Selasa, 16 Desember 2008

sesama pria

Duh.. Den, istriku saja nggak mau macam Aden gini.. Duh, enak bangett.. Sseehh.," dia meracau.

Ludahku membuat ketiak itu kuyup. Dan asin keringat ketiak yang larut dalam ludah itu kuambil kembali melalui isepan dan sedotan bibir dan lidahku.

"Amppuunn.. Deenn..." rintih nikmat Kang Saridjo.

Kulakukan sama pula pada sebelah ketiak lainnya. Kutinggalkan bekas kecupan pada dadanya. Aku benar-benar seperti kadal yang bergerak menggeliat-geliat merambah dada hingga perut Kang Saridjo.

Saat aku mencium dan melumati perutnya yang macam papan cuci karena otot-ototnya yang bergumpalan tanganku mulai merambahi pinggul dan turun mengarah ke bokongnya. Kemudian saat ciumanku tenggelam ke arah selangkangannya tangan-tanganku melepaskan jari-jarinya untuk merabai celah bukit bokongnya. Ini sensasi baru lagi bagi Kang Saridjo.

Jari-jariku dengan halus merabai pembuangan tainya. Kurasakan bulu-bulu lebat menutupi bibir duburnya. Saat jari-jariku mulai mendesak bibir dubur itu, teriakan kecil Kang Saridjo terdengar, "Ad.. Dden..!! Acchh..." itu pertanda kenikmatan baru menerjang dia. Kang Saridjo tentu tidak mengelak. Bahkan dia mengangkat sedikit bokong dan pahanya untuk memberi jalan lebih terbuka bagi jari-jariku untuk bermain pada lubang tainya itu. Bagiku juga sungguh membakar nafsu. Saat jari-jari berusaha menusuk lubang duburnya terasa sesak, kukulum dulu jari-jariku untuk mendapatkan basah ludahku. Sepintas aroma dubur Kang Saridjo menerpa hidungku.

Akhirnya Kang Saridjo benar-benar melipat kakinya hingga pahanya nempel ke dadanya. Aku dari arah bawah merangkaki dan menindih nyungsep di selangkangannya. Aku semakin menggila menjilati kontol Kang Saridjo. Batang dan kepalanya yang terus mendapatkan lumatan dari lidah dan bibirku terus mengalirkan deras precum-nya mengasinkan lidahku.

Ketika aku mulai mengulum biji-biji pelirnya, jari tanganku sudah mulai menembusi duburnya.

"Acchh.. Achh... Deenn.. Acch..." suara itu sungguh semakin merangsang nafsu seksualku.

Setiap terasa agak sesek jariku kukulum untuk membasahkan pakai ludahku. Setiap kali semen dubur Kang Saridjo yang terbawa jari-jariku kujilat dan kurasakan sepatnya. Ketika jari-jariku mulai keluar masuk lubang itu Kang Saridjo terus merintih kenikmatan.

"Deenn... Adenn.. Ampun Denn.. Enak Den.. Teruzz ddeenn.."

Berikutnya kudorong miring lipatan kakinya hingga rebah ke kasur. Kemudian kudorong lagi hingga Kang Saridjo tahu bahwa aku ingin dia nungging. Dia tahu mauku. Dia berusaha membuka lebih lebar belahan pantatnya dengan cara meletakkan kepalanya ke kasur sehingga bokongnya nungging tinggi.

Dan kusaksikan betapa pantatnya yang coklat hitam penuh bekas-bekas luka lebat tertutupi bulu-bulu badannya. Tepat pada lubang duburnya nampak bulu itu gelap melebat. Duuhh.. Sungguh mempesona libidoku. Aku tak mampu menahan diri. Dengan cara merangkaki dari belakangnya, kubenamkam wajahku ke belahan pantatnya itu. Kuendus aroma khas dari tempat itu. Hidungku membenam dan lidahku mencari-cari.

Sambil menjilati lubang duburnya, tanganku meraih batang kontolnya yang ngaceng menggelantung. Kuelusi dengan sesekali mengocok-ocoknya. Dalam tengkurep nunggingnya Kang Saridjo terus menerus merintih dan mendesah seperti orang kepedasan. Menjilati lubang tai Kang Saridjo sungguh memberikan kepuasan sensasional bagiku. Lidahku yang menusuku-nusuk menyentuh celah yang licin halus di tengah rimbunan bulu duburnya. Terkadang aku menyedotinya. Ludahku yang menyatu dengan bulu-bulu lebat itu melarutkan segala sesuatu yang tertinggal untuk kusedoti.

Ketika birahiku tak lagi tertahan aku bangkit. Penisku yang telah demikian tegang rasanya cukup keras untuk menembusi pantat Kang Saridjo.

"Kang... aku pengin ngentot pantat kamu. Bolehh..??"
"Saya belum pernah. Tetapi terserah.. Adeenn.. Sajaa.."

Laiknya macam anjing kawin aku mendatangi Kang Sardi yang telah nungging demikian sempurna dari arah belakang. Kucocok-cocok-kan ujung penisku ke pantatnya dan kudesakkan.

"Dduhh.. Zzaakitt.. Dduhh.. Deenn.. Nggak ppaa-Pa khan.. Den?"

Aku tak perlu menjawabnya. Kuludahi kepala kontolku sebagai lumasan sdan kusodokkan kembali. Sedikit demi sedikit akhirnya.. Blezz..

"Adduuhh.. Duhh.. Ampunn.. Ddenn..." suara Kang Saridjo sambil menyeringai.

Hanya sekitar 10 detik berikutnya suaranya sudah beda,

"Teruzz ddenn.. Enhakk bangett.."

Sambil terus aku menggenjot-genjot, ku peluki tubuhnya dari arah belakang hingga spermaku muncrat di dalam lubang duburnya. Aku langsung kembali jatuh lemas terkulai di kasur. Kang Saridjo yang tahu aku sudah memuncratkan air maniku di lubang duburnya ikut rebah di sampingku,

"Enak Den..?" sambil merabai perutku, kemudian selangkangan dan kontolku.

Aku hanya menganguk angguk. Aku memerlukan bernafas sejenak sebelum memuasi Kang Saridjo. Mungkin dengan cara mengisepi kontolnya hingga air maninya kembali tumpah ke mulutku.

Kuminta Kang Saridjo bangun untuk jongkok seperti hendak menduduki wajahku. Dengan kembali nungging dia arahkan kontoplnya untuk 'menembaki' mulutku. Aku sudah siap untuk mengulumnya. Kumulai kembali dengan menjilati dan menggigit-gigit kecil batangnya yang liat itu. Kepalanya kusapu dengan lidahku. Tepian topi bajanya sangat peka saat lidahku menyentuhnya,

"Duuhh.. Duh.. Dduuhh..." Kang Saridjo terus meracau sambil memompakan kontolnya ke mulutku. Untuk memberikan rangsangan dan rasa nikmat yang lebih tinggi beberapa kali tangan-tanganku juga kembali mengelusi lubang pantatnya.

Tak sampai 2 menit kemudian..

"Ddeenn.. Saya mau kk.. Keluarr.. Ddenn.. Enhaakk bangett.. Telan pejuh saya 6ya ddenn.. Aden mau telan khan.. Den mau telan pejuhku khann..??!!" rupanya itu cara Kang Saridjo meningkatkan birahinya saat spermanya terasa hendak muncrat menumpakhi rongga mulutku..

Sodokkannya semakin cepat. Kontol gede panjang itu demikian kuat menusuki mulutku hingga sering menyentuh tenggorokanku. Beberapa kali aku dibuatnya tersedak. Aku terpaksa menggunakan siku tanganku agar tusukkan itu tak terlampau dalam menembusi mulutku.

Yang kurasakan kemudian adalah semprotan panas yang rasanya tak habis-habisnya. Berliter-litetr air mani Kang Saridjo tumpah muncrat dalam rongga mulutku. Kali ini tak ada yang tercecer. Kurasakan cairan itu demikian kental macam dawet yang hangat di mulutku. Aku berusaha menikmatinya dalam kunyahan-kunyahanku.

Kang Saridjo kembali rebah ke sampingku.

"Terima kasih Denn.. Aden mau melayani aku hingga aku merasakan kepuasan yang tak pernah kudapatkan dari istriku..." sambil merangkul kemudian sedikit menindih untuk menjemput bibirku dalam lumatannya. Lama kami saling melumat bertukar ludah. Kami saling memeluk tubuh dengan penuh birahi. Aku juga mengelusi rambutnya laiknya mengelusi rambut kekasihku. Aku merasakan betapa nikmat mengasihi orang macam Kang Saridjo.

Malam itu kami terus berasyik birahi hingga menjelang pagi. Entah berapa kali aku makan minum spermanya. Di tengah malam kami merasa sangat lapar. Kami makan mie instan yang tersedia di lemari dapur. Kang Saridjo semakin santai menghadapi aku. Kami saling tahu kesukaan lawan mainnya. Dia paling suka saat aku menjilati pantatnya. Dan dia tahu aku paling suka menelani spermanya.

Menjelang pagi dia minta aku nunging. Kang Saridjo ingin ngentot aku dari arah belakangku. Aku rasakan saat-saat batang liat besarnya mulai menembusi analku. Uuchh.. Rasanya seperti anak pompa sedang mengisi rongga analku. Aku berusaha sedikit menggoyang agar bisa menelannya lebih dalam dan.. Blezz.. Kontol segede pisang tanduk Kang Saridjo itu amblas dan pelan-pelan mulai memompa. Ducchh.. Kang Saridjo sudah lihai sebagai pemain seks sejenis. Dia dengan penuh nafsunya memompa pantatku sambil sesekali menariki rambutku seperti joki pada kudanya. Perlakuan itu sangat merangsang libidoku. Aku menikmati kekasarannya.

Ketika saat puncaknya mulai mendekat, Kang Saridjo memeluki tubuhku dari belakang sambil mempercepat laju pompaannya. Jleb, jleb, jleb, jleb.. Dan aku terangguk-angguk oleh sodokannya. Hingga tiba-tiba dia cepat mencabut kontolnya dari lubang analku..

Dengan cepat dia raih kepalaku dan ditariknya aku menghadap ke kontolnya yang siap memuncratkan pejuhnya. Dia sodokan kontol ngaceng berkilatan itu langsung ke mulutku. Dia paksakan aku menelan kontolnya yang baru keluar dari lubang analku.

"Ayo Den.. Telan pejuhku.. Ayoo ddenn.."

Dan muncratlah spermanya ke mukaku dan sebagian besar ke mulutku. Aku merasakan kembali pejuh kental bak dawet dari kontol Kang Saridjo. Aku menelaninya dengan penuh kerakusanku. Sepertinya sangat menikmati dan tak puas-puasnya Kang Saridjo menjejalkan kontolnya ke mulutku,

"Ayyoo Denn.. Minum pejuhku.. Telan Denn.. Makan tuuhh.. Enak kan pejuhku..??"

Kang Saridjo, Pelampiasan Syahwatku - 2

Sambil bibir melumati dadanya, tangan-tanganku pelan merosotkan celana itu ke lantai. Aku melirik dari lumatan di dadanya. Yang tinggal hanyalah gundukkan besar dibungkus celana dalam katun coklat. Mungkin sudah dekil. Tetapi tanganku yang tak peduli langsung mengelus, mencemol dan meremas-remas gundukkan besar itu.

Aku terkesima pada hangat dan liatnya gumpalan otot itu. Kontol Kang Saridjo memang luar biasa besar. Aku tak sabar untuk selekasnya menjamahi. Tetapi Kang Saridjo justru meraih mukaku, mengamati. Dari bibirnya yang tebal dengan lingkaran kumisnya yang berantakkan dia berucap, "Achh... Aden cakep banget..."

Dan bibir tebal itu langsung memagut bibirku. Aku menyambutnya dengan penuh nafsu. Aku rasakan duri-duri rambut di dagu dan pipinya menusukki pipiku, bibirku. Aku juga terangsang banget dengan bau keringatnya yang merebak dari tubuhnya. Aku pepetkan tubuhku lebih lengket ke tubuhnya. Aku benamkam mukaku ke mukanya, lehernya. Aku berusaha menghirupi bau tubuh itu.

Semuanya itu seperti simponi birahi. Kenikmatan syahwat melanda dari celah tangan-tanganku yang terus meremas dan membetoti kontolnya, dari mukaku yang tenggelam ke lehernya sambil bibir memagut, dari tubuhku yang lengket keringat dengan tubuhnya. Ahh.. Kang Saridjo.. Kenapa nikmat banget siihh.. Aku melenguh sementara kudengar Kang Saridjo demikian juga. Kini kami sama-sama telah tenggelam dalam syahwat 'cinta sejenis'.

Untuk lebih leluasa aku giring bergeser menuju tempat tidur. Tepat ditepiannya kudorong tubuhnya hingga terduduk dan kudorong lagi untuk telentang dengan kedua kakinya yang masih menjuntai ke lantai. Aku menindih tubuh kekar itu dan mulutku langsung menjemput mulutnya yang dia sambut pula dengan penuh nafsunya. Dia memeluki tubuhku sambil menggeram-geram lirih melampiaskan desakan birahinya.

Tangan-tanganku tak mau tinggal. Terus meraba-rabai bagian tubuhnya dan merogoh kontolnya di balik celana dalamnya. Genggamanku terasa sangat mantap. Batang gede milik Kang Saridjo terasa berkedut-kedut dan hangat dalam tanganku. Aku meremas-remas pelan penuh perasaanku.

Akhirnya Kang Saridjo sendiri yang mencopot celana dalamnya. Dengan sedikit mengangkat bokong kemudian melipat pahanya dia tarik lepas celana dalam dekil itu. Aku terus memagut dagunya, lehernya, dadanya dan terus turun hingga ke otot-otot perutnya. Bulu-bulu yang melebat terhampar dai bagian depan tubuhnya membuat aku sangat keranjingan. Sedotan dan ciuman bertubi tak putus-putus kulepaskan pada tubuh penuh keringat dan bau lelaki itu.

Kang Saridjo nampak tak mampu menahan kenikmatan yang dia dapatkan. Dia mengaduh-aduh pelahan takut didengar temannya, sambil tangannya mulai mendorong kepalaku agar terus meluncur ke bawah. Aku merasakan dan tahu, dia pengin merasakan betapa mulutku menciumi dan mengulum kontolnya. Acchh.. Kangg.. Jangan khawatir.. Aku siap menjemput batang panasmu..

"Ayoo.. Dd.. Denn... saya udah nggak tahan nihh..!," dia mendesis. Tangannya semakin kuat mendorong kepalaku.
"Ayyoo.. Den.. Saya mau keluarr..!"

Wah, gawat. Rupanya desakan syahwat Kang Saridjo demikian menggebu. Peristiwa pertama bagi dia pasti merupakan sensasi yang hebat. Aku cepat menjemputnya. Sebelum mengulumnya aku ciumi terlebih dahulu jembutnya kemudian batang dan bijih pelernya. Bau kelelakiannya benar-benar menengelamkan aku dalam syahwatku sendiri.

Saat itu kulihat pada lubang kencingnya nampak membasah bening. Precum Kang Saridjo menunggu jilatan lidahku. Dan tanpa lagi disuruh lidahku sudah menjulur menjemput cairan bening asin itu. Lidahku bermain mengebor lubang kencing Kang Saridjo. Akibatnya..??

Dia mendesis keras menahan nikmat sambil tangannya dengan pedas meremas kepalaku. Kang Saridjo tak mampu menahan kenikmatan yang luar biasa saat lidahku menjilat. Pada saat itu juga dari kontolnya menyembur sperma panas. Sperma itu sangat kental dan kenyal. Serasa aku bisa menggigitnya. Mengangguk-angguk sekitar 6 kali lebih kontolnya menyemburkan spermanya ke wajahku.

"Addeenn.. Deenn.. Denn.. Maapin saya dd.. Eenn.. Maapin saya yaa ddeenn..." sepertinya orang menyesal Kang Saridjo mengeluarkan sperma sambil desahan iba telah berlaku macam begitu padaku. Aku tahu. Peristiwa ini sangat membuatnya 'merasa salah' pada dirinya. Dia pikir telah berlaku 'kurang sopan' padaku.

Namun justru suaranya itu pula yang membuat aku semakin keranjingan. Kujemput kontolnya masuk dalam kulumanku. Kumainkan jilatan-jilatanku pada lehernya, lubang kencingnya, batangnya. Kusedoti spermanya yang tercecer di jembutnya. Juga dari pipi dan daguku. Kumakan semua sperma Kang Saridjo yang muncrat itu.

"Jj.. Jaangann.. Dee.. Nn. Kotorr..."

Tetapi siapa yang bisa menahan gelora nafsuku pada saat seperti ini. Ciumanku juga melatai selangkangannya kemudian pahanya. Kontolku terasa ingin memuncratkan isinya pula. Aku tidak menunggu apa yang akan dilakukan Kang Saridjo. Dengan menciumi kemaluan, jembut, selangkangan dan pahanya birahiku memuncak dan meledak.

Spermaku muncrat tumpah di tubuh Kang Saridjo dan kasurku. Aku berteriak histeris tertahan bak anjing yang meregang nyawanya untuk kemudian jatuh lemas ke kasur di samping tubuh telanjang Kang Saridjo. Untuk beberapa saat kami saling terdiam.

Sore menjelang pulang kutahan Kang Saridjo agar menemani aku yang di rumah sendirian. Teman-temannya nggak ada yang curiga. Semula Kang Saridjo menampakkan keraguannya.

"Saya belum pamit orang rumah, Den," katanya.
"N'tar gue bilangin bini lu, Djo," sergah temannya membuat Kang Saridjo terpaksa mengikuti keinginanku.

Aku yakin sesungguhnya dia juga ingin. Mungkin untuk menunjukkan kepada teman-temannya bahwa nggak ada apa-apa di balik permintaanku itu. Begitu teman-temannya meninggalkan halaman rumah segera kututup pintu halaman dan sekaligus kugerendel. Aku rangkul Kang Saridjo menuju kamar tidurku kembali. Aku ingin puas-puaskan syahwatku bersama tukang AC yang kekar dan gempal ini.

Kenikmatan yang kami awali sejak siang tadi ternyata membakar nafsu syahwat kami menjadi berkobar. Begitu memasuki kamar kami langsung berguling dan saling memagut. Kang Saridjo tak merasa canggung lagi. Malahan dia yang mulai ngomong,

"Isepan Aden tadi siang bener-bener hebat, Den. Saya belum pernah merasakan kenikmatan macam itu. Rasanya pengin lagi, nih"
"Jangan kewatir Kang, aku juga belum pernah nemu pejuh kentel macam kamu punya. Rasanya macam dawet, bisa di seruput dan di gigit-gigit. Pejuhmu gurih banget Kang. Boleh kasih lagi, dong"
"Pokoknya, Den, apa yang Aden mau saya boleh kasihkan untuk Aden"
"Bener, nih..."

Terus terang memang aku yang lebih 'jemput bola' dari pada Kang Saridjo. Dia akan ngikut saja apa yang kumau. Kami langsung menelanjangi diri masing-masing. Kang Saridjo rebah telentang di kasurku. Tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa didepanku kini ada tubuh kuli kecoklat hitaman yang gempal, keker, penuh bulu yang siap aku menikmatinya.

Kami masih saling melumat. Tanganku terkadang gemas meremasi bagian daging-daging punggung atau lengan atau paha atau betisnya. Sungguh tampilan Kang Saridjo benar-benar membakar nafsu libidoku. Rasanya aku mau menelan seluruh tubuhnya. Kalau dibanding ukuran tubuhnya, aku yang 168 cm, 62 kg dibanding dengan Kang Sarijo yang mungkin 170 cm dengan beratnya yang hampir 80 kg. Sungguh aku sedang berhadapan dengan raksasa berbulu. Kucemoli pahanya. Kang Saridjo meringis sambil melumat-lumat bibirku. Duh.... Pedihnya bibir ini..

Tiba-tiba dia berhenti. Matanya menutup. Dia mengeluarkan bisikkan serak menahan gelora...

"Terserah Aden, dah.. Saya ngikut..."

Nampaknya dia ingin mengulangi kenikmatan yang dia dapat siang tadi. Aku sangat bernafsu. Kuamati sesaat tubuh raksasa itu sebelum kuangkat kedua lengannya ke atas kepalanya. Kini kusaksikan lembah gempal ketiaknya yang lebat berbulu. Aku mulai melata, menciumi dari tulang iganya naik menuju ke ketiaknya. Aku lakukan dengan sepenuh gairah nafsuku. Dengan penuh merasakan mili demi mili lidahku melata.

Bau tubuh berbulu itu mengiringi dan mendorong rangsangan libidoku tanpa batas. Lidahku terus menjilat untuk menyapu rasa asin dari setiap pori tubuhnya. Kang Saridjo tak henti-hentinya melenguh, merintih terkadang seperti mengigau karena menanggung nikmat jilatan dan gigitanku.

Sampai pada puting-putingnya gigiku menggigit-gigit kecil yang menimbulkan gatal birahi pada dada Kang Saridjo. Tanganku terus menahan agar ketiak Kang Saridjo terbuka menunggu jamahan lidah dan bibirku. Sangat mengairahkan bila tiba saatnya hidung pada tepian ketiak itu. Aromanya yang menyergap membuat darahku mengalir cepat. Tak sabar rasanya lidah dan bibirku melumati ketiak seksi itu. Kang Saridjo baru merasakan hubungan seksual macam ini.

Kang Saridjo, Pelampiasan Syahwatku - 1

Kedua orang tuaku ada urusan sama kakek-nenek di Malang. Mereka pergi untuk 3 hari. Kebetulan ada perbaikan AC di ruang tamu dan kamarku. Beberapa orang tukang sibuk melakukan perbaikan. Aku tergoda untuk memperhatikan salah satunya. Namanya Saridjo. Mungkin sekitar 40 tahunan. Nampak ototnya kasar dan gempal, mukanya penuh kumis dan jambang yang tercukur di pipi dan lehernya.

Aku terkesima. Tukang ini sangat seksi di mataku. Sungguh, Kang Saridjo, demikian aku memangilnya, sangat menawan syahwatku. Pada hari pertama mereka mulai kerja aku sempat 2 kali masturbasi. Mengkhayal.. Acchh.. Betapa nikmat kalau aku bisa menjilati tubuh gempal berotot itu.

Siang itu sambil 'surfing ke situs gay' di kamarku aku mengawasi mereka kerja.

"Permisi Den, saya mau ukur lubang di dinding untuk pasang kabel," Kang Saridjo sambil menggotong tangga lipat masuk ke kamarku.
"Silahkan, kang" Aku melihat peluang untuk ngobrol sama Saridjo. Bau badan penuh keringat langsung menyengat di kamarku.
"Dimana mau pasangnya, kang"
"Disitu Den, di atas jendela"

Duh nih orang, keringatnya ngocor dari tubuhnya yang bertelanjang dada. Nampak gumpalan-gumpalan tubuhnya semakin nyata dengan adanya keringat itu. Nampak pentilnya sebedar biji jagung hitam keras di tengah bulatan hitam pula. Aku berliur. Lidahku membasahi bibir. Ingin rasanya menjilati asin keringatnya sambil menggigiti pentil itu.

"Perlu dibantu?" pertanyaanku sambil memegangi tangganya.
"Terima kasih.."

Kini wajahku nanar menyaksikan betisnya yang coklat gelap mengkilat oleh basang keringatnya tepat di depan mukaku. Aku sungguh tak mampu menahan diriku. Betis liat penuh urat dan bulu-bulu itu sangat merangsang syahwatku. Kang Saridjo hanya bercelana kolor seperti pemain bola. Nampak betisnya menopang pahanya yang kekar dan gempal liat pula. Beberapa menit sambil mencoba menangkap bau badannya, aku sempat menggosok-gosok penisku di selangkangan. Aku ngaceng berat. Penisku menonjol mendesaki celanaku. Uch.. Gatelnya..

"Panas ya? Sudah minum belum, kang? Kalau belum boleh aku ambilin, ya..?" aku langsung bergerak mengambil minuman tanpa menungu jawabannya. Kudengar di belakangku dia menyahut, "Nggak usah, den" Tetapi aku pura-pura tak dengar. Aku harus aktip menyerang.

Es sirop dengan gelas besar kusodorkan padanya. Dia terima dan langsung di tenggaknya hingga ludas. Nampak jakunnya naik turun saat minumannya mengalir ke tenggorokannya. Lehernya yang menengadahkan kepalanya nampak kekar. Ah, betapa aku bisa menggigiti tuh otot-ototnya.

Saat dia kembalikan padaku gelas kosongnya aku bilang, "Duduk sini dulu, Bang. Istirahat sebentar. Nggak usah buru-buru. Kalau nggak selesai hari ini ya, besok nggak apa-apa. Jadinya ada yang nemenin aku di rumah ini" Kang Saridjo nampak menatap wajahku. Dia tahu aku jadi juragan selama ortu-ku tak ada di rumah. Aku duduk di kasurku dan kang Saridjo di kursi komputerku. Ah... aku lupa gambar-gambar porno di layar monitorku masing terang terpampang. Nampak cewek telanjang sedang menjilati perut lelaki hitam penuh otot.

Sesaat hendak ngobrol telpon di ruang famili terdengar berdering, aku beranjak keluar untuk mengangkatnya. Ada beberapa menit aku bertelpon dengan teman kampus. Saat aku balik ke kamar kulihat kang Sardi sedang melototi monitor pornoku. Nampaknya dia terbirahi. Aku pura-pura acuh agar dia tidak jengak dan malu.

"Seru juga nih gambar, Den?" celetuknya.
"Mau? Pengin?" tanyaku sambil tersenyum nyengir.
"Ya kalau ayu macam gini semua laki-laki pasti pengin," sahutnya.

Kulihat selangkangannya menggunung dari celana kolornya. Nampaknya dia agak malu-malu. Pasti ngaceng dia. Aku menarik kursi lain untuk duduk di sampingnya. Kuraih mouse Logitech-ku dan kudapatkan berpuluh-puluh file jpeg yang ku-kolek dari bebagai situs porno dalam pampangan ACDSee. Kang Saridjo terkaget-kaget menyaksikan adegan-adegan panas dari ACDSee ini. Tak ada omongan. Mata kang Sardi melotot, tanganku sibuk memindah-mindah gambar.

Saat ada 'shemale' Brazil yang cantik sedang nge-'blowjiob' pria hitam penuh bulu sengaja aku hentikan lebih lama. Nampak bagaimana mulut 'shemale' itu penuh oleh kepala kemaluan hitam yang batangnya penuh lingkaran otot-otot kasar.

"Edaann... enak banget rasanya kali?"
"Lhoo.. koq nih cewek punya kontol..? Banci, niihh.."

Aku masa bodo dengan omongannya karena aku lebih tertarik pada selangkangannya yang gundukkannya semakin membengkak. Aku sama sekali tak konsen lagi. Tetapi seperti biasanya aku tak memiliki keberanian untuk memulai. Yang kulakukan hanyalah mengutik-utik mouse-ku sambil mataku melotot ke arah gundukkan celana kolornya. Hatiku bergemuruh dan jantungku berdegup-degup kencang. Aku dilanda prahara syahwat nafsu birahiku. Terasa darahku naik ke wajahku dan terasa bengap.

"Kk.. Kang..." suaraku lirih tertahan. Kang Saridjo tak mendengarnya.
"Heh.. Heh..." sambil matanya tak melepaskan dari monitorku. Aku semakin nggak bisa tenang lagi.
"Pengin.. Kaanngg??" suaraku lirih.

Dia nggak dengar juga, tetapi..

"Ah, udah ach, Den. Saya jadi nggak tahan.." dia melengos ke arahku dan sepertinya tanpa sengaja menatap mataku.
"Pengin kang..?" dalam tatapan matanya tanpa sadar aku megulang pertanyaanku.

Tatapan mata Kang Saridjo nampak menahan nafsunya. Ternyata mukanya dan mukaku telah demikian berdekatan hingga kudengar nafasnya yang cepat dan ngos-ngosan. Aku memandanginya dalam penuh harap. Mataku terasa berkaca-kaca. Kang Saridjo nampak kagok dan ragu. Dia juga melirik sesaat ke arah selangkanganku yang juga menggunung.

Mungkin dia tak pernah mengenal 'seks sejenis'. Hidungku yang diterpa bau badannya mendorong mukaku lebih mendekat ke wajahnya. Nampaknya dia hendak beranjak pergi. Namun dia nggak berani bangun karena akan nampak kontolnya yang ngaceng. Aku pikir inilah saatnya agar dia tidak malu-malu. Sambil melemparkan senyuman dari wajahku yang sembab tanganku meraih gundukkan itu dan mengelusinya.

"Aachh.. Aden.. Malu khan 'ntar dilihatin teman-temanku"

Badannya terbongkok untuk menghidari rabaanku. Tetapi tanganku terus mengelusi dan kemudian meremas-remas batang panas dan keras di balik celananya. Uuhh.. Gedenya kontol Kang Saridjo ini.. Jantungku terus berpacu, mukaku semakin memerah panas karena desakkan libidoku.

"Jangan Den.. Saya tak pernah beginii.." Dia ragu, namun aku tak mendengarkannya. Remasanku terus kulakukan dengan penuh variasi hingga.
"Aacchh.. Deenn..." dia mulai melenguh. Dan nampaknya menyerah.
"Aacchh..." kontolnya terasa di tangan semakin membengkak keras.
"Enakk, Kang..?" bisikku.

Dia hanya memandangi wajahku sambil menyeringai dalam nikmat.. Aku semakin bersemangat. Merasa seperti pemangsa yang dapat buruan gede. Semakin kuamati tubuh kekar kasar Kang Sardi semakin aku terbakar nafsuku. Aku udah nekad.

Keringat Kang Saridjo yang nampak mengalir di dada legamnya yang penuh bulu sangat merangsang gelora birahiku. Tanpa kusuruh lagi tangan kiriku menyapa dalam sapuan lembut merabai basah pada dada dan bulu-bulunya itu. Jakunku naik turun, lidahku sangat ingin menjilat-jilat keringat dan bulu-bulu itu. Kang Saridjo nampak pasrah. Nampaknya dia heran akan ulahku. Namun dia menikmatinya.

"Aden suka lelaki?" aku tak perlu menjawab.

Kami kembali saling menatap lama sementara tangan-tanganku terus menggerilya. Kang Saridjo mengamati wajahku. Aku rasa dia mulai terbirahi akan wajahku yang bersih putih dan tampan. Tiba-tiba tangan kanannya yang kokoh telah meraih kepalaku dan menariknya hingga mukaku nempel ke dada basah itu.

"Denn.. Aku jadi nafsu juga. Habis tampang Aden yang cakep macam perempuan," omongnya.

Begitu mukaku nempel ke dadanya secara otomatis bibirku mencium dan menyedotnya. Keringatnya benar asin. Bibir dan lidahku mengecapinya.

"Duh.... Den.. Enak.. Bb.. Bangeett.."

Sambil tangannya yang kena badai nafsu meremas rambutku dan mendorong geser ke bagian dada yang lain. Dan aku sepertinya telah tersihir pukau. Aku ikuti saja. Bahkan dengan rakus. Aku menciumi dan menjilati dada kang Sardi. Aku menggigit kecil dan..

"Yaacchh... tt.. Tee.. Erus Dee.. Nn, enak bangett.." Suara Kang Saridjo tengadah, mendesah dan melenguh.

Tangan kiriku bergelayut pada bahunya yang gempal sementara tangan kananku terus bergerak meliar. Merambati turun ke perut, memijat dan mencemoli otot perut dan bulu-bulunya yang semakin turun semakin melebat. Kang Sardi tahu apa yang kudambakan. Dia benar-benar pasrah.

K. G. B - 2

Ujung jarinya terasa mencoba menguak lubang analku. Bergerak-gerak membuat arah lingkaran dan menggelitik dinding collon. Aku melemaskan rectum dan collon sehingga jemari Kurnia leluasa menjelajahi lekuk-lekuk di dalamnya. Kemudian kurasakan kedua jari Kurnia sudah mulai dapat menyusuri rongga kenikmatanku. Aku mendesah dan melenguh merasakan kenikmatan yang sangat. Aku berusaha merilekskan tubuh dan mengarahkan lubang duburku arah penis Kurnia. Perlahan namun pasti, aku mulai bergerak ke bawah menggapai glans penis itu serta mencoba menenggelamkannya ke dalam lubang Kenikmatan Gairah Birahi.

Kurasakan kenyerian yang sangat. Perutku terasa melilit karena mendapat tekanan batang kemaluan Kurnia. Rectumku terasa pedih, panas dan perih. Walau aku sudah mencoba bersikap serileks mungkin, namun collonku masih kesulitan melumat seluruh penis Kurnia. Keringat tubuhku mulai menitik. Aku mengumpulkan air liur dan meludahkannya ke telapak tanganku. Kutambahkan salivaku ke batang penis Kurnia dan permukaan rectum. Kemudian dengan semangat perjuangan, secara mendadak aku menghentak sekuat tenaga, sehingga keseluruhan batang kemaluan Kurnia akhirnya melesak masuk ke dalam cengkeraman lubang kenikmatanku.
Keringat membanjiri tubuhku menahan kenyerian, karena penis Kurnia yang terlalu besar diameternya. Selanjutnya dengan sedikit mencondongkan tubuh ke depan dengan bertumpu pada kedua belah kakiku yang terlipat, aku bergerak memajumundurkan tubuhku di atas selangkangan Kurnia. Rectumku kudenyut-denyutkan agar dapat memberikan efek remas dan pijatan ala mak erot, atau semacam empot-empotan pada batang kemaluan Kurnia.

Gerakan dan gesekan-gesekan yang kami lakukan memberikan efek sensasional yang luar biasa. Lenguhan dan desahan suara penuh nikmat mengiringi perjalanan mengayuh birahi mengantar kami menuju titik perhentian.
"Ooohh.. aah.. sshzz.. ngh.. fhs.. aach.. ennghss..".
Kata-kata tak bermakna namun mendebarkan hati siapapun pendengarnya itu menghiasi setiap gerakan dan goyangan persetubuhan yang kami lakukan. Jemari Kurnia mengelus-elus punggungku yang basah oleh keringat. Sesekali jemarinya disodorkan kemulutku dan segera kuhisap-hisap dan kugelitik ujung jarinya dengan lidahku. Sekelebat ingatan tayangan tivi goyang Inul Daratista membuatku terpacu meniru melakukan goyang ngebornya. (Namun, sejujurnya, goyangan ngebor ala "Inul" itu tidak dapat sepenuhnya diterapkan. Pasalnya, kemaluan Kurnia akan terlepas dari cengkeraman rectumku apabila aku bergoyang seheboh Inul. Akhirnya aku hanya bergoyang ala mengulek sambel di cobek. Dengan cara itu, penis Kurnia tetap dapat bersemayam ditempatnya, menikmati buaian empot-empot kontraksi otot collon dan rectumku). Kurnia mengimbanginya dengan memutar-mutar dan mendorong-dorong pinggulnya ke atas. Menjadikan senggama sejenis ini seolah bagai tarian erotik di pentas cinta, ditingkah pacuan dengus nafas dan detak jantung yang kian memburu.

Menciptakan variasi gaya bercinta, perlahan kami bergerak hati-hati mengubah posisi senggama. Menjaga agar penis Kurnia tidak terlepas dari cengekeraman rectumku. Aku menjatuhkan badan ke tubuh Kurnia. Meluruskan kaki yang tadi terlipat. Selanjutnya sambil tetap berdekapan kami memutar tubuh ke samping dan kemudian berbalik. Sekarang aku terbaring terlentang dan Kurnia bertumpu dengan kedua belah tangannya berada di antara ke dua belah pahaku yang mengangkang. Kurnia mengaitkan kedua kakiku ke pundaknya. Pinggangku menjadi agak tertarik ke atas. Penis Kurnia masih bersemayam dalam collonku. Kini ia mulai bergerak memompa diriku. Kenyerian yang muncul pada awal penetrasi tadi kurasa telah sirna berganti dengan kenikmatan yang sangat.

Sambil terus memompa Kurnia mencumbui diriku. Mulutnya bergantian menghisap-hisap puting susuku, menelusuri leher dan melumat bibirku. Jemari tangannya bergerilya menyusuri lekuk tubuh dan sesekali meremas-remas dadaku. Kurnia menciptakan irama senggama yang nikmat, tiga empat kali cabut benam dengan sekali gesek dan tekan goyang yang dalam. Perhitungan Kurnia sangat tepat sehingga penisnya tidak terlepas dari remasan rectumku. Pubicnya yang lebat dan kasar memberikan tambahan sensasi gelitik di bongkah pantatku. Tidak terhitung lagi berapa kali helaan nafas dan desah, lenguh yang lepas dari mulut kami bagai lantunan lagu acapella.

Seolah terbang ke langit tinggi dan berjalan tanpa menjejakkan kaki ke bumi. Melayang. Aku limbung. Demikian pula dengan Kurnia. Sampai akhirnya, Kurnia memuntahkan seluruh hasrat birahinya di dalam relung tubuhku. Aku dapat merasakan puncak gelora ketika batang kemaluannya terguncang-guncang, menggelepar dan menyentak memancarkan cairan kenikmatan persenggamaan. Diiringi lenguhan suara yang panjang, tubuh Kurnia mengejang dan tangannya mencengkeram erat pundakku. Kupeluk tubuh Kurnia yang rebah di atas tubuhku. Kudengar dengus nafasnya masih tersengal-sengal. Keringat membanjir membasahi lantai kamar mandi.

Aku mencegah Kurnia mencabut penisnya dari tubuhku, Biarlah ia bersemayan sejenak sementara dengan jurus empot-empotan collon dan rectumku aku mencoba memberikan pengakhiran yang nyaman untuk Kurnia.
"Terima kasih, Nug", Kurnia berbisik di telingaku.
"Lu belum keluar kan?", sambung Kurnia.
Aku cuma tersenyum. Dan Kurnia tidak melanjutkan pembicaran selain tetap memeluk dan menindih tubuhku. Namun tidak beberapa lama kemudian kurasakan ia bergerak-gerak kembali seperti hendak mencabut penisnya. Aku membiarkannya. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Kuakui sejak tadi aku memang belum ejakulasi.
"Sini, gantian gue sepongin punya lu?", kata Kurnia tiba-tiba.
Ucapan Kurnia sungguh mengejutkan diriku. Aku tidak mengira ia akan mau berbuat hal yang sama dengan yang kulakukan padanya.
"Kenapa lu, heran? Lu pan udah mau ngebantuin gue, masak sih, gue, tega kagak mau ngegituin lu?", lanjut Kurnia kemudian dengan acuhnya.
"Pertama liat lu datang, sebenarnya gue udah naksir lu. Tapi gak lucu juga dong, kalo baru ketemu langsung gue ajak lu maen. Iya kalo lu mau. Kalo kagak? Nah, gue yang tengsin, man!", Kurnia menepuk-nepuk bahuku.
"Tapi radar di hati gue tetap bilang kalo lu tuh, bisa buat di ajak main beginian, dan gue kagak salah nebak kan?", sambung Kurnia kemudian.
"Ok deh, Kurnia, gimanan kalo giliran gue besok malam aja ya. Lu tadi denger kan, di luar udah kedengeran bel bunyi empat kali. Bentar lagi anak-anak pada bangun. Dari pada ntar kitanya tengsin", sahutku.

Kurnia mengecup bibirku dan kemudian berdiri mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya kembali, Sementara aku tetap di kamar mandi membersihkan sperma Kurnia yang masih tertinggal di dalam collonku. Aku jongkok mengejan dan kuarasakan cairan hangat sperma mengalir keluar. Terus kulakukan sampai aku yakin semua keluar. Sambil mandi pagi aku membersihkan collon dan rectumku. Kembali terasa pedih, namun kenyerian itu terkubur oleh rasa kenikmatan persenggamaan sejenis yang kami lakukan tadi (Tapi sungguh mati, aku tidak tahu kalau tanpa sepengetahuanku, ternyata ada beberapa pasang mata lain yang menelanjangi semua adegan yang kulakukan tadi. Aku baru tahu ketika siang hari, pada saat makan, Dhana, salah seorang diantaranya menghampiriku dan membisikan keinginannya main denganku. Buatku pucuk di cinta ulam tiba. Pasalnya, aku juga sudah menaruh hati pada beberapa orang tersebut. Dari sepuluh penghuni kamar itu empat orang diantaranya pernah bermain-main denganku. Angka ratio prevalensi yang cukup signifikan).

Di tempat penampungan sementara itu aku hanya berada satu bulan setengah lamanya. Sempat juga aku merayakan ulang tahun di dalam sel. Sahabatku dari luar membawakanku kue tart. Itu adalah kejadian ulang tahun yang memberikan kesan tersendiri bagiku. Berulang tahun di dalam penjara. Ketika itu aku bahkan difoto dengan memakai baju tahanan warna biru sambil memegang kue tart ulang tahun.

*****

Seminggu setelah ulang tahunku aku dipindah ke lembaga pemasyarakatan kelas 1. Di tempat yang baru ini aku beruntung tidak di tempatkan di blok. Namun di sebuah kamar dengan hanya enam orang penghuni yang semuanya asik gaul menurutku. Aku juga heran, ternyata kehidupan penjara tidak seseram yang kubayangkan sebelumnya. Singkat kata, irama kehidupan yang kujalani tidak berubah, hanya tempat aku hidup saja yang berubah.

Salah seorang sahabatku, Wisnu, sempat iri ketika aku menceritakan pengalamanku ini saat ia datang membesukku.
Bahkan, karena antusiasnya ia sempat meninju lenganku seraya berkata, "Sialan, lu, giliran bercinta gak ajak-ajak gue deh..". Ketika aku menceritakan adegan-adegan di dalam penjara.
"Auch..". Aku terpekik.
Rupanya pekikan suaraku sempat membuat pengunjung lainnya berpaling ke arahku. Aku jadi tersipu malu, dan Wisnu tertawa menyaksikan ulahku. Wisnu sempat juga kukenalkan dengan beberapa orang yang pernah "main" denganku.

Apabila di tempat penampungan sementara aku hanya dapat bercinta pada malam hari maka di lapas ini kebebasan lebih banyak kumiliki. Aku dapat memadu cinta pada siang hari. Memanfaatkan waktu jam besuk. Misalnya saja, ketika penghuni kamar lainnya sedang keluar menerima kunjungan atau berolah raga, aku tetap di diam di kamar berasik masyuk dengan Aka.

Aka adalah sosok muda usia yang menarik perhatianku. Bentuk tubuh proposional. Potongan rambut crew cut dengan jambul model film Tin-Tin. Kulit coklat bersih. Tutur bahasa yang santun, Semua itu tidak dapat menyembuyikan latar belakang sosial dan edukasinya. Ia memang berasal dari kalangan berada dan terpelajar. Karena di sini aku tidak bicara soal pelanggaran pasal-pasal KUHP dan sejenisnya, maka aku tidak merasa perlu menceritakan alasan Aka masuk ke dalam sel. Awal mula hubungan ketika aku mendapatkan Aka sedang meringkuk di divan dengan tubuhnya yang demam. Sepertinya ia sedang masuk angin. Aku menawarkan diri untuk mengerik dan memijat badannya. Ia tidak keberatan. Saat kusentuh keningnya memang terasa agak hangat.
"Tuh.., kamu pasti masuk angin, Ka. Mau aku kerik badanmu?", kataku menawarkan diri.

Aka tidak menyahut selain mengangguk seraya melepaskan t-shirt yang dikenakannya. Kemudian ia berbaring tengkurap. Dengan uang logam limaratusan rupiah dan balsam balpirik kayu putih aku mulai mengerik punggung Aka. Tidak memerlukan waktu lama semua punggung Aka sudah bagaikan kulit kuda zebra. Hanya ini bukan hitam putih, namun coklat dan merah kehitaman. Selesai mengerik punggungnya aku memintanya agar membalikan badan untuk mengerik bagian depannya. Ketika sudah membalikkan badan itu aku dapat menyaksikan dari dekat secara keseluruhan tubuh Aka yang mempesona. Tidak kurus dan juga tidak gemuk. Perutnya tidak berlemak dan dadanya bidang kenyal.

Aka berbaring telentang dengan menyilangkan kedua tangan di bawah kepalanya. Bulu ketiaknya yang lebat, lurus dan legam tumbuh berserak disekitar pangkal lengannya. Menebarkan aroma maskulin. Dengan posisi seperti itu keseksi-an tubuh Aka jelas tergambar. Apalagi ketika aku melirik ke arah bawah, terlihat siluet bongkah batang kemaluannya yang menggelembung di balik celana hawai-nya. Kentara ia sedang tidak memakai celana dalam (di penjara hampir jadi hal yang biasa melihat aneka kontur penis membayang dibalik celana. Sebab selalu saja ada yang tidak memakai celana dalam).

Aka tersenyum sayu menatapku saat kami tak sengaja beradu pandang. Aku tersipu (saat itu aku sungguh merasa salah tingkah). Namun segera kutepis angan nakalku itu. Aku kembali mengerik tubuh depan Aka hingga tuntas. Sikap Aka yang pasrah dan kooperatif membuatku cepat menyelesaikan tugas mengerik badannya. Wow, betul-betul warna merah hitam yang merata di sekujur tubuhnya.

Setelah itu aku meminta Aka tengkurap kembali. Kini aku mulai memijatnya. Dari pundak, punggung, mengarah ke pinggang. Kemudian berputar-putar disekitar bongkah pantatnya yang kenyal dan padat. Aku meremas-remas bongkah pantat itu. Menekan titik-titik rangsangnya. Aku tahu kalau Aka mulai menginginkan lebih saat terlihat ia mulai meregangkan kedua belah kakinya. Berlainan dengan posisi awal pemijatan yang merapatkan kedua belah kakinya.

Tanganku bergerak ke arah bawah bongkah pantatnya. Jemariku mencoba menguak celah diantara ke dua bongkah itu sambil tetap meremas, menekan dan memijat.
Efeknya mulai terasa ketika dari bibir Aka aku mendengar desahan suara, "Ach.. och.. sshhzzs.. aachh.. nghss.. ouch.." seraya tubuhnya bergerak mengelinjang ke kiri dan ke kanan.
Perlahan tapi pasti aku mulai menaikan pipa celana hawainya ke atas untuk mencapai paha bagian dalamnya. Semakin lama semakin terangkat ke atas sehingga jemariku dapat dengan mudah meraba paha bagian dalam dan menyentuh buah zakarnya yang terlihat menyembul dan terhimpit tubuhnya.
"Dibuka aja kolornya ya biar lebih gampang?", kataku dengan suara setengah tersekat kepada Aka.
"Terserah.. ach.. och.. sshhzz. emmhs.. aacchh..", sahut Aka dengan suara bergetar sambil mendesah-desah menikmati remasan jemariku di bongkah pantatnya.

Ketika kupelorotkan celana hawainya itu, aku hampir berhenti bernafas melihat pemandangan indah yang terpampang dihadapanku. Deretan pubic ikal menyeruak dari belahan bongkah pantatnya itu. Bagai deretan tanaman pinus di bukit manoreh. Sambil terus memijat dan meremas aku mencoba menguak belahan itu. Mataku dengan nanar mencari-cari letak duburnya yang tersembunyi oleh kelebatan pubicnya. Begitu terlihat, tanpa permisi lagi, kepalaku langsung merunduk. Mendekatkan kedua cuping hidungku seraya menghirup aroma semerbak yang terpancar dari zona sensitive itu.
"Hem.. sshz.. oocchh.." tubuhku terasa terbakar.
Aku tidak dapat mengendalikan diri lagi. Tanpa kusadari lidahku sudah menjulur menjilat-jilat (rimming) lubang anal Aka. Aku tidak peduli lagi dengan konvensi dan sejenisnya. Aku merasa sudah mendapat lampu hijau dari desahan-desahan suara Aka sebelumnya.

Memang, pada mulanya Aka sempat terlonjak. Tampak terkejut. Berbalik badan menatap tajam ke arahku, penuh keheranan. Ketika mendadak merasakan basah ujung lidahku menjelajahi analnya. Pada saat itu, sebenarnya, aku juga kaget. Aku takut kalau Aka tidak terima dengan perbuatanku dan lantas memancing keributan. Namun, untungnya, tidak terjadi hal seperti yang kutakutkan.
Kebekuan hanya berlangsung sebentar. Karena sesaat kemudian Aka segera kembali pada posisi semula. Bahkan, kini ia mulai mengangkat pinggangnya dan meyorongkan pantatnya ke arahku. Aku makin leluasa menjilatinya. Decak dan kecipak suara bibir dan lidahku bersahutan dengan suara rintihan kenikmatan Aka.
"Ach.. ouch.. shshsszz.. nghhgs.."
Sambil terus mengelamoti pantatnya, jemariku mencoba merayap ke penisnya. Ternyata batang kemaluannya sudah tegak membatu. Wah, lumayan juga ukurannya. Dapat kurasakan dari jemariku yang kewalahan menggenggamnya.

Langsung aku menggapai tubuhnya agar berbalik arah. Kini Aka sudah terlentang ke arahku dengan penisnya yang ereksi sempurna tersembul dari kerimbunan pubic yang ikal dan lebat. Seksi sekali. Mendadak Aka merenggut tubuhku ke arahnya. Ia segera memeluk tubuhku dan memagut bibirku. Aku merasakan bibirku digigit dan dihisap-hisap. Kemudian ujung lidahnya menerabas masuk menggelitik rongga mulutku. Makin memberikan sensasi rangsang yang menggairahkan. Kami berguling-gulingan. Saling menekan dan memeluk. Tapi aku masih tetap berpakaian. Semacam body contac namun tidak ada penetrasi. Istilahnya sih, petting.

Aku menyelusupkan kepala ke balik lengannya. Menjilat dan menghirup aroma kemaskulinan yang mengairahkan. Aka menggelinjang dan melenguh. Setelah itu aku beringsut ke bagian bawah. Menyergap bongkah penisnya yang sudah mengacung sejak tadi. Menjamahnya dengan pagutan gairah penuh dahaga. Aka terengah-engah mendesah dan melenguh. Jemarinya mengelus dan menjambak-jambak rambutku.
"Aaghh.. oogh.. shhzz.. eengh.. ffsshh.."
Tapi kami masih sadar bahwa hubungan sejenis ini tidak boleh diketahui oleh orang lain atau bahkan sipir. Karena itu, apabila semula dalam posisi berbaring, kini Aka berdiri, sambil membuang padangan ke arah pintu keluar. Sehingga aku pun mengikuti arah gerak tubuhnya. Kini aku berdiri dengan bertumpu pada kedua lututku yang tertekuk. Kepalaku tetap beregerak majumundur meluluhlantakkan hasrat birahi Aka yang sedang terbakar gairah.

Kuluman, pagutan, sepongan yang kulakukan dipadu dengan goyangan pinggul Aka makin membuat suasana bertambah panas. Sontak tubuh Aka mendadak kejang dengan kedua tangannya menekan kuat kepalaku ke arah selangkangan. Terasa penisnya memancarkan cairan kejantanan yang tumpah ruah di dalam mulutku.
"Sshhzz.. hahh.. ssfh.. aaghh.. aaghh.. uufh..", desah suara Aka bergetar saat menyemprotkan spermanya.
Mulutku dengan rakus menghisap, melumat dan mengenyot glans Aka agar menghadirkan sensasi empot-empotan yang sempurna. Seiring dengan tandasnya sperma Aka di mulutku, batang penisnya terasa mulai menyusut dan kembali ke ukuran semula. Aku membiarkan Aka menariknya dari kulumanku.

Dengan punggung tanganku aku menyeka bibirku yang terkena ceceran cairan kejantanan Aka.
"Thanks, Nug. Ntar malam lagi ya?".
Aku tidak menyahut kecuali mengedipkan sebelah mata seraya melemparkan celana hawai ke arahnya. Setelah itu aku bergegas keluar kamar bergabung dengan penghuni lain yang sedang berada di luar menerima kunjungan. Seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Aku yakin pula bahwa setelah ejakulasi tadi Aka sudah tidak masuk angin lagi.
"Wes.. ewes.. ewes.. buablas napsune.."

K. G. B - 1

Sungguh, sama sekali sebelumnya aku tidak pernah membayangkan akan menghirup udara kehidupan di balik terali besi yang disebut penjara. Apalagi, istilah penjara yang kukenal selama ini memberikan konotasi kejahatan, kekasaran, kegetiran, kemalangan, serta masa penantian pembebasan dari kungkungan rentang jarak dan waktu. Menjadi bagian dari rangkaian cerita-cerita yang lekat dengan masalah penegakan hukum dan perlindungan atau pengembangan kekuasaan.

Namun, yang kumaksud dengan pengertian penjara dalam cerita di sini bukan dalam artian secara definisi kamus. Semacam tempat pengasingan yang membatasi kebebasan hak individu. Untuk hal-hal yang bersifat umum harus diakui kebenaran kenyataan itu. Namun untuk hal yang "khusus" penjara adalah semacam suaka birahi yang bagaikan sorga dunia. Betapa tidak. At least, as for me, di sana aku seolah menemukan habitat yang selama ini selalu kuimpikan. Berada dalam lingkungan yang memang kudambakan. Hidup bersama dengan hanya kaum lelaki. Kala Gairah Birahi (KGB) aku tidak menemukan suatu kesulitan berarti mencapai suatu penuntasan. Dengan mudah aku bisa mendapatkan lawan bercumbu, andaikata saja adegan make love sejenis disamakan dengan pertandingan tinju atau kickboxing.

Kenyataan yang sangat jauh berbeda kurasakan pada saat aku memiliki kebebasan yang seutuhnya sebagai seorang manusia di dunia bebas. Tidak seperti saat itu, sedang terampas haknya dengan dalih supremasi hukum. Di alam kebebasan yang sesungguhnya, aku malah menghadapi banyak kendala bertalian dengan penyaluran hasrat birahiku yang tergolong nyeleneh ini. Menyukai perkelaminan dengan sesama jenis.

Di dalam kehidupan terpenjara, ketika para penghuni dihadapkan pada kesulitan pilihan mengatasi penyaluran kebutuhan biologis yang menggelegak, ketiadaan wanita, peluang dan kesempatan yang ada seolah menjadi anugerah terindah bagiku. Trying something different. Kalimat sakti tersebut kugunakan untuk melakukan encouragement bagi peminat pemula yang masih diliputi keraguan. Berawal dari hanya sekadar membantu memenuhi hasrat keingintahuan oknum hetero sampai kepada mereka yang memang betul-betul membutuhkan pelepasan dan penyaluran ketegangan jiwa.

Untuk melakukan hal seperti ini tidak perlu suatu hal yang bersifat kuratif. Melakukan pendekatan dan membina hubungan baik. Itu kuncinya. Apabila perasaan kedekatan sudah diciptakan maka tidur berdampingan dapat menjadi awal pembuka untuk gerilya (berupa usapan-usapan pada daerah sensistif). Jika birahi sudah terbakar, umumnya, tidak ada akan penolakan lagi pada sasaran. Hal ini lebih baik daripada melakukan tindakan pemaksaan yang grusa-grusu dan kasar. Disamping tidak seorangpun menyukai tindakan demikian juga akan menyalahi tatanan sosial yang sudah ada.

Sementara, oknum hetero mengutip kalimat tersebut sebagai pembenaran petualangan seks sejenis yang dilakukannya. Toch hanya bersifat darurat. Tidak selamanya. Tiada rotan, akarpun jadilah. Begitulah kira-kira pemikiran apologia yang dapat disimpulkan. Tetapi Anda juga harus mengerti, Tidak serta merta hanya karena pernah mencoba melakukan kisah petualangan tersebut, kemudian menobatkan mereka (oknum) sebagai kaum yang "berbeda". Seperti halnya aku ini, terlahir dari alam (by nature) menyukai dan menikmati hubungan perkelaminan sesama jenis.

Ada juga yang, sebenarnya, tidak menyukai hubungan perkelaminan sesama jenis, namun karena kegairahan birahi yang tersulut, toch, mereka dapat menikmatinya juga. Setidaknya, dengan bukti ereksi dan ejakulasi akibat persetubuhan semu dengan sesama lelaki, yang dilakukan secara orogenital, body contact maupun anal intercourse. Meskipun setelah kembali ke dunia bebas mereka biasanya back to nature. Perkecualian bagi mereka yang kemudian menjadikan "pengalaman" tersebut sebagai modal dari bagian gaya hidup baru di alam bebas sana. Menjadi sosok manusia marginal atau biseks.

Sejauh pribadi yang menjalani menyadari kenyataan tersebut maka kehidupan biseks bahkan gay sekalipun seyogyanya bukan lagi menjadi suatu permasalahan. Berbeda apabila yang bersangkutan tidak menerima kenyataan dimaksud. Apalagi bila ditambah dengan ketidakmampuan menyalurkan dorongan libido sejenis dengan keberanian menerabas citra ke"normal"an karena bercinta dengan sesama jenis. Maka lengkap sudah penderitaan hidup kaum biseks dan atau gay. Hidup dalam pendaman naluri berkelamin yang tiada pernah berkesampaian. Solusinya, tidak ada pilihan lain, kecuali mencoba mewujudkan hasrat tersebut dan berusaha enjoy dalam menjalani hidup.

Kisah yang kutulis ini, sekali lagi bukan dan tidak mencerminkan stereotipe kehidupan penjara yang sesungguhnya. Anda tidak boleh menyamaratakan "alumni" sebagai orang yang selalu atau pasti suka dan pernah atau akan terlibat dengan kehidupan seks semacam ini. Karena kenyataannya, ada juga yang sangat antipati dengan perilaku seks seperti yang kulakukan dan kuceritakan ini.

Untuk sikap penolakan seperti di atas aku mengacungkan ke empat ibu jari. Salut sekali dengan keteguhan dalam prinsip dan keyakinan. Mereka tetap tahan tidak bergeming dari kegamangan iman, godaan, dan dorongan kebutuhan penyaluran hasrat berkelamin yang menggelora, yang akhirnya cukup terpuaskan dengan tindakan masturbasi ataupun menggantinya dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat daripada sekadar membayangkan kemesuman.

Ada semacam kesepakatan tidak tertulis (konvensi) di dalam penjara, bahwa tindakan seks sejenis yang dilakukan tanpa persetujuan salah satu pihak terkait akan memberikan peluang bagi pelanggar mendapatkan hukuman yang berat dari sistem dan lingkungan. Lain persoalannya, apabila hubungan sebadan tersebut dilakukan atas dasar keinginan bersama dan tidak dilakukan secara terang-terangan/vulgar/pamer/show off. Semata-mata aturan tersebut dijalankan untuk menghormati penghuni lain yang tidak sepaham dengan aliran seks sejenis. Demikian pula dengan institusi, yang walau tidak membenarkan tindakan ini, juga tidak dapat mencegah atau melarang terjadinya praktek-praktek terselubung semacam ini. Agaknya, salah satu dinding-dinding kamar penjara dapat menjadi saksi bisu yang reliable.

Kisah yang aku alami juga belum tentu sama dengan kisah mantan penghuni penjara yang lainnya. Seperti sudah kujelaskan di awal cerita, bahwa tidak semua mantan napi sependapat dengan hal-hal yang kulakukan ini. Ada juga yang sangat menentang. Tentu saja dengan alasan yang berbeda-beda. Ini menjadi suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal.

Alam pemikiran demokratis mengajarkan kita untuk saling menghormati adanya perbedaan pendapat ini. Namun tidak berarti adanya perbedaan pendapat ini menghalalkan timbulnya anarkisme. Demi menjunjung tinggi nilai-nilai seperti inilah membuat konvensi tetap terpelihara.

Karena itu, sekali lagi aku juga mohon maaf kepada mereka yang menabukan perkelaminan sejenis yang kulakukan di dalam penjara. Mempunyai orientasi seks yang berbeda bukanlah suatu cita-cita dalam hidupku. Namun, aku tetap harus memberi kualitas dalam kehidupanku daripada harus terpuruk sendiri hanya karena memelihara citra "normal" yang palsu. Selain itu, aku juga tidak pernah memaksa mereka yang memang tidak berminat. Kepada kaum sesama atau para simpatisan penikmat hubungan seks sejenis, anggap saja kisah ini sebagai bahan perenungan pencarian jati diri.

Aku juga tidak menyebut soal cinta, yang kedengarannya melankonis dan klise untuk kehidupan kaum pria di dalam penjara. Dalam cinta senantiasa ada romantisme. Sementara, penjara adalah dunia terbatas yang tidak kondusif terhadap tindakan romantisme sesama penghuni. Untuk sekadar menyalurkan hasrat birahi tidak perlu didahului lagi dengan ritus yang memanterakan untaian kata "cinta".

Hanya dengan berbekal keinginan dan persetujuan bersama, adanya peluang tempat dan waktu – agar tidak terlihat vulgar dan show off – semua tindakan perangsangan, erotisme ataupun pergumulan seks menjadi sangat mungkin untuk dilakukan. It sounds easy. Namun harus dengan kehati-hatian. Intuisi memegang peranan penting agar tidak terjebak dalam perangkap konvensi yang sebenarnya dapat dihindarkan.

Berlainan dengan erotisme, yang dapat dilakukan seorang diri. Menggunakan jemari tangan atau sekadar menggesek-gesekan kemaluan pada dinding, lantai, atau bantal sekalipun. Demi menciptakan efek perangsangan pada alat kelamin agar ereksi dan kemudian ejakulasi. Menyalurkan keinginan birahi yang bergejolak.

*****

Tempat yang digunakan untuk "memenjarakan" aku terdiri dari beberapa blok dengan banyak kamar atau ruangan. Kamar yang aku huni di tempat penampungan sementara ini berisi sepuluh orang. Kamar-kamar yang lain juga berisi jumlah yang sama. Kehadiran mereka di sini dengan latar belakang sebab yang berbeda-beda. Namun, umumnya, karena tindakan kriminal dan penyalahgunaan obat psikotropika. Begitu pula dengan status sosial/marital, edukasi, pekerjaan, religi dan etnis yang beragam.

Akan halnya dengan keberadaanku di penjara, sebetulnya, lebih banyak di dorong keinginan membuktikan cerita burung adanya "surga dunia", selain terlanjur bernasib sial (?) kedapatan membawa barang terlarang saat dilakukan razia di suatu diskotek terkenal ibukota. Hal yang tidak dapat kusangkal adalah, ditemukannya barang bukti tersebut di saku celanaku. Asalnya adalah titipan teman. Namun, karena pada dasarnya aku memang tidak ingin melibatkan orang lain, maka aku mengakui barang itu adalah milikku, yang aku gunakan sendiri.

Padahal, kenyataan yang sesungguhnya, aku sama sekali tidak menyukai penggunaan zat-zat addictive semacam itu. Sekadar membayangkannya pun tidak pernah, apalagi mecoba menggunakannya. Aku memang tidak ingin tubuh dan hidupku terkontaminasi dengan zat-zat sedative artificial semacam itu. Dengan konsep berkelamin sejenis yang kujalani ini saja aku sudah merasa tidak murni lagi sebagai manusia secara kodrati. Apalagi bila masih harus ditambah dengan penggunaan zat-zat semacam itu. Seperti apa nanti aku jadinya? No way. Konskwensi yang kuterima adalah, terampasnya kebebasan dasar yang paling nyata: bersosialisasi di dunia luar. Meskipun di lain pihak, aku mendapatkan bentuk kompensasi kebebasan yang lain. Memiliki kesempatan luas menyalurkan kecenderungan naluri hasrat birahi sejenisku yang menggelora.

Sampai hari ketiga aku berada di dalam penjara semua berjalan biasa-biasa saja. Sehingga pada saat tengah malam, ketika semua sudah terlelap dalam tidur, aku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Kebelet pipis. Aku bangkit berjalan menuju WC, yang memang ada di dalam sekat kamar dengan penghalang dinding, di dalam ruangan yang sama. Kulihat di sudut sana sudah ada seseorang berdiri membelakangiku. Rupanya juga sedang buang air kecil. Pandanganku menyapu keremangan malam. Setelah dekat, dari sosok tubuhnya, aku baru mengetahui kalau orang tersebut adalah Kurnia. Aku berdehem, dengan maksud memberitahukan kehadiranku padanya. Tapi ia seolah tidak mendengar. Tidak peduli sama sekali terhadap kehadiranku. Sekadar menoleh kearahkupun tidak. Masih saja tetap dalam posisi semula. Berdiri membelakangiku.

Aku berjalan menghampiri dan berdiri tepat disampingnya. Aku melirik kearahnya.
"Elueuh.. eleuh.. kunaon eta, euy..", pekikku dalam hati.
Ternyata, Kurnia sedang ngloco/onani/merancap/masturbasi. Jantungku berdegup dan darahku terasa mendesir menyaksikan sebongkah batang kemaluan menegang dengan besarnya. Menyeruak dari genggaman jemari tangan yang bergerak maju mundur. Kepala penisnya memantulkan kilau merah keunguan dengan titik-titik precum menyembul dari ureter. Suara gemerisik gesekan tangan dengan batang penis itu serta helaan nafas yang memburu melengkapi suasana sensasional malam itu.

"Eh.., lu, Kur..?", tenggorokanku terasa tercekat ketika kuberanikan diri membuka percakapan, menyapanya.
Sementara, Kurnia, hanya sekilas menoleh dan tersenyum kecil sambil tetap membiarkan batang kemaluannya berselancar dengan riangnya di dalam gengaman jemarinya.
"Sayang, atuh, dibuang-buang gitu..", aku memberanikan diri mengomentari tindakannya itu.
"Lu mau?!?", sekonyong-konyong, dengan gaya acuh, Kurnia berbalik arah memberi isyarat padaku untuk menghisap kemaluannya yang saat itu seperti sedang meronta-ronta ingin lepas dari genggamannya.
"Yes, this what I mean!", seruku dalam hati.
Aku tersenyum menatapnya. Tanpa membuang waktu lagi, aku segera merunduk jongkok. Mengambil alih batang kemaluan dari genggaman tangannya. Hilang sudah keinginanku semula untuk kencing.

Cuping lubang hidungku mengembang ketika mengendus semerbak aroma kelakian yang menggairahkan menyebar dari arah selangkangan Kurnia. Terlihat semakin jelas bongkahan penis yang mendongak dengan perkasa, menyeruak dari kerimbunan pubicnya yang ikal kelam dan lebat. Sambil menghirup dan menikmati aroma khas itu, bibir dan lidahku segera menyeruput dan menggumuli batang kemaluan yang menegang dengan tekstur guratan otot-otot disekelilingya.
"Nyummy.. nyumy.. nyummy", Aku mengelamoti glans seolah menikmati es lollypop yang lezat.
Kepalaku bergerak maju mundur menimbultengelamkan kepala penis Kurnia ke dalam kehangatan dan kegairahan birahi melalui kuluman mulutku. Bunyi berdecak dan kecipak bibir dan lidahku bersahutan dengan suara desah dan lenguhan kenikmatan Kurnia. Sesekali Aku membuang pandang ke atas. Menyaksikan ekspresi wajah kenikmatan Kurnia. Kedua belah tangan Kurnia bergerak-gerak meremas rambut di kepalanya sambil mulutnya mengerang dan mendesah.
Matanya terpejam dan ujung lidahnya menjulur-julur keluar dari mulutnya yang setengah membuka mengeluarkan desah suara, "Aach.. shhzz. ooch.. ahchh..".
Badannya menggelinjang limbung ke kiri dan kanan mengimbangi cumbuanku yang semakin menggila.

Pada saat yang sama, jemariku meluncur menyusuri batang penisnya. Menekan dengan lembut kulit kelaminnya. Bermula dari glans menuju ke arah bawah. Selanjutnya bersemayam di pangkal batangnya yang tegang itu. Dengan cara penekanan seperti itu, gurat-gurat otot di sepanjang batang penis menjadi lebih jelas terlihat. Kemudian dengan sedikit jilatan kasar lidahku menyapu dan mengelitik otot-otot itu. Maju mudur dari bawah ke atas dan sebaliknya.
Kurnia makin meracau, terbukti dari ucapan-ucapannya yang menjadi tidak jelas terdengar selain hanya deretan kata-kata, "Oouwh.. ochh.. enghzz.. fhs.. sshzz.. enyaak.. ouch.. terruuss.. oowug.. acchs.." yang meluncur deras dari bibirnya.

Aku terkejut ketika secara tiba-tiba, tangan Kurnia merenggut dan menekan kepalaku kearah selangkangannya. Tubuhnya terguncang dengan dengus nafas memburunya yang tersengal-sengal seraya memuntahkan cairan hangat gurih dimulutku. Aku hampir tersedak oleh semburan deras lahar birahinya dan sempat kesulitan bernafas karena hidungku tersumbat oleh kelebatan pubic Kurnia yang menutupi dan menggelitik lubang hidungku. Paduan sensasi rasa yang luar biasa kurasa. Aku terduduk lunglai di lantai. Kelelahan. Kedua bilah bibirku terasa tebal, dan jontor. Lidahku terasa kelu dan pegal. Butir-butir keringat mengalir membasahi tubuhku. Betul-betul olah syahwat yang melelahkan.

Belum selesai aku melakukan cooling down, mendadak Kurnia membungkuk ke arahku. Aku tidak menyangka jika kemudian ia meraih dan memelukku. Melumat bibirku. Lidahnya dengan liar menggapai-gapai langit-langit mulutku, seolah hendak menguras sisa spermanya yang masih melekat di mulutku. Hisapan mulutnya pada bibir dan lidahku melemaskan kembali organku yang semula terasa kelu dan kebal. Jemarinya gesit menjelajah lekuk tubuhku, menurunkan celana boxer yang kupakai serta menyingkirkan celana dalamku. Aku menggelinjang dan tubuhku terasa gerah terbakar cumbuan Kurnia yang menggelora.

Aku kagum juga pada Kurnia. Meski sudah ejakulasi, ternyata batang kemaluannya masih tetap ereksi. Aku melihat penisnya masih terayun-ayun tegak menantang dengan seksinya. Sambil memagut bibirku kurasakan jemari Kurnia merayap menggelitik lubang pelepasanku. Kemudian ia menyuruhku berdiri dan meletakkan satu kakiku bertumpu pada dinding bak mandi. Dalam posisi itu, celah diantara kedua bongkah pantatku membuka. Rectumku terasa mengembang lebar. Aku merasakan dinginnya malam menerpa dan menyelusup celah itu.

Aku kaget ketika kurasakan ujung lidah Kurnia yang basah dengan binalnya menggelitik tepi rectum, sementara jemarinya tanpa keraguan mengusap-usap batang kemaluan dan pubicku. Ditimpali pula dengan gesekan kumis dan sedotan bibirnya pada permukaan rectumku. Sekujur tubuhku bergetar menahan sensasi kenikmatan yang ditimbulkan. Masih di ruangan kamar mandi, kami beringsut pindah ke tempat yang tidak basah. Kurnia segera merebahkan diri. Batang penisnya tegang mengarah ke atas. Sambil melumuri penisnya dengan air liur ia memintaku jongkok di atas selangkangannya. Kurasakan jemarinya yang basah dengan saliva mulai melumuri dan merangsang rectumku.

Joko dan Kristo 4: Wild Night Continues

Baru saja kuperhatikan bahwa sepasang mata itu mengawasi gerak-gerikku. Entah sudah berapa lama ia melakukan hal itu. Kebetulan saat ini pembicaraan Kristo dan teman-teman barunya, Dino and the gangs tentang otomotif tidak begitu menarik perhatian saya. Kali ini kutatap balik pandangan matanya yang kuat tetapi teduh itu ke arah meja bar dalam club itu.

"Guys, gue ke bar dulu ya.." ujarku permisi pada mereka.

Si empunya mata segera menegurku ramah, "Malem Mas, mau minum apa?"
"Terserah deh, racikin aja yang asik.."

Ia kembali dengan segelas mixed drink yang nampaknya belum pernah kucoba sebelumnya.

"Gimana, enak?"
"Gile nendang abis.. Apa neh namanya?"
"Gua kasih judul, Bimo's Curiosity. Mumpung bos ga ada, gue tambahin takerannya khusus buat Mas"
"Wohoo, nice man. But hold on, let me guess, you are Bimo?"
"In person Sir.." jawabnya sembari menampakkan sederetan gigi yang putih dan tertata rapih.
"So Bimo, kalau saya boleh tau, why was Bimo so curious tonight?"

I had to ask. Sumpe, perawakannya maskulin sekali sehingga saya tidak bisa menebak orientasi seksualnya.

"Oh gak papa, iseng aja, cuman mengagumi kok.."
"Mengagumi apaan?" tanyaku menggoda
"Mengagumi.." dentuman speaker ramuan Mr. DJ menghantam ruangan penuh sesak itu.
"Kenapa?" tanyaku berteriak mendekatkan wajahku pada parasnya yang tampan

Ia mendekatkan bibirnya di telingaku, "Lu tipe gue abis.." ujarnya singkat.
Kini giliranku berbisik ditelinganya, "Sori man, I belong to that guy over there.." jawabku sembari menunjuk ke arah Kristo yang kemudian tersenyum melihat polahku.

"Cute.. Yah, too bad lah.. Mas namanya sapa?"
"Haha.. Usahaa terus.."
"Boleh dong.."
"Joko"
"Simpel dan gampang diinget. Fitnes di mana Mas? Nice biceps!"
"Hey, thanks man. Kebetulan di kompleks gedung gue ada fasilitasnya jadi ga repot kapan aja bisa. Anyway, loe sendiri juga not bad at all!"
"Thanks."

Aku membisikinya lagi, "You got some seriously nice ass over there!"
Kemudian ia berbalik membisikiku, "Mangkanya this ass needs to be taken care off. Mas, please bentar aja yuk.." pintanya memberi kode.
"You sure?"
"Dari pertama ngeliat Mas masuk, gue langsung horny abis.."
"Bentar ya.." aku mengetik sederetan pesan singkat kepada Kristo.
"Gila, loe, kok ngasih tau dia segala?"
"Oh, he's okay with this.." jawabku yang membuatnya bengong.

Setelah menemukan seseorang untuk menggantikan posisinya di bar ia kemudian menarik lenganku masuk kedalam labyrinth internal perusahaan itu. Dengan sepucuk kunci ia berhasil membuka gudang di bawah tanah itu dan menyalakan sebuah lampu kecil. Dentuman speaker masih terasa di ruang penyimpanan ini. Bimo segera menutup pintu dan menurunkan celanaku. Batang zakarku yang masih lunglai itu ia genggam dengan kedua tangannya dengan mesra.

"Gila, gede banget Mas.. Ah ga salah deh tebakan gue malem ini!"

Jemarinya segera bermain di atas kepala penisku yang mulai bereaksi atas suguhan menarik malam itu.

"Bim.."

Bulat-bulat benda tumpul itu ia telan ke dalam kerongkongannya dan menimbulkan sensasi kenikmatan yang segera kurasakan. Permainannya yang tak kalah cantik dengan Kristo membuatku semakin bergairah dengan bartender gagah ini. Ia menggenggam zakarku yang sudah mengeras itu dan memandanginya seperti sebuah hasil seni adikarya.

"Ini yang aku sebut sebagai kontol yang sempurna Mas.. Besar, padat, berotot, dan kepalanya yang sebesar buah tomat ini, mm.."

Ia kembali bekerja dan mengulum kepala penisku yang seakan tercipta untuk menaklukkan kebutuhan siapapun juga. Ia mulai membuka sabuk pinggangnya dan menurunkan celananya. Perlahan ia berdiri membelakangiku dan menempelkan bokong kenyalnya secara strategis pada batang kerasku sehingga kini menara itu berdiri tegak memandangi perutku atas himpitan pantatnya tadi.

"Ah, gila Bim, bokong lu napsuin banget, udah keringetan gini.." ujarku seraya meremas-remas bokong bundar Bimo. Sekilas aku melihat sehelai tali hitam melewati wilayah terlarang tadi.
"Hey, nice G-String.."
"Iya bawaan dari dulu ampe sekarang masih kepake. Tadinya sebelum ini gue jadi stripper!"
"Really? Ayo coba praktekin dong.."
"Beneran neh?" Aku menggangguk memberinya persetujuan.

Kemudian ia melepaskan celana pendeknya. Tanpa melepaskan kaos hitam tanpa lengannya dan membiarkan G-string minimalis itu bertengger di pinggangnya, ia menaiki sebuah meja di tengah-tengah gudang itu.

Aku menanggalkan seluruh pakaianku, penisku yang sudah super tegang saat itu mengayun dengan beratnya ke atas dan ke bawah menahan napsu birahi yang sedang melanda. Kutarik sebuah kursi lipat yang tersedia untuk dapat menikmati tubuhnya lebih dekat dari samping meja tadi. Cairan mazi yang bening mulai menetes ke lantai gudang.

Bimo mulai meliuk-liukkan tubuhnya sesuai irama dance hall yang menggema hingga ke ruang sempit itu. Nampaknya ia sendiripun sudah mulai menimbulkan gundukan menarik di bagian depan cawat minim itu. Keringat tubuhnya menjadikannya manusia keemasan diterpa cahaya lampu temaram tadi.

"Gila, sexy banget loe Bimo!" teriakku sembari bertepuk tangan mengikuti irama.

Lama-kelamaan tariannya mulai mengarah dan menonjolkan keelokan bokong supersexy-nya. Ah, benar-benar tayangan VIP rupanya. Sekilas lubang anusnya yang polos itu mencuri pandang dan mengerling ke arahku. Ia melipat tubuhnya sedemikian rupa sembari berdiri sehingga lubang itu terlihat lebih jelas dari balik tali cawat yang melintasi gerbang cinta itu. Dengan piawai ia mengendur-kencangkan otot-otot cincin anusnya sehingga bibir bawahnya itu terlihat sedang bercakap-cakap denganku.

Perlahan ia berlutut di atas meja itu dan menyuguhkan bokongnya tepat di hadapan wajahku sembari terus menari dan merangsang indra penglihatanku. Bimo berhenti ketika lubang panas itu menyentuh ujung batang hidungku.

Dengan geram kugenggam kedua belah pantatnya dan merekatkan wajahku pada belahan pantatnya yang bersih dan merangsang itu. Tali sialan penghalang pandanganku itu kutahan dengan jemariku sehingga akses penciumanku pada lubang nikmat itu kini tak terhalang lagi. Ah, wangi sekali aroma di sekitar liang anus lelaki itu. Kuusapkan hidungku langsung dari atas hingga sisi bawah belahan pantatnya itu dan mengendus-endus bagaikan anjing pada musim kawin.

"Ahh, enak Mas.." Rupanya hawa panas nafasku menambah birahi nakalnya.

Lidahku-pun mulai tidak mau kalah untuk mencicipi 'donat' hangat itu. Aku gunakan jemariku untuk menguak lebih lebar bukaan liang gelap itu sehingga lidahku dapat lebih mudah memperkosa dinding empuk yang nikmat tadi. Bimo tetap menari sehingga sodokan lidahku jatuh pada berbagai tempat yang lebih dalam untuk ia nikmati. Cairan anusnya mulai terproduksi dan terdeteksi oleh lidahku.

"Sumpah Mas, gue napsu banget.."

Ia kemudian membalikkan tubuhnya sehingga punggungnya menyentuh daun meja itu. Kutarik bokongnya hingga menyentuh pinggiran meja tadi dan kunaikkan kedua kaki berbulunya pada pundakku. Aku melirik kebawah. Sial, pandai sekali ia memainkan bibir anus itu seakan menghisap dan mengundang ujung kepala penisku untuk menembus lebih dalam.

Kugenggam kencang batang super-besarku itu dan perlahan kuperhatikan bagaimana bibir anusnya menerima si kepala tomat dengan sempurna. Ketika kepala itu sudah terselubungi secara total dapat kurasakan bibir anusnya yang terkontrol dengan rapih layaknya bibir manusia itu menyusui dan membasahi seluruh permukaannya. Sengaja kumainkan kepala penisku saja pada liang anusnya yang sempit ini dengan cara memaju-mundurkan dengan aksi kecil-kecilan.

"Ayo dong Mas.. Aku udah gatel nih ampe ke dalem-dalem.." protes Bimo.

Protes itu kuladeni dengan segera dan tanpa permisi lagi kuhabisi semua batang penisku sehingga kulit bokongnya yang empuk segera menyambut bebuluan jembutku.

Seperti yang sudah kuduga, Bimo tidak bisa berkata apapun juga, keterkejutannya atas serangan mendadak ini hanya ditandai dengan terbelalaknya matanya dan sekejap habisnya nafas dalam dadanya.

Segera kujilati putingnya yang mengkilap dan sudah mengeras, kumandikan dengan lidahku satu persatu untuk menambah kenikmatannya. Bimo mengerang lagi.

Permainanku makin kasar dan dahsyat. Kalau saja meja itu tidak kuat mungkin sudah roboh dengan pekerjaan berat yang harus ia tanggung. Kaki meja itu mulai berbunyi seiring gesekan dengan lantai.

Penis Bimo sudah sangat menegang dalam genggamanku. Sejenak kutarik diri untuk menikmati penisnya yang sudah menunggu belaian lembut bibirku. Entah karena permainanku yang terlalu ganas ataupun memang Bimo yang sudah terlalu bernafsu, tak lama kemudian ia memuntahkan cairan kelelakiannya dalam mulutku. Lelehan asin dan kental yang nikmat itu kutelan sebelum sebagian kukembalikan melalui sebuah ciuman kepada empunya.

Kubiarkan Bimo menikmati pancaran aura kenikmatan itu sesaat hingga batang kelelakiannya melemas sebelum sekali lagi aku menembus lubang hangat di bagian belakang tubuh pria tampan itu.

Aku menggumuli Bimo mungkin lebih dari tigapuluh menit sebelum rasa nikmat tak tertahankan itu muncul dan memaksaku untuk memompa liang anusnya dengan lebih hebat lagi. Aliran mani nan hangat mulai kusalurkan dari lubang kontolku untuk ditampung ke dalam anusnya yang rakus itu.

Akhirnya kujatuhkan rangka tubuhku yang besar ini di atas tubuhnya yang lemas akibat permainan nakal kami. Penisku masih tertanam dengan manis dalam rongga sempitnya itu. Sesekali masih kurasakan tremor kenikmatan tadi, sesekali masih kusemburkan cairan cinta yang tersisa dalam kantung zakarku.

Tiba-tiba pintu gudang tadi terbuka..

"Shit", respons-nya seketika.
"Hello guys, having fun here?" suara Kristo terdengar di telingaku sembari perlahan aku berbalik dan melihat para tamu yang datang melalui pintu gudang itu.
"Hi guys, what's up?" jawabku santai sembari melepaskan diri dari dekapan Bimo.

Penisku yang masih setengah tegang dan berlumuran sperma yang menetes-netes tentu saja menjadi perhatian Dino dan kawan-kawannya yang ternyata mengikuti Kristo hingga ke ruangan ini.

"Bimo, kenalin ini cowo gue, Kristo dan itu teman-temannya, Dino, Agus dan Tommy!"

Kedua teman Dino rupanya tidak tahan melihat posisi 'baru saja diperkosa' Bimo yang masih mengangkang dengan lelehan mani yang menetes dari lubang adiperkasa itu.

Agus dan Tommy segera melucuti pakaian masing-masing dan bergegas menuju ke arah Bimo yang masih lemas dengan pemuasan syahwatku tadi. Baguslah pikirku, pemuda tanggung seusia mereka pasti dapat meladeni Bimo dengan lebih rakus lagi.

Tanpa permisi, Agus langsung menancapkan penis mudanya ke dalam liang Bimo yang sudah kulumasi sebelumnya, sembari Tommy menyodorkan penisnya yang tidak disunat itu ke dalam mulut Bimo.

Sementara itu pandangan Dino tidak beranjak dari penisku yang tak kunjung beristirahat ini.

"Bener kan Din.. Gede banget kan punya si Mas Joko ini?"
"He eh.." jawab Dino mengiyakan
"Udah sosor aja.." timpal Kristo
"Boleh Mas?"
"Tunggu gue duduk dulu, gila cape banget sama si Bimo tadi.."

Aku duduk di kursi lipat yang tersedia tadi sebelum bibir Dino melumati seluruh batang penisku dan membersihkan ceceran mani yang tersisa di sana.

Sementara itu Kristo mulai menurunkan celana Dino sehingga bokong remaja itu ter-ekspose dengan indahnya.

Dari posisi dudukku aku melebarkan kedua belahan pantat Dino hingga akses Kristo untuk melumati liang remaja itu makin luas.

"Honey, I'm preparing your dinner here!" teriak Kristo sembari mengerling ke arahku.

Bebuluan halus dapat kurasakan pada jemariku yang merebakkan belahan pantat Dino untuk pemanasan Kristo. Jeritan-jeritan kecil mulai dapat terdengar dari meja tempat Bimo, Agus dan Tommy bergumul. Dinopun mulai dapat menerima hantaman jemari Kristo yang membuka lahan untuk dimasuki 'traktor' monsterku ini.

Aku dan Kristo kemudian menarik Dino ke lantai untuk dapat kami rangsang lebih lanjut. Sementara Kristo sibuk melayani daerah kelamin pemuda tanggung itu, aku memandikan puting dan ketiak Dino dengan lidahku yang hangat. Berkali-kali Dino menggelinjang dalam permainan kami.

Ketika batang perkasaku sudah merasa siap untuk bertempur lagi, aku menarik punggung Dino, membuka belahan pantatnya dan perlahan aku menembus raganya dari belakang. Aku berbaik hati dengan bermain penuh perasaan pada remaja yang masih belum pernah dicoblos ini. Kristopun ikut berbaik hati dengan tetap mengulum dan menjelajahi wilayah kelamin Dino.

Tak lama ketika Dino sudah mulai terbiasa dengan benda asing nan raksasa yang menembus relung anusnya, Kristopun mendekat dan memposisikan dirinya sehingga Dino dapat menyelipkan penis remajanya dalam liang professional Kristo.

Di lantai itu kami bertiga baris berbaris saling menyetubuhi-saling bercinta dalam waktu yang bersamaan. Kristo meminta pasangan trio di atas meja untuk turun mendekati kami di lantai gudang sempit itu.

Sembari menerima hantaman kasar Agus pada lubang pantatnya dan sibuk melayani benda tumpul Tommy dalam mulutnya, kini Bimo-pun dapat merasakan kedahsyatan permainan kuluman maut Kristo yang sudah terbukti itu.

Bimolah yang pertama kali menyerah dengan memberikan seluruh jiwa dan raganya bersama semburan hangat cairan maninya ke dalam mulut Kristo. Orgasme luar biasa yang ia nikmati dengan segera dirasakan Agus pada jepitan anus Bimo yang menyebabkan iapun turut dengan segera melakukan deposito indah ke dalam lubang itu. Tommy mulai berteriak penuh nafsu ketika pada akhirnya lidah Bimo berhasil menghantarkannya pada titik klimaks.

Setelah mereka beristirahat sejenak, perhatian berubah fokus kepada group trio kami. Penis Kristo yang bertengger hangat dalam mulut Bimo tak lama kemudian menyemburkan kenikmatan duniawi itu langsung ke dalam liang tenggorokan Bimo. Dan gesekan bertubi-tubi dalam anus Kristo tak mampu menahan jebolnya bendungan mani Dino segera setelah itu.

Kemudian mereka merapikan diri. Bimo permisi untuk kembali bekerja lagi. Tommy, Agus, dan Kristo permisi untuk kembali ke atas lagi.

"Lha gue gimana?" tanya Dino terengah-engah karena masih dengan asyiknya kusetubuhi.
"Udah, lu di sini sama gue dulu" ujarku tersenyum penuh birahi
"Apa gue bilang.. Lama kalo main sama Mas Joko! Bener kan?" timpal Kristo.

Ruangan itu mendadak hening sepeninggal empat mahluk penuh nafsu tadi.

Tanpa melepaskan tancapan mautku dalam anusnya, kami berdua perlahan berdiri dan berjalan perlahan ke arah meja tadi. Aku mainkan putingnya dari belakang, kuremas buah dadanya yang keras, dan perlahan kuarahkan Dino pada tepi meja itu.

Setelah tangannya dapat menahan beban kami pada daun meja itu, perlahan-lahan kulanjutkan kembali tugas mulia yang belum selesai tadi. Kasihan juga aku pada bokong pemuda itu yang belum terlatih menerima arus liar keperkasaanku ini. Oh well, apa boleh buat, dia yang minta, yah dia harus bertanggung jawab.

Dari lorong gang lokasi gudang tadi, kernyitan suara meja itu mulai sayup-sayup terdengar kembali. Bimo yang pada saat itu sedang berada diujung lorong hanya tersenyum mengeleng-gelengkan kepalanya.

Joko dan Kristo 3: Wild Night

Kami memutuskan untuk menikmati pemandangan duniawi yang disajikan oleh sebuah tongkrongan roti bakar terkenal di wilayah selatan Jakarta karena kami berdua tidak terkejar waktu untuk pergi kemanapun jua malam itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11:07, tetapi kawasan warung campur-campur itu malah semakin ramai oleh para tamu yang berdandan rapi dan sepertinya siap bergaul ke tempat lainnya lagi.

Kristo tampaknya sengaja memarkirkan A3 rombakan berwarna biru tua itu tepat di depan jalan masuk wilayah tongkrongan tadi. Sambil membuka jendela ia menyalakan sebatang rokok dan memutuskan untuk makan di mobil saja (tidak biasa-biasanya ini, pikirku).

Salah satu dari pegawai berseragam kaos senada (yang sometimes ditandatangani oleh orang terkenal) menghampiri kami. Badannya yang kekar dan pahanya yang kokoh itu nampak sexy sekali diselimuti jeans belelnya yang super ketat.

"Mas satu sate ayam, satu nasi goreng, sama satu roti bakar coklat keju yah."
"Minumnya?"
"Aqua dua deh.. Dingin ya.. Makasih Mas.."

Rupanya wajah imut Kristo mulai menarik gadis-gadis belia yang nampaknya masih belum selesai sekolah itu. Mungkin dikira salah satu calon VJ MTV dengan gaya sok funky-nya itu.

Tidak berapa lama kemudian segerombolan pemuda tanggung dengan kendaraan-kendaraan modifikasinya mulai berdatangan sembari melirik ke arah saya dan Kristo. Salah satu di antara mereka (dengan cukup mengejutkan) menghampiri jendela mobil Kristo yang terbuka.

"Sorry Mas, gila peleg-nya keren abis.. Udah di modi-kan? Ini pake yang tujuh belas atau yang delapan belas Mas?"
"Actually gua pake sembilan belas sih.." jawab Kristo antusias.
"Gila kaga mentok tuh kena vendernya?
"Ngga juga sih, kan kaki-kaki and body kit-nya juga udah ganti, biar semua masuk dengan sempurna.."
"Wah, pantes A3-nya ngga seperti yang saya liat di majalah ya Mas! Keren abis sumpe! Nggak dilombain aja Mas?"
"Nggak lah, lagian ini kan baru minor change aja, belum drastis lah.."
"Oke deh Mas, saya udah ditungguin temen-temen tuh ntar kita ngobrol-ngobrol lagi ya.. Boleh tuh share kontak bengkel-bengkel modi-nya. Semoga ntar Mas belum pulang.."
"Oke sip!" balas Kristo singkat.

Baru saja ia menoleh ke arahku, sang pemuda sok gaul tadi-dengan rambut botak ala Sammy Eiffel I'm in Love-kembali lagi.

"Umm, sorry sekali lagi Mas. Abis ini kita pada mau ke (ia menyebutkan nama sebuah club yang relatif baru di bilangan Dharmawangsa Sq.), mungkin kalo Mas-Mas ini gak ada acara kita bisa lanjutin ngobrolnya di sana?"
"Gimana Kang?" tanya Kristo.
"Aku sih oke-oke aja.."
"Oke guys see you there! Bilang aja tamunya Dino, I'm on the list" timpal pemuda itu kemudian.
"Yeah, see you there then! Gue Kristo, I'm on the list juga."
"Ya ampun.., Kristo yang baru balik dari London? Temennya (ia menyebutkan nama salah satu owner tempat hiburan itu) khan?"
"Yup, that's me!"

Aha. Aku menjadi teringat ketika aku seumuran Dino dulu (yah kira-kira delapan tahun yang lalu lah), Gayaku waktu itu sok dikenal sana-sini persis seperti pemuda tadi. Sok berpengaruh dan yang pasti sok bergaul. But he seemed nice enough lah, ngga sepa' seperti beberapa konco gaul-ku pada saat itu. Dan kalau instingku tidak salah, ia sepertinya lebih tertarik kepada Kristo daripada kedok modifikasi mobil "aneh"-nya itu.

"Kang, kok diem.. Udah, ga usah cemburu sama brondong gitu deh.. Haha.."
"Ngga, aku ngga cemburu, malah aku lagi mikirin apakah dia bisa kita ajak threesome apa engga.." aku menjelaskan kepada Kristo.
"Yang bener Kang? He's hot isn't he?"
"Well, not exactly hot, but he's cute.. Umur berapa ya kira-kira?"
"Alah paling baru lulus SMA.. Hmm, ya udah ntar kita liat aja.."

Tidak lama kemudian makanan kami datang dan Kristo sudah mulai sibuk menyiapkan berbagai tissue sehingga mengurangi kemungkinan kotornya interior mobilnya yang super kinclong itu.

