iya.. Saya sendiri, Mas siapa ya..? Boleh Saya tau..?" tanya Rizki penasaran dan sedikit menggoda.
"Nama saya Luke, begini Riz.., bisa Saya panggil Kamu dengan Riz..? To the point aja, Saya dengar Anda bisa dibooking untuk temani orang, atau tepatnya untuk puaskan orang dalam seks..?" katanya lagi.
"Bagaimana kalau Saya bayar Anda lima ratus ribu, deal..?" tanya orang itu tanpa basa-basi.
Eemm.., tajir (kaya) sekali orang ini, baru kali ini aku dibayar segitu. Biasanya paling tinggi Rp. 300.000,-.

"Bentar dulu.., Saya harus memuaskan siapa..? Apa Mas yang perlu dipuaskan..?" tanya Rizki.
"Tidak.., Kita akan main bertiga, bagaimana..?" jawab suara itu.
"Wah.., kalau harganya dinaikkan, Saya bisa," jawab Rizki sambil memanfaatkan orang itu.
"Baiklah, bagaimana kalau tujuh ratus lima puluh ribu rupiah..?" balas suara di HP itu.
"Oke.., deal.. anyway, Saya bicara dengan siapa ini..? dan kita bisa ketemu dimana..?" tanya Rizki.
"Kamu bisa panggil aku Luke dan teman saya namanya Bram, kalau begitu besok Rizki bisa ke Jl (maaf tidak bisa saya sebutkan) jam setengah tujuh malam dan saya merasa bahagia sekali, karena saya dengar servis anda sangat memuaskan." penjelasan suara di HP itu yang ternyata bernama Luke.

"Ting tong.. ting tong.." suara bel rumah saat dipencet Rizki.
Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah membukakan pintu. Wow.., seorang yang gagah, tampan dan begitu memikat.
"Rizki ya..?" tanya orang itu ramah saat membuka pintu.
"Iya, kenalkan.. nama saya Rizki." jawab Rizki sambil mengulurkan tangannya berkenalan.
"Saya Bram, temannya Luke dan Luke sudah pesen kepada saya." jawab orang itu balas menjabat tangan Rizki ramah dengan simpatik.
"Mari masuk, maaf.. beginilah suasananya, sepi dan sedikit semerawut." kata Bram sopan sambil mempersilahkan masuk.
"Terima kasih.." jawab Rizki sambil melangkah masuk rumah yang lumayan besar.

Rupanya rumahnya Bram merupakan rumah yang nyaman sebagai tempat istirahat, dan mata Rizki pun tetap memandang tubuh Bram yang begitu atletis dengan bulu-bulu halus di tangannya.
"Ada yang salah di tubuh Saya..?" tanya Bram merasa diperhatikan terus.
"Tidak, tubuh anda begitu bagus dan anda begitu menarik, pasti begitu menantang "barang" anda, apalagi pas anda naked..," jawab Rizki dengan secara blak-blakan.
"Rizki bisa aja.., biasa kok, tubuh Rizki juga bagus dan eemm.. pasti lebih bagus lagi jika Rizki juga naked," kata Bram membalas.
"Emm.., sambil tunggu Luke, Rizki mau minum apa..? mau Beer..?" tanya Bram.
"Boleh.. terima kasih." jawab Rizki.
Rizki dan Bram begitu asyiknya mengobrol yang kadang diselingi canda, tampak akrab sekali. Sampai tak terasa, waktu sudah menunjukan jam 19:30.
"Kemana ya si Luke..? kok lama amat sih Dia..?" ungkap Bram memotong pembicaraan.
"Emang Luke pergi kemana Bram..?" tanya Rizki.
"Tadi sih bilangnya mau ke Plasa, sebentar beli sesuatu. Ya.., mungkin macet kali.." jawab Bram.
"Oya.., Bram usianya berapa..? Dari tadi Rizki kok nggak tau, boleh kan..?"
"Tahun ini saya 29 tahun, kenapa..? tampak tua ya..?" jawab Bram sedikit menggoda.
"Tidak, justru Bram sangat pas, usia yang matang.. dan pasti sudah banyak pengalaman ya dalam main seks, bisa Rizki bayangkan permainan Bram.." pancing Rizki terus.
"Ah, biasa aja, bagaimana kalau sambil menunggu Luke, kita nonton film Gay, sambil bercerita tentang pengalaman seks masing-masing.." Bram coba menawari.
"Boleh..," jawab Rizki singkat.
"Padahal tanpa Luke pun, aku mau main dengan Bram saat ini." batin Rizki.

Sambil melihat film Gay dari VCD player, mereka bercerita tentang pengalaman mereka. Yang akhirnya membawa ke suasana hot.
"Rizki pernah dan suka dimasukin secara bergantian..?" tanya Rizki ketika ada adegan main berlima.
"Pernah sih.., tapi kurang suka." jawab Rizki sambil mulai menunjukkan sikap horny.
"Aku mulai horny nih.. adik kecil mulai menggeliat di dalam celana." kata Bram tiba-tiba sambil menunjukkan selangkangannya yang tampak terangkat karena sedang terangsang berat.
"Buka aja Bram.. biar adik kecil kamu bisa bergerak bebas. Apa perlu Rizki bukain..?" goda Rizki.
"Rasanya lebih pas jika Rizki yang buka..," jawab Bram sambil tersenyum manis.

Sebelum Rizki membuka celana Bram, Rizki sempatkan meraba kemaluan Bram dan ternyata Bram tidak mengenakan celana dalam, sehingga tampak kemaluan Bram begitu mendesak celana jeans yang dia kenakan.
"Kemaluan yang terasa keras di dalam sana, pasti besar." pikir Rizki.
Saat celana Bram dipelorotkan, segera kemaluan yang tegang dan begitu seksi menggantung bebas.Rizki tidak sia-siakan hal itu untuk segera memegang kemaluan Bram. Terasa hangat dan urat yang berdenyut menandakan kekarnya keperkasaannya.
"Lakukan aja Rizki..! Kita tidak perlu menunggu Luke, Aku sudah tidak sabar menikmati saat indah bersama Kamu Riz.., Aku ingin menikmati tubuhmu." kata Bram sedikit mendesah.

Tanpa diperintah lagi, Rizki segera meremas dan menggoyang-goyangkan kemaluan Bram yang dia pegang. Bram pun membiarkan apa yang dilakukan Rizki dan dia tampak sekali begitu menikmati rasa nikmat yang mulai mengalir di urat syarafnya. Lalu dikulumnya keperkasaan Bram dengan tangannya yang masih menggenggam dengan hangat.
Rizki memainkan lidahnya di lubang kemaluan Bram dan sesekali dijilatnya batang kejantanan yang begitu besar menantang. Sedang tangan Rizki mulai meraba-raba pantat Bram, jemarinya membelai buah kemaluannya, dan lidah Rizki sibuk juga di biji keperkasaan Bram dan di batang kejantanannya sampai nafasnya semakin lama semakin berat karena menahan nafsu dan nikmat. Bram mengangkat pantatnya sambil membuka kakinya lebar-lebar. Rizki dengan bebasnya menjilat dan menusuk-nusuk lubang pantat Bram dengan lidahnya.
Bram pun menggeliat dan merintih, "Akkhh.. Riz teruus.., teruus Riz..!"
Kini Rizki mebuka kaos ketat yang dikenakan Bram. Wow, tubuh yang indah dengan dada yang berbulu halus. Tanpa diperintah untuk kedua kalinya, segera Rizki menjilat puting Bram dan dimainkannya ujung puting Bram dengan lidah sambil sesekali dihisapnya puting itu keras-keras dengan sedikit kejutan di daerah ketiak Bram yang ternyata merupakan daerah sensitif Bram.
"Permainan Kamu bagus sekali Riz.., Aku begitu beruntung dan begitu menikmatinya.." kata Bram sambil mengangkat kepala Rizki dan langsung diciumnya bibir Rizki.

Saling hisap, saling kenyot dan terkadang terdengar jeritan halus saat terjadi gigitan di permainan lidah mereka. Bram sudah tidak sabar, segera dia buka baju yang dipakai Rizki.
"Sabar donk Bram.. jangan terlalu kasar..!" ungkap Rizki saat Bram membuka bajunya dengan kasar.
"Aku ingin segera melihat dan menikmati tubuh Kamu Rizki..," jawab Bram sambil tangannya melorotkan celana dalam Rizki.

"Mmm.. puting yang indah sekali dan beranting.." kata Bram sambil mulutnya langsung melahap puting Rizki yang berwarna merah kecoklatan dan ditindik.
Dimainkannya lidah Bram di ujung puting Rizki, dan terus menjalar ke perut dan akhirnya dibalikkannya tubuh Rizki. Kini tubuh Rizki tengkurap di sofa, di depan TV yang masih menampilkan film Gay. Antara film dan kenyataan disana menjadi satu, mewarnai ruang keluarga di rumah itu.
"Wow.. pantat yang bagus dan seksi.." begitu kata Bram sambil membelai pantat Rizki.
Diijilatnya pantat Rizki yang mulus.
"Ooohh.." desah Rizki, "Enak sekali Bram.., Auuwww.." jerit Rizki nikmat saat Bram menggigit pantatnya.

Rizki mulai tidak bisa mengontrol diri, tubuhnya mulai menggeliat, meliuk-liuk merasakan permainan lidah Bram yang mulai menembus lubang pantatnya.
"Aahh.., ya.., teruskan Bram.." sambil tangan Rizki menekan kepala Bram ke dalam pantatnya.
Dimasukkannya jari telunjuk Bram ke dalam lubang pantat Rizki.
"Ahh..," desah Rizki.
Tidak puas dengan satu jari, dimasukkannya dua jari ke dalam lubang pantat Rizki yang sudah dilumurinya dengan lotion yang sengaja diletakkan di dekat TV. Rizki semakin meregangkan pahanya dan sedikit mengangkat pantatnya. Posisi Rizki kini sedikit menungging.

Puas dengan memainkan jarinya ke dalam lubang pantat Rizki, kini Bram melumuri batang kemaluannya dengan lotion dan siap untuk menerpa lubang yang sudah begitu menantang.
"Aahh..," jerit Rizki halus saat Bram memasukkan batang kejantanannya yang kekar ke dalam lubang pantat Rizki.
Tangan Bram memegang pantat Rizki dan digoyangkannya pantat itu maju mundur.
"Yees.., eemm.., Cicilia kamu begitu hangat Riz dan aahh.., begitu nikmat."
Semakin lama semakin keras Bram menggoyang tubuh Rizki. Tangan Rizki pun tidak tinggal diam, tangannya mulai meremas dan meng-onani batang kemaluannya sendiri. Hampir 10 menit Bram menyodomi Rizki.

"Aaahh.. Aku mau keluar Riz.." desah Bram sambil mencabut batang kejantanannya dari lubang pantat Rizki dan tangannya langsung mengocok batangnya.
Dibalikkannya tubuh Rizki dan, "Aahh..," desah Bram saat dari lubang kejantanannya memuncratkan cairan sperma membasahi dada Rizki.
"Emm.., Aku nggak kuat lagi Bram.., Aku mau keluar juga.. lebih keras Bram kocokkannya.." desah Rizki saat kemaluannya mau memuncratkan sperma juga.
"Aahh.., eemm.. oo.. yess.." rintih Rizki.
"Aku puas Riz.., kamu begitu hebat, aku suka. Semoga kamu juga puas Riz..," kata Bram sambil tubuhnya memeluk Rizki dengan hangat dan mencium bibir Rizki.

"Mandi bareng Riz..!" Bram menawari.
"Ayo..!" jawab Rizki sambil tersenyum.
Mereka pun mandi di kamar mandi dekat ruang keluarga. Film Gay yang mereka putar pun berhenti minta segera diganti dengan side B.

Kisah Masa Laluku - 2

Send someone to love me
I need to rest in arm..

Lagu Betterman ini adalah lagu kesukaan saya, isinya lebih kurang sama dengan yang saya rasakan saat ini, yaitu perasaan butuh seorang yang bisa menyayangiku apa adanya, yang bisa menemaniku disaat senang dan susah. Dan untuk itu tentunya saya juga sudah siap untuk memberikan segala perhatian dan kasih sayang yang saya miliki untuk dia.