"Gila ya di sini, surga banget. Tamunya lucu-lucu.. Sayang rata-rata pada bawa cewe-nya masing-masing.." lanjut Kristo sembari menikmati nasi gorengnya.
"Makanannya sih biasa aja, masih enakan di Lembang aku bilang, cuman emang pemandangannya ruarr biasa! Haha.. Liat deh.. Pegawainya aja cakep-cakep gitu.. Mana badannya keker-keker pula.. Ini sebenarnya juragannya lulusan akademi militer mungkin kali ya? Nyari pegawai yang seger-seger banget gini!" ujarku.
"Ah, si Akang nih emang napsu gede aja.."
"Eh, ngaca dong. Inget ga yang pas yang aku lagi capek banget itu? Karena udah ga tahan satpam baru apartemenku juga kamu lahap khan waktu itu?"
"Ya abis gimana dong, orang istilahnya knalpot udah kudu masuk bengkel gitu Mas.. Mana masih muda dan cakep gitu.. Kebutuhan prioritas haha.."
"Masuk bengkel aja terus!" balasku. Sok cemburu
"Ya tapi kan setidaknya ketika satpamnya udah tepar, Akang juga langsung menjebol keperawanannya tanpa perlawanan yang berarti dari si korban"
"Iya deh.. Impas-impas.."
"Aku tau kok, kalo aku nggak nginep di situ kan dia pagi-pagi sok rajin bawain koran sama kopi buat nyogok Akang kan? Udah ketagihan dia, sama seperti aku!"
"Hehe.. Kok kamu tau?"
"Lha dia sendiri yang cerita.."
"Oh ya?"
"Iya, katanya dia pengen pada suatu hari kalo ada kesempatan, dia ingin ditempok Akang ketika dia lagi ngentotin aku, coba!"
"Hmm, interesting, boleh jadi bahan pemikiran."
"Norak ah, tinggal telepon security aja nyari si Rahman gitu lho!"
"Mas.. Tadi jadi berapa?" tanya Kristo sembari memanggil pegawai kekar tadi.
"Makannya apa aja Mas?" ia bertanya balik.

Kristo menyebutkan hidangan dan minuman yang kami santap. Sepertinya pegawai ini tergolong orang baru di sini sehingga agak lama menghitungnya.

"Maaf Mas, minjem bentar ya.." lanjutnya sembari menarik secarik kertas dan pensil untuk menghitung 'belanjaan' kami di atas atap kendaraan Kristo.

Dan seperti dengan sengaja ia 'meletakkan' paket onggokan depan celana jeans-nya yang ternyata lumayan menarik itu tepat pada tepian jendela yang sedang terbuka. Sejenak Kristo melirik ke arahku seakan meminta persetujuan ide nakal yang sedang ia pikirkan.

Perlahan tapi pasti ia meletakkan jemarinya mendekati wilayah terlarang pegawai itu. Agar tidak terlalu mencolok para tamu lainnya dengan sigap ia berpura-pura tidak sengaja menyapu tepian jendela itu tepat di atas gundukan celana jeans itu.

Setelah sekiranya ia mengetahui duduk posisi tidur kemaluan pegawai itu, dengan sengaja Kristo menggenggam batang pria naas itu, Sang empunya zakar kontan terkejut dan wajahnya segera terlihat di bukaan jendela kami.

Dengan santai Kristo berkata, "Wah gede juga Mas burungnya. Kapan tuh terakhir diservis?"

Pegawai lugu yang ternyata baru datang dari Jawa itu kemudian memerah wajahnya dan dengan grogi ia menjawab..

"Mm, sebenarnya saya masih perjaka Mas, jadi ya.. Belum pernah di.. servis.." jawabnya dengan logat yang kental.
"Lho emang umur berapa Mas?"
"Duapuluh empat.."
"Wah, masak udah umur duapuluh empat cuman dipake buat kencing doang, sayang lho barang segede itu.."
"Sama sapa Mas, orang cewek aja ndak punya.."
"Mau diservis?" tanya Kristo spontan. Benar-benar nekad kekasih saya ini.
"Mm, Ah, yang bener aja Mas.. Masak Mas juragan gini mau nyervis saya yang dari kampung begini?"
"Udah tutup mata aja, servis gue pasti lebih hebat daripada cewek manapun juga deh! Justru yang masih lugu kayak kamu ini yang menarik, Sapa namanya Mas?"
"Joni"
"Sumpe lu? Gaya banget.."
"Iya ndak tau Mami saya waktu itu mungkin lagi sontak"
"Taelah Mami.." ujar saya tersenyum dalam hati.
"Ya udah Mas Joni, kapan nih mau diservisnya?"
"Ah ini beneran Mas? Bukan bercanda kan?"
"Bener, masak saya bercandain kamu sih?"
"Aku sih jadwal kerjanya harusnya udah selesai, jadi tinggal nungguin Mas berdua aja sebenarnya.."
"Ya udah pamit sana sama si Bos, kita tungguin di ujung jalan sana ya!"
"Bener Mas?"
"Iya cepetan sana lho!" balas Kristo.

Ketika Joni sudah menjauh, giliran aku yang bertanya pada Kristo.

"Lho To, bukannya kita mau ketemu Dino di club?"
"Ah, perjaka gitu paling bentar juga udah muncrat Kang, mumpung ada proyek baru yang ampir seganteng si Akang ini lho.." pujinya seraya meminta izin dariku.
"Terus mau main di mana?"
"Udah di mobil aja sembari jalan."
"Yah curang dong.. Kamu asik-asikan sama Joni.."
"Ntar Akang dapet giliran duluan deh sama si Dino.."
"Ya kalau dia suka cowo.."
"Ga liat gimana tadi dia nelanjangin aku dengan pandangannya? Kalaupun dia gak suka cowo, pasti nanti malem jadi suka!" jawabnya yakin.

Kami berganti posisi dan sekarang aku memegang kendali dan menepikan mobil hatch-back itu pada ujung jalan yang relatif sepi. Kristo kemudian beranjak ke kursi belakang. Tak lama kemudian Joni muncul setelah mengganti kaos kebangsaan warung roti bakar itu dengan secarik kaos pribadinya.

"Lalu pacar Mas ndak Papa nih kalau saya main dengan Mas?" ia membuka pembicaraan setelah masuk ke area jok belakang.
"Nanti dia dapet jatahnya sendiri, yang penting malam ini Mas Joni adalah jatah saya!"
"Lalu saya harus ngapain sekarang?"
"Udah sante aja, sini lho duduknya deketan dikit lah"

Kendaraan itu kemudian kujalankan melewati daerah perumahan yang sepi. Dari kaca spion aku melihat tangan Kristo mulai meraba-raba perut keras Joni.

"Jon, kamu suka fitness apa gimana sih, perutnya keras sekali.. Hmm.. Kayak batu bata deh.." ungkap Kristo seraya menyingkap kaos tersebut.
"Iya di rumah aja saya bikin barbel sendiri dari bekas kaleng cat yang saya isi semen. Terus saya juga suka karate dulu pas di kampung."
"Ga bakal bisa sekeras ini kalo ngga pull-up Mas.. Saya aja masih dalam proses ga dapet-dapet perut sekeras gini.." Kristo membawa tangan Joni ke arah perutnya sendiri.
"Oh kalau itu aku pakai kusen pintu Mas."
"Kusen pintu?"
"Iya, kan mahal kalo latihan di fitness segala, jadi saya gelantungan aja di kusen pintu rumah saya."
"Emang kuat kusennya?"
"Sampai sekarang sih masih belum masalah kayaknya" jawabnya sembari tersenyum.

Gundukannya terlihat semakin menggunung. Dengan cekatan Kristo memposisikan wajahnya di antara selangkangan Joni dan segera memerosotkan celana jeans berikut celana dalam pemuda itu yang karetnya memang sudah terlihat mengendur.

"Wah asli, wanginya seger abis Mas.. Langsung aja ya.."

Dengan itu Kristo langsung menelan peluru besar kecoklatan yang sudah setengah bangkit itu. Bibirnya menyapu bebuluan kasar di pangkal kemaluan Joni.

"Hahh.." Joni terkejut sekaligus terpesona dengan keahlian Kristo dalam memanjakan penis pria manapun juga.
"Umm, Uenak banget Kang, punya si Joni ampir segede punya Akang lho.."
"Oh ya?" ujarku iri dari kursi pengemudi.
"Mm.. Mas.. Mas.. Kalo kayak begini kayaknya sebentar lagi aku bakal.."
"Oh udah tau kalo bakalan enak bentar lagi ya Mas?"
"Iya lah, walaupun aku ndak punya cewek kan bisa ngocok sendiri.."
"Enakan mana sama ngocok sendiri Jon?" tanyaku dari depan.
"Ya enakan dilayani sama Mas ini dong.." ujarnya tersenyum penuh birahi.

Seperti layaknya para pemula lainnya, ia terkesan tergesa-gesa menikmati keahlian sang maestro Kristo. Kepala Kristo sudah ia tahan dengan kedua belah tangannya. Buah pantatnya mulai terlihat maju mundur memperkosa rongga mulut Kristo dengan kasarnya. Tetapi kartu As Kristo belum ia turunkan.

"Oke, oke stop dulu, kalo begini caranya, kapan gue ngerasain kontolmu Jon?" potong Kristo di tengah jalan.
"Lho emang mau bagaimana lagi Mas?"
"Gini lho.."

Kristo segera membuka ikat pinggangnya dan memerosotkan celananya hingga sebatas paha. Kemudian ia mengarahkan kedua belah tangan Joni hingga seakan menahan dan membuka kedua belahan pantatnya yang putih mulus dan bundar kenyal itu lebar-lebar.

"Lho, mau gimana tho Mas?"
"Udah sekarang lu anggep lobang pantat gue itu memek paling idaman lu dah.. Mulus kan?"
"I.. Iya Mas.. Putih banget kayak ratu keraton.."
"Sekarang kamu kuak lebar-lebar bukaan bokongku karena sebentar lagi aku akan duduk nyaman di atas pangkuanmu.."
"Gimana nyaman Mas, orang burung saya sedang tegang begi.."

Bless. Seluruh batang zakarnya sudah tertanam dalam anus Kristo yang selalu haus servis itu.

"Sekarang lu diem aja. Biar gue yang kerja ya.."

Joni yang sedang merasakan dahsyatnya kuluman maut jonjot anus Kristo hanya terdiam menikmati kehangatan sejati itu. Perlahan-lahan Kristo yang duduk membelakangi Joni itu menaik turunkan posisi duduknya.

"Enak kan Jon?"

Joni tidak dapat berkata apapun juga. Kedua tangannya sudah memeluk dada Kristo dari belakang. Wajahnya ia benamkan pada punggung Kristo yang masih berkemeja itu. Tangannya mulai berbagi kasih dengan ikut memasturbasi penis Kristo yang mulai menegang.

"Ah, uenak tenann Mas.. Ayo Mas.. Dikit lagi.." Teriak Joni tanpa malu-malu.

Walaupun sudah dilarang, tetapi bagaikan anjing jantan pada musim kawin, Joni mulai kasar menggagahi Kristo yang sedang memejamkan matanya mencoba menikmati permainan Joni yang amatiran. Tiba-tiba tubuh Joni menegang, menggelinjang sesaat sebelum terkapar pada jok belakang dengan peluh memenuhi tubuh dan keningnya.

"Lho kok langsung nembak Jon?" candaku.
"Akuh.. Akuh.. Udah ga bisa nahan lagi Mas.."

Seketika Kristo langsung bangkit mencabut batang zakar pria itu dengan paksa sehingga lelehan-lelehan madu kenikmatannya masih dapat terlihat mengalir dari lubang kemaluan Joni.

"Ahh.. Ah.. Ahh.." Joni mengerang kecil, tubuhnya kembali terguncang-guncang tanpa kendali lagi.

Tanpa permisi rupanya Kristo sudah mengulum batang keperkasaan Joni dan sembari jemarinya memeras habis sisa persedian 'bulog' kantung kelelakian Joni. Pria lugu itu mendapatkan orgasme keduanya dengan segera.

"Ahh.. Aduh.. Ahh.."

Setiap semburan yang ditembakkan Joni langsung ke dalam kerongkongan Kristo ditelan bagaikan seorang drakula yang haus darah. Joni yang kini nampak seperti layaknya seseorang yang pingsan tak sadar diri hanya bisa merasakan mulut Kristo yang membersihkan setiap tetesan birahi yang telah ia semburkan tadi baik pada seluruh tubuh penis perawan itu ataupun yang berceceran pada jembut Joni yang beraroma sangat khas itu. Perlahan Kristo mengenakan kembali celana dalam dan celana jeans pria experimental-nya itu.

"Enak kan Jon? Nih, gue kasih kartu nama gue. Nama gue Kristo, dan Mas ganteng yang di depan itu Joko, pacar saya. Ntar kalo butuh servis lagi, tinggal telepon aja ya.. Ga usah repot cari-cari yang lain.. Kalo mau coba ngisep kontol super gede, Mas yang di depan itu rela kok meluangkan waktunya. Okeh?" ujar Kristo sembari menyelipkan kartu namanya pada saku celana ketat Joni. Tak lupa ia menyelipkan selembar uang seratus ribuan di sana sebagai balas jasa servis knalpot dadakan yang ia kehendaki.

"Udah ya, makasih banget Jon.." lanjut Kristo.
"Kita masih ada janji mau ketemu orang di club depan situ.. Lu turun di sini aja ya.."

Aku menghentikan kendaraan di samping taman kecil yang sepi itu. Kemudian kami berdua terpaksa memapah Joni yang masih terkulai lemas keluar dari kendaraan dan kami dudukkan di dudukan pagar perbelanjaan yang mulai sepi malam itu. Joni mencoba berdiri, tetapi kemudian ia terjatuh lagi dan menyenderkan kepalanya kepada tiang yang terdekat. Kami pamit padanya dan meninggalkan ia sendiri di sana.

"Gimana To? Asik?"
"Lumayan lah, walaupun masih amatiran gitu.. Kalo udah kena servis aku pasti besok-besok nagih lagi deh.. Hahaha.. Ntar aku ajarin pelan-pelan biar dia bisa jadi pecinta yang hebat! Kan nanti kalau istrinya puas aku juga bangga ikut serta dalam pendidikan percintaannya. Taelah haha.."

Samar-samar plaza kecil itu mulai terlihat pada pandangan kami. Kristo masih terkesan ribet membenahi pakaiannya seraya tidak kalah sibuknya segera membersihkan interior mobilnya yang kini sudah terkotori lelehan birahi Joni.

"Duh jorok banget sih si Joni tea'! Muncrat ampe kemana-mana gini.." lanjutnya membersihkan tanpa menghiraukan kekehan tertawaku.

Joko dan Kristo 2: Bara Api

Keterangan: Semua kejadian dan pemeran dalam cerita ini hanya fiksi belaka. Enjoy.

"Damn, I look gorgeous!" puji diriku sendiri sembari mengamati bayangan pada cermin.

Seorang pemuda tampan berbusana suit lengkap sedang menatapku kembali pada cermin itu. Sembari mengambil gadgets yang menggantikan fungsi tas kantorku, aku tersenyum melihat tubuh bugilnya yang terkulai lemas pada ranjang raksasa itu. Udara AC meredakan teriknya matahari pagi yang menyinari tubuh telanjang Kristo yang masih tertidur. Dari sela selangkangannya terlihat bekas ceceran maniku yang kutanamkan hingga tiga kali pada malam sebelumnya.

Perlahan aku dekati dia dan aku kecup keningnya.

"Morning Angel, bangun yuk, kamu ada meeting dengan ad agency pagi ini.."
"Hmm.. Morning Charlie!" (lho seperti di film Hollywood saja).

Ia perlahan membuka matanya dan mencium bibirku.

"Damn dude, my ass still hurts!" protesnya.
"I told you, it's a big baby down there!" jawabku bangga.
"Ah Papi, mau lagi dong.." ujarnya bernapsu sembari menggerayangi Joko kecilku.
"Papi juga ada meeting pagi ini sayang.. Nanti siang habis meeting kamu telpon aku deh.. We'll make some arrangements ya"
"Ah payah nih.."
"Udah, buruan mandi, ntar diomelin Papa kamu lho kalo telat"
"I know.. I know.. Aku kan udah gede.. Kamu sama aja kayak Papa-mama-ku"
"Oke deh, ciao bello!"
"Ciao Papi!"

Sebuah kecupan ringan kuberikan pada keningnya sebelum aku turun dari lantai paling atas gedung apartemen itu.

"Segar sekali pagi ini Den. Dapet cewek baru ya?" sambut supir kantor-ku.
"Ah engga, emang kayaknya hari ini segar aja Pak.." balasku tersenyum merahasiakan kejadian sesungguhnya.
"Yuk, jalan.."

Belum sampai tengah hari, teleponku sudah berdering dari Kristo.

"Kang. Aku bingung deh ni, mau milih agency yang mana, soalnya yang satu bagus di konsepnya, yang satu bagus di media spendingnya, yang satu bagus di-pengerjaannya, dan yang satu lagi bagus diharganya. Biasanya yang ngurus gini-gini-an di kantor kamu sapa sih?"
"Ya aku sendiri lah. Coba kamu udah kontak siapa aja?"

Ia memberikan beberapa nama contact persons dari beberapa perusahaan periklanan yang sudah ia temui.

"Ah, dia mah bawahannya si Arya di sana, udah langsung aja minta dihandle Arya kenapa?"
"Oh bisa ya?"
"Ya tergantung seberapa budget kamu juga sih, harusnya sih udah cukup besar untuk di handle Arya deh.."
"Ah bingung ah, aku ngobrolnya di kantor kamu aja boleh ga?" pintanya dengan nada manja.
"Mm, boleh tapi ada syaratnya. Kamu bawain aku batagor yang di gang sebelah WTC gimana?"
"Ah si Pak bos ini, kalo sama klien makan di hotel, tapi kalo sendiri pelit banget"
"Lho say, ini bukan masalah pelit, tapi masalah perut, emang dari dulu sukanya yang simple-simple gitu lagian!"
"Oke deh tunggu aku ya.."

Tidak sampai satu jam kemudian wajah lugu (dan mupeng)-nya sudah terpampang di depan mejaku. Gantungan kuncinya yang berlogo empat lingkaran berjajar itu hampir terjatuh dari ujung meja.

"Aduh napsu sekali sih Kris.." protesku disela ciumannya yang dasyat.
"Oh ok, sorry-sorry, bos makan dulu deh.."
"Nah gitu dong.."

Ia mengambilkan piring dari lemari yang tersembunyi dan menata makananku bak seorang istri yang baik.

"Silakan raden Mas.."
"Sialan kamu ya.."
"Nah, sementara kamu makan.. Aku juga mau makan.. Ehm. Permisi.."

Ia mendorong kursi kantor yang sedang aku duduki itu kemudian masuk di bawah meja di antara selangkanganku. Dengan cekatan ia membuka sabuk dan risleting celanaku dan menarik kursiku ke posisi semula.

"Gila kamu.."
"Aku udah kangen sama yang ini.." ujarnya dari bawah meja.

Saya jadi bingung antara napsu lapar batagor dan napsu lapar birahiku yang perlahan mulai naik.

"Udah enjoy aja Kang.. Anggep aja delivery service Plus-Plus, hehe.."

Suara hisapan demi hisapan penuh napsu mulai terdengar dari kolong meja sehingga aku harus mengeraskan volume aransemen biola hasil komposisi Vivaldi dalam orkestra Spring dari Four Season Suite.

Lidahnya yang piawai mulai kurasakan bermain di lubang bukaan kepala penisku. Bibirnya mulai pintar beradaptasi dengan tubuh kekar dan besar Joko kecil-ku itu. Diam-diam ia belajar menelan utuh-utuh seluruh kelelakianku. Ah, nikmat sekali rasanya.

Tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu ruang kerjaku.

"Siang Pak, maaf, saya butuh tanda tangan.. Eh, maaf menggangu Pak, saya tidak tahu kalau Bapak sedang makan.."
"Ga Papa Cin, sini saya liat dulu" jawab saya ketika saya yakin bahwa Kristo sudah tahu bahwa ada tamu yang tak diundang dan ia tidak akan terlihat dari pandangan Cindy, sekretaris saya.
"Lho kok senyum-senyum Pak?"
"Cindy.. Cindy.. Aku tadinya mau marah, tapi kok daripada capek mendingan senyum aja. Aku kan udah menginformasikan bahwa dokumen seperti ini kan sudah ada formatnya dan kamu tidak usah capek-capek ngarang sendiri lagi."
"Oh iya Pak, maaf, jadi perlu saya kopi-kan dari dokumen arsip?"
"Ga usah deh, daripada buang waktu. Nih, saya tanda tangan langsung"
"Makasih Pak." ujar Cindy lega sembari meninggalkan ruangan.
"Nih, saya isep langsung Pak!" lanjut Kristo nakal sembari menunjukkan bukti kepiawaian mulutnya berupa sedikitnya ceceran air maniku yang tersisa pada ujung-ujung bibirnya.
"Gila kamu, bukannya berhenti dulu."
"Udah kepalang tanggung darling, lagian kamu kayaknya udah ampir keluar tadi.."
"Gimana hiburan siangnya, enak kan?" tambahnya
"Oh enak sekali, thank you dude.. Tapi.. Ada yang kurang nih.. Desserts!"

Sebuah tombol kutekan untuk mengunci ruanganku. Dan aku menarik Kristo ke pangkuanku. Kulumat bibirnya yang masih basah dengan air maniku dan dengan paksa kemejanya aku tarik ke atas sehingga aku dengan segera dapat menyusu pada putingnya yang sudah mengeras dan menggiurkan itu.

"Wow, daddy calm down.." respons-nya.

Dengan kasar aku membuka celananya hingga sepaha dan mulai memasturbasi batang kelelakiannya. Aku memainkan lidahku dalam bukaan kulit fulup-nya yang membuat ia menggelinjang tak terkendali. Kemudian kuangkat tubuhnya hingga punggungnya menyentuh meja kerjaku.

"Show time babe" pintaku.

Kedua pahanya yang masih terikat oleh celana yang belum lepas sepenuhnya itu aku naikkan kearah dadanya. Kini terkuaklah lubang kenikmatannya yang terlihat mengerling dan menggoda birahiku.

"Oh baby you got some really nice ass.."

Tanpa komando aku langsung menjilati lubang kenikmatannya yang telah kucukur hingga bersih polos pada malam sebelumnya. Ternyata Kristo pandai mengendalikan liang tersebut hanya untuk kenikmatan pribadiku.

"Ahh, akang, enak sekalihh.."

Tidak tanggung-tanggung, tiga jemari gemukku langsung menghunjam dan bergerak memanasi hidangan penutup yang aku nanti-nantikan.

"Ayo kang sekarang.."

Ular naga perkasaku sudah kembali mencapai posisi terkokoh untuk kupergunakan dalam permainan selanjutnya.

Dalam satu sodokan maut, seluruh batang zakar itu berhasil masuk ke liang sempit nan elastis itu. Kemudian aku berubah santai. Aku diamkan benda asing itu di dalam anus kekasihku. Aku nikmati permainan otot-otot cincin yang hangat menyelubungi dan memanjakan libido-ku ini. Ternyata perlahan-lahan batang zakarku masih dapat berkembang maksimal di dalam gua pecinta itu.

"Ahh.. Ohh.. Masih melar Kang.. Ahh. Enak rasanya anget.. Penuh sesak.."
"Sayang, cuman kamu yang tau caranya membuat hal itu terjadi.." timpalku tanpa mengada-ada. Kemudian kami berciuman mesra tanpa adanya pergerakan lebih lanjut.

Matanya mendadak melotot seperti semalam ketika pangkal kemaluanku itu ikut membesar dan seakan mengoyak dinding bukaan duburnya. Sayang, kalaupun ia hendak berteriak mulutnya sudah kubungkam dengan bibirku.

"Sorry, yang itu ga bisa aku kontrol" aku meminta maaf sambil tersenyum.

Dengan perlahan aku mulai bergerak keluar masuk dari tubuhnya. Terkadang terdengar, maaf, suara kentut dari lubangnya yang terengah-engah meminta udara dari luar karena sudah sangat sesak dan sempit ulah ukuran keperkasaan alat vitalku.

Kristo-pun mulai terlihat rileks dan sangat menikmati permainanku. Ia memejamkan matanya ketika lidahku menyentuh bebuluan halus walaupun lebat pada ketiaknya.

"Damn, you smell good baby.."
"And you are so big Papi, aku ga pernah merasa senikmat ini.."

Ketika permainanku mulai berubah menjadi kasar, Kristo sepertinya tidak kuat lagi menahan hujamanku.

"Papi, I'm gonna cum.. Gonna cum.. Gonna.. Ahh.. Hh.. Hh.."

Kristo mencurahkan seluruh isi buah kejantanannya pada kondom yang sempat aku selipkan sebelumnya (untuk menjaga kerapihan dan bersihan kantor). Ia mengelinjang berkali-kali seiring dengan setiap semburan maninya yang tertangkap oleh karet pelindung itu.

Orgasme dasyat yang ia alami dapat kurasakan juga pada jepitan anusnya yang mulai menyusuiku dengan napsu yang luar biasa. Kurasakan bahwa bendunganku-pun akan jebol dalam hitungan beberapa detik ini.

Sebelum semuanya terjadi aku menjatuhkan seluruh beban tubuhku pada Kristo di atas pahanya yang terlipat ke atas. Dengan sedikit kejangan tubuh, dengan tenangnya (seperti layaknya buang air kecil) aku menyemburkan cairan kenikmatan yang hangat dalam dubur kekasihku. Hampir dua menit muncratan demi muncratan hangat itupun tak kunjung selesai (berkat teknik memperpanjang orgasme yang aku pelajari di India) sehingga kini cairan itu mulai terasa meleleh pada buah pelirku yang kelelahan.

Lima menit berlalu hingga energiku kembali pulih dan perlahan aku bangkit dari atas tubuh kekasihku.

"Thanks Yang.. What a great way to enjoy lunch?"
"Lunch? Aku kirain udah dinner sekalian sangking gedenya!" timpal Kristo dengan senyumnya yang manis.

Perlahan kucabut kontolku yang mulai melemas dari liang hangat itu. Oh, ternyata si kepala tomat masih agak susah keluar dari kungkungannya.

Plop. Terdengar bunyi kepala penisku meninggalkan penjara nikmat tadi.

Aku segera berjongkok dan mengamati lubang anusnya yang masih megap-megap setelah kejadian pemerkosaan luar biasa barusan itu. Kemudian kubersihkan sisa-sisa yang tercecer dari bukaan lubang yang tak kunjung menutup itu dengan jemariku.

"Yang.. Sorry nih, kamu ga Papa kan? Soalnya umm, lubang anusmu ini kok masih menganga begini ya, aku bisa ngeliat sampe kedalem-dalemnya gini lho.. Bisa nutup ga ya?"
"Hmm, ga tau juga deh, tapi kemaren malem kan sama juga, cuman udah gelap aja kamu ga ngeliat. Sampe tadi pagi aku kayaknya masuk angin dari sana gitu.."
"Lho emang bisa ya?"
"Udah ga usah dipikirin, gara-gara kontol super-mu itu, mungkin aku jadi napsuan gini.. Habis dipake kamu kayaknya disana tuh kosong banget, pengennya diisi terus terusan sama kamu.."
"Ah yang bener?"
"Iya beneran!"

Dengan izin extranya itu aku segera menancapkan batang kelelakianku yang ternyata masih dapat dikembangkan dengan lebih maksimal lagi. Cairan mani yang masih kental di sana bekerja bagaikan cairan pelumas yang menambah kenikmatan perjalanan batang zakarku di dalam lubang nan gelap itu. Tanpa mengindahkan kerapihan dan kebersihan kantor lagi aku rasakan sisa mani yang tertampung di dalam anusnya tadi mulai berceceran keluar akibat gesekanku. Kini aku siap untuk menembak sekali lagi. Kuraih kedua belah kakinya yang masih terbungkus celana kantornya itu dan kudekap dalam pelukanku erat-erat sebagai pegangan peluncuran torpedo air maniku babak yang kedua ini.

"Owaahh.. Hh.. Hh.."

Semburan maniku yang terkenal luar biasa banyak dan kental itu seakan menyisakan ruang kosong pada kedua telur penampunganku. Lututku mulai terasa lemah dan aku terjatuh pada kursiku dengan penis yang masih terlihat kokoh berlumuran dengan cairan putih kental yang turut membasahi areal bulu jembutku yang keriting dan padat itu.

Penis Kristo juga sudah melemah. Bokong kenyalnya yang bergelantungan pada ujung mejaku mulai mengotori lantai dengan tetesan sperma hangatku yang mengalir bagaikan salju yang mencair dari lubang kenikmatannya.

"Hey I forgot my desserts!" teriakku beberapa menit kemudian.

Aku menikmati saus nikmat persembahan Kristo dari kondom yang kukenakan padanya tadi.

Pemirsa, setelah beberapa bulan hubungan kami terjalin, baru sekali ini dalam hidup saya, saya menemukan seorang pasangan yang dapat mengimbangi birahi keperkasaan saya. Dan tidak hanya itu, selain ia bisa menikmatinya, mungkin saya harus mengakui bahwa kekasih saya yang satu ini ternyata lebih maniak dari diri saya.

Joko dan Kristo 1: Pertemuan Pertama - 2

Anto yang sudah berhasil naik ke dok kemudian berlari ke arah kami mencoba menceburkan kami kembali. Kami sejenak bertatapan dan seringai jahanam Kristo muncul kembali. Kami berdua kini melangsungkan counter-attack dengan berlari ke arah Anto yang sekarang malah terkejut dan berlari berbalik arah.

"Byur!!" Anto berhasil kami "eliminasi".
"Hahaa.."

Mungkin tidak ada yang tahu pada saat itu bahwa saya membalas tatapan hangat Kristo yang bertahan hingga hampir dua detik. Saya langsung mengagumi tubuh indahnya yang putih bersih yang hanya ditutupi sehelai celana putih basah.

Sangking tipisnya celana itu, bebuluan hitam yang menjadi sarang burungnya nampak jelas dibawah garis penisnya yang tidak kalah menarik dari hasil cetakan basahnya celana tadi.

Saya kemudian membalikan badan karena merasa rish sendiri dan segera mengenakan sarung pemberian Elena takut nanti dikira yang bukan-bukan oleh para tamu lainnya.

Eh, tidak disangka, Kristo kini sudah berada disampingku, merangkulkan tangan kanannya pada pundakku. Berdua kami menatap manusia-manusia yang sok jaim tadi yang ternyata kini heboh sendiri dengan asyiknya laut yang hangat dan jernih itu.

"Bro, sorry yang yang tadi, gue gak kira celana renang lu bakal bener-bener lepas gitu.. Nih.." Tanpa risih ia mengambil celana renang mini-cooper ku itu dari lantai dok dan memberikannya padaku.
"Well, isn't that what you wanted anyway?" jawabku tersenyum ke arahnya. Mukanya kemudian memerah dan ia bergegas terjun ke air lagi.

Setelah ke-jaim-an masing-masing hilang, malam itu kami isi dengan karaoke (walaupun suara kami pas-pasan, kecuali suara Kristo yang empuk didengar), dilanjutkan main kartu dengan hukuman minum bagi yang kalah.

Karena Kristo belum familiar dengan aturan permainan kartu "lokal", sering sekali kami sengaja membuat peraturan-peraturan baru sehingga ia harus kalah. Dua jam kemudian terlihat bahwa ia mulai berbicara dan tertawa sekenanya, paling parah dari antara kami semua.

Permainan "truth or dare" kemudian digelar. Pertanyaan itu akhirnya jatuh kepada Kristo.

"Truth or dare. Kamu ga berani bilang perasaan kamu yang sejujurnya pada orang yang sedang kamu taksir!" ancam Roy.
"Dare!" Jawab Kristo.
"Oke coba! Siapa dan rencana kamu apa?" Tanya Jessica.

Kristo dengan sempoyongan berdiri. Kembali bergaya minimalis, alias hanya mengenakan celana Capri saja, tubuhnya yang kenyal dan berkeringat itu bergelimangan cahaya obor yang kami nyalakan.

Tawa mereka menggelegar kembali ketika menyaksikan Kristo yang sudah hampir mabuk itu mencoba berdiri dan merapihkan kemejanya (yang sebenarnya tidak ia kenakan).

"Oke listen to this, saya orangnya.. Engg.. Engga suka berbel.. It-belit, langsung aja ya: Joko! (jeda sejenak) Sejak pertama saya liat kamu di Jakarta tadi, saya sudah mulai naksir sama kamu!!" kemudian ia terkekeh-kekeh mengaharapkan sambutan yang meriah dari para tamu.

Tetapi apa dinyana? Ruangan berubah menjadi sunyi senyap. Bagaikan guntur yang menghabisi satu kampung, yang terdengar hanyalah suara jangkrik.

Maklumlah pemirsa, di zaman keterbukaan seperti sekarang ini, tetap saja hal-hal seperti ini mungkin masih dianggap tabu. Bahkan juga dianggap demikian oleh kaum elite berpendidikan luar negeri seperti teman-teman Elena ini.

"Eh, kamu mabok Kristo?" tarik Elena hingga Kristo hampir terjatuh pada lantai kayu itu.
"Gila kamu ya? Joko itu totally straight! Bulan lalu ia baru saja putus dari pacarnya. Saya mengajaknya ke sini agar ia dapat sedikit rileks dan melepaskan beban pikirannya. Sekarang apa-apaan kamu ini mempermalukan diri kamu, dan juga mempermalukan diri saya di depan teman-teman yang lain?"

Semuanya diam terpaku.

"Dan sejak kapan kamu berubah menjadi gay begini? Apa gara-gara kuliah di London?"
"Bukan Elena, saya memang dari dulu sudah begini, kamu aja yang gak notice! I'm your best shopping buddy remember? I understand your style, I know your colors. Mana ada cowo-cowo lain yang niat nemenin kamu belanja sampai berjam-jam keluar masuk butik?"
"But still gue ga rela.. Gue gak rela kamu jadi begini Kristo.. I thought you are one of my best friends.."
"I am still.." jawab Kristo lemah

Waduh, saya jadi merasa ngga enak dengan kejadian ini dan yang utama, saya merasa kasihan dengan Kristo yang pasti merasa terhakimi pada titik ini.

"Guys.. Guys.. Please let the poor guy calm himself first lah.." potong saya.
"Gini, saya yang menjadi "korban" di sini masak ngga ditanyai pendapatnya?".

Mereka mulai tersenyum kecil, dengan pengecualian Elena dan Kristo.

"Oke, pertama, jujur aja saya merasa sedikit geer dengan sambutan Kristo tadi. Begini, kalau cowo aja sampe merasa tertarik dengan saya, kan tidak menutup kemungkinan kalau para wanita juga mungkin merasa demikian juga."
"Oh shut up, dasar playboy kelas kakap!" balas Ana sembari membantu mencairkan suasana.
"Lho.. Lho bukan begitu Ana.. Gini deh, makasih atas kejujuran Kristo. Lagian kan tadi kita main truth or dare. Maybe that's the truth yang selama ini sesak menghantui Kristo, kan kita ngga tau. Atau mungkin alcohol sudah menguasai kesadarannya? Tapi sedikit tip buat Kristo aja nih, lain kali, sebelum "nembak" adain back-ground check dulu k'nape?"
"Hahaha.." Mereka kembali pada posisi santai.
"Ya udah.. Kita udah capek, udah malem eh udah pagi ini, mungkin sekarang kita istirahat dulu kali ya?"
"Sekarang gue mau ngomong mano-a-mano dengan Kristo yang kayaknya masih shock gitu. Wanda lu tolong tenangin Elena dulu ya. Oke yang lain boleh bubar. Kristo lu ikut gue sekarang.."

Ketika bisik-bisik mulai terdengar.

"Eh, jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu! Gue janji Kristo ga akan gue gebukin kok.. Dan yang pasti ga akan gue perkosa!"

Mereka kembali tertawa dan sebuah bantal melayang pada muka saya.

Kami berjalan menyusuri pantai. Kristo yang kini terlihat sama sekali tidak mabuk berjalan pelan di sebelah saya.

"I know that you weren't drunk dude.." saya memulai.
"How do you know?" Ia bertanya balik
"Saya sempat bekerja voluntir pada yayasan yang mengurusi alkoholisme pada remaja. I know the signs and the symptoms. Dan yang pasti saya tau kapasitas minum kamu pasti jauh lebih banyak daripada yang kamu tenggak tadi, benar kan?"
"Iya sih."
"Terus kenapa kamu pura-pura mabok? Agar mereka mau mengampuni kamu besok pagi?"
"Well, yea.. That's part of the plan.."
"Okay, I got three words for you"
"Well done buddy!"
"Lho?"
"Rencana yang hebat. Besok pagi kamu minta maaf kepada mereka dan juga kepada saya di depan mereka karena kamu mabuk dan tidak bisa mengontrol mulut kamu sendiri"
"Tapi.. That was the truth!"
"I know! Have you mistaken me for a fool?"
"Jadi?"
"Ga ada yang perlu tau kondisi kamu yang sebenarnya. At least tidak ada di antara kami ini yang perlu tau."
"Lalu kamu sendiri?"
"Maksudnya?" Tanya saya
"Ya gimana respons kamu terhadap pernyataan saya tadi?"
"Oh itu.. Sorry nih man, but I'm not gay."

Ia kemudian menghentikan langkahnya. Hanya suara deburan ombak yang terdengar. Sinar rembulan menerangi lembut butiran pasir yang terasa halus di kaki kami.

"Lho kenapa? What do you expect?" tanyaku.
"No, it's your right, I made a mistake I guess" timpalnya lemah.

Kemudian aku membalikkan badan menghadapinya. Tanganku menyeka rambut yang menutupi keningnya. Ia terbelalak melihat perlakuanku itu. Kemudian aku mengalunginya dengan lenganku.

"Dude, I don't know what I felt today. Sebenarnya saya juga tertarik sama kamu walaupun saya belum pernah merasakan hal ini sebelumnya terhadap sesama pria. Mungkin Tuhan telah memberikan kamu untuk menghibur saya yang baru saja ditinggal diam-diam menikah oleh wanita brengsek itu"
"Oh. Shit. Sorry, I didn't know that"
"Of course, there are a lot of things you didn't know about me. Terus kenapa kamu bisa naksir saya?"
"Kayaknya kamu orangnya baik, bijaksana dan tongkronganmu itu, gimana ya.., kayak yuppies abis. Kayaknya sukses dalam usahamu. Well, yang pasti sih ehm, gaya kamu itu gimana ya, macho abis, kayak pria Indonesia yang tulen dan gahar yang bisa bikin hamil cewe-cewe satu kampung!"
"Gelo sial Emang kamu mau jadi salah satunya?"
"Mm.." Ia tersenyum kecil.
"And your dick man, it was like soo huge man!"
"Ssh, nanti kedengeran sama yang lain gila!"

Waktu berlalu beberapa saat ketika kami terdiam.

"Dan.. Ehm, kamu sendiri juga imut banget kok.. Very nice ass. Hehe..".

Ctar!! Tepukan keras pada bokongnya terdengar membelah kesunyian malam. Kemudian kecupan yang hangat dan penuh cinta kububuhkan pada bibirnya yang tipis dan sexy itu.

Keesokan paginya benar saja, ia meminta maaf atas "kekacauan" yang ia perbuat di malam sebelumnya. Dan sesuai dengan permintaanku ia menyangkal semua perkataannya sendiri dan memutuskan bahwa untuk sementara tidak perlu ada yang tahu keadaan sebenarnya. Tetapi kebalikannya, ia sebenarnya tidak tahu bahwa ia sedang didekati seorang serigala berbulu domba (that would be ME).

Karena ukuran dan napsu maniak seks-ku yang besar, hanya beberapa wanita yang dapat benar-benar menikmati permainan handalku. Mungkin dari itu aku belakangan berpikiran untuk mencari seseorang yang benar-benar dapat menghargaiku apa adanya dan yang pasti ia harus dapat membalas keperkasaanku. Mungkinkah orang itu Kristo?

Dari situlah persahabatan kami berdua di mulai.

Joko dan Kristo 1: Pertemuan Pertama - 1

Sebenarnya pertemuan kami tidak disengaja. Saya diundang oleh bekas teman kuliah saya untuk bersantai semalam di sebuah pulau pribadi keluarganya di wilayah Kepulauan Seribu.

Kami berdelapan (dengan empat wanita) dan seekor anjing Papillon kecil yang cerewet bernama Tania, kemudian berjanji untuk bertemu di galangan Marina Ancol pada hari Sabtu pagi itu.

Teman saya Elena, kemudian datang bersama pembantu setianya (yang hendak kami uji kehandalan memasaknya) beserta satu orang supercute yang sebelumnya ternyata sempat "mengacak" jambulnya seperti Delon dalam Indonesian Idol.

Pria itu berwajah oriental dan berdandan necis seperti layaknya warga New York City yang hendak berlibur dan bersantai di daerah ekslusif the Hamptons atau Long Island.

"Joko, ini kenalin adek kelas gue waktu masih SMA.."
"Halo, Kristo.." ujarnya singkat sembari memperkenalkan namanya.
"Hi, Joko.. Teman kuliah Elena dulu di DC" saya menjawab

Gayanya fresh sekali Kristo ini. Wajah putih bersih dengan senyum yang menawan.

"Joko, karena kamu yang paling sabar.. Aku minta kamu nanti banyak nemenin si Kristo ini ya.. Maklum sudah sepuluh tahun di London dan baru saja kembali ke tanah air, jadi bahasa Indonesianya harus dilatih kembali ya.." ujar Elena kecentilan dengan gaya socialite muda Jakarta layaknya.

Entah mengapa saya tidak berkeberatan mendapat tugas mulia itu.

Separuh tamu yang diundang itu belum saya kenal. Dan seperti biasa yang saya duga, teman-teman Elena ini tentu saja berasal dari keluarga-keluarga yang berpengaruh di bilantika Ibukota ini (oke, mungkin termasuk saya sendiri juga sih).

Perjalanan ke pulau yang memakan waktu sekitar empat jam ini kami isi dengan canda tawa dan catching up bersama teman-teman yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kristo nampaknya agak bingung mengikuti pembicaraan awal kami karena keterbatasan bahasa-nya, keningnya mengerut setiap kali ia menemukan kalimat yang tidak begitu ia pahami. Selanjutnya kami memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan dalam bahasa campur-campur (alias mix Indo-English) agar pembicaraan tetap renyah tetapi tetap dapat diikuti oleh Kristo.

Setengah perjalanan berlalu Kristo kemudian bangkit dan beranjak ke buritan yacht kecil itu. Dengan gugup ia menggenggam pagar pelindung sembari nampak kesulitan bernafas.

"You okay Kris?" saya memutuskan untuk menemaninya setelah beberapa saat memperhatikannya dari area duduk.
"Um, not really, I got sea sick so easily.. Apa itu istilahnya.. Mabuk laut?"
"Oh saya kira kamu ngga bisa berenang sehingga tampangmu pucat ketakutan begitu.."

Ia berusaha tersenyum kecut menahan rasa mualnya.

"Sebentar saya ambilkan obat ya.."
"Okay.."

Kemudian saya menyerahkan obat dan jemari kami bersentuhan sejenak ketika gelas air dingin itu berpindah tangan. Ia tersenyum kecil yang membuat saya blingsatan dengan aura yang ia pancarkan. Damn, apa maksudnya itu?

Untunglah ia tidak sempat muntah karena mabuk laut ketika kami merapat di pulau yang hanya diisi satu bungalow itu. Wajahnya segera berseri karena penderitaannya sudah usai.

Makan siang ayam bakar kecap begitu nikmat sekali disajikan oleh Mbak Yusi diselingi buaian ombak dan musik lounge yang menghiasi ruang santai bungalow itu. Kami memutuskan untuk berleyeh-leyehan selama dua jam dengan bermain kartu sebelum memutuskan untuk berenang di air bening yang berwarna biru cerah itu. Suasana sangat tenang tanpa terganggu suara motorboat dari manapun juga.

Tiba-tiba pandangan saya terpatri pada Kristo yang menghampiri saya dengan hanya mengenakan sebuah celana basket tipis berwarna putih (seperti celana renang remaja Amerika). Aduh, ngaco sudah pikiran saya. Mengapa terlihat sexy sekali dia? Tubuhnya putih bersih dengan keringat yang membuat perutnya yang six-pack itu berkilauan cahaya mentari.

Dan ketika ia melambaikan tangannya ke arah ujung dok dimana saya sedang memancing itu, rokok yang menggantung di ujung bibir saya hampir saja terjatuh. Bebuluan hitam kelam yang lebat terlihat sangat kontras pada tubuhnya yang sangat putih itu. Ah, putingnya yang berwarna merah muda itu seakan siap saya santap sebagai hidangan penutup. (Ya ampun, berilah aku kekuatan untuk bertahan)

Tiba-tiba wajahnya berubah nakal, saya tahu maksud seringai serigalanya itu. Baru saja ketika saya siap untuk berdiri, ia kemudian berlari menghantam punggung saya, mengalungkan kedua lenggannya dari punggung saya dan dengan beban tubuhnya mengayun kami berdua terjun bebas dari dok kayu tersebut.

"Sialan Kristoo!!" aku berteriak terkejut.

Untung saja dompet dan HP-ku sudah aku tinggal di bungalow tadi. Para tamu lainnya ikut berlari ke arah tempat saya memancing tadi dan mereka kini terpingkal-pingkal menyaksikan adegan tadi yang membuat saya kini sudah berada di laut yang tenang itu bersama si imut (tetapi sialan) Kristo.

Tidak berapa lama kemudian saya merasakan seseorang memeluk pinggang saya dan berusaha menenggelamkan saya. Oh, belum selesai rupanya kejutan Kristo tadi? Mau main fisik, oke lah saya balas sekarang.

Beberapa menit berlalu dengan suara kecipak air yang ramai karena kami berusaha saling menenggelamkan satu sama lainnya sampai kami sendiri kehabisan nafas. Tamu-tamu lainnya sudah mulai mengolesi sun-screen pada tubuh "dewa-dewi" mereka sebagai asuransi dari sengatan mentari yang dapat merusak "kecantikan" mereka.

"Look at them.." saya mengarahkan pandangan Kristo
"Katanya mau ke Pulau tapi ga ada yang mau basah, gimana sih?" lanjutku.

Kristo kemudian menghampiriku dan (sekali lagi) memelukku sambil berbisik di telingaku, "Oke bagaimana kalau kita ambush saja mereka dan kita lempar mereka ke air?"

Wajahnya hampir menempel pada wajahku. Hembusan nafasnya yang masih terengah-engah menyeka kulit pipiku. Aku hanya bisa tersenyum saja memandang wajah manis itu.

"Oke, kita sok santai-santai saja berenang ke tangga dok itu.."
"Naik dan kemudian kita kejutkan mereka?" lanjutnya bertanya.

Ketika saya hendak beranjak berenang ke arah dok, pelukannya belum mau ia lepas dari tubuh basahku ini.

"Tunggu.. Sehabis itu we'll make them.." ia kembali membisiki telingaku.

But wait a minute. Apa itu? Saya merasakan batang zakarnya mulai mengeras pada permukaan paha kiri saya. Apalagi dengan terombang-ambingnya kami pada permukaan air yang menyebabkan tubuh kami harus saling menggesek.

"Oke-oke, buruan dong, sekarang?" saya mulai risih pada kedekatan tubuh kami yang entah mengapa sepertinya sangat menggoda birahiku.
"Oke go!" ia mendorong saya.

Sialan (sekali lagi). Tangan kanannya ternyata sempat menggenggam celana renang saya dari belakang sehingga ketika saya bertolak menjauh. Lepas sudah celana renang Speedo ala cowo-cowo Japonaise yang memang hanya selebar daun kelor itu.

Sumpah, antara malu dan ingin cuek. Saya sekarang tidak mengenakan sehelai benangpun di perairan yang jernih itu!

Kristo segera berenang menjauh sembari melambai-lambaikan Speedo saya sebagai tanda kemenangannya. Hal ini tentu saja dinikmati dengan seksama terutama oleh wanita-wanita sok jaim tersebut. Mereka mulai berdiri di pinggir dok mengamati apa yang akan saya ataupun Kristo lakukan selanjutnya.

"Ok, kalau ini yang ia inginkan. Let it be dah!" Ujar saya dalam hati.

Dengan santai saya meneruskan perjalanan saya hingga ke dok kayu itu. Saya rasakan seluruh tatapan mata menelanjangi tubuh saya (yang memang sudah telanjang itu) yang kini berusaha menaiki tangga tersebut.

Mungkin tubuh saya yang kecoklatan dan boleh dibilang kekar ini terlihat seperti jelmaan putra dewa laut sehingga mata-mata itu terbelalak dan tidak beranjak dari tubuhku.

Dengan santai aku berjalan ke arah mereka. Aku rasakan kepala zakarku yang sebesar buah tomat itu (walaupun masih "tertidur") mengayun seiring langkahku ke arah mereka. Dan ketika aku sampai pada area mereka berjemur itu, (seperti yang aku harapkan), seluruh pandangan terpusat pada wilayah kelelakian saya.

"Oke, puas?" Tanya saya pada mereka sembari melebarkan kedua lengan seperti si Jack dalam film Titanic.
"Wow, Joko, umm, I didn't know yours are soo.. Ehm, big" balas Wanda, si empunya Tania yang juga ikut menatap tubuh telanjang saya.
"Aduh, jeng, elo emang ketinggalan zaman. Masak ga pernah denger sih tentang
"Legenda Joko" yang santer seantero Jakarta itu?" timpal Ana, kawan saya yang lain.
"Lho emang kamu udah pernah tidur dengan Joko?" tanya Wanda
"Aduh dasar kuper, Joko ini playboy kelas wahid yang hobinya gonta-ganti pacar model atau pramugari Jeng.."
"Shh.. STOP.. STOP..! Orangnya masih di sini udah digosipin. Dasar ibu-ibu arisan!" teriak saya.

Mereka semua tergelak dengan riuh rendahnya. Perlahan-lahan pandangan para tamu pria mulai beranjak dari tubuh saya dan mereka mulai melanjutkan pembicaraannya masing-masing. Mungkin ada yang menjadi minder setelah menikmati pemandangan indah "size does matter" tadi.

"Dasar sombong kamu Ko.. Nih, pake.. Biar ga masuk angin.." seru Elena sembari melempar selembar sarung ke arah saya.

Tiba-tiba Kristo sudah berdiri dibelakang mereka dan seketika memberi kode kepada saya untuk mulai mendorong tamu-tamu malas itu ke arah air.

"Waa" dok itu menjadi ramai sekali sampai habis mereka kami dorong semua ke laut.
"Sukurin loe pada!!" teriak saya.
"Sorry guys, ini ide dia!" lanjut Kristo berteriak sembari menunjuk ke arahku.
"Enak aja loe!!" saya mencoba mendorong Kristo masuk ke laut lagi.

Johny Teman Baruku

Hari minggu siang itu, aku tidak mempunyai kegiatan sedikitpun, mau keluar malas karena begitu panasnya kota Surabaya yang membuatku enggan untuk berjemur dibawah teriknya matahari. Maka aku iseng-iseng aku telepon temanku Ras yang sudah menjadi teman akrabku dan diantara kami sudah tidak ada rahasia lagi yang perlu disembunyikan karena kita masing-masing sudah mengetahui siapakah diri kami masing-masing, walaupun begitu terus terang aja kami tidak pernah berbuat yang melebihi selain hanya ngobrol bersama yang nggak ada juntrungnya dari ngalor sampai ngidul dan balik lagi, karena kami sudah terlalu akrab dan kita bisa saling merasakan curhat kami satu diantara lainnya.

"Hallo Ras, gimana kabarmu? Terus terang aja saya hari ini lagi males keluar, jadi kita ngobrolnya lewat telepon aja yaa"
"Ok," terus sambungnya lagi, "Oh yaa kemarin aku kenalan sama anak yang rumahnya hanya beberapa blok aja dari rumahku, dan dia rupanya orang baru, karena masih belum banyak temannya"
"Boleh nggak aku tahu namanya dan nomor teleponnya"

Akhirnya Ras menyebutkan sebuah nama dan nama itu adalah Johny beserta dengan nomor teleponnya sekalian.

"Coba kamu hubungi dia siapa tahu dia welcome ama kamu"
"Ok, trims deh," lalu akhiri pembicaraanku siang hari itu dengan Ras.

Dengan rasa ragu-ragu akan menghubungi Johny atau nggak, same kurang lebih sepuluh menit aku menimbang-nimbang, akhirnya kuberanikan diriku memencet nomor yang baru diberikan oleh Ras tadi.

"Hallo, dari siapa ini?"

Kudengar suara yang cukup ramah dan tidak ada kesan sombong sama sekali, yang makin membuat memberanikan diri bicara berlama-lama dengannya. Sampai akhirnya pembibaraanku mulai menjurus ke arah yang berbau sek, dan ternyata diapun juga menanggapinya walaupun tidak seberani aku. Sampai pada akhirnya keluarlah ucapanku.

"Boleh nggak aku kerumah kamu?"
"Kapan?" jawabnya
"Sekarang yaa"
"Jangan sekarang, aku masih belum siap untuk menerima kedatanganmu," tolaknya secara halus.
"Terus kapan lagi," timpalku.
"Yah kapan-kapan aja, khan masih banyak waktu"

Akhirnya kuakhiri pembicaraan kami dengan janji suatu saat aku akn menghubunginya kembali.

*****

Setelah lewat waktu dua minggu, aku akhirnya ingat untuk menghubunginya kembali.

"Hallo, sapa nih?" jawabnya.
"Aku.." jawabku sekenanya.
"Oh kamu toh," lanjutnya.
"Masih inget apa nggak?"tanyaku.
"Ya terang dong masih inget"

Dan akhirnya pembicaraan kami mulai menghangat lagi sampai kurang lebih hampir setengah jam lamanya, sampai telingaku terasa panas kena handset telepon. Namun begitu obrolan yang kian menghangat masih kuteruskan.

"John, punyaku sudah berdiri nih dengar ceritamu"
"Ah masak gitu aja buat kamu berdiri," tanyanya.
"Iya nih," lanjutku, "Bolehkan aku kerumahmu yaa, sekarang ini"
"Ok, tapi dengan syarat kita hanya ngobrol-ngobrol aja lho," kemudian lanjutnya, "Aku nggak mau kalau kita main, aku belum siap"
"Ok, deh," jawabku, "Tapi nggak tahu lho kalau keterusan yaa," godanya.

Setelah telepon kututup, akupun segera mengambil motorku yang segera kupacu ke arah rumahnya yang tidak seberapa jauh dari rumahku yang mungkin kurang lebih sekitar 5 km, yang kutempuh tidak terlalu lama.

Setelah dekat dengan alamat yang diberikan, hatiku jadi deg-degan karena selama ini walaupun sering kontak lewat telepon tapi kami belum pernah bertemu muka. Ketika kuketuk pintunya, ternyata yang muncul adalah seorang pemuda yang berbadan cukup jangkung karena memang badannya tidak berlalu besar, yang tersenyum dengan ramahnya.

"Ayo, masuk"
"Thanks," kataku

Setelah mengambil tempat duduk diruang tamunya yang hanya digelari sebuah karpet sehingga kami berdua duduk secara lesehan aja, dan itu justru membuatku santai tanpa harus bersikap formil terhadapnya.

Kami mengobrol sini sana dan saling mengajukan pertanyaan dari diri kami masing-masing yang memang belum diketahui, sampai akhirnya nggak tahu aku sengaja atau tidak kutepuk bahunya yang kebetulan dia sedang duduk membelakangkiku. Ada rasa terkejut pada dirinya, tapi tidak ada komentar atau nada protes yang keluar dari mulutnya. Padahal sebelumnya aku sudah berjanji untuk tidak melangkah lebih jauh lagi selain hanya mengobrol saja.

Sampai akhirnya kuelus lembut punggungnya dari atas kebawah, dia tetap diam saja. Dan kuulangi lagi, bahkan tanganku lebih nakal lagi yaitu dengan menyusup ke dalam leher kaosnya ke arah tenguknya. Dia kelihatan menggelinjang dan bahkan mulai menikmati setiap rabaanku didaerah cuping telinganya. Dan kudengan suara desisan keluar dari mulutnya dan akhir..

"Aduh, Mas.. Aku nggak tahan nih!"
"Ayo kekamarku aja"

Sambil dia mulai bangkit berdiri dari tempat duduknya menuju ke arah kamarnya yang kuikuti dari belakangnya. Dan tanpa komando dia langsung menggeletak ditempat tidurnya sambil telentang dengan mata yang terpejam dan mulut menggangga menantikan seranganku.

Akhirnya kusergap dia yang sedang telentang dan kuciumi mulai dari cuping telinganya bagian belakang, leher bagian belakangnya ke arah hidungnya dan sejenak beradu hidung dengan hidung dan terus turun ke arah bibirnya, kuteruskan kebawah lagi ke arah dagunya yang bekas dicukur sehingga kurasakan kasar-kasar enak yang menambah gairahku untuk mecumbunya lebih lagi. Kemudian aku turun lagi kelehernya sambil dia terus mendesis-desis seperti ular.

"Sss.. oohh, aduh Mas"
"Ahh.. Ooohh, sstt"

Sambil kujulurkan lidahku merayapi dadanya, tanganku mulai membuka satu demi satu kancing kaos yang dikenakannya dan sekalian kuangkat kaos itu melalui lehernya sambil terus kudengar erangannya yang tidak jelas itu. Terus dan terus kebawah menuju puting susunya kiri dan kanan dan kedada bagian tengah terus merosot sampai kepusarnya, dan kupermainkan sejenak lubang pusarnya dengan lidahku yang tidak henti-hentinya mejilat kekanan dan kekiri.

Setelah puas bermain dipusarnya maka tanganku meraba selakangannya yang aku rasakan sudah mengeras sejak tadi yang begitu terasa menonjol didadaku tadi akan tetapi aku berusaha untuk mengabaikannya karena aku ingin memberikan cumbuan yang maksimal kepadanya dan tidak ingin buru-buru untuk langsung kontak seksual.

Kuremas perlahan-lahan tonjolan itu dengan tangan kiriku dan tanganku juga berusaha untuk membuka kancing celana jeans warna birunya yang dikenakan siang hari itu, setelah berhasil membebaskan kancingnya makan tangan kananku mulai menarik ritsleting celananya kebawah sampai kulihat nyata tonjolan daging sebesar pisang ambon itu dan terus kulorot celananya sampai terlepas, tinggal celdalnya saja yang berwarna putih yang masih tertinggal. Walaupun begitu aku tidak ingin cepat-cepat untuk segera menikmati pisang ambon itu.

Kutelusuri pahanya dengan jilatan lidahku dari paha kanan dan paha kiri yang akhirnya jilatanku berlabuh dilipatan pahanya yang segaris dengan lipatan celdalnya, kujilati lipatan kiri dan kanan bergantian, sampai kurasakan tangannya menjambak rambutku dengan perasaan mesra dan membimbing kepalaku untuk segera berlabuh ditonjolannya itu.

Akhirnya kubuka juga celdal warna putih itu dan kulihat sebatang penis dengan warna kepalanya yang merah kecoklatan seperti jamur merang yang mengembang sedang berdenyut-denyut. Dan tanpa membuang-buang waktu segera lidahku menuju perbatasan antara kepala dan batangya yang aku rasa paling sensitif. Kurasakan dia menggelinjang, dan jilatan makin turun kebawah ke arah kantung buah pelirnya yang dua biji itu dan terus turun kebawah lagi ke arah perbatasan dengan lubangnya. Dan

"Aaauuhh.., enak Mas, ayo terus Mas"
"Aaahh.. Ssstt"
"Ayo Mas, aku nggak tahan, cepat masukan punyamu ke lubangku"

Lalu kuambil ludahku untuk membasahi punyaku yang memang sudah sedari tadi berdiri tegang dan kulihat diujung penisku sudah ada cairan bening. Lalu pelan-pelan kumasukan batangku ke dalam lubangnya dan kudengar nafas tertahan untuk sejenak dan kuhentikan untuk sementara waktu agar dia bisa merasakan sakitnya menghilang.

Kemudian kupacu masuk keluar dan maju mundur sambil tangannya mengocok penisnya sendiri.

"Aaahh.. Aduh Mas, aku mau keluar nih"
"Sorry yaa, aku keluar duluan," katanya.
"Enggak pa-pa, aku juga mau sampai nih," kataku.
"Aaahh," crut crut crut air maninya tumpah diatas perutnya dan tak berapa lama lagi.
"Ohhaahh"

Kutarik cepat penisku dan aku telungkup memeluknya sambil kupancarkan air kenikmatanku diatas perutnya juga sehingga air maninya dan air maniku bercampur menjadi satu sambil kugesek-gesekan dan masih kurasakan sisa-sisa kenikmatan itu yang baru kita peroleh hampir bersamaan.

Setelah selesai dan saling mengelus dada masing-masing, aku akhirnya lari kekamar mandi untuk membersihkan badan dari keringat yang terasa lengket dan setelah selesai diapun juga kekamar mandi yang sama juga untuk membersihkan badannya yang berlepotan dengan pejuh kami itu.

Setelah dia berpakaian kembali kami akhirnya duduk diruang tamunya sambil diselingi obrolan ringan, rupanya setelah dia mandi tidak memakai celana jeansnya lagi melainkan ganti dengan celana pendek warna putih yang dari sela-sela selakangannya terlihat celana dalam warna putihnya tadi. Rupanya tanganku yang nakal tidak bisa tinggal diam melihat pemandangan seperti, lalu mulai kuelus-elus pahanya yang ditumbuhi rambut yang tidak seberapa lebat dan terus ke atas lagi menuju daerah lipatan pahanya dan kudengara desisnya kembali.

"Aaahh, oohh"

Dan kuraba selakangannya, ternyata penisnya sudah menggeliat bangun lagi dan kurasakan makin lama makin kaku saja. Seolah-olah makim membuatku bersemangat untuk terus mencumbunya lagi dan aku menemukan banyak sekali titik-titik sensitif ditubuhnya yang membuatnya makin terangsang. Sambil sekali-sekali dia tersenyum keenakan dengan mata yang terpejam.

Akhirnya kubuka lagi celana pendeknya dan kulihat batang penisnya yang begitu ngaceng mengeras melengkung mendekati pusarnya. Kugapai dan kumasukan dalam mulutku yang memang sedari tadi nggak pernah mau diem itu. Kumasukan kepalanya yang mekar dan kukulum, kukenyot benjolan kepalanya dan akhirnya kumasuk keluarkan dengan irama yang pasti.

"Aaaoohh, aauuhh"
"Opo iki yoo sing diarani surgo donyo yaa"

Aku diam saja, sambil terus melanjutkan aktivitasku yang masih belum selesai hingga akhirnya.

"OOhh Mas, aku mau keluar nih"

Makin semangat aku mengulumnya sampai kurasakan denyut-denyutan dari penis yang kuhisap dan ada rasa hangat, asin, manis, amis tapi semuanya itu kusukai dan kutelan habis semuanya. Ketika kudongakkan kepalaku untuk melihat reaksinya, hanya kulihat sebuah senyum dengan rasa puas dan dia membisikkan kata,

"Dari mana kamu belajar semuanya ini"
"Kamu koq pinter membuatku puas, padahal selama ini kalau aku bermain dengan pasanganku aku nggak seterangsang kali ini, sebab biasanya aku selalu aktif mencumbui pasanganku dan kadang aku merasa bosan dan aku juga pengin dicumbui kayak kamu tadi dan pengin dimasuki juga"
"Trims yaa, kamu sudah membuatku mendapatkan apa yang kuangan-angankan selama ini"
"Hmm," hanya gumanku saja yang menjawab segala komentarnya.
"John, kamu nggak menyesal yaa, karena aku telah mengingkari janjiku untuk tidak bermain sex denganmu pada awal pertemuan kita"

Kulihat hanya senyumnya saja yang membalas pertanyaanku, dan aku sudah bisa menebaknya bahwa dia sangat enjoy dengan permainan yang barusan kita lakukan. Berapa saat kemudian aku pamit sama dia.

"Ok John, aku pulang dulu yaa!" kataku
"Boleh nggak aku mengulanginya lagi," lanjutku.
"Yah gampanglah kalau aku lagi pengin dengan gaya permainanmu, aku akan menghubungi kamu lagi," dengan senyumnya yang khas.

Dalam perjalananku pulang aku masih terbayang pamainanku dengan Johny tadi dan kataku dalam hati.

"Suatu saat nanti aku akan memberikan surprise buat kamu dengan permainanku yang lebih seru lagi"

Walaupun dalam hati aku tidak ingin memiliki Johny sebagai pasanganku karena aku tahu dia sudah mempunyai pasangan tetap yang begitu setia dan juga pencemburu. Hanya sebagai selingan didalam mengisi hari-hari yang menjemukan dan terasa begitu panjang untuk dilalui seorang diri.

Tapi kalau namanya Backstreet pasti enak dan berkesan, tull apa nggak?

Apakah aku ini termasuk tipe penggoda atau apa yaa?

Jemari Lentik Kevin - 2

Tiang tersenyum manis dan membimbing Kevin bangkit. Dihadiahinya mulutnya dengan ciuman yang hangat. Kemudian dia berbisik lembut di telinga Kevin..

"Isap tetekku ya, Sayang."

Tanpa harus diminta dua kali Kevin mendekatkan wajahnya ke dada Tiang dan menghisap-hisap putingnya sebelah kiri yang mencuat tegang itu. Warnanya yang kecoklatan segar membuat Kevin semakin bernafsu menghisapnya. Dengan kuat dihisapnya tetek kiri Tiang, sementara tangannya memilin-milin tetek satunya lagi. Dengan lembut Tiang berbisik lagi kepada Kevin..

"Cubit sayang, cubit yang keras," pintanya.
"Aah!" jerit Tiang tertahan ketika Kevin benar-benar mencubit teteknya.

Sekarang ganti putingnya sebelah kanan yang menjadi sasaran mulut Kevin. Kali ini Kevin tidak menghisapnya melainkan hanya menjilati dan memulas-mulas tetek kanan Tiang sambil sesekali menggigit-gigit kecil. Kedua pentil Tiang menjadi lebih besar, keras, dan merah setelah Kevin selesai menggarapnya. Tiang kembali menghadiahi Kevin dengan kecupan lembut di bibir.

"Mas tahu nggak apa yang sangat aku idam-idamkan dari tubuh Mas selama ini?" tanya Kevin
"Katakan saja Sayang," kata Tiang sambil mencium bibir Kevin.

Kevin menyelipkan jari-jarinya ke dalam lipatan ketiak Tiang yang berkeringat kemudian menjilati jari-jari tersebut. Tiang tertegun karena tidak menyangka ada cowok yang menyukai aroma ketiaknya. Kevin terus menyelipkan jemarinya ke dalam liapatan ketiak Tiang dan menjilatinya.

"Kau suka bau ketiakku Sayang? Kau tidak jijik?" tanya Tiang.
"Tidak Mas! Aku sangat suka aroma ketiakmu. Aku ingin selalu dapat melakukan ini." Tiang mengangkat kedua lengannya dan kedua ketiaknya yang berbulu lebat terlihat.
"Nikmatilah Sayang," ujarnya sambil menyodorkan ketiaknya ke wajah Kevin.

Kevin tidak menyia-nyiakan tawaran Tiang tersebut. Dibenamkannya wajahnya pada lipatan ketiak Tiang. Dihirupnya aroma ketiak Tiang semaksimal mungkin. Baunya sungguh jantan dan memabukkan. Dijilatinya ketiak itu, rasanya asin dan masam, bulu-bulunya membuat lidah Kevin terasa kasap, kadang-kadang digigitnya pula bulu-bulu itu.

"Terus Sayang, teruskan menikmati ketiakku," Tiang mengerang sambil meracau karena kenikmatan yang dialaminya.
"Ayo Mami! Mami suka ketiak Papi khan?"
"Ya Papi, Mami suka sekali ketiak Papi. Seksi sekali ketiak Papi," Kevin menjawab juga sambil meracau.

Puas dengan satu ketiak, Kevin berpindah ke ketiak yang lain. Sensasi luar biasa kembali dialaminya. Akhirnya karena tak tahan lagi Tiang mendorong tubuh Kevin sehingga jatuh ke ranjang. Dengan ganas diterkamnya dan disobeknya pakaian dan celana yang dikenakan Kevin sehingga kini Kevin terbaring telanjang tanpa selembar benang pun melekat di tubuhnya. Wajahnya merona merah menyadari dirinya telanjang di hadapan pria idamannya. Tiang sendiri segera mencopot celananya. Kini dia juga telanjang polos di hadapan Kevin.

Tubuh Tiang yang besar menindih tubuh mungil Kevin. Mereka bercium-ciuman bertukar lidah dan ludah. Tiang merayap turun menciumi dan menjilati kedua paha Kevin yang ramping dan putih. Kevin membelai kepala Tiang. Setelah puas menikmati paha Kevin, tubuh Tiang beringsut naik kembali lalu menciumi bibir dan pipi Kevin.

"Mas, aku ingin mengatakan sesuatu tapi aku malu," kata Kevin tiba-tiba.
"Katakan saja Sayang, mengapa harus malu?" Tiang berkata sambil terus menciumi pipi kekasihnya.
"Emm.. Begini Mas. Aku tahu aku tidak punya payudara seperti istrimu, tapi aku ingin berkhayal di dadaku ini ada sepasang payudara yang hendak kupersembahkan kepadamu," ujar Kevin malu-malu. Tiang tertawa kecil mendengar kata-kata Kevin.
"Tentu saja Sayang. Tanpa berpura-pura pun aku menyukai dadamu."

Lalu dengan lembut dikulumnya puting-puting susu Kevin. Mata Kevin sampai terpejam-pejam karena nikmatnya sensasi yang dialaminya. Dia merasa seperti seorang istri yang sedang mempersembahkan miliknya yang paling indah kepada suami tercinta.

"Ehmm.. Nikmat sekali netek di dada Mami seperti ini," puji Tiang. Kevin mengusap kemudian mencium kepala Tiang mendengar pujian itu. Lidah Tiang yang tebal, hangat, dan basah terasa lembut membuai puting-puting payudaranya.
"Eeh Papiku sayang," Kevin mendesah berkepanjangan. Dia merasakan puting-puting susunya mengeras dan lebih besar dari semula.
"Berbaringlah telungkup Sayang," kata Tiang kemudian. Kevin menurut.

Tiang menciumi leher dan bagian belakang telinga Kevin kemudian bergerak turun menciumi punggungnya. Tubuh Kevin menggelinjang mendapat perlakuan sedemikian rupa. Ketika sampai pada bagian pantat Kevin, Tiang meraba-raba dan meremas-remas terlebih dahulu kedua bongkahan pantat Kevin sebelum menciuminya.

"Tunggingkan sedikit pantatmu Sayang!" perintah Tiang. Kevin menurut.

Dicium dan digigitinya kedua bongkahan pantat Kevin. Jari-jarinya menyusuri belahan pantatnya. Kevin memekik kecil ketika jari-jari Tiang menusuk-nusuk pantatnya.

"Sakit ya Sayang? Ditahan ya!"

Dimasukkannya lagi jari-jarinya ke dalam lubang anus Kevin yang ketat karena masih perawan itu. Pantat Kevin bergoyang-goyang menahan rasa sakit dan nikmat yang datang bersamaan. Tiang terus memainkan jari-jarinya dalam pantat Kevin. Sesekali dijilatnya jari-jarinya.

"Emm.. Gurih," gumamnya.

Kemudian Tiang mementang kedua bungkahan pantat Kevin sehingga belahan pantatnya terbuka. Lubangnya yang menguncup berwarna merah muda. Dijulurkannya lidahnya menjilati dinding dan lubang anus kekasihnya. Cairan anal membanjir keluar dari dalam lubang anus Kevin. Tiang menghisap habis cairan tersebut.

"Emm.. Nikmatnya rasa cairan lubang nikmatmu sayang," ucap Tiang tanpa sedetik pun menghentikan perbuatannya menjilati anus Kevin. Kevin tidak dapat menjawab kecuali dengan menggoyang-goyangkan pantat tanda dia menikmati perlakuan ini.

Setelah puas menjilati pantat Kevin, Tiang menggenggam dan mengocok-ngocok batang kontolnya sendiri. Dia melumasinya dengan cairan precum yang membasahi lubang kencingnya. Diposisikannya kontolnya pada belahan pantat Kevin. Sebelum dia melanjutkan perbuatannya Tiang membisikkan kata-kata di telinga Kevin..

"Sekarang Sayang, aku hendak menunaikan tugasku sebagai seorang suami. Siapkah kau?" Kevin mengangguk dan menjawab..
"Kuserahkan keperawananku padamu Mas, ambillah! Aku siap menunaikan tugasku sebagai seorang istri."

Tiang mengarahkan kontolnya pada mulut lubang anus Kevin, kemudian dengan perlahan namun pasti dihentakkannya pinggulnya sehingga seluruh batang kontol itu melesak masuk, amblas ke dalam lubang anus Kevin. Bles!

"Auff!!" jerit Kevin menahan sakit.

Batang kontol Tiang yang menembus pertahanan lubang anusnya seperti hendak membelahnya menjadi dua. Sakit sekali memang. Tiang membiarkan Kevin membiasakan diri dengan keberadaan kontolnya dalam pantatnya. Dia tidak melakukan apa-apa selain menciumi pipi Kevin dan menghiburnya..

"Tahan ya Sayang! Memang sakit pada awalnya, tapi lama-lama kau akan terbiasa bahkan menyukainya."

Dan memang berangsur-angsur rasa nyeri itu mereda. Tiang memegang pinggul Kevin dan mulai menggerakkan pinggulnya sendiri maju-mundur. Batang pelernya bergerak keluar-masuk pantat Kevin. Gesekan antara kontol Tiang dan dinding anus Kevin menimbulkan sensasi kenikmatan yang tiada tara. Karena Kevin masih perawan, gerakan keluar-masuk kontol Tiang dalam pantatnya agak tersendat-sendat lantaran dinding-dindingnya menjepit kuat kontol Tiang. Namun justru hal itulah yang menimbulkan rasa nikmat.

"Hgghh! Sempit sekali lubangmu Sayang! Aku memerawanimu Sayang," Tiang mengentot sambil meracau..
"Mau rasanya aku mengentoti pantatmu selamanya."

Gerakan pinggul Tiang semakin cepat, dia juga melakukan gerakan berputar sehingga kontolnya dalam pantat Kevin ikut berputar. Bunyi kecipak timbul karena cairan anal Kevin dan precum dari kontol Tiang membasahi dinding-dinding anus Kevin yang tergesek-gesek.

Tiang mengentot sambil meraba dan meremas bungkahan pantat Kevin. Sesekali ditaboknya bungkahan pantat itu agar Kevin mengetatkan otot-otot dalam pantatnya. Bunyinya pukulan itu terdengar nyaring. Tar! Tar! Kadang-kadang diangkatnya kedua tangannya sehingga hanya pinggulnya yang bergerak maju-mundur persis seperti koboi sedang menunggangi kudanya. Jika sedang begini Tiang akan berteriak, "Yeehaw!"

Kevin sendiri tidak berkata apa-apa selama itu. Dia tidak ingin berkata apa-apa. Dia hanya memejamkan matanya menikmati persetubuhan itu. Inilah persetubuhan pertamanya. Berbagai perasaan dan emosi campur aduk dalam batinnya. Mengira Kevin kesakitan, Tiang memperlambat gerakannya dan lalu bersikap lembut padanya. Direbahkannya tubuh mereka berdua. Diciuminya pipi dan bibir Kevin dari belakang.

"Kau menikmatinya Sayang?"
"Ya Mas!"

Tiang mencabut kontolnya dari pantat Kevin. Kevin sempat merasa kecewa karena mengira Tiang hendak menyudahi permainan cinta mereka. Tetapi rupanya Tiang hanya ingin berganti posisi. Diperintahkannya Kevin agar berbaring telentang, kemudian diangkatnya kedua kaki Kevin ke atas pundaknya dan kembali diposisikannya kontolnya pada mulut lubang anus Kevin dan didorongnya masuk. Bles! Kali ini lebih lancar daripada tadi, namun begitu Kevin tetap merasakan sakit meski tidak senyeri tadi.

Setelah hilang rasa sakitnya, Tiang kembali mengocok-ngocok kontolnya dalam pantat Kevin. Kali ini mereka bersetubuh berhadapan muka dengan muka. Mereka saling cium, saling raba, dan saling cubit. Tiang mengentot Kevin sedemikian rupa sehingga tubuh Kevin terguncang-guncang. Keringat mengalir deras di tubuh mereka namun mereka tidak mempedulikannya.

Kepala Kevin terangguk-angguk ke kiri dan ke kanan mengikuti irama persetubuhan mereka. Lidahnya sedikit terjulur keluar, matanya membelalak sehingga bagian hitamnya hampir hilang. Dari mulutnya terdengar kata-katanya meracau..

"Hggh! Hggh! Habisi saja aku Mas! Kawini Mami, kawini istrimu ini!" Tiang bertambah semangat mendengarkannya. Dihisapnya lagi puting-puting payudara Kevin.
"Aww Papi! Kawini Mami, Papi sayang! Bikin Mami hamil dengan kontol Papi yang besar!"

Tiang melakukan gerakan memompanya semakin cepat. Kevin merasa dirinya bagaikan seorang gadis yang tengah diperkosa oleh seroang pria bertubuh kekar. Sampai suatu ketika gerakan kontol Tiang dalam pantat Kevin terasa tersendat-sendat.

"Aargh Papi mau keluar sayang!" ujar Tiang terbata-bata.
"Keluarkan di dalam saja Papi! Tanamkanlah benih-benihmu dalam rahimku. Hamili aku Papi!"

Crrtt!! Menyemburlah pejuh kental dari ujung kontol Tiang bagaikan gunung berapi memuntahkan lahar. Rasanya hangat dan lengket memenuhi lubang pantat Kevin. Bersamaan dengan itu Kevin pun mengalami orgasme. Cairan putih meleleh keluar dari penisnya.

Tiang mencabut kontolnya dari pantat Kevin. Pejuhnya mengalir keluar berceceran dari pantat Kevin. Dia merebahkan tubuhnya di atas tubuh Kevin, nafasnya tersengal-sengal. Kevin terbaring membayangkan sel-sel sperma Tiang berenang-renang memasuki tubuhnya. Andai saja dia seorang wanita yang memiliki rahim.. Kini Kevin dapat merasakan beratnya tugas seorang istri dalam melayani suami di ranjang, apalagi jika suaminya adalah pria seperti Tiang yang daya seksnya begitu hebat.

Setelah hilang penat di tubuh mereka, Tiang menciumi pipi dan bibir Kevin.

"Kau puas Sayang?" tanya Tiang.
"Sangat puas Mas! Mas sungguh-sungguh perkasa. Ingin rasanya aku mengulangi semua itu. Percintaanku yang pertama. Aku bahagia kaulah pria yang mendapatkan keperawananku."

Mereka berbaring berpelukan. Jemari Kevin yang lentik bermain di atas dada Tiang.

"Mas, apakah Mas akan mencintaiku selanjutnya?" Kevin ganti bertanya.
"Tentu saja Sayang! Aku bangga ada orang secantik dirimu yang memberikan keperawanannya padaku."
"Aku ingin sekali bisa hamil dan mempersembahkan buah cinta kita padamu dari rahimku." Tiang tertawa mendengar khayalan Kevin.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Agar ada yang memanggilmu Papa dan memanggilku Mama," jawab Kevin centil dan manja. Tiang tidak menjawab hanya meremas jemari Kevin dan menciumnya. Bagaimanapun juga semua berawal dari jemari lentik itu.

Sejak saat itu Kevin menjadi "istri kedua" Tiang. Tiang sering melewatkan malam, bercinta dengan Kevin di rumah kontrakannya, kadang-kadang sampai dua-tiga malam, dan Kevin melayaninya sebagaimana semestinya seorang istri yang setia.

Jemari Lentik Kevin - 1

Kevin adalah seorang pemuda berdarah Belanda berusia 20 tahun. Kulitnya yang putih bersih dan wajahnya yang imut-imut ditambah senyumnya yang menawan membuatnya menjadi pembicaraan para gadis di kampusnya. Namun tak satupun di antara para gadis itu yang membuat Kevin tertarik karena dia menyadari ketertarikannya secara seksual justru pada kaum sejenisnya sendiri.

Tipe pria yang menjadi idamannya adalah pria pribumi berkulit gelap dan berbadan tinggi tegap. Kevin kerap tak dapat menahan dirinya untuk tidak melakukan onani jika kebetulan bertemu dengan pria seperti itu. Dia selalu membayangkan dirinya menjadi objek seks pria yang berciri fisik demikian.

Suatu hari, karena suatu masalah, Kevin berkenalan dengan seorang perwira polisi bernama Tiang. Tiang berusia 32 tahun. Kulitnya yang kehitaman serta tubuhnya yang tinggi tegap dengan sepasang lengan yang kekar membuat dirinya segera menjadi "kekasih khayalan" Kevin. Kenyataan bahwa Tiang sudah berumah tangga dan memiliki dua orang anak kecil tidak menyurutkan impian Kevin untuk dapat bercinta dengan Tiang suatu hari kelak.

Kevin selalu merasakan lubang pantatnya menjadi gatal setiap kali membayangkan Tiang telanjang di hadapannya dengan kontolnya yang terayun-ayun siap menyetubuhinya. Kevin menduga kontol Tiang yang hitam dan panjang itu pasti liar dan ganas jika sedang bertugas, yang pasti kontol itu berpejuh subur karena sudah menghasilkan dua orang anak.

Setelah masalah itu selesai, Kevin acapkali mengundang Tiang datang ke rumah kontrakannya yang cukup mewah untuk sekedar minum-minum atau bersantai menonton DVD/VCD atau bermain playstation. Kevin memang tinggal di rumah kontrakan karena orang tuanya yang berada tinggal di kota lain. Karena Kevin adalah anak bungsu yang menjadi kesayangan kedua orang tuanya, mereka melengkapi rumah kontrakan Kevin dengan berbagai fasilitas dan kenyamanan. Namun Kevin menolak ketika orang tuanya juga menawarkan seorang pembantu untuk tinggal bersamanya dan mengurus keperluannya. Dia merasa lebih leluasa tinggal seorang diri dan mengurus segalanya sendiri. Terlebih-lebih dia tidak ingin pembantunya curiga jika suatu saat dia pulang membawa pria bermalam.

Tiang sebagai seorang polisi dengan gaji yang pas-pasan merasa senang atas undangan Kevin. Dia senang dapat menikmati segala kenyamanan di rumah Kevin. Tiang sendiri tidak merasa ada yang aneh dengan undangan tersebut atau sikap Kevin yang terkadang sangat manja kepadanya. Dia sudah menganggap Kevin seperti adiknya sendiri.

Suatu malam, ketika mereka sedang menonton teve sambil minum bir hitam dari botolnya, tiba-tiba Tiang menggenggam tangan Kevin dengan lembut. Lalu katanya..

"Wah lentik sekali jari-jarimu! Belum pernah aku melihat cowok dengan jari-jari selentik ini." Meskipun terkejut atas tindakan Tiang, Kevin hanya tertawa, kemudian ujarnya..
"Baru minum beberapa botol bir kok sudah mabuk sih Mas? Mas pasti mabuk sampe ngelantur kayak gitu." Tiang tidak mempedulikan kata-kata Kevin, dia justru meremas-remas tangan Kevin sambil berkata..
"Jari-jari selentik ini pantasnya diberi ciuman." Dan dia benar-benar menciumi jari-jari Kevin.

Bagai tersengat aliran listrik yang dahsyat, Kevin menarik tangannya. Tiang seperti tersadar dari perbuatannya yang tak wajar. Dia menatap wajah Kevin dengan pandangan sayu dan berkata lirih..

"Istriku hamil lagi."
"Wah! Selamat ya Mas! Mestinya Mas berbahagia dengan kehamilan ini dong! Mengapa wajah Mas muram begitu?"
"Kamu khan tahu usia kehamilannya yang masih dini membuatnya tak dapat menunaikan tugasnya sebagai seorang istri. Sudah sebulan ini aku tidak ngeseks dengan istriku," keluh Tiang.

Kevin merasa iba mendengar penuturan Tiang. Rasa iba, itu ditambah perbuatan Tiang sebelumnya, membuat Kevin kemudian memberanikan diri membelai-belai wajah Tiang. Tiang membiarkan jemari lentik Kevin membelai-belai wajahnya. Dia justru menikmati sentuhan-sentuhan tersebut. Kevin bertindak lebih berani lagi dengan mendaratkan kecupan di dahi dan hidung Tiang. Dia ragu-ragu untuk mencium bibir Tiang, namun justru kepala Tianglah yang bergerak maju mencium bibir Kevin.

Detik berikutnya mereka sudah asyik berciuman. Tiang melumat bibir Kevin dan menjulurkan lidahnya yang basah menjelajahi mulut Kevin. Antara percaya dan tidak, Kevin pasrah menerima perlakuan demikian dari pria yang sudah lama diidam-idamkannya itu. Dia menikmati ciuman Tiang sedemikian rupa sehingga mendesah panjang..

"Aah Mas!" Lalu Tiang berbisik lembut kepadanya..
"Aku paling suka cowok berkulit terang dan imut-imut kayak kamu. Aku sayang kamu. Mau nggak kamu jadi kekasihku?"
"Mau Mas! Oh, mau sekali aku jadi kekasihmu! Sudah lama aku mengimpikan suatu hari menjadi kekasih Mas dan bermesraan dengan Mas seperti ini."
"Kamu masih perawan?" Tiang bertanya. Kevin menganggukkan kepalanya..
"Aku rela mempersembahkan milikku yang paling berharga itu kepada Mas, kepada pria yang kucintai."

Mereka kembali berciuman. Lalu Kevin berkata..

"Tetapi aku tidak mau kalau Mas hanya mengentot diriku. Aku mau kita bermain cinta seperti layaknya sepasang kekasih, didahului cumbu rayu yang menggairahkan." Tiang hanya tertawa mendengar kata-kata Kevin.
"Tentu saja sayang! Kita akan bermain cinta, bukan sekedar ngentot. Kalau kau mau kau panggil aku 'Papi' dan aku akan memanggilmu 'Mami' jadi kita persis suami istri." Betapa girangnya hati Kevin mendengar kata-kata Tiang.
"Kita ke kamarku saja Mas!" ujarnya.

Kevin bangkit hendak berjalan menuju kamarnya, ketika tiba-tiba dia merasakan tubuhnya terangkat. Rupanya Tiang menggendongnya.

"Aku merasa bagaikan pengantin baru hendak menghadapi malam pertama dengan suami tercinta, Mas," kata Kevin sambil menyenderkan kepalanya di dada Tiang.
"Anggap saja malam ini adalah malam pertama kita," jawab Tiang sambil membopong tubuh Kevin menuju kamarnya. Mereka terus berciuman sepanjang perjalanan.

Sesampainya di kamar, Tiang menurunkan Kevin dari gendongannya. Kevin hendak berbaring di ranjangnya ketika Tiang memanggilnya lembut..

"Sayang, masak suamimu kaubiarkan mencopoti kemejanya sendiri, bantu Papi dong sayang!"
"Oh, iya, lupa kalau sekarang aku sudah bersuami," Kevin terkikik geli dengan ucapannya sendiri.

Satu demi satu dilepaskannya kancing pada seragam polisi Tiang. Setiap kali melepaskan satu kancing, mereka berciuman sehingga agak lama baru Tiang dapat mencopot kemejanya. Sekarang Tiang berdiri bertelanjang dada di hadapan Kevin. Bagai dalam mimpi Kevin mengulurkan tangannya meraba-raba dan membelai-belai dada Tiang yang sedikit berbulu itu.

Apa yang selama ini dibayangkannya mengenai tubuh Tiang memang benar. Tinggi, tegap, dan berdada bidang, Tiang tampak sangat jantan dan perkasa bertelanjang dada seperti itu. Kulitnya yang gelap menambah wibawa penampilannya. Namun yang paling membuat mata Kevin terbelalak terpesona adalah lipatan ketiak Tiang yang selama ini belum pernah dilihatnya. Sangat seksi dengan bulu-bulu hitam yang tumbuh lebat, apalagi saat itu dalam keadaan basah oleh keringat.

Kevin tidak lagi dapat menahan dirinya. Segera dia menciumi dada Tiang, dijulurkannya lidahnya untuk menjilati keringat yang membasahi tubuh Tiang. Aroma tubuh Tiang terasa sangat khas pria: jantan, tajam, dan kuat. Tiang memejamkan matanya menikmati perlakuan "istri baru"nya pada tubuhnya sambil sesekali terdengar suara lenguhan berat keluar dari mulutnya.

Lidah Kevin terus bergerak menjilati setiap jengkal tubuh Tiang. Kini dia beranjak turun menjilati perut Tiang yang meski tebal namun rata. Di pulas-pulasnya daerah di sekitar pusar Tiang yang berbulu sambil sesekali lidahnya menjulur masuk ke lubang pusar Tiang. Tiang mengerang hebat setiap kali ini terjadi.

Kevin berlutut di hadapan Tiang dan membenamkan wajahnya pada daerah kemaluan Tiang. Ditelusurinya batang kontol Tiang yang tersembul dan tercetak pada celana seragamnya yang ketat. Tiang berusaha melepaskan ikat pinggangnya namun Kevin mencegahnya dan berkata..

"Biar aku saja yang melakukannya Mas. Ini tugas seorang istri."

Kevin melepaskan ikat pinggang Tiang dan membuka kancing serta restleting celananya. Terlihatlah celana dalam Tiang yang berwarna putih dan tampak menggembung oleh kontol yang menonjol di baliknya. Tiang membantu Kevin memerosotkan sedikit celana seragam dan celana dalamnya sehingga kini batang kontolnya tersembur keluar. Terayun-ayun dalam keadaan semi ngaceng di depan wajah Kevin persis seperti yang selama ini dikhayalkan olehnya. Besar, panjang, berotot, dan berwarna hitam, penampilan kontol Tiang tampak sama berwibawanya dengan pemiliknya. Bagian pangkalnya ditumbuhi lebat oleh bulu-bulu hitam keriting. Aroma yang keluar dari sana membuat Kevin mabuk kepayang.

Dijulurkannya lidahnya menjilati bagian kepala kontol Tiang yang bersunat dan berwarna keunguan. Disapu-sapukannya lidahnya pada lubang kencing di ujung kepala kontol itu. Terus dijilatinya batang pelir itu sampai ke bagian pangkalnya. Diciuminya rerimbunan bulu jembut Tiang lama-lama seolah hendak menghirup habis aroma kejantanannya.

Kemudian digenggamnya kontol itu dan diangkatnya sedikit sehingga kini biji pelir Tiang yang sebesar bola tenis terlihat di hadapannya. Dibukanya mulutnya lebar-lebar seolah hendak ditelannya keseluruhan biji pelir Tiang. Namun selebar apapun Kevin membuka mulutnya, biji pelir itu tetap terlalu besar untuk dapat masuk ke dalam mulutnya seluruhnya. Akhirnya dia hanya menjilatinya sambil dikocok-kocoknya kontol yang berada dalam genggaman tangannya.

Tiang hanya melenguh dan mengerang dengan suara berat selama ini. Kini tiba-tiba dia menjadi beringas. Di pegangnya kepala Kevin agar tetap di tempat, kemudian perlahan namun pasti didorongnya masuk batang kontolnya ke dalam mulut Kevin. Tampaknya mustahil jika keseluruhan batang kontol yang besar dan panjang itu dapat masuk ke dalam mulut Kevin, tetapi itulah yang terjadi. Tiang membiarkan Kevin sejenak agar dapat membiasakan diri dengan kontolnya dalam mulutnya, lalu perlahan-lahan pinggulnya bergerak maju dan mundur sehingga batang kontolnya keluar masuk dalam mulut Kevin. Kevin harus membuka mulutnya lebar-lebar agar dapat mengakomodasi seluruh batang kontol Tiang jika dia tidak mau tersedak.

Tiang mulai mempercepat gerakan pinggulnya mengentot mulut Kevin. Maju-mundur, keluar-masuk, kadang-kadang diputarnya pinggulnya sehingga kontolnya turut berputar dalam mulut Kevin. Biji pelirnya menghantam dagu Kevin setiap kali batangnya menghunjam masuk. Lidah dan langit-langit Kevin tergilas habis oleh kontol Tiang bahkan sampai hampir menyentuh dinding kerongkongannya.

Semakin lama gerakan Tiang semakin cepat. Bahkan kadang-kadang kepala Kevin ikut digerakkannya maju dan mundur seolah-olah hendak mendapatkan semua kenikmatan yang dapat diperolehnya dengan mengentoti mulut kekasihnya itu.

Sampai suatu saat Kevin memuntahkan kontol Tiang dari dalam mulutnya. Dia tidak sanggup lagi menelannya. Otot-otot pipi dan mulutnya sampai terasa sakit karena harus bekerja keras. Dia menduga kini mulutnya menjadi lebih lebar beberapa centimeter akibat dientot oleh pria idamannya itu.

Jangan Panggil Aku Selebritis

"Siapa bilang jadi artis itu enak? kalau orang tak menjalaninya sendiri, tak akan pernah tahu yang sebenarnya!".
Itu kata seorang teman pada suatu waktu lewat email yang dikirimkannya padaku. Semula, aku sempat terheran-heran membacanya, kupikir dia hanya sekedar berkelakar saja. Dalam keherananku, aku pun membalasnya dengan menyelipkan sebuah pertanyaan singkat yang membutuhkan sebuah jawaban yang sangat panjang dan sejelas-jelasnya:"Kenapa?"

Tiga hari kemudian dia mengirimkan sepucuk email balasan yang membuatku terperangah di depan komputer, aku bahkan sampai tak berkedip sekalipun ketika membacanya kata per kata. Kala itu, seakan aku dapat membayangkan bahwa aku sendiri yang berada dalam cerita yang merupakan curahan hatinya itu. Aku sebenarnya ingin menangis, kalau bisa. Tapi aku coba untuk mengontrol emosiku saat itu, apalagi aku berada di warnet yang kebetulan ramai pengunjung malam itu.