Seperti yang sudah saya sampaikan di cerita saya sebelumnya, bahwa saya hanya mencari seseorang yang lebih dewasa dari saya, yang perhatian dan setia. Dulu saya sempat memegang suatu kriteria dalam mencari pasangan, yaitu seperti yang di impikan setian orang, yaitu tentunya mencari yang ganteng, masih muda dan kaya. Tapi sekarang saya tidak lagi memandang itu sebagai suatu keharusan, karena saya merasa bahwa apa yang ada dalam dirinya itulah yang lebih penting, yaitu kejujuran, kesetiaan dan kedewasaan dalam berpikir. Itulah yang abadi menurut saya dan saya sampai sekarang belum menemukan sosok tersebut dalam hidup saya. Adakah yang saya cari?

Kisah saya di cerita sebelumnya adalah hanya sebagian kecil dari perjalan hidup saya yang kelam, kisah dengan pembeli, tukang becak dan supir taxi adalah sebagian kecil dari orang-orang yang saya pakai untuk memuaskan nafsu saya yang besar saat itu. Mereka bukanlah dari dari dunia kita sehingga mereka mau melakukan hal itu dengan saya tetapi mereka adalah orang-orang yang berhasil saya rayu dan ada beberapa yang saya iming-imingi dengan memberikannya sedikit imbalan. Saya sudah memberikan kepuasan kepada mereka, malah saya juga yang harus membayar. Lucu yah, tapi itu juga karena saya yang sangat menyukainya dan sangat ingin memenuhi nafsu saya yang besar. saya tidak perduli lagi apakah dia itu bersih atau tidak.

Itu adalah masa-masa awal saya di kota ini dan selanjutnya saya mulai melirik kalangan yang lebih tinggi. Saya mulai sibuk chatting di internet dan mulai melakukan janjian kopi darat kemudian berakhir di hotel. Saya juga tidak sembarangan dalam mencari pasangan, minimal mereka harus lebih tua atau seumur dengan saya, selain itu juga dalam chatting tersebut, saya mengajak mereka berdiskusi tentang sesuatu hal untuk menguji cara berpikir mereka. Saya tidak mau jika mereka mau berhubungan badan dengan saya di karenakan mereka ingin memperolah uang dari saya, saya tidak akan mau melakukannya dengan mereka. Oleh karena itu, minimal saya mencari seseorang yang sudah mempunyai handphone.

Saya mempunyai alasan untuk itu, setidaknya dimasa yang modern ini dimana seorang tukang becak didaerah saya saja ada yang sudah memakai handphone. Jadi kalau seseorang itu mempunyai handphone, saya anggap dia itu sudah sedikit mapanlah, selain itu juga mempermudah kami berhubungan. Tetapi saya juga tidak sembarangan memberikan nomer handphone saya. Dalam chatting, selalu saya yang meminta nomer handphone mereka dan kemudian jika saya rasa mereka cukup "Bermutu", maka saya baru mau menelepon mereka. Itupun bukan menelepon dari handphone atau dari telepon rumah melainkan dari wartel. Saya benar-benar ingin menjaga nama baik saya. Dan saya juga tidak sembarangan melakukan copy darat, saya harus pastikan kalau orang itu benar-benar menginginkan hubungan jangka panjang dan bukannya kencan semalam.

Dari chatting-chatting yang pernah saya lakukan, saya pernah mendapatkan seorang yang saya anggap tepat, dimana dia tidak membutuhkan uang dari saya dan hanya membutuhkan hubungan intim. Dia lebih tua dari saya, usianya 29 tahun saat itu. Kami pernah berhubungan lewat telepon beberapa kali dan dari sana saya tahu bahwa dia tidak mempunyai sifat kewanitaan. Suaranya menggambarkan suara seorang lelaki sejati dan dewasa. Mungkin begitu juga anggapan dia terhadap saya sehingga suatu hari dia mengajak kopi darat di suatu tempat.

Dan tibalah hari itu, saya menyuruh dia menjumpai saya di warnet tempat saya biasa chatting dan kemudian dia datang. Lalu kami ngobrol sebentar dan akhirnya dia menawarkan saya untuk ke suatu hotel. Saya juga bersedia karena rasanya saya ingin merasakan bagaimana rasanya berhubungan badan secara langsung, bukan seperti biasa dimana hanya saya yang menservis mereka.

Kemudian kami berdua pun melaju ke hotel yang dimaksud. Dan sesampai disana kami berdua masuk kedalam kamar hotel. Didalam kamar, saya masuk kekamar mandi untuk buang air kecil kemudian mencuci alat kelamin saya hingga bersih. Setelah itu kami berdua nonton TV yang ada dikamar tersebut sambil ngobrol-ngobrol seadanya.

Dari obrolan kami itu, saya baru mengetahui kalau dia itu sebenarnya bisex karena saya menanyakan diumurnya yang sudah hampir 30 tahun dan belum menikah. Apakah orang tuanya tidak mendesaknya untuk segera menikah? dan dia mengatakan kalau dia sekarang lagi berpacaran dengan seorang wanita dan berencanakan untuk menikah beberapa waktu lagi.

Saya menanyakan hal ini kepada dia karena disini kebanyakan para orang tua yang memiliki anak lelaki yang sudah berumur diatas 25 tahun dan sudah mapan akan disesak untuk segera menikah. Begitulah kebanyakan prinsip yang di pegang oleh orang-orang tionghua di kota kami, terutama para orang tua yang sukses dalam berkarier, tentunya ingin menikahkan anaknya kemudian mengadakan pesta yang besar untuk menunjukkan kebesarannya. Dan untuk saat ini, saya benar-benar tidak menginginkan berhubungan dengan seseorang yang bisex, saya tidak akan siap apabila saya akan di tinggalkan untuk menikah dengan wanita. Kecuali saya tidak benar-benar sayang kepadanya.

Awalnya kami sama-sama grogi, tidak ada yang berani untuk memulai pertempuran. Kemudian saya mulai berinisiatif untuk memeluknya dengan satu tangan dan tangan kanan saya, saya letakkan tepat di dadanya, kemudian sayapun mulai meremas dadanya yang masih terbalut baju kaos. Saya mulai meremas dan memutar pelan puting susunya.

Dia kemudian membalas pelukan saya dan melakuakn hal yang sama kepada saya, tak lama kami berdua saling membukakan pakaian masing-masing dan akhirnya mulai berciuman. Sayapun tak tahan lagi ingin memegang penisnya, tapi saya sedikit kecewa karena penisnya berereksi tetapi tidak sekuat yang saya harapkan. Saya pun menyanyakan kepada dia mengapa penisnya gak mau ber-ereksi lebih keras. Dia mengatakan mungkin karena dia sudah lebih tertarik kepada wanita. Dan sayapun bertanya kenapa dia masih mau berhubungan dengan saya, katanya karena dia ingin memuaskan nafsu ke-"Gay"-annya sebelum menikah. Dia tidak mau kalau perkawinannya kelak hancur karena ketahuan kalau dia seorang gay.

Lalu sayapun mengatakan, kalau begitu kita tiodak usah lanjutkan saja acara ini, tetapi dia diam saja dan malah mulai menciumi seluruh tubuhku, membuat aku bergetar seperti goyangan penyanyi dangdut dessy vibrator. Saya pun mulai membalasnya dan mulai menciumi seluruh tubuhnya sampai kemudian sata tiba di daerah sensitifnya, disana MR happynya juga tidak begitu tegang. Tapi saya tidak perduli, saya mulai memasukkan penisnya kedalam mulut saya dan mengulumnya, menjilatnya dan kemudian mulai menggigit pelan dan kemudian penisnya mulai mengeras lebih hebatnya. cukup lama saya bermasin di sana dan di sekitar area penis tersebut. Dia kemudian menyuruh saya untuk mengubah posisi dan akhirnya kami saling mengoral. Gaya 69-lah ceritanya.

Setelah lama saling mengoral, dia berbisik dan meminta kepada saya sesuatu hal, yaitu dia ingin mencoba lubang anus saya yang masih perawan, saya menolak dan mengatakan kalau akan terasa sakit sekali karena saya pernah mencoba memasukkan jari saya sendiri, tentunya setelah saya lapisi dengan kondom. Tapi dia terus merayu saya, hingga sayapun menyerah.

Kemudian dia mulai mengambil gel pelumas dan mengoleskannya ke lubang saya kemudian dia mulai memasukkan satu jarinya dan saya sedikit merasa kesakitan. Tapi saya membiarkannya, kemudian dia mulai memasukkan kedua jari dan saya makin merasa kesakitan, dan dia terus menusuk anus saya dengan jarinya. Sampai akhirnya dia mengambil gel dan mulai melumaskannya di penisnya sendiri, sementara saya bersiap-siap untuk ditusuk dengan rudalnya yang cukup besar.

Saya menunggu agak lama, tetapi dia belum juga menusukkannya, saya pun menanyakan hal ini kepadanya, dan dia menagatakn kalau penisnya seperti tadi, tidak bisa berereksi dengan keras. Cukup lama mencoba, dan tidak juga bisa, maka dia memutuskan untuk mengeluarkan spermanya dengan cara mengocok diatas perut saya, dan kemudian dia mulai mengocok penisnya sendiri dan saya juga mengocok penis saya sendiri. Akhirnya dia yang duluan mengeluarkan spermanya dan jatuh mengenai perut saya dan menegenai penis saya yang masih dalam genggaman saya.

Kemudian dia mulai tidur di sebelah saya dan mulai untuk menghisap puting saya, dan saya sendiri menikmati hisapannya sambil tanpa berhenti mengocok penis saya. Akhirnya sperma saya keluar juga dan muncrat mengenai kepala Budi dan jatuh berceceran. Setelah itu kami mulai saling berciuman agak lama dan kemudian masing-masing membersikan badannya, ngobrol-ngobrol sebentar dan akhirnya pulang.

Itulah pengalaman saya berhubungan badan pertama kali dengan seorang pria, tentunya pertama kali dimana kami sama-sama telanjang dan bisa saling memeluk tanpa rasa takut di ketahui oleh orang lain. Sungguh berbeda yah dengan pengalaman yang banyak saya baca di situs ini, yang di ceritakan oleh penulis lainnya. Dimana pengalaman-pengalaman mereka lebih seru dari pengalaman saya ini.

Ini adalah murni pengalaman saya dan bukan hanya berdasarkan yang pernah saya baca. Saya sendiri sudah mulai bosan dengan apa yang sudah saya lakukan selama ini, dan saya tidak menghendaki lagi pengalaman sex one night stand ini, dimana tidak ada keterikatan diantara kami. Hanya sebatas bunga di satu malam. Tetapi sulitnya menemukan sosok yang ingin berhubungan long time dengan saya membuat saya tidak bisa mengelak dan terkadang masih melakukannya. Kapankah seseorang yang saya harapkan itu datang menemaniku sepanjang masa? Apakah kesempatan itu akan datang padaku? Dimanakah harus kucari?

Untuk seseorang di Ternate, terima kasih atas persahabatan yang anda tawarkan, atas nasehat-nasehat yang telah anda berikan dan juga pandangan-pandangan hidup anda, semoga persahabatan kita yang sudah terjalin akan abadi ya!

Oh ya, saya adalah chinese berumur 24 tahun saat ini dan berdomisili di Sumatera-utara. Bagi yang ingin curhat atau ingin menemaniku sepanjang waktu, jangan segan untuk melayangkan email anda kepada saya. Thanks!

noblack2002@yahoo.com

Kisah Masa Laluku - 1

Aku adalah seorang lelaki yang berumur 24 tahun, lahir di suatu kota di Sumatera-Utara. Dan ini adalah untuk pertama kali aku mengirimkan cerita ke situs 17Tahun.com ini. Sebelumnya aku sudah pernah mencoba untuk menulis kisahku ini, tapi aku tidak pernah berhasil mencapai batas minimum 10.000 huruf, sehingga tulisanku hanya bisa ku simpan di disket dan akhirnya kali ini aku baru bisa kembali menulis kisahku ini.

*****

Aku terlahir sebagai seorang anak lelaki, di usiaku yang masih kecil sampai aku sekolah di tingkat SMP, aku mempunyai sifat seperti perempuan, hal ini bisa di lihat dari caraku berbicara dan juga gaya tubuh. Banyak teman-teman dan yang lainnya memanggilku dengan sebutan "Banci". Aku merasa benci sekali terhadap diriku, tapi syukurlah kalau sekarang aku bisa berlaku layaknya sebagai seorang lelaki sejati, meski terkadang disaat aku bercanda dengan temanku, sifat asliku terkadang muncul, aku bisa terkesan sangat cerewet sehingga kelihatan sekali aku mirip dengan anak perempuan.

saat aku masih duduk di bangku SD, aku suka bermain dengan beberapa teman lelakiku, dan biasanya mereka bermain di rumahku yang kebetulan setiap hari selalu sepi kare4na ayah dan ibuku bekerja di luar rumah. Suatu hari aku mengajak mereka main dokter-dokteran, aku berperan sebagai dokter dan mereka pasienku. Dan di saat itu sudah muncul naluri ke-"Gay"-anku, aku suka sekali untuk memegang penis kedua teman-temanku, tetapi yang aku lakukan saat itu hanya sekedar memegang penis mereka, aku belum bisa membedakan apa itu lagi ereksi atau bukan.