Andy (=nama samaran) adalah seorang penpal dari Jakarta yang aku kenal lewat dunia maya, internet. Dia yang pertama kali mengirimkan sepucuk email kepadaku beberapa hari setelah salah satu ceritaku dimuat di situs ini. Kebetulan, temanku yang satu ini adalah seorang cover boy di salah satu majalah remaja Aneka, dan juga bintang iklan dan sempat bermain dalam beberapa sinetron remaja. Tampangnya pasti sudah tak asing lagi dengan wajah orientalnya yang khas dan tampak cute, apalagi di kalangan the teenagers.

Yang berikut ini adalah curahan hatinya sendiri, berdasarkan apa yang dapat kutangkap dari ceritanya. Ia mengijinkan aku menyusunnya menjadi sebuah tulisan di situs ini, dengan syarat tidak menyinggung sedikit pun tentang identitas dan segala sesuatu yang khas dalam dirinya yang membuat para pembaca akan langsung dapat mengenalinya. Dan, sebagai seorang sahabat yang baik, aku akan menepati janjiku untuk menjaga rahasia ini. Jadi, aku harap para pembaca tak perlu menanyakan kepadaku", siapakah dia?" karena itu merupakan salah satu pertanyaan yang tak akan kujawab. Silahkan tebak sendiri, atau mungkin saja dia adalah orang yang duduk di dekat anda dan membaca cerita ini bersama dengan anda. Tak ada salahnya juga, sesekali curiga pada teman, iya kan? Ok, lebih baik aku ucapkan:"selamat membaca!" saja, semoga kalian suka dengan ceritanya.

*****

Langit ibukota masih tampak kemerahan saat itu, belum lagi matahari terbenam ketika aku baru keluar dari studio X untuk keperluan syuting iklan sebuah produk minuman kemasan. Senang sekali rasanya setelah sepanjang hari, aku harus beraksi di depan kamera dan menjalani syuting berulang kali yang cukup menguras tenagaku saat itu. Belum lagi, semalam aku pulang larut dan baru tidur jam 1 dini hari setelah syuting sinetron. Hampir setiap hari seperti ini, bahkan seolah sudah menjadi sebuah rutinitas harian. Di satu sisi, aku menyukai pekerjaanku ini karena inilah obsesiku sejak kecil, aku ingin menjadi seorang entertainer yang profesional. Tetapi, siapa yang mampu bertahan, kalau ternyata harus menjalaninya dengan kerja keras semacam ini, sementara anak-anak lain seusiaku bisa bersenang-senang di luar sana dan menghabiskan waktu dengan teman-teman mereka.

Terkadang aku berpikir kalau aku ini sebenarnya tergolong kuper alias kurang pergaulan, hanya saja tak banyak orang yang menyadarinya. Kebanyakan orang akan berpikir sebaliknya karena profesiku sebagai"selebritis". Jujur saja, sebenarnya aku tak begitu senang diberi julukan selebritis. Bagiku, itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar yang hanya akan menambah bebanku, sebab seorang selebritis, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, pasti akan menjadi seorang public figure yang menjadi sorotan banyak orang. Otomatis, seorang selebritis tak pantas untuk punya cacat cela sedikit pun dalam dirinya agar ia bisa menjadi role model yang baik bagi banyak orang. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seorang selebritis sejati dengan keadaanku sekarang? Aku sungguh tak pantas untuk menjadi seorang panutan.

Petang itu sebenarnya masih terlalu siang untuk pulang, lagi pula jarang-jarang aku pulang syuting jam segitu. Paling-paling pulang sore hanya untuk mandi, setelah itu kembali lagi ke lokasi syuting dan baru pulang larut malam. Tapi hari itu beda, malamnya aku memang tak ada jadwal syuting. Jadi, aku punya waktu untuk sekedar menyegarkan otak sambil jalan-jalan malam itu. Tapi, dengan siapa? itu yang jadi masalah berikutnya. Aku paling malas kalau jalan-jalan sendirian, paling tidak harus dengan teman-teman smu-ku dulu. Aku kangen dengan tawa mereka, setelah tak bertemu selama 2 mingguan belakangan ini.

Setelah pulang ke rumah dan mandi, aku pun mencoba untuk menelepon salah seorang temanku, Justin, untuk mengajaknya jalan-jalan malam itu.
Lama sekali telepon tak diangkat, sehingga aku pun lantas memutuskan untuk menghubungi nomor HP-nya saja.

"Aku lagi di Thamrin. Ok, sebentar aku mampir ke tempatmu!" sahut Justin sebelum ia menutup teleponnya. Aku belum sempat bertanya, ia bersama siapa saat itu, tapi yang jelas ia tak sendirian karena aku mendengar suara seseorang di telepon. Paling-paling ia bersama Denny atau Ricky, pikirku.

Jam setengah tujuh, tiba-tiba kudengar suara klakson di depan rumahku. Sebuah sedan Jaguar hitam sudah parkir tepat di depan pagar rumahku, jelas itu bukan mobil Justin. Tak mungkin Jeep 80-an berubah menjadi Jaguar dalam dua minggu ini selama aku tak bertemu dengan Justin, pikirku iseng.

"Dy, kenalin, ini Boni!"

"Andy!" kataku sambil menjulurkan tangan.

"Yah, tentu saja. Bagaimana aku tak mengenalimu?" sahut Boni. Aku hanya tersenyum mendengarnya, aku tak ingin besar kepala dan merasa begitu terkenal di mata banyak orang. Tapi ternyata topi dan kacamata yang kupakai tidak bisa menyembunyikan identitasku di mata Boni, ia masih mengenali wajahku.

"Kita mau kemana?" tanyaku kemudian setelah mengambil tempat di jok belakang.

"Ke PS! Tapi, kita makan dulu. Boni mau traktir nih!" gurau Justin sambil main mata ke arah Boni. Yang bernama Boni itu sebenarnya tidak seumuran kami, usianya sudah 26 tahun, lebih tua 5 tahun dari kami. Tapi tampangnya lumayan juga, mukanya bersih dan berpostur atletis sekalipun tak seganteng Jerry Yan, but he's good looking. Dan lebih lagi, tampak jelas kalau ia anak orang tajir.

Tak lama kemudian, Justin melajukan mobil Boni menuju salah satu cafe langganan Boni yang tak jauh dari Plaza Senayan. Usai ke kafe, kami masih sempat cuci mata di Plaza Senayan dan berkeliling kota. Kami bertiga menghabiskan waktu sambil jalan-jalan sampai larut malam, dan hampir jam 12 malam ketika kami memutuskan untuk pulang.

Namun, tiba-tiba Boni bermain mata pada Justin. Aku tak mengerti apa maksudnya, tampaknya Boni mengingatkan sesuatu pada Justin. Karena sesudah itu Justin langsung memutar balik mobilnya.

"Mau kemana lagi?" tanyaku tak mengerti.

"Tenang saja. Cuma sebentar kok!" sahut Justin sambil cengar-cengir.

Ternyata, Justin membawa kami ke salah satu"pusat jajan" di Jakarta Pusat, tempat transaksi seks yang merupakan salah satu tempat yang masih ramai di tengah malam seperti saat itu. Tak berapa lama, mobil dihentikan di pinggir trotoar dan seorang pria berpenampilan parlente mendekati mobil kami. Aku hanya diam saja saat itu, hal begituan memang bukan bagianku, aku bahkan tak pernah mencoba-coba untuk lewat tempat ini di waktu malam sebab aku dengar tempat ini memang dipakai sebagai tempat mangkal para gigolo ibukota.

Tidak lama, Boni terlibat tawar menawar dengan pria itu. Karena rupanya Boni akhirnya bersedia membayar tarif 3 juta yang dipatok oleh pria itu. Dan singkat cerita, Boni"membawa" pria berusia kurang lebih 24 tahunan itu. Pria itu didudukkan di sebelahku, di jok belakang. Aku sendiri memilih untuk memojok ke dekat pintu, sambil mengalihkan pandanganku dari pria di sebelahku itu. Tapi, ternyata pria itu berkali-kali mencuri-curi pandang ke arahku seolah-olah sedang mengamatiku. Kemudian, ia memberanikan diri memegang pundakku dan bertanya", Kamu Andy yang bintang iklan itu yah?"

Jantungku rasanya langsung mau copot ketika mendengar pertanyaan itu. Aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Aku tak mungkin berbohong. Lama aku hanya diam saja, pura-pura tak mendengar. Namun, tetap saja pria itu ngotot dengan pertanyaannya. Akhirnya, aku pun mengangguk saja. Setelah itu, kami pun berkenalan dan baru kuketahui kalau namanya Ryan. Tentang profesinya, sudah jelas tak perlu kutanyakan lagi, aku malas berbasa-basi kalau aku sudah tahu.

Malam itu, ternyata mereka bertiga hendak menginap di apartemen Boni. Semula, aku minta diantar pulang saja ketika mereka mengajakku menginap bareng. Tapi, Justin dan Boni malah mendesakku terus, bahkan Justin ngotot membawaku ke apartemen Boni, ia mengendarai mobilnya sama sekali tak menuju arah rumahku. Akhirnya aku pun menyerah juga, lagi pula kupikir toh besok aku mulai syuting agak siangan jadi aku bisa saja kalau menginap di rumah Boni malam ini. Tapi apa yang mereka akan lakukan dengan seorang gigolo di apartemen Boni nantinya, aku tak berani membayangkannya. Yang jelas, malam ini pastilah akan terjadi pertempuran seru di dalam kamar apartemen Boni.

Benar saja, sesampainya di dalam kamar apartemen Boni yang mewah. Boni langsung mengambil empat buah kondom dari laci meja di dekat ranjangnya, ia membagikannya pada kami bertiga.

"Tidak, Bon. Sorry, Aku tak ikut kalian!" kataku saat Boni menyodorkan kondom kepadaku.
Aku mengembalikan kembali kondom itu ke tangan Boni, namun Boni malah mencengkeram tanganku dan memaksaku untuk menerimanya.

"Pakai saja. Kau belum pernah tau nikmatnya kan?" kata Boni sambil nyengir.
Saat itu, betul-betul adalah pergumulan yang sangat berat dalam batinku. Aku pernah bersumpah untuk tak mau melakukannya lagi sejak Om James (=baca artikel: Obsesi sang model) meninggalkanku beberapa tahun silam.

Boni dan Justin memang tak pernah tahu perihal hubunganku dengan om James, yang mereka tahu hanyalah aku seorang model yang sukses, tanpa mengetahui siapa yang ada di balik kesuksesanku dan telah mengangkatku dari jurang kemiskinan ke suatu tempat yang menjadi impian banyak orang. Mereka menyangka kalau aku seorang anak muda yang alim dan tak banyak tingkah seperti mereka, jadi dianggapnya aku tak berpengalaman untuk urusan permainan liar itu. Syukurlah, kalau mereka menganggapku seperti itu. Namun bagiku, seolah-olah aku hidup dalam kemunafikan saja saat itu. Aku ibarat sebuah kuburan yang bercat putih di luar, namun penuh tulang belulang dan kebusukan di dalamnya.

Habis itu, Boni mulai melancarkan aksinya (Baru kuketahui kalau Boni ternyata seorang gay yang hiperseks), Ia menghantar Ryan menuju ranjang asmaranya. Di sanalah, Ryan ditidurkan dalam posisi terlentang dan kemudian Boni mulai mempreteli pakaian Ryan satu per satu sampai pemuda itu hanya mengenakan celana dalam birunya saja. Bagian tubuh yang pertama diserang Boni tentulah sesuatu yang kelihatan menonjol di balik CD yang sangat seksi, yaitu tak lain adalah kontol Ryan yang cukup besar itu. Boni langsung mencaploknya dengan mulutnya dan menghisapnya dari bagian luar celana dalam Ryan. Sesekali lidahnya bermain-main di seputar pusar dan kedua selangkangan Ryan yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang berwarna hitam lebat. Pemuda itu memang tergolong pria berbulu yang seksi.

Sementara itu, aku dan Justin yang duduk di sofa dekat jendela hanya memelototi aksi Boni dan Ryan itu tak berkedip, sebuah tontonan live yang gratis. Justin bahkan menggesek-gesekkan tangannya di kemaluannya, tak puas dari bagian luar, ia pun mulai memasukkan tangannya ke dalam sela-sela celananya. Sempat kulirik sebentar ketika Justin memasukkan tangannya itu, ia sepertinya sangat menikmati permainan solonya itu untuk merangsang libidonya sendiri.

Tapi tiba-tiba diluar dugaan, Justin menggenggam tanganku dan memandunya untuk ikut memegang kemaluannya yang sudah full ereksi saat itu.

"Buka, Dy. Aku horny banget!" pinta Justin agar aku membukakan restsleting celananya.
Dengan agak gugup, aku pun menurut saja. Entah kenapa, aku jadi seperti robot saat itu, mungkin saja karena aku pun sedang terangsang sekali saat itu. Apalagi kulihat, Ryan dan Boni sudah bergulingan di atas ranjang sambil saling melumat satu sama lain tanpa berpakaian lagi, keduanya sudah telanjang bulat!

Aku membantu Justin membuka restsleting celananya dan juga kancing bajunya. Setelah itu kupelorotkan celananya, sehingga ia hanya mengenakan baju yang terbuka dan celana dalam saja. Kemudian tanpa terkontrol lagi, aku langsung mendaratkan ciumanku yang pertama ke bibir Justin yang seksi. Sementara itu, tanganku bergerilya di seputar dadanya dan kemaluannya secara bergantian.

Kuselipkan tanganku ke balik kemejanya dan kemudian kuremas-remas kedua puting susunya, sambil sesekali diiringi remasan-remasan pada bagian pinggang dan sentuhan-sentuhan maut ke seluruh bagian dadanya yang bidang itu. Sementara itu, tanganku yang satu lagi meremas-remas bagian belakang kepala Justin. Kami berdua saling menghisap, saling melumat, saling menggigit dan bermain lidah.

Kurasakan desahan nafas Justin yang membuatku makin terangsang untuk terus menikmati tubuhnya, ia sesekali menggeliat-geliat di atas sofa sambil mendekapku dengan erat. Justin lalu memasukkan tangannya ke dalam celanaku, ia meraba-raba kontolku yang sudah tegang dan basah oleh cairan precum saat itu. Ia lantas meremas-remasnya dengan gemas, sebelum akhirnya ia pun membuka celanaku dan membuatku panthless saat itu.

Setelah usai permainan lumat melumat, Justin berjongkok di depanku dan memulai lumatan yang baru yaitu melumat kontolku. Bagai diburu nafsu yang membara, Justin terus memainkan kontolku di mulutnya, ia menghisapnya keluar masuk dan menjilatinya seolah sedang menikmati es krim cone. Sesekali ia mengocoknya.

"Argh!" desahku ketika rasa nikmat tak kuasa lagi untuk kutahan.

Kurasakan kenikmatan tiada tara ketika kulit pembungkus rudalku bergesekan dengan liang mulut Justin. Apalagi ketika ia membawanya keluar masuk mulutnya. Sampai pada puncaknya ketika cairan kelelakianku mulai menyemprot dan bertumpahan memenuhi mulutnya. Aku langsung lemas saat itu seiring dengan mengendurnya urat-urat pada kontolku.

Sebagai seorang gigolo profesional yang sudah punya jam terbang tinggi, Ryan pun tak kalah liar dibandingkan Boni. Ia mencoba memuaskan pelanggannya itu dengan jurus-jurus mautnya. Dalam keadaan telanjang bulat di atas kasur, Ryan lantas menindih paha Boni sambil memegang secangkir lemon juice di tangannya. Setetes demi setetes, ia menumpahkannya di dada dan perut Boni, dan sesudah itu ia membungkuk dan menjilatinya dari tubuh Boni.

Boni pun terlihat menggelinjang-gelinjang dan mendesis tak kuasa menahan rasa geli bercampur nikmat saat itu. Ryan terus bergerilya di seputar dada dan perut Boni dengan lidahnya. Kemudian, lagi-lagi Ryan menindih tubuh Boni, mereka saling melumat lagi dengan bibir mereka, sementara kontol mereka saling digesek-gesekkan di bagian bawah sana.

Selanjutnya tak banyak yang bisa kuceritakan tentang malam itu, aku tak begitu ingat semuanya. Yang jelas, malam itu aku pun sempat menikmati permainan seorang gigolo, dan itu untuk yang pertama kali dan terakhir bagiku. Jujur saja, aku tak sanggup mengimbangi permainan orang-orang semacam Ryan dan Boni yang kelewat hiperseks. Tapi lain halnya dengan Justin, aku senang bermain dengannya. Karena sejak malam itu, kami masih sering mengulanginya dan menghabiskan waktu bersama.

Justin pun kini menjadi sudah menjadi bf-ku, dan tak ada seorang pun di sekeliling kami yang curiga ketika kami jalan bersama, karena mereka rata-rata sudah tahu kalau kami bersahabat sejak lama. Jadi mereka pikir, kami hanyalah sepasang sahabat karib, yah kuharap tetap seperti itu saja! Karena mau atau tidak, suka atau tidak, orang akan tetap memanggilku "selebritis", jadi aku harus selalu kelihatan tampil baik di depan mata mereka. Hanya saja kalau boleh mengajukan permintaan saat ini, aku hanya ingin minta satu hal saja", jangan panggil aku selebritis!"

Tujuanku mengungkapkan semua ini bukan apa-apa atau untuk mencari sensasi, sebab aku rasa aku sudah tak perlu lagi mencari popularitas dan sensasi karena semuanya sudah kudapatkan dan itu tak ada gunanya bagiku. Tetapi, aku hanya sekedar mau mengingatkan kalian bahwa jika ingin menjadi seorang selebritis, siapkanlah mental yang cukup agar tak sampai terjerumus kepada hal-hal yang seharusnya tak perlu terjadi, sebab kehidupan selebritis tak sekedar bicara tentang popularitas, keglamoran dan kemewahan, melainkan juga berbicara tentang sebuah tantangan yang sangat complicated yang akan membuatmu langsung diperhadapkan pada pilihan: hidup atau mati, digilas atau menggilas, dan lain sebagainya.

*****

Salamku untuk semua teman-teman di seluruh Nusantara, aku mencintai kalian semua. Salam - Andy.

Jadi Anggota CIA

CIA, sebenarnya adalah singkatan dari Cek In Aje. Akronim lelucon yang biasa kusebut, apabila aku bermaksud menyalurkankan hasrat birahi dengan seseorang yang kuinginkan, di sebuah hotel.

Berikut ini adalah beberapa penggalan kisah cek in yang pernah aku lakukan.

Aku terkadang masih sering bertanya sendiri, termasuk dalam kelompok apakah aku ini, dengan kecenderungan ketertarikan berkelamin sesama jenis. Pada beberapa rubrik kesehatan, aku selalu membaca artikel yang mengupas soal itu. Namun, ulasannya biasanya hanya sedikit. Karena itu, tidak dapat memenuhi hasrat keingintahuanku, tentang dunia ganjil yang kugeluti. Sehingga, akhirnya, aku membaca buku berjudul Perawatan Kesehatan Tanpa Rasa Malu, karangan dari Charles Moser, Phd, MD, yang diterjemahkan dari judul aslinya Health Care Without Shame.

Tak sengaja aku menemukan buku tersebut, di rak pamer toko buku Gramedia, pada penghujung tahun 2000-an ini. Satu lagi adalah, buku berjudul Gay: dunia kaum homofil, terbitan Grafiti Press, Jakarta tahun 1987, kuangap sebagai cikal bakal referensi pencarian jati diri.
Kini aku semakin confidence dalam menghadapi hidup di dunia margin. Kusebut demikian, karena dari hasil studi literature, aku menemukan diriku tergolong dalam kelompok yang disebut sebagai bisex.

Aku dapat juga merasakan sensasi kenikmatan berkelamin dengan sesama jenis. Walaupun secara parameter, kuantitas sex intercourse-nya lebih banyak dengan yang lain jenis, namun secara makna dan kualitas, kepuasan lebih banyak kudapatkan dari hasil hubungan yang sejenis. Hal ini, kemudian kuanggap, menjadi keberuntunganku pula, untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya, siapa diriku sebenarnya.

Aku, sebenarnya, lebih beruntung dari mereka, yang benar-benar tidak punya pilihan lain – sebagai aktulisasi diri – tampil sedemikian apa adanya melalui wira laku, wira suara, ataupun wira busananya sehari-hari. Sehingga, hanya dengan sekilas memandang, sudah dapat diketahui orientasi seksual yang bersangkutan. Namun, dalam tatanan pergaulan sosial, tidak jarang fakta itu kemudian diralat atau dibantah oleh yang bersangkutan, apabila hadir dalam komunitas masyarakat hetero, bila perlu dengan menyelenggarakan press confrence.
Untuk alasan menjaga reputasi, kiranya dapat dimengerti dan dimaklumi sikap tersebut, mengingat kebiasaan umum yang masih menabukan soal yang demikian. Itulah kehidupan dunia ganjil, yang diliputi kepalsuan dan kemunafikan. Sayup-sayup dikejauhan kudengar alunan lagu "dunia ini, panggung sandiwara.., ceritanya mudah berubah.."

Buatku, yang mengasyikan dalam berkelamin sejenis adalah, ketika kami sedang bergumul, mencumbu dan mengagumi keindahan anatomi alat kejantanan. Saling menjilat dan menelusuri lekuk tubuh atau menghirup aroma alaminya. Termasuk di dalamnya adalah menerapkan istilah-istilah seperti body contact, blowjob, felatio, rimming, cumshots, maupun anal intercourse yang menjadi definisi operasional dan familiar dalam komunitas masyarakat penggemar seks sejenis.

Bagi pendatang baru, awalnya akan merasakan kecanggungan – lebih tepat malu – dalam berhubungan seks sejenis. Namun, biasanya, perasaan itu berangsur lenyap, manakala nafsu sudah menjalar ke seluruh relung tubuh; dengus nafas yang mulai tidak beraturan dan denyut jantung yang semakin cepat. Pandangan mata pun mulai berubah menuntut suatu penuntasan. Seperti yang terjadi dal kisah berikut ini.

Pada suatu ketika aku, Adam dan Sony – seorang hetero – memutuskan untuk bersantai disuatu karaoke. Kebetulan kami memang senang menyanyi. Karena keesokan harinya libur maka kami memutuskan stay up di salah satu hotel di ibu kota.

Dari Adam, aku tahu kalau Sony gemar minum. Karena itu, sebelum cek in kami mampir dulu ke geray minuman untuk membeli beberapa botol minuman serta makanan kecil.
Di kamar hotel, kami ngobrol biasa sambil minum. Aku membantu meracik minuman juga menyalakan rokok untuk Sony. Kulihat Adam sudah sempoyongan, oleh sebab itu aku membiarkan ia untuk tidur. Sementara, Sony, masih tetap tegar dan asyik bercerita soal pekerjaannya sebagai account officer d salah satu bank di ibukota.
Bau alkohol memancar dari mulut Sony.

Terus terang, aroma itu membuatku terangsang. Sekonyong-konyong aku mendekap tubuh Sony dan segera melumat bibirnya. Awalnya dia tampak terkejut dengan kejadian yang mendadak itu. Aku memang cuma sebentar melumatnya. Hanya kumaksudkan sekadar sebagai shock therapy buatnya. Selanjutnya kami bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Aku takjub dengan daya tahan Sony minum alkohol. Bayangkan, dua setengah botol dry gin murni dihabiskan sendiri. Padahal, di karaoke tadi ia juga sudah minum. Oleh sebab itu, tidak heran, apabila Sony kemudian ng-joprak – muntah-muntah. Wah, terpaksa ku bangunkan Adam dari lelap tidurnya, untuk membantu mengangkat tubuh Sony yang berdimensi 175/70 itu. Kami membersihkan muntahan Sony yang berceceran di karpet. Kemudian memindahkan tubuh Sony yang tergelatak di lantai ke atas dipan. Sony mabuk berat.

Dengan pertolongan Adam, aku membuka kemeja dan celana panjang Sony. Agar dia lebih nyaman berbaringnya. Kemudian, kulihat Sony hanya tinggal mengenakan celana dalam saja. Di atas dipan tergolek sosok jantan Sony, dengan sebuah tonjolan besar membayang dibalik celana dalam yang dipakainya.

Didasari keingintahuan melihat sesuatu yang tersembunyi itu maka aku melepas sekalian celana dalam Sony. Astaga, aku hampir terpekik kaget, menyaksikan bentuk kemaluan Sony yang besar, menyeruak dari gundukan hitam pubic-nya yang lebat. Saat itu, aku tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak berbuat sesuatu.

Tanpa membuang waktu lagi aku segera menelungkupkan wajah di atas selangkangan Sony. Tercium wangi aroma kejantanan pria yang menebar dari wilayah itu, makin membuat gairahku melambung.

Perlahan kujulurkan lidahku untuk menjilat dan mengulum kemaluan Sony, sambil meremas-remas pubic-nya yang ikal lebat itu. Tak lama kemudian, kemaluannya mulai terlihat meregang dan menampakan bentuknya yang semakin mempesona. Aku menjadi gila dibuatnya. Dengan liar mulut dan lidahku menjelajah seluruh lekuk selangkangan Sony.
Sayup-sayup kudengar Sony mulai melenguh, mendesah serta meracau "..enyak..sshss..ogh..gglek.." seraya memutar goyangkan pinggulnya. Selanjutnya, disela getar dan gelinjang tubuhnya kulihat Sony menekuk lutut kakinya dan sedikit menggangkat bongkahan pantatnya yang gempal itu. Maka lidahku dengan mudahnya menjelajahi lingkar rectum-nya yang terlihat jelas dikelilingi pubic. Cumbuan itu rupanya membuat sensasi tersendiri bagi dirinya.

Pada saat yang sama Adam juga menelungkup di atas badan Sony. Lidahnya bergerilya menyapu seluruh lekuk badan atas dan wajah Sony. Terkadang menghisap dan menggigit puting Sony. Tidak jarang menyapu bagian bawah lengan Sony yang ditumbuhi bulu yang lebat itu. Dengus tiga nafas kami semakin mengaburkan kejelasan ucapan Sony.
Aku melumasi lubang rectum-ku dengan gel vaginal lubricant K-Y, yang kubeli di apotik sebelumnya.

Demikian pula dengan batang dan kepala penis Sony. Aku ingin di-insert olehnya. Adam sedang melumat bibir Sony, seraya meremas kedua dada Sony, ketika aku mengarahkan lubang rectum-ku ke penis Sony yang tegak berdiri itu.
Kemudian, dengan sekali sentakan seluruh batang penis Sony telah tenggelam di dalam cengkraman lubang kenikmatanku. Aku mengalami kenikmatan yang luar biasa saat batang kemaluan Sony terasa melesat menelusuri liang tubuhku.

Dari penuturan Sony sesudahnya, aku mendengar bahwa ia merasakan kehangatan dan sensasi yang hebat, ketika penisnya sedang menjelajah terowongan ass-hole.
Betapa ia merasa ada sesuatu yang memilin, mencengkeram serta menghisap batang dan kepala penisnya. Menimbulkan rasa denyutan dan senut-senut yang aneh namun mengasyikan.

Apalagi ketika kemudian ia memuntahkan erupsi lahar panas asmara yang telah bergejolak di kepala penisnya. Itulah sebabnya, aku tadi sengaja – walaupun berakibat resiko buatku – tidak menggunakan kondom agar Sony dapat merasakan secara langsung sensasi persentuhan organ kelaminnya dengan bagian dalam tubuhku.

Ia tidak marah kepadaku. Bahkan berucap terima kasih telah mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Walau pada kalimat terakhir ia tidak secara tegas mengucapkan hal itu.

Namun, pandangan matanya telah mengatakan lebih dari apa yang ingin ia katakan secara lisan. Body Language. Ya, bahasa tubuh. Sama seperti saat ia menginginkan kembali persetubuhan atau cumbuan itu. Tidak perlu dengan kata atau kalimat. Cara ia menatap dan gerak tubuhnya sudah berbicara ketika ia minta tambah. Aku bisa menangkap bahasa isyarat-nya. Tak lama kemudian kami sudah bergumul kembali. Saling dekap dan pagut memintal hasrat birahi yang menggelora.

Akan halnya dengan Adam, ia sahabat terbaikku. Kami sudah biasa berbagi cinta – three some. Dengan cara demikian, selain melakukan persetubuhan kami juga dapat saling melihat dan merangsang. Menurutku bercinta bertiga lebih memberikan kenikmatan. Sebab kami dapat saling membantu satu sama lain.

Sesudah pergumulan itu, kami tetap berlaku biasa seperti halnya kaum hetero lainnya. Sony memiliki gadis, demikian pula aku dan juga Adam. Semua berjalan wajar.
Percintaan dan persetubuhan sejenis bertalian dengan organ tubuh yang paling rahasia, tentunya hal ini menjadi sangat pribadi sekali. Terkadang kita tidak memperhatikan hal ini hanya karena merasa berasal dari gender yang sama. Sehingga menganggap remeh masalah kebersihan tubuh.

Pengalaman membuktikan, salah satu sebab gagalnya hubungan yang lebih intens karena masalah kebersihan tubuh. Karena itu, yang paling penting adalah senantiasa menjaga sanitasi tubuh agar tetap higienis dan siap saji. Sebab, hanya karena masalah tersebut bisa saja appetite seseorang langsung hilang.

Namun dapat juga terjadi, sikap yang terlalu menjaga image soal kebersihan dan penampilan menjadikan figure kelakian seseorang menjadi hilang.

Seorang lelaki menjadi kelihatan lebih perempuan dari yang perempuan. Sesungguhnya. hal seperti ini, biasanya tidak terlalu disukai oleh penikmat lelaki. Salah satu alasan bercinta dengan sesama lelaki karena mengharapkan sensasi sensualitas seorang lelaki. Bukan perempuan.
Karena itu, bersikap seperti seorang perempuan untuk memikat seorang lelaki, sebenarnya, malah merusak esensi ke-gay-an itu sendiri. Be a man as you are a man. Itu menjadi sebab lelaki yang feminim tidak terlalu suka bercinta dengan yang feminim juga. Hilang sensasi kelakian yang didamba.

Rambut sebaiknya berpotongan rapi dan dijaga jangan sampai bau apek. Telinga agar sering dibersihkan sehingga tidak terlihat kotoran tepi daun atau menggumpal di lubang telinga.

Kebersihan gigi dan mulut perlu mendapat perhatian. Sehingga tidak menebarkan aroma yang aneh. Bulu ketiak sebaiknya dijaga kebersihannya dan tidak menggunakan pewangi artificial berbau menyengat, yang malah akan semakin membuat aroma tubuh menjadi tidak karuan.
Lebih baik menjaga kebersihan badan dan pakaian daripada menutupinya dengan kamuflase pewangi buatan. Tentu saja, akan lebih baik apabila aroma di luar dan dalam sama wangi dan bersih.

Apabila kemaluan Anda tidak disunat maka glans penis selayaknya sering dicuci. Untuk membuang smegma yang menimbun di lingkar glans tersebut. Demikian pula dengan bulu pubic yang juga menuntut perawatan dan perhatian. Artinya, selalu dikeramas supaya tidak bau karena lembab. Biasakan mencuci scrotum dan rectum sampai bersih dengan sabun. Jika perlu dibilas pula dengan larutan disenfektan semacam dettol. Kaki dijaga kebersihannya agar tidak berbau. Demikian pula dengan kukunya.

Terakhir adalah memberikan perlindungan tubuh dengan pemberian vaksin anti hepatitis B, apabila anda belum memilikinya. Gunakan kondom dan 'selektif' tidak asal mau sama siapa saja. Terlebih apabila anda seorang recipient atau bottom tipe.

Kecenderungan yang terjadi pada komunitas ini adalah berganti-ganti pasangan berkelamin (promiscuity). Itu sah-sah saja. Namun, hendaknya, tidak dilakukan dengan ceroboh. Mengingat akibat akhir yang akan ditanggung nantinya. Misalnya, tertular penyakit kelamin atau kulit. Yang lebih menakutkan adalah terkena HIV.
Disini aku cuma ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan. Tidak pula aku bermaksud menggurui. Utamanya kisah ini ditujukan bagi para pendatang baru komunitas penggemar seks sejenis.

Aku pernah mengalami perasaan dan ketakutan yang sama untuk bertanya kepada orang lain perihal serba-serbi penyimpangan orientasi seks. Biasalah, soal martabat dan kehormatan diri. Apalagi masyarakat luas masih menganggap hal ini sebagai sesuatu yang nyleneh, yang lebih tepat disebut sebagi aib atau cela. Karenanya harus ditutupi. Begitulah, setidaknya, menurutku, masyarakat punya andil dalam membentuk komunitas kita menjadi munafik.

Ada lagi pengalaman lain, dengan Aldi. Aku harus berterima kasih kepadanya. Ketika ia mengingatkanku perihal penyakit kulit yang diindapnya. Mulanya aku tidak tahu, kalau saja ia tidak bercerita soal rasa 'kegatalan' di daerah lipat pahanya. Sehingga ketika aku akan felatio (blow job) kepadanya ia mencegah. "Jangan.. deh aku lagi gatal.." Untungnya aku sempat mendengar ucapannya itu.

Kemudian aku nyalakan lampu yang tadi kupadamkan. Di tengah nyala pendaran lampu kulihat tubuh twiggy Aldi tergolek bugil dengan kemaluannya yang lumayan besar. Glans-nya mengkilat menyeruak dari kulit kulupnya yang tidak di circumcisi. Warna kulit tubuhnya yang putih memberikan kontras yang bagus dengan pubicnya yang berwarna jelaga.

Aku menelungkup lagi ke arah selangkanganya guna melihat lebih dekat. Kulihat ada lesi kulit primer berupa lepuh-lepuh kecil berisi cairan jernih dan berkelompok – istilah medisnya adalah vesikel – yang ada di sekitar pangkal batang penisnya. Bagi Aldi, rasanya gatal dan panas seperti terbakar.

Dari literature, aku menjadi tahu kalau itu adalah penyakit herpes simpleks, yang dapat juga ditularkan oleh kontak orogenital. Menurutku, kondisi tubuh Aldi saat itu tidak layak untuk suatu hubungan badan.
Karenanya aku membatalkan sepihak. Untungnya, Aldi menyetujui juga. Untuk hal ini, aku berhutang budi pada Aldi yang telah menyelamatkanku dari tertular penyakit herpes-nya itu. Malam itu, akhirnya kami tidak melakukan apa-apa.

Sesudah kencan yang gagal – tapi malah aku syukuri – itu aku meng-copy-kan literature soal penyakit tersebut serta memberikan saran pencegahan dan penyembuhan – termasuk obat untuk penyembuhannya. Puji tuhan, penyakitnya sekarang sudah sembuh dan Aldi sudah sehat kembali.

Lain lagi kisahku dengan Juan, juga seorang hetero. Selain mengundangnya ke rumahku aku bersama Adam juga biasa melakukan kencan dengannya di hotel. Memang dari segi biaya menjadi high cost. Namun kemahalan itu menjadi impas apabila dibandingkan dengan privacy yang didapat.

Bagaimanapun aku harus melindungi juga nama baik dan kehormatan Juan di mata rekan gaulnya. Bahwa ia tetap seorang yang dikenal badung, cuek dan jauh dari kesan anak mami seperti kebanyakan streotype penikmat seks sejenis yang aku temui.

Kami sama-sama punya kebutuhan menyalurkan hasrat seks yang menggebu. Semacam hubungan simbiosis mutualisma, itulah yang menjadi komitmen awal dari perhubungan ini.
Juan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, begitu kami chek-in di sebuah hotel. Ketika aku dan Adam membukakan pakaian dan celananya ia tetap bersikap kooperatif. Sehingga kami tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Benar saja, ketika celana dalamnya kulepaskan nampak kemaluannya sudah menegang keras seolah hendak mengatakan say hello kepadaku. Aku menjilat glans-nya yang sudah merah mengkilat itu. Juan tersenyum. Wouw, pandangannya sangat mengundang.

Aku segera bangkit dan melepas semua pakaian yang melekat di tubuhku, demikian pula Adam, sehingga Juan dan kami menjadi sama-sama bugil. Tapi kami tidak ingin segera main meskipun kami tahu Juan sudah menginginkannya.

Dia berbaring terlentang dengan menyilangkan kedua tangannya dibelakang kepalanya. Sangat seksi penampakannya dalam posisi seperti itu. Kulit tubuhnya yang putih bersih – tipikal kulit etnis seberang – di warnai dengan aplikasi warna hitam bulu ketiak yang tumbuh lebat bagaikan genggaman sapu ijuk serta deretan bulu pubic yang menjalar dari bawah pusar memenuhi episentrum di pangkal pahanya. Amazing.

Terus terang, aku paling suka sekali menghirup aroma bulu ketiak. Buatku aroma ketiak Juan begitu dahsyat sehingga mampu membakar hormon testoteron-ku.
Kehebatan Juan adalah ia tidak memerlukan pewangi artificial yang malah akan membuat diriku mual. Beruntung sekali, aroma tubuh Juan termasuk 'sopan' sehinga tidak perlu di-kamuflase dengan sapuan pewangi tubuh. Akupun menjadi bebas menjelajah tanpa takut terkena alergi kontaminasi parfum dan sejenisnya.
Aku harus berterima kasih kepada Adam, yang banyak membantuku dalam segala hal. Termasuk dalam urusan bercinta. Tanpa dia, aku kewalahan untuk menyelesaikan percumbuan itu.

Harus diakui, Adam adalah pemain cinta yang hebat. Pada dirinya tergabung totalitas, kekuatan dan strategi bercinta. Dengan Adam, aku dapat bebas melakukan three some, saling bahu membahu, membuat patner seks kami mencapai kepuasan persetubuhan sejenis.

Coba deh, kebayang gak sih, nikmatnya, apabila kamu dicumbui oleh dua atau tiga orang sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Pada saat puting susumu dihisap-hisap, penismu juga merasakan sedotan cinta yang sama, dan asshole-mu di-insert atau di-rimming.

Semua memberikan efek denyutan birahi yang tidak akan dapat dilukiskan dengan kata-kata, kecuali mempersilahkanmu untuk membuktikannya sendiri.
Sony, Aldi, maupun Juan, hanyalah sekian dari beberapa nama dari mereka yang pernah berpetualang cinta dengan kami. Sampai saat ini dan seterusnya pun Anda tidak akan pernah tahu siapa sesungguhnya mereka.

Seperti itu pula kami akan melindungi privacy Anda apabila bercinta dengan kami. Begitulah kode etik yang kami jalankan. So, bercinta sejenis, siapa takut? Anda berani menerima tantangan?

Impian Duda Gay

Malam ini aku benar-benar tersiksa dengan hasratku yang semakin menggebu. Aku mulai mempreteli pakaianku sendiri lalu telentang di atas tempat tidurku dengan membentangkan kedua tanganku, sehingga milikku yang 14 cm bisa bergerak bebas. Aku memejamkan mata sambil perlahan mendesis-desis menyebutkan sebuah nama, Yusuf. Sudah lama aku berpisah dari dia. Why? Aku sendiri tidak tahu pasti, hanya saja dari gosip yang kudengar kabarnya dia mengejar-ngejar khayalannya untuk mendapatkan cowok yang tidak disunat alias uncut alias masih punya kulup atau apa lagi sebutannya. I don't care. Yang jelas aku sudah menjadi duda dari priaku sendiri dan malam ini aku sendirian dengan hasratku yang kian memuncak ingin mendapatkan kehangatan dari seorang lelaki. Oh, Mas Yusuf, look at me honey. Aku merindukanmu, mas. Dan biasanya dengan keadaan begini aku baru bisa tertidur setelah mengocoknya dan memuntahkan lavanya yang tidak senikmat di saat memadu kasih berdua dulu.

Pagi itu aku baru bangun jam tujuh. Untung hari Minggu. Rumah kontrakan yang kutempati agak terpencil dari rumah sekitarnya. Dengan masih telanjang bulat, aku dengan malas bangkit berdiri menghampiri remote TV, menyalakan siaran berita yang sudah hampir berakhir. Ya, aku terbiasa di rumah dengan hanya memakai celana dalam atau celana pendek saja. Itu karena hasratku yang sangat tinggi. Bahkan aku masih punya harapan jika saja tiba-tiba ada maling masuk atau orang kesasar sekalian saja aku akan mengajaknya untuk melakukan sex. Gila memang. Dan bayangan Yusuf selalu hadir di setiap sudut rumahku yang dipenuhi dengan foto-fotonya dan fotoku.

Aku menyalakan kompor gas, memanaskan air untuk minum. Lalu dengan malas aku berbaring lagi di atas tempat tidur. Remote TV kupencet-pencet terus tanpa tahu mana yang akan kutonton. Hampir semua stasiun TV menghadirkan kartun anak-anak. Uh.. Mas Yusuf. Sampai kapan aku harus dibayang-bayangi cintamu, mas. Aku ingin mencintai orang lain lagi. Aku meraih pena lalu kutuliskan di atas selembar kertas HVS. When will I feel your dick in my ass again? Kembali aku melamun menikmati siaran TV. Tanpa peduli dinginnya pagi, aku masih tetap telanjang di atas kasur. Lalu aku berbalik menatap langit-langit kamar yang bercat putih.

"Kring.." dering telepon membuyarkan lamunanku. Aku meraihnya.
"Siapa?" tanyaku dengan malas.
"Hai, Man. Kamu lagi ngapain sih? Baru bangun, ya?" suara di seberang terdengar sambil ketawa-ketawa.
"What's so funny? Cengengesan saja. Siapa nih?" aku mengomel.
"Aduh, masa lupa Man. Aku Bambang."
"Oh, Pak. Maaf. Dikirain siapa. Maaf sekali, Pak. Ada apa telpon pagi-pagi sekali." aku merubah posisi duduk di atas tempat tidur.
"Ngga papa kok. Pagi ini aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Ada acara ngga?"
"Jalan-jalan..," aku berpikir sebentar, "Jam berapa, Pak?"
"Sekarang."
"Sekarang? Aduh, bagaimana nih Pak. Aku.. aku.."
"Ok, begini saja, sampai kapan aku harus menunggu di depan pintu rumah kamu?"
"Oh my god!" aku berteriak, "Sebentar, Pak."

Tanpa berpikir panjang, aku membanting gagang telepon. Lalu meraih handuk yang menggantung di paku, lalu melilitkannya di tubuhku sekenanya. Bergegas aku menghampiri pintu depan.
"Maaf, Pak. Masuk. Kenapa tidak ketuk pintu saja?"
Aku mempersilakan Pak Bambang duduk. Dia hanya tersenyum sambil menghampiri kursi depan. Dengan santai dia menatapku yang masih memegang gagang pintu dan bertelanjang dada.
"Kamu sedang apa, Man?" tanyanya sambil tetap mengumbar senyum.
"Euh.. maaf."
Aku baru sadar menutupkan pintu dan duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan Pak Bambang. Dia itu sebenarnya tetanggaku yang tinggalnya beberapa rumah dari sini dan bekerja di sebuah BUMN. Dia kebetulan masih membujang di usianya yang hampir mencapai 40. Tanpa sadar aku duduk dengan membuka kakiku agak lebar sehingga dengan jelas dia bisa menyaksikan burung kecilku bernyanyi di pagi itu.

"Euu.. kamu.. sedang mandi, kan?" dia bertanya gugup sambil sesekali melirik ke arah burungku tadi, tetapi aku tidak memperhatikannya.
"Tidak. Sedang nonton TV, Pak."
"Eu.. lalu.. ah, tidak. Lupakan, ya."
Matanya kini tidak bisa memalingkan lagi dengan tatapannya yang terpaku pada burungku itu. Aku baru sadar. Tetapi dengan cepat, hadir pikiran jelekku. Aku ingin memperlihatkannya. Maka dengan perlahan burung di dalam handukku itu mulai mengeras dan mengacung-acung. Aku memerhatikan reaksinya.

"Pak. Mau ajak saya jalan-jalan kemana sih?"
Aku kini membuka lebih lebar lagi kakiku.
"Anu.. aku.. sa.. aduh.. kenapa sih?"
Dalam hati aku tertawa geli. Pak Bambang tampak menahan air liurnya. Tetapi tiba-tiba dia berdiri dan menghampiriku, lalu duduk di sampingku.
"Kau.. tolong buka handukmu."
Hah! Pak Bambang menyuruhku membukanya? Aku menatapnya lekat tidak percaya. Dia membalas menatapku, tetapi kemudian dia justru menjambak handukku dan mencampakkannya di atas lantai hingga aku kini aku telanjang kembali. Walau kaget, tetapi aku justru mempertontonkan batang kelaminku yang kata Mas Yusuf sangat indah.

"Oh.."
Dia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Tangannya meraih batang kemaluanku sementara kaki kanannya menyilangkannya di atas kakiku. Aku kini benar-benar dalam kendalinya. Bau harum minyak wangi sepertinya membiusku untuk terus melayani dia.
Tiba-tiba, "Pak!" tanganku menahan tangannya yang hendak meraih batangku.
"Apa maksud semua ini?" aku menatapnya.
"Aku ingin menikmatinya, Man."
Tegukan air liurnya jelas terlihat.
"Maaf, Pak. Aku tidak mau melakukannya jika bukan karena cinta."
Aku berlagak menjual mahal. Padahal aku tahu sendiri kalau selama ini punya angan-angan cowok sejahat apapun kuperbolehkan menikmati tubuhku akibat rasa kesepian yang berkepanjangan.
"Kau tahu maksudku mengajakmu jalan-jalan?"
Aku menggeleng. Dia mendekatkan wajahnya di wajahku.
"Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku.. mencintaimu sudah lama, Man."
Aku sekarang jadi tertunduk. Harus kukatakan apa lagi?

"Gimana, Man? Please. Aku sangat tergila-gila sama kamu."
Aku kembali mengingat-ingat usaha-usaha pendekatan dia kepadaku selama ini. Mengapa dia selalu mentraktirku makan siang saat jam istirahat. Kebetulan memang kantorku bersebelahan langsung dengan kantornya. Dia juga sering mengajak jalan bersama sekedar nonton atau shoping atau juga menikmati kesenangannya seperti aku main games di Matahari. Aku tersenyum. Lalu menatapnya penuh arti. Dia terlihat memasang wajah yang membuatku menjadi iba. Tanganku meraba selangkangannya yang rupanya sudah menegang dari tadi.

"Pak Bambang mencintaiku?"
Dia mengangguk. Tanpa diminta aku mendaratkan ciuman manisku di bibirnya. Dia hampir berteriak girang lalu merangkulku dan memelukku erat.
"Makasih, Man. Aku sudah mendambakan seperti ini tapi selalu gagal. Dan satu, aku belum pernah melakukan sex dengan siapa pun."
Aku tidak menghiraukan omongannya yang jelas aku menikmati pelukannya yang selalu kukhayalkan dan kudambakan.
"Wuing.." bunyi teko air di atas kompor gasku.
"Aduh, Pak. Aku sedang masak air. Sebentar, aku buatkan kopi dulu, ya!"
Dengan malas dia melepaskan pelukannya dan berkata, "Ya, ok. Tapi ngga usah kopinya."

Aku bangkit menghampiri handukku, tetapi setelah kupegang, aku memutuskan untuk telanjang saja pergi ke dapur mematikan kompor. Aku membuatkan segelas kopi dan membawakan makanan ringan yang selalu tersedia di rumahku. Oh, my god. Aku terbelalak menyaksikan Pak Bambang yang sudah telanjang bulat menghampiri pintu dan menguncinya. Saat dia berbalik aku semakin terbelalak menyaksikan indahnya tubuhnya. Untung saja kopi tidak sampai jatuh. Aku menaruhnya di atas meja. Tiba-tiba dia menerkamku seperti orang kehausan seks.
"Man. Lebih baik suguhi aku dengan cintamu."
Dia memelukku sambil berdiri. Tanpa dikomando lagi aku langsung menyambar bibirnya yang dihiasi kumis lebat di atasnya. Aku memagutnya dengan rakus begitu juga Pak Bambang. Tetapi gerakan dia terkesan dipaksakan dan aku mengerti untuk ukuran intensitas sexnya yang masih nihil. Dia kembali menjelajahi tubuhku dengan tangannya yang jahil. Wangi harum tubuhnya membuatku semakin terangsang dengan hebat. Dengan napas terengah-engah, dia memandangku sayu penuh kenikmatan.

"Man, tidur yuk?" pintanya sambil menatap manja.
"Gendong dong, Mas." jawabku.
Aku mulai berani memanggilnya Mas, yang terkesan mesra sekali. Sekali rengkuh, aku dibopongnya menghampiri tempat tidurku yang masih acak-acakan dan TV masih menghadirkan kartun anak. Dia mematikannya.
"Semalam habis ngapain, sayang?" tanyanya.
Dia mulai menindihku. Tanganku meraih bidang dadanya lalu mengusap-usap seluruh dada dan perutnya.
"Aku semalam tidur telanjang, Mas. Ingin digagahi." ujarku dengan jujur.
Dia tersenyum. Lalu menekankan senjata kejantanannya yang berukuran raksasa dan aku sangat menyukainya. Perlahan tubuhku bergerak menikmati tekanan senjatanya yang terasa nikmat.

"Man. Walau belum pernah melakukan tapi aku sering nonton film porno gay. Boleh aku lakukan sama kamu?" pintanya sambil menatapku dengan mimik wajah memohon.
Aku menganggukkan kepala sambil membenamkan wajahku di dadanya yang tercium harum sekali. Perlahan dia bangkit. Lalu mulai menciumi tubuhku sementara tangannya menjalari bagian tubuhku yang paling sensitif. Setelah puas, dia menghampiri bibirku. Kembali dia melumatnya dengan rakus. Tetapi saat itu tanganku sudah tidak tahan untuk meraih senjata ampuhnya yang selalu kuidamkan. Saat itu, dia melirik ke arah telpon yang disampingnya terdapat kertas HVS dengan tulisan yang cukup besar. When will I feel your dick in my ass again?
"Kamu mau sekarang, sayang?" dia membisikkannya.
Aku menatapnya tidak mengerti. Dia meraih kertas itu, dan kemudian baru aku tersenyum.
"Nanti saja, Mas. Aku masih ingin digagahi."

Dia kini mendekatkan kejantanannya di mulutku. Aku dengan sigap meraihnya lalu melahapnya. Cukup repot juga, batang kelamin yang berukuran sebesar itu kumasukkan hingga terasa susah sekali bernapas. Tanganku juga sibuk mulai mengocok kelaminku sendiri. Dia melenguh panjang menari-nari begitu erotis. Lama aku mengemut dan menyedot-nyedot senjatanya hingga aku merasa puas dan mulai mendorong tubuhnya. Aku bangkit berdiri dan mendorong dia rebah di atas tempat tidurku. Aku mengangkangi senjata besarnya yang tegak berdiri dan mulai membuka kakiku supaya batang kelaminnya bisa masuk di anusku. Dengan cepat aku meraih Citra lotion dan kulumuri barangnya, begitu juga pintu anusku. Lalu perlahan aku mengarahkan batang kejantanannya ke anusku.

"Oh.. " aku melenguh saat batangnya mulai memasuki anusku yang sudah tidak perawan lagi.
Ternyata tidak mampu begitu saja melancarkan senjata ampuhnya untuk masuk, bahkan terasa sakit. Perlahan lagi dan lagi hingga kini setengahnya yang masuk. Pak Bambang memegangi tubuhku supaya tidak limbung. Aku berhenti sebentar untuk menikmati kehadiran batang kejantanannya di anusku. Oh, indah sekali. Kembali aku menekan pantatku turun hingga mempunyai inisiatif untuk menekannya sekaligus.
"Awww.. uh.. oh.." aku menjerit saat senjatanya sudah masuk semua hingga ujung pangkalnya.
Besar juga sehingga terasa sesak anusku. Tanganku menjelajahi dadanya yang bidang dan pantatku mulai kugerakan naik turun perlahan.
"Ah.. indah. Nikmat sayang. Terus.." dia meracau.
Aku mulai mempercepat goyanganku hingga naikku agak tinggi.

"Uhh.." aku kembali melenguh lagi menikmati kenikmatan yang tiada tara yang belum pernah kudapatkan bahkan dari Yusuf sekalipun.
Tiba-tiba kedua tangan Pak Bambang memegangi pantatku lalu menaik-turunkan pantatku itu hingga terasa kenikmatan itu sampai ke ubun-ubun. Kelaminku yang sudah sangat tegang menikmati nikmatnya cinta. Pak Bambang mulai terasa berdenyut-denyut dan aku tahu saat itulah aku akan mencapai puncak kenikmatan. Seiring dengan semakin cepatnya gerakan yang dibuat tangan Pak Bambang begitu pula kelaminku semakin terkonsentrasi untuk ejakulasi.

Hingga akhirnya, "Ahh Bapak.. Mas.. Bambang.. Oh.."
Aku merebahkan tubuhku ke belakang saat semburan demi semburan bermuntahan di atas tubuh Pak Bambang hingga kulihat ada yang sampai rambutnya. Rupanya Pak Bambang tahu kalau saat itu aku tidak bisa berada di atas lagi karena tidak kuat lagi, maka dengan tidak mencabutnya dari anusku, dia merubah posisi menelantangkan tubuhku di atas tempat tidur, sementara dia menggoyang pinggulnya maju mundur dengan merentangkan kedua kakiku. Goyangannya semakin cepat sambil meracau.

"Fuck harder.. fuck.. oohh.."
Dia semakin bersemangat saat melihat usahaku untuk menggoyangkan pantat dan tersenyum melihatnya. Sambil melakukan gerakan maju mundur yang semakin cepat dia membisikkan sesuatu, "Man. Aku keluarin di dalam atau di luar?"
"Di dalam saja, Mas. Aku ingin merasakannya."
"Ok. Here you go.."
Dia memompanya semakin keras. Dan saat itu aku merasakan keringat tubuhnya sudah membanjiri tubuhnya. Dengan terengah-engah, di goyangan-goyangan akhir, dia menyeringai sambil menekankan pantatnya dalam-dalam ke dalam anusku.
"Aahh.. Hilman.. oohh.. sayangku." dia berteriak sangat keras.
Aku merasakan dan menikmati semburan kenikmatan yang dimuntahkan di dalam anusku. Terasa sangat banyak dan mungkin saja akan meluap hingga keluar.

"Ohh.. oh.. oh.." desahnya.
Terengah-engah dia mengangkangi tubuhku. Bergetar tangannya menahan berat tubuhnya supaya tidak menindihku. Tetapi aku justru menariknya, hingga kini sangat rapat dan memang berat dengan batang kejantanannya masih di dalam anusku. Aku menikmatinya dan terasa lengketnya air mani yang kusemburkan tadi di tubuhnya kini juga menghiasi tubuhku.

Lama aku dan dia menikmatinya hingga dia akhirnya menggulingkan tubuhnya di sampingku tanpa melepaskan senjata cintanya dari anusku. Aku yang melarangnya. Dia mendekapku erat. Lalu mebisikkan kata-kata cinta.
"Hilman. Pengalaman terindahku dan pertama yang pernah kunikmati. Aku dulu hanya bisa mengocok atau sama bantal guling sambil nonton film gay. Thanks ya."
Dia mengecupku mesra. Aku memeluknya.
"Mas Bambang. Sebenarnya aku masih trauma setelah putus sama pacarku dulu. Aku takut Mas Bambang akan meninggalkanku sama halnya dengan dia."
"Jangan berpikir begitu sayang. Aku tidak seperti itu. Kau tahu aku kenapa belum juga kawin? Atau aku tidak melakukan dengan cowok mana saja? Karena aku justru mencari orang yang benar-benar sesuai dengan kemauanku. Kau buktinya. I love you, honey."

Aku semakin mempererat pelukanku. Sementara batang kemaluan dia yang sudah mengecil kembali terasa lepas dari anusku. Ada semacam kekosongan kini yang tadi terisi dengan barang ampuhnya. Dan saat itu aku membisikkan untuk menikmati babak kedua yang ingin kunikmati lebih seru dari tadi. Aku memutuskan untuk memesan Pizza saja sebagai makan siang daripada harus keluar dari ruang tidurku. Hari itu, aku dan Pak Bambang melakukan sex hingga empat kali sampai tengah malam. Seperti makan siang, makan malam pun kita pesan yang sama. Pizza.

Sejak saat itu setiap hari kita melakukan sex dengan keinginan masing-masing yang menggebu. Aku sangat mencintai Pak Bambang. Dan kini bayangan Yusuf yang mencari cowok belum disunat mulai hilang. Aku tidak mau tahu lagi, apa dia kini sudah mendapatkannya atau belum. I don't care.

I Have a Dream

Malam kian larut ketika kurebahkan tubuhku di tengah peraduan malam. Perlahan kurasakan kegelapan menyelimuti sekelilingku tatkala kedua kelopak mataku terpejam. Kubiarkan anganku melayang, mengembara menembus batas antara dunia nyata dengan dunia maya. Pikiranku menerawang menembus lorong waktu yang berjalan perlahan namun penuh kepastian.

Kurasakan hawa dingin merasuk ke sumsum tulangku ketika kudengar daun-daun bambu bergesek. Iramanya mengalun perlahan menyenandungkan symphoni yang menggugah kalbu. Anganku terus mengembara tanpa arah tujuan. Akhirnya anganku berlabuh pada sebuah lukisan wajah. Kusunggingkan seulas senyum manis menatap lukisan itu. Wajah seseorang yang sudah lama menghias relung-relung kalbuku. Goresan wajah yang selalu hadir dalam kesendirianku. Guratan wajah yang selalu kucumbu dalam khayalku.

Hatiku seolah teriris pedih ketika kulihat samar-samar ada sebuah tangan yang merengkuh lukisan itu. Aku hanya dapat mendesah menahan sejuta rasa kecewa. Mataku menerawang jauh menatap kepergiannya. Apakah ini berarti aku akan kehilangan ia untuk selama-lamanya?

Perlahan-lahan kubuka mataku. Kutatap langit-langit kamarku. Gelap. Kulihat sekelilingku. Pekat. Kulangkahkan kakiku menuju tempat yang belum pernah kukenal sebelumnya. Sebuah belantara yang maha luas nan sunyi yang tak berujung pangkal. Aku terus melangkah.

Tiba-tiba kesunyian terasa menghantui setiap langkahku. Kurasakan bulu kudukku berdiri. Kian lama kurasakan kakiku berat untuk melangkah. Semakin kupaksa semakin kakiku menolaknya. Langkahku pun tiba-tiba terasa semakin tersendat dan akhirnya kakiku terasa lemas. Kutatap rembulan yang bersinar dengan terang benderang. Kupasrahkan diriku dengan apa yang akan terjadi padaku. Ketakutanku mulai sirna ketika mataku menatap sebuah lapangan rumput yang luas membentang di hadapanku. Aku terkesima dan terpana.

Tampak olehku sebuah lautan rumput nan menghijau terhampar luas bak permadani tebal. Kutegakkan tubuhku dan kulemparkan pandangan ke sekelilingku. Aku takjub tiada terkira. Luar biasa. Aku coba untuk menapaki lautan hijau yang luas membentang. Kembali aku melangkah menyusuri malam. Langkahku mendadak terhenti ketika kudengar derap langkah kuda mendekatiku. Kupasang telingaku baik-baik dan kudengar langkah kuda kian mendekatiku. Semakin lama semakin jelas kedengaran.

Tak lama kemudian di depanku nampak kokoh berdiri seekor kuda jantan berwarna putih yang perkasa. Kuamati kuda itu dengan seksama dan akhirnya pandangan mataku tertuju pada si penunggang kuda. Kuamati ia dari kaki ke tubuhnya sampai akhirnya mendarat di wajahnya. Seorang pemuda tampan yang wajahnya sudah sangat kukenal. Sebuah wajah yang mulanya hanya berupa lukisan. Kulihat ia melemparkan seulas senyum yang manis. Aku pun terhanyut oleh senyumannya yang khas itu. Kuberi ia seulas senyum termanisku. Kutatap lekat-lekat matanya yang tajam menatap ke arahku.

Perlahan-lahan ia turun dari atas kudanya dan berjalan menambatkan kudanya. Aku berdiri terpana menyaksikan kehadirannya. Kudengar rumput bergesek ketika ia melangkah mendekatiku. Sinar bulan memancar dengan terangnya menerpa wajahnya yang sangat tampan. Kutatap wajahnya dan pandanganku tertuju pada bagian atas bibir dan bagian dagunya yang berwarna kebiruan karena bekas dicukur. Aku hanya dapat menelan ludah ketika ia dengan gagahnya menghampiriku. Dengan serta merta aku menyongsong kehadirannya. Sepertinya ia pun sangat merindukanku seperti aku merindukannya.

Kupeluk erat lehernya untuk mengungkapkan rasa rinduku, dan ia pun memeluk pinggangku dengan eratnya pula. Kutengadahkan kepalaku dan kulihat ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tanpa menunggu komando, bibirku dan bibirnya pun bertemu. Aku dan ia kemudian saling pagut. Kubiarkan bibirku dilumat habis olehnya. Kurasakan geli campur nikmat luar biasa ketika bekas cukuran kumis dan dagunya menyentuh bibir dan daguku. Aku pun akhirnya tidak tinggal diam. Kulumat bibirnya dengan rakus sambil kusedot-sedot lidahnya dalam rongga mulutku. Kurasakan ada sesuatu yang menyodok-nyodok penisku yang sudah mengejang. Kami terus berpagut sambil sesekali ia menepuk-nepuk dan mengelus-elus pantatku.

Setelah merasa puas melumat bibirku, ia melepaskan pagutannya. Sambil berpelukan mesra aku dan ia pun melangkah. Aku terus melangkah mengikuti irama langkahnya sambil menyandarkan kepalaku ke bahunya yang sangat kokoh. Ketika sampai di tempat yang landai, ia menghempaskan tubuhnya yang gempal di atas hamparan rumput yang agak basah oleh embun. Ia pun tiduran sambil telentang, aku pun lalu merebahkan tubuhku di sisinya. Kusandarkan kepalaku di atas dadanya yang bidang. Berdua, kami terhanyut dalam romantika malam. Sukmaku terasa melayang saat mataku menerawang menatap langit sambil menghitung bintang. Kutatap wajahnya yang bersih tersiram cahaya rembulan.

Kubelai pipinya dengan mesra dan ia pun membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba kurasakan harum nafasnya serasa menerpa wajahku. Kupejamkan mataku dan kurasakan bibirku tersentuh oleh bibirnya. Dilumatnya bibirku dan dimainkannya lidahnya di rongga mulutku. Kubuka mataku dan kuatur posisiku sehingga aku menindihnya. Sambil terus berpagut, tangannya memeluk erat pingganggku. Aku pun memeluk lehernya dengan erat pula.

Kami terus berpagut sambil berguling-gulingan di tengah lapangan yang bermandikan cahaya bulan. Kami terus berguling-gulingan sambil tangannya sibuk hendak melepas kaosku. Akhirnya ia berhasil melepas kaosku hingga aku 1/2 telanjang sekarang. Aku pun tak mau kalah, dan akhirnya aku berhasil melepas kaos yang menempel di tubuhnya.

Ia melepaskan pagutannya ketika kurasakan ada beban berat menindihku. Ia menindihku dalam keadaan 1/2 telanjang. Bulu kudukku berdiri ketika bibirnya menyentuh daun telingaku dan kurasakan penisnya keras menekan penisku. Ia terus mencium dan menjilat daun telingaku dengan nafsu yang berkobar. Nafsuku pun kian menggelegak. Bulu kudukku kian tegak berdiri ketika ia memindahkan sasarannya ke arah leherku. Aku hanya menggelinjang sambil mendesah perlahan.

Oughh.. ia terus mengecup leherku sambil sesekali menjilatinya. Bibirnya kian ganas ketika ia mulai menjilat dan menghisap kedua putingku secara bergantian. Aku hanya dapat menggelinjang-gelinjang menahan sejuta hasrat, sambil kedua tanganku mengelus-elus punggungnya yang basah oleh embun. Nafsuku kian menggelora dan tampaknya ia pun mengalami hal yang sama.

Bibirnya kian nakal dan nafsunya kian menggelegak ketika ia mengecup dan menjilati setiap titik tubuhku. Setelah puas, ia pun mendaratkan bibirnya di atas pusarku. Ia terus menjilati pusarku dengan sangat bernafsu sambil mempermainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di daerah pusarku, sedangkan tangannya sibuk hendak melepas kancing celanaku.

Tak lama kemudian celanaku lepas, sehingga aku hanya tinggal memakai celana dalam saja. Dengan nafsu yang kian berkobar ia mulai menjilati celana dalamku. Kurasakan penisku kian menegang, sehingga kepalanya sedikit mengintip dari balik celana dalamku. Semakin lama tonjolan di celana dalamku kian besar saja. Ia mulai mengelus-elus penisku sambil bibirnya mendarat di pahaku. Aku hanya dapat menggelinjang menahan nikmat.

Akhirnya ia pun melepas celana dalamku, sehingga aku telanjang bulat. Dengan serta merta ia mengambil posisi jongkok dan menaikkan kedua kakiku ke atas pundaknya yang kokoh. Kurasakan asshole-ku dijilati olehnya. Lidahnya nakal menjilati asshole-ku. Ia terus menggelitik asshole-ku dengan lidahnya. Aku mengerang sambil kedua tanganku berpegangan erat pada rumput yang tumbuh di sana. Ia semakin liar menjilati asshole-ku dan kadang kala menggigit bulu-bulu lembut yang menghiasi asshole-ku dengan mesra. Akhirnya ia berhenti menjilati asshole-ku dan kulihat ia membasahi jari-jari tangannya dengan ludahnya dan kemudian kurasakan ada sesuatu yang menusuk-nusuk asshole-ku.

Aku merintih kesakitan. Lama barulah jarinya dapat masuk ke asshole-ku, kemudian dengan gerakan ritmis ia mulai memaju-mundurkan jarinya. Aku merasakan sakit tetapi juga nikmat luar biasa. Aku hanya dapat merintih dan menggelinjang. Lama kelamaan rasa sakit itupun berubah menjadi nikmat. Ia terus menggerak-gerakkan jarinya sambil sesekali menjilat buah zakarku yang berbulu. Kurasakan ia mengulum buah zakarku sambil tangannya bergerak-gerak di asshole-ku. Semakin lama semakin cepat ia menusuk-nusuk asshole-ku dan semakin kuat ia mengulum dan menyedot buah zakarku. Aku hanya dapat meringis.

Ia kemudian mengeluarkan jarinya sambil menurunkan kakiku dari pundaknya. Akhirnya ia pun meraih batang kejantananku yang kian mengeras. Perlahan dikocoknya penisku. Kurasakan lidahnya mulai menjilati kepala penisku yang membesar dan mengkilat. Tak lama kemudian kepala penisku sudah masuk semuanya ke rongga mulutnya. Ia terus mengocok sementara mulutnya sibuk mengenyot dan menyedot penisku. Perlahan ia mengocoknya, sementara tangan kirinya mengelus-elus buah zakarku. Ia terus mengenyot.. menyedot.. mengocok dan mengelus. Aku kian meronta dan menggelinjang sambil tanganku meremas-remas rambutnya yang hitam tebal.

Kulihat ia memutar posisi tubuhnya sehingga membentuk posisi 69. Ia terus mengocok.. mengulum dan menyedot-nyedot penisku. Sementara aku sibuk membuka kancing celana jeans-nya dan akhirnya aku pun berhasil memelorotkan celananya. Serta merta aku memelorotkan celana dalamnya, sehingga tampaklah olehku penisnya yang beukuran besar dengan rambut yang lebat menggantung tepat di wajahku.

Serta merta aku meraih batang kejantanannya dan kukocok perlahan dan kumasukkan ke mulutku. Mulutku terasa penuh. Aku terus mengocok perlahan sambil tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang padat. Akhirnya jari kiriku menemukan asshole-nya. Jari kiriku mulai keluar masuk asshole-nya sementara ia menggoyang-goyangkan pantatnya dengan teratur. Aku terus mengocok dan mengenyot penisnya.

Kurasakan penisku berdenyut-denyut dan otot pahaku mengejang. Akhirnya, crett.. crett.. crett.. Spermaku tumpah ruah di mulutnya. Ia terus mengulum penisku sambil terus mengocoknya perlahan-lahan. Aku pun melenguh panjang, "Oughh yess..!"

Kemudian dilepaskannya kenyotannya dan perlahan-lahan dijilatinya kepala penisku yang berlumuran sperma. Hangat dan anyir. Setelah bersih, ia pun berguling, sehingga sekarang aku yang menindih tubuhnya yang perkasa. Aku terus mengocoknya dan aku mulai menjilati bulu-bulu lebat yang tumbuh di atas penisnya. Kemudian aku menjilati batang penisnya yang besar berurat dan akhirnya kepala penisnya yang merah dan membesar masuk ke dalam mulutku dengan sukses.

Kupercepat kocokanku dan kuperkuat sedotan dan kenyotanku ketika kurasakan penisnya berdenyut-denyut. Kudengar ia mengerang sambil kedua tangannya berpegangan erat pada pinggangku. Semakin cepat aku mengocok dan mengenyotnya, semakin keras pula ia melenguh. Ougghh.. Aku terus mengocoknya dan mengenyotnya sambil tangan kiriku mengelus-elus buah zakarnya dan pahanya yang berbulu halus.

Akhirnya, crott.. crott.. crott.. Cairan kental berwarna putih serta berbau anyir itu pun muncrat dan tumpah ruah di mulutku. Kudengar ia melenguh panjang.
"Oughh yess..!" kutelan semua spermanya, dan perlahan-lahan aku mengocok penisnya yang sudah mulai berkurang ketegangannya.
Kemudian kulepaskan kulumanku dan aku mulai menjilati kepala penisnya yang berlumuran sperma bagaikan menjilat es krim terenak di dunia.

Kemudian kurebahkan tubuhku di sisi tubuhnya. Dengan mesra ia mencium keningku, kemudian turun ke bibirku. Aku dan ia pun kembali berpagut sambil saling berpelukan erat dan hangat. Akhirnya ia pun tiduran telentang dan aku sandarkan kepalaku ke lengannya yang kokoh.

Kupandangi langit yang berhiaskan bulan dan bertaburan bintang. Aku tersenyum menatap sang dewi malam yang telah menjadi saksi bagiku. Kulihat rembulan pun serasa ikut tersenyum menikmati permainku dengannya. Sebuah pengalaman romantis yang mungkin hanya berada dalam angan-angan. Percintaan yang menggelora di tengah padang rumput nan membentang luas dengan disirami oleh cahaya rembulan yang terang benderang.

Angin pun seakan tak kuasa memberi rasa dingin pada dua sosok tubuh yang sedang memadu cinta dengan nafsu yang menggelora. Kulihat ia sudah tertidur pulas karena kelelahan. Kupandangi wajahnya dan tubuh polosnya yang putih bersih disiram cahaya rembulan dengan butiran-butiran halus keringat yang membasahi tubuhnya tampak mengkilat ditimpa cahaya rembulan. Kupeluk erat tubuhnya dan kusandarkan kepalaku di dadanya yang bidang berbulu lebat. Kupejamkan mataku dan kuresapi bau tubuhnya yang maskulin.

Tanganku tiada henti-hentinya menggerayangi seluruh titik tubuhnya yang berbulu. Kuraba lagi perutnya yang berbulu lebat, kemudian turun ke bulu-bulu lebat yang tumbuh di atas penisnya. Kumainkan jari-jariku di sela-sela bulu hitam itu. Kemudian tanganku meraba dan mengelus-elus buah zakarnya, kemudian kupindahkan sasaranku ke penisnya yang sudah kembali ke ukuran semula. Aku hanya tersenyum sambil mempermainkan penisnya. Kukecup dadanya dan kucium bau keringatnya yang khas seorang laki-laki. Tanpa terasa aku pun tertidur di dadanya sambil tanganku mendekap penisnya.

Aku tersentak kaget ketika kurasakan ada cahaya yang menyilaukan mengenai kelopak mataku. Kubuka mataku perlahan-lahan dan kupicingkan mataku ke arah sumber cahaya itu. Ternyata itu adalah cahaya matahari pagi yang masuk menerobos jendela kamarku. Seketika aku tersentak dan kupandangi sekelilingku. Kosong. Kemana gerangan perginya sang pangeranku? Kurasakan celana dalamku basah dan kupegang penisku ternyata basah oleh spermaku. Kupegang cairan itu terasa lengket dan tercium olehku bau anyir khas bau sperma. Aku baru sadar kalau ternyata aku hanya mimpi.

"Sialan..!" pikirku.

Hubungan Seks Pertama

Cerita ini merupakan pengalaman seks aku yang pertama kalinya dengan seorang anak laki-laki. Dulu saat aku kelas 1 SMA, aku mempunyai banyak teman, dari yang lebih tua sampai yang lebih muda umurnya. Aku mempunyai seorang teman yang bernama Andi, entah kenapa aku sangat tertarik kepadanya. Memang sejak aku SMP aku suka sekali onani sampai klimaks. Dan Andi pun menceritakan bahwa hingga sekarang pun dia suka onani (setiap kali kalau sedang mandi, katanya). Kami berteman cukup lama. Dan aku selalu menyimpan perasaan suka itu.

Awal mulanya begini, kami berdua masuk suatu organisasi (bukan organisasi terlarang), dan diadakan acara di sekolah, kami semua menginap di sekolah. Acara itu diadakan pada sore hari. Dan pada saat mau tidur, aku dan Andi tidak bisa tidur. Kami ngobrol dan bercanda di ruangan sebelah yang agak jauh dari ruang tidur anak-anak yang lainnya. Entah kenapa benda panjang milikku waktu itu berdiri tegak terus. Andi pun menanyakan apa yang kupikirkan sehingga kemaluanku berdiri tegak. Dia pun merabanya, walaupun aku masih mengenakan baju lengkap. Aku juga meraba rudalnya yang masih terbungkus celana pendeknya. Pada saat itu aku tidak sadar bahwa Andi pun adalah seorang gay. Dia pun memulai perbincangan tentang seks dan lainnya. Dia meminta agar aku memperlihatkan benda panjangku yang berdiri tegak itu kepadanya. Dan anehnya, aku menuruti kemauannya.

Di ruangan yang gelap itu, aku pun membuka bajuku satu-persatu, mulai dari kaos dan celana pendekku. Dan Andi pun mulai membuka semua pakaiannya dan ternyata ia sudah telanjang bulat dengan batang kemaluan yang setengah tegang. Bulu kemaluannya waktu itu sudah terlihat mulai lebat. Saat itu aku belum membuka celana dalamku, dan batang kejantananku sudah berdiri sangat tegaknya karena ditambahnya pemandangan tubuh telanjang Andi.

Lalu Andi pun membatuku membukakan celana dalamku. Dia berlutut di depan batangku yang mengeras. Andi sedikit tertawa melihat ke arah batang kejantananku, karena ia tidak melihat adanya bulu kemaluan di sekitar benda pusakaku, karena memang kemarin harinya aku sengaja mencukurnya sampai habis. Dengan demikian terlihatlah batang kejantananku yang besar. Berdiri tegak dengan sempurna sampai sedikit berdenyut. Memang saat itu yang lebih bergairah adalah Andi, karena aku sengaja diam saja untuk melihat reaksinya. Ternyata sadis sekali pemandangan itu.

Lalu ia pun langsung menyuruhku duduk di kursi dan ia pun mengulum batang kejantananku, dan wah.. nikmat sekali. Andi memainkan senjataku dengan lidahnya di dalam mulutnya dan semakin nikmat aku merasakannya. Disedotnya burungku dengan kuatnya, dan aku hanya bisa terpejam merasakan nikmatnya kuluman Andi. Kurang lebih 15 menit kemaluanku dimainkan Andi. Aku pun merasakan bahwa aku akan mencapai puncaknya. Lalu Andi mengeluarkan batang kejantananku dari mulutnya dan ia mengocok kembali rudalku dengan tangannya dan, "Crrott.. crott..!" keluarlah cairan putih kental dari dalam kemaluanku dan aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Ternyata Andi tidak puas begitu saja. Ia menjilati seluruh spermaku yang tumpah ke perut dan dadaku serta ia juga menciumi aku sehingga kami saling bercumbu dengan posisi Andi duduk di pangkuanku. Aku pun hanya pasrah dan menuruti saja apa yang Andi mau. Lalu ia menyuruhku berdiri dan telungkup di atas meja. Ternyata ia mulai memasukkan kemaluannya yang lumayan besar itu ke dalam anusku.

Awalnya aku merasa sakit karena ada benda sebesar itu masuk ke lubang anusku yang sempit. Tapi perlahan-lahan rasa sakit itu hilang, dan Andi pun mulai beraksi setelah masuk semua batang kejantanannya ke dalam anusku. Aku pun merasakan ada yang mengalir di dalam anusku, dan ternyata itu adalah spermanya Andi.

Setelah kami berdua merasa lelah, kami pun menyudahi permainan nikmat itu. Aku mulai memakaikan baju ke Andi karena ia sudah kelihatan sangat lelah. Setelah itu Andi pun memakaikan aku baju. Pertama kaosku, eh ternyata dia tidak langsung memakaikan aku celana dalam, yang kulihat dia malah mengulum kemaluanku yang sudah lemas tadi sampai mulai berdiri tegak kembali. Melihat hal itu aku membiarkan saja, dan aku kembali mencapai puncaknya untuk kedua kalinya. Setelah itu ia baru memakaikan semua pakaianku.

Kebiasaanku tidak hanya berhenti sampai disitu saja, karena diriku sekarang sudah menjadi seorang gay yang selalu merindukan yang namanya kemaluan lelaki. Kehidupanku selanjutnya mengalami beberapa pengalaman indah seperti kejadian saat aku kelas 2 SMA. Hal serupa juga terjadi disaat organisasi kami mengadakan acara untuk liburan sekolah.

Akhirnya, saat yang kutunggu-tunggu telah tiba, yaitu liburan kenaikan kelas. Untung saja aku naik kelas 3. Dan liburan ini sangatlah lama. Pada pertengahan bulan Juli akan diadakan acara retret yang dilakukan oleh organisasiku. Acara ini berlangsung selama 3 hari 2 malam di daerah Cipanas. Karena liburan waktunya lama, jadi aku ikutan saja pergi. Seminggu sebelum keberangkatan, diadakan rapat dan semua peserta harus ikut untuk pemberitahuan apa saja yang harus dibawa saat itu. Pada rapat itu, ternyata Andi pun datang dan dia juga ternyata ikutan pergi. Dalam hati aku merasa senang sekali kalau dia itu ikutan, apalagi kalau nanti aku bisa sekamar dengan dia.

Akhirnya hari keberangkatan pun tiba, dan kami semua pergi dengan senang tanpa harus memikirkan tentang sekolah lagi. Kami tiba di tempat tujuan pada sore hari. Setelah tiba disana, kami pun beristirahat sejenak dan pembagian kamar pun dimulai. Dimana peserta yang hadir ada 30 orang dan satu kamar hanya diisi 3 orang saja (supaya kalau mau tidur tidak berisik).

Dengan rasa gembira, ternyata aku sekamar dengan Andi dan dia terlihat gembira juga. Teman kami yang satunya bernama Johan. Dia juga sekelas dengan Andi pada satu sekolah. Acara demi acara kami lalui bersama, dan tibalah untuk tidur malam. Akhirnya semua peserta pun masuk ke kamarnya masing-masing dan menguncinya.

Pada malam itu, aku, Andi, dan Johan tidak bisa tidur. Kami hanya mengabiskan waktu dengan bermain kartu, bercanda dan ngobrol agar kami bisa tidur nantinya. Memang kata Andi kalau Johan ini suka ngomong yang seenaknya, tapi selalu benar, alias suka ceplas-ceplos saja. Aku dan Andi agak sedikit jengkel dibuatnya, tapi kami tidak bisa marah, masalahnya Johan ini orangnya lucu. Maka aku dan Andi sepakat untuk ngerjain dia (bukan sampai ke hal yang gituan lho..).

Kami pun menjalankan rencana kami berdua. Karena Andi badannya lebih besar dari Johan dan aku, makanya aku suruh dia untuk memegangi Johan. Aku mengelitiki dia sampai kelelahan ketawa dan minta ampun ke kami berdua. Karena melihat sudah lemas karena kebanyakan ketawa, Andi pun menyuruhku menelanjanginya dan Johan hanya bisa berontak, tapi apa daya. Lalu dengan cepat aku menelanjangi Johan sampai tidak ada satu benang pun menempel di badannya. Maka dari itu terlihatlah badan Johan yang kecil, putih dan agak kurus itu, juga terlihat batang kemaluan yang kecil dan masih dalam kondisi tidur. Aku pun gantian memegangi Johan dengan Andi.

Yang kulihat justru Andi membuka semua bajunya sampai telanjang, aku sih hanya diam saja, karena aku tahu apa maksudnya dan juga aku melihat batang kemaluan Andi yang mulai tegang. Namun Johan tidak tahu bahwa Andi sudah telanjang, karena wajahnya kututupi dengan bantal. Andi pun mulai membelai-belai lembut batang kemaluan Johan, dan dengan seketika menjadi tegang rudal putihnya. Aku yang melihatnya menjadi sangat bernafsu, karena tidak ada satu bulu kemaluan pun terlihat (belum tumbuh) dan aku merasa bahwa senjata rahasiaku mulai bergerak semakin besar. Andi pun langsung menciumi Johan, mulai dari mulutnya dan terus ke seluruh badannya dan terlihat Johan sangat menikmatinya.

Setelah terlihat mulai tidak berontak, aku pun melepas peganganku. Aku duduk sejenak melihat aksi Andi. Ternyata aku tidak tahan lagi, dan aku buka semua pakaianku sampai aku telanjang bulat juga. Batang kemaluanku sudah tegang dari tadi dan sudah sangat keras. Saat itu aku mencukur seluruh bulu kemaluanku sehingga terlihat licin, sekilas terlihat sama dengan kepunyaan Johan.

Aku pun ikut dalam permainan tersebut. Johan pun kami berdirikan, Andi dan aku terus menciumi Johan dan merabanya sampai dia merasa nikmat. Andi mulai mengarahkan batang kejantanannya untuk dimasukkan ke dalam anus Johan, dan aku mulai mengulum rudal putihnya. Akhirnya Andi pun mencapai orgasmenya setelah terus mengocok batang kejantanannya di dalam anus Johan. Dan tumpahlah air mani Andi ke dalam anus Johan. Karena aku melihat bahwa Johan akan sampai pada orgasmenya, aku berhenti mengulum batang rudalnya. Andi pun mulai mengeluarkan batangnya yang mulai lemas dari anus Johan. Batang kemaluan Johan kutuntun untuk masuk ke dalam anusku. Dan Andi pun mengulum batang kemaluanku dengan nafsunya.

Coba bayangkan, batang kemaluanku dikulum dan Johan mnyodomiku, kenikmatannya sudah tidak terbayangkan lagi. Akhirnya semua badanku mengejang dan sepertinya sudah mau keluar. Bersamaan dengan itu, air mani Johan pun tumpah ke dalam anusku. Dan selang waktu yang tidak lama, maniku pun keluar membasahi wajah dan mulut Andi. Wow.. luar biasa deh enaknya. Sampai-sampai aku tidak kuat berdiri lagi.

Lalu pelan-pelan batang kejantanan Johan mulai dikeluarkan, dan Andi pun mulai membersihkan semua maniku yang tumpah ke wajahnya dan sedikit ke badanku. Aku pun hanya bisa tiduran di lantai karena merasa sudah sangat lelah. Karena Johan merasa tidak terima perbuatanku terhadapnya, maka dia langsung mencium aku dengan nafsu dan kubiarkan saja badanku diciumi Johan yang juga diikuti Andi. Aku hanya diam saja, hingga mereka berdua puas bermain dengan badan dan batang kemaluanku. Batang kejantananku yang tadinya mulai melemas, mereka paksa untuk berdiri tegak lagi. Dan yang kulihat, kemaluan mereka berdua mulai berdiri juga.

Aku pun mulai mengulum rudalnya Andi, dan akhirnya kami saling mengulum rudal teman. Entah setan apa yang ada, Andi langsung memasukkan kembali batang kejantanannya ke anusku, dan terpaksa batang kejantananku juga kumasukkan ke anus Johan, sehingga kami saling menyodomi. Tanganku mulai mengocok batang kejantanan Johan yang lebih kecil dari milik kami berdua. Merasakan bahwa batang kejantanan Andi dikeluarkan dari anusku, aku pun ikut mengeluarkan rudalku dari anus Johan. Kami bertiga saling berpelukan dan mengocok kemaluan yang lainnya. Akhirnya kami sampai pada klimaksnya, dan air mani kami bertiga membasahi seluruh tubuh kami. Dan saat itu kami saling berciuman.

Untung saja kamar mandinya ada di dalam kamar, sehingga kami tidak perlu keluar dengan keadaan badan penuh sperma dan sedikit lengket gitu. Soalnya kalau ketahuan bisa celaka.

Kami bertiga pun saling membersihkan badan kami dari air mani yang menempel di badan kami. Kami saling mengelap badan kami dari wajah sampai kaki dan tidak lupa kemaluan kami. Tapi apa daya, merasakan batang kemaluan kami masing-masing dielus-elus teman, maka berdiri lagi lah kemaluan kami. Dan kami saling tertawa melihat kemaluan masing-masing yang sedang berdiri tegang. Tapi kami tidak saling berhubungan badan lagi, karena sudah merasa sangat lelah setelah 2 kali klimaks.

Akhirnya kami pun pergi tidur dan istirahat. Dan kami bertiga putuskan untuk tidur tanpa busana. Kami bertiga tidur saling berpelukan dengan Johan berada di tengah-tengah dan saling memegang kemaluan yang lainnya.

Harapan Menjadi Kenyataan

Namaku Andi. Ini adalah pengalaman pertamaku dalam melakukan hubungan gay sex, dimana cerita ini berawal ketika temanku yang namanya Joko, minta bantuanku memperbaiki komputernya yang rusak. Dia datang ke rumahku bersama seorang cowok yang wajahnya putih bersih dan matanya yang agak sipit hingga terlihat bahwa ia adalah warga keturunan tionghoa.

"Andi kenalkan ini Pak Alex, dia adalah pimpinan di tempat saya mengajar kursus komputer" ujar Joko memperkenalkan.
"Oh, Pak Alex" sapaku. Aku terkejut melihatnya yang begitu ganteng, yang merupakan cowok impianku selama ini.
"Silakan masuk Pak" ajakku.

Setelah beberapa beberapa jam lamanya, akhirnya aku selesai memperbaiki komputer Joko. Sebelum pulang Pak Alex menawarkanu untuk mengajar di tempat kursusnya karena menurutnya aku mungkin bisa juga untuk mengajar sekaligus menjadi teknisi komputer. Sejak itu aku selalu terbayang wajah Pak Alex. Dalam hati aku bertanya mungkinkah Pak Alex dapat aku miliki?

Beberapa hari kemudian Joko menelepon saya mengatakan bahwa kalau mau, besok aku diminta Pak Alex datang untuk mengajar kursus komputer di tempatnya dan disuruh membuat sebuah contoh makalah untuk mengajar. Semalaman aku berusaha untuk membuat makalah tersebut sebaik mungkin agar makalahnya bagus.

Keesokkan harinya pukul 9.30 aku berangkat, jarak antara tempat kursus tersebut sebenarnya tidak begitu jauh dari rumahku, paling 5 menit sudah sampai. Sesampai di sana aku langsung masuk ke gedung tersebut. Ketika masuk aku langsung menemui Pak Alex yang sedang asyik membaca koran di kantor administrasi.

"Selamat pagi Pak" sapaku.
"Pagi, silakan duduk, gimana sudah kamu buat makalahnya?" tanya Pak Alex.
"Sudah Pak, ini" jawabku sambil saya menyerahkan makalah tersebut.
"Bagus, gimana kalau sore nanti kamu mulai mengajar, sudah siap belum?" tanya Pak Alex sambil membaca makalah tersebut.
"Jam berapa Pak?" tanyaku.
"Jam 4.30 sampai 8.00, gimana?"
"Oke, aku siap Pak"
"Oke, selamat bergabung, kalau gitu sore nanti kamu datang lagi ke sini" pintanya.

Sebelum pulang aku berkenalan dengan para pengajar di sana, ternyata jumlah pengajar di sini ada 4 orang, satu cowok (yaitu teman saya Joko) dan tiga perempuan, terkadang Pak Alex juga ikut mengajar apabila ada seorang pengajar yang tidak bisa masuk.

Sekitar jam 4.00 sore aku sudah sampai di tempat kursus tersebut. Aku diminta Pak Alex menunggu karena muridnya yang akan diajari belum datang semuanya. Sambil duduk di kursi aku membaca makalah yang akan aku ajarkan. Tepat pukul 4.30 akhirnya semua murid sudah datang dan aku pun mulai mengajar. Awalnya aku agak grogi maklum ini merupakan pengalaman pertama kaliku mengajar komputer dan akhirnya semua itu dapat aku hilangkan.

Pukul 6.00 sore hari aku selesai mengajar. Semua murid akhirnya sudah pulang. Suasana saat itu cukup sepi hanya tinggal aku dan Pak Alex sedangkan para pengajar lainnya sudah pulang. Setelah mengajar aku duduk santai di ruang administrasi. Tiba-tiba Pak Alex duduk di dekatku sambil menawarkan makanan dia memegang pahaku sambil menggosoknya. Aku sangat terkejut, hal itu dilakukannya berulang kali. Aku diam saja ketika itu. Setelah beberapa saat sekitar jam 6.30 ada siswa yang datang untuk belajar. Akhirnya aku mulai mengajar lagi hingga jam 8.00 malam.

Ketika aku akan pulang Pak Alex menawarkan untuk mengantarku pulang ke rumah. Pertamanya aku menolak karena dia adalah pimpinanku, tapi akhirnya aku diantar Pak Alex pulang dengan mengendarai sepeda motor. Di perjalanan menuju rumah, Pak Alex kembali memegang pahaku sambil menggosoknya. Malam itu aku tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang telah dilakukan Pak Alex, aku bertanya dalam hati apakah mungkin Pak Alex juga seorang gay. Kalau ia memang seorang gay maka dia adalah merupakan cowok idamanku selama ini yang akan membuat impianku selama ini menjadi kenyataan. Aku lebih menyukai pria yang berumur 40 tahunan atau yang berwajah kebapakan.

Setelah beberapa hari aku mengajar, tepatnya pada malam Minggu, seperti biasa Pak Alex selalu mengantarku. Ketika kami akan pulang, motor Pak Alex tidak mau hidup, walau pun kami telah berusaha memperbaikinya hingga tangan kami hitam, sedangkan cuaca saat itu akan turun hujan hingga akhirnya Pak Alex mengajakku untuk menginap saja di tempat kursus tersebut. Awalnya aku menolak, tapi karena aku kasihan melihat Pak Alex karena rumahnya memang cukup jauh dari situ sekitar 30 menit baru sampai ke rumahnya dan juga ini merupakan kesempatan bagus bagiku untuk membuktikan apakah Pak Alex juga seorang gay, akhirnya kami menginap di sana.

Setelah memasukkan motor ke dalam, Pak Alex memintaku untuk mandi untuk membersihkan kotoran bekas motor, tapi aku hanya membersihkannya dengan sabun, begitu juga Pak Alex. Akhirnya kami duduk di kursi sambil mengobrol. Dalam obrolan itu aku bertanya kepada Pak Alex apakah ia sudah punya pacar, namun Pak Alex hanya menggelengkan kepala. Pak Alex bercerita bahwa dulu pada saat ia masih kuliah ia pernah menyukai seorang wanita akan tetapi wanita itu tidak menyukai Pak Alex hingga akhirnya sampai sekarang Pak Alex masih hidup sendiri. Dalam hati aku masih bertanya kok orang seganteng Pak Alex sampai sekarang ini belum ada yang mau, selain itu dari segi ekonomi ia sudah lebih dari cukup, maklum ia adalah warga keturunan Cina yang lebih suka membuka usaha.

Tidak terasa akhirnya jam sudah menunjukan pukul 11.00 malam, akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Sebelum tidur Pak Alex melepaskan celana panjang dan baju kemejanya hingga ia hanya memakai baju kaos dalam dan celana pendek hingga kelihatan lengan dan pahanya yang putih kemerahan dan ditumbuhi bulu tipis di lengan dan kakinya hingga membuatku terangsang, terutama di bagian selangkangnya yang terlihat menonjol. Walaupun usianya sudah 42 tahunan, namun ia masih kelihatan muda dan gagah.

"Nggak kedinginan Pak, di luar kan hujan deras lho?" tanyaku.
"Nggak, sudah biasa kalau mau tidur memang begini biar lebih adem" katanya.

Pak Alex tidur di atas kursi rotan dan aku tidur di bawah kursi dengan beralaskan busa kursi tersebut. Saat itu aku tidak bisa tidur. Sambil berbaring aku memandangi Pak Alex dari bawah kursi. Ketika aku baru akan memejamkan mata tiba-tiba Pak Alex bangun dari kursi dan dia memegangi pahaku kembali sambil mengelusnya. Melihatku hanya diam, akhirnya Pak Alex terus beraksi meraba dadaku hingga sampai ke burungku. Aku yang awalnya hanya diam kini mulai merasakan kenikmatan, hingga aku pun membalas perbuatan Pak Alex dengan meraba-raba pantat Pak Alex yang begitu kenyal. Melihat reaksiku seperti itu, Pak Alex pun bertambah nafsu hingga ia menciumi bibirku dengan begitu lembut, aku pun membalasnya.

Kami pun saling memainkan lidah dan saling sedot hingga beberapa menit, tak puas dengan hal itu Pak Alex melepaskan baju dan celanaku hingga aku tidak lagi memakai sehelai kain pun. Ia pun langsung melahap burungku, dijilatinya sambil meremas bijinya, lalu dalam posisi berdiri aku pun memajumundurkan pantatku hingga kadang semua burungku masuk ke dalam mulut Pak Alex hingga ke pangkalnya sampai aku merasa nikmat sekali. Selain itu tanganku pun ikut bereaksi dengan membuka baju dan celana Pak Alex hingga telanjang bulat.

Sesuatu yang sangat sempurna kulihat di depan mataku untuk pertama kalinya, ukuran yang cukup besar dengan kepala yang mengkilap yang diapit oleh dua biji yang lumayan besar di sekitarnya hingga kelihatan uratnya. Ini adalah pengalaman pertamaku namun naluriku membimbingku untuk dapat melakukannya. Pertama kali kujilati dari leher ke dada sampai ke burungnya, sekarang ganti aku yang menyantap burung Pak Alex. Kujilati topinya yang kenyal dengan aroma yang khas laki-laki dengan rasa asin dikarenakan tercampur keringat dan precum yang keluar. Kuurut bijinya, kukocok hingga begitu tegang dan besar, sesekali meremas pantatnya dan diselingi dengan menggigit puting dadanya. Pak Alex pun merasa kenikmatan.

"Oooh.., terus Andi, enak banget, ahh.., jilatan kamu mantap" desahnya.

Kami pun akhirnya tidur menyamping dengan posisi 69 sehingga kami dapat saling mengoral sehingga merasakan kenikmatan bersama. Cukup lama juga kami melakukan hal ini, sehingga seluruh badan kami basah oleh keringat dan air liur yang menambah semakin nikmat. Setelah itu Pak Alex berhenti dan memintaku untuk menusukkan burungku ke pantatnya.

Kami pun berpindah tempat, Pak Alex tiduran di atas meja sambil mengangkat kedua kakinya ke pundakku. Pantatnya yang begitu putih dan anusnya yang memerah siap menyambutku. Pertama kali ia menyuruhku untuk menusukkan jariku ke pantatnya, awalnya satu jari dan kemudian dua jari. Menurutnya ini untuk menghindari luka yang merupakan pemanasan awal. Setelah merasa sudah cukup siap, barulah aku menusukkan burungku ke pantat Pak Alex dengan memberikan sedikit air ludah sebagai pelumas. Awalnya sangat sulit namun perlahan akhirnya burungku dapat juga menembus pantat Pak Alex, perlahan aku mulai menggoyangkan pantatku.

"Enak baget Pak, ahh.. pantat bapak sempit sekali!" desahku.

Karena rasanya semakin enak, tak terasa goyanganku semakinku cepat, tanganku pun ikut bereaksi dengan mengocok burung Pak Alex. Sesekali aku menggigit puting dada Pak Alex hingga merah diselingi dengan ciumanku ke bibirnya. Terasa hidup ini sangat indah dengan penuh sensasi. Walaupun di luar sedang hujan yang sangat deras kami tidak merasa kedinginan.

"Pak Alex, aduh, ahh, enak banget!" desahku lagi.

Setelah beberapa saat, kami mengubah posisi. Pak Alex berbalik membungkuk dari arah belakang dan aku menusuk pantat Pak Alex. Terasa pantat Pak Alex lebih sempit lagi, lebih kuat menjepit burungku hingga dengan cepat aku majumundurkan pantatku sehingga kenikmatan yang tiada tara kurasakan hingga ke seluruh tubuhku dan membuat Pak Alex merasa sakit bercampur nikmat.

Akhirnya keluarlah air maniku yang hangat di dalam anus Pak Alex hingga beberapa kali. Belum sempat aku memulihkan tenaga, Pak Alex memintaku untuk mengoral burungnya yang hampir mendekati puncaknya. Selang beberapa menit akhirnya Pak Alex pun menembakkan air maninya ke mukaku hingga mukaku basah oleh air mani tersebut, lalu Pak Alex menjilati seluruh mukaku yang penuh air maninya hingga bersih. Akhirnya kami pun berciuman hingga aku merasakan bagaimana rasanya air mani yang begitu kental dengan rasa asin dan lengket di dalam mulut Pak Alex. Kami pun akhirnya terkulai lemas.

"Pak Alex, enak sekali" ujarku.
"Andi, kamu tidak hanya memilki keahlian dalam komputer tapi juga keahlian dalam sex hingga membuat Bapak merasa puas, bapak sangat sayang padamu" timpalnya.
"Aku juga sayang Bapak" jawabku sambil tersenyum dan memandangi wajah Pak Alex yang masih berkeringat.

Akhirnya kami pun tidur dengan menggunakan selimut sambil berpelukan karena udara malam yang mulai terasa dingin disebabkan hujan yang semakin deras disertai petir, hingga kami dapat saling merasakan kehangatan satu sama lain. Keesokan paginya kami bangun jam 6.00, dimana ketika mandi kami melakukan oral sex kembali walaupun hanya sebentar dikarenakan biasanya sebelum jam 8.00 murid yang akan belajar komputer banyak yang sudah datang. Akhirnya kegiatan ini sering kami lakukan jika kami saling membutuhkan kehangatan dan kenikmatan bersama.

*****

Demikianlah cerita dariku. Kepada teman-teman yang telah membaca cerita ini saya mohon maaf kalau tulisan ini tidak begitu bagus dan baik dalam penulisan dan kata, karena ini merupakan tulisan pertama saya, silakan anda memberikan saran dan kritik ke email saya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.


ilove_gayi@yahoo.com

Tuesday, January 22, 2008

Hadiah Ulang Tahun Dari Papaku

Saya adalah anak tunggal papaku. Sejak dulu, kami hanya hidup berdua saja. Mamaku telah lama bercerai dari papaku sejak saya masih SD kelas 1. Saya tak pernah mau tahu kenapa mereka bercerai. Sejak saat itu, saya tinggal dengan papaku. Papaku itu ganteng sekali. Meskipun usianya sekarang hampir mencapai 50, dia masih nampak awet muda. Rambutnya memang agak beruban, tapi tak terlalu menonjol. Kerutan memang mulai nampak di wajah tampannya itu namun tak sebanyak kerutan di wajah kebanyakkan pria berusia 50an. Tubuhnya memang tidak atletis, dengan sedikit lemak di bagian perut. Namun, secara keseluruhan, dia tak nampak gemuk sama sekali.

Kami dekat sekali, selalu berbagi kegembiraan dan kesedihan. Singkat kata, papaku itu papa yang terbaik sedunia. Saya amat menyayanginya, sampai-sampai terkadang saya mengira saya telah jatuh cinta padanya. Saya sendiri tak tahu bagaimana perasaan papaku terhadapku. Yang kutahu adalah bahwa dia amat sangat menyayangiku seperti seorang ayah menyayangi anaknya. Walaupun kami dekat sekali, norma-norma kesopanan tetap kami jaga. Saya tak pernah sekalipun melihat kontolnya, hanya sering melihat dadanya saja sebab dia suka berjalan telanjang memakai celana dalam saja. Saya sendiri sangat pemalu, saya tak mau papaku melihat tubuhku. Mungkin karena saya tak percaya diri dengan bentuk tubuhku yang agak terlalu langsing. Tapi semuanya akan segera berubah, tepat di malam ulang tahunku yang ke-18.

Malam itu, saya memutuskan untuk tidur lebih awal. Sekujur tubuhku letih sekali setelah latihan fisik di sekolah pagi tadi. Saya selalu benci pelajaran olahraga, karena saya tak terlalu suka capek. Tapi sisi baiknya, saya menjadi cepat mengantuk dan ingin tidur lebih pagi. Seperti biasa, saya telah melolosi semua pakaianku, dan berbaring telanjang bulat dengan nyaman. Bahkan saya tak ingin sehelai selimut pun menutupi tubuhku. Rasanya nyaman sekali dapat bebas dari belenggu pakaian yang harus kukenakan dari pagi sampai malam.

Dengan cepat, saya terlelap, tak menyadari bahwa sesosok bayangan pelan-pelan memasuki kamarku dan berdiri di sisi ranjangku. Tubuh telanjangku menjadi menu utama matanya. Saya baru tersadar ketika dia menepuk-nepuk pipiku dan membangunkanku. Begitu kedua matau terbuka, kulihat papaku berdiri menatap ketelanjanganku. Meskipun keadaan di kamarku remang-remang, namun cukup jelas untuk melihat segala sesuatu. Malu sekali, cepat-cepat kututupi kontolku yang setengah ngaceng dengan tanganku. 'Astaga, sudah berapa lama dia melihat tubuh telanjangku?' pikirku, wajahku memerah seperti kepiting rebus.

"Tak perlu malu, anakku," katanya, duduk di sisi ranjang.

Satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhnya hanya celana dalamnya yang agak terlihat usang. Bercak kekuningan nampak di bagian depan celana dalamnya di mana kontolnya mulai mendesak ingin keluar. Astaga, papaku ereksi melihat tubuhku!

"Kamu cakep sekali, anakku," katanya lagi, tangannya mulai membelai-belai bahuku.
"Ayolah, jangan kau tutupi kemaluanmu. Biarkan Papa melihatnya. Ayo."

Dengan lembut, dia berusaha menyingkirkan tanganku agar kontolku terekspos. Saya tak tahu harus berbuat apa selain membiarkannya.

"Anak Papa sudah besar, yah," komentarnya saat melihat kontolku mulai ngaceng.
"Bulu-bulunya lebat sekali," tambahnya lagi saat melihat bahwa dasar kontolku ditutupi bulu jembut yang rindang seperti hutan Amazon.

Saya tahu apa yang sedang papaku lakukan. Dia ingin merayuku. Dia ingin mengajakku untuk tidur dengnnya. Dia ingin bersetubuh denganku!! Agak ragu, saya berkata,

"Pa, jangan, Pa." Kurasakan tangannya yang kasar membelai-belai kontolku.
"Kumohon, Pa. Jangan," mohonku lagi.

Sebagian diriku memang ingin sekali bercinta dengannya, tapi sebagian lagi melarang. Incest itu salah dan dosa, apalagi incest yang satu ini melibatkan hubungan sesama jenis. Insting moralku memaksaku untuk menolak rayuan papaku.

"Jangan takut, anakku. Papa takkan menyakitimu. Papa hanya ingin bersamamu. Andai saja kau tahu betapa sendirinya Papa selama bertahun-tahun." Sahutnya dengan nada sedih yang mendalam.
"Alasan Papa tak menikahi wanita lain karena Papa sayang padamu. Papa sengaja menunggu, sampai kamu cukup umur. Sekarang kamu sudah berumur 18 tahun, anakku."

Kulihat jam weker di meja kecil yang terletak tepat di samping ranjangku. Jam itu menunjukkan pukul 12 lewat 45. Itu berarti, sudah 45 menit lamanya saya berumur 18tahun. Saya sudah dewasa!

"Papa punya sebuah hadiah ulang tahun untukmu, anakku."

Dengan itu, dia berdiri. Kemudian, tanpa malu, papaku mulai melepaskan celana dalamnya. Saya hanya dapat menatap kontolnya dengan pandangan tak berkedip, takjub sekali. Kontol papaku indah sekali. Panjangnya nyaris 20 cm, keras seperti baja, dan ukuran kepala kontolnya besar sekali. Bulu jembutnya tak selebat punyaku, mungkin kebanyakkan rontok.

"Pa, kenapa Papa menunjukkan batang Papa padaku?" tanyaku keheranan.

Seharusnya saya memalingkan mukaku, namun tak kulakukan. Mataku terpaku pada kontolnya yang menjulang tingi di depanku. Saya ingin melihat kontol papaku! Entah kenapa, kurasakan gairah yang bergelora di dalam diriku. Tanpa sadar, tanganku meraih ke depan dan menggenggam kontolnya. Aaahh.. Rasanya hangat dan keras. Kontol itu terasa amat hidup, berdenyut-denyut dengan nafsu birahi.

"Ayo, pegang saja, anakku. Ini hadiah Papa untukmu. Kamu sekarang sudah dewasa. Papa tak ingin kamu terjerumus dalam seks bebas. Papa tahu kamu mungkin ingin tahu banyak tentang seks. Papa akan ajarkan semua yang Papa tahu. Oh anakku, Papa sayang sekali padamu."

Kedua tangannya yang besar dan kasar meraba-raba punggungku. Kemudian, mereka beralih pada dadaku. Mulanya, papaku meremas-remasnya secara perlahan, namun makin lama, remasannya menjadi makin kuat. Tanganku ynag tadinya sibuk mengusap-ngusap kontol papaku, kini mulai mengocok-ngocoknya, berharap papaku akan 'keluar' sesegera mungkin. Nafsu mulai menguasai kami berdua. Desahan napas yang memburu-buru memenuhi kamarku. Kami saling bertatapan, saling mengetahui pikiran kami masing-masing.

Tiba-tiba, papaku memelukku. Tubuhnya sangat besar dibandingkan tubuhku. Sebenarnya jika dia ingin fitness, tubuhnya takkan kalah dengan tubuh Owen McKibbin, salah satu cover Men's Health yang hampir seumur dengan papaku. Dengan tubuhnya, papaku menindihku dan kami terjatuh ke atas ranjangku yang empuk. Kami saling bertatapan, mencari persetujuan dari masing-masing pihak.

"Anakku, apakah kamu menginginka Papa mengajarkanmu seks?" tanyanya, matanya menatapku penuh harapan, berharap saya mengatakan 'ya'.
"Ya, Papa. Ajari saya. Saya ingin tahu bagaimana caranya untuk memuaskanmu, Pa. Ajari saya. Saya siap, Pa," jawabku.

Benteng pertahananku runtuh. Sungguh tak mudah menolak rayuan ayah sendiri! Ditindih seperti itu, saya dapat merasakan degup jantung papaku. Rasanya kencang sekali. Kontolnya sendiri menempel pada anusku, berhubung papaku sedikit lebih tinggi dariku.

Papaku bangkit dan melepaskan tindihannya. Kemudian dia berdiri di sisi ranjangku sambil menyodorkan kontolnya yang kini mulai basah dengan cairan precum. Dalam jarak sedekat itu, akhirnya saya dapat melihat kontol papaku dengan jelas. Kontolnya sama seperti kontolku, belum disunat. Tapi karena tegang luar biasa, kepala kontolnya sudah keburu menyembul keluar dari kungkungan kulit khitannya. Dengan bangga, kepala kontol itu berdenyut-denyut di depanku, berkilauan dengan precum.

"Pelajaran pertama," kata papaku, "Oral seks. Sekarang coba kamu kulum kontol papamu ini. Pelan-pelan saja. Angap kontol ini seperti permen. Kulum dalam mulutmu dan jauhi gigimu. Kemudian hisap terus sambil menjilat-jilat. Terus lakukan itu sampai Papa ngecret."
"Baik, Pa."

Dengan patuh, saya duduk, memegang kontolnya dan kemudian memasukkannya ke dalam mulutku. Sayup-sayup terdengar desahan nikmatnya saat mulutku yang hangat menyelimuti kepala kontolnya. Meskipun baru pertama kali sebatang kontol bersarang di dalam mulutku, namun instingku mengajariku bagaimana cara memuaskan kontol. Kuikuti saran papaku; kuhisap-hisap kepala kontolnya dan kujilati kepala itu. Papaku mengerang-ngerang seperti orang kesakitan. Saya malah semakin bersemangat. Pertama kali, sejujurnya, rasa kontol itu agak aneh, sulit untuk melukiskannya. Rasanya agak asin bercampur manis. Baunya pun sedikit pesing dan tajam. Saya jadi teringat bau celana dalamku sendiri. Tapi lama-kelaman, semuanya terasa enak.

Tanpa ampun, kusedot kontol papaku sekuat-kuatnya. Mulutku telah berubah fungsi menjadi vacum cleaner. Kubayangkan saya sedang menyedot sari buah kelapa dengan menggunakan sedotan ajaib. Tiba-tiba rasa asin menyerang lidahku. Cairan licin mulai membanjiri lidahku, mengalir keluar dari dalam lubang kontolnya. Saya tahu cairan apa itu. Itu adalah precum. Saya sering melihatnya ketika saya asyik mencoli kontolku sendiri. Papaku semakin bergairah, tubuhnya sedikit terguncang karena nikmatnya hisapanku. Tangannya kembali meraba-raba punggung dan dadaku. Papaku memang tahu benar cara merangsang sesama pria.

".. Hhhoohh.. Hisap terus, nak.. Ooohh.. Yyyeess.. Hisap kontol Papa.. Aaahh.. Kontol yang dulu membuatmu.. Uuugghh.. Papa sayang kamu.. Hhoohh.."

Erangan-erangannya semakin lama semakin tak jelas terdengar. Yang lebih terdengar adalah suara deruan napasnya yang berat.

".. Hhoohh.. Uuugghh.. Hhhoosshh.. Aaahh.."

Terlalu asyik dihisap oleh muluku, Papa rupanya ingin mengambil kendali. Bagikan sedang mengentot, kontolnya didorong-dorong masuk ke dalam mulutku. Terkadang kontol papaku masuk terlalu dalam sampai hampir menutup kerongkonganku. Berkali-kali saya hampir tersedak namun selalu dapat kutahan. Seiring dnegan waktu, nafsu menjadi smeakin besar, mendorong spermanya keluar. Dengan lolongan keras, papaku menekankan kontolnya dalam-dalam, tangannya mengcengkeram kepalaku kuat-kuat. Berikutnya, kontolnya jebol. CCROOTT!! CCROOTT!! CCRROTT!!

".. AaaAARRGGHH..!!"

Bagaikan air bah, pejuhnya menerjang masuk dan turun ke kerongkonganku. Tak ada waktu untuk menghindar, apalgi papaku memegang kepalaku. Tak ada pilihan lain. Terpaksa kutelan semua air maninya. Rasanya asin dan aneh. Saya tak pernah mencicipi apapun dengan rasa aneh seperti itu. Tapi bairpun aneh, menurutku rasanya lumayan enak. Jadi, tanpa protes, saya menelan semua, habis tak bersisa. Sementara itu tubuh papaku masih mengejang-ngejang, menuntaskan orgasmenya.

"AARRGHH!! UUGGHH!! OOHH!! AAHH.. UUHH.." begitu semuanya usai, papaku menarik kontolnya keluar.

Saya agak kecewa sebab saya masih ingin lagi. Papaku nampak letih sekali, keringat bermunculan dari pori-porinya.

"Pa, saya suka nyedot kontol Papa. Enak, sih," sahutku, tersenyum mesum. Setetes pejuh nampak mengalir keluar dari sudut bibirku.
"Baguslah. Papa harap kamu suka dengan hadiah Papa," jawab papaku, memelukku.

Ah, pelukannya hangat sekali dan penuh cinta. Saya merasa aman sekali dalam pelukannya. Ingin rasanya waktu berhenti selamanya agar papaku dan saya dapat tetap berpelukkan seperti itu.

"Papa masih punya hadiah lain untukmu, anakku," katanya sambil melepaskan pelukannya.

Dengan penuh cinta, papaku membaringkanku di atas ranjangku. Bantalku diletakkan tepat di bawah pinggulku. Dengan demikian, pantatku terekspos, sangat rawan untuk dikerjain. Papaku yang perkasa itu lalu naik ke atas ranjang dan berlutut di depan kakiku.

"Papa mau memberimu hadiah yang terbaik, nak. Pantatmu akan Papa isi dengan cairan kelaki-lakian Papa. Kamu mau, 'kan?" Saya menganguk-ngangguk, tanda setuju.

"Mulanya akan sakit, tapi kamu tahan, yah. Kamu 'kan sudah berusia 18 tahun sekarang. Sebentar lagi kamu akan kuliah. Kamu harus belajar untuk menerima penderitaan dalam hidupmu agar kamu kuat menjalani hidup ini. Jadi, kamu harus sanggup menahan rasa sakit ini, oke?"

Saya kembali mengangguk, mempersiapkan diriku untuk menerima kontolnya. Papaku merentangkan kedua kakiku dan membukanya lebar-lebar.

"Aaahh.. Lubang pantatmu seksi sekali, nak. Papa tusuk, ya?" Kembali saya mengangguk.

Setelah mendapat izinku, papaku langsung menancapkan kepala kontolnya pada anusku. Mulanya agak susah, yapi dia tetap memaksa dan mendorong.

"Ooohh.. Pa, tusuk pantatku, Pa.. Ooohh.. Ayo, Pa.. Saya sudah tak tahan lagi.. Ooohh.."

Saya kemudian diperintahkan untuk 'ngeden' agar anusku terbuka. Meski bingung, saya menurut saja. Begitu saya 'ngeden', tiba-tiba kontol Papa yang besar langsung menancap masuk.

"AARRGGHH..!!" teriakku, sakitnya sungguh tak terkira.

Anusku serasa terbuka lebar-lebar, terasa jelas gesekan antara kontolnya dengan dinding dalam pantatku. Begitu kepala kontol Papa masuk dengan suara PLUP! lubangku menutup dan mencekik batang kontol Papa. Saya langsung merasa penuh sekali; kontol Papa terasa besar sekali di dalam perutku. Anusku masih berkedut-kedut dengan rasa sakit seperti luka bakar, tapi sampai sejauh itu saya masih sanggup bertahan.

"Ini baru anak Papa. Papa bangga padamu, nak. Kamu sanggup menerima kontol Papa yang besar ini. Sekarang Papa genjot, ya. Kamu harus bertahan, ok?"

Papa menciumiku lalu kembali berkonsentrasi pada kontolnya. Begitu Papa mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, saya mulai mengerang kesakitan. Rasanya anusku akan robek, tak sanggup menampung kontol Papa.

".. Ooohh.. Pa, sakit sekali rasanya.. Aaahh.. Saya tak kuat.."

Mataku berlinang air mata, saya menangis terisak-isak sambil menahan perih. Tapi papaku tak mengindahkanku. Dia tetap menggenjot pantatku. Kasihan sekali anusku. Sementara itu, erangan kesakitanku semakin menjadi-jadi. Saya mencoba untuk meronta-ronta, namun tak berhasil. Saya juga mencoba untuk menjauhi kontol papaku, namun kedua tangannya memegang kakiku erat-erat. Sementara itu, melihat perlawananku, papaku malah menjadi makin bernafsu.

Kontolnya didorong masuk sekeras mungkin sampai-sampai saya mengira dia akan melubangi perutku. Terasa sekali kontolnya meraba-raba ususku. Lalu tiba-tiba semua mulai berubah nikmat. Saya tak tahu kenapa, tapi ada sebuah gelombang nikmat yang menguras tenagaku. Tubuhku menggelinjang keenakkan seolah-olah saya sedang orgasme. Rasa sakit masih tetap ada, namun tertutupi oleh rasa nikmat yang berlipat ganda itu.

Napas papaku semakin memburu-buru. Keringat mulai berjatuhan dari wajahnya dan membasahi perutku. Pandangannya serius sekali, terkesan sedikit garang.

".. Hhhooh.. Hhoohh.. Pantatmu sempit sekali.. Aaahh.. Enak.. Aaarrgghh.. Papa genjot lebih kuat lagi ya? Uuugghh.. Hhoosshh.." Tubuh kami terguncang-guncang sampai-sampai ranjangku berderak-derak. Saya khawatir ranjangku akan rubuh, berhubung tenaga papaku besar sekali.
".. Ooohh.. Nak, Papa hampir sampai.. Hhhoohh.. Aaahh.."

Saya paham benar apa yang akan terjadi selanjutnya. Papaku akan ngecret! Untuk merangsangnya, saya mulai berkata-kata kotor.

".. Uugghh.. Ayo, Pa.. Ngentotin pantat anakmu ini.. Hhhohh.. Kontol Papa gede banget.. Ooohh.. Ngentotin saya, Pa.. Uuuhh.."

Usahaku berhasil sebab Papa semakin bersemangat. Ritme ngentotnya begitu cepat dan bertenaga. Anusku dihajar habis-habisan, tanpa ampun sedikit pun. Saya tak menyangka bahwa papaku jantan sekali. Saya membayangkan betapa repotnya Mamaku dulu karena harus melayani nafsu kuda pejantan ini. Siapa yang mengira bahwa papaku akan mengentotinku seperti saat ini.

".. AARRGGHH..!! Papa is.. CccCCUUMMINNGG!!" teriaknya, sok memakai bahasa Inggris.

CCRROTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!

Pejuhnya yang sepanas lava menerjang masuk, 'menghanguskan' isi pantatku. Setiap kali kontolnya menembakkan sperma, papaku melenguh seperti kerbau.

"UUGGHH..!! UUGGHH!! UUGGHH!! HHOOHH.."

Tubuhnya kelojotan, tetap berpegangan erat pada kedua kakiku yang terentang lebar-lebar.

"Uugghh.." desahnya saat tetes pejuh terakhir menetes keluar dari lubang kontolnya.

Papaku terbaring lemas, menimpa tubuhku. Napasnya yang panas mendera wajahku. Sebelum saya sempat ebrkata apa-apa, Papa tiba-tiba membalikkan badannya sambil memelukku. Jadi kini Papa berbaring di bawah sementara saya berada di atas tubuhnya yang bersimbah keringat.

"Giliranmu, anakku. Duduk di atas perut Papa dan kocok kontolmu. Papa ingin melihat pejuhmu tersembur keluar. Ayo, nak. Demi Papa. Mau 'kan?" bujuknya, membelai-belai rambutku.
"Tentu saja, Pa."

Saya duduk sementara kontol Papa masih bersarang di dalam pantatku. Papa memang hebat. Meskipun sudah ngecret dua kali, kontolnya masih saja tegang. Saya menunduk dan menyaksikan betapa ngacengnya kontolku itu. Kepala kontolku yang berwarna agak keungu-unguan itu berdenyut-denyut, dilumuri precum. Tanpa malu-malu, saya menggenggam kontolku dan mulai mengocoknya. Kontolku terus kukocok, naik-turun, naik-turun, naik-turun..

"Ooohh.. Hhhoohh.. Hhhoosshh.. Aaahh.. Uuuhh.."

Detak jantungku semakin cepat dan napasku semakin memburu. Sebentar saja, kontolku pun memuntahkan pejuhnya.

"Hhoohh.. Pa, saya ngecret.. Ooohh.."

CCRROOTT!! CCRROTT!! CCRROOTT!!

"AARRGGH..!! PPAAPPAA..!!" erangku, tubuhku mengejang-ngejang.

Untung saja kedua tangan papaku yang kuat memegangku sehingga saya tak terjatuh. Orgasme menguasaiku dan membutakan semuanya. Yang saya pikirkan hanyalah orgasme dan ejakulasi. Pejuhku terpancar jauh mengenai wajah papaku. Semakin ditembakkan, jaraknya semakin berkurang. Sekujur tubuh papaku penuh dengan noda-noda spermaku.

".. Aaarrgghh.." desahku ketika semuanya berakhir.
"Oh, anakku yang manis," papaku berbicara.

Tangannya menarik tubuhku sehingga saya pun jatuh menindih tubuh ayahku yang besar. Putingnya yang selalu kencang mengosok-gosok dadaku. Spermaku menempel pada tubuh kami berdua. Dari jauh, kami lebih mirip dua roti tawar yang diolesi dengan mayones.

"Selamat ulang tahun yang ke-18, anakku," sambungnya, "Ini hadiah Papa untukmu."
"Terima kasih, Pa," balasku, "Saya suka sekali dengan hadiah ini." Kucium papaku dengan mesra.
"Papa cinta padamu, anakku. Papa ingin agar kita selalu bersama, tak terpisahkan. Papa akan menjagamu selamanya, nak. Papa hanya minta cintamu sebagai balasannya."
"Papa tak perlu meminta hal itu. Saya juga cinta Papa. Saya terharu Papa pun memikirkan hal yang sama. Saya sayang Papa," kataku, merangkulnya erat-erat.

Air mata bahagia mengalir, membasahi pipiku. Saya tak peduli apa pandangan masyarakat, moral dan agama tentang hubungan incest homoseks ini. Yang kutahu adalah papaku dan saya saling mencintai. Takkan ada yang dapat menghalangi kami. Hari-hari kami selanjutnya selalu diisi dengan seks, seks, dan skes. Kami seakan tak pernah puas. Sayang sekali tak semua ayah dan anak memikirkan hal yang sama dengan yang kami pikirkan. Mereka tak tahu apa yang telah mereka lewatkan!

Guruku Juventius

Masa SMU merupakan masa yang menyenangkan, kata orang. Menurutku, mungkin saja benar. Di masa itulah, saya berkesempatan mengenal seorang Pak guru yang baik. Namanya Juventius, guru Inggris di sebuah SMU di Jakarta Pusat. Umurnya mungkin hampir 30 ketika saya baru masuk SMU. Dia juga Chinese sama sepertiku. Sebenarnya wajahnya biasa-biasa saja, berkacamata dan berambut pendek dan tipis. Tapi saya senang berada di dekatnya.

Kami semua memanggilnya Pak Juve. Dia guru yang baik, bahkan terlalu baik, sampai-sampai banyak murid bandel ogah mendengarkannya di kelas. Saya agak kasihan dengannya, sebab saya menyukainya. Bahasa Inggris memang pelajaran favoritku, maka saya sangat menikmati kehadirannya di kelas. Pak Juve memiliki sebuah kebiasaan 'unik'. Sewaktu mengajar di depan kelas, dia suka sekali memegang-megang ikat pinggangnya dan terkadang perutnya. Bagiku, hal itu sangat sensual. Kontolku sering ngaceng melihatnya begitu. Hubungan kami pun sangat baik sebab saya termasuk murid kesayangannya. Suatu hari, dia mengajakku ke rumahnya.

"Bapak butuh bantuan kamu untuk memasukkan nilai-nilai ulangan ke buku nilai," katanya, tersenyum manis padaku.

Saya tidak keberatan karena Pak Juve bersedia menyediakan transportasi. Pak Juve naik motor, maka saya berkesempatan memeluk pinggangnya. Aahh.. Nikmat sekali. Sepanjang perjalanan, kontolku ngaceng berat, membayangkan bercinta dengannya. Precum sudah membasahi celana dalamku, basah sekali.

Sesampainya kami di rumahnya, Pak Juve mempersilahkanku duduk di sofa sementara dia berganti pakaian. Agak gugup, saya menurutinya. Sementara itu benjolan di celana panjang abu-abuku sudah besar sekali. Pak Juve melihatnya sekilas dan hanya tersenyum saja, tapi saya merasa sangat malu. Ketika duduk, tonjolan itu masih saja terlihat. Terpaksa kututupi dengan tangan. Tapi tanpa sengaja, saya malah menyebabkan cairan precum, yang sudah membasahi celana dalamku, menembus ke celana abu-abuku.

Maka nampaklah bercak-bercak basah yang kontras sekali dengan celanaku. Pak Juve keluar beberapa menit kemudian dan saya hanya melongo saja. Bagaimana tidak melongo? Dia keluar hanya dengan sehelai handuk di pinggang! Dia tidak mengenakan pakaian sama sekali. Saya menelan ludah saat Pak Juve yang kucintai itu duduk di sampingku. Diam-diam, saya mencuri pandang dan menikmati pemandangan indah yang disuguhkannya. Pak Juve hanya seorang pria biasa, badannya biasa-biasa saja. Tapi dadanya kelihatan sangat seksi dengan puting coklat yang berdiri. Ingin rasanya kuremas dadanya itu. Untuk beberapa saat, kami berdua hanya duduk tanpa bicara.

"Kamu tidak perlu menutupi tonjolan itu," katanya tiba-tiba, seraya memegangi tanganku. Tentu saja saya terkejut tapi juga sekaligus senang.
"Kamu tidak perlu malu sama Bapak. Lagipula, Bapak juga laki-laki. Bapak sering tegang juga. Itu hal yang normal." Lalu dengan lembut, dia memindahkan tanganku dan tersingkaplah tonjolanku itu. Pak Juve hanya tertawa kecil melihatnya.
"Wah, kelihatannya kamu 'panas' sekali yach?" Saya tertunduk, malu sekali. Tiba-tiba, hal yang di luar dugaan terjadi lagi. Pak Juve mengelus-ngelus tonjolanku itu. Astaga, dia menyukai kontol.
"Bapak tahu kamu sering melihat Bapak di kelas. Bapak juga sering melihat kamu. Tapi baru saat ini, Bapak berani menumpahkan isi hati Bapak kepadamu, Endy. Bapak suka kamu. Bapak sayang kamu."

Jantungku berdegup kencang mendnegar pengakuan jujurnya itu. Ingin rasanya saya menciumnya, tapi saatnya belum tepat. Kupandang wajahnya dan kukatakan dengan jujur tentang perasaanku.

"Pak Juve, saya juga sayang ama Bapak. Saya ingin bercinta dengan Bapak."

Tanpa menjawab, Pak Juve langsung memelukku dan mengelus-ngelus tubuhku. Bibirnya mencium-cium wajahku. Kurasakan napasnya yang hangat mendarat di wajahku. Saya tidak butuh jawaban, saya tahu perasaannya. Pak Juve juga menginginkanku sebesar saya menginginkannya.

"Aahh.. Aahh.." desahku, kuelus-elus punggungnya yang telanjang. Ah, hangat sekali tubuhnya.
"Pak.. I love you.." bisikku, menciumnya balik.
"Oohh.. I love you, too, Endy.. Aahh.. Kamu seksi.. Oohh.."

Pak Juve mulai menelanjangiku. Sambil menciumku, kedua tangannya menjalar ke seragamku dan membuka kancing kemejaku. Setelah terbuka, saya segera melepaskannya dan melemparnya ke sudut ruangan. Kini dadaku terbuka dan Pak Juve dapat menikmatinya. Bagaikan bayi yang lapar, dia menyerang putingku dan dengan rakus dia menjilat-jilatnya. Saya melenguh-lenguh keenakkan seraya menggeliat-gelait. Putingku memang sangat sensitif. SLURP! SLURP! bunyi suara lidahnya. Kedua putingku langsung menegang, seksi sekali. Sesekali Pak Juve menggigit dengan lembut kedua putingku, membuatku makin liar.

"Aahh.. Oohh.. Enak banget.. Aahh.. Jilat terus.. Aahh.." erangku seraya memeluk kepalanya.
"Aahh.." Jilatan-jilatan lidah Pak Juve benar-benar membuatku kelojotan.

Saya harus berpegangan padanya agar saya tidak jatuh dari sofa. Tahu bahwa putingku sensitif, Pak Juve malah semakin beringas.

"Aahh.. Aahh.. Aahh.." Badanku menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. Rasa nikmat yang teramat sangat menyetrum tubuhku.

Puas mengerjai putingku, Pak Juve bergerak turun. Lidahnya bagaikan kain pel menyapu permukaan kulitku. Pusarku juga tak luput dari jilatan mesranya, meninggalkan bekas air liur. Lidahnya kemudian bergerak ke celana panjangku. Dengan tangkas, Pak Juve melepas celana panjangku. Saya bekerjasama dengannya sehingga celana itu terlepas seluruhnya kurang dari semenit. Celana dalamku yang belepotan precum juga ikut dilepas sehingga saya sudah telanjang bulat bagaikan bayi yang baru lahir. Kontolku menjulang tinggi di depan wajah Pak Juve.

"Penis kamu indah, Endy. Bapak suka," komentarnya.
"Bapak paling suka kontol," katanya lagi.

Lalu Pak Juve menelan kontolku yang berdenyut-denyut. Tanpa ampun, kontolku diemut habis dan dijilati. Saya hanya bisa mengerang-ngerang seraya meremas-remas kulit punggungnya. SLURP! SLURP! Pak Juve sangat menikmati kontolku. Kulupnya menutupi kepala kontolku ditarik ke bawah dan mulutnya mengerjai kepala kontolku yang teramat sensitif itu. Saya mengejang-ngejang, menahan nikmat.

"Aahh.. Oohh.. Pak.. Hampir muncrat.. Aahh.." Saya mengerang dan menggeliat.

Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan rasa nikmat yang dia berikan kepadaku. Hisapannya yang bertenaga dan lidahnya yang hebat telah melayangkanku ke awang-awang. Ketika saya hampir muncrat, Pak Juve mundur dan melepaskan hisapannya. Saya terengah-engah, menenangkan diriku. Saya tak ingin ngecret sebelum acara utama dimulai.

Posisi kami bertukar. Kini Pak Juve duduk di sofa sementara saya berlutut di depan kontolnya. Handuk yang tadi meliliti pinggangnya sudah dilepas. Kontol Pak Juve luar biasa tegang sampai-sampai kepala kontolnya berkilauan. Kulupnya sudah tertarik ke bawah. Kepala kontol yang berkilauan itu menatapku dengan lubang kontolnya. Langsung saja kujilati kontol Pak Juve naik turun seperti menjilat batang permen. Pak Juve hanya mengerang-ngerang tertahan seraya meremas-remas rambutku.

"Hhoohh.. Hhoohh.. Hhoohh.." desahnya. Bola matanya naik ke atas dan kemudian matanya terpejam rapat-rapat. Tangannya membimbing kepalaku agar saya dapat memberikan kepuasan lebih pada kontolnya.

Bosan menjilat, saya siap mengulum. Mulutku kubuka selebar-lebarnya dan kontolnya pun masuk. Mm.. Enak sekali. Mulutku penuh dengan kontolnya sehingga nampak menggembung. Saya mulai menghisap kontol itu dan menyodomi mulutku sendiri. Mulutku bergerak naik-turun batang kontol Pak Juve, membuatnya mengerang penuh kenikmatan.

"Aahh.. Aahh.. Hisap terus.. Hhoosshh.. Oohh.. Hisap kontol bapak.. Aahh.." Tiba-tiba kontolnya meledak!
"AARRGGHH!!" teriaknya.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Karena terkejut, saya melepaskan kontolnya. Saya bukannya jijik untuk menelan sperma, tapi saya belum siap. Jika kupaksakan, saya pasti tersedak. Kontol Pak Juve menyemburkan pejuh dengan liar seperti selang air yang tak terkendali. Sperma hangatnya melumuri wajahku. Aahh.. Nikmat dan hangat. Sebagian yang berada di bibirku, kujilati habis.

"AARRGGHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!" Pak Juve terus mengerang dan membiarkan kontolnya menguras habis isi spermanya. CCROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!

Ketika semuanya usai, saya merasa seperti 'cum pig'. Cum pig yang berarti babi pejuh adalah istilah untuk pria homoseksual yang gemar wajahnya atau badannya diciprati pejuh. Wajahku nampak keputih-putihan karena pejuh Pak Juve, tapi sya merasa seksi sekali. Saya senang bisa memuaskan nafsunya. Pak Juve memang sudah lemas tapi dia masih bernafsu.

Saya dibaringkan di atas sofa dengan kedua kaki terangkat lebar-lebar. Anusku yang perjaka berkedut-kedut penuh nafsu. Saya menantikan saat-saat indah itu. Pak Juve tersenyum mesum padaku saat kontolnya yang besar memulai ekspedisi menuju lubang pelepasanku.

"AARGGHH!!" erangku, sakit sekali.

Lubang anusku terasa seperti disobek. Rasa perih membakar anusku saat kontol itu bergerak semakin ke dalam. Perasaan aneh seakan-akan saya akan buang air besar memenuhi pikiranku. Saya tahu hal itu dikarenakan anusku tak terbiasa dengan sebatang kontol di dalamnya.

"AARRGGHH!!" erangku lagi, air mata mulai keluar. Saya berusaha menahan sakit namun saya tak bisa.
"Aahh.. Aahh.." desah Pak Juve keenakkan.
"Tahan, Endy.. Aahh.. Nanti juga enak, kok.. Oohh.. Tahan yach, sayang.. Aahh.. Bapak sayang kamu.. Aahh.." Pak Juve membelai-belai wajahku.

Saya merasa damai sekali dibelai olehnya. Rasa sakitku mulai berkurang seiring berjalannya waktu. Pak Juve masih terus memompa lubangku dengan penuh nafsu. Keringatnya berjatuhan di atas tubuh telanjangku. Saya merasa sangat 'telanjang' di hadapannya, dengan kontolnya sedang menyodomi anusku.

"Aahh.. Lubangmu enak sekali.. Aahh.. Ketat.. Oohh.." Karena saking nafsunya, kontolnya terlepas. Sambil mengeluh kecewa, Pak Juve kembali berniat untuk menusukkan kontolnya masuk ke dalam anusku.
"Hhohh.. Hhoohh.. Hhoohh.." Saya mendesah-desah, menahan sakit.

Saya merasa bahwa mendesah sambil dingentotin itu sangat membantu mengurangi rasa sakit. Dapat kurasakan kontol Pak Juve bergerak masuk kembali centi demi centi dan akhirnya batang itu sudah masuk semua. Selama beberapa menit, saya dibiarkan untuk beristirahat dan membiasakan diri dengan kontolnya itu. Kontolku sendiri ngaceng berat, tegak menjulang, dan terus-menerus mengeluarkan precum. Kukocok-kocok sebentar dan Pak Juve pun membungkukkan badannya untuk memberiku sebuah ciuman sayang.

"Kamu cakep sekali, Endy.. Dan pantatmu.. Aahh.. Sempit banget.. Aarrggh.. Fuck!" komentarnya, setengah meringis menahan nikmat. Kedua telapak tangannya menjelajahi dadaku. Ketika mereka menemukan putingku, tanpa ampun, putingku dipermainkan.

"Aarggh.. Aahh.. Oohh.. Aahh.." desahku, menggelinjang-gelinjang. Putingku memang amat sangat sensitif. Untuk sesaat, Pak Juve mengira saya sedang kesakitan, tapi belakangan dia mengerti.

"Aahh.. Pak Juve.. Mainin puting saya.. Aahh.. Tarik aja.. Aargghh.. Putar.. Uugghh.. Saya horny banget.. Aarrgghh.. Fuck me again.." Tanpa sadar, saya mengucapkannya. Saya memintanya untuk mengentotin pantatku yang haus kontol itu.

Pak Juve hanya tersenyum mesum saja sambil mencubiti kedua putingku yang keras melenting.

"OK, saya akan mengentotin pantatmu yang enak ini, ini lubang terenak yang pernah Bapak ngentotin.. Aahh.." Lalu dengan itu, sang guru idolaku pun kembali menggenjot pantatku.

"Aarrgghh.. Oohh.. Aarrgghh.." Kontolnya kembali melubangi pantatku seperti bor. Tanpa ampun, kontolnya menyerang masuk dan keluar dengan cepat. Hentakan pinggulnya begitu bertenaga sampai-sampai sofanya berderit-derit seperti pintu rusak. Keringatnya menetes turun, membasahi wajah dan badanku yang juga tak kalah berkeringat.

Seperti pelacur murahan, saya mengerang-ngerang keenakan. Tubuhku terdorong-dorong oleh hentakan kontolnya.

"Aarrggh.. Aarrgghh.. Fuck me.. Aahh.. Ngentotin saya Pak.. Aahh.. Kerasan lagi.. Yyaahh.. Aarrgghh.. Lebih dalam.. Aahh.. Enak banget.. Aarrgghh.." Setiap kali kontol itu memasuki lubang anusku, kepalanya menghantam prostatku. Rasanya tak terbayangkan. Rasa nikmat menguasai tubuhku dan kontolku pun terus-menerus mengalirkan precum dalam jumlah yang sangat luar biasa.

"Aarrggh.. Yyeeaahh.. Ngentotin terus, Pak.. Aarrgghh.. Yyeeaahh.. Ngentot.. Aarrgghh.." Tekanan-tekanan pada prostatku sangat luar biasa, memaksa pejuhku untuk muncrat keluar tanpa kusentuh.
"Aarrgghh.. Aarrgghh.." erangku sambil mengejang-ngejang. Dapat kurasakan bahwa orgasmeku akan tiba sebentar lagi.
"Aarrgghh.. Pak.. Mau ngecret.. Aarrgghh.."

"Uugghh.. Keluarkan aja, Endy.. Aahh.. Biarkan Bapak melihat.. Oohh.. Kontolmu ngecret.. Aahh.. Keluarkan sja.. Ayo, Endy.. Aahh.. Demi Pak Juve yang kamu cintai.. Aahh.. Keluarkan sekarang.." desak Pak Juve, masih merem-melek mengentotinku. Napasnya terasa berat dan memburu-buru.

"Aarrgghh.. Baik, Pak.. Aarrgghh.. Ngecret.. AARRGGHH!!" Dengan sebuah erangan panjang bak lenguhan seekor lembu, saya pun berejakulasi.

CCRROOTT!! CCRROTT!! CCRROOTT!! CCRREETT!! Pejuhku muncrat berhamburan ke mana-mana. Sebagian besar mendarat kembali ke atas tubuhku; sebagian lagi mengotori tubuh Pak Juve. Rasa nikmat menggucang seluruh tubuhku. Tubuhku mengejang-ngejang seperti orang krasukan, namun Pak Juve menindihnya dan menolongku untuk menikmati orgasmeku.

"AARGGH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!" erangku, mengikuti ritme ejakulasi kontolku. Fantastis sekali bisa ngecret tanpa menyentuh kontol! Pak Juve memang top, bisa memberiku orgasme. Aahh.. Dia memang pria yang sungguh jantan, meksipun penampilan luarnya tidak mengindikasikan hal itu.

"AARRGGHH!! Bapak sampai, Endy.. Aarrgghh.. Terimalah.. Uugghh.. Terimalah pejuh Bapak.. Aarrgghh.. Kamu milikku, Endy.. AaAARRGGHH..!!" Dan Pak Juve pun akhirnya berejakulasi juga. Kontolnya mendadak membesar lalu menembakkan cairan kejantanannya bertubi-tubi.

"AARRGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH.." erangnya, menggelinjang-gelinjang. Tubuhku jadi ikut terguncang karena Pak Juve berejakulasi di dalam tubuhku. Jika pria bisa hamil, saya iklas dihamilin oleh Pak Juve.

"Aarggh!! oohh!!" erangnya seperti kuda jantan yang masih liar. Kontolnya masih sibuk menyemprotkan pejuh ke dalam liang pembuanganku. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Saya hanya bisa melenguh keenakan, merasakan kehangatan di dalam tubuhku saat pejuh Pak Juve membanjiriku.

"Aahh.." desahnya setelah semuanya berakhir. Pelan-pelan, kontolnya ditarik keluar. Pejuhnya ikut mengalir keluar, membasahi sofa.

"Pak, saya cinta ama Bapak," kataku tiba-tiba.

Kupandangi wajahnya yang tampan itu dengan penuh cinta, mengharapkan agar dia sudi membalas cintaku. Dan di luar dugaan, Pak Juve menyambutku. Bibirnya kembali ditempelkan pada bibirku dan kami pun berciuman mesra selama beberapa menit. Kembali, lidah kami bertarung dan air liur kami pun saling bertukaran. Oh, saya hanya ingin memilikinya saja.

Setelah berciuman, Pak Juve berkata.

"Bapak juga sayang ama kamu. Kalau tidak, buat apa Bapak mau mengentotin kamu barusan? Nanti, kamu nginap di sini saja, yach? Kita bisa bercinta lagi malam ini. Bapak mau kamu menjadi pasangan hidup Bapak. Mau 'kan?"
"Pak Juve.." tangisku, bahagia sekali.

Kupeluk tubuh bugilnya yang bersimbah keringat dan kucium-cium dadanya. Ah, akhirnya impianku untuk memiliki dirinya tercapai.. Pak Juve, I love you..

*****

Kudengar sekarang Pak Juventius di Amerika menjadi manager sebuah restoran. Sampai kapan pun, Pak Juve tetap menjadi guru Inggris idolaku.

Guru Tercintaku

Pernahkah kalian jatuh cinta pada guru kalian sendiri? Pasti pernah! Ayo, ngaku saja, tak perlu malu-malu:) Saya sendiri pernah. Cerita ini terjadi ketika pada tahun terakhir SMU-ku. Pada waktu itu, ada seorang kepala sekolah baru yang merangkap sebagai guru. Dan kebetulan sekali, kelasku merupakan salah-satu dari sedikit kelas yang dipegangnya. Namanya Joko, tanpa embel-embel nama belakang. Dia memang orang Jawa asli dan logat Jawa-nya kental sekali. Pasti kalian membayangkan seorang pria jelek berkumis. Salah besar!:) Pak Joko itu tampan sekali, sama sekali tak terlihat kampungan/udik. Dan tubuhnya pun kekar bak model sampul Men's Health. Umurnya masih terbilang muda, sekitar tigapuluhan. Dia memang tidak memelihara kumis, tapi di sekitar dagunya terdapat brewok tipis. Brewok tipis itu membuatnya terlihat seksi sekali! Menurut kabar burung (burungnya siapa hayo?), Pak Joko itu masih single, alias belum married.

Tiap kali dia mengajar di kelasku, saya tak pernah capek memandangnya. Aura keseksiannya begitu menggoda. Yang kusuka darinya adalah kebiasaannya yang tak pernah memakai kaus dalam atau singlet. Kemeja yang sering dipakainya pun berbahan tipis sehingga saya dapat hampir melihat tubuhnya. Sering kali, kedua putingnya yang menegang tercetak jelas di balik kemejanya itu. Tanpa malu, kedua puting itu menunjukkan diri mereka. Lekuk-lekuk dadanya yang berotot pun ikut tercetak. Beruntung bagiku karena saya duduk di meja terdepan:) Saya merasa telah jatuh cinta pada Pak Joko. Saya ingin sekali memadu kasih denganya, biarpun hanya sekali saja.

Lalu sebuah ide gila menyusup masuk ke dalam otakku yang mesum. Saya mengambil secarik kertas dan mulai menulis sebuah surat cinta tanpa nama. Kupikir, itulah satu-satunya cara agar si ganteng Pak Joko menyadari bahwa dia mempunyai seorang penggemar rahasia. Suratku berbunyi:

Untuk guruku tercinta, Pak Joko.

Saya adalah salah satu muridmu yang jatuh cinta padamu. Tapi saya laki-laki. Biarpun begitu, saya naksir Bapak. Tubuh Bapak begitu menggodaku, sampai-sampai saya tak bisa konsentrasi belajar, terutama dada dan puting Bapak. Saya ingin meraba-rabanya, meremas-remasnya, menjilatinya. Saya ingin menyenangkan Bapak. Saya bahkan bersedia memberikan pantatku yang masih eprjaka demi kepuasan seksual Bapak. Saya akan membawa Bapak ke langit ketujuh, asalkan Bapak sudi mencintaiku. Hanya Bapak yang dapat kupikirkan siang-malam. Saya ingin bersamamu, Pak, meksipun hanya semalam saja.

Ciuman mesra, Penggemar rahasiamu.

Tak sulit untuk menyelipkan surat itu ke dalam tumpukan bukunya sebab saya sering ditugasinya untuk membantunya membawakan buku-bukunya ke kantornya. Sambil berpura-pura membereskan, tanganku menyelipkan surat itu. Saya tak tahu apakah dia akan menemukan surat itu atau tidak. Tapi paling tidak, saya telah berusaha.

Selama berhari-hari, tak ada yang terjadi. Sikap Pak Joko pun biasa-biasa. Sampai pada suatu hari, tiba-tiba dia memanggilku untuk menghadapnya. Saya sungguh tak tahu dalam rangka apa dia ingin bertemu denganku. Begitu melihatku masuk, Pak Joko-ku yang tampan itu mempersilahkanku untuk duduk. Ruangan itu memang terletak berdekatan dengan ruang guru, tapi berhubung saya dipanggil di tengah jam pelajaran. Ruangan guru itu kosong sama sekali. Jadi saya dapat sedikit bersantai, tanpa harus khawatir ada guru-guru ynag hobi menguping.

"Endy, bisa kamu jelaskan ini?" tanyanya dengan suaranya yang berwibawa.

Dia menyodorkan secarik kertas yang nampak sangat familiar. Penasaran, saya memngambilnya dan.. Astaga! Itu surat cintaku unntuk Pak Joko!

"Surat itu kamu yang menulisnya 'kan?" tanyanya.
"Bapak mengenal betul tulisan tanganmu. Jadi kamu tak perlu berbohong."

Sekujur tubuhku gemetaran. 'Astaga, apa yang telah kuperbuat? Kenapa harus memakai tulisan tanganku? Kenapa tak pakai mesin tik saja?' pikirku, keringat dingin menuruni wajahku. Tapi saya tahu bahwa tak ada gunanya untuk berbohong. Maka, dengan wajah tertunduk, saya mengakui semuanya.

"Benar, pak. Surat itu saya yang menulisnya. Saya.. Saya jatuh cinta padamu.. Saya tahu saya salah. Jadi saya hanya dapat pasrah. Saya siapjika Bapak ingin mengelaurkanku daris ekolah ini," kataku lemas.

Pak Joko bangkit dan memutari tempat dudukku. Kurasakan kedua tangannya yang kokoh itu mendarat di atas kedua bahuku.

"Siapa yang bilang kalau Bapak akan mengeluarkanmu? Bapak harus akui, Bapak suka sekali dengan suratmu itu. Meski singkat, suratmu begitu erotis. Bapak sampai ngaceng membacanya."

Tentu saja saya terkejut mendengarnya. Kubalikkan badanku dan kulihat Pak Joko sedang tersenyum ramah padaku. Kedua tangannya mulai menjalar turun dari bahuku menuju dadaku. Saya tak melawan ataupun menahannya. Saya ingin hal itu terjadi! Sentuhannya begitu menggoda, saya mendesah-desah saat kedua tangannya sibuk meraba-raba dadaku.

".. Hhohh.. Ooohh.. Pak.. Enak sekali Pak.. Aahh.." Terlena, saya memeluk tangannya dan mulai menciumnya.

Tiba-tiba Pak Joko menyuruhku berdiri. Begitu saya berdiri, Pak Joko segera melucuti seragamku. Tak ada yang tersisa di tubuhku; semua pakaianku lepas. Semenit kemudian, saya telah berdiri di hadapannya telanjang bulat. Pak Joko pun, dengan bernafsu, menelanjangi dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, saya dapat melihat tubuhnya tanpa halangan. Benar-benar seperti yang kubayangkan dalam fantasi mesumku. Tubuh Pak Joko sangat sempurna! Tubuhnya sangat proposional dan ototnya pun cukup (tak terlalu bengkak seperti Hulk). Dadanya bidang sekali, ditumbuhi bulu-bulu halus. Darahku berdesir melhat bulu dadanya. Ooohh.. Jantan sekali. Di antara dadanya yang berbulu itu, sepasang puting kecoklat-coklatan menyembul keluar. Bulu-bulu itu tumbuh hampir di sekujur tubuhnya, menuruni perutnya yang kotak-kotak dan berakhir di semak-semak sekitar tempat kontolnya berada. Kontol Pak Joko lumayan besar, menggantung di sana, masih tertidur.

Bagai terhipnotis, saya menjatuhkan diriku di bawah kakinya dan langsung mengulum kontolnya. Saya melakukannya dengan spontan, tahu bahwa Pak Joko juga mengharapkannya. Untuk beberapa saat, saya merasa seperti pelacur pria rendahan, haus akan kontol, tapi saya tak dapat mengingkarinya. Saya memang membutuhkan dan memuja kontol. Kontol adalah lambang kekuatan sejati pria, dan juga organ yang paling seksi. Pak Joko hanya dapat mendesah-desah keenakkan, tubuhnya menggeliat-geliat, menahan rasa nikmat yang dirasakan kontolnya. Sambil menyodokkan kontolnya ke dalam mulutku, Pak Joko memegangi kepalaku. Rambutku diremas-remas, menunjukkan padaku betapa dia sangat menikmati sedotanku. Bosan dengan rambutku, kedua tangannya menjalari punggungku dan mencakarinya. Tentu saja kuku-kukunya pendek semua. Lelaki macho sejati tidak memanjangkan kukunya seperti perempuan. Cakaran Pak Joko terasa tumpul, namun sanggup memompa semangatku agar saya menghisap kontolnya lebih keras.

".. Hhhoohh.. Ooohh.. Jilat kontol Bapak.. Aaahh.. Buat Bapak ngecret.. Hhhoohh.." erang Pak Joko.

Dan saya pun semakin bersemangat menyedot seluruh isi kontol Pak Joko yang amat kucintai itu. Sesekali kuremas-remas biji pelernya berharap pejuhnya akan lebih mudah muncrat keluar. Saya sudah sering meminum pejuhku sendiri. Biasanya saya mengocok kontolku dan ngecret di telapak tanganku, lalu pejuhku kujilati habis. Saya tidak pernah meminum pejuh orang lain. Pejuh Pak Joko akan menajdi pejuh pertama dari orang lain yang kucicipi.

".. Hhhoohh.. Uuuhh.. Aaahh.. Hhoosshh.."

Tiba-tiba kontol Pak Joko membesar di dalam mulutku. Nampaknya kepala kontolnya menggembung, bersiap-siap untuk menembakkan pejuh. Pak Joko mendorong kontolnya ke dalam mulutku keras-keras dan kontol itu pun meledak.
CCRROOTT!! CCROOT!! CCRROOT!!
Tubuh Pak Joko yang telanjang itu menggeliat-gelait dan mengejang-ngejang. Setiap kali tubuhnya mengejang, dia akan mengerang,

"UUGGH!! AAHH!! UUHH!!"

Napasnya memburu-buru, otot perutnya ebrkontraksi, dan keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya.

"AAHH.. UUHH.. HHOOHH.." desahnya saat tetes terakhir pejuhnya meluncur turun ke kerongkonganku. CCROOTT!!
Dengan rakus, kutelan semuanya. Aaahh.. Enaknya. Manis dan agak asin. Saya amat menyukai rasa pejuhnya.

Tubuh Pak Joko yang berotot itu pun lemas seketika. Dengan lembut, dia memeluk tubuhku dan membimbingku untuk berbaring di atas meja kerjanya. Sebelumnya, dengan tangannya yang kekar, dia menjatuhkan seluruh barang yang berada di mejanya. Kini mejanya bersih dan dapat kutiduri. Saya sadr apa yang dinginkan Pak Joko, dan saya akan memberikannya dengan senang hati! Apapun untuknya, asalkan dia senang.

"Hhoohh.. Bapak cinta kamu. Bapak ingin mmemasukan kontol Bapak ke dalam tubuhmu. Kamu mau 'kan?" Tentu saja saya menyetujuinya.

Dengan sensual, Pak Joko merentangkan kakiku selebar-lebarnya. Lubang pantatku yang ketat berkedut-kedut di hadapannya. Selama beberapa saat, Pak Joko hanya memain-mainkan ontolnya di pintu gerbang anusku. Saya mengerang-ngerang penuh nafsu, emohonnya untuyk segera menusukku. Tapi Pak Joko tak menghiraukanku. Dia menunggu sampai lubangku cukup licin dengan precumnya. Dan kemudian, setelah puas melumasi lubang pelepasanku, Pak Joko kemudian menancapkan kontolnya, jauh ke dalam tubuhku.

"AARRGGHH!!" erangku, kesakitan.

Untung saja ruangannya kedap suara sehingga takkan ada yang dapat mendengar erangan mesum kami.

".. Hhohh.. Hhhohh.. Sakit sekali.. Hhohh.. Pak.. Hhohh.." keluhku.
"Sabar ya. Biarkan Bapak ngentotin kamu. Bapak janji, kamu akan merasa puas, oke?" Pak Joko berusaha meyakinkanku.

Bagaimana saya dapat menolaknya? Pak Joko pun mulai menggenjot pantatku. AARRGGHH!! Perih sekali. Lubangku terasa penuh sekali dan bibir anusku serasa sobek. Kemudian Pak Joko menusukkan kontolnya masuk. AARGGH!! Sakit tapi nikmat. Cintaku yang begitu besar pada Pak Joko mmbuatku bertahan dalam kesakitan itu. Saya lega Pak Joko senang dengan tubuhku. Saya ingin dia memakai tubuhku terus-menerus dan membuang pejuhnya dalam tubuhku karena saya diciptakan hanya untuk melayaninya.

"Hhhooh.. Hhhoohh.. Ketat.. Hhhoosshh.. Sempit.. Aaahh.. Bapak suka pantatmu.. Hhhohh.." komentar Pak Joko di sela-sela napsnya.

Sambil mengentotku, Pak Joko membungkukkan tubuhnya dan mulai menciumiku dengan penuh nafsu. Tubuh kami menyatu dalam ciuman itu, dan juga dalam persetubuhan kami. Kami disatukan oleh cinta dan nafsu birahi kami.

"Hhhooh.. Bapak suka kamu.. Ooohh.. Hhhoohh.. FUCK! Bapak akan ngentotin kamu.. Ooohh.. Sampai kita puas.. Hhhohh.. Aaahh.."

Kini rasa nikmat mulai menghampiriku. Ternyata cerita-cerita homoseksual yang kubaca di berbagai situ-situs porno benar apa adanya, bahwa dingentotin kontol itu enak. Buktinya badanku mulai menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. Nikmat sekali ukuran kontol Pak Joko, apalagi dia mengentotinku dengan penuh nafsu dan cinta.

"Hhhoohh.. Pak Joko.. Hhhohhshh.. Terus Pak.. Hhohh.. Negntotin saay.. Aaahh.. Ayo Pak.. Lebih keras.. Hhhoohh.. Bapak.. Uuuhh.." erangku, tubuhku terguncang-guncang. Bahkan meja yang kami pakai untuk ngentot ikutan berderak-derak. Saya agak khawatir jika meja itu akan rubuh. Tapi Pak Joko tak menghiraukannya. Dia tetap asyik menghajar pantatku dengan kontol supernya.

"AARRGGHH!!" erangku.

Seks kami menjadi semakin panas dan bergairah. Pak Joko memutuskan untuk memakai tubuhku sebagai latihan bebannya. Dengan berpegangan pada pinggulku, dia mengangkatku. Takut jatuh, saya segera melingkarkan kedua lenganku pada lehernya yang kokoh Tak lupa, kedua kakiku kupakai untuk memeluk pinggangnya. Dengan susah payah, Pak Joko membawa tubuhku ke tembok di depannya. Kontolnya masih tetap tertancap dlam pantatku, masih tetap menyodomiku. Saya hanya dapat terengah-engah saja. Rasa sakit dan nikmat yang diberikan kontolnya menjadi berlipat ganda. Sesampainya kami di tembok itu, Pak Joko mendorong tubuhku ke tembok dan mulai mengentotinku dengan liar.

"Hoohh.. Hhhoohh.. Bapak akan ngentotin kamu.. Hhhoohh.. Sampai kamu ngecret.. Aaahh.. Kontol Bapak butuh pelepasan.. Aaahh.. Hhhoohh.." Pak Joko sungguh-sungguh jantan!

Karena tak kuasa menahan rasa nikmat yang mendera tubuh dan kontolnya, Pak Joko menggigit leherku. Terpengaruh, saya pun balas menggigitnya. Kami saling menggigit dan meneteskan air liur ke tubuh kami. Seks kami sangat liar dan bergairah! Kami seperti sepasang hewan buas yang sedang ngeseks sejenis!

Tiba-tiba kontol Pak Joko mulai mengembang dan berkedut-kedut. Kemudian..

CCRROOTT!! CCRROTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!
Dengan tak terkendali, kontol sang guru itu pun menembakkan kontolnya secara bertubi-tubi. Bagian dalam tubuhku disemprotnya dnegan pejuh bergalon-galon. Dan pejuh itu bukan sembarang pejuh. Tetapi PEJUH Pak Joko!

"AARRGGHH..!!" erangnya, tubuhnya kelojotan.
"AARRGGH!! UUGGHH!! OOHH!! AAHH!! HHOOHH!!" dengan susah payah, dia berusaha menjaga agar tubuhku tak terlepas dan jatuh.

Selama seks itu, kontol ngacengku yang terus-menerus mengeluarkan precum terperangkap antara perut kami berdua. Perut Pak Joko yang terasa seperti papan cuci menggosok-gosok kontolku dengan kasar, tiap kali dia bergerak untuk mengetotinku. Alhasil, kontolku mendapat servis coli yang paling top darinya. Ketika tubuh Pak Joko mengejang-ngejang karena orgasme, kontolku terpengaruh dan mulai menyemburkan sperma.

"AARRGGHH!!" teriakku.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Pejuhku menyembur membanjiri perutku dan mneggenangi pusarku. Karena tubuh kami berdua terguncang orgasm, genangan pejuhku jatuh menetes ke atas lantai. Kaki telanjang Pak Joko tanpa sengaja menginjak-nginjak genangan itu sehingga membuat lantai kantornya menjadi semakin kotor.

"UUGGHH!! AARRGGHH!! OOHH!! AAHH!! HHOOSSHH!! UUHH!!" erangku sampai orgasme meninggalkan diriku. Kami saling berciuman mesra ketika semuanya usai.

Dengan hati-hati, Pak Joko menurunkan tubuhku. Tersengal-sengal kupandangi wajahnya. Meskipun mukanya terlihat capek, dia masih saja tampan. Kontolnya muali menciut dengan pejuh yang masih menggantung di kepala kontolnya. Ketika saya akan buru-buru masuk ke kelas, Pak Joko menahanku. Dia berkata,

"Bapak 'kan juga merangkap sebagai kepala sekolah di sini. Akan Bapak katakan pada wali kelasmu bahwa Bapak membutuhkan bantuanmu. Kita berdua akan menghabiskan waktu berduaan saja di rumah Bapak."

Saya tersenyum dan kembali kucium wajahnya yang tampan itu. Sambil mencium, saya mengambil kesempatan untuk meremas-remas dadanya yang sekeras batu itu.

Guru Lesku Bejat - 2

Setelah kontolku melemas, dia mengangkat tangannya yang belepotan spermaku dan menjilati-jilatinya.
"Mmm.. Pejuh kualitas nomor satu," komentarnya, "Enak sekali. "

Saya mulai bernapas lega, senang bahwa cobaanku telah berakhir. Namun saat kepalaku berada dalam dada Pak Hektor yang keras itu, entah kenapa hasratku naik lagi. Saya suka sekali dengan dadanya dan juga putingnya. Pelan-pelan kontolku menegang lagi.

"Oh, apa yang terjadi? Kenapa batang saya berdiri?" tanyaku kebingungan.

Saya mencoba untuk menurunkannya, namun kontolku punya pikirannya sendiri, dan dia menolak untuk tidur.

"Jangan dilawan. Biarkan sisi homoseksualitasmu merangkulmu. Biarkan hasratmu lepas dan bebas. Biarkan dirimu mencicipi tubuhku. Jangan takut. Saya akan membimbingmu," katanya, lembut sekali.

Untuk sesaat saya tersihir omongannya yang lembut bak anggur yang memabukkan. "

Oh kasihku, saya ingin sekali mencicipi tubuhmu. Bapak ingin sekali memasukkan kontol Bapak ke dalam mulutmu dan juga ke dalam pantatmu. Bapak ingin bercinta denganmu. "

Sekujur tubuhku kaku ketakutan mendengar pengakuan jujur sang guru les yang bejat itu. Pak Hektor ingin menyodomiku! Dengan pandangan penuh ketakutan, kulihat Pak Hektor mengocok-ngocok kontolnya yang besar itu dan mengarahkannya ke pantatku! Apa yang dapat kulakukan untuk menghindarkan diriku darinya?!

Pak Hektor kembali berkata, "Jangan takut, Bapak takkan menyakitimu. Percayalah dengan Bapak. Disodomi itu enak sekali, loh. Tapi sebelumnya, Bapak ingin mencicipi kontolmu dulu."

Sehabis berkata demikian, Pak Hektor langsung berlutut di depanku dan mulai memasukkan kontolku yang belepotan sperma ke dalam mulutnya. Tak ada rasa jijik sekalipun di wajahnya. Malah nampaknya dia sangat menyukai pejuh. Dengan rakus, sisa-sisa pejuh yang menempel di kepala kontolku dijilatinya sampai habis. Dan begitu lidahnya yang panas menyapu permukaan kulit kontolku, saya mengerang-erang keenakkan, hampir kehabisan napas. Memang saya belum pernah disepong. Tak pernah saya mengira bahwa disepong cowok akan begitu menggairahkan. Pak Hektor, guru les-ku, sedang menyedot kontolku!

Beberapa kali badanku menggeliat-geliat akibat sensitivitas berlebihan dari kontolku. Namun Pak Hektor tak pernah mau melepaskan kontolku, seakan kontolku merupakan harta karunnya.

".. Hhohh.. Aaahh.. Pak.. Hhhohh.. Rasanya enak.. Aaahh.. Hisap terus, Pak.. Hhhoohh.."

Tanpa sadar, saya melenguh-lenguh keenakkan, menikmati servis ala homo yang diberikannya.

".. Hhhohh.. Hhhososhh.. Aaahh.. Aaahh.. "

Tak tahu harus mencengkeram apa, kedua tanganku memegangi punggungnya. Namun saat kenikmatan mendera sekujur tubuhku, tak kuasa menahannya, saya mencakar punggung Pak Hektor. Pak Hektor tak keberatan, malah dia menjadi semakin terangsang. kontol kudanya menjadi semakin menegang. Tetesan precum dari lubang kontol itu telah mengotori lantai kamarku, becek di mana-mana.

Sedotan Pak hektor semakin lama terasa semakin enak. Dorongan untuk ngecret kembali timbul. Seiring dengan sedotannya, dorongan itu bertumbuh semakin besar.

".. Hhhoohh.. Aaahh.. Oohh.. Hhhoohh.. "

Kupegangi kepalanya kuat-kuat dan bersiap-siap untuk ngecret.

".. Aaarrgghh!!"

Tapi pas pada saat saya akan ngecret, Pak Hektor menekan saluran tepat di bagian bawah kontolku kuat-kuat. Saluran itu berdenyut-denyut dan kontolku juga berkedut-kedut membabi buta di dalam mulut Pak Hektor. Orgasme mengguncang tubuhku, namun aneh, tak ada sperma yang keluar. Memang ada yang bocor keluar, namun tak sebanyak pada ejakulasi biasa.

"Uuuhh!!"

Saya sedang mengalami orgasme kering! Itu artinya, saya berorgasme tapi tidak ejakulasi.
"Aaahh.. "

Desahku dan sekujur tubuhku melemas. Tak kusangka orgasme kering juga dapat menguras energi.

"Bapak harap kamu suka. Bapak tadi menekan uretramu dan memblok jalan keluar pejuh kamu. Hasilnya, orgasme menjemputmu tanpa ejakulasi. Enak 'kan?" tanya Pak Hektor, kembali berdiri.

Kedua tangannya langsung meraba-raba dadaku lagi. Terlalu letih, saya hanya bisa mengangguk-ngangguk lemah.

"Bapak harap, kamu pun mau melakukan oral seks pada kontol Bapak," katanya.

Saya menjadi semakin melemas mendengarkannya. Membayangkan kontol Pak Hektor di dalam mulutku membuatku serasa ingin muntah. Namun dia tak memberiku pilihan. Dengan lembut, dia menekan kepalaku ke bawah, memaksaku berlutut di depannya. Kemudian kedua tanagannya menurunkan rahangku dan membuat mulutku terbuka lebar. Selanjutnya, kontolnya dimasukkan tanpa hambatan yang berarti. Dan anehnya, selama dia berbuat hal itu, saya tak kuasa melawannya, seakan-akan seluruh tubuhku patuh padanya.

Saat kontolnya akhirnya bersarang di dalam mulutku, saya mulai merasa mual. Ingin rasanya saya memuntahkan kontol itu keluar. Cairan precum nya masih meleleh keluar dari kontol itu juga membanjiri mulutku. Rasa asinnya begitu enak dan menyihirku. Mendadak rasa mualku pun hilang entah kenapa. Perasaan lain datang menggantikannya. Kini saya merindukan kontol itu dan ingin sekali untuk menyedotnya. Tanpa dapat kutahan, lidahku mulai bergerak-gerak dengan lincah, menyelimuti kepala kontol itu dengan permainan lidahku. Sesekali lubang kontol Pak Hektor kutusuk-tusuk dengan lidahku. Air liurku bercampur dengan precum yang keluar dari kontol itu. Pak Hektor benar-benar menikmati oral seks yang kuberikan. Tak henti-hentinya dia mengerang,

".. Ooohh.. Bagus.. yaahh.. Hisap kontol Bapak.. Aaahh.. Sedot terus.. Uuuhh.. Hhhoosshh.. Eeennaakk.. Aaahahh.. "

Sesekali, Pak Hektor terbawa emosi dan menyodok-nyodokkan kontolnya ke dalam mulutku. Beberapa kali saya tersedak dan mukaku memucat. Rasanya sulit untuk bernapas. Untunglah Pak Hektor memberiku beberapa detik istirahat sebelum kembali menyodok mulutku. Dengan cepat, saya dapat menyesuaikan diri dan mencoba untuk mengakomodasi kontolnya dengan lebih ahli. Mulutku menggelembung tiap kali kepala kontol itu menyodok masuk. Saya sampai kewalahan menyedotnya. Entah kenapa, saya jadi ketagihan precum Pak Hektor dan mencoba untuk memerahnya dari kontol itu. Mmm.. SLURP! SLURP! SLURP! Sungguh enak sekali rasa precum!

".. Hhhohh.. Sedot terus.. Aaahh.. Bapak hampir.. sampai.. Hhhoohh.. Terima pejuh Bapak.. Hhohh.. " dengan itu, Pak Hektor menusukkan kontolnya dalam-dalam dan
"Crott.. croott.. croott.."

Pejuh panas dan segar langsung muncrat ke dalam mulutku yang lapar. Tanpa berpikir, saya langsung menelan semuanya. Mmm.. Rasanya jauh lebih enak dibanding precum. Pejuh Pak Hektor begitu kental sampai saya bisa menggigitnya. Aaahh.. Sungguh enak sekali rasa pejuh seorang pria. Sementara itu Pak Hektor terus-menerus mengerang-ngerang sambil menghentak-hentakkan pinggulnya.! Melenguh panjang, Pak Hektor pun melemas dan tuntaslah semuanya.

Dengan penuh cinta, Pak Hektor mengangkat tubuhku dan membantuku berdiri. Begitu wajah kami saling bertemu, dia kemudian memberikan sebuah ciuman besar sebagai tanda terima kasih. Bibirnya terasa begitu hangat, lembut, dan basah. Saya sangat menikmatinya sampai-sampai saya menciumnya balik. Maka kami berdua pun sibuk saling berciuman bibir-ke-bibir dan lidah-ke-lidah. Entah kenapa kini saya mulai menyukainya, mulai dari wajahnya, kepribadiannya, sampai pada tubuhnya yang kekar berotot. Saya mencintai guru les-ku! Apakah ini pengaruh hipnosis ataukah memang berasal dari dalam diriku? Tapi yang kutahu pasti adalah bahwa saya ingin melakukan apa saja hanya untuknya.

Dan seolah dia dapat membaca pikiranku, dia pun berkata.

"Kau bersedia melakukan apa saja untukku? Bagaimana jika Bapak meminta keperjakaanmu. Sudikah kamu memberikannya?"

Dengan sensual, tangan kanannya menjelajah turun ke pantatku. Lubang anusku yang ketat digelitik-gelitik dan kemudian ditusuk-tusuk. Aaahh.. Pak Hektor sedang menyodomi pantatku dengan jari-jari tangannya.

".. Hhhohh.. Aaahh.. Saya bersedia Pak.. Hhhohh.. Apapun asal Bapak.. Uuugghh.. Senang.. Ngentotin pantatku.. Aaahh.. Pakai badan saya.. Ooohh.. "

Saya memasrahkan tubuhku ke tangannya. Yang kuinginkan hanyalah untuk menyenangkan hati dan kontolnya. Saya ingin melayaninya dengan tubuhku karena itu yang dia mau.

"Bagus. Bapak takkan ragu untuk mengentotinmu."

Matanya memandangku lekat-lekat, membara-bara dengan api nafsu. Dengan penuh nafsu, Pak Hektor membalikkan tubuhku. Untuk memudahkan mengentot, tubuhku sedikit dicondongkan ke depan. Dengan demikian, lubang pantatku pun terekspos.

"Mmm.. Lubang anus yang sangat indah. Bapak suka, dan Bapak yakin bahwa Bapak akan menikmatinya."

Setelah menepuk-nepuk pantatku sebentar, Pak Hektor mulai memposisikan kontolnya di depan lubangku. Pejuh yang masih menempel pada kepala kontolnya digosok-gosokkan pada lubangku. Saya jadi terlena dan mulai menikmati pijat anus yang dilakukan oleh kontol Pak Hektor namun tiba-tiba.. PLOP!

"AARRGGHH!!" kontol Pak Hektor pun amblas, jauh masuk ke dalam saluran pembuanganku.

Anusku yang masih perjaka dipaksa untuk melebar selebar-lebanya. Saya merasa penuh sekali. kontol itu berdenyut-denyut, seolah hidup, dan menyebarkan kehangatan. Meskipun saya terus meringis kesakitan, namun saya merasa tentram sekali, seolah saya berada apda tempat di mana saya seharusnya berada. Saya merasa telah pulang kembali ke rumahku, kembali pada takdirku sebagai pemuas nafsu lelaki. Pak Hektor mengusap-ngusap punggungku, menenangkanku.

Kemudian, saya mulai merasakan kontol kuda itu mulai bergerak mundur. Untuk sesaat, saya merasa kekosongan mengisi badanku.

".. Aaahh.. " saya mendesah kecewa.

Namun kontol itu akhirnya kembali memasuki tubuhku. Kehangatannya mulai mengisi tubuhku kembali. Aahh.. Nikmat sekali.

".. AARRGGHH.. " Erangku, sakit sekaligus nikmat.

Meskipun baru pertama kali ini saya dingentotin, saya dapat menyesuaikan diri. Lubang anusku tidak menegang sehingga mempermudah penetrasi kontol Pak Hektor yang luar biasa besar itu. Saya sendiri heran kenapa saya dapat mengontrol otot anusku sebegitu baik, padahal saya tak berpengalaman dingentotin. Tapi yang penting, saya menikmati sodokan kontolnya.

Eranganku membahana di dalam ruanganku, dan memantul balik dalam bentuk gema. Tubuhku terguncang-guncang seiring dengan irama sodokan kontolnya. Namun Pak Hektor terus memegangi tubuhku, menahannya agar jangan sampai jatuh. Seseklai tanganyanya yang kaut meremas-remas dadaku. Tak lupa, putingku dipelintir-pelintirnya tanpa ampun. Tangannya yang satu lagi bergerak turun dan melingkar di sekitar batang kontolku dan kemudian mengocoknya. Nikmat sekali. Pantatku disodok-sodok kontol sementara kontolku dikocok-kocok.

".. Aaahh.. " lenguhku, tenggelam dalam kenikmatan.

Bagaikan di surga, kami berdua, telanjang bulat, dililit nafsu birahi. Sekujur tubuh kami menegang, dialiri gairah. kontol kami ngaceng sekali, terus-menerus mengeluarkan precum. Napas kami memburu-buru, cepat sekali. Wajah kami meringis-ringis, di batas antara rasa sakit dan kenikmatan. Kami saling mengerang, dan mmenggeliat. Tubuh kami menyatu, disatukan dengan kontol Pak Hektor yang tertanam di dalam tubuhku.

"Pak.. Saya mau kelaur.. Aaahh.. Pak.. Tak tahan lagi.." Erangku, tangaku kuputar ke belakang untuk meremas-remas pinggulnya yang terus menerus menghentak-hentak. Tanda-tanda orgasme semakin medekat. Saya yakin bahwa saya akan segera ngecret.

".. Oohh.. Aaahh.. Uugghh.. "
".. Ooohh.. Pantatmu enak banget.. Ooohh.. Bapak juga.. Hhhoohh.. Mau ngecret.. Aaahh.. Ooohh.. Aaahh.. Aaarrgghh.."

Pak Hektor malah semakin mempercepat gerakan ngentotnya. Saya sampai kewalahan menahan laju kontolnya, namun rasanya malah semakin nikmat. Semakin kuat sodokan kontolnya, semakin tubuhku terstimulasi. Apalagi kontolnya itu selalu membentur sesuatu di dalam tubuhku yang mengirim gelombang nikmat yang tak terkatakan.

".. Aaahh.. Uuugghh.. Ohh.. Aahh.. " Tanpa dapat dicegah, kontol Pak Hektor menegang dan membengkak kemudian muncratlah pejuhnya. Pejuhnya langsung masuk membanjiri bagian dalam tubuhku.

Orgasme Pak Hektor memicu orgasmeku, apalagi tangannya sedang mencoli kontolku. Kontan saja, saya pun tiba pada klimaks-ku, tanpa dapat kuhalangi. Kontolku bergetar-getar lebih keras daripada biasanya. Lubang kontolku menganga lebar-lebar dan membiarkan aliran pejuh mengalir keluar bagaikan lava putih yang muncrat dari kawah gunung berapi. Sepasang tangan Pak Hektor yang kuat dan berotot terus setia menahan tubuhku dan menungguku sampai saya selesai berorgasme. Dan ".. Aaahh.. " Napasku masih terengah-engah, letih sekali. Di bawah kakiku, genangan pejuhku yang keputihan nampak menggenang.

Pak Hektor membalikkan tubuhku kembali, kami saling berhadapan. Tiba-tiba saya merasa kosong karena kontol Pak Hektor sudah meninggalkanku. Namun pejuhnya masih terasa menetes-netes keluar dari anusku. Dapat kulihat cinta di matanya. Pak Hektor kemudian memelukku dan kami pun kembali berciuman. Cinta mulai bersemi dalam hatiku. Dan saya ingin tetap bersamanya selamanya. Tindakannya yang bejat dengan cara mencabuliku memang salah. Tapi jika dia tidak mencabuliku, saya takkan dapat menemukan homoseksualitasku, dan juga cintaku.

Setahun telah berlalu, kini saya sudah masuk kuliah. Hubunganku dengan Pak Hektor tetap berjalan terus meksipun dia sudah tidak mengajariku lagi. Orangtuaku mengira kami cuma berteman akrab saja. Padahal, kami berdua telah menjadi sepasang kekasih homoseksual. Saya hanya berharap bahwa cinta kami dapat bertahan lama, selamanya..

Guru Lesku Bejat - 1

Sebenarnya saya tidak suka dengan keputusan orangtuaku untuk mencarikanku seorang guru les. Maksudku, saya merasa sudah dewasa dan tidak membutuhkan guru les. Tapi menurut orangtuaku, ujian kelulusan SMU akan sulit sekali dan saya harus dibantu. Meski bersungut-sungut, saya terima juga 'tawaran' mereka.

Namun saat guru les-ku tiba, saya berubah pikiran. Namanya Pak Hektor. Umurnya hampir mencapai 40, tapi masih nampak kuat dan gagah. Malah, tubuhnya nampak padat dengan otot. Pakainnya rapi sekali, berhubung dia juga bekerja di sebuah perusahaan swasta di bagian accounting. Sehabis pulang kantor, dia langsung datang untuk mengajarku. Saya suka akan keramahannya, humornya, dan mungkin juga wajahnya, meksipun saya tidak pernah memikirkan bahwa mungkin saja saya adalah seorang homoseksual.

Pak Hektor masih belum menikah, dengan alasan bahwa dia sudah menikah 2 kali dan gagal. Jadi dia bosan untuk mencobanya lagi. Sungguh kasihan dia, padahal dia sangat tampan dan macho. Kira-kira sebulan sejak dia mengajarku, saya melihat sifat Pak Hektor yang asli.

Saat itu, dia sedang mengajariku biologi tentang alat reproduksi manusia. Topik ini merupakan topik favoritku sebab berhubungan dengan seks, meskipun tidak vulgar/porno. Di depan kami telah terpampang bagan organ kejantanan pria yang lebih dikenal dengan kontol. Dengan sabar, Pak Hektor membantuku menghapalkan setiap bagian organ pria. Saya tidak menyadari bahwa Pak Hektor mulai bersikap aneh, pandangan matanya serasa ingin menelanku saja.

".. Dari saluran inilah nanti sperma akan tersemprot keluar pada saat kontol berejakulasi," katanya.
"Bagaimana? Kamu sudah mengerti?"
Saya menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Sebenarnya saya masih agak sedikit bingung. Maksudku, saya kesulitan menghapalkan fase-fase ejakulasi. Prosesnya terlalu rumit," keluhku, mataku terpaku pada penampang kontol di buku biologiku itu.

"Begini saja," kata Pak Hektor, matanya berbinar-binar.
"Bagaimana kalau dipraktekkan saja. Mungkin nanti kamu akan mengerti dengan jelas. Kamu sudah pernah ngocok?"
"Ngocok? Apaan tuh Pak?" tanyaku kebingungan setengah mati. Baru kali ini saya mendengar istilah 'ngocok'. Maklum, saya anak pendiam.
"Itu loh, masturbasi," jelas Pak Hektor seraya memperagakan adegan ngocok dengan kedua tangannya.

Mukaku langsung bersemu merah. Rasanya tidak etis membicarakan masalah sepribadi itu dengannya, tapi demi nilaiku saya menjawabnya dengan jujur.

"Sudah pernah, sih, Pak. Bahkan sering. Tapi saya tidak pernah memperhatikan prosesnya. Maksudku, setelah ejakulasi, ya sudah, selesai."

Tiba-tiba saya merasa sedikit tak nyaman saat Pak Hektor meletakkan tangannya di leherku dan membawaku ke dadanya.
"Bapak akan membantumu memahami proses ejakulasi," gumamnya, seraya mencium-cium rambutku yang baru saja ku-shampoo.
"Pak, kenapa Bapak memelukku begini?" tanyaku, mulai ketakutan.

Tapi saya tidak punya keberanian untuk melawannya sebab tubuhnya lebih besar dibandingkan tubuhku, Jelas sekali bahwa Pak Hektor sering menghabiskan waktu luangnya dengan berolahraga. Saat saya dipeluknya, kurasa otot-otot dadanya yang keras sekali ingin meremukkan wajahku. Saya takut kalau saya memberontak, dia akan memukulku. Tiba-tiba saja, sosok guru les yang baik kini berubah menjadi seorang tukang perkosa homoseksual. Celakanya, kedua orangtuaku sedang pergi. Saya terperangkap berdua dengannya!

"Pak, jangan begitu, ah. Bapak membuatku takut," ucapku, sesopan mungkin.
"Jangan takut. Bapak hanya ingin membantumu. Kamu ingin lulus 'kan Kalau kamu ingin lulus, biarkan Bapak membantumu. "

Pak Hektor tak ingin melepasanku, malah tindakannya semakin menjadi-jadi. Tangannya mulai menjalar ke bawah kaosku dan, dengan sekali hentakan, kaosku pun terlepas. Saya melihat kesempatan emas dan buru-buru bangkit berdiri dari bangku dan berniat untuk berlari sekencang mungkin ke arah pintu, namun Pak Hektor keburu menangkapku duluan.

"Ehh, mau ke mana kamu? Bapak hanya ingin membantumu. Tenang saja. Bapak tak mungkin melukaimu."
Pak Hektor menatapku dengan pandangan aneh. Matanya sama sekali tidak nampak seperti mata penjahat, tapi lebih mirip seperti mata seorang pria yang sedang kasmaran. 'Astaga! Apa mungkin Pak Hektor jatuh cinta padaku?'

Entah kenapa, makin lama saya melihat matanya, badanku makin lemas. Pak Hektor terus menatapku dalam-dalam, seakan sedang memasuki diriku. Saya tak berdaya melawannya. Salah satu tangannya mulai menjalar turun dan melorotkan celana pendekku. Saat celanaku jatuh ke lantai, saya merasa duniaku runtuh. kontolku yang masih tidur nampak indah sekali di mata Pak Hektor. Kulihat dia menjilati bibirnya. Saya menyesal sekali tidak sempat memakai celana dalamku. Tapi kalaupun kupakai, Pak Hektor pun akan melepaskannya.

Sambil memelukku dengan satu tangannya, Pak Hektor mulai menelanjangi dirinya sendiri. Saya kagum dengan caranya melolosi pakaiannya dengan menggunakan hanya satu tangan saja. Pertama-tama kemeja kerjanya lepas dan jatuh ke lantai. Untuk pertama kalinya saya dapat melihat dadanya yang kekar dan berotot. Memang, tubuhnya tidak sebesar Hulk atau Ade Rai, tapi tergolong besar untuk ukuran standard pria. Entah kenapa, mataku malah terpaku pada sepasang putingnya yang kecoklat-coklatan. Disekeliling kedua puting itu nampak rambut-rambut halus tumbuh.

Pertunjukan streaptease Pak Hektor berlanjut dengan jatuhnya celana panjangnya beserta celana dalamnya. Astaga, tubuh Pak Hektor memang sungguh-sungguh indah, seindah pahatan patung Yunani. Mataku beralih turun dan terpaku pada batang kontolnya yang menggantung. Sungguh besar ukurannya. Saya tak dapat mebayangkan ukurannya saat kontol itu mencapai ereksi penuhnya. Kubayangkan panjangnya pasti menyamai panjang penggaris plastic 30cm milikku.

"Kita sudah sama-sama telanjang, dan Bapak senang bisa berbagi keintiman denganmu," katanya, memecahkan lamunanku.
"Percaya atau tidak, kamu memiliki sisi homoseksual yang masih tertidur. Bapak tahu kamu selama ini belum pernah terangsang secara seksual kalau melihat cewek, benar kan?"

Tubuhku mendingin. Apa yang diucapkannya memang benar. Tapi darimana dia mengetahuinya?

"Kamu tak perlu takut unutk berhubungan dengan sisi homoseksualmu. Tak ada salahnya untuk menjadi homoseksual asalkan kita tidak berbuat jahat. Bapak akan membantumu mendalami sisi homoseksualmu. Kamu akan lihat, setelah ini, ilmu biologi reproduksimu akan meningkat dan kamu pun akan menjadi seorang homoseksual sejati."

Dengan itu, Pak Hektor memaksakan sebuah ciuman pada bibirku. Saat bibirnya mencoba untuk mengusaiku, kurasakan kontol Pak Hektor yang besar itu mulai menegang, menegang, dan terus menegang. kontolnya tegang sekali dan menusuk-nusuk bagian bawahku, bertarung dengan kontolku yang masih setengah lemas dan setengah tegang.

Saya terkejut sekali saat menyadari bahwa saya tak berdaya melawan kata-katanya. Saya ingin memberontak dan lari namun tubuhku terpaku di sana. Bibir Pak Hektor melumat-lumat mulutku dan lidahnya menjulur masuk seperti ular. Pak Hektor akan memperkosaku dan merubahku menjadi seorang homoseksual. Bagaiamna ini? Semakin lama dia menciumku, saya menjadi semakin bingung sebab sekujur tubuhku mulai menyukai perlakuan cabulnya. Badanku yang telah telanjang bulat serasa bergetar dengan kenikmatan saat Pak Hektor meraba-rabanya. Tangannya yang kasar merangsang setiap jengkal dari kulitku.

"Kamu milikku. Tahukah kamu, Bapak telah jatuh cinta padamu pertama kali Bapak melihatmu. Bapak ingin memilikimu. Bapak mohon, biarkan Bapak bercinta dengnmu. Biarkan Bapak menunjukkan betapa besarnnya cintaku ini padamu."

Pak Hektor kembali menciumiku. Pengakuan cintanya sangat mengejutkanku, namun apa yang dapat kuperbuat? Tangan Pak Hektor mulai mengocok-ngocok kontolku. Pelan tapi pasti, kontolku menegang dan akhirnya 100% ngaceng. Saya terpana melihat kontolku di bawah pengaruhnya.

"Sambil bercinta denganmu, Bapak akan ajarkan biologi padamu. Tahap ini dinamakan tahap rangsangan (excitemant phase). Tangan Bapak berhasil merangsang kontolmu, memaksa darah terpompa ke dalam rongga kontol sehingga kontolmu bangkit berdiri."

Tangannya kemudian mulai mengerjain kontolku dengan lebih cepat. Tanpa dapat kucegah, precum mengalir keluar, melumasi kepala kontolku dan mempermudah masturbasi. Pikiranku berteriak bahwa saya tak ingin dicoli Pak Hektor, namun saya tak dapat mencegahnya. Saya berusaha untuk memikirkan hal-hal lain yang dapat membuat kontolku melemas, namun yang muncul malah sederet bayanganan tubuh Pak Hektor yang telanjang. Dan alhasil kontolku menjadi semakin ngaceng.

Astaga, apakah dia juga mengendalikan pikiranku juga? Kini saya benar-benar ketakutan dengan Pak Hektor. Dia sepeti mutan dalam film X-Men saja, sanggup memanipulasi pikiran. Namun saya harus mengakui bahwa dicoli'in Pak Hektor, rasanya nikmat sekali.

"..Hhhoohh.. Aaahh.. "

Tanpa dapat kutahan, desahan nikmat lolos dari bibirku yang gemetaran.
".. Hhhoohh.. Hhhoosshh.. Uuuhh.. Aaahh.."

Pak Hektor hanya tersenyum mesum, melihatku mulai menikmati servisnya. Precum semakin banyak mengalir keluar dari kontolku, membasahi tangan Pak Hektor.

"Selamat, kamu sudah memasuki fase ke-2, Fase Stabil (plateau phase). Fase ini ditandai dengan keluarnya cairan precum. Aaahh.. Pasti cairanmu ini lezat."

Dia berhenti mengocokku dan mengusap precum-ku dengan jarinya. Tentu saja sebagian menempel pada jarinya. Kulihat dengab mata terbelalak saat dia membawa jarinya masuk ke dalam mulutnya dan mengulum-ngulumnya seperti permen lollipop.

"Enak sekali. Bapak suka," komentarnya, mesum.