Setiap hari kami selalu bermain bersama, sampai akhirnya kami mulai saling suka memegang penis satu dengan yang lainnya. Kemudian kami mulai suka saling menggesek-gesekkan kedua penis kami, dan hanya itu yang sebatas itu yang kami lakukan, karena pada saat itu kami bertiga belum puber, belum bisa mengeluarkan pejuh dari penis kami. Jadi kami hanya saling mengonani tanpa merasakan orgasme.

Dan dari kami bertiga, aku merasa hanya aku saja yang mempunya naluri gay yang lebih besar, karena aku tidak bisa menyukai perempuan sedangkan kedua temanku suka menggoda teman perempuan, dan mereka juga berpacaran dengan teman perempuan tersebut.

Kemudian saat aku mulai duduk di bangku SMP, aku sudah puber, dan aku sudah mengetahu kalau dalam mengonani, aku bisa mengeluarkan cairan putih yang belum kuketahui apa namanya. Dari sana aku merasa bahwa naluri sex ku begitu mendalam, aku suka sekali memegang penis orang lain, tidak perduli siapapun dia.

Aku mulai suka memanfaatkan situasi, di tempat ayahku berdagang, kami mempunya beberapa orang pegawai lelaki, satu dari mereka sudah berumur 40 tahunan, aku suka mengajak dia ngobrol dan kemudian aku suka mulai memegang penisnya, meski hanya memegang dari luar celananya, aku sudah merasa senang sekali. Kemudian aku mulai memberikan dia uang dengan imbalan dia mau membuka celananya dan membiarakan aku memegang penisnya. Dia menyetujuinya karena dia juga butuh uang dari aku. Dan kejadian itu berlangsung setiap hari karena di waktu sore, tinggal kami berdua sehingga aku selalu dapat memegang penisnya yang lumayan besar untuk orang asia.

Awalnya aku hanya suka memegang penisnya dan mengocokknya dengan berbagai macam gaya, kemudian aku mulai ingin untuk mengoral penisnya dan dia diam saja sambil menikmati apa yang aku lakukan. Aku hanya suka mengoralnya sampai aku merasa puas sendiri, aku tidak menunggu dia orgasme karena saat itu aku tidak mengetahui kalau di dalam berhubungan sex, aku juga harus memuaskan pasanganku itu.

Saat itu aku memiliki keingin yang besar untuk melihat penis setiap lelaki yang aku jumpai, dan karena itu aku selalu membuka topik pembicaraan dan ujung-ujungnya aku suka menempelkan tanganku di gundukan celana lelaki yang aku temui. kalau aku merasa mereka memberiku lampu hijau, maka aku akan terus membuka resleting celana mereka, kemudian memegang penis mereka dan mengocoknya sesuka hati. dan kalau memang keadaan sekita mengijinkan, maka aku tidak akan segan-segan untuk mengoral penis mereka sampai mereka mengeluarkan sperma mereka.

Dan hal-hal tersebut aku lakukan hanya beberapa kali, karena aku masih tinggal di kota kecil dan karena usiaku yang juga masih duduk di bangku SMP membuat sedikit sekali kesempatan bagiku untuk bisa berduaan dengan seorang lelaki dewasa.

Kemudian disaat aku duduk di bangku SMU, perubahan tubuh yang membuatku lebih besar membuat aku mulai mendapat kesempatan untuk berdua dengan lelaki dewasa. Saat itu aku lebih hati-hati dan aku mulai merasa harus menghilangkan image kegenitanku dan mulai membentuk image lelaki sebenarnya pada diriku. Saat aku bisa berdua dengan lelaki dewasa aku dapatkan dimana saat itu aku sudah mulai membantu orang tuaku berdagang. Setiap ada pembeli lelaki yang datang dan ingin melihat barang yang ada di gudang penyimpanan, aku yang selalu menawarkan diri untuk mengantarkan mereka malihat di gudang tersebut yang jaraknya lumayan jauh dari kantor kami dan keadaan sepi di gudang itu membuat aku bisa sedikit merayu para pembeli yang datang, bukan merayu mereka untuk membeli, tetapi merayu merayu mereka untuk bersedia mengijinkan aku memegang penis mereka.

Dan aku punya cara sendiri untuk merayu mereka,
"Sudah menikah Pak?", tanyaku memulai pembicaraan.
"Sudah dik", jawabnya.
"Wah asyik donk 'adiknya' ini tiap malam masuk sarang", sambungku sambil meletakkan tangan kananku tepat di gundukan penis yang masih terbalut celana jeansnya.
Dan kalau lelaki yang aku pegang penisnya tidak terlihat mencoba menepis tanganku maka aku akan berbuat lebih berani. Aku akan terus meletakkan tanganku di sana dan akan mulai meremas pelan.
"Besar sekali ya Pak?", candaku biasanya.
"Ah, Adik bisa aja".
"Besar nih, aku buka ya Pak?", kataku sambil membuka resleting nya.
"Jangan dik, nanti dilihat orang".
"Sepi kok disini, nggak ada yang bakal datang".

Kemudian aku akan mulai mengeluarkan penisnya dan mulai meremas penisnya sampai mengeras, seperti biasa jika kesempatan sudah di depan mata, maka aku tak akan ragu lagi, aku akan mulai berjongkok dan akan mulai mengoral penisnya sampai dia merasa puas dan mengeluarkan spermanya.
"Enak nggak Pak?".
"Enak banget dik".
"Lain kali kalau pingin lagi, kesini lagi yah Pak!".
"Oke deh, makasih yah".

Dan aku mengeluarkan sapu tanganku kemudian membersihkan sisa air ludahku yang menempel di penis bapak tersebut dan kemudian menutup resleting mereka, dan setelah mengambil barang dari gudang tersebut, kami akan kembali ke kantor seperti tidak terjadi apa-apa diantara kami. Dan saat-saat menyenangkan itu aku dapatkan dalam banyak kesempatan, terutama saat ketika kedua orang tuaku pergi berlibur ke Luar Negeri selama dua minggu. Saat itu aku yang harus mengurusi kantor mereka dan aku mempunyai banyak kesempatan untuk merayu setiap lelaki yang datang untuk membeli produk yang kami jual.

Sampai akhirnya aku lulus SMU dan aku harus pindah ke kota 'X' untuk kuliah disana. Di kota 'X' tersebut aku tinggal bersama keluarga Adik ayahku. Awal di kota 'X' ini membuat aku bosan karena aku kehilangan kesempatan-kesempatan untuk merayu lelaki-lelaki yang bisa memuaskan nafsu sex aku yang begitu besar. Dan dikota ini aku memulai kuliahku, bertemu teman-temahn baru sambil mengincar teman-teman baruku. Tetapi tidak ada yang aku sukai diantara mereka, dan lagi pula kalau aku bisa menemukan teman baru yang aku sukai, aku ragu karena aku merasa tidak punya tempat untuk melakukan hal tersebut.

Dan ternyata aku menemukan ide-ide yang bisa membuat aku mendapatkan kepuasan. Setiap malam hari ketika hujan tiba, aku suka permisi kepada pamanku untuk keluar rumah dengan berbagai alasan. Dan aku akan mulai mencari tukang becak yang biasanya bisa aku jumpai di jalan raya. Aku akan memilih mana tukang becak yang aku sukai, tentunya mereka yang kelihatan bersih dan juga wajahnya menarik. Aku akan menyetop becaknya kemudian dengan menawarkan sejumlah uang, aku akan menyuruh mereka untuk membawa aku keliling-keliling kota ini. Becak di kotaku ini bukan seperti becak di pulau jawa yang biasanya pengemudinya ada di belakang sedangkan penumpangnya di depan, tetapi becak yang ada di kotaku adalah becak yang pengemudinya duduk di samping kita untuk mengemudikan becaknya. dan ketika hari hujan, maka mereka akan menutup becaknya dengan tenda sehingga yang tampak hanyalah wajah tukang becak itu sedangkan aku akan berada didalamnya. Dan duduk di dalam becak tersebut membuat aku bisa memperhatikan gundukan penis tukang becak tersebut tanpa di ketahui tukang becak itu sendiri.

Setelah beberapa lama becak berjalan dan hujan masih deras, maka aku akan memulai pembicaraan dengan berteriak kecil karena aku ada di dalam becak sedangkan kepala tukang becak tersebut berada di luar maka kalau aku berbicara pelan, maka tidak akan kedengaran apa yang aku bicarakan. Untuk memulai aksiku agar bisa langsung memegang penis tukang becak tersebut tanpa membuat dia terkejut, maka aku akan memulai pembicaraan yang menjurus kehal-hal berbau sex.
"Bang, hujan-hujan begini kok bukannya pulang kerumah? Kan enak, abang bisa menyenangkan 'adiknya' he he he heh e", kataku sambil langsung mendaratkan tanganku di gundukan penis abang becak tersebut untuk memperjelaskan arti kata 'Adik' yang aku katakan.

Kemudian seperti biasa, aku akan merayu dengan yang lebih lagi sementara tanganku tentunya tidak menghentikan aksiku. Aku akan mulai mengeluarkan penis dari celananya, kemudian meremasnya sampai mengeras, sementara abang becak itu terus mengemudikan becaknya dengan perlahan, sehingga orang di sekitar tidak akan curiga. kemudian aku akan mulai mengoral penis tukan becak tersebut, sambil berbisik kepadanya agar mencari jalan yang lebih sepi. Biasanya di tempat yang lebih sepi, tukang becak tersebut akan menghentikan becaknya di tepi kemudian mulai menikmati oral yang aku lakukan terhadap 'adiknya'. tentunya bisa di tebak akhir kisah ini kalau dia kemudian akan mengeluarkan spermanya.

Biasanya setelah itu, aku akan menutup resletingnya kembali dan aku akan mulai untuk mengocok penisku yang sudah menegang dari tadi. Kemudian setelah selesai, maka aku akan menyuruh tukang becak tersebut mengemudikan becaknya kembali ke tempat asal. Hal tersebut aku lakukan beberapa kali, tentunya bukan dengan tukang becak yang sama melainkan tukang becak yang lain.

Kejadian itu sedah berlalu 2 tahun yang lalu, dimulai dari informasi tentang penyakit AIDS yang aku peroleh. Aku menjadi ketakutan akan diriku, aku mulai memeriksakan diri ke dokter dan syukurlah aku dinyatakan bebas dari penyakit kelamin AIDS ataupun penyakit kelamin lainnya. Sejan saat itu juga aku berusaha untuk menghentikan aksiku yang liar itu dengan cuma beronani di kamar saja atau hanya dengan melihat-lihat gambar porno lewat internet kemudian melampiaskannya dengan beronani juga.

Syukurlah sudah dua tahun ini aku bisa bebas dan tidak pernah sekalipun aku berhubungan badan dengan sembarangan orang lagi. Kalaupun aku benar-benar haus sentuhan lelaki, maka aku akan pergi ke panti pijat tuna netra dan kemudian membiarkan diriku di pijat sambil merasakan sentuhan dari seorang lelaki yang aku rindukan dan tentunya kami tidak melakukan hal lain.

Saat ini aku cuma ingin menjalin hubungan dengan pria yang dewasa, yang bisa menyayangi aku apa adanya diriku. Dan juga mapan, dalam arti bisa menghidupi dirinya sendiri. Saya tidak suka dengan lelaki yang masih suka meminta kepada orang tuanya, walau hanya untuk beli rokok sekalipun.

Kisah Keluargaku - 4

Di depanku, Ayah dan Paman menjadi semakin bergairah. Paman dari tadi belum ngecret, sehingga kontolnya banjir precum. Tubuh seksi Paman mengkilat karena keringat, otot-ototnya nampak semakin besar karena efek kilatan itu. Ayah menggenggam kontol Paman dan mengocok-ngocoknya sementara Paman menciumi badan Ayah. Melihat Ayah dan Paman bermesraan seperti itu membuatku keblingsatan dengan nafsu, karena mereka berdua adalah pria paling seksi di muka bumi ini. Jika mereka tinggal di Amerika, tak diragukan, mereka pasti bisa ngetop sebagai bintang porno homoseksual. Kontol Ayah mulai mengencang walaupun tadi sudah capek menghajar pantatku.

"Oohh.. entot pantatku, Irwan.. Aahh.. Kakakmu butuh bantuanmu.. Aarrgghh.." Paman mencoba segala upaya agar Ayah kembali terangsang dan sudi mengentotnya. Tak kusangka Paman suka dientot juga, padahal tampangnya macho sekali.

Ayah dari tadi memperhatikan ekspresi wajahku yang nampak kebingungan, maka tanpa ditanya, Ayah langsung menjelaskan.

"Pamanmu ini memang suka dientot, Rob. Tapi hal itu tidak mengurangi kejantanannya. Dan Ayah yakin, kamu juga tidak mau dianggap lemah dan kurang jantan hanya karena kamu suka dientot, bukan?" Wajahku memerah, omongan Ayah memang benar dan masuk akal.
"Pria sejati memang seharusnya mau mengentot dan juga mau dingentot. Itu namanya saling memberi dan saling menerima. Kapan-kapan, kamu juga boleh ngentotin pantat pamanmu ini. Dan Ayah juga pasti mau mencoba kontolmu di pantat Ayah. Sudah lama Ayah tidak disodomi. Sekarang, kamu nikmati saja kontol Kakek, sementara Ayah mau ngentotin pamanmu."

Paman tersenyum mesum saat Ayah menepuk pantatnya. Itu adalah kode agar Paman segera mengambil posisi nungging. Dengan patuh, Paman ber-doggy-style di atas lantai, tepat di depanku. Wajah kami saling berhadapan sehingga saya akan dapat menyaksikan ekspresi nikmatnya saat dia disodomi oleh Ayah.

"Oohh.." erangnya saat bibir anusnya terbuka dan dipaksa untuk menelan kontol Ayah.

Dengan mudah, kontol itu masuk seluruhnya. Tidak heran berhubung Paman sudah sering disodomi Ayah dan Kakek sejak dia masih seusiaku.

"Aarrgghh.." Wajah Paman menyeringai seperti orang kesakitan. Tapi bukan rasa sakit yang sedang mendera tubuhnya, melainkan rasa nikmat yang amat teramat sangat, tak terlukiskan.
"Oohh.. Kontolmu besar sekali, Irwan.. Oohh.."
"Uugghh.. Tapi Kakak suka kan?" tanya Ayah, sengaja menyodokkan kontolnya lebih keras agar Paman bisa merasakannya.

Erangan-erangan nikmat dari kami berempat memenuhi kamarku. Suasana mulai terasa pengap karena panasnya permainan seks kami. Tubuh kami berempat bersimbah keringat, precum, dan pejuh. Pandanganku mulai kabur karena bulu mataku basah dengan keringat. Tak terasa sudah hampir lima belas menit, saya dan Paman dientot. Paman nampak sangat bergairah akibat sodokan kontol Ayah, dan terus saja menyemangati Ayah.

"Ayo Irwan.. Oohh.. Fuck my ass.. Aarrgghh.. Fuck.. Oohh.. Lebih dalam.. Aarrggh.. Yyeaahh.. Oohh.. Enak banget.. Aarrgghh.. Oohh.."

Ayah juga mengentot Paman lebih keras, seperti sedang mengendarai seekor kuda. Paman sampai berteriak-teriak karena nikmat.

"Aarrgghh!!"

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Tanpa menyentuh kontolnya, Paman ngecret.

Banyak sekali pejuh yang tertumpah dari kontol ngacengnya. Pejuh Paman menyemprot keluar dan jauh ke depan. Beberapa kali malah muncrat di wajahku. Buru-buru kubuka mulutku lebar-lebar agar pejuh paman bisa mendarat di dalam mulutku. Ah, enak sekali. Sisa pejuh yang menempel di sekitar bibirku kujilat habis. Rasanya agak pahit, tapi tetap enak dan nikmat karena dihasilkan dari kontol.

Paman langsung roboh ke atas lantai, ditimpa oleh Ayah. Meskipun Ayah belum ngecret, dia memutuskan untuk berhenti mengentot Paman karena nafsu Paman sudah terpuaskan. Kakek semakin terangsang melihat Paman ngecret, dan hal itu memicunya untuk ngecret juga.

"Oohh!! Aarrgghh!! Oohh!! Aahh!!"

Kontolnya bergerak keluar masuk lubang pantatku sambil terus menyemburkan pejuh panas. Ccreett!! Ccrroott!! Ccrroott!!

"Uugghh!! Oohh!!" desah Kakek saat kontolnya tercabut keluar. Namun Kakek masih belum selesai ngecret maka dia asal-asalan menyodokan kontolnya ke dalam belahan pantatku. Kontolnya memang tidak masuk kembali ke dalam anusku, namun belahan pantatku sudah cukup menstimulasinya sehingga Kakek puas. Saya terbaring lemas di atas lantai yang berlumuran pejuh dan precumku. Kontol Kakek memang luar biasa, namun saya terlalu capek untuk ngecret.

Kakek mencium bibirku sebentar lalu bangkit berdiri. Kontolnya bergoyang-goyang sambil menodai lantai dengan sisa pejuh saat Kakek berjalan keluar. Ayah segera bangun dan mengikuti Kakek. Nampaknya mereka memang sengaja meninggalkanku berduaan saja dengan pamanku. Paman memandangiku dengan pandangan mesumnya seakan bertanya 'Masih mau dientot?'.

Meskipun saya sudah lemas, namun saya tetap merindukan sensasi nikmat akibat dientot. Maka kuanggukkan kepala sambil tersenyum malu. Pamanku langsung bangkit berdiri dan menghampiriku. Kontolnya mulai menegang lagi, membayangkan nikmatnya mengentot denganku. Kupandangi kontolnya dengan tatapan penuh harap, ingin mencoba rasanya.

Dengan kekuatannya, Paman memapahku dan membaringkanku di atas ranjangku. Saya merasa seperti pacarnya saja. Dengan lembut dan mesra, Paman mencumbuiku. Bibirku dicium-cium sementara lidahnya menyelinap masuk. Kedua tangannya memeras-meras dadaku yang bidang. Putingku tak luput dimain-mainkan olehnya.

"Hhoohh.. Hhoohhsshh.. Oohh.." desahku, birahi mulai bangkit. Bersamaan dengan itu, kontolku bangun dan mulai berdenyut-denyut kembali.

Kupeluk tubuh pamanku dan kubalas ciumannya. Kami berguling-guling di atas ranjang seperti pasangan pengantin baru. Kutatap mata Paman dan kulihat gelora nafsu di dalam sana. Paman ingin bercinta denganku. Seperti layaknya seorang kekasih, Paman mengambil tangan kananku dan kemudian menciumnya seraya bertanya..

"Robert sayang, boleh nggak Paman bercinta denganmu?" Saya mengangguk-ngangguk, antusias.
"Boleh, Paman. Robert bersedia disodomi Paman."
"Keponakanku yang tersayang," ucap Paman seraya menciumiku lagi.

Kedua kakiku dilebarkan agar anusku terbuka. Lubang pantatku memang sudah mulai kelihatan longgar. Bibir anusku agak bengkak sedikit akibat penetrasi Ayah. Noda-noda pejuh masih tampak di sekitar anusku, sebagian mulai mengering dan menjadi kerak.

"Ah, Paman terangsang melihat anusmu, Rob. Paman masukin yach?" Dan saya kembali mengangguk. Dengan posisi berlutut, Paman mencoba untuk memasukiku.
"Aargrghh.." erangnya.
"Oohh.. Sempit banget, Rob.. Hhoohh.."

Sambil menggeram kecil, Paman mendorong kontolnya dan.. PLOP! Kepala kontolnya sudah masuk. Anusku mulai berdenyut-denyut penuh gairah, tak sabar untuk segera disodomi Paman.

"Aarrgghh.. Yyeaahh.. Paman.. Nikmat sekali.. Oohh.. Ayo, Paman.. Robert udah nggak tahan lagi.. Oohh.. Saya mau dingentot.. Oohh.. Paman.." desahku, menggapai-gapai tubuh Paman.

Ah, seksi sekali melihat tubuhnya sambil berbaring. Sejak dulu, saya memang suka sekali dengan Paman. Tak pernah terpikirkan bahwa saya akan sedekat ini dengan Paman dan bahkan disodominya.

"Aarrgghh.. Oohh yeeaahh.." Sengaja kulingkarkan kedua kakiku di pinggang Paman dan menariknya mendekati tubuhku. Paman menurut saja. Dengan demikian, dia bisa mengentot dan sekaligus menciumku.

Tetesan keringat Paman jatuh ke atas tubuhku. Tubuhku sendiri kembali berkeringat. Kontol Paman sama enaknya dengan kontol Ayah dan Kakek, besar dan panjang. Prostatku kembali menjadi bulan-bulanan, disodok-sodok. Orgasmeku mulai meningkat, sedikit demi sedikit. Kuremas dada Paman dan kupelintir-pelintir putingnya. Pamanku keblingsatan dan makin bergairah. Sodokannya terasa menguat dan desahan napasnya semakin memburu.

"Oohh.. Rob, Paman mau ngecret.. Hhohh.. Bersiaplah.. Aarrgghh.."

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Kontol Pamanku berdenyut-denyut, menyemprotkan cairan kejantanannya. Pejuhnya tersemprot masuk, bercampur dengan pejuh Ayah dan Kakek.

"Aarrgh!! Aarrgghh!! Aarrgghh!!" Tubuhnya bergetar dan berguncang-guncang seperti banteng ngamuk. Cengkeramannya menguat saat orgasme sedang menguasainya.
"Oohh!! Uugghh!! Aarrgghh!!" Saat kontolnya selesai berejakulasi, Paman lemas dan menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Dia terengah-engah sambil memandangku.

Berbaring telanjang bulat di samping Paman yang sudah kuidolakan sejak kecil membuatku tak tahan untuk tidak ngecret. Segera kukocok-kocok kontolku yang sudah tegang dan basah. Bekas pejuhku membuat kocokanku makin licin dan enak.

"Oohh.. Hhoohh.. Hhoosshh.."

Terus dan terus kukocok kontolku. Paman merangsangku dengan memain-mainkan dadaku, sambil membisikkan kata-kata yang merangsang.

"Oohh.. Paman.. Mau sampai.. Aarrgghh.. Paman.. Oohh.. I love you.. Aarrgghh.."

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Seluruh otot tubuhku berkontraksi hebat saat pejuhku dimuntahkan keluar. Ini adalah ejakulasiku yang ketiga dan benar-benar nikmat, meskipun semburannya agak lemah dibanding ejakulasi pertama.

"Aargghh!! Uuggh!! Hhoohh!!" Berkali-kali, pejuh kumuntahkan lagi dan lagi dan lagi.. Sampai akhirnya berhenti sama sekali. Paman melingkarkan tangannya di bahuku dan menciumiku dengan mesra. Kubalas ciumannya sambil memeluk tubuhnya.

"Oohh.. Keponakanku, i love you" bisik Paman.
"I love you too, Uncle", balasku.

*****

Menurut pandangan umum, terutama dari kaum wanita, bahwa pria akan langsung tidur setelah seks mungkin benar, karena Paman dan saya langsung ketiduran. Seks tadi benar-benar melelahkan, tapi nikmat sekali.

Sejak saat itu, hidupku berubah menjadi lebih baik. Ayah, Paman, dan Kakek berhasil membangunkan sisi homoseksualitasku yang sudah tertidur lama. Kini saya lahir kembali sebagai seorang pria homoseksual dan saya tidak menyesalinya. Setiap hari, kami berempat saling mengentot dan memuncratkan pejuh. Saya bahagia menjadi bagian dari keluarga ini, keluarga Budiman.

Kisah Keluargaku - 3

Pamanku langsung siap untuk menolongku. Dengan sigap, kontolku langsung ditelannya. Hisapan Paman memang laur biasa. Rasa nikmat yang diberikan oleh lidahnya dan bibirnya membuatku lupa akan rasa sakitku. Kontolku berdenyut-denyut, membocorkan precum ke dalam mulut Paman. SLURP! SLURP! Suara hisapannya terdengar keras. Mau tak mau, saya mengerang-ngerang kenikmatan, lupa akan rasa perih di anusku.

"Aarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.." erang Ayah, merem-melek.

Otot-otot tubuhnya berkontraksi seiring dengan ritme ngentotnya. Bisepnya menguat dan dadanya menegang. Otot-otot perutnya nampak lebih kotak-kotak dari biasanya. Keringat yang membasahi tubuhnya itu menambah rangsangan visual, membuatku kehabisan napas. Ayah berusaha menggenjot tubuhku dengan ritme yang cepat. Anusku mulai melonggar, terbiasa dengan besarnya kontol ayahku itu. Namun rasa perih dan terbakar itu masih tetap ada.