Kembali tangannya melanjutkan proses masturbasi pada kontolku. Dan saya pun kembali mengerang-ngerang keenakkan. Meski saya membenci cara cabul yang dia gunakan, namun saya mulai mengerti proses ejakulasi sebab dia mengajariku dengan jelas sekali.

".. Hhhoohh.. Hhhoohh.. " Tiba-tiba saya merasa bahwa orgasmeku akan segera tiba.

Pak Hektor menyadari kegelisahku sebab saya mulai menggeliat-geliat dan wajahku mulai meringis-ringis.

".. Aaahh.. Pak.. Saya akan.. Ejakulasi.. Ooohh.. Tak dapat kutahan.. Aaahh.. Pak.. Tolong sya.. "
"Tenang, keluarkan saja pejuhmu. Biarkan spermamu menyemprot keluar. Jika sudah tersemrot maka kamu baru saja melewati fase orgasme (orgasmic phase) di mana sperma disemprotkan keluar. Rasa nikmat yang akan kau rasakan berbeda dengan ejakulasi sebab mereka berdua merupakan hal yang berbeda, namun terjadi hampir bersamaan."

Pak Hektor semakin mempercepat gerakan tangannya. Saya mulai melenguh-lenguh seperti kerbau. Tanpa peduli apa-apa, Pak Hektor kupeluk untuk menopang tubuhku.

".. Hhhooh.. Aaahh.. Saya.. Hhhooh.. Mau kkeelluuaarr.. Aaarghh!!"

Orgasme benar-benar mengguncnag-guncang tubuhku, mengoyak-ngoyak pikiranku, dan membawaku terbang ke langit ke-7. Ejakulasiku lebih hebat daripada yang biasa kualami. Ejakulasi kali ini, jummlah sperma yang keluar sangat banyak. Spermaku tersembur ke depan dan mendarat ke lantai. Denyutan-denyutan liarnya membuat napasku terengah-engah. Pak Hektor tertawa penuh kemenangan saat saya terkulai lemas di dalam pelukannya.

"Dan sekarang kamu memasuki tahap tenang (resolution phase) di mana tubuhmu mulai kembali normal dan kontolmu mulai melemas. Sebuah perjalanan indah menuju puncak kenikmatan baru saja usai," kata Pak Hektor lembut sambil membelai-belai tubuhku.

Gol-gol Indah

Aku mengenal seks dengan laki-laki semasa SMA saja, itu pun pada saat aku kelas 2 sampai 3 SMA.Karena aku orangnya tertutup akan masalah ini makanya selama masuk bangku kuliah keinginanku aku pendam. Apalagi di tempatku lingkungannya (kampus dan rumah) adalah homophobia!

Rasanya bosan juga kalau setiap selesai latihan bola (latihan setiap sabtu sore) aku harus mengurung diri di kamar kost atau pergi ke warnet, soalnya diantara sekian anggota klub bola kami, mungkin hanya aku yang tidak pernah pergi kencan. Sedangkan yang lain rata-rata sudah pada punya pasangan, cewek! Aku sih bukan tidak mau, memang tidak tertarik.

Umurku 23 tahun, tinggi 172 cm, berat 65 kg, aku suka sekali main bola di hobby grup kampusku (di daerah Suci, Bandung). Diantara teman-teman berlatihku, aku punya teman dekat 2 orang, namanya Deni dan Gugun. Mereka sama-sama punya cewek. Keakrabanku dengan keduanya didasari karena aku suka mereka. Deni dengan tinggi 175 cm, badannya padat dan kencang serta berwajah ganteng. Gugun tingginya 170 cm, juga padat dan berotot, dangan penampilan yang agak innocent, dengan latihan fisik yang lumayan berat dan juga diselingi dengan renang 2 minggu sekali. Sering sekali aku membayangkan bisa mendapatkan salah seorang dari sobatku ini sebagai "teman plus", tapi sepertinya tidak mungkin, yang kurasa mereka tidak mempunyai gelagat untuk suka pada cowok. Bagiku, Gugun dan Deni sering terlihat akrab sekali, maklumlah mereka dulu satu SMA, sebelum masuk ke Perguruan Tinggi Swasta ini, itulah yang membuatku agak cemburu terhadap mereka. Makanya aku selalu menempel mereka, kemana pun mereka jalan untuk mencari tahu apakah mereka Bisex, kecuali pada saat mereka apel dengan masing-masing ceweknya.

Setiap kali kuperhatikan, tetap saja keakraban mereka tidak menunjukkan gelagat Bisex. Pernah sih aku mancing-mancing untuk mengajak mereka nginap di tempat kost-ku (kedua-duanya sekaligus), yah.. tetap saja hasilnya nol besar. Pernah suatu kali aku membuka obrolan dengan topik bisex, tapi mereka hanya senyum-senyum saja, malah cenderung melecehkan, yang membuatku menjadi down.

Nah.. pada bulan Maret 2001, dimana rasa penasaranku terjawab begini ceritanya.
Hari itu latihan tidak lama lari keliling lapangan saja. Setelah selesai, seperti biasa setelah ngobrol sana sini, aku pamit mau pulang, dan salah satu dari kedua temanku bertanya dengan nada mengejek, "San.. loe kagak pernah ngapel masa sih loe, kagak minat ama cewek-cewek Bandung?"Aku tidak menggubris, sebenarnya perih sekali ditanya seperti itu, cuma aku berusaha menutupinya dengan membalas, "Ah bosen ah ama cewek.. lagi nyari cowok niih..!" timpalku sekenanya. Kedua temanku pun hanya tertawa, kebetulan aku berbeda arah pulang dengan kedua temanku itu, langsung saja aku pamit dan menuju arah rumah kost-ku. Perasaan sepi kembali menghantuiku, cuma aku langsung berpikiran, mending aku malam mingguan di warnet. Yaah.. hanya warnet yang bisa bikin hatiku agak terhibur, biasalah paling aku chat atau surfing melihat situs X.

Sesampainya aku ke tempat kost, aku tambah meringis soalnya teman-teman kost pada mudik.Waah payah! aku makin tidak bersemangat malah aku jadi malas ke warnet, lalu aku sambil istirahat nonton TV di kamar. Tidak lama kemudian ada yang mengetok pintu, aku berpikir paling si ibu kost yang mau nitip kunci rumahnya soalnya biasalah dia hari sabtu suka keluar kota, tapi kalau tidak salah ibu kost-ku itu sudah pergi dari tadi. Hmm, jadi siapa ya, masih dengan pakaian bola (soalnya tadi latihan tidak begitu berat jadi tidak membuat bajuku kotor) aku menuju pintu dan kubuka. Ternyata.. Gugun dan Deni yang mengetok masih dengan seragam latihan yang masih bersih itu.

"Eh.. kirain siapa, ayo masuk." ajakku.
"Kok nggak jadi pulang? kalian nggak siap-siap ngapel gitu?" tanyaku.
Deni menjawab, "Lagi males nih.." "Lagian gue juga nggak tega liat loe sendirian malem minggu begini.." seraya mereka melepaskan sepatu dan langsung masuk.
"Yang laen pada kemana San?" tanya Gugun.
"Tau tuh pada mudik, ibu kost juga nggak ada," jawabku sok tegas.
"Eh tuh kalo mau minum di tempat biasa, gelasnya juga yang biasa.."

Akhirnya memang benar, mereka berdua benar-benar tidak pergi ngapel, malah ngobrol di kamarku ngalor ngidul. Aku pada saat itu tidak ada kepikiran sedikit pun ke arah seks, maklumlah, yang tadinya aku siap-siap untuk bete sendirian, eh malah ditemenin sama dua orang cowok yang kusuka. Yah, obrolan pun berlalu begitu aja sampai-sampai sudah gelap, sekitar jam 7:30 malam. Karena aku merasa gerah, aku lalu siap-siap mandi. Tapi si Gugun menahanku supaya tidak mandi, kata dia, bau keringat cowok itu bisa bikin horny.
"Trus apa hubungannya?" tanyaku.
"Gini.. loe khan tidak percaya? mau bukti nggak..?" tanyanya lagi.
Deg! aku langsung berpikiran yang bukan-bukan, dan aku dengan sedikit memancing. Oke.. sekarang kita cari tahu siapa yang bau keringetnya bikin horny. Keduanya langsung setuju, dan tiba-tiba Deni dan Gugun langsung membuka kaosnya.

"Ayo San, buka bajunya," kata mereka.
Penisku langsung menegang ketika ditantang begitu. Melihat mereka sudah membuka kaosnya masing-masing, aku dengan terpaksa dan rasa ingin tahu lalu kubuka kaosku. Deni membuka permainan ini, lalu Gugun menutup dan mengunci pintu kamarku. Kita bertiga saling berdekatan, dan aku semakin horny melihat tubuh mereka yang agak mengkilat karena sisa keringat dan sedikit lengket, ditambah aroma laki-laki yang jantan sekali. Oh aku semakin tidak menentu. Degh.. degh.. degh.. Pertama kita bertiga saling memegang pundak samping kiri kanan.

"Sekarang loe yang akan di tes San.." ujar Deni sambil nyengir, lalu dia mencium ketiakku. Tak lama, "Hmm.. enak baunya loe San.." disusul dengan Gugun melakukan hal yang sama, cuma dia sambil sedikit menjilati ketiakku.

"Sekarang giliran loe San, loe jadi juri, mana diantara gue dan Gugun yang paling seksi bau keringetnya."
Lalu aku merunduk ke ketiak Deni. "Oooh baunya sangat enaak.. membuatku ingin menjilatnya.." apalagi aku sempat melirik ke arah puting si Deni yang mengeras itu. Belum sempat aku mengetes ketiak Gugun, dari arah belakang Gugun sudah memelukku seraya menciumi punggungku dan tonjolan di balik celananya menggesek-gesek samping pantatku, ditambah sentuhan kulitnya yang lengket membuatku semakin meledak-ledak. Melihat itu, langsung saja kulumat puting Deni dan dia mengerang-erang, "Terusin San!" ujarnya. Sambil dia melepaskan celana bolanya. Wow.. penis yang selama ini kuidam-idamkan itu keluar dari balik celana bolanya, dari putingnya aku langsung berpindah ke penis Deni dan Gugun berusaha melepaskan seluruh pakaianku lalu dia membuka pakaiannya sendiri. Akhirnya kami bertiga telanjang bulat, dengan sisa-sisa keringat sehabis latihan bola sore tadi.

Setelah agak lama, aku berpindah ke Gugun dan aku langsung mencium bibirnya. Kupegang batang penisnya yang paling besar dan panjang diantara kami. Dengan posisi berlutut dan berhadapan, aku dan Gugun saling berciuman, lalu Deni berdiri dan dari arah samping dia mengarahkan penisnya itu ke mulut kami. "Oooh enak sekali.." ditambah dengan aroma keringat yang sangat merangsang, aku sampai-sampai dengan serakahnya menghisap penis Deni. Melihat aku sibuk dengan mainan baruku. Gugun langsung berdiri dan berciuman dengan Deni, setelah itu Gugun merendahkan posisi badannya ke dekat pantat Deni. Aku masih sibuk menghisap penis Deni yang asin dan enak itu.

Tidak berapa lama kamudian, kaki Deni mulai mengangkang dan aku melihat dengan jelas Gugun bermain-main di sekitar pantat Deni. Bagiku bermain di daerah pantat adalah suatu hal yang baru. Lalu aku mendekati Gugun dan kita saling berciuman lagi. Kemudian Deni langsung nungging.

"Ayo San, loe mau coba pantat si Deni nggak?" tanya Gugun.
Aku yang sudah terangsang begitu hebat, tanpa berpikir lagi aku langsung menciumi pantat Deni dan menjilati anusnya.
"Enak nggak San?" tanya Gugun.
"Enak.." jawabku.
Lalu Gugun menawarkan lagi, "Loe mau nyoba yang lebih enak?"
"Apaan Gun?" tanyaku.
"Tadi kan pantat si Deni udah gue basahin duluan, jadi aromanya agak berkurang."
"Nih, cobain pantat gue." sahutnya.
Mendengar itu aku agak ragu dan Deni langsung bangkit, "Ayo Saan.. enak lhoo.."
Aku melihat si Gugun sudah nungging dan Deni menciumi putingku. Lalu, benar saja setelah aku mendekatkan wajahku ke pantat si Gugun, aroma khas tercium olehku, aku semakin horny saja begitu mencium aroma itu lalu aku langsung menjilati anus si Gugun. Dia mengerang keenakan.Setelah puas, aku berhenti. Deni dan Gugun pun mendekap dari kiri dan kanan.

"Loe mau dijilat San?" tanya Gugun dengan wajah menggoda.
"Gue mau ngerasain pantat loe.."
Aku langsung gugup, "Euuh.. gue belum pernah Den.. nggak ah.."
"Ayolaah.." bujuknya.
Akhirnya dengan beberapa sentuhan dari mereka aku menyerah dan mereka berdua saling berebut menjilati pantatku. Sesekali memasukkan jari ke anusku. "Oowww.. nikmaat.." aku tidak tahan akhirnya aku mencari dan mendapatkan pantat Deni, aku langsung menjilatnya sedangkan Gugun tetap menikmati sajian pantat virginku dari belakang. Dan.. setelah itu Deni langsung membalik badannya dengan kaki terbuka dan agak diangkat.

"Guun masukin doong.. Honeey.." pintanya.
Dengan sigap Gugun menghampiri Deni dan menghisap penis Deni, sambil jarinya keluar masuk anusnya. Aku sangat takjub melihat pemandangan ini, tanganku ditarik oleh Deni dan dia menggapai penisku dan mengarahkan ke mulutnya. "Ayo Guun.. masukin sayaang.." ujarnya. Dan.. "Bless.." penis Gugun lenyap ditelan pantat Deni, dibarengi dengan goyangan penis Gugun keluar masuk, dan Deni pun semakin giat menghisap penisku. Aku mencoba berganti posisi menjadi 69 tapi Gugun jadi terhalang, jadi cuma Deni saja yang bisa tetap mengisap penisku, sesekali dia memainkan jarinya di anusku, lalu menjilati anusku. Di depanku penis Gugun tetap keluar masuk pantat Deni. Lalu aku sambil mengocok penis Deni, aku merasakan lidah Deni menembus anusku. Aku mendongak ke arah Gugun.

"Guun.. gue juga dong.. masukin!" aku memohon sambil melihat wajah gantengnya yang sudah dibasahi dengan keringat.
"Oke Sayang.." katanya.
"Tapi sebelumnya loe duluan masukin ke pantat gue San! pleasee.." katanya.
Lalu dia tidur terlentang, dengan bantuan Deni akhirnya penisku juga masuk ke pantat Gugun. Kaki Gugun tertahan di pundakku. Lalu tak lama Deni pun mulai menggerayangi pantatku dengan jari-jarinya, saking enaknya aku berhenti. "Den masukin dong punya loe.. Deni sayang.." sambil kulebarkan selangkanganku, akhirnya Deni berhasil mendekatkan kepala penisnya ke anusku, lalu dengan perlahan (karena ukuran punya Deni tidak begitu besar tapi panjang) dan akhirnya masuklah batang penis Deni ke pantatku. "Ooohh.." aku merasakan nikmat yang tiada tara, di depanku merasakan pantat si Gugun dan wajah gantengnya, dan dari belakangku ditusuk oleh si Deni, benar-benar membuat kami bertiga mandi keringat, khususnya aku dan Deni.

Beberapa saat kemudian, Deni mulai merasa pertahanannya akan jebol dan dia membisikan sesuatu, "Sayang.. dikeluarinnya di dalem yaa?" sambil dia mencium leherku.
"Iyaa.." jawabku dan, "Aaah.. aauugghh.. oohh.." Deni meluncurkan spermanya ke dalam pantatku, terasa hangat dan menyembur. Sambil menarik perlahan, Deni memainkan putingku dan aku semakin merasa naik ke puncak. Aku merunduk untuk mencium Gugun.

"Guun.. gue juga di dalem ya dikeluarinnya.."
"iya Sayaang.. masukin aja semuanya.." pintanya dan sampai akhirnya Deni memasukkan jarinya ke dalam pantatku, aku semakin tidak tahan dan akhirnya, "Oohh.. nikmaat.." kukeluarkan semua spermaku ke dalam pantat Gugun sambil aku menarik tangan Deni dari pantatku karena terasa ngilu. Setelah keluar semua, kutarik penisku dan aku langsung mendekap Gugun dari arah kiri, dan Deni mendekap Gugun dari sebelah kanan. Aku berbisik pada Gugun, "Ayo Gun, sekarang loe keluarin.." lalu aku memulai gerakan mengocok penis Gugun yang agak besar itu, ditambah Deni menghisap putingnya dan, "San tolong gue, pakek jari loe dong Say.." kata Gugun, dan dia langsung mengocok penisnya sendiri dan aku menurut saja. Aku mulai menggerakkan jariku maju mundur, dan semakin cepat Gugun mengocokkan penisnya sampai akhirnya dia pun memuncratkan spermanya. Sprei kasurku sampai basah oleh campuran keringat dan sperma Gugun. "Oooh.. indah sekali sewaktu sperma Gugun memancar dari lubang penisnya.." lalu kami saling berpelukan dan saling membelai, agak lama.

Setelah tenaga kami agak pulih, lalu kami bangkit menuju kamar mandi yang berada di kamar kost-ku. Sambil mandi mereka berdua bercerita, ternyata mereka selama ini telah sering melakukan hal ini, antara Deni dan Gugun. Setelah melihat aku yang selalu sendiri dan tidak pernah kencan dengan cewek, mereka punya kesimpulan bahwa aku ini ada kemungkinan suka cowok juga, jadi mereka merencanakan hal ini sebelumnya ingin menambah variasi katanya, dan tentu saja aku suka sekali, aku tidak mau kehilangan mereka berdua, dan syukurlah mereka juga tidak mau kehilanganku dan cewek mereka selama ini, untuk apa ya?
Den, Gun, thanks ya.. kalau bukan karena kamu berdua, saya tidak mungkin mengalami hal ini. Gool.. akhirnya saya kebobolan juga.

Gili Trawangan

Hari telah senja ketika aku keluar dari laut, pemandangan bawah laut yang mengagumkan dengan terumbu karang yang indah dan ikan yang berwarna-warni mengusir penatku dari pekerjaan kantor yang membosankan. Sudah beberapa bulan ini aku pindah tugas ke Mataram, Mataram... Kota yang tidak pernah ada di benakku sebelumnya. Meskipun ibukota propinsi tapi Mataram cukup kecil dibandingkan kota-kota di Jawa, dan yang jelas di Mataram tidak ada yang namanya macet seperti di Jakarta atau Bandung. Selain itu banyak objek wisata yang menarik di sini, seperti hobbiku yang baru, snorkeling di Gili Trawangan.

Sejenak kurebahkan tubuhku di pasir putih yang bersih, aku biarkan butiran pasir halus menempel ditubuhku dan kupejamkan mata menikmatinya.

"ARY!!??!!", aku tertegun ketika tiba-tiba ada orang menyapaku.

Kubuka mataku dan kulihat sesosok kaki yang kokoh, paha yang berisi, tontolan di pangkal paha yang besar dibalut celana renang yang sangat mini, perut yang tercetak, dada bidang dan berisi dengan kulit bulenya yang terpangang, semua membuat jantungku berdekup kencang dan batang kemaluanku segera bereaksi, tapi tanganku tidak kalah cepat, segera mengambil baju di sebelahku untuk kututupkan pada pangkal pahaku, takut ketahuan.

Kuperhatikan wajahnya yang sedikit ditumbuhi jenggot, cambang dan kumis, hidung yang mancung, alis yang tertata bagus dan mata coklatnya yang mengoda dan rambut yang basah kebelakang menambah karismanya.

"ARY khan!?!?", kembali dia memanggil namaku, aku segera tersadar.
"FRANS!!?? how are you?!", selanjutnya kami segera terlibat percakapan seru.

Frans.., seorang pemuda asal Perancis, mungkin usianya sama dengan aku. Aku kenal dia waktu di pesawat dari Jakarta ke Mataram pertama kali, kebetulan waktu itu dia duduk di sebelahku dan kita sama-sama menginap di hotel yang sama, sebuah hotel di bilangan jalan Sriwijaya.

Singkat cerita, Frans kemudian menawarkan agar aku menginap di home stay-nya karena kebetulan dia tinggal sendiri dan kebetulan juga aku belum memesan tempat menginap. Karena hari mulai gelap, kita berjalan beriring menuju home stay Frans. Sepanjang jalan kita terlibat percakapan yang masih seru sambil mataku menyapu pemandangan sekitar yang mulai meremang, termasuk para turis yang berjalan kaki lalu lalang bertelanjang dada dan berpakaian seadanya memamerkan body mereka yang hhmm!

Sesampai di home stay Frans aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang mulai gatal, sementara Frans beristirahat di tempat tidur menunggu giliran mandi. Segera kubasuh badanku dengan air dan kugosok dengan sabun cair, tapi beberapa bagian tubuhku terasa perih (pasti karena tergores karang tadi). Dengan sedikit mendesis menahan perih aku gosok seluruh tubuhku, namun tiba-tiba...

"Ada yang bisa aku bantu??!!"

Aku terkejut karena tiba-tiba Frans telah berada di belakangku. Rupanya aku mandi tanpa menutup pintu kamar mandi, dan sudah kebiasaanku sejak lama (pembaca pasti sudah tahu) sehingga Frans bisa masuk kamar mandi.

"Nggak... Aku dengar kamu tadi mendesis... Ada yang sakit...??", lanjut Frans.
"Iya nih badanku sedikit perih-perih... Kena karang kayaknya tadi!!", jawabku singkat.

Dengan sabun cair Frans segera mengosok punggungku, belakang leherku lalu turun ke pantat dan pangkal kakiku. Karena sentuhannya itu batang kemaluanku langsung berdiri, aku berusaha menutupinya dengan berusaha membelakanginya. Namun sentuhan Frans yang semakin lembut membuat desahanku semakin mengebu, yang tadinya karena perih sekarang bercampur dengan desahan kenikmatan.

Mendengar desahanku yang makin bernafsu, Frans makin berani, dia mulai mengosok bagian depan tubuhku. Dipeluknya tubuhku dari belakang dengan tangannya mulai memainkan kedua putingku dan perutku! Segera kubalikkan badanku, dan kudapati Frans telah telanjang bulat dengan batang kemaluan yang berdiri tegak, warna kemaluannya yang kemerahan membuatku semakin bernafsu!

Kucium bibir Frans, Frans membalas dengan bernafsu, dia mulai mengulum bibirku dan memainkan lidahnya, kami saling berpelukan dan berciuman di bawah guyuran air. Frans merekuh diriku dan melumat bibirku, bibirnya terasa hangat dan nikmat, lidahnya menari-nari di rongga mulutku.

"Oohh... Eehh... Sshh... Nikmat sekali," desah Frans.

Sambil berciuman kutelusuri seluruh lekuk tubuhnya yang atletis dari dada, punggung, perut, pinggang, pantat dan pahanya. Demikian juga dengan Frans, dia membelai seluruh lekuk tubuhku, kadang dengan belaian lembut, kadang dengan pijatan tangannya.

Kemudian bibir Frans mulai turun beralih ke kedua putingku, dijilati dan digigit-gigit kecil putingku.

"Oohh..." aku menggeliat kenikmatan.

Aku menjerit pelan ketika Frans mulai mencium perutku dengann sesekali mengigit pelan, dijilatinya bulu kemaluanku yang tipis karena habis aku potong. Selanjutnya Frans sudah berjongkok di depan senjataku yang sudah tegak sejak tadi, kemudian Frans mulai menjilati kepala kemaluanku, dijilatinya lubang kemaluanku.

"Oohh... Eehh... Sshh... !!".

Segera dihisap dan dikulum senjataku yang lumayan besar dengan sesekali dikocoknya. Frans menikmati senjataku dengan penuh nafsu. Aku mengerang, menggeliat menikmati hisapannya. Frans menjilati batang kemaluanku, dari kepalanya yang besar dia bergerak mengelilingi batang kemaluanku turun-naik beberapa saat, kemudian dia beralih ke daerah lipatan paha dan buah zakarku. Buah pelirku disedot, dilumat dan dimainkan dengan lidahnya.

"Aagghh..." aku semakin menggelinjang dan meregang sambil kuremas rambutnya. Dijilati seluruh batang kemaluanku, dihisap dengan keras dan dipaksakan masuk ke mulutnya dengan menelannya.
"Mmhh.. Sshh.. Aacchh.. Mmhh.." aku mendesis dan melenguh kenikmatan.
"Oogghh... Oocchh... Sstt..." kuangkat sedikit pantatku dan kakiku meregang karena nikmatnya.

Frans terus menghisap dengan lembut, memasukkan dan mengeluarkan batang kemaluanku dari mulutnya, semakin lama semakin cepat. Kemudian Frans menuntunku untuk membuat posisi 69 di lantai kamar mandi, kini batang kemaluannya yang kemerahan berada di depanku, dengan bernafsu kujilati paha, daerah lipatan antar paha dan terus ke buah zakarnya, kurasakan bau khas laki-laki yang semakin merangsang birahiku. Kupegang dan kujilati kemaluan Frans, mulai dari kepalanya yang besar, kumainkan lidahku di lubang kemaluannya, Frans meregang, otot pantatnya mengeras.

Kulanjutkan jilatanku terus ke bawah menyusuri batangnya sampai kantung buah zakarnya. Batang kemaluannya semakin membesar dan tegang, segera kuhisap dalam-dalam dan kurasakan denyutan uratnya keras tapi lembut, mulai kukocok keluar-masuk dari mulutku. Frans mengimbangiku dengan menggoyang naik turun pantatnya. Sementara itu Frans juga sedang sibuk menghisap batang kemaluanku."Oocchh..." aku merasakan sensasi perasaan yang sulit kutuliskan, tubuhku meriang. Semua berlangsung dengan irama yang semakin cepat disertai erangan-erangan kenikmatan.

"Oohh... Aku mau keluar..." teriakku.
"Aku juga..." balas Frans.

Aku semakin mempercepat gerakanku, demikian juga Frans dan..

"Oocchh...", Croot... Croot... Croot... kami hampir bersamaan melenguh panjang disertai semburan sperma kami yang putih dan kental, sekujur tubuhku merinding, bergetar dan tegang sebelum akhirnya melemas perlahan. Aku melihat sperma Frans muncrat ke perut dan dadanya yang bidang.

"I love you..." bisik Frans sambil mengecup bibirku.

Kamipun akhirnya mandi berdua dengan saling mengosok dengan sabun.

Selesai mandi akupun segera keluar kamar mandi dan mengosok tubuhku dengan handuk, namun belum juga kering tubuhku... Frans mendekap tubuh ku dari belakang. Di kecupnya leherku dan belakang telingaku, dimainkann lidahnya di telingaku, semantara tangannya mulai memainkan puting dan perutku.

Sejurus kemudian kami sudah saling berciuman sambil bergulingan di kasur kamar! Semuanya kembali membuat kita kembali bernafsu!

"Oogghh... Fuck me.. Fuck me.. Please..." pinta Frans.

Frans kemudian menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang dan mengangkat kedua kakinya. Aku segera turun dan berdiri di pinggir ranjang, perlahan-lahan kubimbing batang kemaluanku ke lubang anus Frans dan langsung kusodok.

"Aacchh... Sstt," Frans mendesah.

Aku berhenti sejenak, setelah kurasakan otot anus Frans kendor kembali, aku segera mendorong batang kemaluanku dan akhirnya batang kemaluan besarku itu menerobos ke lubang anus Frans. Aku mulai menarik dan mendorong perlahan dan semakin cepat, Frans mengimbangiku dengan menggoyang pantatnya, dengan tangannya terus mengocok batang kemaluannya sendiri.

"Oogghh... Sstt..." kami berdua melenguh nikmat bergantian.

Dengan batang kemaluanku yang masih di anusnya, kami bergerak ke atas tempat tidur. Frans dengan posisi terlentang di tempat tidur, dinaikkan kakinya di pundakku, aku masih terus menarik dan mendorong dengan cepat, sambil terus aku mencumbunya dengan ciuman dan jilatanku di bibir atau di putingnya.

Kami berdua mengerang kenikmatan dengan nafas yang makin memburu. Beberapa saat kemudian kami berganti posisi. Aku tidur terlentang dan Frans jongkok di atas batang kemaluanku.

"Aagghh... Oocchh..." kami melenguh bersamaan, kurasakan lubang anusnya hangat, menjepit dan meremas batang kemaluanku, sementara Frans meringis kenikmatan. Dengan berirama Frans bergerak naik turun sambil menggoyang dan memutar pantatnya.
"Aagghh... Sstt... Aacchh..." aku mengerang dan mendesis kenikmatan. Tanganku yang tadi memegang pinggang Frans sekarang membantunya mengocok batang kemaluannya yang besar.

Selanjutnya aku menyodok Frans dari belakang, dengan posisi tidur miring Frans mengangkat kaki kanannya sedikit dan aku menyodoknya dari belakang, sambil aku ciumi leher bagian belakangnya dan ku kocok batang kemaluanya dari belakang. Beberapa lama kami saling mendesah dan mengerang dengan irama yang makin berpacu.

"Oohh... Aku mau keluar..." teriakku.
"Aku juga..." balas Frans.

Aku semakin mempercepat gerakanku dan Frans juga mengocok batang kemaluannya semakin cepat dan "Oocchh... Croot... Croot... Croot..." kami hampir bersamaan melenguh panjang disertai semburan sperma kami yang putih dan kental, sekujur tubuhku merinding, bergetar dan tegang. Kami berpelukan erat-erat, tubuh kami menegang sebelum akhirnya melemas perlahan. Aku melihat spermaku meleleh keluar dari anusnya dan sperma Frans muncrat ke tempat tidur.

"I love you..." bisik Frans.
"I love you too..." balasku sambil kukecup lehernya.

Kami pun tidur berpelukan beberapa saat, sementara batang kemaluanku masih di dalam lubang anusnya.

Recana liburanku yang semula hanya untuk week end, akhirnya aku perpanjang seminggu dengan minta cuti dari kantor. Dan kami menghabiskan hari-hari yang indah di Gili Trawangan.

Frans kini telah kembali ke negaranya, tinggallah aku di sini dengan kenangan indah dan menunggu kedatangannya pada musim panas berikutnya.

*****

Terima kasih atas perhatian kalian dan saya tunggu komentar kalian, I'm looking for a friends, and maybe more.

Gelar Lomba Pancho

Pertama kali aku melihat Jack saat berenang pagi hari. Badannya begitu proporsional, tinggi 185 cm berat sekitar 80 kg. Dadanya begitu terisi, lengan bisep dan trisepnya begitu ranum segar juga enam kotak yang begitu jelas, bahkan saat dia sedang duduk. Mataku tidak lepas memandang tubuh itu sewaktu dia naik dari kolam renang dan menuju tempat bilas. Kebetulan terbuka dan menghadap ke kolam renang. Aku berusaha melihat sedekat mungkin.

Balutan segitiga ketat itu mengingatkanku pada film Baywatch yang terkenal itu. Meskipun dia bukan bule namun hampir tiada beda dengan salah satu pemeran penjaga pantai itu. Badannya aku nilai sempurna. Sebenarnya aku malu kalau-kalau teman renang lain melihat aku sedang memelototi seorang cowok. Aku adalah pria sejati, tapi aku iri dengan badannya, aku ingin memilikinya.

Namaku Koko, umur 27 th, sudah memiliki seorang tunangan cewek dan tahun depan kami berencana menikah. Aku memang rutin berenang, bahkan kami memiliki semacam gang di kolam renang. Semenjak kecil aku mendambakan badan besar namun karena pekerjaan dan waktu sehingga aku belum sempat ke gym hingga saat ini. Meskipun berenang namun badanku tidak terbentuk juga. Bulan ini aku bertekad untuk rutin ke fitnes centre, seminggu dua kali.

*****

Meski aku kali ketiga ke gym DINO tapi aku belum cukup mengenal semua yang ada di situ. Gym ini memang cukup ramai baik yang baru maupun yang lama. Fasilitasnya cukup lengkap meskipun tidak bisa dibilang baru, tapi yang menarik adalah harganya yang cukup miring. Apalagi bagi pemula yang mencoba dan belum tentu serius. Ada beberapa teman yang baik mau mengajariku untuk menggunakan semua alat yang ada disitu.

Jantungku berdebar lebih kencang bukan karena habis melakukan treadmill tapi karena cowok yang di kolam renang itu juga ternyata fitnes di tempat ini. Ya, si Jack fitness di sini juga. Apalagi sekarang menggunakan kaus fitnes yang ketat menonjolkan otot dadanya dan memamerkan hasil angkatan barbel pada lengannya. Otot-otot itu begitu terbentuk. Itu baru atasnya belum bagian bawahnya.

"Baru di sini, Mas?" tanya Jack pertama kali saat kami mulai perkenalan itu.

Semenjak itu aku berlatih di bawah bimbingan Jack dan sebagai balasannya aku sering mentraktir dia makan bakso atau yang lain setelah latihan. Jadwalku aku rubah agar sesuai dengan jadwal Jack. Kami semakin akrab tapi yang aneh justru nafsuku sama dia agak berkurang, karena aku anggap kami bersahabat. Bahkan di luar latihan pun kami mulai sering berkunjung.

*****

Tiga bulan semenjak pertemuan pertama kami sudah benar-benar menjadi sahabat. Hobi kami hampir sama yaitu berpetualang, kapan-kapan aku akan ceritakan petualangan yang seru bersama Jack. Hanya berdua saja tersesat selama sepuluh hari. Persahabatan kami adalah seperti pada umumnya persahabatan. Bukan kekasih! Jack adalah pria normal juga, hanya saja dia agak pemalu terhadap wanita. Umurnya masih 26, satu tahun lebih muda dariku.

Aku berterimakasih pada Jack karena hasil kerja selama ini sudah mulai terlihat. Aku semakin PeDe saja. Aku mulai suka mengenakan kaus ketat, badanku sudah lebih besar. Di gym aku juga sudah tidak ragu lagi mengenakan kaus singlet atau celana ketat. Beratku naik dari 60 kg jadi 67 kg, meski demikian perutku tidak membesar karena semua cadangan lemak sudah diubah jadi massa otot, baik di dada, lengan maupun paha.

Malam ini gym kami mendapat kesempatan untuk jadi penonton di gelar lomba panco yang diadakan salah satu televisi swasta. Setelah makan malam kami sudah berkumpul di studio, padahal acaranya baru akan ditayangkan secara langsung mulai jam 23.30 WIB. Berarti tayangan bukan untuk anak-anak, seperti cerita ini juga. Malam itu mataku begitu fresh, selain melihat penyiar yang segar-segar baik cowok maupun cewek, di sekitarku juga banyak orang-orang berotot. Baik peserta maupun penonton berotot meski banyak yang pakai jaket tebal oleh dinginnya AC di studio. Terus terang beberapa kali aku konak karena melihat seksinya otot-otot orang-orang itu. Aku tidak sadar kalau Jack ternyata mengamati aku selama itu.

Pukul 1 dini hari kami baru kembali dari makan roti bakar di depan studio TV. Malam setelah gelar lomba panco itulah kisah ini dimulai.

"Ko, aku tidur tempat elo aja ya.. Aku takut ganggu orang rumah."

Aku angguk setuju aja. Tapi seperti kalian juga, pikiran kotorku langsung jalan. Selama perjalanan aku kurang konsen menyetir. Aku hanya tersenyum saat Jack menawarkan untuk menyetir motor menggantikanku.

Sesampai di rumah aku langsung menyetandar motor dan dengan hati-hati dan hampir tanpa suara kami masuk kamar. Aku lelah dan ngantuk sekali, terus terang aku memang tidak biasa tidur malam. Lain dengan Jack yang masih terlihat segar. Aku buka jaket dan celana jinsku. Tanpa mengganti kaus atau memakai celana pendek aku langsung masuk ke tempat tidur. Pikirku, Jack kan sudah beberapa kali ke sini jadi sudah tahu WC atau tempat gelas air minum kalau memang dia memerlukannya.

"Jack, aku tidur duluan" kataku sambil menengkurapkan badan dan memeluk guling.

Sebenarnya aku mau langsung tidur tapi entah kenapa malahan di tempat tidur ini mataku sulit memejam. Padahal waktu menunggu roti tadi aku sudah berkali-kali menguap. Tapi aku malu karena sudah berpamitan dengan Jack jadi aku berpura-pura tidur saja.

Jack meletakkan tas dan membuka jaketnya juga. Lalu dia menyetel televisi dan memindah-mindah canel. Lalu minum dan melihat televisi lagi. Pindah-pindah canel lagi, lalu bersiap untuk tidur. Mulanya dia tidur di bawah di kasur yang tipis. Saat aku hampir terlelap aku merasa ada badan hangat di sebelahku. Aku jadi terbangun karena kaget. Mungkin Jack kedinginan juga dan ingin berbagi selimut denganku. Kuluruskan badan untuk berbagi tempat dengannya. Beberapa kali dia menghela nafas seperti orang yang gundah. Aku jadi tidak bisa nyenyak tertidur.

Kucoba membalikkan badan dan memperhatikannya di keremangan kamarku. Ya dia belum benar-benar tertidur. Kasur kami terasa sempit untuk badan kami yang besar-besar ini. Di gantungan baju nampak kaos dan celana panjang training yang Jack kenakan tadi, juga jaketnya. Aku jadi berdebar dan ingin tahu. Kugerakkan tanganku untuk tahu apa yang Jack kenakan di bawah selimutku. Ternyata dia hanya mengenakan celana dalam G-String aja. Debaran jantungku semakin kencang dan darahku seperti berdesir-desir.

Lalu aku mencoba memeluknya tepat di atas dadanya. Aku merasakan tebalnya dada yang terlatih itu. Jack diam saja, padahal aku yakin dia belum tidur. Aku ngantuk tapi dadaku berdegub kencang sekali, sampai aku takut kalau Jack mendengarnya. Pelukan kukencangkan dan sedikit kugoncang dan dia tetap tenang saja, tidak terbangun atau menunjukkan reaksi lain. Setengah bercanda kubelai dadanya lalu belaian kuturunkan ke arah perutnya. Aku kaget sekali karena sebelum aku sampai ke celana dalamnya aku sudah terantuk segumpal daging keras dan hangat. Saat terlewat, aku kembali lagi ke gumpalan itu dan aku tahu itu adalah kontol Jack yang sudah menegang dan keluar dari celana dalam. Segera kutarik tanganku karena aku begitu kaget.
Aku terduduk dan aku takut kalau ini adalah mimpi. Jam masih menunjukkan jam 2 kurang. Saat aku menengok wajah Jack terlihat senyuman sedikit di wajahnya, matanya agak terbuka sedikit.

"Kaget ya, sukurin.. elo sih usil tangannya!" kata Jack pelan. Lalu matanya terpejam lagi.
"Gila lo Jack. Elo ngerjain gua yaa.. tapi punya elo gede juga sepertinya." Kataku untuk menangkal rasa grogiku.
"Iya lah.. gue kan ada darah bulenya" aku anggap jawabannya itu adalah bercanda.

Sekarang aku jadi tidak bisa tidur beneran. Di samping aku ada Jack temenku yang pada mulanya aku kagumi tubuhnya.

"Jack kenapa elo horny begitu?" tanyaku memecah kesunyian di antara kami.
"Pengen dielus lagi kali" jawabnya begitu kacau.
"Elo ngebayangin apa sih?" rasa penasaranku tak bisa dibendung lagi.
"Bayangin elo lagi em el ama calon elo itu".
"Kurang ajar nih anak!", pikirku.

Daripada banyak bacot aku peluk lagi aja tuh anak.

"Tuh kan elo terangsang lagi ama gua" katanya sok tau.

Aku tidak peduli ucapannya lagi. Segera tanganku turun ke pahanya, terasa sangat hangat dan kuelus-elus paha yang kencang itu. Di pangkal paha kutemukan beberapa jembut kasar baru tumbuh.

"Uh uh uh.. " Jack mengerang, tapi aku tahu dia tidak serius sama sekali.

Tapi aku herankan dia membiarkan saja aku menggerayangi seluruh tubuhnya. Keberanianku jadi bertambah. Tak tahan juga segera aku menggenggam dan mengelus kontol Jack yang kudamba sejak lama.

"Jack, elo terangsang karena bayangan elo atau karena tanganku ini?" tanyaku saat aku menggenggam kontolnya yang lumayan besar.

Kalau punyaku 15 cm diameter 3 cm maka punya dia pasti sekitar 18 cm diameter 3,5 atau 4 cm. Kontol itu berdenyut di tanganku. Jack tidak menjawab pertanyaanku, malahan memasukkan tangan kanannya ke dalam celana dalamku. Ketahuan sudah, bahwa aku juga sedang tegang habis.

"Kalau elo kenapa, Ko?" dia bertanya balik.

Kontol Jack mulai kukocok pelan tanpa aku jawab pertanyaan itu. Tangan Jack pun bergerak meremas kontolku dan segera posisi tidur kami sudah berhadapan. Kali ini aku tidak ragu lagi. Kupandang wajahnya yang keenakan. Matanya setengah terbuka dan terdengar desis dan lenguhan nafasnya. Begitu seksi kelihatannya. Aku merasakan hangatnya remasan Jack di batangku yang peka itu. Kami sama-sama sunat, aku merasakan dari benjolan bekas jahitan di dekat kepala kontol Jack.

Tak lama kami sudah benar-benar berbugil. Kaosku, celana dalam kami dan selimut sudah tidak kupedulikan lagi. Kami sudah saling mengelus baik pipi, dada dan punggung, pantat dan bagian-bagian yang lain. Aku hanya ingin kepuasan dari tubuhnya. Jack juga demikian. Kami saling memeluk erat dan menggosok-gosokkan kontol kami satu dengan yang lain.

Sekarang kukulum kedua bibir Jack, uhh terasa manis. Kupegang kepalanya dan kujambak rambutnya. Lalu kuselusuri dengan bibirku dadanya yang bidang dengan otot dada yang tebal dan bigitu ketat. Sesekali kujilat putingnya, ahh dia kegelian. Aku senang lihat reaksinya.

Tempat favoritku adalah perutnya, begitu seksi dan kotak-kotak. Saat itu kontol Jack tentu saja terasa sangat hangat di dadaku yang berotot juga. Sesekali kugeser-geser dadaku untuk menjaga agar kontol Jack tetap mendapat sensasi enak dan tetap tegang. Belum lagi ujung hidungku melalui pusar, daguku telah terantuk benda hangat yang sedang berdenyut-denyut. Kugeserkan daguku yang berjenggot sedikit ke kanan dan kiri. Jack melenguh panjang kenikmatan. Aku jadi senang.
Kulalukan sebentar porsi utama.

Aku beralih ke pahanya. Ah.. dia ternyata tipe cowok yang suka mencukur bulu bawahnya. Terbukti cukurannya begitu rapi dan rata. Oh ya dia kan juga sering renang ini pasti demi kesopanan. Kuhisap dan kujilat bau kejantanan yang khas di sekitar selakangannya. Bola Jack juga kupermainkan. Juga kugigit lembut memberikan kejutan baginya, terbukti dia memperhatikan apa yang kulakukan di bagian bawahnya. Aku menciumi paha Jack yang juga besar seperti pemain Sepakbola, dan kuberi tanda sebuah cupang tepat di bawah selakangannya. Tentu saja Jack keenakan seperti kena setrum he he he..

Jack terduduk, rupanya dia juga sudah sangat bernafsu. Sekali tarikan tangan kontolku sudah di tarik didekatkan ke bibirnya. Ahh nikmat sekali! Aku setengah berdiri dengan lututku, kepala Jack di depan perutku. Hmm aku tidak tahan untuk memegang rambut kepalanya, kuikuti gerakan kepalanya yang terkadang maju, mundur, ke kanan, ke kiri dan ke arah lain untuk memberi kenikmatan pada kontol yang sudah tegang penuh dan ingin dikulum. Jack menciumnya, menjilati dari pangkal hingga ujung kepala, hmm ahh.. enaknya hingga ke langit. Digigitnya bekas sunatku dan dikitarinya pangkal kepala kontolku, badanku bergetar tak dapat menahan gejolak yang begitu nikmat.

Slupp kontolku hilang dalam lubang basah mulut Jack. Lama senjataku ada di sana, tentu Jack merasakan asinnya maziku. Aku merasakan kenikmatan apalagi Jack sudah mulai menyedot hm.. nikmat sekali. Sembari memegang dua pantatku yang juga berisi dia mulai mengeluarmasukkan kontolku. Sensasinya uhh enak, getaran itu mengalir dari kontolku hingga ke ubun-ubun kepala ahh Terkadang kulihat sebagian batang kontolku yang mengkilat oleh ludah tapi tak pernah kulihat ujung ungu itu. Woow!

Aku mau Jack juga merasakannya. Posisi kami jadi 69. Aku merasa harus menganga penuh untuk memasukkan kontol Jack ke dalam mulutku. Aku tidak sanggup menelan semuanya. Kontol Jack begitu besar. Aku tahu sensasi paling tinggi ada di kepala kontolnya maka aku bekerja lebih banyak di daerah itu. Gerakan favorit yang disukai Jack adalah saat aku melingkarkan lidahku di kepala kontolnya. Dia sampai berhenti menghisapi kontolku untuk sekedar menikmatinya.

"Jack awas loh Jack, aku uhh hampir Jack.. bener uhh!" kuperingatkan Jack.

Sepertinya justru dia bertambah cepat untuk mengeluar masukkan kontolku dan menghisapnya. Ahh uhh uhh uhh! Aku berusaha mengimbangi apa yang Jack lakukan pada kontolku dengan menghisap kontol Jack lebih kuat lagi. Rasa dan momen itu begitu nikmat. Tiada lagi yang bisa diingat selain kenikmatan itu. Aghh!

Tiba-tiba terasa asin dan hangat di lidah dan tenggorokku. Ah cuek aja! Justru aku semakin kuat menghisapnya. Begitu juga Jack dan akibatnya croott maniku muncrat di mulut Jack. Dia pun menelannya juga, bahkan dihisapnya lagi sampai benar-benar bersih. Kontol Jack kembali mengkerut, demikian juga aku rasa kontolku.Kubaringkan tubuhku di samping Jack.

Kucium pipinya, "Thanks Jack! Elo emang sahabatku!" Dan Jack tersenyum.

Lalu ditariknya selimut untuk menutupi tubuh kami yang bugil. Jack memelukku dan aku membiarkannya. Dari mulutnya yang begitu dekat dengan hidungku masih tercium sisa-sisa maniku. Kukulum bibir itu sekali, tiada balasan tapi aku merasakan kontolnya yang menyentuh pahaku berdenyut lagi membesar.

Gejolak Nafsu Anak SMU

Noldy, lagi-lagi cowok itu bertingkah aneh untuk menarik perhatian anak-anak kelas 3B. Namun kali ini yang dilakukannya sudah sangat kelewatan, bahkan sampai membuat semua siswi yang kebetulan sedang ada di dalam kelas pada saat jam istirahat itu berteriak histeris.

"Gila kau, Dy!" gumamku ketika kusaksikan sendiri Noldy menunjukkan keberaniannya yang semula hanya kuanggap hanya sekedar main-main. Ternyata Noldy memang pantas dengan julukan "cowok nekat" yang diberikan kepadanya oleh anggota gank preman selama ini.

Di siang yang panasnya begitu menyengat itu, seolah tanpa rasa malu sedikit pun, sang bintang Noldy membuka restleting celana abu-abunya di atas salah satu meja sambil mengumbar sengirannya yang nakal. Tak cukup di situ saja, ia lalu memegang kemaluannya yang sudah mengeras sebesar pisang ambon itu dan kemudian mengeluarkannya dari dalam sangkarnya, sebuah celana dalam G-String berwarna putih. Dan tentu saja, tontonan gratis saat jam istirahat kedua itu langsung menyedot perhatian dan langsung membuat suasana kelas menjadi gempar seketika dengan teriakan histeris beberapa orang siswi dan teriakan "Huu.." yang menggema hampir berbarengan di seluruh ruangan kelas, ruangan kelas yang berisi sekelompok siswa yang terkenal karena "sakit mental"-nya.

Pertunjukan itu tak lama, cuma sekitar 3 menit. Dan saat itu, sempat kulihat Noldy mengelus-elus batang penisnya seraya cengengesan, seolah-olah ia begitu bangga sekali dengan "adik"-nya yang berwarna kemerahan itu, lebih lagi karena ia merasa sudah berhasil mengalahkan kami dalam taruhan kemarin sore. Taruhan yang dimotori oleh sebuah alasan, "mempertahankan gengsi!" apalagi Noldy selama ini memang dikenal sebagai cowok pemberani, bahkan cukup berani untuk melakukan sesuatu gila seperti yang dilakukannya siang itu.

Kontolnya tak kurang dari 15 cm panjangnya, dan itu cukup besar untuk ukuran anak SMU seperti kami, belum lagi diameternya yang tak kurang dari 3 cm. Kebetulan aku dapat melihatnya dengan sangat jelas karena aku duduk di dekatnya saat itu. Noldy berdiri tepat didepanku, sehingga aku bisa leluasa memandangi kontolnya itu dari bawah, Pemandangan yang sungguh luar biasa! jelas sekali punya Noldy masih lebih besar daripada punyaku, belum lagi jembut-jembutnya yang tampak lebat sehingga menambah keseksiannya. Bagaimana rasanya melumat kontol sebesar itu? pasti nikmat sekali! Pikirku saat itu. Aku benar-benar terangsang menyaksikannya saat itu, sampai-sampai "rudal"-ku pun ikut-ikutan menegang dan mengeras di balik celana dalamku yang sudah basah dengan cairan precum itu.

Namun sayangnya, pemandangan itu tak berlangsung lama. Barangkali, Noldy takut juga jika nantinya harus berurusan dengan pihak sekolah karena aksi pornonya itu. Sang bintang renang itu pun lalu memasukkan kembali kontolnya ke dalam sangkar dan menguncinya rapat-rapat dengan restleting.

"Bagaimana aksiku?" tanya Noldy setengah berbisik di dekat kupingku.

"Lumayan!" sahutku berpura-pura cuek.

"Lumayan gimana? Kau belum tentu berani melakukannya!" tegas Noldy.
Aku hanya mencibir ke arahnya sekedar untuk menggodanya, namun beberapa saat kemudian aku pun tersenyum sambil menepuk pundak sahabatku itu.

"Oke, aku mengaku kalah. Kau bisa ke rumah jam 5 nanti untuk mengambil kasetnya!" Noldy tertawa lebar mendengarnya, apalagi sudah lama ia ingin meminjam kaset BF-ku itu sejak aku, Noldy dan beberapa teman dari gank preman menontonnya bersama-sama sebulan yang lalu ketika baru saja kubeli.

Noldy tampak senang sekali, mukanya berseri-seri ketika ia berdiri di depan pintu pagar depan rumahku. Ia sudah datang setengah jam sebelum jam lima, dan kebetulan saat itu tak ada seorang pun di rumahku kecuali Bi Inah yang sedang menyapu pekarangan depan dan ia jugalah yang membukakan pintu untuk Noldy.

Tanpa disuruh Bi Inah, Noldy pun langsung nyelonong masuk begitu saja ke kamarku di lantai atas seperti yang biasa dilakukannya. Ia pula yang kemudian membangunkan aku dari tidur siangku yang sudah rada kelewatan itu. Hari itu memang hari yang sangat melelahkan, itu yang kurasakan. Apalagi rasa capek setelah mengurus persiapan acara perpisahan tadi pagi masih belum juga hilang. Saat letih seperti itu, bagiku tak ada kegiatan yang lebih menyenangkan selain menemani bantal gulingku seharian di dalam kamar sambil menikmati buaian alam mimpi.

Sebuah pukulan keras diarahkan tepat mengenai pantatku, tak ayal pukulan guling itu langsung membuatku terjaga seketika. Aku coba membuka mataku yang masih terasa berat untuk melihat apa yang terjadi, kupikir atap rumahku sedang runtuh terkena torpedo dan kemudian runtuhannya jatuh menimpaku. Namun begitu kulihat sekelilingku, tak ada yang istimewa kecuali wajah Noldy yang cengengesan seperti orang gila di sampingku.

"Bangun, pemalas! Jam segini masih tidur!"

"Mau apa kau kemari?!?" tanyaku setengah sadar.

"Mana kasetnya? BF Gay yang waktu itu!" pinta Noldy tak sabar sambil mengguncang-guncang tubuhku supaya aku segera bangun.

Dengan terpaksa, aku pun bangun dan kemudian duduk di atas kasur sambil bersandar pada tembok, mataku benar-benar masih berat, "Cari saja sendiri dibawah spring bed! Pakai sapu!"

Noldy pun segera mencarinya di bawah spring bed sesuai komando. Memang tempat itulah yang kurasa paling aman dari sekian banyak tempat persembunyian yang ada di rumahku untuk menyimpan barang-barang rahasia semacam kaset BF. Tak lama mencari, Noldy menemukannya!

"Kemana ortu-mu? Kok sepi banget?"

"Nggak tahu. Mungkin mereka sedang bulan madu di kutub utara!"

"Wah, asyik dong! Kayaknya, orang tuamu sering bulan madu yah!"

"Ya begitulah! Mereka itu nggak pernah sadar kalau sudah beranak lima!" sahutku asal.

Noldy terbahak-bahak mendengarnya. Ia tahu pasti kalau itu hanya lelucon sebab dia tahu kalau aku anak tunggal, satu-satunya yang dimanja oleh kedua orang tuaku.

Noldy masih memegang kaset bergambar pria telanjang itu, ia menimang-nimang sambil memelototinya sesekali, ia tampaknya sudah tak sabar lagi, "Fer, kasetnya aku putar di sini aja yah!" pinta Noldy kemudian.

"Kau suka juga kaset begituan? Kau gay yah?" tanyaku dengan ceplas ceplos seperti kebiasaanku.

"Gimana yah, susah jawabnya! Tapi jujur, aku penasaran! Enak nggak sih?" sahutnya ringan.

"Mau coba?" tantangku tanpa tedeng aling-aling. Beberapa saat Noldy hanya tercenung, ia menatapku dengan seribu satu pertanyaan di benaknya. Jelas sekali terlihat dari kerutan di dahinya bahwa ia kaget dan bingung dengan tantanganku barusan.

"Maksudmu?"

"Yah.. kita coba saja untuk tahu enaknya!"

"Dimana?"

Aku pun langsung beringsut mendekati Noldy dan tanpa bicara sepatah kata lagi, aku lantas menarik tabuhnya untuk menindih tubuhku di atas kasur. Badannya lumayan berat juga, Noldy memang tidak gemuk, namun ia atletis dan badannya berisi. Tetapi aku tak peduli, kami hanya sibuk saling melumat satu sama lain sambil bergulingan di atas kasur, mengikuti irama nafsu yang makin membara yang menambah suasana di kamar pribadiku itu menjadi makin panas. Kurasakan hantaman rudalnya di bawah sana sudah mulai meledak-ledak mengikuti irama permainan kami seolah-olah siap untuk melesak keluar, begitu hangatnya bergesekan dengan rudalku sendiri.

Noldy tak mau melepaskan ciumannya dari bibirku sampai kurang lebih sepuluh menit berlalu, ia mendaratkan ciuman-ciuman liarnya ke bibirku sambil sesekali kami memainkan lidah kami satu sama lain. Noldy semakin buas saja, ia seperti orang kehausan yang baru saja menemukan mata air.

Usai kissing, kami lanjutkan dengan necking. Betapa nikmatnya, menciumi leher Noldy yang putih mulus dan seksi itu, dengan sebuah tahi lalat kecil di sebelah kanan yang menjadi ciri khasnya. Sementara itu dalam waktu yang bersamaan, tangan kami pun tak tinggal diam, kurasakan tangan Noldy begitu liarnya meraba-raba dan menjamah bergantian seputar dada dan penisku yang sudah mengeras sejak beberapa saat yang lalu, sesekali ia meremas-remasnya bak memompa agar lebih perkasa lagi.

Sementara itu, tanganku sendiri mulai kuselipkan masuk ke sela-sela celana jeans ketat yang dipakai Noldy setelah aku tak cukup merasa puas hanya dengan merabanya dari luar. Dengan cepat kulonggarkan sedikit sabuk besi yang dipakai Noldy, dan setelah tanganku berhasil masuk ke dalam CD Noldy, mulailah kurasakan tanganku sedang menjamah selaras kontol berukuran besar yang sedang full ereksi. Siapa yang menduga kalau kontol yang tadi siang hanya bisa kulihat dan sempat membuatku tergiur, kini sudah berada di genggamanku. Tanpa dikomando, aku pun mulai meremas-remasnya sambil sesekali mengocoknya pula.

"Argh!" Noldy menggeliat-geliat sambil telentang di bawahku ketika kukocok kontolnya makin lama makin cepat.
Namun sesekali aku berhenti mengocok, agar spermanya tak cepat keluar sebelum kami puas menikmati permainan kami. Pada suatu kesempatan aku berhenti, kutanggalkan celana Noldy seluruhnya, bahkan T-shirt dan CD yang dipakainya sampai cowok ganteng itu telanjang bulat di depan mataku tanpa seutas benang pun yang membalut tubuhnya lagi. Noldy hanya menyeringai menyaksikan aksiku menelanjanginya, barangkali ini adalah pengalaman pertamanya ditelanjangi oleh orang lain.

Usai menelanjangi, kudekatkan mukaku ke seputar dada Noldy yang bidang dengan ditumbuhi sedikit bulu halus yang berbaris sampai ke seputar kemaluannya. Kemudian segera kulumat kedua puting susu Noldy yang berwarna kemerahan itu secara bergantian, setelah itu baru kujelajahi seluruh dada dan perut Noldy dengan permainan lidahku. Sesekali Noldy menggeliat sambil mengerang-erang menahan sensasi geli bercampur nikmat yang perlahan merayapi sekujur tubuhnya dan bergerak makin ke bawah.

Kini lidahku sudah sampai di seputar pusar, dimana sedikit saja dibawahnya sudah mulai ditumbuhi oleh jembut-jembut halus berwarna gelap yang mulai tampak lebat dan tumbuh liar mengitari batang kemaluan yang berdiri kokoh laksana tower mercusuar itu. Di bagian itu pula tampak warna kulit yang lebih putih berbentuk segitiga, sesuai dengan bentuk CD. Penampilan Noldy benar-benar seksi saat itu, dan tentu saja membangkitkan gairah birahi bagi siapa pun yang melihatnya seperti itu.

"Hisap lagi dong, Fer!" pinta Noldy setelah sekian lama aku hanya terbengong sendiri menyaksikan tubuhnya yang seksi itu.
Aku pun lantas memasukkan kembali kontol Noldy yang sudah makin melemas itu ke dalam mulutku, kujilat dari ujung sampai ke pangkal penisnya, dan kemudian kusedot keluar masuk di dalam mulutku. Menikmatinya, sepertinya membuatku melayang ke awan-awan dan aku seolah tak ingin segera berhenti. Cukup lama aku mengoral kontol Noldy sampai kami berdua merasa puas.

"Argh, nikmat! Teruskan Fer! aku sudah hampir keluar!" Noldy kemudian menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan yang dirasakannya saat itu, sementara itu, aku secara bergantian mengocok dan mengoral kontol Noldy dengan gerakan yang makin cepat seiring dengan denyut nafasku yang makin menggelora dan tak karuan saat itu.

Tak lama kemudian, tiga semprotan sperma hangat menyembur di dalam liang mulutku. Saking kuatnya dan juga karena terjadinya yang begitu tiba-tiba sehingga membuatku langsung tersedak oleh sperma Noldy yang masuk ke kerongkonganku.

Noldy terengah-engah, ia tampak begitu lelah dan menikmati permainan ini. Sambil mengelap peluh, ia berbisik pelan di dekat telingaku, "Ini pengalaman pertamaku, you're very great!" pujinya.

"I also never try it before. It's nice to share it with you!"

Tiba-tiba Noldy berbalik dan menindihku sambil mendekapku erat. Dengan suara pelan dan sedikit ragu, ia mengajukan sebuah pertanyaan sulit, "Kau mau jadi boyfriend-ku?!? I'm a gay!"

Sungguh pengakuan yang diluar dugaan, selama ini aku tak menyangka kalau Noldy adalah gay sebab penampilannya sama sekali tak sesuai dengan bayanganku tentang ciri-ciri gay selama ini. Pandanganku sebelumnya bahwa gay itu selalu tampil kemayu dan kewanita-wanitaan ternyata salah besar. Namun anehnya, mengapa aku bisa berpikiran seperti itu tanpa mengaca pada diriku sendiri, sebab aku pun seorang "pemburu" lelaki meski tak tampak kemayu seperti apa yang menjadi bayanganku.

Selama beberapa saat aku hanya terdiam, aku bingung bagaimana harus menjawabnya. Perasaan ini sebetulnya yang selama ini menjadi pergumulan beratku, aku memang cenderung untuk menutupinya dan mencoba untuk melupakannya. Namun apa lagi kini yang ada dihadapanku, tepat di depan batang hidungku. Seorang gay menawariku untuk menjadi kekasihnya?

Namun tiba-tiba, aku sampai pada keputusanku yang memang tak pernah kusesali sampai kini. Aku menggeleng dan melontarkan sebuah jawaban pendek, "I'm sorry!"

Perlahan-lahan, Noldy melepaskan pelukannya dan kemudian berbaring di sisiku. Dia hanya diam untuk beberapa saat, tampak kecewa, namun kelihatan sedang memikirkan sesuatu juga.

"It's better if we be a friend or brother more than as you just spoke!" ujarku kemudian sambil menggenggam erat tangan Noldy.

"Ok, I think so! Never mind!" sahut Noldy sambil mencoba untuk tersenyum kembali.

"You know, your smile is steal!" gurauku sambil menarik hidungnya. Sore itu pun kami habiskan waktu kami lebih banyak untuk mengobrol setelah kami memutar vCD bf itu di kamarku. Pengalaman hari itu pun selesai.

Satu hal yang penting, tidak ada yang lebih bijaksana dalam hidup selain daripada ketika kita bisa mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat dan pada orang yang tepat, sebelum segala sesuatunya terlambat.

Cerita ini hanya sebagian saja dari lika-liku perjalananku yang kupersembahkan untuk para pembaca sekalian. Seperti yang sebelumnya, tentang benar atau fiktifnya cerita ini, silahkan kalian yang menilainya saja, sebab segala sesuatunya masih tetap menjadi misteri dan misteri memang masih belum terbongkar. Percayalah, masih ada begitu banyak misteri di dalam hidupku yang kurasa perlu kutuangkan dalam beberapa tulisan lagi sampai kalian benar-benar menyadari siapakah aku yang sesungguhnya. Aku tahu tak banyak dari kalian yang kukenal, tapi aku yakin hampir dari kalian semua pasti akan mengenaliku ketika misteriku berhasil terpecahkan.

Gejolak Cinta

Yanto dengan bersemangat menuju ke kos Dani yang terletak di Jakarta Pusat. Mereka berdua berkenalan tiga bulan yang lalu dan menjalin hubungan setelah itu.

Yanto berumur 29 tahun, berkulit putih dan berwajah tampan dengan lesung pipit dan bibir yang kemerahan, badannya agak langsing, namun terbilang cukup proporsional. Dani berumur 26 tahun, berbadan kekar, berkulit gelap dan terlihat sangat macho. Tinggi badannya yang 178 cm membuatnya terlihat lebih dewasa dari Yanto yang terkesan ABG di usianya itu. Sebenarnya Dani tidak berwajah tampan, malah beberapa orang menganggapnya sangar, tetapi Yanto menyukainya karena sikapnya yang ramah dan baik hati.

Setelah Yanto mengetuk beberapa kali Dani membukakan pintu. Yanto masuk dan merebahkan diri di kasur menikmati sejuknya AC dan empuknya ranjang setelah mengarungi panasnya kota Jakarta. Dani hanya tersenyum melihat tingkah Yanto yang lucu itu, kemudian mendekati Yanto dan berbaring di sampingnya lalu mengusap rambut Yanto dengan lembut dan mendaratkan kecupan di kening yang putih dan masih dihiasi butir butir kecil keringat yang bening.
"Mandi dulu ya?" kata Yanto sambil bangkit menuju kamar mandi.
"Nggak usah", jawab Dani.
"Mandinya nanti aja, lo siram aja badan elo biar lebih sejuk, ntar kebanyakan mandi lo jadi kayak kertas putihnya, ha ha ha. "
"Dasar lo, pantes lo hitam gitu, malas mandi ya"
Yanto masuk ke kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air shower yang sejuk menyegarkan.
"Kok dia nggak nyusul masuk ya?" pikir Yanto heran, biasanya Dani tidak suka membuang waktu kalo dia sedang di kamar mandi.

Sesaat kemudian setelah mengeringkan badannya, dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada Yanto keluar dari kamar mandi. Ternyata Dani sudah menunggu dengan hanya bercelana dalam dan tanpa memberikan kesempatan menarik Yanto ke pelukan badannya yang kekar dan melumat habis bibir Yanto yang merah merekah.
"Mmmhh, mm", Yanto kelabakan mendapatkan serangan mendadak itu, apalagi ciuman Dani yang tidak tanggung-tanggung membuat Yanto sulit bernapas, ditambah badannya yang kekar mendekap erat badan Yanto yang bisa dibilang langsing, kecuali dadanya yang lumayan terbentuk. Dani memberikan kesempatan Yanto bernapas dan mengajaknya menuju tempat tidur. Di sini ciuman yang dahsyat itu berlanjut, namun Yanto sudah siap dan melayani dengan baik, bibir Dani yang kehitaman menghisap bibir kemerahan dan lidahnya menyapu langit-langit dan lidah Yanto yang membalas dengan hisapan yang membuat keduanya melayang dalam kenikmatan. Tangan Dani menjelajahi leher, punggung dan pinggang yang putih mulus, membuat Yanto mendesah menikmati usapan lembut dari tangan yang kekar berotot di daerah-daerah sensitifnya. Tangan yang lain meremas-remas pantat Yanto yang padat membukit, mendorongnya sehingga kemaluan Yanto menekan kemaluannya yang tegak menyembul dari balik celana dalamnya.

Dani melanjutkan ciumannya ke leher Yanto yang mulus, menyapukan lidahnya dengan lembut ke bagian belakang telinga Yanto dan kemudian dengan lembut menggigit dan menghisap cuping telinga Yanto.
"Ssshh, ahh, aagghh.." Yanto mendesah merasakan sensasi yang sangat disukainya itu sambil melingkarkan tangannya di kepala dan leher Dani.
Sementara tangan Dani menjelajah dua bukit kembar yang mempunyai puncak yang diselimuti warna coklat muda.
"Auwhh.." Yanto terpekik kecil ketika tiba-tiba Dani memilin puting susunya dengan agak kuat, namun rasa terkejutnya segera hilang oleh rasa nikmat ciuman dan sapuan lidah yang hangat di pangkal lehernya, yang seakan menimbulkan aliran listrik di seluruh badannya.

Kemudian Dani menunduk, mengusapkan ujung lidahnya ke dada Yanto, membuat gerakan spiral melingkar yang makin mengecil sampai akhirnya mengulum dan menghisap puting susu Yanto yang tegak mengeras oleh rangsangan itu. Dani menggesekkan lidahnya ke kepala puting dan menghisapnya dengan kuat, melepaskannya lalu menghisap lagi dengan kuat dan sesekali menggigit dengan lembut puncak bukit kenikmatan Yanto itu. Yanto dibuat senewen dengan tingkah Dani itu, berbagai sensasi perasaan berkecamuk di dalam dirinya, pada saat Dani menghisap dengan kuat puting susunya, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang ikut keluar melayang, membuat Yanto tidak dapat berdiri lagi dengan baik, sehingga dirinya seolah luruh dalam dekapan Dani yang kuat. Pekikan-pekikan kecil Yanto malah membuat Dani makin terangsang dan meningkatkan serangannya ke kedua puting susu Yanto, yang memang merupakan salah satu bagian tubuh favoritnya. Dani baru menghentikan kegiatannya setelah kedua puting susu Yanto berwarna kemerahan dan agak sedikit membesar karena dihisap dengan kuat berkali-kali. Dani kembali mencium bibir Yanto yang terengah-engah oleh aksinya tadi, dan menikmati kelembutannya tanpa balasan, karena Yanto pasrah membiarkan bibirnya dikulum dan hanya mendekap erat badan Dani dan ketika Dani mengecup lehernya Yanto berbisik, "You are my man, oohh.."

Yanto melepaskan celananya dan celana dalam Dani, kemudian melancarkan serangan balasan ke dada Dani yang bIdang dengan kulitnya yang gelap kehitaman, memancarkan kejantanan tersendiri. Aroma badan Dani memberikan rangsangan yang tidak dapat dilukiskan dan dua bukit kembar yang dimilikinya seolah dua bukit batu yang keras dan putingnya yang berwarna hitam mengarah ke sisi bawah luar tiap bagian dadanya. Yanto mencium dan menghisap setiap bagian dada Dani dan menggigit lembut putingnya. Kemudian perlahan turun dan menjumpai kemaluan yang tegak berdiri, terlihat hitam mengkilat karena ereksi yang kuat, dengan lingkaran kemerahan di dekat kepala penisnya. Batang kejantanan itu tegak berdiri sepanjang 16 cm dan diameter kepalanya yang mencapai 8 cm membuat Yanto sangat menyukainya, apalagi bentuknya yang menyerupai ice cream cone, membuatnya semakin nikmat untuk digenggam dan dikulum. Yanto mengulum kepala penis Dani yang besar itu dan menghisap precum yang ada kemudian menyapu lubangnya dengan ujung lidahnya dan terus menyapu ujung kepala penis itu dengan lidahnya, yang membuat Dani mendesah merasakan nikmat di batang kejantanannya. Ketika Yanto memasukkan seluruh kepala kemaluan itu ke dalam mulutnya, sensasi kehangatan yang lembut menyergap Dani, yang menikmatinya dengan mata terpejam dan kedua tangannya mengusap kepala Yanto dengan lembut.

Setelah merasakan kenikmatan oral sex dan mencapai tingkat ereksi yang maksimum, Dani membaringkan Yanto di ranjang dan menyibakkan kakinya sehingga terlihatlah lubang kenikmatan yang sempit di depan matanya. Dani segera mendekatkan bibirnya ke lubang yang kemerahan dan mulus tanpa rambut itu lalu menjulurkan lidahnya untuk merangsangnya supaya dapat menerima batang kemaluannya yang besar. Yanto tergelinjang tiap kali lidah Dani terjulur mendesak ke dalam lubang kenikmatannya, membuat gerakan melingkar dan menembus ke dalam lubangnya. Setelah beberapa saat, Dani menuangkan gel pelicin ke lubang itu dan menusukkan jarinya ke dalam untuk membasahi bagian dalamnya.

Perlahan Dani mengarahkan kemaluannya ke lubang yang sudah siap menerima dan memberikan kelembutan dan kehangatannya. Kaki Yanto yang lebar mengangkang disandarkannya ke pundak dan batang kemaluan yang sudah memakai kondom itu sedikit demi sedikit mendesak dalam lubang kenikmatan yang sudah mulai berdenyut itu. Yanto meringis menahan sakit ketika kepala penis yang besar itu mendesak terus ke lubang anusnya, dan ketika seluruh kepala itu dapat masuk, keduanya merasakan jepitan otot rektum yang menutup kembali setelah bagian terbesar dari kepala penis itu melaluinya memberikan sensasi yang nikmat dan seolah lubang itu menyedot penis ke dalamnya. Tanpa membuang waktu lagi Dani menanamkan seluruh batangnya ke dalam tubuh Yanto, yang mengerang kecil ketika penetrasi awal itu berlangsung. Segera setelah kehangatan melingkupi seluruh batang kemaluannya, Dani menunduk dan mengulum bibir Yanto untuk mengalihkannya dari rasa sakit oleh desakan penisnya, yang walaupun sudah beberapa kali mereka lakukan, tetap saja saat awal penetrasi Yanto merasakan sakit karena memang ukuran penis yang besar dan ereksi yang kuat membuat penetrasi sangat terasa olehnya.

Kemudian Dani membuat gerakan maju mundur yang lembut, dan sesekali memutar pinggulnya untuk memompa Yanto yang mulai dapat menikmati kehadiran benda asing di dalam lubang kenikmatannya. Setelah beberapa saat melakukan goyangan dan memaju mundurkan penisnya, Dani menanamkan batang kemaluannya dengan kuat ke dalam lubang Yanto, mendorongnya dan memutar pinggulnya untuk mendapatkan penetrasi yang maksimal. Yanto sampai tergelinjang kuat oleh penetrasi ini.
"Ahh, dalam sekali, eghh", tangan Yanto mencengkeram lengan Dani dan kepalanya terdongak karena merasakan hangat dan mulas di perutnya.
Dani melepaskan kaki Yanto dan menindih tubuh Yanto dengan badannya yang kekar, kedua tangannya melingkar di badan Yanto dan mendekapnya erat, sambil mengulum bibir yang merekah dan merangsang itu.
"Mmmh, egghh, mmhh", Yanto kewalahan melayani nafsu Dani yang sedang membara itu, kedua tangannya mencengkeram pundak Dani dan kadang kadang tanpa sadar mencakarnya karena Dani belum mengendurkan penetrasinya dan lebih kuat menggoyang pinggulnya untuk mendesak ke dalam lubangnya. Gerakan melingkar pinggul Dani itu membuat batang kemaluannya yang tegang dan kuat di dalam diri Yanto bergerak mendesak ke segala arah, dan itu membuat sensasi yang luar biasa yang membuat perasaan hangat, mulas, nikmat dan melayang yang sangat hebat dirasakan oleh Yanto.

Setelah Dani mengendurkan tekanannya dan menggerakkan penisnya dengan lembut, Yanto mendesah dan berbisik, "Elo luar biasa, sayang"
Dani tidak menjawab, hanya mengulum lembut bibir Yanto dan menjelajahi lagi leher dan dadanya, yang memberikan rangsangan ganda kepada Yanto. Setelah itu Dani perlahan mengeluarkan penisnya, membimbing Yanto ke kamar mandi, lalu meminta Yanto membelakanginya. Penisnya pun dimasukkannya kembali dan Dani memeluk Yanto dari belakang, siap memberikan sensasi puncak kepada kekasihnya ini. Dengan rangsangan bibir dan tangan ditambah goyangan dan desakan kemaluan di lubangnya, Yanto merasakan kenikmatan yang luar biasa, yang membuatnya serasa melayang di awan-awan.
Dan setelah beberapa saat Yanto mendesah, "Gua mau keluar Dan.."

Dani kemudian menggenggam dan mengocok kemaluan Yanto, mencium dan mengulum leher dan telinga Yanto dan satu tangannya memegang pinggang Yanto untuk menahannya karena dia menggelinjang dengan kuat menggapai puncak kenikmatan birahinya. "Arrghh, hh, hh, ahh. " Yanto pun menyemburkan spermanya, sedemikian kuat sampai mencapai dinding kamar mandi, dan Dani merasakan denyutan yang sangat kuat memijat kemaluannya, dan ketika dia mencoba memaju mundurkan kemaluannya terasa sulit karena jepitan yang sangat kuat dari lubang Yanto yang sedang menggapai orgasme.

Denyutan itu memberikan pijatan hangat yang membuat saraf Dani tak dapat lagi menahan kenikmatan yang menjelang dan sesaat kemudian Dani memancarkan maninya dalam tubuh Yanto dan penisnya berdenyut kuat, memberikan tambahan kenikmatan bagi Yanto yang bisa merasakan dengan jelas denyutan batang kemaluan pasangannya itu. Dani mendekapnya erat, dan mereka berdua menikmati orgasme bersama-sama.

Setelah itu mereka berdua membersihkan diri dan mandi, membungkus kondom yang berisi sperma Dani dalam tisu, kertas dan kantong plastik, lalu membuangnya di tempat sampah.
"Gua bawa pulang aja, buat kenang-kenangan" gurau Yanto.
"Gila lo, ntar gua kasih lagi, nggak usah bawa yang begituan", sergah Dani.
"Ha ha, bercanda lagi", kata Yanto.
Lalu mereka berdua berbaring dan beristirahat setelah melakukan kegiatan yang sangat melelahkan namun sangat menyenangkan juga itu. Yanto terlelap di pelukan Dani yang tersenyum memandang wajah "cute" di dekapannya itu.

Gay Seks Dengan Jim Buol

Kenalkan, saya Robert Fullerton, fotografer yang sudah berpengalaman. Dari luar, saya terlihat seperti pria straight. Tampangku rapi, gayaku oke, dan pekerjaanku sukses sekali sebagai fotografer Men's Health Amerika. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa saya doyan cowok! Kecuali, para pria yang pernah kuajak berhomoseks. Kebiasaanku dalam memotret memang unik. Baik dilakukan indoor maupun outdoor, saya tidak ingin diganggu, alias hanya saya dan model saja yang boleh berada di lokasi pemotretan. Ketika ditanya kenapa, saya beralasan bahwa dengan demikian saya baru bisa berkonsentrasi. Tak pernah ada yang menaruh curiga. Oleh sebab itu saya selalu dapat dengan leluasa merayu para model pria untuk berhomoseks denganku! Saya tahu, saya memang bejat ;)

Saya teringat pada 'korban' pertamaku. Namanya Jim Buol. Model yang satu ini nampak sangat segar dan bersemangat. Dari segi fisik, dia tidak berbeda dengan model pria lainnya: bertubuh kekar dan penuh otot. Yang pasti, Jim dapat merangsang kontolku. Susah sekali untuk tidak membayangkan nikmatnya bercinta dengannya. Saya ingat bagaimana seksinya dia saat pertama kali melangkah masuk hanya mengenakan celana tinju saja. Dada bidangnya nampak besar dari samping dengan kedua puting yang menonjol. Saat dia tersenyum padaku, rasanya saya ingin pingsan. Sungguh menawan hati. Saya mencoba untuk memikirkan cara untuk menjeratnya.

Keuntungan menjadi fotografer model fitness adalah saya bisa memiliki foto-foto model pria seksi dari segala sudut. Jim Buol memang fantastik. Tanpa canggung, dia berpose, memamerkan dadanya. Dada yang diinginkan oleh semua pria homoseksual, termasuk saya. Patuh sekali, Jim menuruti semua perintahku untuk berpose. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa saya senang akan tubuhnya secara homoseksual. Saya menyuruhnya untuk memamerkan otot bisepnya, punggung, dada, kaki, dan bahkan tonjolan di balik celananya. Saya tidak tahu apakah tonjolan itu karena dia sedang ngaceng ataukah karena kontolnya memang besar. Dan saya berniat untuk mencari tahu.

"Bagus sekali, Jim," pujiku, mengganti isi film kameraku dengan yang baru.
"Sekarang kita akan mencoba hal yang berbeda.

Kepala redaksi memintaku untuk mengumpulkan beberapa foto seksi pria yang akan digunakan untuk artikel seks. Apakah kamu mau berpose sedikit lebih berani," tanyaku, memancing-mancingnya.

"Tentu saja. Sudah tugasku untuk berpose di depan kamera. Saya hanya berharap bahwa kepala redaksi akan menyukaiku dan saya akan dipanggil untuk difoto kembali," jawabnya, tersenyum. Astaga, senyumannya itu sangat seksi. Kontolku makin ngaceng!
"Baiklah. Sekarang lepas celana tinjumu," perintahku, berpura-pura tidak terdengar terlalu antusias melihatnya bugil.

Tanpa ragu sedikit pun, Jim segera memerosotkan celananya. Dan apa yang kusaksikan sungguh mmebuatku terheran-heran. Kontolnya sudah ngaceng dari tadi! Dia ternyata ngaceng berat selama masa pemotretan. Kameraku menangkap bercak-bercak precum menempel di kepala kontolnya yang bersunat. Namun Jim nampak cuek dan asyik berpose dengan gayanya sendiri bak model porno.

Dengan sensual, dia mempertontonkan kontolnya dan lubang pantatnya. Saya jadi curiga dengan Jim Buol. Masa dia berpikir Men's Health akan memuat foto-fotonya dengan pose panas seperti itu? Tapi saya senang sebab nampaknya Jim juga homoseksual sama sepertiku. Kontol ngacengnya yang dilumuri precum mengatakan semuanya.

"Tahu tidak?" kata Jim tiba-tiba seraya memilin-milin putingnya.
"Kamu seksi sekali, juga tampan." Jim membalikkan badannya dan memamerkan otot punggungnya. Kedua belahan pantatnya yang penuh nampak seperti dua belahan bola.
"Kamu suka badanku?" tanyanya, sensual.

Saya tidak perlu memancing-mancingnya lagi. Saya sudah yakin akan homoseksualitasnya. Kutinggalkan kameraku dan saya mulai menelanjangi diriku. Jim Buol menatapku dengan penuh nafsu. Matanya mengikuti setiap gerakan tanganku saat saya sibuk melepaskan kemeja dan celanaku. Tanpa malu, saya juga mempertontonkan kontolku kepadanya.

Kontolku sudah ngaceng dari tadi dan berlumuran precum, tak sabar ingin dingentotin. Saya memang seorang bottom. Saya berusaha untuk mencari pria yang mau mengentotinku. Rasanya Jim Buol akan dengan senang hati menancapkan kontolnya ke dalam tubuhku sebab dia nampak sibuk menjilat-jilat bibirnya saat melihat tubuh telanjangku.

Jim maju sebentar lalu menarikku ke depan kamera. Di sana, Jim menciumiku dengan penuh hasrat. Hanya ada nafsu birahi murni, tak ada cinta. Masing-masing dari kami memang menginginkan one night stand saja, dan bukannya hubungan cinta berkepanjangan. Kupegangi kepalanya sambil kulumat bibirnya. Oohh.. Enak sekali bibir Jim. Untuk sesaat, saya cemburu berat dengan istrinya. Kubayangkan mereka berdua selalu menghabiskan malam mereka dengan seks panas. Jim kembali menciumku, namun kali ini kedua tangannya menjalar ke bawah. Sedetik kemudian, kurasakan tangannya sedang asyik mencoli kontolku.

"Aahh.. Oohh.. Aahh.." desahku saat jari-jari tangannya yang kasar menggesek kulit kepala kontolku.

Jim melepaskan bibirku lalu berjongkok menghadap kontolku. Saya tahu apa yang ingin dia lakukan berikutnya. Tanpa menghalangi niat baiknya itu, saya menyodorkan kontolku yang bercita rasa air mani. Jim langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan kontolku.

"Aahh.." erangku saat kepala kontolku dibungkus mulutnya yang hangat dan basah.

Sedotan Jim bertenaga dan keras. Sungguh nikmat. Sepertinya Jim sudah pernah menyepong kontol sebelumnya, sebab sepongannya terasa sangat profesional. Jangan-jangan, Jim berprofesi ganda, sebagai model fitness dan bintang porno homoseksual, pikirku.

"Aahh.." erangku lagi saat lidah Jim menggelitik bagian bawah kepala kontolku itu.

Kontolku berdenyut semakin keras dan hampir muncrat. Saya tak ingin berejakulasi dulu, maka Jim kudorong sampai kontolku terlepas dari mulutnya.

Jim kecewa namun segera kuhibur dengan menghisap balik kontolnya. Kini dia yang berdiri sementara saya sibuk menyepong kontolnya sambil berjongkok. Ah, nikmatnya menjadi fotografer. Bukannya sombong, tapi saya selalu berhasil ditiduri oleh semua model priaku ;) Ya, benar: ditiduri, dan bukan meniduri. Ingat, saya 'kan homoseksual bottom (pengen dingentot dan bukan mengentot). Dan untungnya, mereka semua pintar menjaga rahasia sehingga redaksi Men's Health tidak pernah memecatku.

"Mm.. Mm.." SLURP! SLURP! Kontol Jim benar-benar terasa enak di mulutku.

Harus kuakui, semua kontol mempunyai rasa yang sama. Namun kontol Jim berbeda. Saya semakin giat menyedot kontolnya, berusaha menarik spermanya keluar. Jim harus ngecret!

Kulihat kedua puting Jim yang melenting di atas kepalaku sedang menganggur. Kebetulan nih, pikirku. Langsung saja kupelintir-pelintir kedua putingnya itu. Jim mengerang kesakitan dan tubuhnya menggeliat-geliat, namun dia tidak memprotes tindakanku. Malahan dia nampak menikmati. Tanpa ampun, putingnya kutarik lalu kuputar. Tarik dan outar lagi.

"AARRGGHH!!" erangnya. Dadanya yang lebar dan bidang itu terangkat-angkat, mencoba untuk menghirup lebih banyak udara.
"Aahh.. Oohh.. Enak banget.. Aahh.. Pelintir terus.. Aahh.. Sepong kontolku.. Aahh.."

Tiba-tiba kuperhatikan bahwa kedua bola pelernya terangkat pelan-pelan dan Jim nampak kehabisan napas. Saya tahu apa yang akan terjadi dengannya. Dia akan berorgasme.

"AARRGGHH!!" lenguhnya.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Banjir pejuh menyerbu masuk kerongkonganku. Langsung saja kutelan dengan penuh rasa syukur. Jim terus mengerang-ngerang sambil memegangi kepalaku keras-keras. Dia ingin kontolnya masuk sedalam-dalamnya agar orgasmenya lebih nikmat. CCRROOTT!

"AARRGGHH!! UUGGHH!! AAHH!! AARRGGHH!!" erangnya, tubuhnya kelojotan sampai titik pejuh yang penghabisan. Jim agak sempoyongan, letih sekali. Jadi kubiarkan dia beristirahat sejenak.

Jim terbaring kelelahan di atas lantai studio pemotretan. Lampu-lampu kamera yang dilengkapi payung pantulan masih menyoroti tubuh kami mulai membuat kami kepanasan setengah mati. Namun semakin kami berkeringat, semakin kami terangsang kembali. Kulihat tubuh Jim yang berkilauan dengan keringat itu. Ah, seksi sekali. Dadanya masih sibuk naik-turun.

Saya meraba-raba dadanya kembali dan kurasakan detak jantungnya. Jim mengerang keenakkan saat kuremas dadanya. Pria ganteng itu langsung duduk berdiri dan menciumiku dengan penuh nafsu. Bagus, dia sudah 'on' kembali dan siap beraksi.

"Entotin pantat gue," kataku, menggaruk-garuk dadanya.
"Gue butuh kontol dan hanya loe yang bisa memberikannya. Ayo, cowok macho. Buktikan kejantananmu. Entotin gue," desakku.

Dan Jim Buol pun meresponnya dengan bersemangat. Seperti singa kelaparan, dia mendorong tubuhku ke belakang dan saya pun terbaring tak berdaya di hadapannya. Jim menggerayangi seluruh tubuhku. Lidahnya sibuk menjilat-jilat setiap bagian tubuhku. Aahh.. Tangannya juga sibuk mencubiti kulitku. Saya menjadi semakin terangsang. Rupanya Jim Buol senang main kasar. Saya paling suka tipe pria kasar (bad boy) seperti dia.

"Oohh.. Aahh.. Oohh.." erangku.

Sebelum saya menyadari apa yang sedang dia lakukan, kedua kakiku sedang berada di punggungnya. Jim sudah tak sabar lagi rupanya. Tentu saja saya senang melihat kontolnya yang diposisikan tepat di depan lubang pembuanganku. Dan dengan sekali dorong, PLOP! Kontol Jim pun masuk! Maklum, lubang anusku memang sudah sering disodok kontol sampai saya sendiri tidak ingat sudah berapa banyak pria yang pernah menyodomiku. Namun, yang pasti banyak sekali.

"AARRGGHH!!" erangku saat Jim langsung tancap gas dan menggenjot pantatku tak karuan.
"UUGGHH.. OOHH.. AAHH.. OOHH.. AAHH.." Kontolnya yang besar dipompa keluar-masuk, berirama tetap.

Wajah Jim meringis-ringis, nampak keenakan. Napasnya yang panas serasa membakar wajahku.

"Aahh.. Aahh.. Aahh.." desahnya, bibirnya bergetar menahan kenikmatan. Kepala kontol Jim bergesek-gesek dengan dinding ususku.
"Aahh.. Gue suka anus loe.. Aahh, masih ketat.. Oohh.. Gue ngentotin loe.. Aahh.. Pantat loe milikku.. Aarrgghh.." Keringatnya jatuh menetes-netes ke atas tubuhku yang juga sudah berkeringat.
"Aahh.." Jim terangsang melihat kontolku yang tegang berdiri.

Baik sekali, Jim membantuku untuk mencoli kontolku. Jadi saya sedang menerima servis dobel: dingentotin kontolnya yang gede dan sekaligus dicoliin.

"Aarrgghh.."

Saya pun megap-megap, mengambil napas. Rasanya tak tertahankan. Orgasmeku mendekat dengan cepat sekali.

"AARRGGHH!!" teriakku. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Akhirnya saya ngecret juga.

Pejuhku tersembur ke atas bagaikan air mancur, mengenai tubuhku dan juga tubuh Jim. Rasanya agak panas saat pejuh itu mendarat di kulitku. Tubuhku menggelepar-gelepar dan meronta-ronta. Saat kontolku berdenyut tak karuan, lubang anusku ikut berdenyut. Dan denyutan anusku itu memicu orgasme Jim Buol.

"UUGGHH!!" Jim mengerang, mendorong pinggulnya ke depan.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Cairan surgawi miliknya pun tersemprot ke dalam tubuhku. Dengan cepat, pejuh Jim memenuhi setiap rongga tubuhku, menghangatkanku.

"AARRGGHH!! OOHH!! UUGGHH!! AAHH!!"

Kontolnya berdenyut-denyut dan setiap denyutannya dpat kurasakan dengan sangat jelas. Aahh, sungguh erotis sekali. Itu sebabnya saya paling suka kontol!! CCROOTT!! CCRROOTT!!

Jim menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuhku. Dadanya yang besar dan keras menimpa dadaku. Putingnya yang keras terasa menggesek-gesek putingku. Kami hanya berbaring di situ selama bermenit-menit sambil bernapas terengah-engah. Pejuh kami mengotori lantai studio, becek di mana-mana. Saat kami berdua pulih, Jim bangkit dan menciumiku lagi.

"Thanx," katanya.

Sejak saat itu Jim kumasukkan dalam daftar model homoseksualku. Kapan pun saya gatal untuk dientotin, Jim bersedia untuk datang dan 'mengobatiku'. Dan kapan pun dia ingin kehangatan anus lelaki, saya akan siap memberikannya. Jim Buol dan saya menjadi dekat sekali sejak saat itu, meskipun kami hanyalah partner homoseks saja. Satu-satunya model Men's Health yang dapat menandingi keseksian Jim adalah Gregg Avedon. Tapi saya baru akan menceritakannya nanti saja, OK? ;)

Gay Sejak SMP

Aku mengenal dunia ini saat umurku masih sangat muda sekali. Namaku Andi, ini berawal saat umurku 12 tahun. Setelah aku tamat SD pada tahun 1994 aku berniat melanjutkan ke SLTP. Akan tetapi karena di desaku tempatnya terpencil di Propinsi Lampung tidak terdapat SLTP, aku terpaksa sekolah di tempat kakakku di kota kecil yang bernama Kota Bumi. Sebenarnya bisa saja aku langsung sekolah di Bandar Lampung di tempat kakakku yang lain, maklum kami berjumlah 7 bersaudara dan kebetulan aku anak bungsu. Namun entah mengapa aku mempunyai firasat yang mengatakan bahwa jika aku sekolah di Kota Bumi aku akan menemukan kebahagiaan. Setelah sampai di rumah kakakku, aku dikenalkan kepada anak angkatnya yang secara otomatis keponakan angkatku sendiri. Dia anak laki-laki yang bernama Anto umurnya 3 tahun lebih tua dariku, namun karena dia terlambat masuk masuk sekolah jadi ia baru kelas 2 atau tepatnya kakak kelasku. Kebetulan kami satu sekolah dan juga aku satu kamar dengan dia. Kami berdua cepat akrab dan selalu bersama setiap saat dan setiap waktu dengan bahagia. Hubungan kami sangat sangat erat lebih dari saudara. Ia selalu menemaniku, menghiburku disaat aku sedih, dan begitu pula sebaliknya. Sehingga tak jarang kami digosipkan yang yang tidak-tidak, baik itu di sekolah atau di lingkungan tempat kami tinggal, tapi kami hanya menganggap hal itu sebagai angin lalu, dan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.

Karena di Kota Bumi jika musim kemarau susah air, maka kami tak jarang mandi di sungai. Sering kami bedua mandi telanjang dan selalu memperhatikan kemaluan kami masing-masing. Walaupun batang kemaluannya dalam keadaan tidak tegang namun cukup besar. Lama kelamaan ada rasa suka dalam diriku kepadanya dan tampaknya dia pun begitu namun kami hanya bisa menyembunyikan rasa suka kami. Sehingga jika kami tidur aku sering menggodanya dengan cara memancingnya untuk membicarakan hal-hal yang merangsang, dan hal itu memang berhasil, karena sering kulihat ia menikmatinya. Dan tak jarang batang kemaluannya menegang dan ia bahkan menuntun tanganku untuk membelai batang kemaluannya yang memang cukup besar. Kami juga sering berciuman dan saling meraba dan memegang batang kemaluan kami secara berlawanan. Bahkan aku sudah mulai berani mencium batang kemaluannya tapi masih jijik untuk melakukan oral. Hal itu sering kami lakukan tiap malamnya tetapi hanya sebatas meraba dan berciuman, karena saat itu mungkin kami sama-sama belum sadar jika kami berdua adalah gay dan juga ditambah dengan keluguan kami yang tidak mengetahui cara berhubungan antar sesama lelaki.