"Aarrgghh.. Sempit sekali kamu.. Oohh.. Ayah mau ngentot sama kamu, Rob.. Aarrgghh.. Tiap hari.. Oohh.. Kamu suka kontol kan? Aarrgghh.. Rasakan kontol Ayah.. Oohh.." Agar bisa berbicara, saya mengeluarkan kontol Kakek dari mulutku.
"Aarrgghh.. Oohh.. Enak banget, Yah.. Aarrgghh.. Ngentotin saya terus.. Oohh.. Jangan stop.. Aarrgghh.. Saya butuh kontol.. Aarrgghh.. Kontol Ayah.. Oohh.."

Tubuhku terguncang-guncang, disodomi ayahku kuat-kuat. Dan perlahan, sensasi baru timbul dalam diriku. Rssa nikmat membungkus tubuhku setiap kali kontol Ayah menghantam sesuatu di dalam tubuhku. Tubuhku bergetar sedikit dan merinding karena rasa nikmat yang luar biasa itu. Dan kenikmatan itu berlangsung terus-menerus, setiap kali kontol Ayah menghajar anusku.

"Aarrgghh.. Oohh.. Aarrgghh.." Tubuhku agak mengejang dan Ayah tahu apa yang saya rasakan. Maka dia semakin keras menyodomiku.
"Aargghh!! Fuck! Oohh!! Ngentot! Aarrgghh!!"

Kakek hanya bisa mengocok-ngocok kontolnya saja, menyaksikan adegan mesum di depannya. Ingin bergabung, Kakek kembali menyodorkan kontolnya padaku.

Kali ini dia berkata, "Sedot kontol Kakek. Isap yang kuat, jilat kepalanya, dan buat Kakek ngecret.."

Tanpa mengeluh, saya menerima kontol itu kembali di dalam mulutku. Kali ini, terasa sedikit asin. Oh, rupanya Kakek sudah mengeluarkan precum. Asin, tapi enak juga. Saya memang belum pernah menghisap kontol, tapi saya berusaha mencontoh apa yang dilakukan Paman pada kontolku.

"Aahh.." desah Kakek saat lidahku menggelitik-gelitik bagian bawah kepala kontolnya.

Selanjutnya, kukerahkan tenagaku untuk menghisap batang kontol itu. Kubayangkan bahwa kontol itu adalah sebuah sedotan raksasa. Hisapanku membuat mata Kakek merem-melek. Desahan demi desahan terus dikeluarkannya.

"Aahh.. Hhoohh.. Oohh.."

Saya sendiri ingin mendesah tapi desahanku tertahan oleh kontol Kakek. Rasa nikmat yang teramat sangat menyelubungi tubuhku. Kontolku sedang dihisap Paman, pantatku sedang dingentot Ayah, dan saya sendiri sedang sibuk menghisap kontol Kakek. Tiga kenikmatan sekaligus.

"Mmpphh.. Mmpphh.. Mmpphh.." Hanya itu yang dapat kusuarakan.

Walaupun tadi saya sudah ngecret, namun saya ingin ngecret kembali. Kontolku berdenyut lebih cepat saat orgasmeku mendekat. Paman makin bersemangat menyedotku, tahu bahwa saya akan ngecret lagi. Oh, dapat kurasakan orgasmeku mendekat lagi.. Aahh.. Yyeaahh.. Tapi, tiba-tiba Paman berhenti menyepong kontolku. Saya tentu saja kecewa sekali.

"Oohh.. Kakek mau keluar.. Oohh.." Dan kemudian tubuh seksi Kakek bergetar hebat, mengejang-ngejang.

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Pejuh Kakek membanjir keluar, masuk ke dalam mulutku. Itu pertama kalinya saya mencicipi pejuh. Rasanya memang agak aneh dan pahit, tapi makin banyak yang kutelan, pejuh itu makin terasa enak. Mm.. Kujilati kepala kontol Kakek sementara dia mengerangkan orgasmenya.

"Aargghh!! Aarrgghh!! Uugghh!!"

Kakek yang sudah puas berorgasme memainkan-mainkan kontolnya di mukaku. Pejuhnya habis kujilat. Sodokan-sodokan bertenaga dari kontol Ayah membangkitkan dorongan orgasme sehingga saya merasa bahwa saya bisa ngecret tanpa dicoli.

"Aahh.. Oohh.. Aarrgghh.. Ayah.. Saya sampai.. Oohh.." Saya menggeliat-geliat tapi Ayah memegangi pinggangku kuat-kuat.
"Oohh.. Keluarkan saja, nak.. Aahh.. Ngecret saja lagi.. Oohh.." desak Ayah sambil tetap menyodomiku. Kedua tangannya lalu pindah ke bagian dadaku, meremas-remasnya seperti adonan. Rasanya nikmat sekali, membuatku makin ingin mengerang.

Sementara itu, dorongan orgasmeku semakin besar. Kurasakan kontolku makin menegang dan basah. Genangan precum timbul di pusarku, hasil tetesan kontolku. Akibat sodokan kontol Ayah, genangan itu tumpah ke lantai, menuruni sisi perutku.

"Aahh.. Ayah.. Oohh.. Ayah.."

Sambil menahan laju orgasmeku, kupandangi wajah ayahku yang ganteng itu, dan dia mengangguk. Dengan itu, kulepaskan orgasmeku.

"Aarrgghh..!! Oohh..!! Aargghh..!! Oohh..!!"

Semburan kontolku masih terasa kuat walaupun saya barusan sudah ngecret. Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Perutku yang agak kotak-kotak berkontraksi hebat, terasa kaku dan ngilu untuk beberapa saat. Saya mengerang, mendesah, menggeram sementara kontolku terus saja menyemportkan pejuh ke atas tubuhku. Kakek dan Paman menyorakiku, memberiku dorongan untuk ngecret lebih banyak lagi.

"Aahh.." desahku saat kontolku lemas, tak berdaya lagi.

Melihatku berogasme, Ayah terdorong untuk memuncratkan pejuhnya ke dalam tubuhku. Anusku berdenyut-denyut, memerah kontol Ayah. Saya ingin Ayah segera ngecret di dalam tubuhku. Saya ingin bersatu dengan Ayah selamanya.

"Aargrghh.. Rob.. Ayah mau ngecret.. Oohh.. Terima pejuh Ayah.. Aahh.."

Muka Ayah diwarnai dengan ekspresi kenikmatan; kedua matanya terpejam menahan orgasme yang akan segera menguasainya. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Kepala kontol Ayah berdenyut-denyut dengan liar.

"Aarrgghh!! Oohh!! Aahh!! Uugghh!!"

Banjir pejuh menyerang perutku. Cairan panas ditembakkan jauh ke dalam ususku, terasa panas membara. Kurasakan sperma Ayah saling berebut untuk berenang lebih dalam ke dalam perutku. Tubuhku mulai menyerap sperma-sperma itu, sebagian masuk ke aliran darahku dan berenang-renang. Ayah dan saya telah menyatu. Memikirkan benihnya berada di dalamku membuatku terangsang lagi.

Ayah menarik kontolnya keluar dari pantatku. Napasnya memburu dan tersengal-sengal, tubuhnya basah bermandikan keringat. Ayah lalu menjatuhkan tubuhnya ke arahku, memelukku dengan erat. Ciumannya menghujani wajahku. Saya menyambut ciumannya dengan antusias. Kurasakan tubuhnya yang kuat dan berotot begitu dekat denganku.

"Rob, Ayah bangga denganmu. Kamu dan Ayah kini sudah menyatu, Rob. Sperma Ayah ada di dalam perutmu, sperma yang dulu menciptakanmu. Oh, Robert, Ayah sayang sekali padamu.."
"Saya juga mau mencoba ketatnya pantat cucuku," protes Kakek, karena dari tadi dia belum mendapat giliran. Maka Ayah pun dengan senang hati menyingkir.

Belum sempat saya memulihkan tenagaku, saya sudah digulingkan ke samping. Dengan posisi tertelungkup di atas lantai yang dingin, saya bersiap-siap untuk menerima kontol Kakek yang besar. Kulihat Paman mendekati Ayah yang masih terengah-engah. Mereka berdua saling berpelukkan dan berciuman dengan sangat sensual. Pelan-pelan, kontolku yang terperangkap di antara tubuhku dan lantai mulai mengeras lagi. Kemudian kurasakan Kakek menaiki tubuhku. Badannya terasa agak berat karena masih kuat dan agak berotot.

"Aarrgghh.." erangku saat kepala kontol Kakek mulai menyeruak masuk ke dalam anusku yang sudah mulai longgar. BLES..
"Oohh.. Yyeaahh.." desahku, seperti seorang pria murahan.
"Oorrghh.. Sempit banget, Rob.. Oohh.." erang Kakek sambil terus mendorong kontolnya hingga akhirnya masuk semua.

Pangkal kontolnya bersentuhan dengan belahan pantatku. Saya merasa penuh sekali. Pejuh Ayah sangat membantu penetrasi Kakek sehingga saya tidak merasa terlalu kesakitan. Anusku juga sudah mulai bisa beradaptasi, menerima kontol. Sengaja kukencangkan anusku agar kontol Kakek terperas. Erangan keras Kakek mengatakan semuanya; dia memang sangat menikmatinya.

"Oohh.. Sudah lama Kakek ingin ngentot sama kamu, Rob.."

Saya sama sekali tak keberatan dengan kata 'ngentot' yang diucapkan Kakek; malah jadi semakin terangsang. Saat kontol Kakek mulai mengerjai anusku, saya hanya bisa mengerang-ngerang keenakkan. Sekali lagi, prostatku dirangsang. Kembali, sensasi nikmat menyelubungi tubuhku.

"Aarrgghh.. Kek.. Genjot terus.. Oohh.. Enak banget.. Uugghh.. Ngentot.. Oohh.. Fuck me.. Aarrgghh.." Saya terus menyemangati Kakek agar mengentotku lebih keras lagi. Usahaku berhasil karena Kakek mempercepat genjotannya. Kubayangkan seolah-olah saya dapat melihat anusku sendiri yang sedang dihajar oleh kontol Kakek. Oh, sungguh merangsang..

"Aarrgghh.. Aarrgghh.." Precum mengalir lagi dari kontolku yang berlumuran pejuh.

Lantai di bawahku terasa semakin licin, diolesi cairan kelaki-lakianku. Tubuhku digenjot habis-habisan oleh Kakek. Sesekali Kakek menekan tubuhku terlalu keras sampai-sampai saya merasa kehabisan napas. Tapi saya suka dengan permainan seks Kakek yang beringas. Kakek memang tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Tak kusangka Kakek bisa sejantan itu dalam hal ngentot.

Kisah Keluargaku - 2

Sementara Kakek sibuk menciumiku, Ayah beralih ke Paman. Dengan bernafsu, Ayah memeluk tubuh telanjang Paman dari belakang. Pamanku juga termasuk bibit unggul. Ketampanannya turunan dari gen Kakek. Sejak kecil, Paman sudha dibiasakan Kakek untuk berolahraga sehingga badan Paman juga tak mengecewakan. Dadanya bidang dan lebar, dengan dua puting yang tegang melenting.

Dada Paman memang mulus sekali, tapi di sekitar putingnya tumbuh buku-bulu halus. Paman hanya bisa mendesah-desah saat Ayah meremas-remas dadanya dari belakang. Kontol Ayah sejajar dengan lubang anus Paman, tapi Ayah belum mau menyodominya. Jelas sekali ayahku sedang terangsang berat, sebab kontolnya bocor dengan precum. Kontolku sendiri terus saja mengeluarkan precum, tak tahan disedot-sedot oleh mulut Paman.

"Oohh.. Hhoosshh.. Hhohh.. Oohh.." desahku, jantungku berdegup kencang.

Sedotan Paman memang top. Kurasakan pejuhku seakan-akan sedang dihisap keluar perlahan-lahan. Precum mengalir makin banyak dari kontolku ke dalam mulut Paman.

"Hhoohh.. Aahh.. Oohh.." Tubuhku mendadak kaku saat orgasme akan menjelang. Keringatku mengalir deras dari pori-poriku saat saya berjuang untuk menahan orgasmeku, tapi saya tak bisa. Sebentar lagi saya akan ngecret!
"Oohh.. Saya mau.. Ooh.. Ngecret!!" Seusai mengucapkan kalimat itu, kontolku meledak. Pejuh yang hangat dan lezat tumpah ruah ke dalam mulut Paman.
"Aargghh!! Oohh!! Aargghh!! Oohh!!" Sekujur tubuhku yang telanjang bulat mengejang-ngejang. Kakek memegangi tubuhku agar saya tidak terjatuh. Rasanya nikmat sekali ngecret di dalam pelukan kakekku yang seksi itu. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!!

Kakekku membelai-belai rambutku seraya berbisik, "Ya, keluarkan saja semuanya, Rob.. Aahh.. Jangan ditahan.. Aahh, yah, begitu. Ayo, tembakkan saja.. Oohh.. Kakek suka lihat kontolmu ngecret. Oh.. Ngecret saja terus.. Aahh.. Yyeeaah.."

Tubuhku dipeluk erat-erat; saya merasa aman dalam lindungan Kakek. Tubuhku terus saja mengejang dan bergetar sampai tetes pejuh yang penghabisan.

"Oohh.. Enak kan? Kakek bangga padamu, Robert.." Pipiku mendapatkan ciuman mesra dari Kakek sementara saya bernapas tersengal-sengal. Orgasme tadi adalah orgasme terhebat yang pernah kualami.

Kulihat Pamanku duduk bersila di ranjang, tubuhnya pun bersimbah keringat. Paman nampak jauh lebih seksi saat bertelanjang bulat. Noda-noda pejuhku tampak menghiasi bibir dan dagunya.

"Enak banget pejuh loe, Rob. Gue suka banget.."

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saya mendekati pamanku dan menghadiahkan sebuah ciuman di pipinya. Ciuman yang sangat sarat dengan nafsu. Pamanku menyambutnya dengan penuh nafsu juga. Kami berangkulan dan saling mencium. Ayah dan Kakek hanya memandang aksi kami dengan senyuman lebar.

"Kini saatnya kamu untuk diinisiasi, Robert", kata Ayahku saat Paman dan saya selesai berciuman.

Ayahku membimbingku turun dari ranjang. Saya diposisikan telentang di atas lantai, dengan beberapa bantal untuk menyangga pinggulku. Jantungku berdebar-debar, menanti saat-saat ketika ayahku akan menyodomiku. Saya memang belum pernah menyaksikan film porno gay ataupun foto-foto gay, tapi bisa kubayangkan betapa sakitnya disodomi dngan kontol besar milik ayahku.

Saya merinding sedikit, membayangkan derita yang harus kulalui. Tapi nafsu masih membungkusku; saya ingin sekali disodomi. Lagipula, sudah tugasku sebagai anak yang patuh untuk membahagiakan ayahku. Ayahku berlutut di sampingku, tangannya mengelus-ngelus dadaku yang berkeringat.

"Aahh.. Oohh.. Hhoohh.." erangku saat ayahku memasukkan jarinya ke dalam anusku.
"Kamu masih ketat," komentar ayahku puas.

Selama beberapa menit, Ayah menyodomiku dengan jarinya. Tujuannya agar saya terbiasa. Mula-mula, memang terasa sangat tidak nyaman. Terbaring di lantai yang dingin, saya hanya bisa mengerang-erang, merasakan jari ayahku menghajar anusku. Semakin lama, ritme ngentotnya menjadi cepat. Napasku tersengal-sengal, menikmati sodokan jarinya itu.

"Kamu akan membuat Ayah senang dengan pantatmu, Rob. Ayah cinta padamu", sambung ayahku sambil mendaratkan sebuah kecupan manis di keningku.

Napasnya yang berat dan menderu terdengar keras di telingaku. Ayah terus menyodomiku dengan jarinya sambil tersenyum mesum padaku.

"Kamu pasti akan suka dengan kontol Ayah, Robert.." Ayah sengaja menggoyang-goyangkan kontol ngacengnya di dekatku. Mataku bergerak mengikuti gerakan kontolnya.

Kontol Ayah memang indah. Tegak, tinggi menjulang, bersunat, dengan kepala berbentuk seperti helm baja. Precum telah membuat kepala kontolnya berkilauan, tertimpa cahaya lampu. Kontol itu berdenyut-denyut, nampak hidup. Penampilan kontol itu begitu memukau sehingga aku merasa bahwa aku harus memegangnya. Tanganku agak bergetar saat saya mencoba untuk menjamah kontol itu.

Namun saat kontol hangat itu berada di dalam genggaman tanganku, saya merasa tenang dan bahagia. Kontol itu akan memberi kebahagiaan padaku. Ayahku hanya tersenyum padaku, menyaksikan betapa saya menyukai kontolnya. Pelan-pelan, saya mencoba untuk mengocok-ngocok kontol ayahku. Nampak bahwa ayahku menikmatinya sekali sehingga dia tak henti-hentinya mengerang.., "Oohh.. Aahh.. Hhoohh.."

Kakek dan Paman segera bergabung dengan kami. Kakek, berlutut, memposisikan kontolnya di dekat kepalaku sementara Paman duduk di dekat kontolku. Saya yang sedang terbaring merasa semakin terangsang. Tiga orang pria bibit unggul yang notabene adalah keluarga kandungku sendiri akan menghomoiku ramai-ramai.

Kakek berkata, "Robert, kamu akan disodomi ramai-ramai secara bergantian. Ayahmu akan melakukannya terlebih dahulu karena kamu lahir dari spermanya. Setelah itu, Kakek dan Paman akan menyodomimu. Kami bertiga akan ngecret di dalam tubuhmu. Sperma kami akan menyatu dengan tubuhmu dan selamanya kamu akan selalu ketagihan untuk menjadi seorang homoseksual. Apakah kamu siap, cucuku?"

Tak ada lagi keraguan di hatiku, saya siap diinisiasi menjadi seorang homoseksual. Anggukanku sudah cukup untuk menjadi sebuah jawaban ya.

"Aarrgghh.." erangku saat Ayah mencabut jarinya.

Untuk sesaat, saya merasa kosong dan hampa, rindu akan kehangatan jarinya. Kulihat ayahku mulai mengambil posisi. Kedua kakiku diangkat tinggi dan ditaruh di atas pundaknya yang kokoh. Anusku terekspos, berdenyut-denyut menanti kontol ayahku. Agar mudah mengentot, ayahku memutuskan untuk duduk di lantai. Badanku lalu ditarik ke arahnya.

"Oohh.." desahku saat kepala kontolnya menyentuh anusku. Kekerasan batang kontolnya terasa sekali, seperti batang baja.
"Aahh.." desahku lagi saat kubayangkan kontol itu menembus masuk ke dalam tubuhku.
"Anakku, Ayah masuk, yach? Tahan saja sakitnya. Nanti juga akan terasa nikmat sekali, kok.."

Mata ayahku menyala-nyala dengan kobaran api birahi. Air liurnya hampir menetes keluar saat dia melihat tubuhku yang seksi telentang bugil di hadapannya. Ketika Ayah mulai mendorong kontolnya, saya hanya dapat menahan napas sambil melingkarkan kakiku kuat-kuat di lehernya, bersiap untuk menahan rasa sakit.

"Oohh.. Pantatmu sempit banget, Rob.. Hhoohh.." erang ayahku, wajahnya meringis menahan nikmat.
"Hhoohh.. Aahh.." erangku saat lubang anusku dipaksa masuk oleh kontol ayahku.

Lubang yang sempit itu pelan-pelan membuka akibat sodokan kontol itu. Semakin lebar anusku terbuka, semakin sakit rasanya. Rasa sakit itu datang karena pergesekkan antara kontol ayahku dan anusku yang sama sekali tak berpelumas.

"Aarrgghh.. Sakit, Yah.. Oohh.. Perih.. Aahh.." rintihku, air mataku berlinang. Rasanya seperti sedang dibelah dua oleh kontol itu.
"Aarrgghh.."
"Tahan, Nak. Rasa sakit itu akan hilang," hibur Paman, mengelus-ngelus dadaku.
"Paman dulu juga begitu. Tahan saja dan kamu akan terbiasa.."

Tangannya sengaja bergerak ke kontolku yang masih ngaceng. Kemudian, kontolku dikocok-kocok agar saya merasa nikmat. Meskipun Paman terdengar bersimpati padaku, namun wajahnya nampak sangat bergairah melihat kesakitan yang kuderita. Seakan-akan, semakin saya mengerang kesakitan, semakin terangsang pamanku. Dari sudut mataku, kulihat kontol Paman berdenyut sambil melelehkan precum. Kakek juga menghiburku..

"Jangan dilawan. Buka anusmu dan biarkan ayahmu memasuki tubuhmu, Robert," sarannya.

Tangannya yang kasar meraba-raba wajahku, kontol ngacengnya bergoyang-goyang tepat di atas wajahku. Untaian precum menetes dari lubang kontol kakek dan jatuh menempel ke atas wajahku.

"Hisap kontol Kakek saja, yach."

Sebelum saya sempat berkata apa-apa, kontol Kakek sudah masuk ke dalam mulutku yang menganga. Rasanya aneh tapi saya tak sempat memikirkannya sebab saya sedang sibuk menahan sakit di anusku. Kakek tidak memaksaku untuk segera menghisap kontolnya, dia cukup puas hanya dengan menitipkan kontolnya ke dalam mulutku yang hangat dan basah.

"Hhoohh.." desahnya, memilin-milin putingnya sendiri.
"Aarrgghh.." erangku lagi saat kepala kontol ayahku masuk sedikit lagi.
"Oohh.." Ayah nampak bersemangat sekali. Anus sempitku menjadi tantangan yang luar biasa baginya. Dan tiba-tiba, kepala kontol itu akhirnya bisa masuk seluruhnya.
"Aarrgghh.." erangku, bibir anusku menjepit batang kontolnya.

Ayahku sengaja mendiamkan kontolnya selama beberapa saat supaya saya terbiasa. Napasku agak tersengal-sengal, keringat kembali bercucuran.

Sambil membelai wajahku, dia berkata, "Ayah bangga padamu, Rob. Sekarang, Ayah genjot yach."

Kupandangi wajah ayahku dengan mata berkaca-kaca. Mendengar betapa bangganya ayahku terhadapku membuatku terharu.

"Ayah, genjot saja. Saya siap, kok. Saya ingin memuaskan, membahagiakan, dan mencintai Ayah.."

Dan dengan itu, Ayah mulai menggenjot pantatku. Kurasakan batang kejantanannya itu bergerak keluar masuk. Mula-mula terasa sakit sekali karena bibir anusku teriritasi. Rasa perih seperti terbakar menyiksa anusku.

"Aarrgghh.. Oohh.. Aarrgghh.." erangku, sedikit menggeliat-geliat.

Kisah Keluargaku - 1

Namaku Robert Budiman, umur 18 tahun, kelas 3 SMU. Keluarga kami termasuk keluarga kecil, yang penghuninya laki-laki semua, dikepalai oleh kakekku, Rudi Budiman. Tahun ini Kakek akan berumur tepat 55 tahun. Umurnya memang hampir senja, tapi penampilannya sangat jauh dari kesan tua. Malah, penampilannya masih macho dan keren.

Kakek dulu bekas tentara, maka dia selalu membiasakan diri berolahraga. Dia selalu dalam keadaan bugar dan kekencangan otot tubuhnya terjaga. Rambut ubannya yang hampir menutupi seluruh kepalanya malah memberi kesan seksi. Keriput di wajahnya kurang terlihat, sehingga penampilannya mirip pria berusia 40-an. Kakek hanya menikah sekali saja dan mendapatkan 2 orang putra yang tampan-tampan.

Lima tahun setelah pernikahannya, dia menceraikan istrinya dan tak pernah melirik wanita lain. Nasib kedua anaknya, ayahku dan pamanku, tak jauh berbeda. Pamanku, Albert (36 tahun), anak sulungnya, selalu gagal dalam percintaan dan menolak untuk menikah. Sementara ayahku, anak bungsunya, Irwan (34 tahun), berhasil menikah tapi tak bertahan lama. Ibuku memang wanita yang tidak baik, saya lega dia pergi meninggalkan kami.

Kata ayahku, namaku diambil dari nama aktor idolanya: Robert Redford. Dalam sebuah rumah yang tak mewah, tapi juga tak kumuh, kami berempat hidup bersama. Dulu, saya mengira keluargaku adalah keluarga yang 'normal'. Tapi pada suatu malam, saya mengetahui hal yang sebenarnya. Kini saya tak heran lagi kenapa Ayah, Paman, dan Kakek tak pernah menjalin hubungan lagi dengan wanita. Ternyata mereka semua pria HOMOSEKSUAL!

Malam itu Ayah mendatangi kamarku. Saya pada saat itu sedang bersiap-siap untuk tidur, hanya mengenakan celana dalam putih. Ayahku sendiri hanya melilitkan handuk di pinggangnya.