Tak terasa 3 tahun sudah aku tinggal di sana dan aku juga sudah menyelesaikan sekolahku tingkat SLTP. Aku harus ke Bandar Lampung untuk melanjutkan sekolah tingkat SMU. Sejak saat itu aku jarang ke Kota Bumi karena aku sibuk dengan tugas dan kegiatanku yang baru. Namun pada saat umurku 17 tahun yaitu awal Maret tahun 1999 aku diminta menemani ayahku ke Kota Bumi. Sesampainya di sana, aku kaget melihat Anto karena ternyata ia tumbuh menjadi pria yang gagah dan ganteng. Hatiku berdegub saat aku tahu kalau aku akan tidur dengannya malam itu. Ketika hari telah menunjukkan pukul 20:00 WIB aku masuk kamar duluan untuk tidur duluan karena perjalanan yang cukup panjng membuatku lelah dan mengantuk. Namun aku sulit untuk memejamkan mata karena aku terus teringat kepadanya dan terus memikirkannya. Tidak berapa lama kemudian Anto masuk dan menutup pintu. Jantungku semakin berdegub kencang. Ia lalu mematikan lampu sehingga yang kelihatan hanyalah kegelapan. Tidak berapa lama kemudian ia berbaring di sampingku. Kemudian ia mengeluarkan sepatah kata, "Malam ini dingin ya," ujarnya. Aku hanya diam saja. Namun tak berapa lama kemudian kurasakan tangannya memegang tanganku dan menuntunku untuk memegang batang kemaluannya yang ternyata dia sudah tidak berbusana lagi. Aku belai batang kemaluannya yang panjang dan besar, ia pun mengerang keenakan. Kemudian ia melepaskan seluruh pakaianku setelah itu ia langsung menindihku sehingga batang kemaluan kami yang sudah sama-sama tegang bersenggolan. Ia mencium mulutku, kupingku, dan segala anggota tubuhku basah karena dijilatnya. Aku yang pertama melakukannya heran seganas itu tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sungguh senang.

Kami sama-sama mengerang keenakan. Apalagi saat mulutnya mengulum kemaluanku, gerakan kepalanya yang maju mundur membuatku merasa kenikmatan yang tiada taranya. Ketika aku keluar semua spermaku disedotnya namun tidak ditelannya melainkan ditumpahkannya ke batang kemaluannya dan sebagian ke diusapkannya kepantatku kemudian jari tengahnya masuk ke lubang pantatku agar lubang anusku licin. Aku mengerti maksudnya lalu aku bangun dan duduk di atas perutnya kutuntun batang kemaluanku masuk ke lubang anusku. Ketika mulai masuk aku mengerang kesakitan dan hendak akan bangun namun dia mencegahku. Lalu perlahan-lahan aku mulai menurunkan pantatku. Walaupun sakit kutahan dan hanya sampai setengah batang kemaluannya yang masuk, aku mulai menaik dan menurunkan pantatku gerakan itu kulakukan berulang-ulang walaupun aku merasakan rasa sakit yang luar biasa tapi lama kelamaan hal tersebut membuatku terbiasa dan mulai biasa menikmatinya. Dan tidak berapa lama kemudian dia memintaku untuk mempercepat gerakanku. Aku mengerti kalau dia akan keluar, benar saja tidak berapa lama kemudian dia keluar dan aku bisa merasakan spermanya tumpah dalam anusku. Setelah itu aku berbaring di sampingnya.

Aku lalu mengambil sarung dan kusuruh dia masuk ke sarungku. Kami tidur dalam keadaan bugil dalam satu sarung. Keesokan harinya aku kembali ke Bandar Lampung. Sesampainya aku di Bandar Lampung aku terus teringat dan selalu membayangkannya. Rasa rinduku yang begitu besar tak bias kutahan. Pada hari Sabtu sepulang sekolah aku ke Kota Bumi.

Ketika aku sampai, kakakku heran karena tak biasanya aku ke Kota Bumi seseriang itu, lagi pula jarak antara Kota Bumi dengan Bandar Lampung cukup jauh yaitu harus ditempuh dengan 3 jam perjalanan. Tetapi dengan berbagai alasan aku menjawabnya dan kakaku bisa menerimanya. Malam harinya sebelum tidur aku nonton TV bersama Anto, dia berbisik kepadaku, "Kamu kangenkan sama aku," godanya. Aku hanya diam menyembunyikan rasa maluku. "Jangan malu, aku juga kangen kok," bisiknya lagi. Yang aku sambut dengan senyum bahagia. Tak terpikirkan olehku ternyata dia juga menyukaiku. Ketika malam sudah larut kami masuk kamar. Di dalam kamar itu tanpa basa-basi lagi aku langsung menarik tangnnya dan lalu mencium mulutnya dan melepaskan pakaiannya. "Sabar dong Di!" bisiknya. Tapi hal itu tidak aku hiraukan. Ia pun menurutiku bahkan dengan ganas membalas ciumanku. Sambil terus berciuman ia melepaskan pakaianku. Setelah kami sama-sama bugil, kucium leher, dadanya yang bidang, ia pun mengerang keenakan dan menyuruhku untuk terus melakukannya. Lalu kukulum batang kemaluannya dan sekali-kali kukocok. Ia mengerang keenakan sambil terus membimbingku agar ke tempat tidur.

Anto menjambak rambutku, "Terus Di! Aku mau keluar nih.." erangnya. Kupercepat gerakanku berulang-ulang. Sehingga ia keluar dan spermanya muncrat ke mulutku. Aku tidak menelannya hanya kubiarkan tumpahkan di mulutku tanpa ada yang tumpah di lantai. Kemudian aku bergerak menimpa tubuhnya, kutumpahkan sperma yang ada di mulutku ke mulutnya. Ia pun menelan habis sperma yang ada di mulutku. Kemudian aku memintanya untuk menungging dia pun melakukannya, kulumuri batang kemaluanku dengan ludah dan kujilat anusnya agar basah dan licin. Lalu kutuntun batang kemaluanku masuk ke anusnya walaupun ia tampak kesakitan namun ia mengerang keenakan. Semakin lama gerakan maju mundurku semakin cepat lalu aku keluarkan spermaku di dalam anusnya. Setelah kami sama-sama lelah kami tidur sambil berpelukan gembira. Itu merupakan kenangan indah bagiku dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Entah mengapa itu merupakan yang terahir aku bertemu dengannya, karena setelah aku kembali ke Bandar Lampung ia pergi ke Jakarta ke tempat kakaknya untuk kuliah. Aku harap ia dapat membaca cerita ini dan bisa menghubungiku karena aku masih mengharapkannya dan aku harap ia mau kembali kepadaku. Aku sudah berusaha mencari alamatnya tapi tidak berhasil. Dan bagi pembaca yang ingin berteman, bertukar pikiran denganku, silahkan kalian kirimkan e-mail, kalian pasti akan aku balas.

didi_1982@indonet.com

Game of Love

Namaku Ari. Aku adalah siswa kelas 3 SMU di kota T. Dan saat ini aku sedang berada di kantin sekolah. Saat itu kantin penuh sesak, aku dan beberapa teman cewekku sedang makan bakso. Pada saat itu aku melihat cowok kecenganku yang bernama Jimmy datang dengan teman-teman cowoknya.

"Hei lihat tuh, si banci lagi makan!" salah seorang temannya berkata keras.

Aku tahu bahwa yang dimaksud adalah aku, tapi aku acuh saja. Lalu mereka tertawa, termasuk Jimmy. Setelah selesai makan, aku dan teman-teman pergi menuju kelas. Tapi Jimmy and his gank mengikuti kami dan terus mengejekku. Meski begitu, aku tetap suka sama Jimmy. Dia anak kelas 3 juga, anak basket, jangkung, putih, cute banget deh.

"Udah cuek aja, yang penting lu gak gitu kan?" temanku berkata.

Sepulang sekolah, aku berjalan sendiri menuju toko buku dekat sekolahku. Saat itu sebuah mobil BMW Z4 secara tak sengaja menyerempetku. Aku hendak marah, tapi kemarahanku lenyap begitu tahu Jimmy yang mengendarainya. Lalu kaca jendela mobil itu terbuka dan aku melihat Jimmy dengan wajahnya yang imut.

"Sory! Lu gak pa-pa kan?" Jimmy berkata.
"Nggak sih, tapi hati-hati dong" aku menjawab.
"Ya udah, aku anter pulang yuk?" Deg! Aku langsung salah tingkah. Jimmy mengajakku pulang bersama!
"Udah, masuk aja" ajaknya. Aku tak kuasa menolak ajakannya. Lalu aku masuk dan dia menutup jendela mobilnya.
"Tapi ke rumah gue bentar ya, deket kok dari sini" dia berkata.

Kami pun melaju dengan kecepatan sedang. Aku hanya diam, tak bisa berkata apa-apa saking senangnya.

"Tadi sorry ya teman-teman gue ngejek lu," Jimmy berkata.
"Ga pa-pa kok," aku berkata. Lalu kami diam lagi. Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah yang amat sangat mewah dan besar.
"Ini rumah gue, yuk masuk," ajak Jimmy.

Kami turun dari mobil dan aku diajak ke kamarnya. Di dalam rumah itu penuh dengan berbagai barang mahal. Kami naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Jimmy yang luas, lengkap dengan kamar mandi, satu set TV 29", VCD, DVD, dan laser disc juga PS2.

"Bentar ya Ri, gue ganti baju dulu."

Aku pikir dia akan mengganti bajunya di kamar mandi, tapi ternyata tepat di hadapanku. Aku yang duduk di tempat tidurnya sangat menikmati tontonan ini. Dia langsung membuka seluruh seragamnya dan sekarang hanya mengenakan celana dalam ketat yang seksi. Tubuhnya yang putih mulus dan cukup berotot membuat aku lemas. Dia berjalan ke lemari pakaiannya dan mengenakan baju kaos dan celana jeans.

"Yuk kita ke rumah lu," dia berkata setelah selesai.

Jimmy mengantarku pulang tapi dia tidak bisa mampir dulu karena ada acara. Dia pun menanyakan nomor telepon HP dan rumahku.

"Kapan-kapan gue telepon lu gak pa-pa kan?"

Sungguh ini mimpi yang jadi kenyataan. Setelah beberapa hari berlalu kami jadi teman dekat dan sering jalan bareng berduaan. Jimmy sangat baik dan perhatian. Semakin lama kami semakin dekat. Lalu pada suatu sore Jimmy memintaku menginap di rumahnya, katanya dia lagi suntuk. Aku langsung menyanggupi. Aku senang sekali.

Sore itu aku datang ke rumahnya, tapi pembantunya bilang bahwa Jimmy sedang keluar sebentar dan aku dimintanya menunggu di kamarnya. Aku masuk ke kamarnya hingga beberapa saat kemudian aku ingin pipis. Aku masuk ke kamar mandi dan langsung memenuhi panggilan alam itu.

Saat hendak keluar, aku melihat sebuah majalah tergeletak di atas wastafel. Aku shock! Ternyata itu adalah majalah gay yang isinya pria-pria bugil dan berpose sangat hot. Aku ingin membacanya tapi kudengar suara Jimmy masuk kamar. Saat aku hendak keluar, kudapati Jimmy sedang telentang sambil menonton BF. Semua pemainnya cowok yang cute. Salah satu tangan Jimmy masuk ke dalam celananya. Saat itu Jimmy memang masih mengenakan pakaian lengkap.

"Jim?" Jimmy tampak sangat terkejut hingga langsung duduk dan mematikan TV.
"Sorry, gue gak bermaksud.." aku berkata. Jimmy menatapku tajam, kelihatannya sangat marah sekaligus malu.
"Yah, lu udah liat semua, dan sebenarnya aku pengen ngomong sesuatu ama kamu," Jimmy berkata dan mendekatiku.
"Apa yang.."

Aku tak sanggup menyelesaikan pertanyaanku karena Jimmy sudah menempelkan bibir merahnya ke bibirku. Lidahnya memaksa masuk ke dalam mulutku lebih dalam lagi. Sangat nikmat!

"Tunggu Jim, kamu kenapa?" dengan terpaksa aku mengakhiri ciuman mautnya itu.
"Sebenarnya sudah lama aku suka ama kamu Ri, aku cinta banget ama kamu."

Aku bagaikan disambar petir mendengar hal itu hingga aku tak sanggup berkata lagi.

"Ari, aku suka ama kamu. Kamu baik banget ama aku, i love u. Mau gak kamu jadi pacarku?" Aku hanya terdiam.
"Ayolah Ri, mau kan jadi pacarku?"
"OK Jim, kita jadian. Sebenarnya aku juga sudah lama suka banget ama kamu." jawabku sambil tersenyum.

Jimmy tersenyum dan langsung memeluk tubuhku dengan hangat. Dia menciumiku dengan membabi buta. Aku tak mau kalah. Dia langsung memperlihatkan tubuh telanjangnya dan si "adik" yang sudah sangat tegang. Kami berciuman lagi setelah kami telanjang bulat. Jimmy telentang di atas tempat tidur dan memintaku untuk memeluknya. Dan selanjutnya aku menindihnya hingga pedang kami beradu. Aku menciumi dada putihnya yang bidang hingga Jimmy mengerang nikmat.

"Oh Ari, gak salah aku minta kamu jadi pacarku! Terus Ri!"

Aku menciumi seluruh tubuhnya dan aku langsung menuju ke pusat kenikmatannya. Kukulum habis kontolnya yang ngaceng berat. Penis putih dengan ukuran standar tapi dahsyat itu kujilat dan kugigit sesekali. Kulihat wajah Jimmy dan tampak dia sangat menikmatinya. Buah pelirnya pun tak kulewatkan. Terasa hangat dan nikmat. Jimmy mulai beraksi. Dia memeluk erat tubuhku dan kami berciuman lagi. Nikmat sekali! Lidahnya seolah punya pikiran sendiri. Dan dia mulai menikmati burungku.

"Jimmy.. Oh.. Jimmy.. Don't stop honey" Jimmy begitu pintar memainkan permainan cinta ini. Lalu dia memintaku untuk berposisi doggy style.
"Jim, aku belum pernah."
"Aku juga Ri, aku pengen melepas keperjakaanku ama kamu. Siap kan?"
"OK"

Jimmy mulai mengelus-elus burungnya ke lubang pantatku. Dan dia memasukannya perlahan-lahan. Ah sakit tapi enak! Inikah namanya sengsara membawa nikmat? Jimmy mulai mengeluarkan jurusnya. Pertama pelan, tapi kemudian sangat cepat sampai aku merasa tak kuat lagi. Tapi memang inilah yang selama ini kuinginkan. Aku menginginkan Jimmy!

"Trus Jim.. Trus.." Tubuhnya mulai berkeringat, dan aku menjilati keringatnya yang nikmat itu.
"Gimana Ri? Enak kan?"
"Enak banget. Trus Jim.."
Setelah lama rasanya Jimmy menggenjot pantatku, aku tak tahan lagi menahan air maniku yang sedari tadi berontak mau keluar.

"Jim, aku keluar nih"
"Tahan Say, kita keluar bareng" Jimmy mencabut senjatanya dan mencium bibirku sambil ngos-ngosan. Aku mengocok penisnya dan dia mengocok penisku.
"Ah.. Jim.. keluar nih"
"Ya Say.. Aku juga" Sperma kami beradu dan bertemu saat dia memegang tanganku.
"Ri, makasih ya. Aku cinta kamu."
"Aku juga."

Beberapa hari kemudian Jimmy menelepon ke HP-ku.

"Say, malem ini ada acara gak?"
"Nggak, emangnya kenapa?"
"Aku mau ngajak jalan, bisa kan?"
"Bisa dong, buat kamu apa sih yang gak bisa?"
"OK, aku jemput jam 7 ya?"
"OK, love u honey."
"Love u too."

Tepat pada pukul 7 Jimmy datang ke rumah. Setelannya membuatku lunglai.

"Kamu cakep banget malem ini Jim", ujarku.
"Makasih, kamu juga. Kita berangkat?"

Kami masuk ke mobilnya. Dia terus memegang tanganku. Romantis sekali.

"Say, boleh ga aku minta cium?" Jimmy berkata. Tanpa menjawab aku langsung mempertemukan bibir kami.
"Thanks ya"

Lalu dia membawa kami ke sebuah restoran mahal. Biasanya ramai, tapi saat itu tak tampak seorang pun.

"Jim, yakin kita ke sini?"
"Sure honey. Yuk masuk."

Tanpa malu Jimmy menggandeng tanganku, padahal di tempat umum. Saat aku masuk ke restoran itu, aku tak melihat seorang pelayan pun. Sebagai gantinya, hanya ada sebuah meja dan dua kursi di tengah ruangan luas itu. Lampunya dimatikan, dan ada ratusan lilin yang menerangi tempat itu. Bunga-bunga mawar merah bertebaran di lantai. Candle Light Dinner!

"Ini buat kamu sayang."

Aku langsung memeluk Jimmy dan menciumnya. Kami langsung menuju meja yang sudah tersedia dan mulai menyantap makan malam sambil diiringi lagu romantis. Setelah selesai makan, Jimmy mengajakku berdansa.

"Tenang sayang, aku booking tempat ini buat kita berdua. Jadi gak akan ada siapa-siapa di sini." Kami berdansa pelan dan aku memeluk Jimmy dengan erat.
"Makasih Jim, it's so beautiful."
"Aku sayang ama kamu."
"Aku juga, rasanya aku pengen meluk kamu terus dan gak ingin melepasnya."
"Iya sayang. Kita kan saling memiliki."
"Ironis ya Say, dulu kita musuhan, tapi sekarang pacaran."
"Udah, jangan inget yang dulu lagi. Oh iya aku punya sesuatu buat kamu."

Kami berhenti berdansa, dan Jimmy mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, ternyata sepasang cincin.

"Ini bukti cintaku, aku pengen agar kita selamanya bersama." Jimmy memakaikan salah satu cincin itu di jariku, dan satu lagi di jarinya.
"I love u forever honey," Jimmy berbisik.

Dia mencium bibirku dengan mesra dan mulai melancarkan aksinya. Dan untuk selanjutnya tentunya kalian tahu apa yang kami lakukan..

Gairah Seorang Pramugara

Aku sudah berkemas sejak pukul 6 sore, sebab pesawat yang akan membawaku ke Jakarta dari Bali akan berangkat pada pukul 9 malam nanti. Aku lalu mandi dan setelah itu menutup koperku, aku kunci pintu kamar kost-ku, dan juga berpamitan kepada ibu kost.
"Sudah mau berangkat, Tom?", tanya Bu kost padaku.
"Udah, bu", jawabku pendek.
"Nanti setiba di Jakarta, titip salam saya pada ibu kamu ya Tom", pinta Bu kost padaku.
"Yuk.., Bu saya pergi dulu", ujar saya mohon pamit pada ibu kost. Setelah menyetop taksi, akupun langsung pergi menuju ke bandara, setibanya di bandara, kebetulan aku berpapasan dengan mobil yang mengantar pramugara dan pramugari pesawat yang akan aku tumpangi, aku sempat melihat seorang pramugara yang sungguh tampan, wajahnya halus dan body-nya kekar dibalut dengan kemeja panjang yang dikenakannya, sungguh membuat jantungku berdebar.

Setelah mendapatkan boarding pass, aku lalu berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu, sambil melihat-lihat toko souvenir yang berjejer, dan aku lalu melihat pramugara yang tadi sempat membuat jantungku berdebar, dia tampaknya sedang sibuk memeriksa agendanya, langsung saja aku hampiri pramugara itu.
"Wah.., sibuk ya Mas?", tanyaku membuka percakapan.
"Anda siapa ya?", tanya si pramugara cuek.
"Saya Tommy, perkenalkan", ujar saya sambil menjulurkan tangan saya.
"Oh.., saya Anton", jawab si pramugara sambil berjabat tangan dengan saya.
"Anda nanti bertugas di pesawat SA701?", tanya saya pada Anton.
"Iya.., kamu mau naik penerbangan itu juga?", Anton balas bertanya. Akhirnya kamipun terlibat percakapan seru dari masalah pekerjaan, hobby, dsb yang semakin memperat hubungan kami.

Ketika sudah berada di dalam pesawat, Anton menanyakan nomer kursi yang tertera di boarding pass-ku, lalu akupun memberitahukan nomer kursiku.
"Sebaiknya kamu duduk di belakang saja ya.., lebih sepi, jadi kita bisa ngobrol-ngobrol lagi", ajak Anton, dan tentu saja aku tidak menolak kesempatan emas untuk lebih dekat dengan Anton. Antonpun lalu memilihkan sebuah kursi di dekat pintu yang berhadapan dengan kursi awak kabin. Ketika pesawat akan tinggal landas, Anton duduk di kursi yang ada di depanku, sehingga kami saling berhadap-hadapan. Aku lalu melirik ke arah Anton, matanya sangat tajam memandang ke arahku, sehingga membuatku kaget dan akupun bertanya-tanya dalam hati, apakah Anton seorang gay juga seperti aku? Namun aku yakin pastilah Anton seorang gay dari cara memandangnya.

Kami terdiam, tempat duduk di paling belakang sangat sepi hanya ada kami berdua. Aku sungguh bernafsu melihat body dan wajah Anton, dia sungguh tampan, aroma parfum-nya sungguh maskulin, karena tidak tahan, kakiku aku angkat dan kutaruh di atas daerah tempat penisnya bersarang, kuelus-elus kakiku di atas daerah tersebut, dan Anton juga tidak protes ataupun terkejut ketika aku berbuat demikian, bahkan tampaknya dia sangat menikmati servis yang kuberikan, aku dapat merasakan penis Anton, dan menurutku penis Anton cukup besar, walaupun masih dalam keadaan setengah berdiri. Akhirnya lampu sabuk pengaman pun dimatikan, dan kakiku langsung aku angkat dari daerah XX Anton.
"Tom, tunggu aku selesai tugas ya?", bisik Anton di telingaku, akupun jadi heran apa yang direncanakan Anton terhadapku. Setelah aku menikmati hidangan, Anton kembali muncul.

"Tom, ikut gue yuk?", pinta Anton.
"Kemana Ton?", tanyaku heran.
"Udah.., pokoknya ikut aja!", ajak Anton seraya meraih tanganku. Akupun tidak bisa menolak, dan ternyata Anton mengajakku ke WC pesawat, aku sangat terkejut demikian cepatkah aku harus melayani kuda jantan ini, tanyaku dalam hati dengan hati riang gembira. Setelah kami berdua berada di dalam WC pesawat yg sempit itu, Antonpun segera menguncinya. Karena nafsuku yang sudah tidak tertahankan, akupun mulai men-servis Anton, aku cium bibir Anton, kujilat-jilat bibirnya dan diapun membalas ciuman ke bibirku, aku lalu mulai melepas kancing kemejanya dan lalu perlahan-lahan kuangkat kaos dalamnya, Anton sudah setengah telanjang sekarang. Aku lalu membuka baju dan celanaku sehingga aku hanya memakai celana dalam saja.

"Cepat Tom, lepas celana gue", ujar Anton tidak sabaran. Cepat-cepat kubuka celana Anton sehingga yang tampak sekarang hanya CD segitiganya yang di bagian kepala kemaluannya agak basah, mungkin karena precum. Aku sudah tidak sabar lagi aku pelorotkan CD-nya, sehingga penis Anton yang sudah ingin bebas itu loncat ke atas dan berdenyut-denyut pula. Akupun mulai beraksi aku jilat dan hisap penis Anton, dan dia tampak mengerang kegelian.
"aahh.., nikmat Tom.., hisaapp.., ahh", perintah Anton, dan langsung aku hisap penis Anton aku mainkan lidahku di kepala penis-nya, yang membuat Anton menjadi mengerang kenikmatan, aku isap-isap buah pelernya, kukulum-kulum batang penisnya, akhirnya Antonpun mulai menunjukkan tanda-tanda akan keluar spermanya, urat-urat penisnya mengeras, aku langsung menghentikan adegan oral seks ini, pelan-pelan aku lalu melepas Cd-ku, dan duduk di urinoir, lalu kupengang penis Anton dan kuarahkan masuk ke lubang pantatku.., ahh.., sungguh nikmat rasanya, dan agak sakit juga, karena pantatku sudah lama tidak dimasuki, Anton sudah mulai mengerang kenikmatan lagi, matanya ia pejamkan, aku lalu mengisap puting susunya, aku jilat leher dan wajahnya yang tampan, lengannya kunaikkan, aku senang juga melihat bulu ketiaknya sangat lebat lalu aku kulum dan jilat ketiak itu, Anton mulai menaik-turunkan pantatnya cepat sekali aku tahu dia akan ejakulasi, rasanya sungguh nikmat ketika Anton menusuk pantatku, untuk menahan rasa sakit aku tarik-tarik tissue WC, sehingga tissue itu bertebaran, aku juga turut mengocok penisku, akhirnya.., crot.., crot..

Anton yang pertama kali menyemprotkan spermanya di pantatku sambil berteriak kepuasan yang mendalam, sungguh banyak sekali dan rasanya sperma Anton mencapai usus dalamku, akhirnya akupun turut ejakulasi, Anton menjadi lemas, wajahnya berkeringat dan penuh kepuasan, begitupun aku yang sudah turut lemas, akhirnya kami memakai pakaian kami, dan aku lalu memberikan alamatku di Jakarta dan di Bali kepada Anton, dan dia tampaknya sungguh senang sekali, akhirnya kami sering melakukan hubungan 'gase' (gay seks) bersama Anton.

Voloe_Much@airforce.net

Gairah Seorang Pelatih 02

Kami cuma saling pandang, dengan pandangan yang penuh arti. Ya aku telah menjadi pacarpelatihku. Lalu dengan perlahan Om Ferdy mendekap diriku, dibelainya rambutku dengan sesekalimendaratkan ciuman di pipiku sampai akhirnya aku tertidur pulas dalam pelukannya. Setelah kejadian di malam yang indah itu Om Ferdy tambah perhatian sama aku. Kalau dulu aku berangkat sekolah sendirian kini tidak lagi karena ada Om Ferdy yang selalu setia mengantarku dan menjemputku jika aku pulang sekolah. Malah kadang-kadang dia memberiku uang untuk sekedar beli jajan atau buku pelajaran, maklum sebentar lagi sebentar lagi aku akan Ebtanas jadi aku harus giat belajar disamping latihan yang tidak boleh kutinggalkan. Malahan dia memasukkan aku kePrimagama untuk persiapan Ebtanasku. Apalagi kalau habis gajian aku ditraktirnya makan di restoran yang menjadi favoritnya, lalu aku di ajak ke mall untuk beli macam-macam yang sebenarnya aku tidak butuh. Habis itu lalu kita chek-in di hotel. Walaupun kami sangat akrab sekali tapi keluargaku tak menaruh curiga yang macam-macam, karena keluargaku tahu kalauOm Ferdy itu kan pelatihku. Lagian dia jugakan teman akrab ayahku, jadi pantas kalau keluargaku termasuk ayah tidak pernah curiga sedikitpun kalau aku sudah menjadi "isteri" Om Ferdy tersayang. Pokoknya kami berdua melewati hari-hari indah ini tanpa terganggu dan menggangu pekerjaan lain, latihan misalnya.

Walaupun aku berhubungan dengan Om Ferdy, latihanku tetap tidak dikurangi malah aku sering manambah porsi latihan di rumahnya. Seperti malam itu aku manambah porsi latihanku di rumah kontrakan Om Ferdy yang memang tinggal sendirian. Setelah aku selesai berlatih kami duduk santai di ruangan tengah. Aku menyandarkan kepalaku pada dada Om Ferdy yang bidang itu.
"Om mungkin aku tidak ikut kejuaraan," kataku membuka pembicaraan.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku tidak enak badan Om," jawabku.
Memang akhir-akhir ini aku tidak enak badan. Mungkin karena di samping aku harus berlatih kerasaku juga harus melayani kebuasan pelatihku itu. Apa lagi akhir-akhir ini Om Ferdy selalu minta jatah lebih. Yang asalnya 3 kali sehari, kini menjadi 5 kali sehari. Memang aku akui Om Ferdy memang laki-laki yang sangat jantan dan perkasa. Jadi bukan cuma tubuhnya saja yang bikin birahiku naik, tapi permainannya yang oke selalu membuat aku jadi ketagihan. Entah dia pakaiobat kuat atau tidak aku kurang tahu. Padahal 2 hari lagi aku harus ikut kompetisi.

"Aldy kamu harus ikut kompetisi ini sayang!" katanya sambil membelai rambutku.
"Aku tidak enak badan Om," bantahku manja.
"Aldy asal tahu saja ya, hanya kamu satu-satunya harapan Om pada kompetisi kali ini."
"Kan masih banyak yang lainnya Om? ada Hasan, Heru, Agus dan Rudy," kataku lagi.
"Kamu betul Al, tapi Hasan dan Heru kan cedera sedangkan Agus dan Rudy masih payah. Lagian teknik keduanya tidak sebagus kamu lho."
"Jangan terlalu memuji nanti tidak aku kasih jatah lho," ancamku main-main.
"Oh ya, kalau Om maksa bagaimana?"
"Ya tidak mau."
"Kalau maksa terus."
Itulah kata-kata terakhirnya. Karena sejurus kemudian tangannya yang kekar dan berotot itu membelai rambutku dengan sangat mesra. Lalu tangannya yang banyak ditumbuhi lebat itu mengelu-elus keningku, lalu ciuman hangat mendarat di keningku, "Oh nikmatnya kecupan Om Ferdy ini," pikirku kala itu, apalagi waktu kumisnya yang tipis itu sedikit menusuk kulitku yang lembut itu, "I love you," bisikku. Tanpa mengiraukan kata-kataku lagi Om Ferdy langsung mengecup bibirku dengan mendatangkan nikmat tiada tara. Bibir kami pun saling beradu, saling memberidan menerima serta saling mengulum lidah. Oh, hangat sekali aku rasa tatkala ludahnya yang bercampur ludahku itu kutelan. Sedangkan tangannya sibuk membuka resliting celana pendekku.

Setelah dia berhasil membukanya, dia langsung mencari "tongkat" panjangku yang sudah tegang dari tadi. Tidak begitu lama dia sudah menggenggam dzakarku yang sudah mengeluarka prescum. Kemudian satu jarinya memainkan lubang kecil yang ada di ujung dzakarku itu, karuan saja prescumkutambah banyak keluar dan aku manggelinjang tidak karuan. Sedangkan bibirnya beraksi di bibirku. Berulang kali dia menelan ludahku yang sudah bercampur dengan ludahnya. Rupanya dia sudah dirasuki nafsu yang membara, hingga dia langsung mempreteli busana yang aku pakai, hingga aku bagai bayi yang siap untuk dimandikan. Mendapat perlakuan seperti itu, aku pun tidak tinggal diam, kugusur pakaian yang dipakainya hingga tak terhalang oleh sehelai benang pun. Oh.. betapa gagah dan macho-nya pangeranku ini. Dadanya yang bidang di tumbuhi bulu-bulu yangagak lebat dengan dilengkapi perut yang berkotak-kotak. Demikian juga pahanya di tumbuhibulu-bulu yang sangat lebat dengan dzakar menggantung yang agak besar menurut ukuran orang Asia, serta di tumbuhi bulu-bulu yang lebat juga. Kulabuhkan diriku pada dada yang bidang itu dan kurasakan kedamaian serta kehangatan yang tiada tiara. Sedangkan Om Ferdy mulai labih bringas. Setelah puas melumat bibirku lalu di menyedot ketiakku dalam-dalam, baik yang kiri maupun yang kanan mendapatkan giliran semua secara bergantian. Setelah puas menyedot ketiakku dia langsung mengulum susuku dan memelintir putingnya baik yang kanan maupun yang kiri seiring bentuknya. "Oh.. hangatnya," desahku, mengeluarkan rasa nikmat yang terpendam di dalam dada.

Apalagi waktu ludahnya yang hangat itu membanjiri puting susuku, oh.. nikmat sekali. Kemudian Om Ferdy menelusuri lekuk-lekuk tubuhku mulai pusar, perut hingga paha, tidak sedikitpun terlewat olehnya. Sampai dia berada tepat di dzakarku yang mulai menegang sejak tadi. Tapi diatidak langsung mengulum kemaluanku yang sudah banyak mengeluarakan banyak perscum, tapi dia hanya memainkan buah dzakarku saja. Dielus-elusnya buah dzakarku itu, lalu dengan manja sekali dia menarik-narik rambut dzakarku. Kemudian dengan kedua tangannya dia menggenggam benda yang ada di sekitar dzakarku itu. Mendapat perlakuan super dahsyat itu, aku menggelinjang tak karuan, aku menggelinjang sekuat tenaga, sampai spreinya sudah tidak karuan bentuknya. "Oh.. kulum Om! aku tidak tahan nih!" rengekku. Tapi dia tak menghiraukan rengekanku, padahal aku sudah betul-betul tidak kuat, malah dengan enjoinya dia menggosok-gosok benda di sekitar dzakarku dengan kedua tangannya, karuan saja aku tambah blingsatan dan prescumku tambah banyak keluar. Karena aku sudah tidak kuat lagi maka akupun melingkarkan kakiku di pinggangnya dengan sangat rapat sekali. Dan diapun agaknya mengerti maksudku, lalu dia membalikkan tubuhnya dengankaki di atas dan kepala di bawah. Dan kami pun melakukan gaya "69". Aku masukkan semua dzakarku yang agak besar dan panjang itu ke mulut Om Ferdy mulai ujung sampai pangkal tanpa tersisa. Demikian pula Om Ferdy, dia memasukkan dzakarnya yang besar itu mulai ujung sampai pangkal.

Seperti biasa kalau pertama hubungan aku merasa tersedak dengan zakarnya Om Ferdy yang besar itu, tapi aku tahu akhirnya ini semua mendatangkan kenikmatan yang tiada tara. Setelah kamiagak lama saling mengulum, saling memberi dan saling menerima maka, "Crott.. crott.. crott.." Kami keluar hampir bersamaan. Lalu kami menelan sperma yang lain. Setelah itu tak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami berdua. Karena kami tahu hanya bahasa hatilah yang mampu mengungkapkan kebahagian dan kenikmatan yang baru saja kami rasakan. Hanya keringat yang bercucuran dan desah nafas kami yang menjadi saksi bisu cinta kami berdua di malam itu.

Akhirnya dengan saran dan nasehat Om Ferdy yang menggebu-gebu dan tak kenal lelah, aku pun ikut kompetsi tahun itu, dan hasilnya diluar dugaan kami semua, karena akun akhirnya lomba senam tahun ini. Aku sungguh sangat bahagia sekali, sampai aku meneteskan air mata. Karena di antara teman-temanku yang berlaga dalam lomba itu hanya aku yang menjadi kampium. Semua anggotatim pun menyambutnya dengan sangat gembira. Dan untuk menyambut kemenanganku ini clubku mengadakan acara tasyakuran. Setelah acara tasyakuran selesai aku dan Om Ferdy melanjutkan pesta di hotel berbintang. Tak sedikitpun sempat terlintas dalam benakku, kemungkinan Om Ferdy akan meninggalkanku jika kontraknya dengan clubku berakhir. Hal ini dikarenakan Om Ferdy sudah berjanji sehidup semati seia sekata. Pernah satu kali kegamangan tiba-tiba menggoyang hatiku, tapi segera aku tepis mengingat perhatian Om Ferdy yang sanagt tulus dan ikhlas. Kurasakan kira-kira 5 tahun kebahagiaan menyelimuti hidupku. Tapi kini tiba-tiba saja keadaan telah merenggut habis kebahagiaanku, menghempaskanku hingga berkeping-keping, tak secuilpun tersisamasa-masa indah dulu yang kulewati dengan Om Ferdy. Semua suram, semua buram seperti kaca jendela bekas rumah kontrakan Om Ferdy yang hampir satu bulan lupa untuk dibersihkan. Om Ferdy yang menjadi tumpuan harapan-harapan dan mimpi-mimpiku kini telah pergi. Dan yang lebih menyakitkan hatiku, kepergian Om Ferdy untuk kembali ke kampung halamannya (di provinsi "L")tidak dikatakan terus terang padaku. Sehingga paling tidak aku bisa mempersiapkan segalanya baik kebutuhannya di jalan atau mempersiapkan perasaan yang akan segera ditinggal pergi ini.

Saat pergi dulu Om Ferdy hanya mengatakan hanya pergi ke kota "T" karena ada urusan pekerjaan. Tapi setelah hampir 3 minggu tidak ada kabar tentang Om Ferdy. Aku mencoba untuk tanya pada pimpinan club. Bagai petir yang menyambar pucuk kelapa, begitu juga perasaanku kala itu. Akhirnya kuketahui kalau Om Ferdy telah pulang ke kampung halamannya. Selama beberapa minggu aku menangis memaki nasibku yang tidak berpihak lagi padaku. Om Ferdy, Om Ferdy teganya kamumeninggalkan diriku terpuruk seorang diri, jatuh terkapar seperti helai-helai daun kelapa yang terpaksa runtuh ke bumi tak berdaya. Malam semakin kelam, kelelawar sesekali lewat di depan kaca jendela rumah kontrak Om Ferdy dulu. Kota "L", kota dimana aku dilahirkan telah menjadi bayangan hitam tertutup oleh awan. Dan tanpa aku sadari aku meringkuk di kamar yang biasa kami pakai untuk bercinta dulu. Di kamar ini aku mengalirkan air mata seperti hari-hari sebelumnya. Dadaku turun naik oleh kenangan manis bersama Om Ferdy. Lama aku meringkuk dalam kebekuan yang mengharu. Tapi tiba-tiba saja sebuah kekuatan telah membangkitkan aku, "Aku harus bangkitkembali. HARUS!" pikirku. Kepergian Om Ferdy tidak boleh menghancurkan masa depanku. Aku masih muda dan masih punya secercah masa depan yang cerah. Besok aku akan meniggalkan kota "L" untuk menghilanghkan kenangan kelam bersama Om Ferdy. Dan aku harus melanjutkan kuliah yang terbengkalai gara-gara cinta butaku pada Om Ferdy.

Om Ferdy, mudah-mudahan kamu membaca kisah cinta kita berdua ini. Dan aku selalu berdoa mudah-mudahn kau bahagia di sana, di sisi orang-orang yang mencintai dan dicintai. Dan harapanku, adakah para pembaca yang budiman mau menggantikan posisi Om Ferdy. Kalau ada salah satu daripembaca yang serius bisa pembaca hubungi e-mailku.

rekesan80@yahoo.com

Gairah Seorang Pelatih 01

Kisah yang betul-betul nyata ini aku alami kira-kira pada tahun 1996, ketika aku masih umur 16 tahun dan aku masih duduk di kelas 3 SMP di kotaku. Waktu itu aku sudah bergabung dengan salah satu klub senam yang memang menjadi salah satu olahraga favorit anak-anak seusiaku, selain sepak bola dan bulu tangkis tentunya. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku dimasukkan ke klub senam, kok bukan yang lainnya, karena aku masuk bukan karena kehendakku tapi kehendakorangtua dan aku sendiri tidak bisa menentang dan membantah, karena disamping aku harus patuh sama orangtua dan lagian aku tahu kalau setiap orangtua pasti memilih yang terbaik untuk putranya.

Tiap hari sehabis pulang sekolah aku musti latihan dengan baik dan giat, karena kalau tidak latihan satu hari saja, maka orangtuaku pasti mendanpratku habis-habisan dan besoknya aku pasti mendapat hukuman dari pelatihku. Mulai disuruh push up, set up, scot jump dan lain-lain. Tapi hasil didikan yang begitu keras dan melelahkan itu cukup bagus, terbukti kami selalu dikirim ke kejuaraan baik tingkat desa, kecamatan atau kabupaten bahkan tingkat propinsi pun pernah kami rasakan. Dan itu semua tidak lepas dari sistem pembinaan di tubuh klub yang aku tempati.

Bayangkan saja tiap kelompok (1 kelompok terdiri dari 10 anak) mempunyai 1 palatih yang tentunya sangat profesional dan tidak diragukan lagi kemampuannya. Dan aku pun beserta 9 anak lainnya, juga dilatih oleh seorang pelatih yang profesional. Om Ferdy begitu biasanya dia di panggil. Sedangkan nama lengkapnya **** (edited). Dia seorang laki yang kira-kira umur 32 tahun, bertubuh tinggi tegap, agak gempal, berbulu lebat baik di dada, tangan dan ketiaknya. Walaupun wajahnya biasa-biasa saja tapi tidak mengurangi ke-macho-an dan keperkasaannya. Apalagi tatapan mata dan senyumnya, aku yakin dapat meruntuhkan semua gadis-gadis di dunia ini. Walaupun dia agak dingin tapi hatinya baik dan sopan sekali. Malah kadang-kadang dia suka humor. Karenanya banyak anak-anak yang ingin dilatihnya. Mungkin karena dia teman dekat ayahku sehingga aku sangat beruntung dilatih oleh Om Ferdy. Seorang pelatih tampan, gagah, macho dan profesional tentunya. Pada mulanya aku tidak menghiraukan semua itu. Biar dia macho kek, tampan kek aku tidak perduli, toh dia laki-laki aku pun laki-laki memang mau apa pikirku kala itu. Mungkin karena faktor usiaku yang masih anak-anak dan belum mengenal dunia yang macam-macam, hingga aku tidak tertarik sedikitpun padanya.

Akhirnya aku hanya berlatih, berlatih dan berlatih. Dan Om Ferdy aku anggap sebagai ayahku sendiri, karena dia begitu sayang dan perhatian padaku ketimbang pada yang lainnya. Waktuitu aku tidak mengerti kenapa dia seolah-olah menganak-emaskan aku dan selalu lebih dekat pada diriku ketimbang pada anak-anak yang lainnya. Sehingga tak heran jika banyak teman-temanku yang iri melihat perhatiannya Om Ferdy padaku yang melampui batas. Hingga suatu hari ketika kami sedang latihan, "Aldy, kakinya kurang lurus!" instruksinya ketika aku kurang sempurna dalam melakukan teknik trampolin (salah satu teknik dalam senam dengan posisi kaki di atas dankepala di bawah). Sejurus kemudian dengan ketelatenannya dia meluruskan kakiku. Tapi tegangannya kali ini terasa aneh sekal. Dia tidak hanya memegang betisku yang perlu diluruskan tapi pahaku juga ikut-ikutan dipegang dan agak mengelus-elus daerah yang merangsangkan itu, hingga akhirnya aku tidak konsentrasi lagi dan posisiku langsung rusak, karena merasa geli sekali diraba-raba begitu rupa. "Lho kok berhenti, ayo ulangi lagi," katanya. Tanpa menugguperintah yang kedua kalinya aku pun mengulangi teknik trampolin. Tapi kali ini salah lagi katanya, aku pun mencobanya lagi tapi salah lagi, begitu seterusnya hingga aku mengulangi teknik ini berpuluh-puluh kali tapi selalu kegagalan yang aku dapatkan.

Aku sendiri tidak tahu mengapa teknikku salah terus katanya, padahal bagiku sudah benar dan tidak ada yang salah.
"Sudah Aldy, nanti kamu cedera," katanya.
"Tapi aku belum bisa Om," bantahku.
"Oke, karena waktunya sudah habis kamu boleh istirahat. Tapi oh ya nanti kamu bolehke rumahku untuk menambah porsi latihan, bagai mana mau?"
"Hmm.. oke," jawabku enteng.
Memang aku sering menambah porsi latihan apalagi kalau ada teknik yang belum aku kuasai, tanpa disuruHPun aku pasti menambah porsi latihanku di rumah Om Ferdy. Dan memang, di rumah kontrakannya ada ruangan khusus untuk menambah porsi latihan.

Setelah aku pamitan sama orangtua, kira-kira jam 19:00 WIB aku berangkat ke rumah Om Ferdy. Sesampainya di sana aku merasa heran, yang ada kok cuma aku yang lainnya mana? pikirku. Karena kalau menambah porsi latihan itukan biasanya sama teman-teman satu kelompok. Tapi kali ini kok aku sendirian. Tapi akhirnya aku tidak mengacuhkan keadaan ini. Mungkin Om Ferdy ingin memberiteori khusus pada diruku, pikirku kala itu. "Oke, ganti baju dan segera kita mulai," katanya. Aku pun langsung ganti baju (cuma pakali celana pendek dan telanjang dada). Tapi anehnya matanya yang tajam itu selalu menatapku bagai burung elang yang mau menangkap mangsanya. "Gila! kenapa dia?" gerutuku dalam hati. Tapi aku tak menggubris semua itu. "Oke kita mulai Al!" suruhnya. Dengan gerakan yang sangat lincah bagai burung walet aku pun memperagakan satu persatu teknik yang aku pelajari. Mulai teknik trampolin, pommel horse dan lain-lain. "Coba kamu ulangi lagi teknik trampilon!" suruhnya. Tanpa ba-bi-bu aku pun mengulangi teknik itu.
"Tangannya kurang lurus!"
"Begini Om?"
"Bukan, begini lho.."
Dia memegangi tanganku untuk diluruskan. Tapi anehnya dia tidak meluruskan tanganku malah mengelus-elus tangan yang masih dalam posisi tegak itu, hingga membuatku tidak konsentrasi lagi dan aku hampir jatuh kalau tidak ada tangan kekar dan hangat menangkap pinggangku. Ternyata tangan yang hangat dan kekar tadi itu tangannya Om Ferdy, yang tahu-tahu sudah membopongku.
"Terima kasih Om."
"Are you welcome."
"Turunkan aku Om!" pintaku, karena aku malu dibopong lama-lama dengan cuma pakai celana pendek dan telanjang dada.
Tapi bukan jawaban yang aku terima tapi sebuah kecupan lembut dan hanagat sekali tiba-tibamendarat dikeningku.
"Apa maksud Om?"
"Nanti kamu akan tahu," katanya, sembari membawaku ke tempat tidurnya.
Entah mengapa aku tidak berontak waktu itu. Padahal aku ingin menolak tapi bagai terhipnotis diriku menurut saja ketika aku dibawa ke kamar yang harum sekali dan dipenuhi gambar-gambar cowok. Dengan lembut sekali dia membaringkan aku seiring kecupan yang mendarat dikeningku dengan sangat mesra sekali.

Oh nikmatnya kecupan yang membuatku terlena, pikirku kala itu. Entah mengapa aku ingin diperlakukan yang lebih dari sekedar kecupan dari laki-laki yang menjadi pelatihku ini. Kemudian bibirnya yang hangat itu mencium pipiku dengan beringasnya, dengan sesekali menjilati pipiku yang masih ranum itu. Sejurus kemudian bibirnya memagut bibirku. Oh.. betapa nikmatnya pertemuan dua bibir itu, membuat aku mabuk kepayang. Apa lagi ketika dia menyuruh mengeluarkan lidahku, lalu lidah yang aku julurkan itu disedotnya dalam-dalam penuh arti sejuta nikmat. Sedangkan tangan Om Ferdy tak tinggal diam. Dengan pengalamannya dia mengelus-elus pahakuyang lembut dan lunak itu dengan sangat mesra sekali. Dibelainya pahaku yang segar itu, hinggamembuat darah mudaku mendesir tak karuan. Setelah puas menjilati dan mengecup wajahku, kini giliran ketiakku yang mendapat jilatan dan kecupan yang sangat hangat oleh lidahnya yang sesekali dikeluarkannya. Baik ketiak kanan dan kiri tak luput dari incarannya. Lalu susuku yang mendapat giliran berikutnya. Kadang dihisap, kadang ditarik, kadang digigit dan kadangdengan lidahnya dia memutar-mutar puting susuku searah bentuknya.

"Oh.. enaak.." rintihku.
"Kamu suka Aldy," katanya, sambil tangannya melepaskan celana pendek dan CD yang aku pakai.
"Teruskan Om!" pintaku.
Medapat permintaan seperti itu langsung saja dia memburu perut dan pusarku yang merangsangkan sekali. Sedang aku sendiri pun tidak tinggal diam. Merasakan Om Ferdy mempermainkan gairahku, dengan pengalamanku yang tergolong minim, kupreteli semua busana yang melekat pada tubuhnya. Mungkin dia mengerti yang aku mau hingga dia tidak memberontak tatkala kulepas busana yang dipakainya. Sempat kaget aku melihat dzakar yang sudah menantang di depan mata.
"Wow besar sekali."
"Kamu pasti suka, cobalah!"
"tidak ah aku tidak bisa Om."
"Coba dulu!"
Dengan agak memaksa dia menyuruhku untuk mengoral zakarnya yang belepotan prescum itu. Agak tersedak kerongkonganku ketika zakar yang berukuran kira-kira 21 cm itu masuk ke mulutku sampai pangkalnya. Sedangkan dengan pengalamannya dia mencoba membantuku dengan memaju-mundurkan kemaluannya yang besar itu. Oh.. enaak sekali rasanya. Sedangkan tanganku pun tidak tinggaldiam. Dengan tangan kiriku, kupermainkan buah zakarnya yang agak kemerah-merahan itu. Kuelus dengan hati-hati sekali dan penuh pengertian, lalu benda yang ada telurnya itu aku tarik perlahan-lahan. "Oh enaak teruskan Al!" rengeknya, sambil menggelinjang tidak karuan.

Sedangkan tangan kananku kugunakan untuk mengocok zakarku sendiri yang sudah berdiri daritadi. Rupanya dia betul-betul pengalaman sekali, terbukti jika aku mempercepat kulumanku padadzakarnya dia mempercepat gerakannya, begitu juga sebaliknya bila aku memperlambat gerakanku dia pun memperlambat gerakannya. "Oh enaak.." rancaunya, tatkala lidahku memainkan lubang kecil yang berada di ujung benda yang kenyal itu. Aku memeng paling suka mempermainkan lubang kecil itu. "Hmm.. lezaat.." mungkin begitu pikirku kala itu. Setelah agak lama aku mengulumpisang ambon Om Ferdy, rupanya dia dikuasai oleh nafsu birahi yang tak tertahankan, hingga wajahnya bersih itu makin lama makin memerah bak kepiting di rebus. "Aku mau keluar Al.." rintihnya, seiring dengan cepatnya gerakan Om Ferdy dan akhirnya, "Crott.. crott.. crott.." Kami mengeluarkan mani hampir beesamaan. Kutelan semua sprema Om Ferdy yang walaupun agak asin itu tapi nikmat sekali, lalu kujilati sisinya. Begitu pula dia, dijilatinya spermaku yang muncrat kemna-mana, di jilatinya satu persatu, mulai mani yang ada di zakarku, lalu di pahakusampai di ubin pun di lahapnya habis. Tidak ada kata-kata yang dari keluar dari mulut kamiberdua, karena kenikmatan dan kebahagian dan kenikmatan yang kami rasakan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Gairah Muda - 2

Dan dada semakin merintih rintih. Tangannya memijat mijat pantatku kasar dan pinggangnya ia tekan tekan ke atas berusaha semakin dalam memasukkan kemaluannya lebih dalam lagi ke mulutku. Meski sudah tidak mungkin karena seluruh batang kemaluannya sudah masuk tenggorokanku. Tangan Dada makin liar di pantatku begitu juga gerakan naik turun pinggangnya. Sodokan sodokan kemaluannya di tenggorokanku terasa nikmat sekali. Tapi sodokan sodokan jari tangannya yang kini diarahkan ke lobang pantatku juga terasa aneh sekali.. Dan makin lama makin jelas bahwa kini bukan hanya mulutku sAja yang merasa lapar dan dahaga tapi juga lubang pantatku..

Maka aku juga membalas sodokan jari jari tangan dada di lubang pantatku dengan gerakan pinggangku yang memutar mutar. Ini membuat dada makin bernafsu. Maka Dada dengan cepat dan tergesa menurunkan celanaku. Dan ia bergerak merubah posisi dengan berbaring menyamping. Kemaluannya yang keras tersu Ia sodok sodokkan ke dalam mulutku sementara Ia kini menggigit gigit bongkahan pantatku dan membasahi lobang pantatku dengan ludahnya. Aku semakin belingsatan dengan sensasi rasa nikmat didalam tubuhku.

Mulutku sibuk dan menggeram dangan setiap sodokan yang kemaluan Dada berikan, sementara pinggangku berputar putar liar karena sentuhan sentuhan panas yang Dada berikan.

"Ohh Aj.. Aj.. Aku akan memasukkan kemaluanku di lobang pantatmu ya? Ohh Aj.. Lobang pantatmu indah dan halus sekali.. Aj.. Aj.. Biarkan aku menyetubuhimu seperti wanita ya? Biarakan aku membuat mu menjadi wanitaku yang cantik dan aku puji.. Ohh Ajj.. Aku ingin menyetubuhimu.. Ajj.." Dan dada menarik kemaluannya dari mulutku. Ohh.. Kemaluannya basah dan berkilap indah sekali.. Basah oleh lendir lendir nikmat dari mulutku.. Aku ingin kemaluan Dada kembali masuk mulutku dan berusaha meraihnya.. Tapi dada menekan tubuhku yang berbaring tertelungkup dengan pantatku diatas.

Dada lalu berbaring di atas tubuhku. Kemaluannya yang keras dan tegang menyodok nyodok belahan pahaku ketika Ia berusaha mengatur posisinya diatas tubuhku. Aku masih belum mengerti benar dengan apa yang Dada maksud bahwa Ia ingin menyetubuhiku seperti wanita.. Tapi ketika ia membasahi lubang pantatku dengan ludahnya dan mengarahkan kepala kemaluannya di atas lubang pantatku, aku mulai sadar.. Ohh.. Tidak mungkin.. Tidak mungkin bakal bisa.. Aku panik. Dan takut karena kemaluannya yang besar dan aku yang belum tahu apa itu persetubuhan..

Tapi jujur, rasa panas kemaluannya di pantatku terasa nikmat sekali, tapi.. Aku masih takut, jadi aku berontak. Dan kemaluan dada meleset. Tapi Dada terus menekan tubuhku dengan tubuhnya yang besar dan kuat.. Sementara kemaluannya tetap tegang dan keras membAja menyodok nyodok belahan pahaku mencari sasarannya..

Lama dada berusaha menekan masuk kemaluannya ke lubang pantatku tanpa hasil, karena setiap kali kepala kemaluannya sedikit masuk, aku merasakan sakit dan berontak sehingga kemaluan dada kembali meleset. Lama lama Aku dan dada basah oleh keringat. Pantatku terasa basah dan licin oleh keringat dan juga oleh cairan kemaluan Dada yang meleleh banyak karena nafsu, tanpa berhasil membenamkan kemaluannya dalam dalam di lubang pantatku yang masih sempit sekali. Tapi karena semakin lama lubang pantatku dan kemaluan dada semakin basah dan licin.. Perlahan lahan dada berhasil menemukan targetnya.. Dan menekan tubuhku kuat kuat kebawah.

"Akh!!," Aku menjerit kuat ketika kepala kemaluan Dada berhasil masuk menembus halangan utama. Dan dada meringis nikmat dan menengadahkan wAjahnya ke atas, menatap syurga. Melihat ini aku mencoba menahan rasa sakit. Tapi ketika dada menekan pinggangnya dan kemaluannya melesak masuk menembus lubang sempit pantatku, aku tidak kuat" Akhh.. Da.. Dada.. Sakkiitt.. Addhhuhh.. Adhhuhh.. Da.. Keluarin.. Keluarin da.. Akhh.. Akhh.. Akhh.. Daa.." Aku menjerit kuat dan mengepal ngepalkan genggaman tanganku ketika Dada tanpa mendengar keluhanku terus menekan kemaluannya masuk sampai buah zakar dan bulu kemaluannya menyentuh kulit pantatku.

"Ahh.. Ohh.. Ajj.. Nikmat sekali.. Nikmat sekali lobang pantatmu.. Ohh.. Sempitt.. Hangatt.. Dann.. Ohh Ajj.. Ohh Ajj.." dada merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Punggungnya membungkuk seperti udang merasakan nikmat kemaluannya terbenam dalam dilubang pantatku yang muda dan sempit. Lama Dada diam dalam posisi seperti ini. Tangannya mendekapku kuat. Birinya menciumi wAjahku. Dan dadanya yang kuat dan basah oleh keringat melekat di punggung ku. Sementara pinngangnya.. Menekan kebawah ke arah pantatku mencoba mebidik lebih dalamm.. Lebihh dalamm lagi..

Lalu perlahan ditariknya pinggangnya ke atas" Akhh.." aku kembali merintih, merasakan perih di lobang pantatku yang kini terasa sesak, sesak sekali terjejal kemaluan dewasanya yang besar..

"Ohh Ajj.. Aku belum pernah merasa nikmatt seperti ini.. Ohh.. Kamu hebatt.. Kamu hebatt.. Ohh Ajj.. Ohh Ajj.." dan Dada kini dengan cepat menaik turunkan pantatnya mengeluar masukkan kemaluannya dilubang pantatku.. Menyodok nyodok dalam dinding dinding perutku.. Dan aku berusaha kuat menahan rasa sesak dilubang pantatku oleh sesaknya kemaluan Dada. Lambat laun lobang pantatku jadi licin dan becek oleh cairan bening dari kemaluan Dada dan juga oleh cairan alami yang keluar dari dinding dinding lobangku yang kini mulai terasa nikmat..

"Aj.. Ohh Aj.. Enak sekali.. Ohh enak sekali.. Kamu kini akan aku jadikan gadis kesayanganku.. Dan Aj.. Aku akan memenuhi nikmatmu dengan kerasku setiap saat.. Ohh Ajj.. Ajj.." Dada kini sudah tidak tentu omongannya. Di benamkannya dalam dalam kemaluannya dilobang pantatku, di gesek geseknya, diputar putarnya.. Dibenamkannya dalamm dalamm..

"Ohh dada.. Dada.." Aku mulai merasa terbang ke angkasa. Nikmat. Nikmat sekali rasanya gesekan gesekan kemaluan besarnya di dalam lobang pantatku. Dan lobang pantatku semakin becek berdecak decak. Dada kini mengubah posisi dengan aku mengangkang dan kedua kakiku diletakkan diatas pundaknya. Lalu perlahan diarahkannya kepala kemaluannya ke arah lobang pantatku, dan ketika kepala kemaluannya menyentuh targetnya, Dada menekan kuat kuat," Bless.. Ss.. Sseekk" "Akh.. Akhh.. Dadaa.." aku menjerit sakit sakit nikmat. Kedua kakiku turun melingkar di pinggang Dada dan Dada kini rebah diatas tubuhku.

Digoyangnya aku, diayun ayunkan, sementara kemaluannya tak pernah berhenti menggesek gesek dinding dinding lobang pantatku nikmatt.. Nikmaatt sekali.." Ohh Dada.." Aku menggigit lehernya. Dan Dada mencengkeram rambutku.

"Brett Brett Brett.." Suara suara aneh jadi musik irama birahi kita. Aku sudah tidak merasakan sakit sama sekali di lobang pantatku. Yang ada hanya nikmat.. Hangat.. Dan sumpalan keras kemaluan dada dilobangku.. Ohh.. Nikmat sekali.. Nikmat sekali..

Dan dada semakin keras menerjang nerjangkan kemaluannya didalam tubuhku. Tanganya gemas dan erat mencengkeram rambutku. Bibirnya menggigit gigit leherku, pipiku, sebelum akhirnya melumat bibirku basah dan kasar.

"Ohh Ajj.. Aj ku sayang.. Nikmat sekali lobang paramex mu.. Ohh.. Aku cinta paramex mu.. Ohh.. Aj.. Aj.. Paramex ini milikku.. Dan aku akan menyumpal paramex ini dengan nikmat kemaluanku setiap malam.. Setiap waktu.. Ahh Aj.. Aku cinta paramex mu.. Yang nikmatt.. Ohh Ajj.." Dan dada kembali menyodok nyodokkan kemaluannya ke dalam lobang pantatku.. Tapi aku kali ini hanya mengernyitkan dahi.. Paramex Dada bilang? Apa itu?

"Ohh Aj.. Paramex mu enak sekali.. Oohh.. Ajj.. PA ntat mu benar benar benar RA sa me MEX.. Ohh Aj.. Aku cinta paramex mu.. Pantat rasa memex.. Ohh.. Ohh.. Ajj.. „

Hi hi hi.. Aku tertawa geli mendengar itu semua, paramex, paramex, kirain apaan.. Ternyata pantat rasa memex. Tapi aku tidak bisa lama tertawa geli. Karena kemudian Dada brutal sekali menghujam hujamkan kemaluannya ke dalam paramex ku. Sampai suaranya terasa gaduh sekali.

"Aj.. Aku mau keluar.. Aku mau keluarr Aj.. Ohh.. Aku mau keluar di dalam lobang paramex mu.. Aku ingin membuat lobang paramex mu banjir oleh cairan laki laki ku Aj.. Ohh.. Ohh.. Ohh.. Ajj..!!"

Dan dada menghentak hentak kuat sekali. Membuat tegang kemaluannya keras menonjok nonjok lobang nikmatku yang basah dan licin. Nikmat sekali. Nikmat sekali.. Dan.. Ohh.. Lalu terasa kepala kemaluan Dada berkejat kejat didalam lobang nikmatku dan meledak.. Ohh.. Begitu hangatt.. Begitu nikmatt..

"Aj.." Dan dengan lenguhan terakhir. Dada lunglai diatas tubuhku. Basah kita berdua oleh keringat. Dan selangkanganku basah oleh spermanya. Ketika kemaluan dada keluar dari lobang pantatku,"PLOP"begitu bunyinya. Dan Dada menyeka kemaluan dan lobang pantatku yang basah dengan sarungnya. Lalu diciumnya sarungnya.

"Aj.. Lobang pantatmu benar benar paramex.. Nikmat sekali menjepit jepit kemaluanku.. Dan bersih!! Lihat sarung ini.. Cuma basah oleh sperma tanpa kotoran lain.. Pantatmu benar benar paramex super Aj.." Lalu dada mendekapku dan mencium bibirku mesra. Tangannya kembali menyelinap ke arah pantatku. Dan 2 jari tanganya menyelip masuk. Bermain main dengan lobangku yang kini terasa lebar dan kesepian. Tapi tidak lama. Karena kemudian datang pemuda pemuda yang lain dan dada turun kebawah menemui mereka dan seseorang naik ke atas. Ruga!! Maka ketika yang lain dibawah sibuk membakar ubi dan bercakap, segera aku sambut Ruga dengan mulutku Dan ruga membalasnya senang.

Tidak lama Kemaluan Ruga ada dimulutku, karena aku segera berbaring membelakanginya menyamping dan mengangkat satu kakiku ke atas dan memasukan kemaluan Ruga dalam di lobang pantatku. Ruga sedikit heran dengan kelakuanku, tapi begitu kemaluannya menembus lobang pantatku Ruga segera bergerak mAju mundur menyodok nyodokkan kemaluannya. Kali ini Ruga bermain lama lama dengan kemaluannya di dalam tubuhku sampai pemuda pemuda yang lain naik ke atas dan tidur di satu dan lain sisi, kemaluan ruga masih terbenam dalam di lobang nikmatku. Keadaan diatas lumayan gelap, jadi, hanya dengan bertutup sarung, tidak akan ada yang tahu dan curiga. Karena mereka terbiasa melihat aku tidur didalam pelukan salah satu dari mereka.

Cuma Dada mungkin sedikit curiga. Atau karena mungkin Dia ingin aku tidur dalam dekapannya maka Dada mengambil tempat dan berbaring di depanku dan Ruga. Ketika dada diam seolah tertidur, ruga kembali mengeluar masukkan kemaluannya mAju mundur di lobang pantatku, sampai Ruga mendesis dan lobang pantatku kembali dapat semprotan cairan hangat penuh nikmat.

Setelah perlahan Ruga membersihkan kemaluan dan pantatke dengan sarungnya aku pura pura menggeliat dan berpindah ke arah Dada. Dengan tangannya, dada memintaku untuk membelakanginya. Tangannya langsung ke arah pantatku dan ketika jarinya merasakan cairan nikmat Ruga mengalir disana, dada mencubit ku disana dan menggigit leherku keras sambil lalu mengarahkan kemaluannya kelobang pantatku dan langsung melesakkan seluruh batangnya ke dalam. Aku sudah merasa sedikit kebal disana jadi aku hanya menjawab dengan berusaha menunggingkan pantatku lebih dalam, sehingga kemalua Dada lebih cepat amblas ke pangkalnya. Dan malam itu Dada mendekapku erat erat sampai pagi. Dan kemaluannya.. Tidak pernah lepas dari lobangku meski beberapa kali Ruga memberi isyarat agar aku datang ke dekapannya.

Sejak malam itu, karena dada marah pada malam yang sama aku membagi lobang nikmatku dengan Ruga, dada menceritakan nikmatnya paramex ku ke beberapa pemuda lain, dan pada hari malam kedua sejak lobang paramexku diambil dan digunakkan untuk kenikmatan Dada dan Ruga, aku harus Juga melayani Parma, seda, dan beberapa pemuda lain. Bahkan beberapa bapak bapak yang kalau kebagian jatah ronda ingin juga mendapatkan aku dalam dekapannya.

Sekarang setiap ada pemuda yang mendekatiku dan berbisik paramex, aku harus siap menurunkan celanaku dan menikmati kejantanan mereka yang menghujam dalam di belahan pantatku. Dan aku siap, selalu siap melayaninya.

Lobang pantatku mungkin memang ditakdirkan untuk jadi paramex. Karena anehnya, lobangku menikmati sodokan sodokan kemaluan laki laki sedemikian dalam. Dan laki laki yang pernah menyodokku pasti ketagihan. Bukan cuma orang kampung sAja. Tapi kemudian aku ke kota. Bahkan keluar negeri dan menikmati beraneka ragam sodokan laki laki di belahan pantatku.

Tapi umurku semakin matang, aku kini menikah dengan seorang gadis yang cantik dan muda dan mencintaiku. Aku tidak mencintainya tapi.. Ahh, dia tidak mau laki laki lain dan bahagia menjadi milikku jadi.. Aku mau bagaimana?

Aku sekarang sebenarnya jatuh cinta dengan laki laki kurdi yang meninggalkan negaranya karena alasan politik. Dan laki laki kurdi ini mencintaiku juga. Terutama lobang pantatku yang siap digempur oleh kemaluan turki-kurdi nya yang dahsyat. Tapi.. Dia juga takut ketahuan suka menyodok pantatku. Jadi.. Kita hati hati sekali dan ketemu 1 bulan sekali.

Ohh, mulutku lapar ingin disodok kemaluan laki laki dalam dalam. Dan ohh.. Pantatku juga dahaga ingin dimasuki banyak laki laki sejati.

Gairah Muda - 1

Aku laki laki, tapi dari kecil aku memiliki tubuh sintal, kulit halus dan bersih, serta bibir merah merekah seperti perempuan. Meskipun aku tidak kebanci bancian. Di antara para wanita, dari kecil aku sudah jauh lebih laku diantara teman teman laki laki ku. Tidak tahu kenapa, tapi gadis gadis disekitarku selalu langsung dekat dan tidak segan bermain, dan bercanda denganku seolah olah aku adalah bagian dari mereka, sementara kawan laki lakiku tentu selalu iri dengan kedekatanku dengan semua gadis gadis yang tersedia.

Ada beberapa gadis yang terbuka menyukaiku dengan tendensi sexual. Tapi banyak juga yang menyukaiku cuma sebagai kawan, rekan, dan teman bermain.

Perasaanku sendiri terhadap mereka? Tidak tahulah, tapi memang ada beberapa yang saya suka kalau kita berpelukan, atau berciuman, atau sekedar dekat dan merasakan hangat. Tapi selebihnya.. Rangsangan sexual kayaknya tidak pernah ada yang begitu menggebu gebu terhadap mereka. Kecuali keinginan untuk dekat, atau berdekapan, atau berciuman bibir, tidak ada lagi keinginan lebih yang ingin saya teruskan.

Itu mungkin sebabnya pula, gadis gadis itu juga suka saya dalam sekali dan bahkan sampai sekarang, ketika beberapa dari mereka sudah berkeluarga. Mata mereka bersinar sinar begitu melihat saya, dan mereka tidak segan memeluk dan bercerita tentang rahasia rahasia mereka, karena diantara kita memang tidak pernah terjadi apa apa.

Ini pelAjaran buat semua laki laki. Kalau kamu ingin dihargai dan disayangi semua wanita, jangan langsung berpikir betapa enaknya vagina dia!! karena wanita itu makhluk dengan rasa. Ok, ada saat saat wanita lebih gila daripada pria, karena mereka gatal dan ngangkang dan nggak puas puas juga meski kita sudah tusuk vagina mereka lama lama.. Tapi masih sAja itu vagina terbuka dan meminta.. Tapi pada umumnya.. Semua wanita akan senang, bahagia, dan jatuh cinta kalau kita bisa memberi kedamaian, rasa hangat, dan sedikit cinta. Dengan hanya mendekapnya hangat. Mencumbunya mesra. Bermain main dengan bibir kita diujung ujung belahan bibirnya. Tanpa tangan atau kemaluan kita menyentuh vagina atau payudaranya.. Sang wanita akan gila!! gila oleh cinta..!! Percaya saya sudah..!! Soalnya saya sudah sering bikin wanita jatuh cinta.. Meski sebenarnya saya tidak menginginkannya. Ok.. Kadang saya menginginkannya.. Karena wanita kadang sungguh makhluk mulia. Dan dengan wanita.. Jiwa kita tentram dan.. Kita bias hidup terbuka.

Tapi apalah daya.. Kalau saya memiliki lain rasa? Saya laki laki, tapi saya butuh kekuatan, cinta, dan gairah dari makhluk yang lebih kuat dari saya!! Itu sebabnya pula saya tidak bahagia.. Meski sekarang saya punya pendamping setia yang mencintai saya dan.. Cantik luar biasa.

Dari kecil, saya sedikit lain dari anak anak lain didesa saya, karena kulit saya yang halus dan bersih. Juga karena tubuh saya yang sintal dan terawat. Tentu juga karena bibir saya yang manis dan merah, alami. Membuat saya kadang jauh lebih memikat dari beberapa wanita.

Di kota kecil saya, kadang saya suka ikut bergabung dengan pemuda pemuda yang suka berkumpul di pos ronda. Mereka kadang bermain kartu, atau bahkan sembunyi sembunyi minum minuman alcohol, sampai larut, larut malam. Saya suka diantara pemuda pemuda itu. Karena kebanyakan dari mereka suka mendekap saya. Mengelus elus tubuh saya. Dan memuja. Mereka memuja kulit saya yang halus. Mereka memuja bibir saya yang sexy. Dan sebagainya.

Kalau malam jadi larut, dan beberapa dari mereka tiduran. Mereka masih suka mendekap saya seperti boneka dalam tidurnya. Kadang tanpa sadar atau tidak. Mereka menciumi leher saya dari belakang, dan menekan nekankan kemaluan mereka ke pantat saya. Semula saya tidak berpikir apa apa. Kecuali senang karena rasa geli geli nikmat dan karena tubuh mereka yang hangat menyelimuti saya.

Tapi lama lama, seiring waktu, dan bertambahnya umur. Saya semakin mengerti akan gairah yang tumbuh ditubuh saya, ketika merasakan kehangatan mereka. Ketika mereka menekan nekankan kemaluan mereka ke pantat saya, dan bibir mereka mengigit gigit leher belakang saya. Tanpa sadar lama lama saya berani melenguh, dan membalas menekan pantat saya ke arah kemaluan mereka, sampai saya merasakan keras dan besarnya kemaluan di dalam celana mereka.

Ritual seperti ini berlangsung cukup lama sampai satu saat saya tidak tahan dan tangan saya melanglang ke belakang dan mengenggam kemaluan mereka dari balik celananya. Tidak tahan, satu saat akhirnya tangan saya juga menyelusup masuk ke dalam celana mereka dan menggenggam kemaluan laki laki yang tegang, keras, panas, dan.. Ohh menggelora!!

Tidak tahu kenapa, tapi pertama kali saya memegang kemaluan laki laki lain yang sudah dewasa, ada dunia baru yang terbuka dihadapan saya. Darah saya bergejolak. Tubuh saya meleleh bagai lilin. Dan bibir saya? rasanya jadi semakin tebal dan merah.. Mendidih. Membuat saya haus.. Haus.. Haus..

Dan satu jalan untuk menghilangkan rasa haus saya, saya beranikan diri mendekatkan mulut saya ke kemaluan mereka. Saya cium harumnya. Saya rasa nikmatnya. Saya hisap daya tariknya. Sampai air saya meleleh dan perlahan saya jilati kepala kemaluannya. Sang pemuda mendelik dan mengeluh tak percaya. Lalu tidak tahu dari mana datangnya ide itu tapi kemudian, saya masukkan kepala kemaluan sang pemuda ke dalam mulut saya, dan saya benamkan perlahan lahan di ke dalaman nikmat dan basahnya mulut saya. Lebih dalam lagi menyentuh tenggorokkan. Lebih dalam lagi lewat kerongkongan. Ohh.. Saya pintar sekali mengatur nafas saya dan kemaluannya melesak masuk semua didalam mulut saya. Sampai bibir saya terbenam di kelebatan bulu bulu kemaluan sang pemuda.

"Ohh Aj.. Enakk sekalli.. Ohh.. Mulut kamu gila.. Enakk.. Dan dalamm sekali.. Aj.." sang pemuda merintih, dan aku jadi semakin panas membenamkan kemaluannya di ke dalaman tenggorokan saya. Ohh, nikmat sekali rasanya ketika kepala kemaluannya terasa berdenyut denyut di dinding dinding tenggorokan saya.

Perlahan lahan, sang pemuda menarik kemaluannya keluar dari tenggorokkan dan mulut saya. Melewati lidah, dan akhirnya kembali kepala kemaluannya menyentuh bibir saya yang merah dan basah. Wow.. Kemaluannya keras, tegang, dan mengkilat basah oleh cairan mulut saya. Gagah sekali.. Indah sekali.. Dan ohh.. Terlihat nikmat.. Nikmat sekali.. Tanpa sabar aku kembali meraih kemaluannya dengan bibir mulut saya dan sang pemuda menggeram nikmat.. Pinggulnya sekarang meliuk liuk mendesak desakkan kemaluannya ke dalam mulut saya yang lapar, dan dahaga.

Dengan tidak sabar, sang pemuda berguling dan kini posisiku dibawahnya. Kemaluannya masih menancap dalam di mulutku dan sekarang dengan posisi tubuhnya diatas dengan mudah ia menarik turunkan pinggulnya dan mendesak desakkan kemaluannya di dalam mulutku. Dan aku menikmatinya. Aku menikmatinya ketika kemaluannya dalam menyentuh dinding dinding tenggorokanku. Aku menikmatinya ketika mulut dan tenggorokanku terasa sesak, penuh oleh batang kemaluannya yang keras dan nikmat.

"Ohh Aj.. Nikmatt.. Nikmatt sekali rasanya mengentot mulutmu.. Ohh.. Kamu pintar sekali Aj.. Tenggorokanmu panas dan basahh.. Ohh.. Nikmat sekali Aj.." sang pemuda terus menyetubuhi mulutku dengan kemaluannya yang kencang dan makin keras. Gerakannya semakin cepat. Bibir ku semakin basah dan terasa tebal. Sementara cairan di dalam mulutku semakin licin memudahkannya mengeluar masukkan kemaluannya didalam mulutku.

"Ohh.. Aj.. Aku tidak tahann.. Ohh Aj.. Aku keluarr.. Keluarr Aj.. Ohh.. Ohh.. Ohh.."

Dan sang pemuda membenamkan kemaluannya sedalam dalamnya di mulutku. Hidungku susah bernafas karena bulu bulu kemaluannya menekan keras ke dalam mulut dan hidungku. Lalu aku merasakannya.. Aku merasakan bagaimana kemaluannya berkejat kejat didalam mulutku. Lalu tenggorokanku terasa panas. Dan basah.. Nikmat sekali rasanya.. Tapi tekanan yang luar biasa di tenggorokanku juga sedikit menyiksaku.. Membuat ku seolah ingin batuk.. Atau muntah.. Tidak tahu. Tapi aku menikmatinya.. Jadi aku biarkan sang pemuda menyemprotkan cairan nikmatnya didalam mulutku. Dalam.. Dalam sekali di tenggorokanku sampai aku tidak bisa merasakan rasa dari cairan kemaluannya. Karena di dalam tenggorokanku sana, sudah terlalu dalam untuk bisa mengetauhui apa rasa spermanya.. Tapi untunglah, ketika sang pemuda pada akhirnya mendesah dan menarik keluar kemaluannya dari dalam tenggorokanku melalui lidahku.. Masih ada beberapa tetes sperma tersisa diatas lidahku untuk aku nikmati rasa dan aromanya. Ohh nikmat.. Nikmatt sekali.

Lalu sang pemuda lunglai dan tertidur dengan kedua tangannya mendekapku dari belakang seperti biasa. Dan aku baru tersadar, kita melakukan itu semua didalam pos ronda!! Tapi untungnya pos ronda di kota kecil kita letaknya tinggi sekitar 3 meter diatas tanah. Jadi tidak ada orang yang bisa melihat dan ketika teman temannya berdatangan ke pos ronda, kita bisa dengan jelas mendengarnya karena mereka harus memasang tangga ke posisinya sebelum naik ke atas.

Malam itu, aku tetap tidur terlelap di dalam pelukan Ruga, pemuda gagah yang sudah menikmati nikmatnya tenggorokanku. Esok paginya, ketika aku terbangun. Ruga sang pemuda, kembali menekan nekankan kemaluannya ke pantatku dan bibirnya menggigit gigit leherku. Aku kembali terbakar dan tanganku menyelinap ke dalam celananya menikmati hangat dan kerasnya kemaluannya. Tapi karena di dalam pos ronda ada beberapa pemuda lain, kita tidak berani mengulang kejadian semalam. Tapi Ruga berani menurunkan celananya sehingga kemaluannya bebas aku genggem dan mainkan. Tangannya Ruga tidak tinggal diam. Ia mengelus elus pantatku dan pada akhirnya celanaku juga diturunkannya.

Diselipkannya kemaluannya di sela sela pahaku dan ruga meneken nekan seperti belahan pahaku adalah mulutku. Dibasahinya kemaluannya dengan ludahnya dan pahaku lama lama jadi terasa panas dan merasa aku punya lubang kenikmatan juga disana. Kadang, kemaluan keras Ruga terselip dan menyentuh lubang pantatku, dann.. Ohh.. Aku bergidik nikmat. Tapi aku belum berpikir apa itu. Sampai pada akhirnya Ruga mendesis dan pahaku basah oleh cairan spermanya. Ruga membersihkannya dengan sarungnya. Lalu berdri, turun, dan pulang. Pagi masih gelap, jadi rumahku juga pasti masih terkunci. Maka aku bergeser dan mendempetkan tubuhku ke arah Parma. Entah dia terbangun atau tidak, tapi segera pula ia memeluk tubuhku dari belakang seperti boneka. Aku tidak bisa tidur karena masih berpikir tentang apa yang telah aku lakukan dengan Ruga, sementara Parma tetap terlelap meski tangan dan kakinya melingkari tubuhku. Sampai Pagi berubah menjadi terang dan aku bangun, untuk sekolah. Beberapa pemuda di pos ronda terus tidur karena beberapa dari mereka sudah lulus SMA dan tidak punya kegiatan apa apa.

Beberapa hari setelahnya aku tidur dirumah karena sekolah banyak kegiatan. Tapi Malam minggu, aku kembali bermain bersama para pemuda. Cuma Ruga tidak ada disana. Jadi, ketika yang lainnya pergi berkeliling meronda, aku di pos jaga bersama Dada. Dia tinggal beberapa rumah dari rumahku. Dia juga sudah lulus SMA, dan yang utama, dia sudah sering mendekapku dan aku suka tubuh gagah dan rambut panjangnya. Bagiku dia berkesan seperti anak Amerika. Disaat yang lain rata rata berpenampilan normal, dada berambut panjang dan berwarna. Di lengannya dia juga bertato naga. Aku suka ada dalam pelukannya. Karena aku merasa seperti menang, menaklukan Dada yang berkesan serigala.

Beberapa hari ini pengalaman bersama Ruga terus bermain main di dalam kepalaku. Dan setelah beberapa hari aku tidak ketemu ruga dan tidak punya aktivitas apa apa, membuatku seperti sedikit gila. Maka begitu yang lainnya pergi dari pos jaga, aku segera mendekat ke Dada dan merebahkan kepalaku diatas pangkuannya. Dada tersenyum. Lalu dia menyulut rokok dan telentang. Kepalaku kini rebah di perutnya. Aku ingin sekali menyentuh kemaluannya. Tapi takut maka aku pura pura menyanyi sambil menggeleng gelengkan kepalaku yang tersandar di perut bagian bawahnya. Semakin lama aku semakin tak tahan, dan tangan Dada sudah berada di tubuhku dan mengusap usap bagian pinggang.

Aku terbakar, maka aku berbalik terlentang ke arah tangga yang berarti aku membelakanginya sementara kepalaku menghadap kemaluannya!! Tangan Dada otomatis juga sekarang tidak dibagian pinggangku tapi diatas bongkahan pantatku. Dan dada bermain main dengannya!! Maka aku semakin berani dan pipiku kini bisa merasakan kehangatan kemaluannya. Aku menyanyi dengan nada di serak serakkan, hingga hembusan hembusan nafasku terasa keras menerpa arah kemaluannya. Semakin lama, semakin terasa efeknya. Aku mulai merasa kemaluannya semakin membesar dan menegang. Dan tangan dada semakin hangat mengelus elus pantatku. Pada satu saat, aku beranikan pura pura menggigit bagian ujung kemaluannya yang menonjol jelas dari balik celananya dan dada melenguh nikmat dan tangannya mencengkeram pantatku kuat. Maka ohh.. Aku tidak sabar. Tanganku meraih kemaluannya dan mengelus elusnya. Lalu perlahan tanganku aku selipkan kebalik celana dalamnya. Aku elus elus. Ohh.. Kemaluan Dada lebih besar dari kemauan Ruga!! Aku tidak tahan dan aku keluarkan kemaluannya dan langsung aku lahap ke dalam mulutku dan dada menjerit nikmat tak percaya..

"Aj.. Ohh.. Ohh.." dada tidak lagi bersuara selain merintih setelah kemaluannya masuk dalam di kehangatan nikmat mulutku. Dan aku segera berusaha menikmati kemaluan dada dalam, sedalam dalamnya di mulutku, melewati tenggorokanku sampai.. Ohh.. Bulu bulu kemaluannya menyentuh bibirku.

Gairah ABG

Aku terdiam untuk beberapa saat lamanya dengan gagang telepon yang masih kugenggam erat, jelas belum ada ide siapa yang harus aku ajak ke undangan Dito untuk menginap di villanya pada akhir pekan nanti, sebuah villa terpencil milik ayahnya yang terletak di tepi telaga di sebuah dataran tinggi di Bali.

Dito adalah salah satu tetangga dekatku, rumahnya hanya berjarak tak lebih 50 meter dari tempat kos yang kutempati sekarang. Dito tinggal berdua di rumah besar itu bersama dengan seorang adik perempuannya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD, dan juga ada seorang pembantu dan seorang tukang kebun yang masing-masing menempati sebuah kamar di belakang rumah. Papanya adalah seorang diplomat yang sering berkeliling ke berbagai negara.

Berkenalan dengan Dito juga terjadi tanpa sengaja, ketidak sengajaan yang menguntungkan. Perkenalan kami bermula ketika pada suatu pagi aku dan Dito bertemu di depan rumah kosku. Dito ternyata sudah banyak mengenal teman-teman kosku, karena sifatnya yang supel itu. Hanya aku saja yang barangkali baru mengenalnya.

Dito sendiri waktu itu baru kelas 1 SMU, dua tahun lebih muda daripada aku. Anaknya berkulit sawo matang, matanya bulat, bulu matanya lentik, berhidung mancung, berpenampilan cool dan trendy, suka pakai celana jeans gombor dan yang pasti wajahnya cukup tampan. Tetapi kuakui, sekalipun usia Dito lebih muda dariku, entah kenapa aku merasa agak segan ketika berdekatan dengannya. Sepertinya, Dito punya karisma yang kuat di depan mata orang-orang yang berhadapan dengannya, dia tampak jauh lebih matang dari usianya ketika berbicara.

Dito suka sekali fitness, jadi wajar saja jika badannya terbentuk bagus, berotot, belum lagi lekuk-lekuk perutnya yang membuatnya makin terlihat seksi dan jantan. Baru kuketahui hobbynya itu ketika pertama kali aku berkesempatan main-main ke rumahnya pada suatu siang, sepertinya angin baik telah menuntunku di waktu yang tepat. Seperti biasa, rumah besar itu kelihatan sepi, aku pun lantas memencet bel yang terletak di balik pintu beberapa kali sampai seorang wanita usia tiga puluhan melongokkan kepalanya, wanita yang masih terlihat bahenol dengan bokong yang besar. Aku mengenalnya bernama bi Trini, pembantu Dito.

Bi Trini mempersilahkan aku duduk di ruang tamu, katanya ia akan memanggil Dito di loteng. Tetapi setelah cukup lama menunggu, Dito ternyata tidak kunjung muncul juga. Aku pun lantas nekat naik tangga ke lantai dua, kamar Dito ada disana, aku pikir dia sedang ada di kamarnya, mungkin sedang tidur. Aku membayangkan melihat Dito yang tidur terlentang dikasurnya dengan hanya bercawat (Tentang kebiasaan Dito yang satu itu, aku ketahui dari obrolan teman-teman kosku yang pernah menginap di rumah Dito), jika memang demikian, aku akan langsung naik ke kasurnya, menidurinya, tenggelam di dalam satu selimut bersamanya dan merampas keperjakaannya saat itu juga. Selama ini aku sudah banyak beronani dan berfantasi tentang dia, aku tidak sabar ingin cepat-cepat mengocok kontolnya yang sudah pasti besar itu. Aku perkirakan lebih dari 16 cm. Tetapi ketika aku menengok ke dalam kamar pribadinya lewat pintu yang terbuka itu, Dito tak ada di dalam.

Jika sedang tidak di kamarnya, kemungkinan besar Dito berada di ruang fitnes. Benar saja, waktu itu Dito memang sedang fitness di ruangan khusus di seberang kamarnya. Di dalam ruangan yang berukuran sekitar 5 x 6 meter itu, tidak kurang ada enam macam alat fitnes yang aku lihat. Aku sih nggak begitu yakin dengan jumlah alat-alat fitnes itu, karena yang jadi pusat perhatianku waktu itu hanya sesosok badan yang tengah telentang di atas barbel set hanya dengan kaos dalam ketat warna merah dan celana hitam yang kelewat minim. Bahkan karena saking minimnya celananya itu, CD yang dipakai Dito kelihatan dari kedua celah celananya dengan paha putih mulus di sekelilingnya. Kakinya tidak begitu berbulu.

Seputar celana itulah yang menjadi pusat perhatianku kala itu, sungguh tak dapat kubayangkan betapa nikmatnya seandainya jari-jemariku kususupkan melewati celah-celah celana kolor itu dan kemudian meremas-remas kemaluan Dito, untuk kemudian membangkitkan syahwatnya menuju puncak kenikmatan. Kontol Dito memang sedang tidur, tetapi hati siapa yang tak akan tergetar ketika melihat tonjolan besar yang padat di balik celana seksinya itu, atau tidak lantas bangkit gairah seksnya untuk mengulum dan melumat serta menikmatinya. Terkecuali mereka yang frigid tentunya.

"Loh, Mas Ferry. Sudah lama datangnya?" sapa Dito begitu melihatku ada di dalam ruangan itu.
Fantasiku seketika buyar karenanya. Sehabis itu, Dito bangkit dari barbel set-nya lalu mengalungkan handuk kecil di lehernya. Dito mengelapi seluruh bagian atas badannya dengan handuk itu, aroma keringatnya yang dekat sekali dengan penciumanku, membuatku makin terangsang, tubuh Dito wangi, seperti bau minyak zaitun murni. Yang jelas Dito tidak mungkin memakai parfum murahan, ia punya uang lebih dari cukup untuk membeli parfum sekelas Guess atau CK atau bahkan yang jauh lebih mahal dari itu. Dito melepaskan kaos yang dipakainya, memamerkan dadanya dan perutnya yang berisi itu tepat di depan mataku, seluruh badannya basah dengan keringat, mulai dari ujung rambut panjangnya yang hitam mengkilat sampai ke betisnya yang padat.

Dito mempersilahkan aku duduk di salah satu alat yang ada dalam ruangan itu, ia sendiri lantas duduk di atas barbel setnya, setelah memandang berkeliling untuk mencari tempat duduk yang nyaman, akhirnya ku pikir kenapa tidak duduk di samping Dito saja. Menurutku, justru tempat itulah yang paling menyenangkan dari sekian banyak tempat di ruangan itu apalagi tempat itu hanya memadai jika kami merapatkan badan satu sama lain. Aku pun lantas duduk di samping Dito.

Setelah duduk disebelahnya, aku kemudian merampas handuk Dito dengan tangan kananku, sementara itu tangan kiriku mendekap punggungnya, Dito pikir aku mengajaknya bercanda. Ia mencoba merebut handuknya kembali, tapi tidak dapat, kemudian mukanya ia jatuhkan tepat di atas kontolku, ia tertawa sebentar kemudian tak lama tawanya itu berhenti, Dito tertegun untuk beberapa saat lamanya di bawah sana. Aku tak begitu mempedulikannya, semoga saja ia kagum dengan "barang" kesayanganku yang baru diciumnya itu.

Sementara itu handuk yang kupegang, aku usapkan ke seluruh badannya, mengelap seluruh keringat yang membasahi tubuhnya itu, perlahan Dito mengangkat lagi kepalanya. Dito makin memanjakan dirinya, membiarkan aku mengelap seluruh badannya, tak apalah sesekali berlaku seperti seorang pembantu asalkan bisa memperoleh apa yang disebut sebagai kenikmatan itu. Sungguh, aku benar-benar terlena menikmatinya meskipun sikap Dito masih tampak begitu dingin saat itu, padahal aku sudah mencoba memberi rangsangan sentuhan ke bagian-bagian sensitif di seputar leher dan dadanya dengan usapan handuk, bahkan semua ilmu pamungkasku dalam bidang usap-mengusap sudah aku keluarkan saat itu.

Setelah cukup lama tertegun, Dito mengangkat kepalanya kembali. Tiba-tiba matanya menatap aneh ke arahku, mungkin saja ia telah terhipnotis oleh kontolku, jadi kupikir tak apalah jika usapanku tak berhasil.

"Mas Ferry nggak pakai CD yah, burungnya lagi berdiri tuh!" bisik Dito di dekat telingaku dan kemudian secara spontan, tangan Dito langsung menjamah dan meremas-remas kontolku, memijit-mijitnya dengan pijatan seks.
Aku memang sedang tidak pakai CD waktu itu, aku terkadang memang tidak memakainya, khususnya jika sedang di berada di rumah atau memakai celana karet gombor seperti yang kupakai saat itu. Kontolku makin tegak saja dengan keperkasaan penuh seperti rudal yang siap meluncur, aku bersyukur karena aku tidak impoten dan dikaruniai kontol yang seksi dan besar yang membuat orang yang memegangnya tidak akan bisa membedakan antara kontol dengan terong bangkok. Aku lantas menurunkan handuk yang kupegang perlahan, Aku merasakan sensasi nikmat yang luar biasa, dengan birahi yang membara.

Aku menggeliat dan mendesah, menggigit-gigit bibir bawahku. Merasakan nikmat tiada tara dengan aksi tangan Dito yang makin liar meremas-remas kemaluanku itu. Aku pun makin mendekatkan kepalanya ke atas dadaku, mengacak-acak rambutnya yang lurus terion itu. Aku mendekati telinganya dan membisikkan kepadanya, apa yang aku inginkan ia perbuat selanjutnya, layaknya seorang guru yang mengajar anak didiknya. Karena saat itu Dito tampak masih canggung untuk memelorotkan celanaku dan melihat secara langsung batang kejantananku.

"Hisap dong Dit!" permintaan itu seketika keluar dari mulutku, terdorong oleh nafsu membara yang ada di dadaku saat itu, aku sungguh tak lagi merasa segan pada remaja belasan tahun itu.

Saat itu, aku ibarat sebuah tanggul yang rapuh, yang segera akan patah terbawa aliran badai nafsu. Dito pun beranjak dari tempat duduknya, ia berjongkok di antara kedua selangkanganku, kemudian dibukanya simpul tali celanaku, merenggangkannya, lalu menariknya dengan cepat, saat itu juga kontolku langsung melesak keluar dengan keperkasaannya.

Tanpa babibu lagi, Dito mendaratkan serangan bibirnya yang pertama ke kontolku yang panjangnya 17 cm itu, langsung menghisapnya dengan liar, menyedotnya seperti ketika menikmati orange juice, sesekali ia melepaskan hisapannya, dan menjilati kontolku dengan penuh birahi, birahi seorang remaja 15 tahunan yang baru sekali itu menikmatinya. Dito ingin menanggalkan celanaku seluruhnya, Aku pun menurut saja, membiarkannya bermain dengan sensasinya sendiri.

Aku mengangkat pantatku, mengangkang di depan mukanya, sehingga Dito lebih mudah melepaskan celanaku. Sesudah Dito melepaskan semua celanaku, ia kembali memainkan kontolku, mengocok dan mengulumnya secara bergantian.

"Argh! Terus Dit!" erangku keenakan.
Dito makin mempercepat tempo permainannya, ia bertambah buas saja dan tidak terkendalikan lagi, Dito menghisap kuat kontolku dan kemudian memompanya naik turun keluar masuk mulutnya, untung saja giginya tidak terlalu besar, kalau tidak, pasti kulit kontolku lecet semua bergesekan dengan giginya atau bahkan bisa saja terluka. Ternyata Dito sangat ahli dalam perkara hisap menghisap kontol, langsung jago tanpa perlu diajari.

Aku membungkukkan badanku di atas punggung Dito yang sedang menelungkup di atas seputar kemaluanku, lalu kuciumi seluruh kepala bagian belakangnya, menyibakkan rambutnya dan mengecup ubun-ubunnya, kemudian perlahan turun ke leher, dan ke punggungnya, yang membuat Dito mengerang-erang dengan desahan yang persis aku lihat di blue film. Semula aku pikir Dito terlalu berlebihan kalau meniru film, tapi tak apalah, desahan Dito malah membantu mempertahankan libidoku di puncak yang stabil.

Di tengah-tengah permainan yang seru itu, tiba-tiba spermaku muncrat, menyembur di muka Dito. Aku bermaksud mengelapnya, tetapi Dito malah meraih tanganku, mencengkeramnya erat dan ia malah menjilati dan menghisap jari jemari tanganku, sebelum ia membersihkan spermaku dengan lidahnya.

Sesudah itu, aku mengambil alih kendali, kesabaranku sudah habis untuk melihat seberapa besar dan seksinya kemaluan Dito dan bagaimana menikmatinya lewat sedotan mautku. Aku lantas merebahkan badan Dito yang bongsor di atas barbel set, membiarkannya terlentang di hadapanku seperti yang aku lihat tadi, tentu saja kini Dito tampak lebih seksi dengan hanya memakai celana pendek yang super minim sebagai penutup tubuhnya.

Dito memejamkan matanya, sementara itu kontolnya makin mengembang dan memenuhi celananya yang super ketat itu, sehingga seakan-akan celana itu tidak lagi muat untuk menampungnya. Aku iba melihat kontol Dito yang terjepit di dalam celananya itu, aku rasa sungguh alangkah baiknya jika kulepaskan saja ia dari dalam sangkarnya.

Aku pun langsung menindih badan gempal Dito di atas barbel set itu,
dan mulai menyerangnya dengan ciuman-ciuman mautku ke setiap lekuk tubuhnya sambil tanganku menggerayanginya di sela-sela badan kami yang saling menindih, menjelajah sampai menemukan barang yang aku cari yaitu kontol Dito, kemudian kumasukkan tanganku ke balik celana sport-nya, juga ke balik CD-nya yang terasa licin itu.

Busyet, ketika aku menjamahnya, aku merasa seperti sedang memegang pentungan Pak satpam, It is very big size! Aku gesek-gesekkan tanganku ke kontol Dito yang besar dan super seksi itu, lagi-lagi aku beruntung bisa meremas batang kejantanan cowok seganteng Dito. Sesudah itu kuangkat sedikit pantatnya ke atas, dengan posisi tetap menindih tubuhnya, lantas aku pelorotin celana Dito dan sampai ke CD-nya sekalian. Hitung-hitung, biar tidak perlu kerja dua kali. Kemudian aku daratkan ciuman-ciuman pipinya dan seluruh mukanya yang bersih dan imut itu sambil sesekali mengecup lehernya, kedua puting susunya secara bergantian, perutnya, sekeliling pusarnya, dan wouw..batang Dito pas di depan mataku sekarang. Ternyata ukurannya lebih besar dari yang aku duga, sekitar 16 cm/3 cm.

Aku menelan air liurku begitu memandangnya, Aku pun langsung menghampirinya dengan bibirku, membiarkan batang kejantanan Dito itu tenggelam di dalam kulumanku untuk beberapa lama, dengan sensasi hisapan yang liar, sesekali aku menjilat ujung penisnya yang coklat mengkilat itu, menjilatnya sampai ke lubang kencingnya.

"Argh! jangan disana mas, perih!" seru Dito sambil kemudian menggigit bibir bawahnya begitu lidahku menjilat-jilat di sekitar lubang kontolnya itu.
Cukup lama juga aku memainkan kontol Dito, dan ia pun makin menggelinjang keenakan sampai-sampai barbel set yang dijadikan alas rebahannya hampir saja roboh, sekalipun bobotnya berat. Aku pun kemudian berdiri, kutarik lengan Dito dan dan mengajaknya meneruskan di floor. Aku membaringkan tubuh Dito yang berkeringat itu di atas karpet merah, aku tindih lagi, Tetapi Dito lebih cepat menyerangku dengan ciuman-ciumannya yang makin mengganas ke bibirku yang sama sensualnya dengan bibirnya.

Kami bergumul di lantai sekian lama, berganti-ganti posisi, kadang aku di atas, kadang Dito yang di atas, menindih tubuhku dengan tubuhnya yang agak berat. Hampir sejaman kami bergumul di atas lantai dan saling mencumbu, dan selama itu Dito cukup perkasa bisa menahan spermanya supaya tidak keluar, barulah saat di detik-detik terakhir ia mengeluarkan lahan putihnya, empat semprotan sekali muncrat, kental dan nikmat. Padahal, selama itu aku sudah ejakulasi sebanyak tiga kali. Aku menjilat habis sperma yang tumpah ruah di atas perut Dito itu, aku tidak mau menyia-nyiakannya, jika harus menunggu muncratan yang kedua, paling tidak aku harus menunggu sekitar sejaman lagi.

"Ah, nikmatnya!" gumamku begitu melakukan jilatan terakhir sperma Dito. Bahkan yang masih menempel di ujung kontolnya pun, tak tersisa juga oleh jilatanku. Dito pun seketika itu juga langsung lemas, kontolnya terkulai kelelahan. Dito masih saja telentang di bawah badanku, nafasnya tersengal-sengal dan jantungnya berdegup kencang.

Kemudian aku memutar posisi menjadi posisi 69. Ku hisap lagi kontol Dito sambil sesekali diselingi kocokan, pokoknya semua cara yang bisa aku lakukan agar kontol Dito tegak lagi. Sementara itu, Dito yang masih aku tindih juga melakukan hal yang sama, setelah rasa capainya berangsur-angsur pulih. Dito menjilati kontolku yang menggantung tepat di atas bibirnya, sesekali Dito mengangkat sedikit kepalanya untuk meraih dan menjilat buah pelirku juga sambil tangannya berpegangan pada punggung atau pahaku. Kami berdua sudah sama-sama basah dengan keringat bercampur sperma, paha Dito yang licin dengan keringat malah menambah gairah seksualku, belum lagi ujung-ujung jembutnya yang basah seperti ketetesan embun itu. Aku menjilatinya dan sesekali kuhisap selangkangan Dito dari keringatnya yang berasa asin dan horny itu.

Kuciumi kedua belahan selangkangannya yang membuat Dito kegelian dan menggelinjang, berputar-putar menggeser badannya di atas karpet. Kemudian dia berhenti berputar, mengangkat kepalanya, dan, "Aouw!" tiba-tiba saja Dito melumat kontolku dengan agak kuat di bawah sana, Aku pun menjerit dengan sedikit tertahan. Bukan karena kesakitan, tetapi karena Dito begitu mendadak melakukannya, ia meneruskannya dengan mengulum buah pelirku. Setelah itu, kontolku diempotnya naik turun, dijilatnya seperti es krim vanila.

Setelah puas dengan gaya 69, aku pun terlentang di atas karpet di samping Dito, mencoba mengatur nafasku kembali. Dito sempat mengecupku berulang kali di seputar wajahku sambil tangannya meremas-remas kontolku membuatnya berdiri lagi. Kemudian, Dito memandang dalam-dalam ke arahku dan tersenyum.
"Enak ya, mas! Dito suka, coba tahu dari dulu!" kata Dito dengan lugunya. Aku hanya nyengir mendengarnya.
"Kamu bisa main seks di umur 15 tahun aja, itu sudah hebat. Seharusnya, untukmu itu masih terlalu dini!" kataku dalam hati.

Mulai hari itu Dito dan aku sering menikmatinya bersama, bukan untuk sebuah komitmen. Tetapi hanya untuk kesenangan belaka, untuk melepaskan gairah masa muda!

*****

Jika anda termasuk remaja yang cute dengan libido tinggi dan belum cukup puas dengan cerita di atas, please contact my email. I'll give you more, boys. Atensi kalian aku tunggu dan jangan lupa sertakan identitas diri kalian supaya aku balas. Thanks a lot.

kotaro_bee@yahoo.com

Fitness Centre 02

Budi setelah memarkir sedannya di garasi lalu menarik lenganku ke ruangan tengah dan langsung menciumiku. Aku yang belum terbiasa melakukannya di tempat terbuka agak kaget juga.
"Bud.., Bud, sabar.., ntar ketahuan orang lho..", ujarku.
Budi cuma tersenyum dan bilang, "Her.., ini rumah gue sendiri, dan gue cuman tinggal sendiri di sini.., nggak ada orang lain selain pembantu doang". Sambil mulai membuka bajuku. Budi menciumi leherku dengan nafsu yang membara. Lidahnya yang licin dan lincah itu menari-nari di seputar leher dan telingaku. Membuatku langsung terangsang dan tanpa sadar aku merintih, "Ahh.., hh.., ss.., Bud.., yes.., nikmat Bud", tangankupun tak mau kalah dengan membuka kancing demi kancing kemeja Budi. Kami telah bertelanjang dada, aku mulai menciumi leher Budi juga. Budi kelihatannya memberiku kesempatan untuk menjelajahi badannya yang sempurna itu.

Aku angkat badan Budi dan kubopong ke ruangan kamar tidur yang tak jauh dari ruang tengah itu. Kutidurkan Budi perlahan-lahan di atas spring bed. Lalu kututup pintu kamar dan kuredupkan lampu kamarnya. Aku mulai membuka sepatu dan celana jeansku. Budi memperhatikan gerakanku ini dan juga ikut membuka sepatu dan celananya. Saat aku mau membuka celana dalamku, Budi menarik tubuhku dan menindihnya. Rupanya Budi telah telanjang bulat dan penisnya telah begitu keras menekan perutku. Budi memandangiku", Herry, gue sukai loe saat pertama gue masuk gym itu!", katanya dengan lembut.

Tangannya dengan lembut membelai rambutku dan mengusap wajahku sambil masih menindih tubuhku. Baru ini aku tertegun, Budi yang selama beberapa menit yang lalu begitu kasar dan nafsu, kini begitu lembut. Budi lalu menundukkan kepalanya dan mendekatkan mulutnya ke mulutku. Sentuhan bibirnya yang basah membuatku otomatis membuka dan meyambut dengan ciuman. Lidahnya mulai menjelajah mulutku dan akupun tak mau ketinggalan. Kami berciuman dengan mesranya dan tanganku mengusap dan meraba punggung Budi.

Ciuman mesra berubah menjadi nafsu yang membara, dengan merenggut rambutku, Budi menciumi wajahku dan leherku penuh nafsu. Jilatan lidahnya begitu maut, membuatku seakan berada di awan.., melayang. Hembusan nafasnya yang panas di telingaku membuat buluku berdiri.., merasakan nikmat yang sangat. Tangan Budi yang lain dengan nafsunya meremas-remas paha dan buah pantatku sambil tetap menekan nekankan penis tegangnya ke penisku yang juga telah mencapai ketegangan yang sangat keras sekali.

Budi dan aku merintih kenikmatan. Hampir semua bagian wajah dan leherku telah dijelajahi oleh ujung lidahnya yang basah itu, menimbulkan suara-suara yang merangsang.
"Ohh Bud.., nikmat Bud.., teruskan yeeaahh.., hh.., Bud.., teruskan Bud..", rintihku.
"Ohh ok Her.., gue bikin eloe nikmat ntar.., sabar.., hh.., yess.., oohh", rintih Budi sambil terus menjilati leherku. Budi makin bernafsu mendengar rintihanku.

Kini jilatan Budi telah mulai merambah dadaku.. Puting kiriku telah dikulumnya dan yang kanan diremas-remasnya dengan lembut. Jilatan lidah Budi membuatku menggerinjal tak karuan.., rasa geli dan nikmat menjadi satu. Goyangan pantat Budi yang makin keras membuatku tambah terangsang. Budi lalu menjilati dadaku dengan lidah yang basah Budi mulai menaik-turunkan wajahnya dengan lidah menyentuh dadaku ke arah lenganku. Seluruh dada dan ketiakku yang berbulu dijilati Budi dengan nafsunya.
"Her.., ahh ketiak loe baunya merangsang sekali.., gue suka.., aa.., hh.., hmm.." ujar Budi sambil terus menjilati ketiakku sebelah kiri. Tak puas dengan sebelah kiri, bagian kananpun tak luput dari rambahan lidahnya itu. Aku benar-benar tak sangup bernafas dengan sempurna saat itu. Budi begitu berpengalaman melakukan "foreplay".

Jilatan Budi kini mulai menjajah puting kananku. Dengan sedikit mengigit putingku yang sudah mengeras itu, Budi semakin memompa nafsuku ke tingkat yang di luar kemampuanku. Jilatan demi jilatan telah membuat seluruh sarafku tak befungsi dengan semestinya. Aku cuman pasrah saja. Budi mulai menurunkan kepalanya di areal perutku yang keras itu. Jilatan lidahnya membuatku menggeliat-geliat tak karuan. Hal ini membuat Budi semakin bernafsu dan menggelitik enam kotak di perutku itu. Rupanya Budi sangat terangsang dengan bentuk perutku yang rata, padat dan keras membentuk 6 kotak itu. Kadang-kadang Budi menggigiti perutku dengan lembutnya.

Setelah selesai bermain dengan perutku, Budi mulai menciumi tonjolan di celana dalamku yang belum sempat kubuka. Gesekan lidah budi dengan kain celana dalam telah menimbulkan gesekan pula pada permukaan penisku. Rasa nikmat menjalari dari ujung sampai ke pangkalnya yang ditumbuhi rambut lebat. Budi lalu menjilati selangkanganku pula dengan jilatan-jilatan mautnya yang membuatku meracau tak karuan lagi.
"Ohh Budd.., teruskaan.., sayy.., teruss.., enakk.., ohh.., hh..", rintihku meminta Budi untuk terus melakukan jilatannya.
Budi mulai pula menciumi pahaku. Ciuman disertai sedotan yang menimbulkan rasa geli plus nikmat itu dia lalukan mulai dari selangkanganku mengarah ke bawah. Aku semakin tidak bisa berpikir apa-apa hanya kenikmatan yang aku pikirkan saat itu.

Budi benar-benar ahlinya merangsang orang pikirku. Begitu beruntungnya cowok yang menjadi pacarnya, Budi yang bagitu tampan dan macho bertubuh atletis dan berbulu serta pintar dalam bermain seks. Siapapun tak akan menolak untuk menjadi cowoknya. Budi bahkan mengulum pergelangan jari kakiku ke mulutnya dan memainkan tiap jariku dengan lidahnya.
"Ahh.., oohh" rintihku.

Budi lalu menaikkan lagi wajahnya mendekati penisku. Dengan giginya ditariknya celana dalamku dan dalam tempo singkat, akupun sudah tak ubahnya bayi baru dilahirkan, telanjang bulat telentang pasrah. Budi tersenyum melihatku dalam posisi seperti sekarang. Aku memejamkan mataku dan pasrah akan tindakan Budi selanjutnya. Budi rupanya mengerti reaksi ini.

Budi mengambil guling dan meletakkan di bawah pantatku sehingga posisi pantatku sedikit lebih tinggi dari badanku. Lalu tanpa membuang sedikit waktu, Budi mulai menjilati ujung penisku yang mulai mengkilat oleh liurnya. Rasa nikmat benar-benar telah memenuhi benak dan otakku saat itu. Budi mengulum penisku dengan nikmatnya. Budi dengan perlahan namu pasti mulai memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya sedikit demi sedikit penisku tenggelam ke dalam kerongkongannya. Semua batang kotolnya sepanjang 7 inch telah terbenam dalam mulutnya. Budi lalu mengeluarkannya lagi dan memasukkan perlahan lagi, makin lama makin cepat dan makin banyak liurnya yang menetes.
"Ahh.., oohh.., hh.., Budii.., aku tak kuat lagi Bud", Budi lalu menurunkan aktivitasnya. dan melepas penisku. Budi melihat adanya air semen (precum) yang keluar dari lubang pada ujung penisku. Dengan tersenyum dijilatnya cairan itu.
"Herr.., ouuhh nikmat banget rasanya." Lalu Budi mulai mengulum penisku lagi. Akupun mulai menggoyang goyangkan pantatku ke atas dan ke bawah untuk mengimbangi gerakan naik turun mulut Budi.

Aku lalu berusaha juga memegang penis Budi. Mengocoknya pelan-pelan. Budi yang menyadari itu lalu mengarahkan penisnya ke wajahku. Tanpa tunggu komando, semua batang penis 7,5 inch kutelan dan kubiarkan di dalam mulut tembus kerongkonganku sambil kumain mainkan lidahku. Budi giliran merintih, "Ahh.., ohh.., oughh.., Herr.., loe pinter juga tuh.., teruskan.., kulum terus Herr.., yes.., gituu.., ahh", rintih Budi memelas. Budi mulai menusuk-nusukan penisnya yang indah penuh dengan otot-otot itu keluar masuk mulutku. Posisi 69 ini berlangsung sekitar 15 menit dan Budi tiba-tiba menarik penisnya dari mulutku dan juga melepas penisku dari mulutnya.

Budi lalu menyuruhku membalikkan badanku. Dengan pantat yang masih menindih guling, posisi pantatku nungging ke atas. Rupanya Budi memang menginginkan hal ini. Dengan mesranya Budi mulai menciumi punggungku dengan jilatan dan ciuman mautnya. Mulutnya menurun terus sampai ke kedua bongkahan pantatku. Budi menggigiti pantatku dengan gemasnya, dan tangannya berusaha menyentuh lubang pantatku yang nungging itu. Jilatan Budi tiba-tiba saja menyentuh lubang pantatku.
"Auuhh.., Buddii.., apa yang kau lakukan say? Enak banget!", teriakku. Budi tak menghiraukan jeritanku ini. Dengan rakusnya lubang pantatku kini jadi sasaran lidahnya. Gerakan lidah naik turun di pantatku benar-benar membuat mani di dalam penisku mendesak minta keluar. Aku tak kuat lagi, Budi dengan lincahnya masih menjilati lubang pantatku itu.
"Budd.., aku mo muncrat nih.." teriakku.

Budi lalu berhenti. Memandangku dengan nafas tersengal-sengal kseperti abis lari 100 meter.
"Ok say.., kita mulai permainan kita ini." ujarnya sambil turun dari tempat tidur menuju ke laci di samping. Budi lalu mengeluarkan semacam pasta atau jelly dan kembali mendekatiku.

Aku mengerti bahwa Budi akan melakukan penetrasi ke dalam pantatku. Aku diam saja dan pasrah untuk di "fuck" oleh cowok setampan dan sekekar Budi. Budi mengeluarkan jelly dari tempatnya dan mengolesnya ke seluruh batang dan kepala penisnya yang sudah benar-benar tegak dan keras sekali itu. Lalu dia mendekatiku dan menindihku dengan mesranya.
"Her.., gue nafsu banget nih.., gue masukin loe boleh khan?" pinta Budi dengan lembutnya. Aku cuman mengangguk saja tak kuat untuk bersuara saking nikmatnya permainan pendahuluan yang dilakukan Budi.

Budi mulai menciumiku lagi dan kini lebih cepat mengarah ke penisku. Dengan tetap mengulum penis dan buah pelerku, Budi mulai mengusapkan jelly ke sekitar lubang pantatku yang memang menunggu ditusuk oleh kejantanannya. Belaian tangan dengan jelly di pantatku menimbulkkan rasa nikmat yang tiada tara bagiku, aku memejamkan mataku dan merintih meminta Budi segera menusukku. Tapi Budi lebih memilih untuk membuatku relax dahulu dengan tetap membelai buah pelerku dan menjilati penisku. Tiba-tiba saja satu ujung jarinya mulai menusuk ke lubangku dengan amat lembut dia memasukkan jarinya yang telah dilumuri jelly ke lubang pantatku. Rasanya benar-benar nikmat sekali. Budipun dengan bersemangat mulai mengeluar masukkan jarinya ke dalam pantatku.

Setelah beberapa detik, Budi mulai menambah jarinya sehingga kini 2 jari yang ditusukkan ke pantatku. Dengan masih menciumi dan menjilati buah pelirku, Budi mulai melakukan aksi tusukannya. Sampai akhirnya kulihat Budi sudah tidak tahan lagi. Dia mencabut jarinya dan mulai menindih tubuhku. Dengan ciuman mesranya Budi mulai menuntun penisnya yang berdenyut-denyut dan mengkilat itu ke arah pantatku. Kubantu dengan mengarahkan ke lubanganya.

Begitu ujung penisnya menyentuh lubang pantatku, aku mengangguk ke arah Budi.
"Bud.., udah.., pelan-pelan ya.." pintaku. Budi mengangguk dan mulai menggerakkan pantatnya ke arahku. penis yang begitu besar dan mengkilat oleh jelly itu mulai menyentuh pantatku dan dengan hebatnya menerobos pertahanan di ujung lubangku. Masuk dengan indahnya meluncur perlahan meninggalkan gesekan-gesekan nikmat di seluruh dinding pantatku. Budi merintih kenikmatan saat separuh penisnya telah terbenam di dalam hangatnya pantatku.
"Ohh.., Her.., nikmat banget pantat loe.., yeahh.., yess.., oohh". Budi terus menusuk pantatku dengan gagahnya. Saat semua penisnya terbenam di pantatku, Budi melenguh keras, "yess.., nikmatt Herryy.., sayangkuu".

Budi terdiam sesaat merasakan nikmatnya kehangatan pantatku. Lalu di mulai menggerakkan pantatnya yang indah itu keluar masuk lubang pantatku. Besarnya penis Budi membuat lubang pantatku benar-benar seret dan menimbulkan bunyi yang merangsang. Budi makin mempercepat gerakannya. Akupun tak tinggal diam dengan ikutan ngocok penisku yang sudah dari tadi kepingin memuncratkan mani. Budi menggerakkan pantatnya dengan indahnya, meliuk-liuk dan kadang-kadang melakukan sentakan-sentakan nikmat yang memacuku untuk mencapai puncak kenikmatan.

Budi rupanya juga kepengin merasakan keperkasaan penisku. Budi lalu mencabut penisnya dari lubang pantatku dan melumuri penisku dengan jelly dan juga lubang pantatnya. Budi lalu mengambil posisi nungging dan menyuruhku untuk memasukkan penisku ke dalam pantatnya. Dengan posisi yang nungging, penisku begitu mudah masuk dan langsung menghunjam sampai seluruhnya terbenam masuk dan menikmati kehangatan lubang pantat Budi. Aku lalu mulai menggoyangkan pantatku keluar masuk dengan lincah.
"Ahh Budd.., nikmat banget pantat kamu ini.., nikmat sekali", rintihku. Budi juga mengimbangi goyanganku dengan goyangannya yang tak kalah menimbulkan nikmat juga. Sambil ngocok penisnya Budi merintih-rintih. Aku semakin mempercepat gerakannya dan Budipun juga.
"Herr.., gue pengin keluar di pantat loe.., boleh?" tanya Budi tiba-tiba. Aku setuju dan mencabut penisku segera. Budipun mengambil alih dengan memasukkan lagi penisnya ke pantatku. Gesekan yang nikmat melandaku lagi. Budi lalu dengan cepatnya merojok pantatku dan kulihat dia mulai meracau.

Aku merasakan bahwa Budi sudah mendekati puncak karena gerakannya semaik cepat dan denyutan penis di pantatku makin cepat.
"Bud.., kita keluar bareng ya..", pintaku.
"Ok Herr.., kita muncratkan bareng", ujarnya diantara nafasnya yang tersengal-sengal oleh nafsu membara. Budi mengangkat pahaku dan sedikit mengangkat pantatku naik ke atas dengan tusukan yang semakin menggila cepatnya. Akupun merasakan bahwa maniku sudah mulai mendesak desak mau keluar.
"Bud aku mau keluar nih.., kamu gimana?", tanyaku.
"Herr.., aku juga mau keluar nih.., cepetan kita keluarin bareng" balas Budi.
Budi tiba-tiba melenguh keras sekali dan menghentak hentakkan pantatnya ke lubangku dengan kerasnya, akupun mengocok dengan cepatnya. Saat itu maniku meluncur dengan cepatnya di dalam batang penisku, "Budd.. akuu keluarr" jeritku.
"Her.., gue juga.., aahh", teriak Budi. Dengan hentakan terakhir yang sangat keras, Budi menembakkan mani banyak sekali di dalam lubang pantatku dan akupun memuncratkan mani di atas perutku dan sebagian muncrat ke dada dan wajahku.
"Ahh.., yes.., nikmat sekalii", hampir berbarengan aku dan Budi mengucapkan kata itu. Budi masih sempat memberikan beberapa kali gerakan tusukan sebelum akhirnya lemas lunglai di atas tubuhku. Maniku yang tersebar di atas perut dan dadaku kini mencampur dengan keringat di dadanya. Budi menciumku dengan mesranya.
"Her, thanks ya". Akupun mengangguk.

Setelah beberapa menit kami terdiam, akhirnya Budi mengajakku untuk mandi bareng di kamar mandi yang ada di dalam kamar itu juga. Sambil berpelukan kami masuk ke kamar mandi dan mandi bareng. Kita saling menggosokin badan masing-masing dan berpelukan.
Setelah selesai mandi dan mengenakan baju, Budi tiba-tiba saja memelukku dan membisikan kata-kata yang memang menjadi angan-anganku, "Her, gue minta eloe jadi cowok gue, mau ya". Dengan wajah meminta dan memang akupun kepengin mengucapkan kata-kata itu, aku menganggukan kepala mengiyakannya. Budi langsung tertawa dan menciumiku lagi dan memelukku serasa mau meremukkan. Malam aku menginap di rumah Budi.
Maka sejak saat itulah aku dan Budi selalu fitness bareng, mandi bareng dan jalan kemanapun bareng.., sampe sekarang!

Fitness Centre 01

Tidakkah kau lihat cowok model keren pada halaman 10 di majalah Fitness ini? Yah, yang sedang memakai celana renang bikini ketat itu. Aku mengenalnya sangat baik sampai sekarang.., sebentar, aku punya fotonya di dompetku.

Benar.., inilah dia sang model itu sedang bersamaku di bath tub di suatu hotel di Bandung, kurang lebih dua bulan yang lalu. Akan kuceritakan pertemuanku dengannya".

Saat itu umurku baru mendekati 25 tahun dan aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa pada umur-umur ini aku harus membentuk badanku, baik lewat olahraga seperti tenis ataupun fitness. Aku memiliki tinggi badan 178cm dan berat 67kg, yang sebenarnya cukup proporsional buat seorang cowok. Teman-temanku bilang badanku sudah bagus dan atletis berkat aerobik yang kulakukan tiap pagi sebelum berangkat kerja. Tapi aku kepingin memiliki badan yang lebih atletis dan berotot seperti yang aku lihat di majalah-majalah fitness. Sehingga pada pagi hari itu, yang kebetulan hari Sabtu, aku memutuskan untuk pergi ke fitness center dekat rumahku di daerah Sukajadi, Bandung.

Setelah mengisi formulir dan membayar uang pendaftaran dan iuran bulan pertama, aku langsung mencoba alat-alat fitness yang ada di gym "LA" tersebut. Dengan bantuan instruktur fitness yang baik, aku dengan cepat bisa mempergunakan semua alat yang ada.

Setelah 2 bulan angkat beban dan menjaga latihan teratur seperti instruksi pelatih, aku mulai mendapatkan apa yang kuinginkan, perutku mulai menunjukkan lekukan-lekukan bentuk segiempat yang makin hari makin nampak keras. Bicep dan tricep pun mulai nampak dan bagian-bagian tubuh lainnya menunjukkan keindahan tubuhku. Saat berada di cafepun, banyak cewek maupun cowok yang mengagumi lekukan-lekukan tubuhku dibalik koas ketat yang kupakai, selain wajahku yang memang cakep. Aku semakin rajin pergi ke gym.

Saat aku mulai memasuki bulan ke 3 latihanku di gym LA, aku melihat seorang cowok baru yang juga berlatih. Dia kira-kira seumurku dan tingginya sama denganku. Melihat bentuk tubuhnya dibalik kaosnya, bisa membuat cewek maupun cowok tertegun mengaguminya. Dia sama sekali bukan orang baru di dunia fitness. Dia selalu melepas kaos ketatnya apabila selesai latihan. Melihat tubuhnya yang sangat atletis itu akupun tiba-tiba juga mengaguminya. Dia memiliki rambut hitam kelam yang sepanjang bahu dan selalu diikat saat latihan. Dia juga memiliki bulu-bulu halus di seputar dada dan pusarnya yang menerus ke bagian bawahnya, yang pasti bertambah lebat dan hitam. Lengan dan pahanya yang aduhai bagus dan padat selalu terus mengganggu latihanku. Apalagi dengan celana fitness yang ketat menambah latihanku jadi terganggu. Kepingin rasanya aku memeluknya dan meraba semua permukaan tubuhnya, sedikitnya berusaha menarik perhatiannya. Tapi aku takut dia orang yang straight.

Makanya cita-cita terpendam ini aku diamkan terus.
Nampaknya hari itu merupakan pertanda adanya sesuatu yang lebih serius akan terjadi. Setelah seminggu, aku memperhatikannya, dia tampaknya memiliki jadwal latihan yang sama denganku. Dia selalu di belakangku saat latihan karena selalu memakai alat fitness setelah aku selesai menggunakannya dan pindah ke alat lain. Hari itu adalah hari Jumat malam pukul 8 lewat 50 menit, saat aku selesai fitness dia tiba-tiba saja tersenyum ke arahku yang langsung aku balas dengan senyumku yang memang telah aku tunggu-tunggu. Dia mulai mengajak ngobrol.
"Kita kelihatannya sama, tahu nggak, mungkin kita bisa menjadi temen fitness", dia ucapkan saat dia menduduki weight bench yang baru saja aku tinggalkan dan menidurkan punggungnya pada alat itu, dengan posisi telentang dan kedua pahanya terbuak lebar, cowok itu dengan cueknya langsung latihan dengan tidak menghiraukan pandanganku yang tertuju pada tonjolan di tengah selangkangannya yang begitu indah dan padat itu.

Aku mengusap keringat di kening dengan handuk kecil yang selalu kubawa, dan pura-pura melihatnya mengangkat beban untuk beberapa menit lamanya. Tiba-tiba dia berhenti dan langsung menatapku. Rupanya dia memperhatikanku menatap "alatnya" tanpa kusadari, seraya bangun dan mengulurkan tangannya.
"Budi.., itness tempat gue latihan di Jakarta".
Aku langsung mengulurkan tanganku "Herry", ucapku.
"Senang kenal dengan cowok secakep dan seatletis kamu" tambahku sambil nyengir. Tangannya begitu kekar dan keras mencengkeram tanganku. Aku merasakan sesuatu yang aneh.

Beberapa detik kita saling memandang dan mengukur lawan bicara masing-masing. Dari perasaanku yang timbul tiba-tiba, aku merasakan sesuatu getaran menyentuh tangan dan langsung menghunjam ke jantungku, membuatku berdebar-debar. Dia benar-benar tampan, lebih keren dari yang kulihat dari kejauhan selama ini. Matanya yang tajam dengan bulu mata yang indah melengkapi wajahnya yang keras dengan rahang yang hmm.., bisa membuatku pingsan saat itu. Bau yang timbul dari keringatnya yang mencerminkan aroma lelaki membuatku tambah mabuk. Rupanya aku masih sadar, aku segera menarik tanganku. Diapun juga terkejut dengan sentakanku, tapi lalu dia tersenyum manis.
"Gue juga, gue selalu memperhatikan loe dari sejak pertama gue datang ke sini", sambil mengedipkan matanya.

Untuk menghindari perhatian menyolok dari orang lain yang sudah mulai sedikit, kita mengalihkan pembicaraan ke perbedaan tempat fitness antara LA dan tempat Budi di Jakarta, sambil duduk di lifecycle.
"Apa yang membawamu pindah ke Bandung Bud?", tanyaku lagi.
"Gue kira loe bisa menebak, perusahaan gue yang pindah ke sini dan gue mesti ngikut juga. Tapi gue seneng kog pindah ke Bandung yang udaranya sejuk dan nggak macet kayak Jakarta", ujar Budi dengan logat betawinya yang kental.
Budi membicarakan tentang latihannya di gym di Jakarta dan kemudian sedikit menyinggung soal modeling.
"Aku nggak ngerti, apa yang kamu bicarakan soal modeling Bud", tanyaku balik.
"Gue bilang kalo gue ini seorang model fashion, sudah beberapa tahun. Itulah kenapa gue tetap menjaga bentuk tubuh seperti ini, karena lebih mudah dapetin kerjaan kalo bodi kayak gini", ujat Budi sambil memamerkan keindahan tubuhnya.
"Loe juga bisa jadi model lho Her!" tawarnya kepadaku.

Aku hanya nyengir dan kita berdua tertawa terbahak-bahak, lalu saat waktu latihan sudah habis kita berdua mandi bersama. Saat itu dia memilih locker dekat punyaku, kita lalu lepas kaos dan celana dan memasuki ruangan shower bersamaan. Badannya benar-benar sempurna, dengan dada bidang dan berbulu halus menurun ke bentuk perut dengan 6 lekukan segiempat yang keras yang masih ditumbuhi bulu bulu halus. Pantatnya yang menjadi impian tiap cowok gay, dengan bentuk yang padat berisi dan masih bulat.

Budi mulai membasahi badannya dengan air hangat yang keluar dari shower dan aku cuman bisa memandang bentuk badan yang sempurna itu tanpa bisa menyentuhnya walaupun jarak kita cuma tidak lebih dari satu meter. Dia membalik untuk menggosok punggungnya, dan bagian tubuhnya yang tergantung diantara selangkangannya yang sejak tadi aku perhatikan telah terbuka dengan bebas. Buah pelernya yang tergantung bersampingan juga melengkapi keindahan bagian itu, ikut bergoyang-goyang saat Budi menggosok bagian punggungnya. Rambut yang tumbuh di sekitar area itu sangat lebat, seperti yang aku perkirakan. Pahanya yang indaHPun juga ditumbuhi rambut-rambut hitam yang menerus sampai ke bawah.

Rupanya Budi tahu kalau aku memperhatikan daerah tersebut dan tersenyum dan tetap menggosok area itu dengan hati-hati. Kita saat itu adalah orang orang terakhir di locker room. Orang lain sudah keluar sejak jam 9 tadi. Akupun biasanya sudah cabut juga jika bukan karena cowok secakep Budi ini.

Budi lalu mengambil sabun dan meletakkan penisnya di atas sabun tersebut dan mulai menggosok searah dengan satu tangannya. Lalu menggosoki area pelernya dengan hati-hati, terus ke dalam ke arah lubang pantatnya. Gerakan Budi yang lebih merupakan suatu gerakan erotis katimbang mandi membuatku terpaku. Penisku yang sudah tak kuat lagi melihat pemandangan indah itu langsung saja mulai mengeras dengan cepat. Dan saat tangan Budi mencapai lubang pantatnya dan mulai menggosok-gosoknya dengan pelan-pelan, penisku sudah "tegak" pada kondisi puncaknya.

Budi membalik dan melihat dengan jelas hasil dari "godaan" yang dibuatnya dan tertawa, lalu memegang dan memijit penisku dengan lembut.
"Loe suka ngeliat bodi gue, ya nggak? Hmm gede juga penis loe.., gue suka nih".
Bisa bantuin gosok punggung gue sebelum kita selesai mandi?" ujar Budi sambil tetap mengelus-elus penisku.

Aku mengguman sesuatu saat Budi menyodorkan sabun ke tanganku, sentuhan tangannya ke tanganku mengirim aliran listrik lagi ke kepala penisku. Dia lalu memutar membelakangiku dan pantatnya yang indah begitu dekat dengan penisku yang menggelitik untuk segera menembusnya, dan aku langsung menggosok punggungnya yang berotot dengan perasaan tidak karuan.

Tanganku menggosok-gosok ke semua permukaan punggung Herry yang keras dan indah itu. Terus ke bahunya yang lebar turun lagi ke pusat punggungnya dan terus menurun ke bongkahan pantatnya yang begitu menggelitik untuk di remas. Saat tanganku mulai menggosok ke dalam lipatan diantara kedua bongkahan pantatnya, tiba-tiba Herry membalik badannya dan penisnya yang sudah mengeras 7,5 inch itu tersentuh tanganku.

Dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, langsung saja aku memegang penis tegang itu dan mengocoknya dengan lembut yang membuat Budi melenguh dan meliuk-liuk keenakan. Tanganku yang satunya langsung sibuk meremas dan meraba-raba kedua pelernya yang juga ditumbuhi rambut itu. Aku berjongkok dan mulai menciumi kejantanannya, Budi semakin melenguh.
"Oohh.., yeahh.., oohh nikmat Her.., teruss.., yess.., masukin Her..".

Budi tiba-tiba meremas rambut di kepalaku dan menekannya semakin ke penisnya. Aroma rambut di sekitar selangkangannya membuatku makin terangsang untuk memasukkan penis Budi semua ke mulutku. Sedikit demi sedikit penis Budi aku kulum dengan mesra. Lidahku bermain-main diujung penisnya yang menkilat dan berwarna pink itu. Budi semakin keenakan, mulutnya sudah mengerang-erang tak karuan. Aku berhenti melakukan aksiku. Budi juga tiba-tiba membuka matanya.
"Kenapa Her? kok berhenti?" ujarnya dengan napas yang tersengal-sengal.
"Bud, aku takut ada yang masuk dan memergoki kita di sini, gimana kalo kita pindah aja?", pintaku.
"Ok, kita duduk bentar di jacuzzi, dan setelah kita relax, kita pindah ke tempat gue aja.., OK?", ujar Budi agak kecewa.
"Sorry Bud, aku hanya mengambil jalan terbaik aja, khan nggak enak kalau ada yang tahu kita lagi ginian khan?".

Lalu kita selesaikan mandi dan cepat-cepat pakai baju. Aku yang kebetulan memang dekat dengan gym LA itu minta Budi untuk mengantar pulang sebentar untuk menaruh barangku. Budi mengiyakan.

Sepanjang jalan menuju ke rumah Budi di bilangan Sukajadi, pandangan mataku dan mata Budi selalu beradu dan sudah nggak sabar untuk menuntaskan pertarungan tadi. Tangan Budipun tak pernah lepas dari pahaku dan begitu juga tanganku. Kita saling meremas dan berciuman. Perjalanan yang pendek, sekitar 10 menit itu berakhir saat sedan warna putih itu telah tiba di depan pintu gerbang rumah mewah. Seorang penjaga pintu membukakan pintu dan memberi hormat ke arah Budi.

First Lesson

Malam itu aku terbangun, "Pak?" panggilku, melihat Bapakku sedang menciumi dadaku, mengisap-isap tetekku, menarik-narik puting tetekku dengan mulutnya.

"Pak, ada apa?" tanyaku lagi.
"Sstttt!!" ucap Bapakku meletakan tangannya pada bibirnya.

Bapakku menjilati kedua puting tetekku bergantian.

"Geli Pak" tertawa kecil kegelian. Bapakku menghentikan permainannya, menggeser tubuhnya kedepan, laki-laki tersebut tersenyum melihatku, akupun tersenyum melihatnya.
"Bapak rindu sama Nanang, Nanang rindu sama Bapak juga khan?"

Aku mengangguk, Bapakku mengusap-usap kepalaku dan mendekatkan kepalanya, mulutnya mendekat dan menciumku, melumat bibirku, aku hanya diam, rasa geli saat kumis Bapak yang tebal, ikal menyentuh bibirku. Laki-laki tersebut menarik bibir bawahku dengan mulutnya, mulutku terbuka, Bapak langsung memasukan lidahnya ke dalam mulutku, akh, gelinya.

"Enak yah?" ucap Bapak ku sambil tersenyum, aku menatapnya dengan keheranan, aku anak laki-lakinya dicium, dicumbu, seperti dia bernafsu dengan perempuan.

Baru tiga hari yang lalu Bapakku pulang, masa tahanannya 10 tahun sudah habis. Selama itu aku hanya tinggal bersama si mbok, membantunya ke ladang. Sejak ditinggalkan aku dan si embok yang merawat tanaman singkong di ladang.

Siang itu 2 orang Polisi datang ke rumah dan menangkap Bapak, aku masih ingat Bapak dituduh memperkosa 3 orang gadis di bawah umur, yang juga temanku dan salah satunya adalah anak Pakde Sarwo. Bapak dihukum 15 tahun dan karena kelakuannya di penjara baik dan bagus hanya 10 tahun saja dia dihukum. Saat itu umurku 6 tahun. Pakde Sarwo jadi marah dan membenci kami termasuk orang-orang kampung yang lainnya.

Tidak tahan dengan sikap orang kampung, Kami pindah ke atas bukit jauh dari orang-orang Kampung, dan untungnya lagi lokasi tempat Kami tinggal dekat dengan ladang kami yang tidak begitu luas. Aku dan si embok menjalani hidup hanya berdua, jauh dari orang-orang lainnya, hingga pada saat umurku 12 tahun, siembok meninggal, sehingga aku hidup sendiri, aku yang kelola tanaman singkong di ladang, hasil panen aku jual ke pasar. Orang-orang kampung betul-betul tidak mengenal kami lagi, mungkin mereka lebih senang jika kami keluar dari kampung tersebut. Padahal Bapak sudah dihukum karena perbuatannya, tapi mereka terus membenci kami. Biarlah, yang penting aku mencoba bisa hidup mandiri tanpa mereka semua, dan selama itu juga lancar saja, hasil panen singkong yang aku tanam juga lumayan

Bapak mencium ku lagi. "Bapak rindu sekali sama Nanang" ucapnya, tangannya mengelus-elus dadaku yang bidang, dan ah, Bapak meraba-raba kontolku, meremas-remasnya. Tangannya masuk kedalam celana pendek yang aku kenakan dan totongku di tarik-tariknya.

"Burung Nanang besar juga yah" ucapnya sambil tersenyum.
"Bapak lihat yah sayang?" pintanya, aku menggelengkan kepala, malu juga.

Bapak, membuka celanaku menariknya, hingga telanjang bulat. Laki-laki tersebut tersenyum melihat kontolku.

"Apa khabar Rung?" tanyanya pada kontolku, aku tersenyum malu, Bapak melirikku sambil tersenyum.

Bapak memegang kontolku, meremasnya, dan aku terkejut saat Bapak menelan kontolku, mengisap-isapnya, mengocok dengan mulutnya. Akhhh....desahku kegelian.

"Geli Nang?, enak yah?" ucap Bapak sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Aku belum pernah sama sekali dibegituin, paling ngocok kontol sendiri saja.

Bapak menggeser tubuhnya ke depan, "Enak yah Nang?" ucapnya lagi tersenyum memandangku, padahal aku ingin kontolku diisap-isap Bapak lebih lama lagi. Bapak meraih tanganku dan ahh, aku terkejut saat menyentuh totongnya dan melihat Bapak sudah telanjang bulat dan kontolnya sudah membesar tegang, hitam dan panjang. Bapak memintaku untuk mengocok-ngocok kontolnya, aku memandangnya. Laki-laki tersebut tersenyum. Aku menggser tubuhku kebelakang, Bapakpun melakukan hal sama dia duduk bersandar di dinding. Aku mengocok-ngocok kontolnya dengan pelan sesuai dengan permintaannya. Kontolnya yang besar dan panjang aku pegang erat, kutarik-tarik ke atas. Bapak mendesah kegelian.

"Akhhh....enak Nang, geli" ucap Bapak.

Laki-laki tersebut mengusap kepalaku.

"Isap kontol Bapak seperti Bapak mengisap kontol Nanang" pinta Bapak lagi dan lagi-lagi aku turuti.

Kumasukan batang totong Bapak ke dalam mulutku, masih kaku memang, namun Bapak mengajarkanku dan dengan cepat aku mengerti dan melakukannya hingga Bapak mendesah-desah keenakan.

"Geli....geli...Nang, lagi...teruskan, teruskan, akhhhh" desahnya.

Aku menjilati jembut-jembut Bapak yang tumbuh subur, keriting dan ikal. Kucoba untuk menjilati batang kontol Bapak dengan arahan Bapak.

"Yah, yah, begitu..teruskan Nang, teruskan" ucap Bapak.

Biji kontol Bapak yang menggantung juga aku jilati, sehingga dia keenakan, Bapak kembali menyuruhku mengisapi batang kontolnya.

"Akh...Nang, Bapak kegelian, enak Nang, nikmat, teruskan, teruskan sayang" desah Bapak hingga Bapakpun mendesah kuat besertaan tubuhnya mengejang.
"Akhhhh.....nang....akhhhhhh".

Aku merasakan cairan kental nyemprot, aku cepat-cepat mengeluarkan kontol Bapak dari mulutku, dan masih memegangnya kuat saat mani kental putih keluar dari lobang totongnya. Bapak mengusap-usap rambutku lagi.

"Akhhh....enak Nang"

Bapak memintaku untuk duduk menggantikan posisinya, dia akan mengisap-isap kontolku, aku menurut dan saat pertama enak sih. Bapak langsung menelan batang kontolku, menarik-nariknya dengan mulutku. Totongku bertambah besar dan panjang, berdiri tegak dan keras. Bapak menelan habis batang kontolku ke dalam mulutnya, akhhh, enaknya.

"Pak, mau keluar" ucapku.

Bapak semakin bersemangat mengocok-ngocok kontolku, mengemutnya hingga pangkalnya, Bapak menjilati jembut-jembutku yang tumbuh subur di atas totongku, dan beralih ke batang kontolku lagi, Bapak menjilati batang kontoku dengan sangat mahir sekali, kepala totongku yang besar dan merah mendapat sasaran berikutnya, Bapak menjilati lobang kencingku, lama, sehingga aku sangat menikmatinya, Akhhh.....geli sekali desahku, menggigit bibirku. Mulut Bapak mendapat sasaran baru, kedua biji kontolku dijilati, diisapi, diemut seperti permen, hingga kedua biji totongku masuk ke dalam mulutnya.

"Akhhh...Pak, geli" ucapku.

Bapak menggesek-gesekan kumisnya ke batang kontolku, dan berikutnya Bapak menelan batang kontolku kembali, akhhhh..... dan akhirnya aku tidak mampu untuk menahan kenikmatan dan kegelelian yang sangat, hingga tubuhku mengejang dan melepaskan maniku padahal masih di dalam mulut Bapak. Bapak memandangku, melepas kontolku dari mulutnya dan tersenyum dengan mulut yang penuh dengan cairan maniku.

"Enak, Nang, lezat" ucapnya, dan mendekatiku lagi dan kini Bapak duduk di atas pangkuanku, menggenggam totongku, dan yah ampun Bapak memasukan kontolku ke dalam lobang pantatku. Bapak menekan pantatnya ke bawah sehingga totongku masuk lebih dalam.

"Enak yah, Nang" ucapnya.

Aku mengangguk, akhhh kurasakan totongku di jepit kencang, dan Bapak menggoyang-goyangkan pantatnya, akkkkhhh....enaknya desahku. Bapak menyuruhku mengisap-isap teteknya, aku menurut. Kuisap-isap, kujilati teteknya, dan bulu-bulu dadanya ku usap-usap. Bapak terus menggoyang-goyangkan pantatnya, sehingga menambah kenikmatan.

"Enak, Nang, geli yah".

Aku mengangguk dan sesekali mendesah, akhhh.....

"Kalo sudah mau keluar, bilang yah sayang?" ucap Bapak dan aku mengangguk.

Tubuh Bapak turun naik di atas pangkuanku, dia juga mengeluarkan desahan-desahan dengan suara kuat.

"Akh, Pak, sudah mau keluar" ucapku.

Bapak turun dari pangkuanku dan meremas kontolku, mengocok-ngocoknya dengan kencang.

"Akhh...Pak" desahku, melihat kontolku menyemprotkan mani kental sampai belepotan di tangan Bapak.

Crot...crot...crottt, Bapak tersenyum melihatku, sampai maniku yang terakhir diperasnya untuk keluar.

"Akhhh..enak...Pak" ucapku.

Bapak menyambutku dan menciumku, melumat bibirku, akupun membalasnya dengan ciuman. Lagi-lagi kumisnya membuat aku kegelian. Bapak duduk disampingku, memelukku, memegangi perutku, dari belakang laki-laki itu menciumi leherku, menjilatinya.

"Kapan-kapan Bapak akan ajarkan lagi, mau khan"
"Yah Pak" ucapku, ketagihan juga, enak dan geli permainan yang dilakukan Bapak.
"Dan suatu saat Bapak yang akan melakukannya yah sayang, Bapak yang akan menyodomi Nanang, lobang pantat Nanang pasti masih sempit" ucap Bapak meraba-raba lobang pantatku.

Berarti itu adalah permainan sodomi yah, pikirku. pantas enak dan membuat geli sampai maniku keluar banyak.

"Ayo tidur" ajak Bapak yang tetap memeluk tubuhku.

Kehangatan badan Bapak membuat badanku bertambah hangat, ditengah malam yang dingin, sejak sore tadi hujan turun dengan lebatnya. Dalam keadaan telanjang bulat kami tidur berpelukan, menambah mesra antara Anak dan Bapak dan aku mendapatkan pelajaran yang berharga dari Bapak, sehingga pengetahuanku bertambah seiring kedewasaanku yang sudah berumur 16 tahun.

Falling Autumn

Aku memandang jauh ke depan, menatap langit nan biru, biru yang amat sangat terang. Matahari bersinar begitu cerah. Waktu terus berlalu dan tanpa terasa sudah berlalu 2-3 tahun semenjak aku merajut setiap satu kenangan indah menjadi sebuah kenangan yang utuh. Yang bahkan aku sendiri tidak yakin apakah aku masih membutuhkannya atau tidak.

Mataku kembali menatap langit. Sesekali aku menghisap dalam-dalam sebatang rokok yang menyala yang ada di bibirku sekarang ini. Dan untuk ukuran orang yang baru merokok, menakjubkan sekali bagaimana aku bisa menghabiskan setidaknya 3 bungkus sehari tanpa terbatuk sekalipun hari itu juga.

Tubuhku kubaringkan dengan santai ke atas tanah berumput yang berteduhkan dahan pepohonan. Belakangan ini aku sering sekali datang ke tempat ini diwaktu luangku sekedar untuk meringankan hati yang rasanya terhimpit sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Terlalu berat untuk di hilangkan. Atau sekedar untuk mengisi kekosongan hati ini dengan ketenangan.

Aku sudah mengisahkan sedikit mengenai kisah mengenai diriku dan kisah cintaku yang bisa di baca dari permulaan 'Am I A Gay, 1st Spring, dan Summer Breaks'. Well, memang merupakan saat-saat yang menyenangkan pada saat itu. Banyak kejadian menyenangkan yang dapat kujadikan kenangan. Bahkan setelah 2 tahun kekosongan 'status'ku dalam dunia homoseksual ini. Benar-benar 'puasa' penuh; tidak ada seks, tidak ada pasangan, tidak ngumpul, tidak ada apa-apa sama sekali.

Well, kisah cintaku dengan kedua mantan pacarku itu lumayan indah, sorry, sangat indah dan berkesan sebetulnya; dan kami sebenarnya akan bisa lebih banyak lagi merajut kenangan bersama seandainya mereka tidak pergi meninggalkanku. Putus, atau yang sejenisnyalah.

Fung, pacarku yang pertama, pergi meninggalkanku begitu saja tanpa berita apapun. Maksudnya benar-benar menghilang seolah ia tidak ingin aku menjadi bagian dalam hidupnya. Aku mencoba untuk menelepon, tapi HP-nya tidak aktif dan nomor telepon flatnya sudah diputus. Aku ke flatnya, namun penjaga gedungnya mengatakan bahwa Fung sudah pindah entah kemana. Kutanyakan kepada teman-temannya, mereka hanya mengangkat bahu. Sedikit aneh dan menyakitkan, tentu saja.

Lalu aku bertemu dengan Ran setelah sempat vakum selama lebih dari 6 bulan. Kami pacaran, menikmati masa-masa indah kami, sampai aku mengetahui bahwa dia ternyata berselingkuh. Yah, tentu saja, bagi laki-laki selingkuh itu menyenangkan dan tidak terdapat bekasnya, apalagi jika dilakukan dengan sesama lelaki; yang untungnya, ada seorang teman baikku yang membuatnya ketangkap basah tepat didepan mataku sendiri. Satu kali kesempatan, dan Ran mengabaikannya. Lalu aku memutuskan untuk meninggalkannya. Toh, Ran sendiri kelihatannya tidak keberatan. Senang malah, kalau boleh kubilang.

Dan pada akhirnya, dari kedua hubungan itu, aku menyalahkan diriku sendiri. Well, jika dihitung, aku termasuk orang baru yang belum lama berkecimpung dalam dunia seperti ini. Aku yang terlalu memikirkan komitmen mengenai kesetiaan tanpa tahu bahwa sebenarnya dunia seperti ini-walaupun tidak semua orang, tentu saja-yang dibutuhkan hanyalah sekedar seks hebat, tampang, body dan uang. Mungkin jika boleh kutambahkan, banyak teman tidur yang bisa di ganti kapanpun seseorang menginginkannya.

Tapi, benarkah? Bahwa di dunia seperti ini sama sekati tidak terdapat apa yang disebut sebagai KESETIAAN, TIDAK ADA PERSELINGKUHAN, KOMITMEN YANG KUAT, CINTA dan segalanya itu seperti kisah-kisah yang ada di dunia normal?

Yang jelas, kejadian ini membuatku menjadi berubah pikiran dan menutup hatiku. Segala pandanganku berubah, mengenai apa saja. Mungkin diluarnya tidak akan tampak, tapi didalamnya, sesungguhnya aku benar-benar sudah banyak berubah.

*****

Aku menunggu sudah hampir lima belas menit. Tapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang. Aku sudah hampir meninggalkan tempat itu saat seseorang menyapaku..

"Steve?"
"Ya?" Aku menatapnya dari atas ke bawah, dan ke atas lagi.
"Oh, Herry?" kataku setengah tidak yakin.
"Yup." dia menatapku dengan mata bersinar.
"Mau duduk dulu?"
"Langsung aja." sahutku cepat.
"Aku nggak bisa lama-lama."

Lima belas kemudian kami berdua sudah berada di dalam kamar sebuah hotel. Herry menciumku dengan ganas, seolah hasratnya tidak pernah disalurkan untuk waktu yang lama. Kami berdua membuka baju kami serampangan, akibatnya, baju-baju kami berserakan dimana saja di dalam kamar hotel ini. Dia sudah telanjang sepenuhnya dengan kejantanannya yang sudah berdiri tegak, sementara aku masih memakai CD-ku. Dia menjauh untuk bisa melihatku. Nafasnya terengah cepat, penuh dengan nafsu birahinya.

Herry kemudian langsung memelukku dan menjatuhkanku ke sofa. Dia mencium bagian-bagian tubuhku yang bisa diciumnya dengan gerakan yang cepat dan panas. Lalu aku merasakan CD-ku dilepas dari tubuhku, dan akhirnya merasakan mulutnya pada kejantananku.

Dengan gerakan secepat kilat, dia menyatukan tubuh kami berdua. Rasa nyeri menyerangku; aku tidak siap. Rasa nyeri itu perlahan, amat perlahan sekali lenyap dari tubuhku. Sementara itu Herry sepertinya tidak menyadarinya, mulai menggerakkan tubuhnya dengan kekuatan penuh. Dan aku, yang tidak ingin merusak suasananya, mengikuti permainannya.

Keluhan-keluhan nikmat tersembur dari mulut kami berdua. Khususnya Herry. Sepertinya dia sudah lama tidak bercinta hingga seperti ini. Pinggulnya bergerak dalam irama yang kuat dan cepat, seolah ingin berlomba mencapai puncak terlebih dahulu. Dan dalam 5 menit, aku merasakan tubuhnya mengejang. Dia sudah mencapai puncak kenikmatannya. Pelepasannya cukup lama; sepertinya benar-benar sudah tidak pernah bercinta untuk waktu yang lama.

Herry melepaskan diri dariku, terkulai lemas disampingku. Keadaan sunyi senyap untuk beberapa saat, sampai aku sadari bahwa dia sudah jatuh tertidur. Aku tertawa pahit. Aku menuju kamar mandi hotelnya dan membersihkan diri; lalu berpakaian dan meninggalkannya. Kami tidak akan betemu lagi, itu pasti.

*****

Aku duduk berhadapan dengan seorang remaja yang baru saja menamatkan SLTA-nya. Kami berdua sudah bertelanjang dada, hampir bercinta, jika saja aku tidak merasakan bahwa remaja tersebut melakukannya tidak dengan keyakinan. Tubuhnya gemetaran. Saat ini dia menunduk, tidak berani memandangku.

"Pakai bajumu lagi, deh." kataku pendek.

Dia memakai bajunya. Sebenarnya, dengan kemampuannya untuk melatih tubuhnya secara rutin di gim, dia cukup fit dan berbody untuk remaja seumurnya.

"Maaf," katanya penuh penyesalan.
"Gak pa-pa." Aku berusaha untuk tersenyum lembut menenangkan.
"Gak usah khawatir.

Aku terus menatapnya sampai ia selesai berpakaian. Lalu aku memegang kedua bahunya dengan kedua tanganku.

"Dengarkan aku." Aku menatapnya dengan pandangan lurus dan tajam.
"Coba liat aku." Dia menatapku.
"Kalo kamu nggak yakin dengan semua ini, maksudku bukan cuman ML-nya aja, tapi juga dengan dunia ini, aku sarankan jangan masuk. Jangan mendekat selangkahpun kedunia seperti ini. Karena, sekali masuk maka jalan keluar akan susah nyarinya ntar. Pulanglah, pikirkan. Ingat, pikir yang baik." aku melepaskan kedua tanganku dari bahunya.
"Kuantar kau pulang."
"OK." katanya pendek.
"Senang bisa kenalan ama kamu, Hen." aku tersenyum. Dia hanya mengangkat bahu.

*****

Aku kembali menatap langit biru. Kuhembuskan nafasku dengan perlahan dan panjang. Asap rokok berwarna putih tipis melayang ke udara bebas. Aku tersenyum pahit. Hatiku serasa pedih kembali.

Itu adalah beberapa dari serangkaian kejadian yang kualami selama dia tahun selama masa 'vakum'ku. Aku on-line di cybernet, mencoba untuk bertemu beberapa orang, dan mencoba untuk melakukan ONS dengan mereka. Dan hasilnya adalah tidak ada hasilnya sama sekali. Aku tidak dapat berpikir bagaimana mereka yang begitu enjoy dengan kehidupan seperti itu bisa melewatinya dengan mudah.

Tidakkah mereka merasakan sesuatu kekosongan yang ada dihati mereka, seperti yang kurasakan saat aku melakukan hal yang sama seperti mereka? Dan mereka juga bisa menikmati seks dengan pasangan yang berganti-ganti, sementara aku hanya bisa melakukannya dengan orang yang kucintai dengan atas dasar cinta kami berdua, tentu saja. Aku sudah mencoba, selama dua tahun ini, untuk menjadi seperti mereka. Namun yang kurasakan adalah kekosongan yang semakin membesar dan hampa. Aku tidak bisa menjadi seperti itu.

Belum lagi segala macam resiko yang bakal dihadapi dengan berganti pasangan. Seperti yang kita ketahui, tentu saja bermacam-macam PMS. Namun bagiku yang terparah adalah segala macam kesakitan pada jiwaku, karena aku tidak bisa memaksakan diriku yang selalu menginginkan KESETIAAN dan CINTA - walau untuk hubungan tidak normal kepada sesama lelaki-untuk menjadi seseorang yang.. yah, 'seenaknya menikmati kebebasan!'

Dan, tentu saja, bagi mereka yang senang melakukannya, apakah mereka pernah bertanya kepada diri sendiri? Misalkan pertanyaan seperti: 'Apakah aku merasa sudah puas hanya dengan seks dengan berbagai orang?' atau 'Apakah aku tidak merasakan suatu kekosongan yang selalu ingin diisi saat aku sedang melakukan 'free sex', apa sebabnya aku merasakan kekosongan itu, dan kemudian bagaimana caranya mengisi kekosongan itu?' atau 'Apakah aku merasa bahwa kehidupan gonta-ganti pasangan cocok untukku, dan khususnya membawa kebahagiaan yang penuh dan total untuk diriku, yang mana sekali kudapatkan, tidak akan kulepas lagi?'

Bagiku, CINTA SEJATI akan selalu ada. Aku kan selalu mencintai, mungkin siapapun yang akan menjadi kekasihku selanjutnya. Tapi terkadang aku menanyakan kepada diriku sendiri, 'Apakah aku akan membuka diriku kepada kesempatan berikutnya, atau aku cukup hanya sampai disini dan menutup lembaran lama, lalu memulai lembaran baru?'

Egoiskah itu? Aku tidak bisa menjawabnya. Aku sudah mencintai 2 orang pria asing yang masuk ke kehidupanku sepenuh hatiku. Namun yang kudapat hanyalah sesuatu yang tidak ada artinya akibat perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Kesetiaan dan cintaku di balas dengan pengkhianatan, khususnya Ran.

Aku menjentik rokok yang sedari tadi sudah tersisa puntungnya saja. Tanganku meraih bungkus rokok yang terletak disaku dadaku dan secara naluri mencari sebatang yang lain. Aku tertawa saat menyadari bahwa bungkusnya sudah kosong. Puntung yang kubuang tadi adalah yang terakhir. Apakah ini artinya bahwa aku juga harus mengakhiri segalanya sampai di sini?

Tanpa kusadari, sebulir air mata mengalir jatuh. Air mata tanpa suara kesedihan. Aku mengusapnya dengan lengan bajuku. Aku bangkit menuju motorku yang kuletakan tidak jauh dari tempat berbaringku, dan beranjak pergi.

F4 In The Happy Summer Time

Musim panas kali ini lebih panjang dari biasanya, suhu kota Taipeh benar-benar seperti di dalam oven panggang. Kegerahan menyerang hampir seluruh kota, apalagi mereka yang rumahnya tidak dilengkapi oleh Air Conditioner. Sepertinya, lebih baik jika bisa mendekam di dalam kulkas seharian. Di tengah teriknya matahari di siang bolong, tepat ketika matahari berada di atas ubun-ubun, lagi-lagi F4 harus menyelesaikan syutingnya untuk hari itu, meski untuk sebuah episode yang terlarang dan hanya bisa dinikmati oleh orang-orang dewasa saja.

A Lei datang terlambat dengan mobil barunya, ia gemar sekali mengganti-ganti mobilnya, gaya hidup yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar kelebihan duit. Pemuda buruan para gadis itu turun dari mobilnya masih dengan gayanya yang cool, ia menaikkan kacamata hitamnya sebatas dahi. Penampilannya untuk syutingnya kali ini memang agak berbeda dari biasanya, ia tampak lebih terkesan santai dengan balutan celana pendek dan baju pantai bermotif kembang, dan tentunya lebih seksi dari biasanya dengan bulu-bulu kakinya yang terlihat jelas. Memang, syuting F4 kali ini mengambil setting di kolam renang.

Kisahnya kali ini bercerita tentang A Lei dan Xi Men yang berenang bersama, sesuai dengan janji mereka kemarin malam. Mereka telah memilih sebuah swimming pool yang sangat ekslusif di pusat kota Taipeh. Saat A Lei datang, Xi Men tampak telah berendam di dalam air dan berenang dengan gaya punggungnya, kelihatan sekali lekuk-lekuk badannya yang bongsor dan seksi itu, apalagi kontolnya yang menonjol di balik celana renang warna biru muda yang dipakainya. A Lei pun dibuat terkesima memandangnya, ia mengambil tempat di sebuah kursi malas di pojokan kolam di sebelah ransel Xi Men berada.

A Lei segera menanggalkan pakaiannya, dilepasnya satu per satu kancing bajunya sampai ia dapat melepaskan semuanya, dadanya memang belum terbentuk bagus, tapi setidaknya mulai tampak hasil fitnesnya selama tiga bulan belakangan ini. Setelah itu ia menarik restleting celana pendeknya dan memelorotkannya begitu saja. Ia hanya mengenakan sebuah celana dalam model peluru saja. Kemudian, A Lei mengambil sesuatu dari dalam tas ransel yang dibawanya, ia mengeluarkan celana renangnya dari sana. Setelah itu ia melongok ke sana kemari, setelah memastikan tidak ada orang lain di kolam itu selain dirinya dan Xi Men, maka ia pun lalu melepaskan celana dalamnya untuk diganti dengan celana renangnya itu, di pinggir kolam.

Setelah ia berganti celana, A Lei pun menyusul Xi Men berenang. Ia bergerak mendekati Xi Men dengan gaya bebasnya. Mereka bertemu di ujung kolam, untuk beberapa saat mereka berhenti sambil berendam di dalam air dan bersandar ke bibir kolam. Xi Men mencipratkan air ke muka A Lei dengan gaya nakalnya, lalu dibalas oleh A Lei dengan tak kalah sengit pula, kemudian keduanya terbahak-bahak. Tingkah mereka terkadang memang seperti anak kecil saja, apalagi jika mereka berempat tengah berkumpul. Kadangkala mereka bosan juga jika disuruh berakting dalam kebanyakan serial Meteor Garden yang mengharuskan mereka bertampang serius dan seperti orang tua, karena untuk berakting seperti itu, seakan-akan mereka dipaksa untuk melakukan sesuatu yang sangat bertentangan dengan kepribadian mereka sendiri, harus menjadi seorang figur yang sangat bertolak belakang dengan nurani mereka.

"Lei, sebentar! Kemarikan kupingmu!" kata Xi Men berlagak seolah-olah hendak berbisik ke dekat A Lei. Janggal juga sih di tempat sepi itu, Xi Men pakai berbisik segala. Tapi toh A Lei yang innocent itu mendekatkan kupingnya juga ke mulut Xi Men. Setelah sedemikian dekatnya antara bibir Xi Men dan kuping A Lei, Xi Men bukannya berbisik, tapi ia langsung mencipok leher A Lei, lagi-lagi ia berhasil mengerjai A Lei. A Lei pun dengan refleks membalasnya, tangannya segera menyerang kemaluan Xi Men, ia meremasnya.

"Wadaoww! Lei, sakit tahu!" seru Xi Men sambil memegangi batang kejantanannya itu. A Lei sepertinya telah kelewatan meremasnya. Pemuda itu bahkan merasa sepertinya kontolnya itu sudah membengkak, entah membengkak karena sakit atau karena ereksi. Lei terpingkal-pingkal melihat sahabatnya itu meringis sambil memegangi kontolnya. Sementara itu Xi Men tak lagi bisa tertawa, ia segera mengangkat badannya naik ke bibir kolam, kemudian duduk di situ.

Xi Men kemudian mengintip ke dalam celana renangnya untuk memastikan barang kesayangannya itu baik-baik saja. Karena tak begitu kelihatan jelas, ia pun lantas mengeluarkan kontol yang panjangnya tak kurang dari 18 cm itu dari balik celana renangnya, kontol yang masih terbungkus kulup itu pun langsung melesak keluar meski masih terkulai lemas. Kontolnya memang terlihat kemerahan, namun bukan karena bengkak atau kena remasan A Lei, namun karena warnanya memang demikian dari sononya.

A Lei menghentikan tawanya, ia menatap Xi Men dengan iba. Dalam hati kecilnya, ia juga sedikit cemas kalau-kalau Xi Men nantinya jadi impoten karena tingkahnya yang kelewatan itu.

"Sakit yah?" tanya A Lei dengan mimik muka serius. Xi Men mengangguk sekali.

"Sini, aku obati!" kata A Lei lagi, ia pun bergerak lebih mendekat ke arah bibir kolam dimana Xi Men duduk, bahkan ia merapatkan tubuhnya ke tepian kolam. Xi Men tak mengerti maksud ucapan A Lei barusan, apa yang harus diobati.

Kemudian secara tiba-tiba A Lei memegang kontol Xi Men, mencengkeram dengan erat lalu meremas-remasnya. Kontan saja, tanpa dikomando lagi, kontol yang semula lemas itu perlahan-lahan makin mengembang dan mengeras di tangan A Lei, urat-uratnya yang seksi bertonjolan keluar. Xi Men menikmatinya sambil memejamkan mata dan bersandar pada kedua tangannya yang ditopangkan ke belakang. A Lei pun makin menjadi dengan remasannya, ia berlagak seperti seorang ahli terapi seks di bidang pijat-memijat. Sesekali pijatan kedua tangannya berpindah ke sekitar selangkangannya, ia memijit-mijit selangkangan Xi Men itu dengan kedua jempol tangannya. Xi Men pun makin kuat dengan erangannya, ia mulai menggeliat-geliat.

"Argh! Nikmat sekali!" erang Xi Men berulang kali. Kini A Lei kembali memegang kontol Xi Men dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia susupkan ke balik celana renangnya sendiri, memegang-megang kontolnya yang juga sama-sama full ereksi saat itu, kemudian meremas-remasnya. A Lei pun mulai mengocok kontol Xi Men itu, perlahan dan makin lama makin dipercepat. Begitu kontol Xi Men mengeluarkan cairan precum yang agak lengket, A Lei menghentikan kocokannya. Ia lantas mengangkat badannya naik ke bibir kolam.

Xi Men disuruhnya telentang di bibir kolam, dan pemuda itu pun langsung menurut. Ia rebahan dalam posisi telentang di bawah sengatan sinar matahari. Setelah itu A Lei memelorotkan celana renang Xi Men dan melemparkannya begitu saja, sehingga kini Xi Men bertelanjang bulat di depan matanya. A Lei pun kemudian mendekatkan bibirnya ke kontol Xi Men, makin dekat dan sangat dekat, kemudian "slurp!" masuklah kontol Xi Men ke dalam mulutnya. A lei memang sangat jago dalam urusan mengoral, pemuda itu mengempot kontol Xi Men keluar masuk mulutnya berulang-ulang sampai membuat Xi Men pun melayang.

A Lei makin buas saja, ia memain-mainkan lidahnya di sepanjang kontol Xi Men, menjilatinya dengan penuh nafsu dari ujung sampai ke pangkal, di buah pelirnya yang padat dan kemerahan itu. Kemudian, A Lei menghisapnya, melumat dengan liar dan menyedotnya sampai Xi Men tak lagi bisa berkutik saking nikmatnya.

Setelah puas bermain-main dengan kontol Xi Men, A Lei pun kemudian berganti posisi, ia langsung menindih tubuh Xi Men di pinggiran kolam itu. Lalu ia mendaratkan ciuman-ciuman dan lumatan bibirnya ke bibir pemuda itu, mereka saling memainkan lidah mereka masing-masing dengan liarnya. Setelah sekian lama saling memagut, A Lei pun mulai menjelajahi sekujur tubuh Xi Men dengan bibirnya, mulai dari dahi, seluruh wajah tampannya, leher, dada. A Lei melumat kedua puting susu Xi Men bergantian, kanan dan kiri, sesekali diselingi dengan gigitan-gigitan kecil. Setelah itu, A Lei menciumi kedua belahan ketiak Xi Men yang horny itu dengan rambut-rambut lebatnya. Kemudian turun ke kedua belahan pinggangnya dan seputar pusarnya.

Xi Men pun tak kalah liarnya meladeni kebuasan A Lei. Setelah A Lei puas menjelajahi setiap lekuk tubuhnya, ia langsung merubah posisi. Xi Men menidurkan A Lei di tempatnya tadi. Yang diserangnya pertama kali dengan bibirnya adalah tentu saja bagian tubuh yang paling seksi dari A Lei yaitu, kontolnya yang masih terbungkus celana renang itu. Sekalipun demikian, kontol A Lei tampaknya sudah terjepit di dalam celananya itu, perlu bantuan untuk segera diberi sedikit udara segar yaitu dengan melepaskannya dari dalam sangkar.

Xi Men tak langsung membukanya, ia meremas-remas bagian yang menutupi kontol A Lei itu dengan mulutnya diselingi gigitan-gigitan kecil, seperti seorang bayi dengan dot susunya. Aroma kejantanan A Lei sudah tercium jelas oleh hidung Xi Men. Belum lagi saat Xi Men memandangi jembut-jembut A Lei yang keluar dari celana renangnya, sungguh menggairahkan. Perlahan Xi Men pun mulai menggigit karet celana renang Lei, dengan dibantu oleh tangannya, kemudian ia menariknya turun, memelorotkannya perlahan-lahan sehingga tak lagi ada seutas benang pun yang menutupi aurat Lei, pemuda itu memang benar-benar seksi, tak heran jika menjadi buruan banyak gadis. Mungkin mereka hanya bisa membayangkan untuk bercinta dengan Lei di atas ranjang, namun Xi Men bisa menikmatinya secara langsung.

Lei adalah seorang pemuda dengan libido yang sangat tinggi, namun hebatnya seorang Lei adalah karena ia mampu menyembunyikannya di balik keluguannya. He is the best partner on the bed, He's very desireable.

Batang kejantanan Lei pun langsung berdiri setegak tower, dengan keperkasaannya. Xi Men langsung memasukkannya ke dalam mulutnya dan memperlakukannya seperti apa yang dilakukan Lei tadi terhadap kontolnya. Xi Men melumatnya dengan liar, menghisapnya berulang kali keluar masuk mulutnya, menjilatinya seperti ketika menjilati es krim coklat. Kemudian ia menciumi dan menjelajahi kedua selangkangan Lei, kedua kaki Lei dibukanya lebar sampai mengangkang untuk memudahkan Xi Men menyelusupkan mukanya di kedua selangkangan Lei yang bikin horny itu.

Kontol lei yang panjangnya sekitar 17 cm itu kemudian dikocoknya, sambil sesekali dilumatnya lagi di dalam mulutnya. Keduanya, Xi Men dan Lei sungguh menikmatinya. Lei pun memegang kepala belakang Xi Men yang menunduk di depan kontolnya, ia mendorong kepala Xi Men agar kontolnya lebih masuk ke dalam mulut pemuda itu. Xi Men bahkan hampir saja tersedak karena secara tiba-tiba kontol Lei yang panjang itu masuk ke dalam mulutnya, bahkan hampir mencapai kerongkongannya.

Setelah beberapa saat lamanya Xi Men bermain-main dengan kontol Lei, maka tak terbendung lagi, ketika Lei telah mencapai klimaksnya, ia pun langsung memuntahkan lahar putihnya di dalam mulut Xi Men. Xi Men sangat menikmati sperma Lei yang menyembur sebanyak tiga kali itu, kental dan sungguh nikmat. Xi Men bahkan menjilat sisanya di di ujung penis Lei sampai ludes.

Xi Men pun belum merasa puas jika ia sendiri belum memuntahkan spermanya, Ia pun kemudian, mengangkat kedua kaki Lei ke atas, kemudian ia mendorong tubuhnya merapat ke pantat Lei yang agak terangkat itu. Kemudian, ia mengatur posisi kontolnya agar tepat di mulut liang anus Lei. Ia memang pernah melakukannya terhadap Lei sebelumnya, tapi Xi Men benar-benar ketagihan sesudah itu.

Begitu kontol Xi Men berada pada posisi yang tepat, ia pun langsung mencoba memasukkan kontolnya yang tegang penuh itu memasuki lubang anal Lei, sedikit demi sedikit, kontol Xi Men pun tenggelam di dalamnya. Lei mengerang, sesekali ia menggigit-gigit bibir bawahnya menahan rasa nyeri dan nikmat yang bercampur jadi satu.

Kedua kaki Lei disandarkannya pada kedua bahu Xi Men. Xi Men pun kemudian mendorong pantatnya maju mundur, memompa kontolnya untuk keluar masuk lubang anal Lei. Berulang-ulang kali sampai Xi Men benar-benar puas dan tak tak tahan lagi untuk memuntahkan spermanya di dalam lubang anal Lei.

"Argh!" seru Lei tertahan begitu Xi Men menggoyangnya terakhir kali yang bersamaan dengan tumpahnyanya cairan hangat dari kontol Xi Men di dalam lubang analnya. Kontol Xi Men pun langsung keluar dari pantat Lei, terkulai lemas dengan belepotan sperma. Kemudian Xi Men menindih tubuh Lei, sambil mengatur nafasnya kembali.

Usai permainan itu, mereka menuju kamar mandi yang terletak di salah satu pojokan kolam. Mereka memilih sebuah bilik dan membasuh badan di sana, A Lei dan Xi Men saling membasuh badan satu sama lain sambil sesekali tangan mereka yang masih gatal memain-mainkan kontol lawan mereka, mengocoknya dengan sabun cair. Dan setelah itu mereka saling berhandukan. Bersamaan dengan selesainya syuting untuk satu episode Meteor Garden kali itu.

*****

Pembaca yang ingin mengirimkan komentar atau berkenalan lewat email, harap menyertakan identitas diri kalian (nama, umur, & domisili) agar aku balas. Thanks.

kotaro_bee@yahoo.com

Monday, January 21, 2008

F4 Behind of The Big Madam

Dao Ming Se tidak menyangka kalau hubungannya dengan San Cai akhirnya kandas juga, tidak seabadi kisah cinta Romeo dan Juliet di Inggris atau Romi dan Juleha di Betawi, setidaknya cinta semacam itulah yang selalu diimpikannya selama ini. Mungkinkah hanya karena keegoisannya selama ini yang akhirnya membuat mereka tak lagi dipersatukan, A Se pun tak mengerti, ia sudah cukup banyak mengalah dan kini ia sudah bosan untuk melakukannya lagi.

Dao Ming Se pun tidak pernah berpikir kalau kejadian itu pada akhirnya menyisakan trauma yang mendalam di hatinya terhadap wanita, ia menjadi seorang paranoid, dan tidak mau didekati dan mengejar-ngejar wanita lagi. Ia takut cintanya kembali kandas di tengah jalan.

Suatu hari, menjelang petang A Se sedang duduk-duduk sambil melamun di teras balkon rumahnya, ia memulai kebiasan bodoh itu sejak ia putus dari San Cai. Namun, di tengah-tengah lamunannya, tiba-tiba mata A Se menangkap bayangan sebuah mobil Ferrari merah yang merayap masuk ke pekarangan rumahnya. Tentu saja A Se sangat mengenal siapa pemilik mobil mewah itu. Tetapi tidak seharusnya Hua Ce Lei masih di Taiwan sore ini, A Se malah berpikir kalau A Lei sudah ada dalam pesawat yang akan mengantarnya ke Amsterdam saat itu untuk berlibur bersama keluarganya selama dua pekan.

"Lei, Kau tidak jadi berangkat?" tanya A Se saat A Lei berdiri di depannya dan kemudian bersandar pada void balkon.

"Ya begitulah, selalu saja seperti ini. Aku terkadang tidak bisa mengerti kedua orang tuaku sendiri. Padahal mereka sudah membeli tiket untuk tiga orang dan kemarin sore mereka masih begitu bersemangat untuk berangkat. Tapi, mengapa tiba-tiba tadi siang ayahku membatalkannya?" Keluh A Lei dengan nada jengkel.

Meski wajah A Lei kusut dan cemberut seperti itu, tetap saja tidak mengurangi ketampanan A Lei sedikit pun. Bahkan ia malah tambah menarik saja saat merengut seperti itu, setidaknya A Se menilainya demikian. Entah mengapa, tatapan A Se terhadap A Lei berbeda kali ini, ia memandang pemuda tampan itu dengan pandangan yang terkesan aneh selama beberapa saat sampai-sampai A Lei menjadi salah tingkah karenanya.

"A Se, kenapa memandangku seperti itu? Kau seperti mau menerkamku saja!" kata A Lei kemudian. Tiba-tiba Dao Ming Se melompat dari kursinya dan menghampiri A Lei, ia menggelitik temannya itu dan memeluknya dari belakang, tingkah A Se seperti anak kecil saja. Sesaat kemudian ia terbahak-bahak menyaksikan temannya itu mengeliat-geliat karena kegelian.

"Boleh juga, kebetulan aku memang kelaparan nih!" gurau A Se sambil terus menggelitik A Lei.

"A Se, hentikan! Kau seperti anak kecil saja!" pinta A Lei sambil menahan rasa geli karena A Se terus menerus menggelitiknya. A Se menghentikan aksi nakalnya itu, ia mencubit pipi A Lei.

"Iya, sahabatku yang ganteng. Begitu saja marah!"

"Kita ngobrol di kamarku saja, yuk!" ajak A Se kemudian. A Lei mengangguk, mereka memang tidak suka jika nyonya besar (ibu A Se) sampai menguping pembicaraan mereka seperti yang biasa dilakukannya. Entah mengapa di dunia ini masih ada wanita separah itu. Untung saja nyonya besar tak di rumah saat itu, tetapi tetap saja ada tangan kanannya di dalam rumah itu yang harus tetap diwaspadai.

A Lei mengikuti langkah A Se menuju kamar pribadinya yang juga ada di lantai dua rumah besar itu. Begitu keduanya masuk, A Se langsung mengunci pintu kamarnya. Dan beberapa saat kemudian, handphone A Se berbunyi,

"A Se, aku dan Xi Men sedang menuju ke tempatmu!" kata Mi Chuo dengan cepat setelah A Se menerima teleponnya. A Se menoleh, dilihatnya A Lei sudah merebahkan diri di atas kasurnya, seperti biasa, pemuda itu suka sekali tidur. Tetapi kali ini, kembali A Se memandangi tubuh jangkung yang sedang telungkup di atas kasur pegasnya itu dengan tak berkedip, ia memandanginya dengan birahi. A Se memelototi pantat A Lei yang seksi dan berisi itu. Entah kenapa, selama ini ia tidak pernah memperhatikan kalau temannya itu punya fisik yang nyaris sempurna dan menggairahkan. Kemudian A Lei berbalik, melihat ke A Se.

"Kenapa lagi kau, A Se? Kau kesurupan yah?"

"Mungkin!" sahut A Se singkat. Ia melangkah menghampiri A Lei. "Aku memang kesurupan nafsu birahi," kata A Se dalam hati kecilnya.
A Se pun melompat ke atas kasurnya, berbaring di samping A Lei. Kemudian ia mengelus-elus rambut A Lei dan wajah pemuda itu dengan tangannya.

"Lei, kau tampan juga!" puji A Se kemudian. A Lei benar-benar merasa kikuk saat itu.

"Apa-apaan ini? Memangnya kenapa kalau aku tampan? Kau kan juga tampan," sahut A Lei sambil tetap membiarkan jari-jemari A Se merayap di mukanya. Tak disangka, tiba-tiba A Se mendaratkan ciuman bibirnya untuk yang pertama kali di bibir A Lei, ia bahkan melumatnya dengan liar. A Lei mendapatkan serangan semacam itu malah tambah ketagihan, ia pun balas memagut bibir A Se yang sensual itu sambil tangannya menyibak-nyibakkan rambut A Se.

A Lei kemudian menindih tubuh A Se sambil terus berpacu dengan permainan lidahnya. A Lei pun diburu nafsu saat itu, ia berusaha mengimbangi A Se dengan pagutan liarnya. Mereka bergulung-gulung di atas kasur sambil berpagutan satu sama lain, menggelinjang dan mengerang-erang keenakan.

A Se mengusap pipi A Lei, menciumi pipinya yang putih bersih itu, menggigit-gigit kupingnya dengan liar, mengecup lehernya dan hampir seluruh wajah pemuda itu disapu dengan ciumannya yang dahsyat.
A Se benar-benar sudah tidak terkendalikan lagi, ia seperti kuda liar.
Ia menyelusupkan tangannya ke balik t-shirt A Lei, meraba-raba dan meremas-remas kedua puting susu A Lei, sebelum A Se membukanya. A Lei pun tak kalah liar, ia pun membuka kaos dan celana A Se sampai tersisa celana dalamnya saja, kemudian ia menciumi seluruh tubuh A Se yang menggairahkan dengan aroma kejantanannya itu.

A Se memasukkan tangannya ke sela-sela celana A Lei, sampai ke balik celana dalamnya, ia merasakan kalau tangannya saat itu sedang memegang batang kejantanan A Lei yang sedang ereksi penuh itu.

A Se pun tambah penasaran, ia membuka restsleting celana jeans yang dipakai A Lei dan memelorotkannya, A Se hanya menyisakan celana dalam ketat A Lei. Jelas benar di depan mata A Se, kontol A Lei yang telah mengeras dan memadati celana dalam yang dipakainya itu, seakan-akan sudah tak sabar lagi untuk cepat-cepat melesak keluar dari sangkarnya.
A Se mencaplok bagian yang menonjol itu dengan mulutnya, ia menikmati sensasinya untuk beberapa saat lamanya sebelum tangannya menanggalkan celana dalam putih itu.

Begitu celana dalam A Lei ditanggalkan, kontol sepanjang 17 cm itu langsung tegak di depan batang hidung A Se, bergoyang-goyang seperti batang bambu yang tertiup angin. A Se meraihnya dengan tangannya, mengelus-elus dan mencengkeramnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menjelajah meraba-raba paha dan selangkangan A Lei.

A Lei benar-benar sudah tidak lagi mampu menahan kenikmatan yang dirasakannya, apalagi ketika kontolnya itu tenggelam di dalam mulut A Se. A Se menjilatinya dengan lidahnya, menggigit-gigit kulupnya, melumat batangnya dan menghisapnya maju mundur.

"Achh, nikmatnya. Teruskan, A Se!" pinta A Lei dengan manja sambil kedua belah tangannya mencengkeram ujung sprei dan tubuhnya menggeliat naik turun. Membiarkan A Se menikmati kontol A Lei dengan bibirnya. Dao Ming Se tampak sangat lihai memainkannya, sepertinya ia telah berpengalaman. Sementara A Lei masih baru dalam urusan itu, sebelumnya ia tidak pernah mengenal kenikmatan semacam itu.

A Se makin memperkuat hisapannya, ia melumatnya dengan buas dan liar. A Se senang bisa menjadi orang pertama yang bisa menikmati kontol A Lei yang masih perjaka itu, barangkali pacar-pacar A Lei pun belum ada satu pun yang pernah menikmatinya.

A Lei mengerang lebih keras dan sesaat kemudian, A Lei menyemprotkan spermanya beberapa kali di mulut A Se, ketika A Se sedang seru-serunya berpacu melumat dan mengocok kontol A Lei secara bergantian. Muka A Se basah oleh keringat bercampur sperma, membuat A Se tampak lebih seksi di mata A Lei.

A Se menjilati sperma A Lei di seputar mulutnya, dan juga sisa-sisa sperma yang masih menempel di ujung kontol A Lei pun tidak disia-siakannya. A Se sangat menikmati sperma kental perjaka itu, ia malah mencoba untuk merangsang lagi kontol A Lei agar tegak untuk yang kedua kalinya. Tetapi, untuk beberapa saat tidak berhasil, kontol A Lei terkulai lemas seperti keadaan pemiliknya. A Se kemudian merebahkan tubuhnya di sisi A Lei sambil membersihkan sisa-sisa keringat di tubuhnya dengan t-shirt yang dipakainya tadi.

Tiba-tiba A Lei membalikkan badannya, ia menindih badan A Se yang gempal itu. Kemudian A Lei menciumi seluruh badan A Se, menjelajah setiap lekuk tubuh A Se yang seksi itu sambil tangannya memelorotkan celana dalam bergaris hitam yang dipakai A Se.

A Lei kemudian mengocok kontol A Se yang panjangnya sekitar 16 cm itu, lebih kecil sedikit dibandingkan miliknya. Sesekali, A Lei menyelusupkan dan meremas-remas buah pelir dan selangkangan A Se. Tangannya terasa agak geli ketika bergesekan dengan jembut-jembut A Se yang tumbuh lebat itu, tetapi itu menjadi sensasi tersendiri bagi A Lei. Tidak berapa lama setelah menjalankan aksinya, tiba-tiba terdengar pintu kamar A Se diketok. A Se segera bangkit, meraih pakaian sekenanya, dan kemudian berlari ke arah pintu. Sementara itu A Lei masih bertelanjang bulat, telentang di atas kasur sambil memain-mainkan kontolnya sendiri.

A Se mengintip sebentar lewat celah kecil di pintu kamarnya itu sebelum ia membukakan pintu. Ia tahu, pasti yang datang bukan ibunya karena tidak mungkin ibunya pulang secepat ini dari perusahaan, apalagi hari ini ada rapat penting di kantornya itu.

"Xi men dan Mi Chuo datang!" seru A Se dengan suara pelan pada A Lei. A Lei memberi isyarat dengan tangannya, supaya kedua teman gank mereka itu langsung disuruh masuk saja. A Se pun langsung membukakan pintu, tetapi Xi Men dan Mi Chou tidak langsung masuk, mereka tertegun di ambang pintu menyaksikan A Se yang berdiri di balik pintu hanya dengan mengenakan celana dalam saja. A Se pun langsung menarik mereka masuk.

"Kau apa-apaan, A Se?" tanya Mi Chuo sambil memandangi tubuh sahabatnya itu dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya.

"A Lei, kau juga. Apa yang kalian lakukan?" timpal Xi Men tak mengerti sambil menoleh ke arah A Lei dan A Se bergantian. Mi Chuo mendekati A Lei. Ia terangsang juga melihat tubuh putih mulus A Lei yang kini berada di depan matanya tanpa dibalut seutas benang pun, selama ini ia tidak berani mengatakannya pada sahabatnya itu.

"Kami sedang pesta, kalian mau bergabung?" kata A Lei. Mi Chuo mengambil tempat duduk di sisi A Lei, beberapa saat ia memelototi tubuh A Lei dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, terutama kontolnya yang innocent itu.

Tiba-tiba, tanpa dikomando, tangan Mi Chuo mulai merayap di tubuh A Lei, mengusap-usapnya dengan lembut, memegang-megang kontol A Lei dan mengelusnya. Kemudian Mi Chuo merendahkan tubuhnya, memeluk A Lei dan melumat bibir sahabatnya itu. A Lei pun membalasnya dengan permainan lidahnya yang dahsyat itu.

"Xi Men, lepaskan saja pakaianmu!Biar aku bantu!" kata A Se sambil membuka satu per satu kancing baju Xi Men, pemuda itu pun menurut saja, ia tampak seperti orang bodoh saja. Di depan matanya, Mi Chuo dan A Lei sedang menikmati permainannya, dan perlahan pakaian Mi Chuo pun mulai tanggal satu persatu oleh tangan liar A Lei.

Tidak ada pilihan bagi Xi Men kecuali harus ikut telanjang bulat seperti teman-temannya itu meskipun ia merasa agak risih juga ditelanjangi oleh orang lain. Setelah telanjang bulat, A Se memeluk tubuh Xi Men dengan erat, saling merapatkan tubuh mereka dan juga kontol mereka yang sama-sama sedang mencapai puncak ketegangannya itu. Mereka pun saling berpacu dengan nafsu. Kemudian A Se berjongkok di depan Xi Men dan memasukkan kontol sepanjang 18 cm itu ke dalam mulutnya dan menghisapnya,

"Argh!" Xi Men mengerang-erang dan menggeliat menikmati sensasi yang dikerjakan oleh A Se di batang kelelakiannya itu. Ia menggigit-gigit bibir bawahnya, menahan rasa geli dan nikmat.

Mi Chuo makin dahsyat dengan permainannya, Ia membalikkan tubuh A Lei dan menindihnya, kemudian menciumi A Lei dari belakang. Ia menyibakkan rambut A Lei agar bisa mengecup dan melumat leher pemuda itu, dengan gaya vampire-nya. Kemudian turun ke punggung dan ke pantat A Lei yang seksi itu.

Mi Chuo meremas-remas pantat A Lei sebelum ia mendekatkan mukanya dan menjilati liang anus A Lei. Ketika A Lei mengangkangkan kakinya, kesempatan itu dipakai oleh Mi Chuo untuk menjilati dan menciumi seputar selangkangan A Lei dan buah pelirnya, serta kontol A Lei yang terjepit di bawahnya.

Setelah puas dengan ciuman-ciumannya, Mi Chuo menarik badan A Lei sampai pemuda itu nungging di depannya. Mi Chuo meremas-remas kontolnya sendiri dan kemudian mengocoknya. Kemudian ia mencoba memasukkannya ke lubang anus A Lei yang membuka di depannya itu. Ia mengarahkan rudalnya yang 17 cm itu agar tepat di lubang A Lei. Setelah itu, ia mendorong badannya ke depan, seiring dengan tenggelamnya kontol Mi Chuo di dalam lubang anus A Lei.

"Achh!" A Lei kesakitan ketika Mi Chuo memasukkan kontol besarnya itu. Mi Chuo malah tak memperdulikannya. Ia kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur, sehingga kontolnya keluar masuk di lubang anus A Lei. A Lei mengerang kesakitan, namun lama kelamaan ia merasakan kenikmatannya juga. Ia tidak mau membayangkan bagaimana mungkin kontol Mi Chuo sebesar itu bisa menembus lubang anusnya, tetapi yang jelas ia sangat menyukai dan teramat sangat menikmatinya.

Benteng pertahanan kekakuan Xi Men pun lama kelamaan runtuh juga, sikap dinginnya berubah menjadi keganasan. Ia menusukkan batang kejantanannya ke pantat A Se dan kemudian memompanya maju mundur dengan gerakan makin cepat dan liar, sampai spermanya itu tumpah ruah di dalam lubang anus A Se. A Se merasakan lubang anusnya itu terasa basah dan hangat oleh cairan kelelakian Xi Men. Badan Xie Men telah bermandikan keringat, tapi itu tidak lantas membuatnya patah semangat. Ia punya stamina yang sangat tinggi dengan libido yang tak kalah tinggi juga tentunya.