"Robert, kamu sudah cukup umur sekarang. Sudah saatnya kamu ikut acara keluarga kita," kata ayahku, berdiri di ambang pintu sambil memandangi tubuhku yang seksi itu.

Meski baru 18 tahun, saya menjaga tubuhku dengan baik sekali. Apalagi saya juga bergabung dalam berbagai tim olahraga di sekolahku, maka tak heran jika badanku atletis sekali. Diam-diam, kontol Ayah mulai ngaceng.

Tiba-tiba, Kakek dan Paman menyeruak masuk. Mereka pun hanya mempunyai handuk untuk menyembunyikan kontol mereka. Saya memang sering melihat Ayah, Paman, dan Kakek bertelanjang dada. Dan menurutku, mereka memang bertubuh indah. Sebelumnya, saya tak pernah menyangka bahwa saya akan terangsang dengan sesama jenis, sebab di sekolahku saya terkenal sebagai playboy yang sering mengejar para cewek. Tapi mulai detik itu, hidupku akan berubah. Dalam sekejap, saya sudah dikelilingi keluargaku.

Mereka semua naik ke atas ranjang dengan tatapan penuh nafsu. Kontol mereka yang ngaceng tercetak di balik handuk mereka. Paman nampak sudah tak dapat lagi membendung hasrat homoseksualnya. Paman sudah mulai meraba-raba punggung dan bahu saya. Diraba seperti itu, saya mulai takut.

"Jangan takut, anakku," sahut Ayah.
"Kami takkan menyakitimu. Kamu harus patuh pada kami karena kami mencintaimu.."

Ayah lalu melepas handuknya. Begitu handuk itu jatuh ke lantai, saya untuk pertama kalinya melihat betapa panjangnya kontol ayahku itu. Kontol itu bersunat dan berkedut-kedut. Hal pertama yang terpikir oleh saya adalah bahwa ayahku akan memperkosaku secara homoseksual. Secara refleks, saya ingin menghindarkan diri, tapi Paman dan Kakek memegangi tubuhku kuat-kuat. Dengan panik, saya mulai meronta-ronta. Namun saya tak sanggup mengalahkan Paman dan Kakek.

"Paman.. Kakek.. Lepaskan saya. Mau apa kalian?" saya mulai menggigil ketakutan saat ayahku yang telanjang bulat menempelkan tubuhnya dengan tubuh saya. Kontol ayahku yang ngaceng sesekali terbentur dengan kontol saya yang masih tidur.
"Jangan takut, Robert. Kamu sudah dewasa sekarang, sudah cukup umur untuk bergabung dengan tradisi keluarga kita," jelas Ayah sambil menggosok-gosokkan kontolnya yang ngaceng ke pahaku. Sementara itu, bibirnya menjelajahi dadaku yang agak bidang dan berotot itu.

Adalah bohong jika saya tidak merasakan kenikmatan saat ayahku berusaha untuk menggauliku. Sekujur tubuhku bergetar karena nikmat dan sekaligus karena takut. Saya bingung kenapa saya menyukai apa yang sedang dilakukan ayahku terhadapku. Saya mulai bertanya-tanya tentang seksualitas diriku. Pelan tapi pasti, kontolku mulai berdiri dan ngaceng. Tapi meski demikian, moral tetaplah moral. Seorang ayah tak pantas menghomoi putranya. Dan saya tak ingin dipermalukan seperti itu. Dengan memelas, kumohon agar ayahku melepaskan diriku.

"Ayah.. Jangan, Yah. Kumohon, Yah, sadarlah.. Ini salah.. Aahh.." saya mendesah saat kontol Ayah kembali menyapu pahanya.
"Ayah.."

Namun Ayah tentu saja tak mengindahkan permohonan anak semata wayangnya itu. Dia bertekad untuk menghomoiku; sudah lama dia menginginkan untuk mencicipi tubuh putranya yang indah itu. Kenangan saat pertamanya dihomoi kembali mengisi pikirannya. Saat Ayah berumur 17 tahun, dia dihomoi oleh Kakek dan Paman. Dia ingin agar saya juga merasakan saat-saat indah itu.

"Ayah sudah lama ingin berhomoan denganmu, Robert," Ayah berbisik sambil menjilati daun telingaku. Tangannya meraba-raba dadaku, merasakan jantungku yang berdetak keras.
"Tenang, anakku. Ayah janji, kamu akan sangat menikmatinya. Percayalah.."

Ayah membelai-belai rambutku dan menciumi bibirku. Saya kaget dan berusaha untuk mengelak, tapi Paman memegangi kepalaku sehingga saya terpaksa menerima ciuman ayahku yang bejat itu. Saya berusaha menutup bibirku rapat-rapat tapi lidah ayahku memaksa masuk.

"Mmpphh!! Mmpphh!! Mmpphh!!" Mendadak Kakek mencubit kedua putingku dari belakang. Tak ayal lagi, saya pun menjerit kesakitan.
"Aarrgghh!!" Kesempatan emas itu langsung dipergunakan Ayah dengan memasukkan lidahnya ke dalam mulutku yang terbuka lebar.

Seperti orang yang kerasukan setan seks, Ayah dengan bernafsu memaksakan ciuman itu padaku. Saya panik tapi tak bisa mengelak. Dengan jijik, saya terpaksa menerima jilatan lidah ayahku dan merasakan air liur kami bercampur.

Kakek dan Paman tak mau ketinggalan. Bibir mereka menjelajahi tubuhku; tangan mereka tetap memegangi badanku agar saya tidak kabur. Desahan napas mereka menderu-deru di telinga saya. Jilatan lidah mereka yang basah dan hangat menodai tubuhku. Tangan-tangan mereka sibuk meremas, mencubit, meraba setiap jengkal tubuhku yang macho itu. Saya sadar bahwa saya hanya bisa pasrah. Tiba-tiba, saya merasa celana dalamku diperosotkan oleh pamanku. Kontan saja, kontol saya yang sudah ngaceng terlompat keluar. Mereka hanya bisa berdecak kagum, menyaksikan ukuran kontolku.

"Panjang juga kontol loe," komentar Paman.

Dengan nafsu, Paman mengocok-ngocok kontolku. Kontol itu terasa hangat dan berdenyut di tangannya. Air liur Paman hampir menetes keluar, ingin sekali menghisap kontolku.

"Gue hisepin yach, Rob.." Tanpa menunggu persetujuanku, Paman langsung memasukkan kontol itu ke dalam mulutnya.
"Mm.." Nampaknya Paman belum pernah menghisap kontol seenak kontolku. Ekspresi kenikmatan jelas tergambar di wajahnya yang tampan. Berbekal pengalaman menyepong kontol Kakek dan Ayah, Paman langsung memberikan servis hebat pada kontolku. SLURP! SLURP!

Saya terhenyak saat merasakan sensasi nikmat pada kontolku. Hangat dan basah. Lidah Paman menyapu-nyapu dan membelai-belai kepala kontolku. Tenaga hisapan mulut Paman juga luar biasa. Saya sampai mengerang-ngerang keenakkan. Tapi suaraku tertahan di dalam karena ayahku masih saja menciumi bibirku.

"Mmpphh.. Mmpphh.." Saya kini tak melawan lagi. Kuputuskan untuk mencoba berhomoseks. Dan ternyata, sejauh ini, homoseks itu menyenangkan. Saya kemudian mencoba untuk menciumi ayahku. Lidahku bergulat dengan lidahnya, sementara air liur kami berbaur. Kakek hanya tersenyum mesum melihat kejadian itu.

"Mmpphh.. Mmpphh.." Birahiku makin berkobar saat tangan Ayah meraba-raba dada bidangku. Sesekali putingku dimain-mainkan, membuatku kehabisan napas. Hisapan pamanku juga menambah sensasi nikmatku. Oohh.. Nikmatnya berhomoseks dengan keluarga sendiri. Ayahku kemudian melepaskan ciumannya, dan langsung digantikan oleh Kakek.

Dengan bernafsu, Kakek memeluk tubuhku sambil berkata, "Kakek sudah merindukan saat-saat ini, Robert. Akhirnya, Kakek bisa berhomoan sama kamu."

Melihat tubuh kakekku yang masih atletis itu, saya terangsang sekali. Tiba-tiba pantatku diremas-remas oleh Kakek.

"Kamu masih perjaka. Tapi setelah malam ini, kamu akan kehilangannya. Dan percayalah, kamu akan ketagihan."

Saya hampir terpekik kaget saat jari-jari Kakek tiba-tiba menusuk-nusuk lubang anusku. Rasanya agak sakit, tapi juga nikmat.

"Oh, sempit sekali lubangmu, Rob. Kakek pasti akan menikmatinya," bisik Kakek di telingaku.

Bibir Kakek lalu melekat pada bibirku. Ciumannya maut sekali. Baik bibir maupun lidahnya, kedua mampu membangkitkan birahiku. Bibirku disedot-sedot dan lidahku dijilat-jilat. Darimana Kakek mendapatkan ilmu berciuman sedahsyat itu?

"Aahh.. Oohh.. Hhoohh..", desah Kakek sesekali.

Kisah Gayku

Awalnya aku tahu seks melalui pengalamanku dijamah oleh pria pada saat umurku masih 10 tahun. Kejadiannya begini, waktu itu di rumah kami tinggal sepupuku yang sekolahnya dekat rumah kami. Kami tidur satu kamar. Awalnya saya tidak tahu apa yang dia perbuat denganku.

Suatu malam aku tersadar karena merasa geli-geli sedap di bagian kemaluanku. Aku terbangun dan mendapati sepupuku sedang mengulum batang kemaluanku yang masih kecil. Karena aku terbangun, maka dia semakin menjadi. Dia kemudian menelanjangiku dan dia juga bertelanjang ria. Dia terus bermain di alat vitalku. Aku terbelalak melihat batang kejantanannya yang besar (17 cm, umurnya 18 tahun), maklum posisi kami waktu itu 69. Aku mulai terangsang melihatnya. Agak ragu aku memegang rudalnya, ternyata cukup keras dan hampir tidak dapat kugenggam dengan satu tanganku. Aku mulai mengelus dan mengurut, ternyata hal itu membuat dia makin bernafsu.

Aku terus mengocoknya. Setelah agak lama, keluarlah cairan yang awalnya aku belum tahu apa itu. Setelah dia keluar, dia kemudian mengolesi batang kemaluanku dengan cairannya, kemudian dia mengarahkan batang kemaluanku ke anusnya.
Dengan setengah berbisik, dia bilang, "Ayo Nat..! Masukkan, oh.. cepat.. aku udah nggak tahan.."
Dengan lugunya kumasukkan batang kemaluanku, dan, "Bless.." batang kemaluanku meluncur tanpa hambatan, soalnya pada usiaku tersebut, kemaluanku masih kecil. Lama-lama aku menikmatinya. Aku bergoyang terus di atas punggungnya dengan nafas yang menggebu diiringi dengan desahan sepupuku tersebut (kita sebut namanya Ucok). Dan tiba-tiba rasanya ada yang terdesak dari batang kemaluanku. Kemudian sepertinya aku mengeluarkan sesuatu, tadinya kupikir itu adalah kencing, tahunya setelah selesai bermain, aku memegang kemaluanku yang ternyata cairan itu licin. Begitulah hari-hari kulewati dengan Ucok.

Suatu malam aku tiba-tiba terbangun karena ada sesuatu yang menyumbat mulutku, ternyata Ucok telah memainkan batang kejantanannya ke mulutku, awalnya aku merasa jijik, namun karena sedikit dipaksa, maka aku telah mengulum rudalnya yang begitu besar bagi mulutku. Hampir aku tersedak kehabisan nafas. Awalnya aku tidak mau, namun kerana terus dipaksa di dalam mulutku, akhirnya aku menyerah juga. Kukulum habis rudalnya, kubuat seperti memakan es mambo.

Umurku terus bertambah dan batang kemaluanku pun telah menyamai besar rudalnya pada saat aku duduk di kelas 1 SMP, mungkin karena hampir setiap malam dilatih oleh Ucok. Saat aku di SMP, sepupuku tersebut sudah bagaikan pasangan yang tidak terlepaskan. Setiap ada kesempatan, pasti kami melakukan hubungan, walau hanya saling mansturbasi. Aku setiap malam selalu harus bekerja keras, setiap malam pasti ada saja gaya yang dilakukan.

Malam itu seperti biasa, karena terlalu capek di siang hari, maka aku agak cepat tertidur. Mungkin inilah saat yang paling cepat aku terlelap. Sedang asyiknya aku tidur, seperti biasa Ucok kembali lagi menjamahku. Kali ini aku tiba-tiba terbangun karena kurasakan ada sesuatu yang masuk dari anusku. Seperti digelitiki semut, ternyata Ucok telah memainkan anusku dengan jari-jarinya, sedangkan lidahnya sibuk mendarat mulai dari telinga, mulut, puting dan perutku yang membuatku tergelinjang-gelinjang dan tergunjang-gunjang menahan nikmat yang sudah di ubun-ubun.

Aku terbangun dan kulihat Ucok tersenyum puas, kemudian tanpa sadar karena terus dirangsang, tanganku mulai aktif. Kubuka perlahan satu-persatu kancing baju serta celananya dan kemudian aku mulai meniru gaya dia, yaitu aku mulai meraba sekujur tubuhnya. Kulihat dia terhenyak-henyak.
"Ayo.. Ngat..! Teruss.. oh.. yes.. ohh.. yes.. ohh.. sshh.. teruss..!"
Mendengar rintihan itu, aku mulai ikut terbawa kenikmatannya. Aku mulai menjilati dari telinganya, lama kugelitiki dia, kembali erangannya melolong, makin keras makin semangat aku melakukannya. Kulepaskan pegangan tangannya yang dari tadi ada di anus dan batang kemaluanku. Aku ambil posisi tidur di atas dia dan kemudian aku menindihnya, sehingga terasa sekali batang kejantanan kami sekarang saling bertemu.

Kusambar bibirnya dan kulumat, "Ohh.. ehh.. sshh.. nikmat sekali," lama sekali kubermain di situ. Perlahan namun pasti, aku mulai turun ke putingnya yang kemerahan, kurasakan lebatnya bulu dada yang membidang di dada kekarnya. Dia kini tidak mempedulikan aku, karena kulihat dia sedang sangat menikmati lumatan dan gelitikan dari lidahku. Dia hanya menggeliat-geliat sehingga kurasakan batang keperkasaan kami yang sama-sama keras (batang kemaluanku sekarang lebih besar dari miliknya) saling bergesekan.

Setelah lama di dada dan perutnya, kemudian aku makin turun, wajahku kini berada tepat di depan rudalnya. Kucium aroma lelaki yang khas, kutarik dengan lembut dengan mulutku. Bulu-bulu lebat yang ada di sekitar kemaluannya, kumasukkan semua ke dalam mulutku, layaknya sedang makan kembang gula. Sementara itu tangan kananku meremas putingnya, tangan kiriku sibuk mengelus dada dan perutnya. Sejenak kupandangi batang kejantanannya yang sangat keras dan berotot, kemudian aku mulai menjilati kepala rudalnya, kujilati lubang kemaluannya, sehingga dia semakin mendesah dan tangannya tiba-tiba menarik rambutku karena keasyikan.

Kujilati seluruh batang kemaluannya, kumasukkan "kedua telurnya" ke mulutku, kuhisap keras dan memaksakan masuk ke mulutku dengan menelannya.
Kudengar makin keras desahannya, "Ohh.. Ngat.. asyiik Ngat..! Terus.. jangan berhenti.. ohh.. kulum Ngat..! Ohh.. cepat.. udah nggak tahan nihh..!"
Mendengar hal itu aku kemudian mengulumnya, tiba-tiba dia beranjak dan kemudian merebahkanku di kasur. Dia kemudian menindihku dengan posisi mulutku ada di hadapan batang keperkasaannya.
"Hayoo.. Ngaatt.. buka mulutmu.. kulum nihh..!" katanya.
Aku menurut saja awalnya, hanya kukulum namun karena tangannya sedang mengocok batang kemaluanku, akhirnya aku keasyikan.

Melihat aku tidak aktif lagi, dia kemudian menekan-nekan batang kejantanannya masuk ke mulutku. Dia terus bergoyang, memasukkan seluruh rudalnya masuk ke tenggorokanku, sehingga aku sedikit sesak. Dia masuk-keluar-masuk-keluar, begitu seterusnya selama hampir 10 menit, dan akhirnya bersamaan dengan desahan panjangnya, kurasakan ada cairan panas, kental, licin dan asin menembak dinding tenggorokanku. Batang kemaluannya dibiarkan lama di tenggorokanku. Terpaksa aku sedikit kesulitan bernafas. Akhirnya kukeluarkan dari tenggorokanku dan menyimpannya di mulutku.

Kemudian aku tergelicing karena kurasakan hangatnya nafas di sekitar anusku. Aku makin terhanyut saat dia memainkan lidahnya di anusku. Lidahnya cekatan sekali menelusurianusku, kemudian lidahnya dimasukkannya ke dalam anusku. Aku sangat terangsang dibuatnya, kenikmatan yang sangat. Kemudian kuimbangi dengan menjilati batang kemaluannya yang ada di mulutku. Kemudian kutiru gaya dia yang belum pernah kami lakukan, yaitu aku mulai memainkan lidahku di anusnya. Kurasakan aroma dan rasa yang aneh, namun itu hanya seasaat, dan selanjutnya aku telah aktif menusukkan lidahku ke anusnya. Kami sama-sama tergelincing, dia kini sedang asyik-asyiknya mengulum batang kejantananku yang hampir tidak muat di mulutnya.

Lama dia bermain di batang kemaluanku, akhirnya aku pun menembak di mulutnya. Kemudian dia mendekatkan mulutnya ke mulutku, dimasukkannya lidahnya menjelajahi mulutku, sehingga kini mulut kami telah basah oleh campuran sperma kami. Setelah itu, kami pun tertidur saling dekap tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami.

Demikian hari-hariku bersama dia, dan akhirnya dia melanjutkan kuliahnya jauh dari kota ini. Awalnya aku sangat tersiksa, namun aku mulai mencoba melupakannya. Sepeninggal Ucok, ternyata adiknya yang masih kelas 1 SMP (cowok) tinggal di rumah kami karena sekolahnya dekat dengan rumahku.

Adiknya ini ternyata sangat ganteng, imut dan lucu. Aku mencoba bersikap wajar saja padanya. Setiap malam kami hanya bercerita biasa-biasa saja. Dia betah tinggal di rumah kami, soalnya rumah kami besar, lengkap dan nyaman karena setiap ruang dipasang AC yang bermerek terkenal.Kamarku sendiri sangat luas, fasilitasnya lengkap, (AC, komputer dengan internet, VCD, TV Flat 30", kamar mandi ada juga) sehingga dia sangat bersyukur bisa tinggal di rumah kami.

Suatu malam, ketika kami sedang asyik bercerita, tiba-tiba lampu mati. Dia sangat ketakutan rupanya, sehingga dia memeluk erat tubuhku. Pada saat inilah hatiku berdebar. Tanpa sadar batang kejantananku membengkak, soalnya dia memelukku dari depan.
"Bang.. punya Abang keras ya..?" sahutnya.
"Kamu kok tahu..?" kataku.
"Soalnya penis Abang bergerak-gerak nih..!" katanya.
"Bang.., gimana membuat penis supaya besar..?"
Dalam hatiku, "Wah.., ini kesempatanku untuk melepaskan nafsuku yang telah kutahan semenjak Abangnya sudah pergi."
"Kamu mau kuajari..?" jawabku ragu.
"Kenapa tidak bang..?" katanya semangat.
"Begini caranya.." kataku sambil tanganku meraba celananya dan kemudian kulepaskan sampai dia kini tanpa celana.

Di malam yang gelap itu tanganku mulai menyentuh alat perjakanya, rupanya kemaluannya sudah mengencang namun masih kecil.
"Rupanya kamu juga udah tegang ya..?" kataku.
Kuraba dan kukocok penisnya, dia semakin ngos-ngosan, soalnya baru pertama kali ini dia tahu bahwa nikmat sekali melakukan onani. Setelah puas kupermainkan alat vital mungilnyanya, kemudian kurebahkan dia ke tempat tidur, kemudian aku lepaskan semua pakaiannya, dan kusuruh dia melepaskan pakaianku juga. Kuraih bibirnya dan kukecup lama sekali dan kemudian kukulum.

Ternyata dia ikut membalas, kumasuki mulutnya dengan lidahku dan aku menarikan lidah dia dalam mulutnya. Nafasnya semakin laju, dia tidak mau ketinggalan. Tangannya membelai-belai seluruh tubuhku, membuatku tergelincing.
"Ohh.. teruskan..!" kataku nafsu.
Ternyata dia kemudian mencari-cari batang keperkasaanku di bawahku. Setelah dia menggenggamnya, dia sedikit terkejut.
"Wow.. besar sekali Bang..!" katanya.
Lalu dia mengocok-ngocok batangku. Kubiarkan dia bekerja. Akhirnya setelah kurasakan akan keluar, kuhentikan tangannya. Kemudian aku menjilat kupingnya, dia kelihatan mendesah. Aku terus turun, akhirnya kudapati kemaluannya yang sudah tegang tapi masih dalam ukuran yang kecil.

Kujilati kepalanya dan kemudian batangnya, lalu kumasukkan dengan tanpa kendala ke dalam mulutku. Kugerakkan keluar-masuk, keluar-masuk, sesekali kutekan hingga menyentuh tenggorokanku.
"Baangg.. geli Bang.. terus Bang..! Ohh.. hh.. hehhehh..!" kudengar desahannya yang membuatku semakin semangat.
Kemudian aku makin turun, kuraih kedua bolanya dan kumasukkan ke dalam mulutku, kesekian kali kudengar desahannya. Aku tidak peduli, aku terus kerjai dia. Kini giliran anusnya kujilati, dia semakin mendesah. Kucoba masukkan jariku dan ternyata anusnya masih sempit.

Kubuka dengan lidahku dan kucoba memasukkan lidahku, kurasakan gerakan refleks otot anusnya. Kemudian kuraih kembali batang kemaluannya, aku kemudian mengambil posisi jongkok di perutnya, sementara tanganku sibuk memasukkan batang keperjakaannya. Setelah kuyakin pas, maka sekali hentakan ke bawah, meluncurlah dengan tanpa susah kemaluannya ke anusku yang sudah sering dimasuki rudal abangnya. Aku naik turun, kudengar rintihannya menahan sakit, namun kemudian dia keasyikan juga.
Bersamaan dengan desahan, "Ohh.." kurasakan ada tembakan keras di ruang dalam anusku, bertanda dia sudah kaluar.
Aku terus bergerak naik turun, dia kegelian dan dengan sedikit memohon dia memintaku menghentikannya. Kemudian aku berhenti menggoyang, namun kubiarkan batangnya amblas di anusku, kurasakan gerakan-gerakan otot kemaluannya.

Aku kemudian mencabut kemaluannya, kemudian kujilati lendir spermanya yang belum matang benar. Kuolesi spermanya ke kepala burungku, kemudian kusuruh dia bekerja seperti yang kulakukan tadi. Dia mulai dengan jilatan-jilatan di tubuhku, aku nafsu juga walau kurasakan tidak senikmat apa yang dilakukan abangnya ke aku. Kemudian dia menjilati burungku dan memasukkan ke mulutnya. Kurasakan burungku memenuhi seluruh mulutnya dan mungkin dia sedikit melebarkan mulutnya. Kemudian dengan susah payah dia mempermainkan batang keperkasaanku di mulunya. Tanpa sadar kutekan kuat masuk ke tenggorokannya, sehingga dia tersendak dan kemudian bekerja lagi.

"Ohh.. yess.. ohh.." semakin lama semakin terasa dekat.
Akhirnya kulepaskan semua di mulutnya.
"Bang.. aku jijik nih..!" katanya.
"Nanti juga kamu akan biasa." kataku sambil menyuruh dia untuk tetap menyimpannya di mulut.
Kudekati bibirnya dan kukecup, kusedot semua spermaku dari mulutnya hingga habis. Sebenarnya aku ingin lebih jauh, yaitu memasuki anusnya yang masih sempit, namun aku bersabar.

Tidak lama, lampu kembali menyala. Dia terbelalak dan kulihat dia tersipu malu menyadari kami sudah telanjang. Namun akhirnya dia terbiasa, dia memuji bentuk tubuhku yang memang kuakui bagus. Dia meraba bulu lebat di dadaku, dia memendamkan wajahnya ke dadaku sehingga kurasakan kehangatan nafasnya, sementara kedua tangannya sibuk memainkan burungnya dengan rudalku.

Begitulah kisahku. Hingga kini dia kelas 3 SMP, kini burungnya semakin besar, karena hampir setiap waktu kami latih bersama. Begitu juga dengan anusnya, kini 5 jariku dengan leluasa dapat masuk. Untuk pembaca, bila ingin berhubungan dan berbagi cerita dan photo-photo gay, harap hubungi melalui email, dengan senang hati akan kuladeni.