Xie Men mendorong tubuh A Se dan membantingnya ke atas kasur, kemudian menindihnya dan menciumi seluruh tubuh A Se. Permainan Xi Men menarik perhatian Mi Chuo dan A Lei, mereka berdua memandanginya untuk beberapa saat. Kemudian Mi Chuo merangsek perlahan mendekati Xi Men, setelah itu ia menindih lagi tubuh Xi Men dan menciuminya.

Xi Men benar-benar tidak bisa terkontrol lagi, apalagi kini tubuhnya terjepit oleh A Se di bawah dan Mi Chuo di atasnya. A Lei pun tak mau ketinggalan juga, F4 tidak akan lengkap tanpa dirinya. Ia mendekatkan kepalanya ke sela-sela paha A Se, dan kemudian menghisap kontol A Se, dan sesekali diselingi dengan jilatan-jilatannya.

A Lei sebetulnya ingin sekali menikmati kontol Xi Men yang paling besar diantara mereka berempat itu, karena itu begitu Xi Men menelentangkan tubuhnya, A Lei pun langsung menindihkan badannya membelakangi Xi Men.
Xi Men pun mendaratkan kecupan-kecupannya ke punggung A Lei yang ada di atasnya. Kemudian ia membetulkan posisi kontolnya agar tepat di lubang anus A Lei, setelah tepat sasaran, A Lei pun memompa badannya naik turun seiring dengan keluar masuknya kontol Xi Men di pantatnya.

"Argh! Nikmat sekali pantatmu, Lei!" seru Xie Men sambil terus menggoyang A Lei.

F4 pun melewatkan 4 jam terakhir itu dengan mencoba permainan baru mereka itu. Yang jelas, mereka sama-sama puas dan ketagihan. Jadi tidak sampai di situ saja, melainkan mereka seringkali melakukannya, khususnya di rumah A Se ketika sedang tidak ada nyonya besar. Dan itu pulalah, yang membuat mereka berempat makin kompak dan makin lengket saja.

*****

Kirimkan atensi dan biodata kalian ke email-ku di bawah jika kalian mau yang lebih dahsyat lagi. Maaf, hanya email yang berisi biodata yang aku balas. Thanks for your attention.

kotaro_bee@yahoo.com

F B I - 3

Aku senang dengan cara Budi menatapku. Sorot matanya mengobarkan gelora asmara yang menggebu. Ketika itu wajahnya terlihat sangat "Mupeng" atau "muka pengen". Pengaruhnya sangat dahsyat sehingga membuatku tak kuasa berpaling dari pandangannya dan membuatku ingin berbuat lebih jauh. Tanpa ragu segera kupagut bongkah bibir Budi yang merekah yang segera dibalasnya dengan juluran lidah yang menyapu langit-langit mulutku. Kutangkap ujung lidahnya dan kuhisap serta kukulum dengan penuh kelembutan.

Tangan Budi melingkar di pundakku. Dengus dan kecipak suara pagutan bibir saling bersahutan. Aku menelusuri leher dan belakang telinga Budi, membuatnya menggelinjang dan terengah. Tangan Budi pun tak kurang akal bergerilya di sekujur tubuhku, seraya mencoba melepas pakaian dan celana yang masih melekat di tubuhku. Ada rasa kegelian ketika belaian jemarinya singgah di lekuk tubuhku.

Bagai serigala lapar tangannya menyelinap mencoba melepas ikat pinggang yang kukenakan. Akhirnya, ikatan itupun terlepas, setelah kurasakan tangan Budi menggamit batang kemaluanku yang sudah membengkak. Aku menghentikan cumbuan itu. Melepas kemeja dan celana panjang yang masih melekat ditubuh. Tidak beberapa lama aku sudah naked atau bugil atau telanjang bulat. Kulihat Budi tertegun menyaksikan batang kemaluanku yang sudah menegang. Kepala penisku, dengan warna merah keunguan mengkilat, menyembul keluar sempurna dari kulit kulup kemaluanku yang tidak disunat.

Aku merasa kegelian ketika Budi menggesek-gesekan ujung kemaluanku ke rongga hidungnya. Kumisnya menyentuh leher penisku. Tangannya mencoba menarik kulit kulupku agar menutup kepala penisku. Tapi tidak bisa lagi. Sebab aku sudah dalam puncak ereksi. Budi tertawa. Aku cuma tersenyum menyaksikan sikapnya yang bagaikan anak kecil mendapatkan mainan baru. Jemari Budi mengurai pubicku dan kemudian membenamkan wajahnya dikerimbunan pubic itu. Terasa olehku, tangan Budi meraba dan meremas bongkah pantatku yang gempal.

Aku membalik badan. Dengan setengah membungkuk kusodorkan bongkah pantatku ke arahnya. Kurasakan bulu kumis Budi digesek-gesekan ke kulit pantatku. Jemarinya terasa mencoba menguak asshole ku yang masih tersembunyi. Aku bergerak sedikit mengangkang agar Budi mudah mencapai sesuatu yang ia cari. Tidak lama aku sudah merasakan hangatnya ujung lidahnya bermain di seputar rectumku. Aku melenguh nikmat. Begitu pula ketika kumisnya digesek-gesekan di assholeku. Aku mendesah dan semakin resah. Aku membalikkan tubuh lagi lagi. Kupagut kembali bibir Budi. Kucari-cari lidahnya yang tadi liar menggelitik rectum. Kuhisap dengan kuat lidah itu hingga membuat Budi tersengal. Kulirik ke bawah, terlihat kepala penis Budi telah menyembul dari dalam G string yang masih dipakainya. Dengan sekali sentakan Aku berhasil mengeluarkan batang kemaluan dan scrotum Budi.

Celana sudah merosot ke bawah. Namun masih belum terlepas. Akhirnya dengan beberapa gerakan Budi berhasil melepaskan celana tersebut. Sehingga kini leluasa bergerak. Budi kini bugil pula. Sama seperti diriku yang juga sudah bugil. Tak ada sehelai benangpun yang melekat. Kupandang lekat mata Budi. Ada pendar keinginan persetubuhan yang memancar. Ia tersenyum ke arahku. Ada dekik yang timbul karena senyumnya itu. Membuat makin manis dan menawan.

Kudorong tubuhnya ke arah dinding dan kuangkat sebelah tangannya ke atas. Terlihat deretan hitam lebat bulu ketiaknya tersibak dari pangkal lengannya. Perlahan kusorongkan hidungku mengendus aroma sensualnya. Aku merasa suka dengan apa yang dimiliki Budi, soft dan alami. Tidak membuatku puyeng karena bau tubuhnya yang keras yang campur aduk dengan wewangian massal. Kusapu bawah lengannya itu dengan ujung lidahku yang basah. Membuatnya menggelinjang kegelian. Kutelusuri lehernya yang jenjang sampai berakhir di keranuman bongkah bibirnya. Kami saling pagut lagi, yang menimbulkan suara decak dan kecipak.

Budi memintaku menungging lagi. Dan segera kurasakan kembali lidahnya bergerilya di muara pelepasanku. Aku menggigit bibirku sendiri, menahan sensasi kenikmatan yang kurasa mengaliri sekujur tubuku. Kemudian juga kurasakan jemari tangan Budi membelai batang kemaluanku yang memang sudah membengkak. Kulihat ia ingin melakukan blow job namun seperti ragu.
"Sudah kucuci bersih kok, dijamin gak ada smegma-nya". Ujarku sambil tertawa.
Aku memakluminya, karena pada batang kemaluan yang tidak disunat, umumnya, jika tidak sering dibersihkan, selalu menyisakan timbunan putih – smegma – berbau tak sedap. Membilas ujung kulup saja tidak cukup. Sebab endapan air seni dapat menggumpal bersatu dengan kotoran lain, sehingga menimbulkan aroma yang tidak enak. Jauh dari kesan merangsang. Bisa jadi malah akan membuat seseorang menjadi merasa mual.

Karena itu, aku selalu mencuci tidak hanya kulit kulupku, tapi juga kepala penisku. Dengan cara menarik kebelakang ujung kulit kulup. Sampai kepalanya tersembul keluar. Selanjutnya membilas kepala dan lingkar leher penis yang biasa dijadikan tempat smegma berkumpul. Memang agak repot. Tapi aku tidak punya pilihan demi untuk menjaga sanitasi kemaluanku sendiri.

Belum selesai aku tertawa, Budi sudah melumat habis penisku. Tawaku segera berganti dengan erangan dan desahan nikmat. Aku melihat Budi bersemangat sekali melahap kemaluanku. Sesekali dipadanginya lagi kemaluanku. Ia seperti keheranan menyaksikan kemaluan yang tidak disunat.

Sambil melahap batang kemaluanku aku merasakan jemari Budi merayap di sela-sela bongkah pantatku. Aku segera merentangkan kaki agar Budi mudah menggapai yang dicari.Aku mulai merasa ujung jari Budi menggelitik lingkar rectumku. Tentu saja, memberikan gairah rangsang yang berbeda.

Aku juga melihat Budi memasukan ujung jarinya ke mulutnya. Ia membasahi jari tersebut dan kemudian memasukkan jari itu ke lubang duburku. Aku menggelinjang kegelian ketika jemarinya bergoyang samba di dalam tubuhku. Budi terenyum manis padaku. Kupegang pundak Budi dan kukecup ujung bibirnya. Budi membuka mulutnya seraya menjulurkan lidahnya yang segera kusambut dengan juluran lidahku. Lidah kami saling berbelit. Tangan kami saling meremas.

Pagutanku merambah turun ke bawah. Sampai ke batas pusar dan terus bermain hingga kemudian singgah di pangkal kemaluannya yang telah menegang itu.Kuamati batang kemaluan Budi yang berukuran 15/4 tegak menyeruak dari kelebatan pubicnya yang legam. Lumayan. Ada titik precum di ujung penisnya. Kujilat. Terasa asin dan gurih.

Segera kubenamkan wajahku di selangkangannya seraya mengulum habis batang kemaluan Budi. Dari mulut Budi hanya terdengar erangan dan desahan nafas yang memburu. Kurasakan jemari tangan Budi membelai kepala dan pundakku. Menambah gairahku memberi blow job untuk Budi. Sampai akhirnya, Budi menekan kepalaku dalam-dalam sehingga aku sempat tersedak oleh bongkah kepala kemaluannya yang menggelepar memuntahkan air kehidupan. Gurih, wangi daun pandan, serta sedikit ada campuran rasa manis dan asin, memenuhi rongga mulutku. Budi tersenyum. Terlihat bulir-bulir peluh di keningnya. Aku mengambil tissue dan kuusap dengan lembut.
"Terima kasih, Pras", kata Budi

Kemaluanku masih tegang seperti tadi. Penisku menyeruak dari kulit kulup. Merah mengkilat dengan lubang ureter yang seperti nganga. Budi bersimpuh. Jemarinya mengelus batang kemaluan dan bongkah buah zakarku. Ujung lidah Budi mengelitik lubang yang ada di ujung penisku. Aku menggeliat menahan sensasi rasa kegelian yang nikmat.

Kehangatan yang kudamba tiba saat Budi mulai menimbultenggelam kan batang kemaluanku ke dalam rongga mulutnya. Lidahnya terasa liar menelanjangi kemaluanku. Sepertinya aku tidak punya waktu lagi untuk bernafas dan bicara. Aku hanya mampu melenguh, mendesah, dan menggelinjang. Mencoba meredam bunyi kecipak blowjob dari bibir Budi. Tapi tak bisa. Malah paduan suara itu bagaikan dendang lagu asmara.

Sementara kurasakan jemari Budi berkejaran seperti mengobarkan titik-titik sensasi dalam tubuhku. Aku seperti terpanggang dalam gejolak panasnya api cinta. Kodorong Budi ke arah depan sehingga batang kemaluanku terlepas dari pagutannya. Kuajak Budi pindah tempat. Karena di kamar mandi itu aku tidak merasa nyaman. Dengan tetap berciuman kami berjalan ke arah tempat tidur. Bagaikan pasangan Adam dan Adam (bukan Eva) kami berasyik masuk memadu cinta.

Di atas ranjang, kami bergelut melakukan body contact, saling menghimpit dan menggesekan batang kemaluan yang menegang. Ada geletar sensasi dan bunyi gemerisik ketika pubic kami saling bercengkerama menjalin asmara sejenis.
Kurasakan kemaluan Budi sudah menegang kembali. Ternyata benar juga, hipotesaku, apabila birahi telah membara, penuntasannya tidak harus dengan gender yang berbeda. Dengan sesama jenispun ternyata oke juga.

Mengayuh bahtera syahwat menuju perhentian. Kugapai tube KY vaginal lubricant dari atas meja toilet. Aku tekan untuk mengeluarkan isinya. Dan segera kuoleskan merata ke kepala dan batang kemaluan Budi. Selebihnya ke permukaan rectumku. Aku merunduk dan membiarkan bongkah pantatku menghadap ke atas (doggy style). Dengan cara ini penetrasi penis bisa lebih mudah dan dalam. Dan benar, Tanpa kesulitan Budi sudah berhasil menjelajah relung tubuhku yang paling dalam. KY mempermudah goyang ngebor Budi. Sambil mencabutbenamkan kemaluannya di tubuhku, kudengar Budi meracau.

Aku juga tak kalah heboh bergoyang seperti permintaannya. Apalagi ketika kurasakan lidah Budi menjelajah punggungku. Sensasinya menjadi semakin luar biasa. Sampai kemudian tiba-tiba Budi mencengkeram erat pundakku. Dan kurasakan di dalam tubuhku ada sesuatu tersembur deras seperti pancaran air dari selang brandwir (pemadam kebakaran). Budi lunglai dengan peluh bersimbah disekujur tubuhnya.

Budi berbaring terlentang. Tersenyum. Aku menghampiri dan menggigit lembut putingnya. Budi menggelinjang. Tangannya mencoba mengapai kemaluanku. Segera kusodorkan ke mulutnya dan ia segera melumatnya. Tapi dengan posisi ini aku merasa lelah. Aku merubah posisi dengan berbaring. Budi bangkit dan kemudian membungkuk mengelamoti kemaluanku. Tidak berapa lama aku merasa harus sampai pada suatu titik perhentian.

Bagai kapal oleng tubuhku menggeletar memuntahkan cairan sperma di mulut Budi. Ia menjilatiya hingga tandas. Tiada bersisa. Budi kemudian memelukku. Kudengar bisikan nya di telingaku.
"Terima kasih, ya. IF benar, kau memang hebat"
Dengan masih tidak berbusana kami tidur saling berpelukan. Aku ingat film teletubbies. Tinky winky dan Po Berpelukan!

"Ting-tong".
Terdengar suara bel pintu. Aku beringsut berdiri dan meraih kemeja gombrong di kursi. Sambil memakainya aku menuju ke lubang intip, melihat siapa yang datang. Oh, ternyata IF. Sehingga aku tidak perlu tergesa-gesa memakai celana. Hanya dengan memakai kemeja gombrong yang dapat menutupi kemaluanku yang menjuntai, aku membukakan IF pintu. IF tersenyum menggodaku.
"Bagaimana, beres kan?", katanya sambil memicingkan sebelah mata.
"Nanti malam kita three some-an ya", lanjutnya kemudian.
"Siplah..", teriak Budi dari balik selimut.
"Jadi ini yang kau maksud dengan FBI", kataku kepada IF.
"Iya. Kenapa? Kau menyesal?"
Dengan pura-pura berwajah masam, marah dan bersungut-sungut aku mendekati IF. Dan secara tiba-tiba aku mendaratkan kecupan lembut di bibirnya.
"Dasar lu!", IF memekik dan kemudian kami semua tertawa terbahak-bahak.

*****

Aku menghela nafas lega. Akhirnya selesai juga cerita ini. Dan aku harus segera menghubungi sahabat baruku, Darma. Kawannya, seorang sutradara muda ibukota, membuka casting untuk pemeran cerita barunya. Kabarnya, dia sudah hampir putus asa mencari pemain yang bersedia melakukan adegan cinta sejenis. Siapa tahu, aku bisa terpilih, apabila mengikuti casting-nya.

F B I - 2

Akhirnya terasa olehku, batang kemaluan Hari mulai meregang dan berubah menjadi semakin besar dan panjang. Dari semula tergantung lemah menjuntai menjadi tegak kokoh bersalur urat. Pada saat yang sama sayup-sayup telingaku menangkap bunyi lenguhan dan desahan keluar dari bibir Hari. Dilatarbelakangi desah suara Hari, suara dengkur teman-teman dan bunyi jengkerik di kejauhan, aku semakin bersemangat memajumundurkan wajahku ke arah selangkangan nya, seraya tanganku bergantian meremas-remas bulu pubicnya dan mengelus scrotum-nya. Terkadang ujung jariku meluncur ke tepi asshole-nya. Bercengkerama dengan helai pubic yang tumbuh terserak disekitarnya.

Mulutku mulai penuh sesak oleh batang penisnya yang terasa semakin besar, panjang dan mengembang. Sesekali aku merasa seperti tersedak ketika ujung kepala penisnya menyentuh pintu tenggorakanku. Akhirnya aku seperti mendapat sambutan ketika kurasakan tubuh Hari bergerak-gerak. Ia mulai memutargoyangkan pinggulnya kearahku, seraya tangannya mengelus dan meremas-remas rambut kepalaku. Membuat koreografi senggama seirama dengan bunyi orkestrasi desah dan lenguhan kenikmatan yang keluar dari bibir Hari.

Puncak keterkejutanku ketika aku merasakan tubuh Hari tiba-tiba mengejang dengan sebelah kakinya merangkul erat pundakku. Batang kemaluannya terasa meronta dan menggelepar-gelepar di ronga mulutku. Hingga kemudian kurasakan ada sesesuatu terpancar deras menerobos masuk ke dalam kerongkongan. Terasa gurih, sedikit asin dan beraroma wangi daun pandan. Terus tanpa henti aku hisap hingga tandas tiada bersisa.

Setelah itu, berangsur kurasakan rangkulan kaki Hari mulai melemah. Demikian pula dengan batang dan kepala penisnya yang mulai melentur di rongga mulutku. Perlahan aku keluarkan penis itu. Meski ukurannya mengecil namun masih menampakan keindahan dan keseksiannya. Aku mendongak ke arahnya. Ternyata mata Hari masih terpejam.

Perlahan aku pindahkan sebelah kakinya yang semula menindih tubuhku. Dengan hati-hati, aku mengikat kembali tali simpul celananya. Setelah itu aku meluruskan kembali tubuhku, yang tadi agak kutekuk, setengah meringkuk.

Ku toleh lagi Hari. Ia masih mendengkur dan terpejam. Kulihat ada gurat senyum singgah di bibirnya. Kulihat juga teman-taman yang lain. Sama saja. Mereka semua masih terlelap. Di luar tenda suara jangkerik masih juga terdengar bersahutan dengan suara dengkur teman-teman. Aku memejamkan mata. Tidur.

*****

Dibantu oleh IF, aku mengencangkan seatbelt. Aku sangat canggung. Karena inilah saatmula aku bepergian naik pesawat terbang. Awalnya, IF hanya memintaku mengantarkannya ke airport. Dia mendapat tugas kantornya ke Bali. Aku juga tahu kalau IF sering melakukan perjalanan dinas ke daerah. Tidak seperti biasanya pergi sendiri, kali ini, entah ada angin apa tiba-tiba saja ia memintaku mengantarkannya.

Aku tidak mempersoalkan lebih jauh. Aku tidak keberatan untuk mengantarnya. Toch, aku juga sedang tidak ada kesibukan. Setelah mandi dan berpakaian. Kami segera berangkat ke bandara. Turun dari bis Damri yang membawa kami ke bandara IF memintaku menanti di kursi tunggu. Sementara ia menuju ke chek in counter. Jujur saja, pertamakali pula aku masuk ke dalam airport. Sehingga aku tidak tahu sama sekali kalau menjelang suatu penerbangan ada prosedur yang dinamakan chek in sebelum akhirnya boarding dan kemudian take off.

"Nah, sebentar kan nunggunya?", kata IF seraya mengacungkan kartu boarding-nya ke arahku.
"Kita ngobrol di dalam saja ya? Aku bete duduk sendirian" lanjut IF kemudian.
"Terserah. Buatku menunggu di d luar atau di dalam sama saja kok".

Aku sama sekali tidak mengira kalau ini merupakan awal dari pengalamanku naik pesawat terbang. Aku hanya mengekor IF yang berjalan mendahuluiku. Di pintu masuk kulihat ia berbicara kepada petugas security seraya menunjukan lembar kertas boarding yang dipegangnya. IF meletakkan handbag-nya di atas ban berjalan yang menuju ke kotak X ray. Kemudian berjalan menuju pintu metal detector. Aku mengikuti saja apa yang dilakukan IF, Berjalan melalui pintu yang sama.
"IF, nanti aku keluarnya bagaimana dong? Kok aku harus ikut masuk?", aku bertanya kepada IF.
Aku cemas. Pasalnya, suasana airport sungguh asing buatku.
"Ngapain lagi takut. Udah deh, gampang kok. Kamu tidak buta huruf kan? Baca tulisan-tulisan itu. Pulang lewat pintu kita masuk tadi" Jawab IF seraya menunjuk tulisan pada papan informasi.
Kemudian ia menggamit lenganku. Menenangkan diriku.

Sampai di sini aku masih tidak menaruh kecurigaan terhadap IF bahwa, ternyata, aku akan di ajak bepergian naik pesawat terbang. Sebab ia tidak pernah menceritakan rencana ini sebelumnya. Aku hanya mengira setelah IF naik ke pesawat maka aku keluar ruangan tunggu dan pulang. Selesai. Sama halnya seperti ketika mengantar pakde dan bude pergi naik kereta api atau bis kota. Aku baru sadar bahwa ini bukan main-main atau bercanda ketika IF tiba-tiba memintaku mengikutinya untuk boarding seraya menunjukan kartu boarding atas namaku, menyusul pengumuman yang diberikan oleh ground staff airline.

Aku kaget. Betapa tidak. Aku tidak punya persiapan untuk pergi jauh. Apalagi ikut bersamanya ke Bali. Naik pesawat lagi. Aku samasekali tidak membawa bekal apapun kecuali pakaian yang melekat ditubuhku dan sedikit uang serta kartu pengenal di dompet. Bahkan pamit kepada orangtuaku pun tidak. Bali dan naik pesawat adalah sesuatu yang asing bagiku.
"Gila kau IF, aku kan tidak membawa bekal apapun. Pakaian ganti, uang, serta belum pamit kepada keluargaku", kataku sambil bersungut-sungut.
"Forgive me please. Nanti setelah sampai Denpasar kau telpon mami. Katakan saja, kau tidak langsung pulang tapi main ke tempat teman. Nanti malam telpon lagi, bilang kalau hujan deras. Jadi tidak bisa pulang. Diminta bermalam, dan besok pulang, ok? Gitu aja kok repot", jawab IF.
"Mengenai pakaian ganti dan lain-lain, aku sudah mempersiapkannya untukmu", lanjutnya kemudian.

Perasaan panik, galau, dan senang berbaur jadi satu. Belum sampai aku mengeluarkan pernyataan kesetujuanku, IF terus saja menarik lenganku berjalan ke arah lorong garbarata yang menghubungkan ruang tunggu dengan perut pesawat. Tanpa punya pilihan lain, akhirnya aku berjalan membuntutinya menuju ke pesawat Boeing 737-400.

Di depan pintu masuk pesawat cabin crew berdiri menyambut penumpang. Make a greeting and small chat with passegers. Aku menebarkan pandangan ke arah barisan kursi yang berjajar rapi. Di boarding pass aku tadi sekilas melihat kalau nomor kursinya 13 A dan 13 B. Semoga saja bukan angka sial.

*****

"..cabin crew.., take off position..", suara dari captain pilot itu menyadarkanku bahwa beberapa saat lagi pesawat akan segera melesat ke udara. Getar dan raungan deru mesin pesawat menembus gendang telingaku. Aku mencengkeram erat paha IF sambil ekor mataku melirik ke luar jendela. Sampai kemudian terasa pesawat sudah melepaskan pijakannya di darat dan sekarang mengudara.

Terbang yang pertamakali memberikan kenangan yang campur aduk. Aku sungguh takut ketika pesawat mengalami turbulance. Aku mencoba mengingat-ingat petunjuk keselamatan penerbangan yang tadi diperagakan cabin crew menjelang lepas landas, namun semua ingatanku lenyap.

Aku hanya berdoa dan berdoa seraya sebelah tanganku mencengkeram erat paha IF. Andai terjadi sesuatu ialah penyebabnya. Dengan cemas kulirik IF. Ia malah tersenyum. Aku menyumpah-nyumpah dalam hati.
"Awas ya, ngerjain aku. Tunggu pembalasanku"
Meskipun IF mencoba membujukku untuk melihat kota Denpasar dari ketinggian menjelang pendaratan aku tidak menghiraukannya. Aku masih takut.

"Penumpang yang terhomat, selamat datang di bandara Ngurah Rai, Bali. Saat ini waktu menunjukan tepat pukul 08.15..", suara pramugari meyakinkanku bahwa penerbangan memang telah berakhir.
Aku menghela nafas panjang. Lega. Kutoleh IF. Ia masih tersenyum. Dengan sekuat tenaga kutonjok lengannya.
"Auw..", IF berteriak seraya meringis.
Membuat penumpang lain menoleh ke arah kami. Sadar dengan peristiwa embarrassing tadi kami berdua tersenyum bersama seolah mengatakan kepada mereka semua there is nothing happened.

*****

"Nah, ini Budi yang pernah kuceritakan padamu", kata IF memperkenalkan seseorang yang datang ke kamar hotel tempat kami menginap di Bali.
"Sementara aku pergi, Budi akan menemanimu, ok?"
"Hai, apa kabar?", Budi tersenyum seraya menjabat tanganku.
Aku hampir lupa membalas tegur sapanya. Aku terpesona oleh ketampanan wajahnya dan bentuk tubuhnya yang proposional. Budi rupanya cukup mengerti dengan situasi yang dihadapinya. Ia langsung duduk tanpa menanti lagi jawabanku atas tegursapanya itu.

"IF sudah menceritakan tentang rencana kehadiranmu ini", Budi membuka pembicaraan sambil beringsut ke arahku.
"Bagaimana penerbangannya tadi? Aman-aman aja kan?" Budi melanjutkan pembicaraannya.
"Ya, namun aku agak cemas tadi. Apalagi, sejujurnya, ini adalah penerbangan yang pertama kalinya buatku. Untungnya aku tidak punya phobia terhadap ketinggian. Jika ya, mungkin saja aku masih pingsan atau bisa jadi lebih dari itu. Brengsek benar IF, ngajak pergi tanpa bilang-bilang", rentetan kalimat itu tiba-tiba saja meluncur deras dari mulutku. Seolah aku hendak mengadukan IF kepada Budi.
"Sstt.., sudahlah jangan marah pada IF, tapi marahlah padaku. Sebab akulah yang meminta IF agar merahasiakan hal ini kepadamu."

Pada saat itu aku langsung tahu, mungkin, inilah rencana FBI yang dikatakan IF tempo hari. Mempertemukanku dengan seseorang yang sangat menginginkan petualangan asmara sejenis. Dari penjelasan IF dahulu, aku tahu kalau Budi ingin merasakan blow job/fellatio/nyepong/ngenyot batang kemaluanku merasakan pula bagaimana rasanya di perlakukan sama olehku. Selama ini, ia hanya punya pengalaman dengan IF saja, dan tidak dengan yang lain.

Kenapa harus dengan aku dan tidak dengan yang lain? Belakangan aku baru tahu kalau IF ingin sharing pengalaman bersama Budi. Untungnya, Budi masih termasuk dalam tipe idealku, sehingga aku tidak cukup punya alasan untuk menolak atau complain terhadap IF. Aku malah bersyukur akan mendapat pengalaman main dengan Budi.

Dari bathroom kudengar Budi memanggil namaku. Aku bergegas menghampiri nya. Ketika pintu terbuka, terlihat Budi hanya tinggal mengenakan G strings merek Homme yang ketat melekat di pinggangya. Seksi sekali penampakannya. Terlihat juga helai bulu pubicnya tersembul dari sela-sela pahanya. Tidak muat lagi tertampung dalam secarik kain kecil penutup kemaluan.

"Mandi bareng, yuk?", kata Budi sambil mematikan kran air panas yang mengisi bath tub.
"Ehm, boleh", sahutku sambil beranjak masuk ke dalam. Baru beberapa langkah aku berjalan, dengan tiba-tiba Budi telah berbalik arah menyergapku.
Aku hampir jatuh karena terkejut dan, terus terang, aku sungguh kaget, dengan serangan yang mendadak itu. Namun dengan refleks, Budi menarik tubuhku sehingga aku terengkuh dalam pelukannya.

F B I - 1

Akhirnya kuputuskan menerima tawaran itu. Setelah aku yakin bahwa ini tidak akan ada hubungan sama sekali dengan sepak terjang dinas rahasia kelas dunia, Federal Beurau Investigation (FBI). Walaupun kutahu, aktifitas yang akan dilakukan, sebenarnya, termasuk dalam klasifikasi confidencial atau rahasia.

Dari penjelasan IF, aku jadi tahu kalau, yang dimaksud dengan FBI adalah kependekan dari Fun By Intimacy. Artinya, mendapat kesenangan melalui hubungan intim. Tidak harus dengan lain jenis. Dengan yang sejenis pun juga oke. Asal saja tahu caranya. Sebab, tujuan akhir dari hubungan intim adalah pelepasan ketegangan seks yang menggebu. Siapa bilang berhubungan seks sejenis tidak bisa mendapatkan kepuasan atau orgasme?

FBI dapat juga diartikan Fasih Berhubungan Intim. Komitmen dari FBI adalah hubungan yang terjadi bukan karena pemaksaan atau mengharap bayaran. Namun dengan suka rela. Hanya karena ingin berpetualang dan mendapat kesenangan birahi semata. Jika setelah itu, ada sejumlah materi yang didapat, itu bukanlah sebagai bentuk bayaran. Namun, lebih merupakan tanda kasih dan apresiasi. Tidak lebih dan tidak kurang. Fun Fun Fun. Everything is just for fun. That's all. Never think about sin or religy. It will make us does not have any choice but leave it.

Apalagi, nanti, aku hanya sekadar menikmati cumbuan dan layanan cinta, yang ujung-ujungnya, toch, hanya sebagai penyaluran hasrat seks semata. Kalau sudah ngebet begini, lelaki dan perempuan tidak ada lagi bedanya. Apalagi, ketika hasrat sudah merasuk sukma dan geliat birahi menginginkan penyelesaian. Bisa dalam bentuk persetubuhan (body contact), saling masturbasi ataupun orogenital intercourse. Ejakulasi adalah pamungkas ritus senggama.

Kapan pelaksanaannya. Aku masih tidak tahu. Karena akan diberitahu kemudian. Namun, aku sudah berpesan pada IF, agar kerahasianku di jaga. Aku tidak ingin orang lain tahu. Kalau aku pernah nerima tawaran "main" dengan sesama lelaki. Malu lagi (Aku juga masih punya sekadar rasa malu untuk mengekspose "penyimpangan" kecenderungan seksual. Terserah orang mau bilang apa tentang aku. Munafik juga boleh).

Menanggapi permintaan yang kuajukan, IF tidak menjawab selain menganggukan kepala seraya menepuk-nepuk pundakku. Bagiku, isyarat itu sudah lebih dari cukup, sebagai ungkapan kesetujuan IF terhadapku.

Aku sendiri, tidak munafik, memang punya dorongan kebutuhan seks yang besar. Apalagi di usiaku yang muda ini. Betapa, sebenarnya, aku juga lelah melakukan perangsangan artifisial dengan onani atau masturbasi yang, sebenarnya, hanya sekadar untuk menyalurkan hasrat seks yang menggebu.

Sementara untuk melakukannya dengan pelacur. Terus terang, aku tidak punya nyali dan uang untuk membayar. Uang saku yang kudapat hanya cukup untuk transpot dan sekadar jajan makan siang di kantin. Lagipula yang akan aku jalani nanti tidak terlalu asing-asing benar buatku. Aku sudah pernah mengalaminya dahulu.

Dan IF berani menawariku untuk FBI juga bukan tanpa alasan. Setelah ia sempat pada suatu ketika memergokiku sedang masturbasi di kamar. Saat itu, sebenarnya, ia hendak bertandang saja. Katanya ia sedang "bete" sehingga kemudian ia singgah ke tempat kost-ku.

"Lho, kenapa ngloco? Sayang kan, membuang-buang peju-mu dan apakah kamu juga tidak capai dengan 'kerja bakti' seperti itu?", Teguran IF sempat membuat wajahku pucat pasi.
Menahan malu. Ketika tanpa setahuku, IF sudah masuk dan berada dalam kamarku yang kebetulan lupa aku kunci.
"Kemari biar kubantu dirimu", lanjut IF seraya menghampiri diriku.
Belum hilang keterkejutanku, IF sudah jongkok dan tangannya meraih batang kemaluanku yang masih menegang.

Tanpa dikomando lagi, mulutnya segera menguliti kepala penisku dan menenggelamkannya dalam lautan kenikmatan. Tubuhku bergetar merasakan gesekan sensasi persetubuhan yang terjadi antara ujung kemaluanku dengan bibir dan lidah IF. Beda sekali dengan sensasi yang kurasa sebelumnya, nikmatnya gesekan antara tanganku dengan batang kemaluan.

Mengimbangi pagutan IF pada batang kemaluanku, jemari tanganku segera menjelajahi lekuk tubuh seraya meremas-remas kedua puting susuku. Sementara kepala IF terus bergerak maju mundur ke arah selangkanganku, mencabut-benamkan batang penisku ke ronga mulutnya yang hangat. Gerakan lidahnya terasa liar menggelitik kepala penisku. Memberikan efek perpaduan rasa senut-senut, linu dan kegelian, yang nikmat.

Aku memejamkan mata menikmati perjalanan mengayuh birahi. Sampai akhirnya, aku sampai ke titik pendakian. Tubuhku menggeletar. Jemari tanganku mengepal dan kakiku terasa kejang. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Sambil melenguh panjang kupancarkan keluar puncak hasrat kelakianku yang tumpah ruah ke dalam mulut IF. Aku ingat, saat itu, IF sempat terbatuk-batuk. Tersedak oleh batang kemaluanku yang menggelepar memuntahkan lahar asmara.

Asli, aku sama sekali tidak menyangka apabila, IF, ternyata mempunyai kecenderungan yang sama denganku. Senang juga mencumbu sesama lelaki. Padahal, penampilannya sehari-hari, sama sekali tidak mengesankan demikian. Biasa saja, seperti stereotype kaum lelaki pada umumnya. Jantan dan sangat maskulin. Sampai akhirnya terjadi peristiwa di atas. Barangkali, inilah, yang kumaksud dengan kemunafikan. Diakui atau tidak, agaknya memang ada penganut aliran kemunafikan seperti ini di dalam masyarakat kita.

Aku juga ingat, pengalaman pertamakali melakukan orogenital intercourse/fellatio/nyepong/ngenyot atau mengelomoti kemaluan lelaki. Saat itu, aku masih di kelas 1 SMA. Ketika sedang melakukan perkemahan dalam rangka inisiasi. Korbannya, batang kemaluan Hari, kakak kelasku. Usai bernyanyi-nyanyi dalam acara api unggun, kami segera masuk ke dalam tenda. Tidur saling berhimpitan. Isi tenda penuh. Aku kebagian tempat untuk tidur di dekat pintu ke luar. Di sampingku ada Hari.

Aku belum pernah berkemah, atau tidur jauh dari orang tua. Sehingga aku jadi sulit tidur. Saat teman-teman yang lain sudah mendengkur, aku masih belum dapat memicingkan mata. Telingaku masih dapat membedakan suara dengkur teman-teman yang saling bersahutan.

Malam semakin larut. Dingin pun datang menelusup. Mataku tetap tidak dapat terpejam. Aku gelisah menoleh ke kiri dan ke kanan. Terlihat semua teman sudah terlelap. Tidur. Saat berpaling pandang ke arah Hari, yang tidur miring, tak sengaja dikeremangan cahaya malam, ekor mataku menangkap sesuatu menyembul dari balik celana gombrang batik yang dikenakannya.

Diamati dari kontur dan tekstur yang ditimbulkannya, aku yakin benar saat itu Hari sedang tidak memakai celana dalam. Terlihat bayangan kepala dan batang kemaluannya tercetak besar bagai gambar timbul. Pada saat yang sama, entah mengapa tiba-tiba dadaku menjadi berdegup keras. Ada rasa aneh mendesir dan menyelinap membelenggu diri. Gabungan dari aneka rasa keinginan untuk melihat, menyentuh, mengusap, mencium, dan mengulum. Berbaur menjadi satu.
Karena tidak tahan lagi menahan hasrat dan godaan (the desire and temptation) akhirnya, kuberanikan diri untuk perlahan mengusapnya.

"Oh.. my God", suaraku serasa tersekat dalam kerongkongan yang mulai terasa kering.
Aku merasa bagai tersengat arus listrik tegangan tinggi. Ada sensasi aneh kurasakan ketika ujung jemariku menyentuh sesuatu yang masih tersembunyi itu. Kulirik kelopak mata Hari, yang ternyata masih tetap terpejam. Bunyi hembusan nafasnya juga masih terdengar teratur. Artinya, dia tidak tahu dengan yang baru saja kulakukan.

Aku semakin berani. Setelah menghirup nafas panjang, dengan gerak perlahan kubuka tali pengikat celananya yang terjulur ke luar. Agar mudah bergerak, aku sedikit beringsut ke arah bawah. Akhirnya, aku berhasil membuka keseluruhan tali simpul pengikat celana gombrongnya.

Kembali aku mengatur helaan nafasku yang mulai terasa sesak. Sesekali aku menoleh ke kiri dan kanan, memastikan keadaan aman dan terkendali. Terlihat olehku semua masih tetap terlelap. Perlahan jemariku menyelinap dan merayap ke balik celana itu. Indra perabaku menyentuh sesuatu yang sudah tidak asing lagi buatku. Timbunan helai-helai rambut yang bergelombang dan terasa agak kasar.

Aku penasaran untuk melihat lebih jelas sesuatu yang masih tersembunyi. Lalu kusibakan tepi celana yang sudah tak terikat lagi itu. Amboi, terlihat pemandangan yang teramat indah di dalamnya. Kemaluan Hari seolah menyembul dari rerimbunan rambut kemaluan yang ikal dan lebat itu, menjulur ke bawah bagai belalai gajah. Aku menelan ludah. Menekan dengus nafasku yang mulai terasa memburu. Badanku mulai terasa panas terbakar.

Dengan badan gemetar dan degup jantung yang bertalu-talu, perlahan aku membaringkan tubuh lagi dalam posisi miring setengah meringkuk. Letak kepala kuusahakan tepat berada di depan pangkal pahanya. Badanku semakin menggeletar menahan beragam hasrat dan keinginan. Setelah meyakinkan diri bahwa semua akan berjalan dengan baik, aman dan kondusif, aku segera mendorong wajahku ke arah kemaluannya. Hem.. hidungku mengendus semerbak wangi aroma kejantanan menyebar dari pusat selangkangan itu. Kupejamkan mata seraya menghirup dalam-dalam aroma khas yang menggairahkan.

Perlahan jemariku mulai bergerak menyibak dan menyisiri helai-demi helai bulu kemaluan Hari yang tumbuh lebat itu. Terasa ditanganku permukaannya seperti bergerigi. Dibanding dengan jembut yang kumiliki, tekstur jembut milik Hari lebih lebat dan kasar. Namun, bagiku, hal ini malah semakin membangkitkan gairah.

Kugesek-gesekan wajahku di kerimbunan jembut Hari. Ada sensasi kegelian yang kurasa. Kunikmati lagi wangi kelakian yang menyebar dari selangkangan itu.Semakin kuamati dari jarak dekat, batang kemaluan Hari semakin menampakkan bentuk yang mempesona. Menjulur panjang, kokoh, dan besar, dengan gurat-gurat urat menonjol. Kontras dengan permukaan kepala penis yang halus karena disunat dengan bentuknya yang agak bulat lonjong.

Tanpa kusadari, bagai ular lidahku telah menjulur keluar, menjilati-jilat (licking) ujung penis Hari. Tidak lama kemudian, mulutku pun semakin berani menganga lebar. Tidak kalah gesitnya mengulum dan menguliti habis kepala dan batang kemaluan itu.

Ex Army vs. Body Builder - 2

Aku segera mengeluarkan seragam tentara lengkap dengan segala aksesorinya yang kusimpan di lemari dan mulai kupakai satu persatu. Seragam ini sebenarnya adalah buatan salah satu kenalanku yang memiliki usaha butik, sedangkan seragamku yang sebenarnya tentunya sudah tidak ada lagi. Pemilik butik itu adalah cowok gay juga. Aku mengenalnya karena kami pernah kerja sama saat aku menang tender pengadaan seragam karyawan salah satu perusahaan minyak di Riau. Aku cuma menganggapnya sebagai teman biasa karena ia bukan tipeku. Ia adalah tipe cowok 'sissy' yang terang-terangan sangat menyukaiku dan selalu berusaha memikatku. Tapi aku selalu cuek saja dan pura-pura bego. Seragam ini pun dibuatkannya dengan gratis. O ya, seragam ini sangat berguna sekali dan seringkali teman plusku ingin melihat penampilanku dengan seragam. Jadi cukup berguna juga untuk membakar nafsu lawan mainku hingga mereka tambah 'buas' dan aku yang jadi tambah 'puas' tentunya:). Bagi anda yang suka gay sex, walau anda bukan tentara sebaiknya boleh juga punya cadangan seragam, baik seragam tentara ataupun hanya sekedar seragam satpam. Kujamin pasti 'berguna' deh buatmu ;).

Aku mulai melepaskan kaosku diganti dengan kaos loreng yang dipadukan dengan seragam luar. Kemudian aku memakai aksesori lainnya. Kurapikan diriku sekali lagi di depan cermin besar kamarku. Saat aku sedang mengenakan sepatu Roy masuk dengan hanya memakai G-Stringnya saja sambil menenteng botol minyak sayuran yang biasa kugunakan untuk sekedar menggoreng makanan kecil. Penampilan Roy cukup membuat gairahku terbakar.
"Boleh tolong pakaikan minyak ini nggak?", kata Roy sambil menyerahkan botol di tangannya.
Matanya tidak berkedip menatapku.
"Boleh. Berbaring saja di ranjang", kataku dengan nada suara yang kubuat sewajar mungkin.
Saat itu nafasku mulai sesak oleh nasfu yang membara yang kutahan-tahan. Roy menelungkupkan badannya di ranjangku hingga punggungnya yang kekar berotot menghadapku. Aku menuangkan minyak ke tanganku dan mulai mengusapkannya ke punggung Roy. Usapanku semakin lama semakin turun hingga sampai ke daerah pantat Roy. Roy kelihatannya masih tenang-tenang saja. Aku memutar mutar telapak tanganku di bukit pantatnya beberapa saat lalu terus turun ke paha dan kaki.

"Belakang sudah OK, sekarang balikkan badanmu", kataku setelah usapanku sampai ke mata kakinya.
Roy membalikkan tubuhnya menghadapku. Matanya kelihatan sedang menerawang entah ke mana. Aku mulai membalurkan minyak ke daerah favoritku yaitu di bagian dada dan perut. Aku sengaja memutar-mutar telapak tanganku di sekitar puting Roy seperti gerakan message. Roy kelihatan sangat menikmatinya. Matanya mulai sayu menatapku. Tanganku yang berada di dadanya juga dapat merasakan deburan jantungnya yang makin kencang. Tonjolan dibalik G-stringnya juga mulai tumbuh.

"Oh. kamu gagah sekali dengan seragammu itu", Roy agak menggumam saat mengucapkan kata-kata itu.
"Ah, bohong tuh", aku memasang muka tidak percaya.
"Sungguh. Aku sudah sejak lama mengimpikan teman berseragam yang gagah seperti kamu". Entah sengaja atau tidak Roy mulai membuka isi hatinya.
"Kalau begitu kamu mau apa?", aku mencoba menantangnya.
"Oh.. Aku ingin sekali memelukmu..".
Roy yang sudah nafsu semakin berani menjawab tantanganku.
"Lakukan saja", kataku sambil duduk di tepian ranjang.
Roy bangkit lalu benar-benar memelukku dengan kuatnya. Otot-ototnya yang besar dan berkilat oleh minyak sayur itu terasa sekali melingkari sekujur tubuhku. Rasanya beda sekali, nyaman gitu, seolah-olah aku tenggelam ke dalam body yang besar itu.

Hawa kamarku makin dipenuhi aroma sex. Saat itu tanpa diomonginpun kami sudah tahu sama tahu kalau kami saling menginginkan. Semboyannya NIKE sangat terasa disini, JUST DO IT begitu kira-kira:). Aku mulai menyungsepkan sambil mendusal-dusalkan wajahku ke dada Roy, kemudian pindah ke daerah sekitar ketiak Roy yang bersih sama sekali dari bulu-bulu. Lidahku mulai menari-nari di sana yang membuat Roy menggelinjang kegelian.
"Uh.. Ah kita foto saja dulu ya.. mumpung masih rapi..", kataku agak terengah sambil dengan lembut melepaskan diri dari pelukan Roy yang enak itu.
Roy hanya menganguk saja. Aku segera mempersiapkan kamera dan setelah mendapatkan angle yang pas aku lalu menyetel agar kamera dapat dengan otomatis menjepret sendiri 5 kali. Aku cepat cepat pindah ke samping Roy yang sudah standby. Roy segera merangkul bahuku dan blitz kamera menyala-nyala melakukan tugasnya.

"Sudah selesai ya? Mari lanjut..", kata Roy sambil menarikku ke ranjang lagi.
Rupanya ia sudah tidak sabar lagi hingga tidak melihat lagi hasil jepretan kamera barusan.
"Sini", kata Roy sambil mendudukkanku di pangkuannya.
Saat itu g stringnya kelihatan sudah tidak bisa menahan cuatan kontolnya yang cukup besar itu. Aku duduk di pangkuan Roy sambil tanganku melingkar di leher Roy. Roy membenamkan wajahnya ke dadaku sambil menarik nafas mengendus seragam yang masih kukenakan sambil tangannya mengelus-elus daerah sensitifku yang makin berdenyut tegang. Aku membarenginya dengan ciuman di kepala Roy, lalu aku mulai diam sengaja menunggu apa yang akan dilakukan Roy selanjutnya.

Roy membopongku dan dengan lembut membaringkanku ke ranjang, lalu dengan perlahan penuh penghayatan ia mulai membuka seragamku satu persatu dimulai dari sepatu, berikutnya seragam luarku. Ia selalu mencium-cium seragam yang ada ditangannya setiap selesai melepaskannya dari tubuhku. Ia kelihatan begitu menikmatinya hingga pernik seragam yang terakhir:) Hingga kemudian aku hanya mengenakan CD saja. Roy kemudian naik ke ranjang menindihku di bawah tubuhnya yang gede itu. Tangannya memelukku dengan erat sambil menari-nari di punggungku. Aku mengimbanginya dengan menciumi wajahnya yang halus itu sambil tanganku aktif menjelajahi lekuk-lekuk otot di tubuhnya. Untuk beberapa lama kami bergulingan saling libat plus raba plus cium hingga keadaan makin memanas saja. Kemudian saat posisi Roy ada di bawah aku mulai melepaskan diri dari pelukannya yang kuat itu dan mulai menciumi dadanya yang besar itu.

Aku semakin senang dengan memainkan putingnya dengan ciuman dan jilatan lidahku yang sudah ahli lalu kusedot pinggiran putingnya hingga meninggalkan bekas merah (cupang). Dadanya yang besar bidang juga kucupangi beberapa kali hingga meninggalkan bekas-bekas merah yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih itu. Roy sangat menikmatinya dan ia menegang-negangkan otot dadanya hingga ototnya yang gede itu bergerak -gerak di depan mataku yang membuatku jadi gemas. Saking gemasnya lalu kugigit-gigit kecil dadanya yang masih bergerak itu tidak ketinggalan putingnya juga.

Roy makin mendesah menikmati gigitanku. Ciuman, sedotan plus gigitanku sampai ke daerah perut Roy yang punya deretan otot yang menonjol dan terus merambah turun hingga sampai ke daerah ternikmatnya. Kulihat g string roy sudah basah di dekat bagian kepala kontolnya. Segera kutanggalkan g stringnya hingga kontol Roy bebas tegak berdenyut-denyut menantang nafsuku yang kian membara. Kontol Roy walaupun kalah gemuk dengan punyaku namun ukurannya ternyata lebih panjang dengan warna merah muda yang menggemaskan. Sejenak kukagumi bentuk kontol Roy yang kepalanya sudah licin basah oleh cairan precum yang masih terus keluar. Rupanya Roy memiliki cairan precum yang cukup banyak juga. Aku kontan mendusalkan wajahku ke selangkangan Roy yang gundul tanpa bulu hingga cairan bening precumnya ada yang menempel di wajahku.

"Oh.. enak.. Bob.. ahh..", desahan Roy makin kencang saat aku mulai menjilat lalu mengulum kantong kontol beserta bijinya di dalam mulutku sambil tanganku mengocok-ngocok batangnya.
Setelah selesai mencicipi kantongnya, giliran kepala kontol Roy yang kupermainkan dengan mulutku. Pertama-tama kujilat-jilat kepala kontolnya layaknya orang yang sedang makan loli dan hap.. akhirnya kepala kontol Roy masuk ke dalam mulutku. Kumajukan kepalaku hingga kontol Roy yang panjang masuk lebih dalam kedalam mulutku hingga mencapai kerongkonganku hampir mencapai pangkalnya. Lalu sambil menyedot kuat aku mundurkan kepalaku hingga tersisa bagian kepalanya saja dalam mulutku sambil ujung lidahku memainkan lubang di kepala kontol Roy lalu secara terus menerus kumajumundurkan kepalaku dengan cara yang sama.

"Ahh.. Ohh.. God.. Enak Bob, akh..", Roy mendesah desah sambil tangannya memainkan putingnya sendiri.
Aku terus melakukannya hingga..
"Cukup, Roy.. Aku hampir keluar.. Sekarang giliranku..", kata Roy parau sambil bangkit dari rebahannya.
Rupanya Roy tidak ingin keluar duluan yang membuatku senang karena ini menandakan kalau Roy bukan tipe cowok egois yang hanya mementingkan kenikmatan sendiri. Sekarang giliran Roy yang menggarapku. Tanpa basa-basi lagi Roy segera menanggalkan CDku yang masih menempel. Seperti halnya Roy selangkanganku juga bersih dari bulu. Kulihat ada sinar kekaguman di mata Roy saat melihat kontolku.
"Beautiful..", desis Roy tidak kentara.
Sama seperti yang kulakukan, Roy mulai melakukan aksi serupa terhadap kontolku. Aku meram-melek merasakan kehangatan mulut Roy. Sedotannya semakin membuatku melayang-layang hingga tanpa sadar aku mendesah-desah dengan gencarnya sambil tanganku mencengkeram pundak Roy yang keras berotot.

Setelah Roy beraksi sekian lama, aku mulai merasakan sedikit sensasi yang menandakan kalau aku akan nembak tidak lama lagi. Aku menyetop aksi Roy yang makin buas menyedot kontolku, lalu kami pindah ke posisi 69. Kami mulai saling menyedot kontol lawan sambil bergulingan di ranjangku yang luas. Sensasi nikmat di selangkanganku terus dan terus menguat hingga pelukanku di pinggang Roy juga makin mengencang. Roy juga berkeadaan sama denganku. Tubuhku mengejang dan crott.. crott.. crott.. akhirnya tak kuasa menahan lebih lama lagi aku nembak duluan di dalam mulut Roy tanpa sempat permisi lagi karena mulutku penuh oleh kontol Roy. Kurasakan mulut Roy yang makin menyedot kontolku dengan lahap sekali.

Crott.. Croot.., akhirnya Roy nembak juga beberapa detik setelahku. Maninya sangat kental dan banyak sekali. Aku bagai orang kehausan terus menelannya dan tidak membiarkannya terbuang setetespun juga. Akhirnya aku berbaring di sebelah Roy dengan senyum puas sambil menenangkan nafasku yang memburu.. Roy juga menatapku dengan pandangan puas dan ia meraihku untuk berbaring di dadanya yang lebar luas itu sambil mendekapku. Itu baru pertama kalinya aku berbaring di atas dada lawan mainku karena biasanya aku tidak suka bermanja-manja, lagipula dada mereka tidak seluas punya Roy. Rasanya cukup nyaman juga. Cukup lama juga kami dalam keadaan seperti itu sambil pikiranku menerawang kemana-mana.

Aku mulai horny lagi hingga tanganku yang satu mulai mengelus dada Roy sambil tangan lainnya memilin-milin putingnya. Rupanya puting Roy sangat sensitif hingga ia juga mulai terbakar. Deburan di dadanya makin kencang dan kelihatan kalau kontolnya juga mulai tegak berdenyut-denyut. Punyaku sendiri saat itu sudah tegang penuh siap kapan saja untuk segera digunakan. Aku segera duduk di atas perut Roy sementara Roy masih berbaring. Aku mendekatkan wajahku ke wajah Roy dan kukecup bibirnya dengan nafsu sambil tanganku terus memainkan putingnya. Masih duduk di atas perut Roy, aku mulai menggeser agak ke bawah.

Sambil mengangkat pantatku aku mulai mengarahkan kontol Roy masuk ke anusku. Roy hanya memandangku dengan pasrah. Dan kurasakan kontol Roy secara perlahan mulai tenggelam ke dalam lobang pantatku hingga ke pangkalnya. Perutku agak mulas karena mungkin ukuran kontol Roy yang panjang itu telah mencapai usus besarku. Saat itu posisiku jongkok/duduk di selangkangan Roy. Setelah kurasa cukup aku mulai menaikkan pantatku sambil menegangkan otot dubur. Aku terus menaik turunkan pantatku dengan cara sama hingga kontol Roy keluar masuk dari lobangku dengan lancarnya.
"Ohh.. ah.. aah..", Roy mendesah-desah menikmati aksiku.
Aku sendiri makin gencar menaik turunkan pantatku seiring dengan sensasi nikmat yang kurasakan saat kontol Roy bergesekan dengan dinding anusku.
"Akh.. teruskan dong Bob.. Please..", Roy agak merengek saat aku menghentikan aksiku dan mengeluarkan kontol Roy dari lobangku.
Aku tidak ingin Roy keluar duluan karena aku juga ingin menikmati lobang anusnya yang saat oral tadi sekilas kulihat masih perawan. Kalau dibiarkan keluar duluan maka Roy pasti ogah kalau aku ingin menikmati lobang pantatnya.
"Nanti pasti kulanjutkan sayang.. tapi sekarang kamu nungging ya Roy..", instruksiku.
Roy sepertinya mengerti mauku dan sambil menungging ia berkata lagi, "Pelan-pelan ya Bob.., soalnya aku belum pernah digituin..".
Mendengar itu hatiku sangat girang karena tepat seperti dugaanku kalau pantat Roy ternyata masih perawan yang tentunya lebih nikmat dientot ;).

Pertama-tama kumasukkan jari tengahku ke anus Roy. Mulanya Roy meringis kesakitan sambil menegangkan otot duburnya.
"Kalau aku masuk jangan tegangkan otot duburmu ya sayang.. Biar nggak terlalu sakit..", aku memberi petunjuk pada Roy.
Tampaknya Roy cukup patuh dan tidak mengencangkan otot duburnya lagi saat aku mulai menggerakkan jari tengahku keluar masuk dari anus Roy. Roy agak meringis tapi mulai bisa menikmati permainan jariku di lobangnya. Melihat Roy sudah agak tenang aku segela meludahi kontolku agar licin dan mulai mengarahkannya ke lobang Roy. Kepala kontolku secara perlahan mulai masuk ke lobang Roy yang sempit. Roy mulai meringis dan menegangkan otot duburnya lagi saat merasakan kepala kontolku memasuki lobangnya. Aku segera menghentikan aksiku dan dari belakang tanganku mulai memainkan dada dan puting Roy agar ia lebih tenang.

"Akh.. sakit..", Roy mulai mengaduh saat aku memulai kembali aksiku yang tadi.
"Tenang sayang.. Nanti pasti nikmat deh..", kataku sambil menyetop lagi aksiku memasukkan kontolku.
Dengan lembut aku terus start stop hingga memakan waktu lebih kurang setengah jam baru kontolku masuk hingga ke pangkalnya. Selama itu aku tetap memainkan puting sensitif Roy agar ia 'high'. Aku membiarkan sebentar kontolku terbenam di lobang Roy agar ia lebih terbiasa lagi.
"Mulai saja Bob..", ucap Roy.
Rupanya ia cukup penasaran juga. Mendengar itu tanpa ayal aku segera menarik kontolku lalu memompanya masuk lagi. Awalnya Roy mengaduh-aduh kesakitan sambil mengencang-ngencangkan otot duburnya yang membuat kontolku serasa dipijat-pijat kuat dan dilingkari oleh cincin hangat. Memang itulah rasanya lobang yang masih perawan, sempit dan nikmat.. ;).

Tidak lama kemudian Roy mulai menikmati entotanku dan suara erangan nikmatpun mulai keluar dari mulut Roy.
"Auh.. enak.. oh.. God.. enak.. sshh.. truss.. ahh..", erang Roy sambil tangannya dengan kuat mencengkeram seprei ranjangku yang sudah awut-awutan.
Plak.. pak.. pakk.. pek.. bunyi selangkanganku yang beradu dengan pantat Roy dikombinasikan dengan erangan Roy merupakan simphoni yang sangat merdu di telingaku hingga goyanganku makin cepat, kuat dan bersemangat. Nafasku terus memburu dan keringat sudah membanjiri tubuhku, hingga beberapa saat kemudian..
"Oohh.. Aku mau keluar Roy..", Hampir berteriak aku makin menghentak menusuk pantat Roy dengan gencarnya.
Untung kamarku sudah dipasangi peredam yang cukup hingga tidak perlu khawatir ada yang mendengarnya.
"Truss.. Bob.. truss.. ahh..". Roy masih meneruskan erangan nikmatnya.
"Ooohh.. crott.. crott.. croott", aku melolong kepuasan disertai dengan tembakan maniku di dalam anus Roy.
Aku keluar banyak sekali.. Oooh.. I feel so high.. ;).

Kukecup punggung Roy lalu giliranku yang menungging. Roy segera memasukkan kontolnya yang sudah terlalu 'excited' ke dalam anusku lagi dan segera mulai memompa dengan cepat sekali. Giliranku yang mengerang kenikmatan merasakan kehebatan kontol Roy.
"Auh.. teruss.. teruss Roy..", erangku.
Lama juga Roy mengentoti pantatku dan selama itu aku merasakan beberapa kali tembakan kecil yang menghangat di dalam anusku. Aku pernah membaca kalau ada orang yang dapat mengendalikan hingga klimaksnya belum dicapai walau telah sempat menembak beberapa kali. Mungkin Roy telah menguasai teknik itu pikirku. Aku makin kagum saja sama Roy.

"Hosh.. hoshh.. ahh..", suara nafas Roy yang makin memberat disertai desahan nikmatnya makin jelas terdengar di telingaku dan akhirnya..
"Aaakh.. crott.. crett.. crrott..", Roy berteriak melenguh panjang puas dan kali ini mani yang ditembaknya sangat banyak sekali dan terasa mengalir hangat di dalam anusku menciptakan sensasi nikmat yang kusuka.
Rupanya ia sudah mencapai titik puncak kepuasannya. Kami sama-sama terhempas di ranjang dengan kontol Roy masih menancap dalam pantatku. Posisi kami saat itu aku berbaring menyamping membelakangi Roy sedang Roy dengan mesra memelukku dari belakang.
"Terima kasih Bob.. Aku puas sekali..", bisik Roy di telingaku.
"Aku juga Roy, permainanmu hebat sekali..", jawabku dengan suara menggumam.
Sesat kemudian kami sama-sama tertidur pulas dengan senyum kepuasan menghiasi wajah masing-masing.

*****

Keesokan paginya barulah kami punya kesempatan melihat hasil jepretan kamera yang telah membuka peluang terjadinya gay sex semalam. Kami sama-sama tertawa melihat ekspresi kami di dalam foto itu yang sangat lucu karena jelas kelihatan muka kami yang penuh nafsu sex dengan tonjolan di selangkangan kami masing-masing. Akhirnya Roy mengambil 2 foto untuknya sedangkan sisanya kusimpan baik-baik di dalam lemari yang nantinya akan kusatukan dengan 'koleksi' fotoku yang lain.

Roy pamit pulang dan setelah itu kami sempat beberapa kali bertemu dan mengulangi gay sex di rumahku. Namun sayang karena liburan Roy sudah usai dan ia harus kembali ke Jakarta. Aku menghadiahinya beberapa potong koleksi CDku yang diterima dengan senang hati oleh Roy. Roy juga meninggalkan alamat dan nomor teleponnya di Jakarta dan kami saling berjanji untuk melakukannya lagi jika ada kesempatan lainnya. Aku sama sekali tidak mengantar saat Roy berangkat ke Bandara karena ia sudah ditemani oleh keluarganya hingga mungkin malah bisa dicurigai jika aku melakukannya. Aku hanya mengirimkan SMS selamat jalan kepadanya. Dan.. hari-hariku pun kembali seperti biasanya, tentunya sambil menunggu petualangan yang lebih asyik dengan penggemar gay sex lainnya:).

Ex Army vs. Body Builder - 1

Oke, pada kesempatan ini aku akan menceritakan pengalamanku dalam sosokku yang sekarang ini. Cerita-cerita sebelumnya merupakan kejadian saat aku SMA atau saat aku masih tentara. Sedangkan aku yang sekarang ini sudah bergelut di bidang wiraswasta dengan berbisnis kecil-kecilan dan telah memiliki rumah dan kendaraan sendiri walaupun tidak terlalu mewah. Aku yang sekarang sudah mulai bisa menerima gay-nya aku sehingga sudah tidak pantang ngesex lagi dengan sesama cowok yang kusenangi tentunya selama cowoknya mau, tidak banyak menuntut dan tidak terikat komitmen atau kusebut istilah temanan plus:). Gimana ceritanya? Begini..

*****

Kejadian ini terjadi kira-kira setahun yang lalu, tepatnya di tempat fitness yang kukunjungi secara rutin untuk memelihara kondisi tubuhku. O ya, sebagai informasi buat anda yang ingin gay sex, jika anda ingin mencari pasangan maka tempat fitness atau gym merupakan tempat dengan kans yang tinggi. Kenapa demikian? Soalnya gym merupakan tempat berkumpulnya orang-orang (cowok tentunya) yang suka/menginginkan tubuh seksi proporsional sehingga kemungkinannya besar sekali diantara mereka yang gay dan dapat diajak berhubungan jika dengan pendekatan yang tepat. So.. rajin-rajinlah fitness karena selain membuatmu seksi juga akan dapat pasangan kencan ;). Aku berani bilang ini karena kebanyakan 'teman plus' ku didapat di sana.

OK, kembali ke cerita ini. Saat itu di gym aku sudah menukar pakaianku dengan kaos tanpa lengan dan celana boxer. Saat sedang melakukan pemanasan aku melihat ada seorang cowok yang badannya gede yang sedang asyik mengangkat barbel. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saja. Otot-otot lengan dan dadanya menggelembung besar setiap ia mengangkat barbelnya. Kalau ditaksir-taksir boleh dibilang hanya selisih sedikit dengan Ade Rai yang sering kulihat di TV itu. Kulitnya putih bersih dengan rambut cepak. Wajahnya ganteng dengan alis yang tebal.

"Wah, ada orang baru nih..", batinku saat itu karena aku sama sekali belum pernah melihatnya di gym itu.
Saat itu aku cuma sedikit berdebar saja dan kontolku juga hanya berdenyut sebentar lalu normal lagi soalnya aku dapat mengendalikannya. Aku dapat melakukannya karena dia sama sekali bukan tipe yang bisa membuatku 'liar' dan ereksi habis. Tipe yang bisa membuatku demikian adalah cowok dengan tipe body tidak berselisih jauh denganku yaitu yang memiliki otot bak binaragawan namun gedenya harus seperti perenang atau yang kusebut sebagai body tipe kombinasi perenang-binaragawan.

Aku mulai cuek lagi dan mengambil barbel yang ada lalu berbaring di bangku dan mulai melakukan 'bench press'. Setelah melakukannya sebanyak 2 set aku melakukan sit-up dan 'crunch'. Latihan yang kusebutkan tadi merupakan favoritku karena membentuk otot yang juga menjadi favoritku:).

Setelah itu berturut-turut aku melatih otot pahaku lalu otot punggung dengan menggunakan peralatan yang ada, lalu push up dan banyak lagi gerakan lainnya. Suatu ketika secara tidak sengaja aku melihat kalau cowok yang kuceritakan tadi sedang memperhatikanku. Saat itu dia sedang berada di atas treadmill. Dia kelihatan agak salah tingkah dan cepat-cepat mengalihkan perhatiannya dariku. Mungkin takut ketahuan, ia lalu pindah agak jauh mengambil dumbbell. Dari feelingku yang sudah tajam:) aku merasa kalau dia pasti gay.
"Wah.. Kayaknya dia gay nih..", aku tersenyum di dalam hati lalu pura-pura tidak tahu, cuek dan terus melanjutkan latihanku.
Tiba-tiba saja terlintas dibenakku untuk menjadikannya sebagai 'teman plus' ku.
"Kayaknya asyik nih.. mencoba body segede itu", batinku saat itu.
Memang aku belum pernah melakukan gay sex dengan cowok berbody sebesar itu, karena biasanya aku selalu mencari tipe yang minimal mendekati syarat-syarat ideal yang kusebutkan tadi.

Singkat cerita, mulailah aku melancarkan jurus-jurus 'menebar pesona'. Jurus pertama aku mulai menanggalkan kaosku sambil pura-pura mengelap keringat yang membasahi wajahku sekedar memamerkan otot-otot tubuhku. Saat itu dari ekor mataku aku tahu kalau dia diam-diam selalu curi pandang. Ibaratnya lagu Naif, dianya selalu curi ke kiri.. curi ke kanan..:) heh.. heeh.. heh.. Sorry, just joking. Hope u don't mind ;). Jurus kedua aku tidak memakai kembali kaosku dan mulai latihan angkat beban lagi. Dari ekor mataku kulihat kalau dia mulai gelisah dan.. ia lalu pindah lagi ke treadmill. Mungkin agar lebih leluasa mencuri pandang ke arahku.

Sialnya, rupanya pertunjukanku tidak hanya disaksikan oleh cowok gede yang kutaksir tadi. Ada cowok lain yang memandangku secara terang-terangan dengan mata buas bernafsu. Bodynya yang agak kurus karena sepertinya ia baru saja menjadi anggota di gym itu. Aku baru beberapa kali melihatnya di sana dan juga bukan pertama kalinya dia melihatku dengan penuh nafsu. Aku jadi geram dan mendelik memperlihatkan ketidaksenanganku. Rupanya ia agak takut juga dan buru-buru menjauh dari sana.

Pembaca sekalian, sorry ya, aku sama sekali bukan memandang hina dirinya atau merasa diriku lebih perfect dibanding cowok krempeng tadi. Ketidaksenanganku lebih disebabkan oleh pandangan matanya yang menjilat-jilat yang membuatku seolah-olah dilecehkan. Ceritanya akan lain kalau si krempeng tadi melihatku dengan cara lebih 'sopan'. Aku pribadi selalu berprinsip untuk tidak melakukan sesuatu yang berbau 'nafsu sex' pada orang lain yang tidak mau/tidak menginginkannya. Kalau aku melakukannya berarti aku telah melakukan pelecehan sex and that's bad..

Kembali ke cerita, untung aksiku mendelik marah tidak diketahui oleh cowok gede yang menjadi targetku karena posisi dia dan cowok krempeng tadi berseberangan. Tibalah saatnya aku melancarkan jurus mautku sambil berharap..:) Saat itu aku masih rebah di bangku sambil melakukan 'bench press'. Tiba-tiba saja aku pura-pura kesulitan mengangkat barbell yang ada di atas dadaku. Melihat itu cowok gede tadi cepat-cepat menghampiri dan membantuku mengangkat barbell dan meletakkannya di penyangganya.
"Kena.. deh", batinku saat itu.
"Thanks ya.. Untung kamu membantuku, soalnya tadi tiba-tiba saja merasa lemas gitu", aku berkata sambil menebar senyum padanya.
"Never mind. Latihan ini memang membutuhkan sparing partner disampingmu hingga dapat membantumu sewaktu-waktu. Kenapa tidak mencari satu saja?", kata cowok gede itu sopan.
"Wah, ide yang bagus juga. Namaku Bobby", aku berkata sambil mengulurkan tanganku.
"Aku Roy", Ia menjabat tanganku dengan genggaman yang mantap.
Dari dekat baru kelihatan kalau cowok ini ternyata OK juga. Wajahnya bersih kelimis dan cukup simpatik. Otot-otot tubuhnya yang gede menyembul disana-sini dan mengkilat karena basah oleh keringatnya. Jantungku mulai berdebur lagi yang segera kukendalikan.

Dari obrolanku selanjutnya dengan Roy kuketahui kalau ternyata Roy asalnya tinggal di Jakarta. Dia adalah famili dari pemilik gym ini. Kebetulan saja dia sedang liburan ke Pekanbaru. Roy masih cukup muda. Umurnya saat itu cuma 24 tahun dan masih mahasiswa. Dia adalah salah seorang atlet binaraga dan pernah mengikuti beberapa kejuaraan binaraga di Jakarta dan walau bukan juara pertama ia pernah menjadi juara favorit.

Roy tampak 'excited' saat mengetahui kalau aku adalah bekas tentara. Roy sangat fleksibel orangnya khas orang kota besar hingga obrolan kami terasa makin akrab yang diselingi canda tawa. Yang kusuka dari Roy adalah suara tawanya yang menurutku sangat seksi. Saat itu sikapku masih biasa saja, tidak menunjukkan kalau aku mulai nafsu dengannya. Akhirnya aku mengakhiri obrolan kami dan sebelum pulang aku meninggalkan alamat dan nomor HP-ku padanya.
"Malam ini boleh ke rumahmu nih..", kata Roy dengan penuh senyum.
"Boleh-boleh saja. Malam ini aku juga tidak kemana-mana kok. Aku juga ingin tahu lebih banyak tentang kejuaraan binaraga yang kamu ikuti", kataku dan diam-diam hatiku girang sekali.
"Wah.. kebetulan nih, aku membawa foto-foto saat kejuaraan. Nanti sekalian kubawakan", kata Roy dengan antusias.
"OK, that's a deal. See you later".
Aku lalu beranjak keluar dari gym untuk segera pulang dan 'mempersiapkan' malam itu ;).

*******

Suara mobil terdengar memasuki halaman rumahku.
"Ting tong..". Bel rumahku berbunyi tak lama kemudian saat jam menunjukkan lebih kurang pukul 8.30 malam.
Dari lubang pintu kelihatan rupanya Roy yang datang.
"Silakan masuk, susah ya mencari rumahku?", aku membuka pintu sambil mempersilahkannya masuk ke dalam.
"Sulit juga sih, soalnya aku kan cukup asing dengan Pekanbaru. Untung aku bertanya di sepanjang jalan hingga tidak kesasar", Roy berkata sambil masuk. Tercium wangi parfumnya yang maskulin saat ia melintas di depanku.

Wah, tidak mengganggu nih", kata Roy lagi sambil matanya menyapu seisi rumahku.
"Ah.. Nggak, soalnya aku tinggal sendirian. Jadi tenang aja", kataku lagi.
Malam itu penampilan Roy menurutku cukup seksi dengan memakai jeans ketat yang dipadukan dengan kaos playboy ketat yang lagi ngetrend saat itu. Bodynya yang penuh sesak dengan otot yang gede-gede itu tercetak jelas di kaosnya.
"Nah silakan kalau mau duduk atau apa aja. Anggap aja seperti rumah sendiri".
"Nih.. foto-foto yang kujanjikan", kata Roy menghempaskan diri ke sofa sambil menyerahkan sebuah album foto.
"Minuman dan makanan ringannya ada di kulkas belakang sana. Ambil saja sendiri. Jangan malu-malu ya", kataku sambil menerima album foto itu.
"Oke deh..". Roy segera berlalu ke belakang.

Saat Roy kembali aku sedang asyik membolak-balik album fotonya. Makin dilihat ternyata body gede seperti Roy itu ternyata menarik juga.
"Gimana.. Apa pendapatmu tentang diriku jika dibandingkan dengan peserta lain yang ada?", tanya Roy ingin tahu.
"Ehm.. Bagiku kamu kelihatan paling OK kok", aku berkata sejujurnya karena memang itu yang kurasakan.
"Sungguh?", mata Roy kelihatan agak berbinar.
"Sungguh. Kalau kejuaraannya diadakan di Pekanbaru aku pasti akan hadir menjadi pendukungmu", kataku sambil menatapnya.
"Thanks ya..". Roy kelihatannya sangat senang sekali mendengar ucapanku.
"O ya.. Bolehkan aku melihat foto-fotomu saat masih tentara?", tanya Roy penuh harap.
"Boleh. Ayo ikut aku ke kamar", jawabku singkat sambil beranjak menuju kamarku.
"Wah kamarmu luas ya? Lebih luas dari ruang tamu", komentar Roy sambil duduk di tepian ranjangku yang berkasur empuk.
"Nih", kataku sambil menyerahkan sebuah album foto besar.
Roy segera membolak-baliknya.

"Wah, gagah sekali..", Roy tidak dapat menyembunyikan kekagumannya melihat foto-fotoku saat tentara dulu.
"Suka ya?", aku mulai memberikan pertanyaan yang menjebak.
"Ya.., Oh.. Eh.. maksudku aku sangat suka dengan penampilanmu", Roy agak salah tingkah ketika menjawab pertanyaanku.
"Sungguh? Gimana kalau sekarang aku memakai seragam tentara, kebetulan aku masih punya", aku semakin memancingnya.
"Wah.. Sungguh nih, tentu aku sangat senang sekali. Kalau boleh aku ingin foto bersama, soalnya aku sejak lama ingin sekali foto bareng sama tentara", Roy tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

Di sudut ruanganku memang ada kamera polaroid yang terpasang di atas tripod. Kamera itu memang biasa kugunakan untuk menjepret foto teman plusku dan saat itu sebenarnya sudah dalam keadaan standby karena sudah kupersiapkan sebelumnya dengan maksud untuk menjepret gambar Roy tentunya.
"Tapi aku bukan tentara lagi lho..", kataku lagi.
"Nggak apa-apa tuh, yang penting bisa foto sama yang berseragam". Roy kelihatannya makin 'excited' aja.
"Wah, ini cowok rupanya terobsesi pada tentara berseragam rupanya", batinku saat itu.
"Kamu apa juga bawa seragam kamu?", tanyaku kalem.
"Maksudmu?". Roy agak terheran dengan pertanyaanku.
"Aku juga ingin sekali foto bersama binaragawan. Gimana kalau kita siapkan seragam kita masing-masing? Nanti kita foto bersama", aku menjawab sambil membuka lemari pakaianku.
"Oke deh. Seragam binaragawan kan cuma simple aja. G-String doang juga OK. Tapi kamu punya minyak tidak?", tanya Roy.
"Minyak? untuk apa?", tanyaku heran.
"Lho.. katanya kita pakai seragam masing-masing. Minyak adalah salah satu seragam binaragawan lho. Untuk dioleskan ke tubuh hingga otot lebih jelas kelihatan", jelas Roy panjang lebar.
"Yang ada cuma minyak sayur. Di dapur sana. Apa boleh?", ia bertanya.
"Boleh jugalah. Aku ambil segera", kata Roy sambil beranjak keluar menuju ke dapur.
"Wah, bakalan seru nih", batinku girang saat itu.

Endymion

Jauh di gunung Latmos, di Caria, nampak seorang peggembala sedang beristirahat di bawah pepohonan. Penggembala itu bukan penggembala biasa, sebab dia sangat tampan sekali. Memang pria-pria tampan bertebaran dalam cerita mitologi Yunani. Namun hanya ada 2 pria yang diakui sebagai yang tertampan dan yang terseksi. Mereka adalah Endymion dan Adonis.

Reputasi Endymion terkenal di seantero Yunani, dan mendapat respon yang luar biasa dari para pria homoseksual. Setiap hari, selalu ada pria yang menghampirinya untuk berhubungan badan sejenis. Namun, lama-kelamaan Endymion menjadi jenuh dan dia pun memutuskan untuk beralih profesi menjadi seorang penggembala, jauh dari keriuhan penduduk kota. Di padang rumput, dia mendapatkan ketenangan yang dicarinya.

Sebagai seorang penggembala, pakaian Endymion sangat sederhana sekali. Bagian dadanya terbuka sama sekali, mempertontonkan otot-otot dadanya yang keras. Sementara, bagian bawahnya hanya ditutupi selembar kulit domba yang telah dijahit sedemikian rupa, menyerupai kain penutup kontol milik Tarzan. Pakaian penggembala memang harus sepraktis itu agar mudah dilepaskan bilamana si penggembala ingin bermasturbasi ataupun ngentot.

Pada saat itu, Zeus sedang melintasi langit mencari mangsa baru. Zeus dulu selalu mencari wanita cantik untuk diperkosa dan dihamili. Namun, sejak dia mencicipi tubuh Ganymede dan memperkosanya (baca: Aquarius Dan Homoseksual), Zeus menjadi ketagihan akan tubuh lelaki. Dan saat itulah matanya menemukan si ganteng Endymion yang sedang tertidur lelap.

"Astaga! Tampan sekali penggembala itu. Jangan-jangan dia adalah Endymion, penggembala yang tersohor itu. Bahkan jauh lebih tampan dibanding Ganymede-ku yang malang.", pikir Zeus.

Zeus nampak sedih mengingat nasib tragis Ganymede. Ganymede memang telah tiada, namun jasadnya menjelma menjadi konstelasi Aquarius.

"Tapi saya harus terus melangkah," batin Zeus. Saat dia melihat ke bawah, sebuah benjolan besar nampak menggunung di balik kain penutup kontolnya.
"Hhohh.. Aahh.." desahnya nikmat ketika dia meremas-remas kontol yang sangat dibanggakannya itu.
"Saya tidak tahan lagi. Saya harus mendapatkan Endymion dan menyodomi pantatnya. Ahh.. Pasti ketat dan nikmat." Dan sang dewa itu pun turun ke bumi.

Si pria tampan itu terbangun ketika dia merasa kontolnya disedot-sedot. Ketika dia membukakan matanya, dia melihat seorang pria setengah baya yang tampan sekali sedang asyik menjilati kontolnya. Endymion tentu saja tak menolak; dia memang sedang membutuhkan jilatan yang hebat.

"Hhohh.. Jilat terus, Hhoohh.. Sedot kontolku ini.. Hhoohh.. Buat saya ngecret.. Aahh.. Oohh.." erang Endymion.

Endymion sangat memuja dada dan puting laki-laki. Begitu dilihatnya dada Zeus yang bidang, lengkap dengan sepasang puting yang melenting, dia langsung gila dengan nafsu. Segera diremas-remasnya dada sang dewa sambil memain-mainkan putingnya. Zeus tak keberatan, dia malah semakin terangsang dan memperkuat sedotannya. Bosan disedot, Endymion pun secara pro-aktif, menyodokkan kontolnya ke dalam mulut Zeus. Ah.. Mereka berdua sangat menikmati oral seks itu. Dan tibalah saat-saat yang paling ditunggu-tunggu. Endymion ngecret.

"Hhooh.. Aahh.. Saya akan.. Keluar.. Hhohh.."

Selesainya berbicara, sekujur tubuhnya mengejang dan berkontraksi. Pinggulnya bergerak-gerak seperti pinggul kuda liar dan muncratlah pejuh si tampan ke dalam mulut Zeus. CCRROOT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Seiring dengan semburan pejuhnya, Endymion menjerit-jerit penuh kenikmatan.

"AARRGGHH!! UUGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!!" Zeus dengan lahap menghabiskan setiap tetes dari kontol Endymion.

Bayangkan saja. Sang dewa tertinggi dari gunung Olympus sibuk membersihkan kontol seorang manusia biasa! Endymion tergeletak tak berdaya, tersengal-sengal, menikmati sisa-sisa orgasme itu. Belum pernah seorang pria pun menyedot konotlnya sehebat itu. Ketika dia mengetahui bahwa Zeus-lah yang baru saja mengulum kontolnya, Endymion terduduk, kaget setengah mati.

"Jangan takut, Endymion. Kamu tak berbuat salah apa pun. Saya hanya ingin meminta pantatmu saja. Saya telah memberikanmu kenikmatan, dan kukira adil jika sekarang kamu memberiku pantatmu. Bagaimana? Saya akan mengentotin pantatmu sampai lubang anusmu menganga lebar," Zeus bersabda, duduk tanpa sehelai pakaian pun di dekat Endymion.

Tampak sifat genitnya mulai kelihatan sebab Zeus tak dapat menahan dirinya untuk membelai-belai tubuh Endymion yang telanjang dan berotot itu.

"Baiklah, Zeus. Saya tunduk pada keinginanmu. Pakailah tubuhku sesukamu. Ngentotin saya dan buat saya mengerang kesakitan. Saya bersedia kau pakai sebagai alat pemuas nafsu homoseksualmu," jawab Endymion.
"Tapi sehabis itu, bolehkan saya meminta sesuatu darimu?"
"Apa saja yang kau mau, Endymion? Saya, Zeus, akan mengabulkannya," jawab dewa itu sambil menciumi pipi Endymion.

Dari pipi, bibirnya menjalar mencari bibir Endymion. Begitu ditemukan, Zeus langsung menciumi penggembala itu dengan nafsu yang berkobar-kobar. Endymion mencium balik dan melingkarkan kedua tangannya di sekeliling pinggang Zeus yang berotot. Mereka berdua kemudian saling bergulingan di padang rumput yang luas itu, memadu kasih dan melampiaskan hasrat homoseksual. Tak jauh dari mereka, nampak sepasang domba milik Endymion sedang saling ngentot, mengembek-ngembek dengan riuhnya. Zeus semakin terangsang melihat adegan itu!

Zeus memeluk tubuh Endymion yang kekar dari belakang. Kontolnya yang tegang dan basah sudah siap bertempur. Endymion sendiri sudah tak sabar untuk merasakan kontol Zeus yang perkasa itu. Tanpa aba-aba, tiba-tiba Zeus menusukkan kontolnya. Anus Endymion memang sering dipakai lelaki sehingga mulai melonggar, namun kontol Zeus memaksa anusnya untuk melebar sampai hampir sobek. Endymion pun berteriak-teriak.

"Aarrggh!! Aarrggh!! Ssaakiit.. Oohh!! Aamppunn!!"

Otomatis, tubuhnya meronta-ronta, ingin menjauhkan diri dari kontol Zeus. Namun Zeus telah memegangi tubuhnya kuat-kuat dari belakang. Sambil bergulingan, Zeus terus mengentotin Endymion dengan sepenuh tenaga.

"AARRGGHH..!!" Endymion menjerit lagi, sakit sekali.

Zeus memaksakan kontolnya masuk sampai ke pangkalnya, amblas semua! Endymion kembali menjerit dan tubuhnya melemas. Dia kembali berteriak saat merasakan lubang anusnya yang terasa disobek oleh kontol Zeus yang besar.

Capek bergulingan, Zeus mencabut kontolnya dari lubang Endymion. PLOP! Endymion mengira semuanya telah berakhir. Biarpun dia pecinta kontol, kontol Zeus terlalu besar baginya. Namun, wajahnya memucat saat Zeus kembali mendekatinya dengan kontol ngacengnya itu. Dengan tangannya yang besar dan kaut, Zeus menggendong Endymion dan memapahnya ke sebatang pohon mati yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka ngentot.

Dengan hati-hati, dia membaringkan tubuh telanjang Endymion di sana, dan memposisikannya sedemikian rupa. Endymion, dengan sebatang pohon menopang punggungnya, terbaring dengan kepala menggelantung ke belakang, kedua kakinya terentang lebar-lebar, sementara lubang pengeluarannya terekspos untuk dikerjain kembali.

"Mm.. Saya suka lubang anusmu, Endymmion.. Aahh.. Ketat sekali.."

Lubang itu berkedut-kedut saat Zeus mengusap-ngusapnya. Endymion meringis kesakitan saat jari Zeus menerjang masuk dan mengorek-ngorek lubang pengeluarannya. Jari-jari lain mulai masuk dan memenuhi lubang anus Endymion. Tiba-tiba, Endymion merasakan bahwa lubangnya ditarik melebar oleh jari-jari itu.

"AARRGGHH..!!" jeritnya lagi.

Endymion tak tahan akan rasa sakit yang ditimbulkan oleh tangan Zeus. Rupanya Zeus ingin membuka lubang itu agar kontol besarnya itu bisa masuk. Begitu lubang itu terbuka, Zeus langsung menancapkan kontolnya di dalam sana.

"AARRGGHH!!" Endymion kembali berteriak.

Zeus terangsang sekali melihat rasa sakit yang terlukis jelas di wajah Endymion. Memang, setiap orang, baik pria maupun wanita, akan selalu menjerit-jerit saat kontol Zeus mengisi lubang ngentot mereka. Meskipun kesakitan, namun kontol Endymion malah semakin ngaceng dan berdenyut-denyut tak karuan. Zeus masih membenamkan kontolnya dilubang dubur Endymion, sampai Endymion berhenti berteriak. Ketika Endymion sudah berhenti, Zeus mulai menarik kontolnya sampai kepalanya lalu langsung dihujamkan kembali masuk lagi sampai Endymion kembali menjerit.

Untuk mengimbangi gerakan ngentot Zeus, Endymion menarik napas tepat ketika dewa itu menarik kontolnya, dan membuang napas ketika kontol itu dihujamkan kembali ke duburnya. Rasa sakit akibat dihajar kontol Zeus pelan-pelan hilang dan digantikan dengan perasaan nikmat ketika kontol itu bersarang di dalam dirinya. Dorongan kontol Zeus pada tubuh Endymion membuat si penggembala itu harus menahan tubuhnya agar tidak terguling ke depan.

Tangan Zeus yang memegang pinggang Endymion, perlahan-lahan dilepaskan. Tangan kanannya mulai merayap ke puting kanan Endymion dan memelintirnya sampai pria tampan itu mengerang-ngerang. Setelah itu, tangan itu mulai merayap ke kontol Endymion yang ternyata masih menegang. Tanpa kata-kata lagi, Zeus meremas kontol Endymion tanpa henti, dan masih terus memaju mundurkan kontolnya di lubang si penggembala tampan itu.

"AARRGGHH!! hhoohh.. Sodokan kontolmu.. Hhoohh.. Nikmat sekali.. Aahh.. Terus.. Hhohh.. Lagi.." Endymion mengerang-ngerang dengan nafsu yang sangat besar.

Kontol Zeus begitu mengisi tubuhnya sampai-sampai dia mengira kontol itu akan keluar dari mulutnya. Zeus memang seorang tukang ngentot yang hebat! Punggung Endymion mulai perih akibat pergesekan kulitnya dengan kulit batang pohon yang kasar. Keringat yang mengucur membuat tubuhnya yang telanjang berkilauan seperti patung keramik.

"Hhoohh.. Aahh.."

Tiba-tiba Zeus menghentikan remasannya pada kontol Endymion, dia kembali memegangi pinggang pria tampan itu. Napas sang dewa mulai memburu-buru dan terasa panas sampai ke tubuh Endymion. Endymion sudah sering menyaksikan ekspresi semacam itu ketika pria-pria yang mengentotinnya ingin ngecret. Dengan satu hentakan, Zeus memasukkan seluruh kontolnya ke lubang dubur Endymion sedalam mungkin. Lalu muncratlah pejuhnya ke dalam lubang dubur Endymion dengan derasnya.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROTT!! Zeus melenguh-lenguh keenakkan seperti kerbau sementara sekujur tubuhnya mengejang-ngejang karena orgasme.

"AARRGGHH..!! UUGGHH..!! OOHH..!! AARRGHH..!! OOHH..!!" Enak sekali!

Endymion hanya mengerang-ngerang saat dia merasakan kontol Zeus mengejang-ngejang di dalam tubuhnya. Rasanya seksi sekali. Endymion sampai mengusap-ngusap dadanya sendiri, berharap rangsangan itu akan membuatnya ejakulasi. Ketika sudah selesai, Zeus menjatuhkan tubuhnya ke dada Endymion yang sedang bernapas dengan kencang. Kedua kaki Endymion yang tadi direntangkan lebar-lebar, dilepaskan Zeus.

Tanpa disadari, pejuh Zeus mulai meleleh keluar dan mengalir menuruni paha Endymion. Beberapa saat kemudian Zeus menarik kontolnya yang sudah lemas keluar dan mengakibatkan pejuh mengalir lebih banyak lagi di paha Endymion. Kemudian Zeus teduduk di atas rumput dengan kedua belah kaki yang terbuka lebar dan menyandarkan tubuhnya ke batang pohon yang terguling itu, tempat dia mengentot Endymion tadi.

Endymion tak tahan lagi, dia harus ngecret juga. Pada saat dia bangkit, Zeus sedang memainkan kepala kontolnya yang merah itu. Si pria tampan itu pun jatuh terduduk di tanah dengan tubuh yang berkeringat dan pejuh yang masih mengalir keluar dari lubang anusnya. Dengan pandangan memohon, Endymion meminta izin Zeus untuk ngecret. Ketika Zeus menganggukkan kepala, Endymion langsung mengocok kontolnya dengan cepat tanpa mengalihkan matanya dari kontol Zeus.

Tidak beberapa lama kemudian Endymion berteriak.

"AARRGGHH..!!" dan memuncratkan pejuhnya sendiri ke wajah dan tubuhnya yang kekar.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CRCRROOTT!! CCRROOTT!

Ketika tiada lagi pejuh yang keluar, perlahan Endymion menjatuhkan tubuhnya ke atas pangkuan Zeus sambil tetap mempermainkan kontolnya. Begitu kepalanya mendarat, bibirnya disambut oleh kontol Zeus yang masih berlumuran pejuh. Tanpa rasa jijik (ingat, kontol Zeus pernah bersarang di lubang pantat Endymion!), Endymion menjilat-jilati batang kontol itu. Belum sempat Endymion memejamkan mata, Zeus tiba-tiba mulai mencium mulutnya. Dan mereka pun terkunci dalam sebuah ciuman mesra.

"Kamu tampan sekali, Endymion. Saya berharap saya dapat membawamu ke gunung Olympus agar kamu selalu berada di dekatku dan bisa kungentotin kapan saja. Tapi jika Hera melihatmu, kamu pasti akan dibunuh seperti dia membunuh Ganymede-ku yang malang," kata Zeus sambil membelai-belai rambut pendek Endymion yang basah dengan keringat.
"Tapi, Zeus, suatu hari ketampananku akan memudar. Saya hanyalah seorang manusia biasa. Di hari tuaku nanti, tubuh kekarku akan menghilang dan digantikan tubuh tua renta. Wajahku yang muda dan tampan akan digantikan wajah tua penuh keriput. Saya tak menginginkan hal itu terjadi pada diriku, Zeus," Endymion menumpahkan seluruh curahan hatinya pada Zeus.
"Lalu apa yang dapat kulakukan untukmu, Endymion?" tanya Zeus.
"Tolong tidurkan saya. Buat saya tertidur abadi untuk selamanya. Jika saya tertidur, ketampananku akan terjaga dan ketuaan takkan dapat menguasaiku," jawabnya mantap.
"Baiklah jika itu kehendakmu. Saya telah berjanji untuk mengabulkan permintaanmu. Kau akan tertidur untuk selamanya.. Mulai saat ini juga."

Zeus membelai wajah Endymion yang tampan dan si penggembala itu pun langsung tertidur. Zeus kembali menciuminya dan menjilati bekas-bekas sperma yang tersemprot pada tubuh pemuda tampan itu. Agar tak ada seorang pun yang dapat mengganggu tubuh Endymion, Zeus sengaja membawa tubuh pemuda itu ke dalam sebuah gua yang terpencil.

Tiap kali Zeus butuh hubungan seks sejenis alias hubungan badan homoseksual, dia akan mendatangi gua itu dan mengentotin pantat Endymion dengan keras sampai pejuhnya muncrat di dalam dubur Endymion. Endymion sendiri dapat merasakan nikmatnya dingentotin Zeus dalam tidurnya sebab mulutnya tak henti-hentinya mengerang keenakkan saat kontol Zeus menghajar duburnya. Setiap kali selesai ngentot, Zeus berbaik hati untuk mengocok kontol Endymion sampai dia ngecret.

*****

PS: Beberapa versi mitologi mengatakan bahwa Endymion adalah seorang raja dari Elis, seorang pemburu, ataupun seorang penggembala. Ketampanannya menggoda hati dewi Selene (dewi bulan). Namun untuk menaklukkan hati Endymion, Selene terpaksa menidurkannya di sebuah gua untuk selamanya agar dia dapat memiliki pria tampan itu.

Versi lain mengatakan bahwa Zeus menawarkan hadiah untuknya dan Endymion lebih memilih untuk tertidur selamanya agar ketampanannya menjadi abadi. Versi yang lain lagi menyebutkan Endymion jatuh hati pada Hera (dewi tertingi di gunung Olympus; istri Zeus) dan Zeus memberikan hukuman tidur abadi padanya.

Tidak ada komentar: