
Sebenarnya aku malu untuk menuliskan pengalamanku ini. Tapi aku ingin suatu saat menumpahkan semuanya. Aku hanya berharap agar perasaan bersalahku berkurang. Pada kesempatan liburan Natal yang lalu aku memutuskan untuk menulis ke situs CeritaSeru ini, untuk bercerita kepada wiro dan kolega, dan berbagi pengalaman.
Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diriku. Mamaku ditinggal oleh papaku sejak aku kecil. Papa asliku adalah serdadu Amerika yang dahulu bertugas di Jerman. Di situlah mereka bertemu (mama adalah suster di pangkalan mereka) hingga aku lahir dan setahun kemudian papa pergi entah kemana. Aku besar di sebuah kota kecil di Perancis selatan dan 5 tahun yang lalu mama dan aku kembali ke Jerman.
Sejak ditinggalkan oleh papa, mama sering berganti ganti pasangan, karena dari dirinya merindukan belain kasih sayang dari seorang pria. Tidak jarang aku mendapati mama sedang bercinta di sofa di ruang tamu dengan pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Hal itu pulalah yang membuatku dewasa belum pada saatnya. Aku kehilangan keperawananku pada umur 13 karena aku jatuh cinta dengan pemuda berumur 19 yang bekerja di Mc Donald di dekat rumahku. Biarpun aku sudah rusak tetapi hubunganku dengan mama sangat baik. Dia yang mengajarkan aku bagaimana aku harus manjaga tubuhku, bagaimana caranya memuaskan pria dan sampai bagaiman untuk mengindari kehamilan. Aku sangat mencintai mamaku. Dia adalah idolaku. Aku tau bahwa semua yang dia lakukan demi aku, dan aku selalu berdoa agar mama mendapatkan cintanya yang abadi.
Suatu hari mama mengajakku untuk makan malam. Dia bilang kalau dia mendapat kunjungan. Aku pun senang, karena berharap kunjungan itu dari seorang pria. Dan tebakanku pun benar. Frank seorang dokter muda yang cakap, tinggi tegap, berambut coklat tua dan tidak botak. Dia terhitung tampan dibanding dokter-dokter yang kukenal. Dia sangat ramah dan baik hati. Aku sangat menyukai Frank, demikian pula mamaku. Setengah tahun kemudian mereka pun menikah, dan aku masih ingat aliran air mata kebahagiaan mama. Di saat itu aku merasa bahwa doaku terkabulkan.
Hidup kami berubah dengan kehadiran seorang pria di keluarga kami. Aku tidak perlu lagi mengganti lampu yang rusak, atau memperbaiki saluran air yang mampet. Bahkan tingkat ekonomi kami pun meningkat drastis. Kini kami tinggal di rumah Frank yang cukup besar dan mewah untuk kami. Bahkan di ulang tahunku yang ke 18 dia membelikan sebuah mobil baru yang sebelumnya hanya ada di mimpi-mimpiku. Tidak hanya itu, tapi bertambah seringnya erangan nikmat yang setiap malam kudengar. Wajah mama sangat berseri-seri setiap pagi begitu juga Frank. Sampai terjadinya suatu peristiwa.
Aku masih ingat sekali peristiwa malam hari itu, Jumat tanggal 25 agustus 2000. Mama sedang pergi bersama teman-temannya selama akhir minggu. Frank hari itu mendapat undangan pesta bujang seorang temannya yang hendak menikah keesokan harinya. Aku sebagai remaja menikmati akhir minggu di diskotik hingga larut malam. Sepulang dari disko aku merasa lelah dan mabuk. Setiba di rumah aku langsung berendam air hangat di bath up, sambil menikmati musik di tengah remang-remang nyala lilin.
Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka dengan cepat dan masuk Frank. Dia langsung menuju ke keran air dan membasahi kepalanya. Dia tidak sadar bahwa ada seorang gadis telanjang yang tergeletak di sebelahnya. Setelah dia agak tenang dia menegakkan kepalanya, dan dia menoleh ke arahku. Aku melihat adanya rasa kaget di matanya disamping rasa kagum. Dia hanya terdiam memaku memandangku. Ketika dia mencoba melangkah keluar aku pun memanggilnya, ”Frank kenapa kau tidak duduk di sini dan biarkan kita sedikit bercakap-cakap.”
Frank hanya diam sambil memunggungiku, kemudian dia pun kembali melangkah ke arahku dan duduk di tepi bath up.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba dia sudah bersamaku di bath up. Kami saling mengusap, saling membelai, saling mencium dan saling menggoda. Aku sadar bahwa alkohol mampunyai peranan penting di sini, tapi aku merasakan sensasi yang belum pernah aku alami. Getaran dan perasaan melayang yang belum pernah aku alami bersama puluhan pria lainnya. Frank dengan lembut menciumi tengkukku sambil dia mengangkat rambutku yang basah. Aku sangat menikmati jilatan lidahnya sambil mendesah nikmat. Frank berbisik, ”Nana, kau sangat cantik. Tubuhmu mengagumkan hmm,...” Aku hanya diam mendesah. Tanganku yang sudah terampil sudah mencari mangsa. Langsung kubelai penisnya yang sudah tegang. Aku pun berbalik menghadapnya dan langsung mulai menjilati dadanya yang bidang, lalu turun ke perut dan langsung ke tujuan utama. Aku jilat pelan-pelan, aku hisap ujungnya, bijinya dan kemudian aku memasukkan semua batang kejantanan ayah tiriku ke mulutku. Mungkin ini yang disebut kenikmatan oleh pria, karena didikan mamaku aku mengerti apa yang selalu diinginkan oleh seorang pria. Lidahku menari-nari menjilati penisnya. Saat itu aku hanya mendengar gerangan nikmat dari mulut Frank, sembari kubelai-belai pangkal pahanya. Tiba-tiba dia mencengkeram tanganku dan langsung mengangkatku ke atas dadanya. Bibirnya mencari bibirku, hingga akhirnya bibir kami bertautan, saling panggut dan saling gigit. Tangannya beraksi di vaginaku, mencari titik lemah wanita, dan ohhh,... inilah yang dinamakan profi. Dia sebagai dokter mengenal setiap titik kelemahan seorang wanita. Dia meletakkan tubuhku di bagian pinggir bath up dan mengangkat kedua pahaku ke arah bahunya. Dia mencari vaginaku dengan mulutnya dan lidahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya merasakan ringan, melayang dan betapa tubuhku bergetar hebat. Merasakan bahwa tubuhku bergetar tidak ada hentinya, frank pun berdiri, keluar dari bath up mengambil handuk dan mengangkat tubuhku serta melilit tubuhku dengan handuk. Setelah dia pun mengeringkan tubuhnya seadanya, dia mengangkat tubuhku menuju ke kamar tidurnya. Di ranjang di mana dia biasa bercinta dengan mamaku tubuhku diletakkan, dan handuk itu mulai dibuka pelan-pelan. Dasar Frank yang penuh selera humor, dia masih sempat bercanda, “ wuah seperti membuka kado natal saja rasanya!“ Aku pun sempat tertawa sebelum mulutku disumbat oleh mulutnya.
Dia meneruskan apa yang sudah dia mulai. Dia mulai menjilati buah dadaku. Setiap bagian tubuh yang sensitif dia jilati. Hingga dia sampai ke ujung kaki, dia menjilati setiap jari kakiku, telapak kakinya dan lalu membuka lebar selangkanganku. Dia maju ke depan pelan-pelan, agak merebahkan dirinya di dadaku, sambil mendengarkan napasku yang terengah-engah. Tangannya membelai rambutku yang masih basah. Tiba-tiba sesuatu yang keras menusuk bagian vaginaku, hanya ujungnya saja, dia melakukan dengan sangat lembut. Sambil menjilati dan menggigiti putingku dia berhasil memasukan seluruh penisnya ke vaginaku. Beberapa saat kemudian dia agak berdiri dan mengangkat kedua kakiku ke arah wajahnya sambil terus memompa. Aku merasakan hanya kenikmatan, mungkin dari segi ukuran penis dia tidak terlalu besar. Tapi bagiku ukuran tidak jadi soal, yang penting bagaimana cara dia untuk mempergunakannya. Frank sangat jago bercinta. Pada saat itu tidak banyak gaya yang kita coba. Karena kenikmatan yang kita peroleh ...
...lebih penting daripada eksperimen. Aku coba menikmati setiap detik yang kita lalu bersama.
Ada perasaan menyesal ketika semua itu berakhir, perasaan menyesal telah mengkhianati mama dan perasaan menyesal bahwa semua itu telah selesai. Ingin rasanya kami mulai dari awal lagi, menikmati setiap detik dan setiap sentuhan.
Frank hanya diam memelukku, membiarkan kepalaku di dadanya dan sembari mengecup-ngecup keningku dengan lembut.
Oh mama, malu rasanya ketika aku bertemu mama. Mama yang selalu sayang kepadaku, yang selalu perhatian akan diriku. Tapi di sisi lain aku merasa sangat cemburu bila melihat mama bermesra mesraan dengan Frank, perasaan benci melihat mama yang memeluk Frank. Aku selalu menangis apabila aku mendengar desahan mama di saat mereka bercinta di malam hari, aku selalu membuang muka apabila Frank pulang dari kerja dan membawakan mama setangkai rose.
Setelah kejadian malam itu, aku dan Franks selalu berusaha untuk mencari kesempatan untuk berduaan. Mama sering bertugas jaga malam, dan itu kesempatan kami untuk terus mengulanginya. Sering kami melakukannya di mobil, di gudang ataupun di teras belakang rumah. Sudah hampir 1,5 tahun kami saling sembunyi, tapi baru awal tahun 2002 yang lalu aku berani mengatakan cinta kepada Frank. Dia hanya merengek dan menangis. Dia tidak bisa melepaskan mama karena mama bagi Frank adalah sosok istri yang ideal. Sedangkan diriku membuat Frank merasa muda, bergairah dan bersemangat hidup kembali.
Kami berdua tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Haruskah kami bersandiwara seumur hidup? Atau haruskah kami merusak segala mimpi mama?
Di saat ini aku kembali bertanya, benarkah Tuhan sudah menjawab doaku?
Pengalaman mengerikan
Kejadian yang paling mengerikan, kisah ini terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan. Kurang lebih dua tahun yang lalu, saat masih duduk di semester kedua, di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, saya dikenalkan dengan seorang gadis yang sebut saja namanya Alia oleh sahabat saya Rika (bukan nama sebenarnya). Alia seorang gadis yang tinggi dan langsing.
Saat pertama berkenalan, saya memperkirakan tinggi badannya diatas 175 cm. Wajahnya mulus, menarik dengan matanya yang tajam dan bening serta bibirnya yang berwarna merah lembut, selalu tampak tersenyum. Tubuhnya cukup ideal menurut pendapat saya, dan saya sungguh terkesan dengan kecantikannya. Gaya bicaranya sopan, ramah, serta menyenangkan. Kalau sedang tertawa, Alia nampak cantik sekali (paling tidak menurut saya).
Alia berasal dari universitas yang berbeda dengan saya dan Rika. Namun begitu, kami menjadi teman dekat, bersama dengan seorang teman lainnya yang berasal dari smu yang sama dengan saya, yaitu Yuni (juga bukan nama sebenarnya). Kami berempat menjadi akrab. Ada baiknya saya juga menceritakan tentang Rika dan Yuni. Rika berparas cantik dan bersifat periang. Tidak terlalu tinggi, tapi paling tidak lebih tinggi dari saya, karena tinggi saya hanya 152 cm. Tubuhnya bagus dan menawan. Saya cukup iri dibuatnya. Sedangkan Yuni, walaupun tidak terlalu cantik, tapi dia baik hati serta berpendirian keras.
Alia sering berkata kepadaku, "Re, kamu mungil banget deh..! Bikin gue gemes..!"
Kalau sudah begitu, saya hanya tertawa.
Namun pernah suatu kali saya dibuat terkejut, karena dia pernah menggandeng lengan saya sambil berkata, "Re, kamu cakep deh... imut. Gue suka."
Waktu itu saya hanya tertegun saja menatap dia. Lebih lucunya, dia mencubit pipi saya dan kemudian mengelus rambut saya. Terus terang, saya mengagumi kecantikan Alia. Saat itu saya punya cowok. Tapi cowok saya itu orangnya kaku dan pendiam. Hubungan kami hanya begitu-begitu saja. Saya tidak tahu kenapa, tapi saat itu saya pun mulai menyukai Alia (saya biseks).
Suatu hari, kami menginap di rumah Alia. Kejadian mengerikan itu diawali dari sini. Kami berempat tidur di kamar Alia. Oh ya, Alia mengaku orang tuanya berada di luar negri, sehingga dia hanya tinggal sendirian. Malam harinya, saya merasa begitu mengantuk sehingga pulas. Yang mengejutkan, saya terbangun dengan tangan terikat ke belakang di sebuah gudang. Saya melihat Yuni dan Rika pun terikat tangannya. Saya heran dan sedikit takut. Tidak lama kemudian, Alia masuk diiringi oleh seorang cowok tinggi jangkung berkulit cukup gelap. Wajahnya kokoh dan nampak keras. Cukup tampan. Dia lebih tinggi dari Alia. Saya melihat Alia tersenyum aneh, membuat saya menggigil kecut.
Rika bertanya pada Alia, "Lia, apa-apaan sih kamu..? Jangan macem-macem ah..!"
Tetapi nampaknya Alia tidak mempedulikan pertanyaan kami, bahkan kemudian Alia berkata kepada cowok tersebut, "Di, kamu bisa mulai. Terserah kamu deh..!"
Saya kaget sekali mendengar perkataan Alia. Cowok tersebut (Dodi? Ardi? atau sebut saja Didi!) mengeluarkan pisau dari sakunya dan kemudian mulai beraksi. Dia merobek baju kami bertiga sehingga kami hanya tinggal mengenakan pakaian dalam. Kami tidak berani berontak karena takut dengan pisau yang dipegangnya. Kemudian Alia pun menanggalkan bajunya, sehingga dia pun hanya mengenakan pakaian dalam saja. Didi kemudian menanggalkan pula bajunya, sehingga dia hanya mengenakan celana dalamnya.
Saya bisa melihat kemaluan Didi menegang dibalik celana dalamnya. Selanjutnya, dia menyelipkan pisaunya di antara kedua susu saya dan kemudian merobek BH saya dengan pisau tersebut.
Dia sempat berkata kepada Alia, "Hmm... boleh juga temanmu ini Lia..!"
Kalian bisa bayangkan bagaimana takutnya saya saat itu. Untungnya, dia beralih kepada Rika dan Yuni, melakukan hal yang sama dengan merobek BH mereka, sehingga kedua susu mereka terbuka menggantung. Saat ini Yuni sedang berteriak menyumpahi Alia. Sementara saya lihat Rika diam saja dan nampak ketakutan, sama seperti saya.
Alia kemudian mengambil sebuah alat suntik dari saku bajunya yang telah berada di lantai dan saya dapat melihat alat suntik tersebut berisi cairan bening.
Sementara Didi asyik menciumi dan meraba-raba tubuh Rika yang telanjang dada, Alia datang menghampiri saya dan kemudian berkata lembut kepada saya, "Re, gue suntik ya..? Enak koq..!"
Walaupun saya merasa takut, tetapi mendengar suara Alia, hati terasa nyaman. Apakah saya memang menyukainya?
Alia kemudian menyuntik susu kiri saya dan saya dapat merasakan aliran cairan bening dari alat suntik tersebut memasuki jaringan pada susu kiri saya. Saya mengerang menahan rasa aneh yang muncul pada susu kiri saya tersebut. Dan kemudian Alia juga menyuntik susu kanan saya. Setelah itu, Alia memeluk saya dan mencium pipi saya. Dalam hati saya, saat itu terasa nyaman dan senang, sesaat menggantikan rasa takut saya. Alia selanjutnya juga menyuntik kedua susu milik Rika dan Yuni. Hanya saja, Alia tidak mencium mereka.
Setelah menyuntik kami, Alia membuka celana dalamnya sehingga tubuh Alia terlihat polos, telanjang bulat. Benar-benar cantik Alia saat itu. Sepasang susunya menggantung indah. Kemaluannya ditumbuhi rambut halus. Tubuhnya benar-benar proporsional. Didi juga menyusul membuka celana dalamnya, menampakkan kemaluannya yang sudah tegang. Saya takut juga melihatnya, karena baru kali itu saya melihat cowok telanjang secara langsung. Anehnya, tidak lama setelah itu saya merasakan kedua susu saya menjadi penuh, lebih berat, dan lubang susunya mengeluarkan cairan. Hal yang sama juga nampaknya dialami oleh Rika dan Yuni. Mungkin pengaruh dari obat yang disuntikkan oleh Alia.
Didi kemudian berjalan mendekati saya, sehingga membuat kaki saya gemetar ketakutan.
Untunglah dicegah oleh Alia, "Di, dia itu bagianku..! Kamu urus aja yang lain."
Entah mengapa, saya lega mendengar perkataan Alia tersebut. Alia kemudian mendekatiku, dan Didi kulihat mendekati Rika.
Kudengar Rika berteriak-teriak, namun Didi membentaknya, "Lo ngga usah ribut..! Ngga bakal ada yang denger..!"
Saya sendiri heran, sebenarnya dimanakah saat ini kami berada.
Sementara Yuni memaki-maki Alia dan Didi. Dalam hati saya merutuk, seharusnya dia merasa untung karena sementara ini tidak diapa-apakan.
Alia membelai rambut saya sambil berkata, "Kamu tau, Re? Kamu cakep deh... dari pertama kita ketemu, gue udah suka ama kamu. Kamu mungil banget. Dan gue bisa liat, rupanya bodi kamu lumayan juga..."
Alia kemudian melepaskan celana dalam saya secara paksa, walaupun saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memberikan perlawanan.
Kemudian Alia menggesek-gesekkan jari tangan kanannya ke kemaluan saya, membuat tubuh saya mengejang. Alia mencium bibir saya, dan saya bisa merasakan lidahnya beraksi. Tetapi saya tidak dapat melayaninya, karena selain saya sedang dalam ketakutan, juga saya belum pernah berciuman dengan siapapun. Jadilah aksi sepihak dari Alia. Mungkin karena kurang ...
...puas, Alia kemudian menggunakan tangan kirinya untuk meremas-remas susu saya, sementara mulutnya mulai mengulum puting susu saya yang satunya. Saya terlonjak dan merasakan tubuh saya panas. Alia menyedot cairan aneh yang keluar dari susu saya, sementara remasan tangannya membuat cairan aneh tersebut lebih terpompa keluar dari susu saya. Saya hanya bisa merintih karena saya pun mulai merasa senang.
Sementara saya bisa melihat Didi sedang mengemut susu kanan rika. Bayangkan! Seluruh susu kanan Rika masuk ke mulut Didi. Besar sekali mulut Didi! Mungkin Didi menyedot, mengulum, atau mengunyah. Saya bisa melihat Rika mengerang-erang kesakitan, karena Didi mencengkeram susu kirinya dengan kuat dan kasar, sehingga susu kiri Rika nampak mengembang di antara celah-celah jari Didi dengan cairan mengalir dari putingnya membasahi tangan Didi.
Sementara Alia memperlakukan saya dengan lebih lembut, justru Didi terlihat sangat menakutkan. Dia menarik dan memutar-mutar susu kanan Rika dengan mulutnya secara brutal, sementara tangannya mencengkeram dan meremas-remas susu kiri Rika dengan kasar. Dan dengan kasar pula dia melepaskan celana dalam Rika, sehingga kulit Rika tampak memerah.
Saat itu, Alia mulai menyusuri tubuh saya dengan lidahnya, sehingga saya merasakan geli dan juga senang. Saat itu, rasa takut saya lenyap. Alia kemudian menjilati kemaluan saya sehingga saya terduduk lemas. Enak sekali rasanya. kemaluan saya saat itu sudah basah. Alia menjilat dan mengemut dengan luar biasa (paling tidak menurutku), sehingga saya setengah sadar dibuatnya. Dan saat itulah Alia menghilangkan keperawanan saya dengan memasukkan dua jarinya ke lubang kemaluan saya. Saya merasakan sedikit sakit pada kemaluan saya, dan saya bisa melihat darah mengalir dari situ.
Alia menghentikan aksinya, dan berkata kepada saya sambil tersenyum, "Wah... kamu masih perawan ya, Re..?"
Saya hanya diam saja. Saya mengalihkan pandangan saya untuk melihat Rika, dan saya melihat bagaimana Didi masih mengulum seluruh susu Rika dengan mulutnya. Dan kemudian dia melepaskan susu Rika dari mulutnya, sehingga saya melihat susu kanan Rika basah dan berwarna merah akibat disedot oleh Didi. Kontras dengan kulitnya. Kemudian saya lihat Didi memegang kemaluannya untuk diarahkan ke lubang kemaluan Rika. Rika berusaha meronta-ronta dan berteriak, namun dengan kasar Didi menjebol kemaluan Rika, sehingga saya mendengar Rika memekik pendek dan keras.
Lalu saya melihat Didi menggenjot tubuh Rika sehingga Rika terpekik jerit, mungkin karena kemaluannya masih kering. Tiba-tiba saja pandangan saya terhalang sesuatu, dan kemudian benda tersebut menempel di wajah saya. Lunak dan kenyal rasanya.
Kemudian saya mendengar suara Alia, "Re, isep punya gue dong... please..!"
Entah kenapa saat itu saya menurut saja. Saya mengemut dan meremas-remas susu Alia. Sementara saya merasakan tangan Alia mencengkeram kedua susu saya dan mulai memainkan susu saya dengan meremas-remas dan memutar serta menjepit puting susu saya dengan jarinya. Sekali-sekali puting saya dicubitnya dengan lembut. Saya menjadi lepas kendali karena sensasi yang luar biasa itu.
Saya bisa merasakan jari tangan Alia kemudian memasuki lubang kemaluan saya keluar masuk, sehingga membuat saya semakin bernafsu. Saya semakin kuat menyedot susu Alia, sehingga terdengar desahan-desahan kenikmatan dari Alia. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh jeritan Rika. Saya tersadar dari kenikmatan, dan saya melihat sebuah pemandangan yang paling mengerikan yang pernah saya lihat. Didi ternyata kembali memasukkan susu Rika ke dalam mulutnya, sementara tangan kirinya mencengkeram susu Rika yang lain. Namun apa yang diperbuat Didi..? Dia mengunyah susu rika..!
Ya..! Terdengar bunyi daging dikunyah, dan Didi benar-benar mengunyah susu Rika untuk dimakan. Didi mencincang dan mencabik susu Rika dengan mulutnya. Ukh... tidak sanggup saya melihatnya. Saat itu roh saya serasa terbang. Yuni pun nampak tidak percaya dengan penglihatannya. Hanya Alia tampak tenang-tenang saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Selanjutnya tangan kiri Didi berusaha membetot susu Rika yang lain. Dan kemudian Didi benar-benar mencabik-cabik susu Rika dengan tangannya. Didi pastilah seorang psikopat seks.
Saat itu saya merasa muak dan mual, sehingga saya tidak bereaksi, meskipun Alia sedang bermain dengan tubuh saya. Dan entah bagaimana caranya, Yuni berhasil membuka ikatan tangannya dan kemudian menendang kemaluan Didi sehingga cowok itu tersungkur sementara Alia terkejut atas kejadian yang tiba-tiba itu. Kemudian Yuni menendang kepala Alia dengan keras, sehingga Alia roboh terguling. Yuni kemudian mengambil pakaian yang tergeletak seadanya, membuka pintu dan mengajak saya lari sejauh jauhnya dari tempat tersebut.
Saya begitu ketakutan, sehingga yang ada dipikiran saya hanya kabur sejauh mungkin. Antara sadar dan tidak, kami mencari kantor polisi dan melaporkan kejadian tersebut. Sayangnya, polisi bergerak lambat, sehingga kabarnya Alia dan Didi, juga Rika menghilang. Entah kemana, saya juga tidak tahu. Namun, saya tetap terkenang pada Alia. Gayanya, suaranya, dan wajahnya. Walaupun setelah kejadian tersebut, saya tetap merasa kehilangan. Saya memang menyukainya. Benar-benar menyukainya. Alia, i love you.
TAMAT
Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diriku. Mamaku ditinggal oleh papaku sejak aku kecil. Papa asliku adalah serdadu Amerika yang dahulu bertugas di Jerman. Di situlah mereka bertemu (mama adalah suster di pangkalan mereka) hingga aku lahir dan setahun kemudian papa pergi entah kemana. Aku besar di sebuah kota kecil di Perancis selatan dan 5 tahun yang lalu mama dan aku kembali ke Jerman.
Sejak ditinggalkan oleh papa, mama sering berganti ganti pasangan, karena dari dirinya merindukan belain kasih sayang dari seorang pria. Tidak jarang aku mendapati mama sedang bercinta di sofa di ruang tamu dengan pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Hal itu pulalah yang membuatku dewasa belum pada saatnya. Aku kehilangan keperawananku pada umur 13 karena aku jatuh cinta dengan pemuda berumur 19 yang bekerja di Mc Donald di dekat rumahku. Biarpun aku sudah rusak tetapi hubunganku dengan mama sangat baik. Dia yang mengajarkan aku bagaimana aku harus manjaga tubuhku, bagaimana caranya memuaskan pria dan sampai bagaiman untuk mengindari kehamilan. Aku sangat mencintai mamaku. Dia adalah idolaku. Aku tau bahwa semua yang dia lakukan demi aku, dan aku selalu berdoa agar mama mendapatkan cintanya yang abadi.
Suatu hari mama mengajakku untuk makan malam. Dia bilang kalau dia mendapat kunjungan. Aku pun senang, karena berharap kunjungan itu dari seorang pria. Dan tebakanku pun benar. Frank seorang dokter muda yang cakap, tinggi tegap, berambut coklat tua dan tidak botak. Dia terhitung tampan dibanding dokter-dokter yang kukenal. Dia sangat ramah dan baik hati. Aku sangat menyukai Frank, demikian pula mamaku. Setengah tahun kemudian mereka pun menikah, dan aku masih ingat aliran air mata kebahagiaan mama. Di saat itu aku merasa bahwa doaku terkabulkan.
Hidup kami berubah dengan kehadiran seorang pria di keluarga kami. Aku tidak perlu lagi mengganti lampu yang rusak, atau memperbaiki saluran air yang mampet. Bahkan tingkat ekonomi kami pun meningkat drastis. Kini kami tinggal di rumah Frank yang cukup besar dan mewah untuk kami. Bahkan di ulang tahunku yang ke 18 dia membelikan sebuah mobil baru yang sebelumnya hanya ada di mimpi-mimpiku. Tidak hanya itu, tapi bertambah seringnya erangan nikmat yang setiap malam kudengar. Wajah mama sangat berseri-seri setiap pagi begitu juga Frank. Sampai terjadinya suatu peristiwa.
Aku masih ingat sekali peristiwa malam hari itu, Jumat tanggal 25 agustus 2000. Mama sedang pergi bersama teman-temannya selama akhir minggu. Frank hari itu mendapat undangan pesta bujang seorang temannya yang hendak menikah keesokan harinya. Aku sebagai remaja menikmati akhir minggu di diskotik hingga larut malam. Sepulang dari disko aku merasa lelah dan mabuk. Setiba di rumah aku langsung berendam air hangat di bath up, sambil menikmati musik di tengah remang-remang nyala lilin.
Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka dengan cepat dan masuk Frank. Dia langsung menuju ke keran air dan membasahi kepalanya. Dia tidak sadar bahwa ada seorang gadis telanjang yang tergeletak di sebelahnya. Setelah dia agak tenang dia menegakkan kepalanya, dan dia menoleh ke arahku. Aku melihat adanya rasa kaget di matanya disamping rasa kagum. Dia hanya terdiam memaku memandangku. Ketika dia mencoba melangkah keluar aku pun memanggilnya, ”Frank kenapa kau tidak duduk di sini dan biarkan kita sedikit bercakap-cakap.”
Frank hanya diam sambil memunggungiku, kemudian dia pun kembali melangkah ke arahku dan duduk di tepi bath up.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba dia sudah bersamaku di bath up. Kami saling mengusap, saling membelai, saling mencium dan saling menggoda. Aku sadar bahwa alkohol mampunyai peranan penting di sini, tapi aku merasakan sensasi yang belum pernah aku alami. Getaran dan perasaan melayang yang belum pernah aku alami bersama puluhan pria lainnya. Frank dengan lembut menciumi tengkukku sambil dia mengangkat rambutku yang basah. Aku sangat menikmati jilatan lidahnya sambil mendesah nikmat. Frank berbisik, ”Nana, kau sangat cantik. Tubuhmu mengagumkan hmm,...” Aku hanya diam mendesah. Tanganku yang sudah terampil sudah mencari mangsa. Langsung kubelai penisnya yang sudah tegang. Aku pun berbalik menghadapnya dan langsung mulai menjilati dadanya yang bidang, lalu turun ke perut dan langsung ke tujuan utama. Aku jilat pelan-pelan, aku hisap ujungnya, bijinya dan kemudian aku memasukkan semua batang kejantanan ayah tiriku ke mulutku. Mungkin ini yang disebut kenikmatan oleh pria, karena didikan mamaku aku mengerti apa yang selalu diinginkan oleh seorang pria. Lidahku menari-nari menjilati penisnya. Saat itu aku hanya mendengar gerangan nikmat dari mulut Frank, sembari kubelai-belai pangkal pahanya. Tiba-tiba dia mencengkeram tanganku dan langsung mengangkatku ke atas dadanya. Bibirnya mencari bibirku, hingga akhirnya bibir kami bertautan, saling panggut dan saling gigit. Tangannya beraksi di vaginaku, mencari titik lemah wanita, dan ohhh,... inilah yang dinamakan profi. Dia sebagai dokter mengenal setiap titik kelemahan seorang wanita. Dia meletakkan tubuhku di bagian pinggir bath up dan mengangkat kedua pahaku ke arah bahunya. Dia mencari vaginaku dengan mulutnya dan lidahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya merasakan ringan, melayang dan betapa tubuhku bergetar hebat. Merasakan bahwa tubuhku bergetar tidak ada hentinya, frank pun berdiri, keluar dari bath up mengambil handuk dan mengangkat tubuhku serta melilit tubuhku dengan handuk. Setelah dia pun mengeringkan tubuhnya seadanya, dia mengangkat tubuhku menuju ke kamar tidurnya. Di ranjang di mana dia biasa bercinta dengan mamaku tubuhku diletakkan, dan handuk itu mulai dibuka pelan-pelan. Dasar Frank yang penuh selera humor, dia masih sempat bercanda, “ wuah seperti membuka kado natal saja rasanya!“ Aku pun sempat tertawa sebelum mulutku disumbat oleh mulutnya.
Dia meneruskan apa yang sudah dia mulai. Dia mulai menjilati buah dadaku. Setiap bagian tubuh yang sensitif dia jilati. Hingga dia sampai ke ujung kaki, dia menjilati setiap jari kakiku, telapak kakinya dan lalu membuka lebar selangkanganku. Dia maju ke depan pelan-pelan, agak merebahkan dirinya di dadaku, sambil mendengarkan napasku yang terengah-engah. Tangannya membelai rambutku yang masih basah. Tiba-tiba sesuatu yang keras menusuk bagian vaginaku, hanya ujungnya saja, dia melakukan dengan sangat lembut. Sambil menjilati dan menggigiti putingku dia berhasil memasukan seluruh penisnya ke vaginaku. Beberapa saat kemudian dia agak berdiri dan mengangkat kedua kakiku ke arah wajahnya sambil terus memompa. Aku merasakan hanya kenikmatan, mungkin dari segi ukuran penis dia tidak terlalu besar. Tapi bagiku ukuran tidak jadi soal, yang penting bagaimana cara dia untuk mempergunakannya. Frank sangat jago bercinta. Pada saat itu tidak banyak gaya yang kita coba. Karena kenikmatan yang kita peroleh ...
...lebih penting daripada eksperimen. Aku coba menikmati setiap detik yang kita lalu bersama.
Ada perasaan menyesal ketika semua itu berakhir, perasaan menyesal telah mengkhianati mama dan perasaan menyesal bahwa semua itu telah selesai. Ingin rasanya kami mulai dari awal lagi, menikmati setiap detik dan setiap sentuhan.
Frank hanya diam memelukku, membiarkan kepalaku di dadanya dan sembari mengecup-ngecup keningku dengan lembut.
Oh mama, malu rasanya ketika aku bertemu mama. Mama yang selalu sayang kepadaku, yang selalu perhatian akan diriku. Tapi di sisi lain aku merasa sangat cemburu bila melihat mama bermesra mesraan dengan Frank, perasaan benci melihat mama yang memeluk Frank. Aku selalu menangis apabila aku mendengar desahan mama di saat mereka bercinta di malam hari, aku selalu membuang muka apabila Frank pulang dari kerja dan membawakan mama setangkai rose.
Setelah kejadian malam itu, aku dan Franks selalu berusaha untuk mencari kesempatan untuk berduaan. Mama sering bertugas jaga malam, dan itu kesempatan kami untuk terus mengulanginya. Sering kami melakukannya di mobil, di gudang ataupun di teras belakang rumah. Sudah hampir 1,5 tahun kami saling sembunyi, tapi baru awal tahun 2002 yang lalu aku berani mengatakan cinta kepada Frank. Dia hanya merengek dan menangis. Dia tidak bisa melepaskan mama karena mama bagi Frank adalah sosok istri yang ideal. Sedangkan diriku membuat Frank merasa muda, bergairah dan bersemangat hidup kembali.
Kami berdua tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Haruskah kami bersandiwara seumur hidup? Atau haruskah kami merusak segala mimpi mama?
Di saat ini aku kembali bertanya, benarkah Tuhan sudah menjawab doaku?
Pengalaman mengerikan
Kejadian yang paling mengerikan, kisah ini terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan. Kurang lebih dua tahun yang lalu, saat masih duduk di semester kedua, di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, saya dikenalkan dengan seorang gadis yang sebut saja namanya Alia oleh sahabat saya Rika (bukan nama sebenarnya). Alia seorang gadis yang tinggi dan langsing.
Saat pertama berkenalan, saya memperkirakan tinggi badannya diatas 175 cm. Wajahnya mulus, menarik dengan matanya yang tajam dan bening serta bibirnya yang berwarna merah lembut, selalu tampak tersenyum. Tubuhnya cukup ideal menurut pendapat saya, dan saya sungguh terkesan dengan kecantikannya. Gaya bicaranya sopan, ramah, serta menyenangkan. Kalau sedang tertawa, Alia nampak cantik sekali (paling tidak menurut saya).
Alia berasal dari universitas yang berbeda dengan saya dan Rika. Namun begitu, kami menjadi teman dekat, bersama dengan seorang teman lainnya yang berasal dari smu yang sama dengan saya, yaitu Yuni (juga bukan nama sebenarnya). Kami berempat menjadi akrab. Ada baiknya saya juga menceritakan tentang Rika dan Yuni. Rika berparas cantik dan bersifat periang. Tidak terlalu tinggi, tapi paling tidak lebih tinggi dari saya, karena tinggi saya hanya 152 cm. Tubuhnya bagus dan menawan. Saya cukup iri dibuatnya. Sedangkan Yuni, walaupun tidak terlalu cantik, tapi dia baik hati serta berpendirian keras.
Alia sering berkata kepadaku, "Re, kamu mungil banget deh..! Bikin gue gemes..!"
Kalau sudah begitu, saya hanya tertawa.
Namun pernah suatu kali saya dibuat terkejut, karena dia pernah menggandeng lengan saya sambil berkata, "Re, kamu cakep deh... imut. Gue suka."
Waktu itu saya hanya tertegun saja menatap dia. Lebih lucunya, dia mencubit pipi saya dan kemudian mengelus rambut saya. Terus terang, saya mengagumi kecantikan Alia. Saat itu saya punya cowok. Tapi cowok saya itu orangnya kaku dan pendiam. Hubungan kami hanya begitu-begitu saja. Saya tidak tahu kenapa, tapi saat itu saya pun mulai menyukai Alia (saya biseks).
Suatu hari, kami menginap di rumah Alia. Kejadian mengerikan itu diawali dari sini. Kami berempat tidur di kamar Alia. Oh ya, Alia mengaku orang tuanya berada di luar negri, sehingga dia hanya tinggal sendirian. Malam harinya, saya merasa begitu mengantuk sehingga pulas. Yang mengejutkan, saya terbangun dengan tangan terikat ke belakang di sebuah gudang. Saya melihat Yuni dan Rika pun terikat tangannya. Saya heran dan sedikit takut. Tidak lama kemudian, Alia masuk diiringi oleh seorang cowok tinggi jangkung berkulit cukup gelap. Wajahnya kokoh dan nampak keras. Cukup tampan. Dia lebih tinggi dari Alia. Saya melihat Alia tersenyum aneh, membuat saya menggigil kecut.
Rika bertanya pada Alia, "Lia, apa-apaan sih kamu..? Jangan macem-macem ah..!"
Tetapi nampaknya Alia tidak mempedulikan pertanyaan kami, bahkan kemudian Alia berkata kepada cowok tersebut, "Di, kamu bisa mulai. Terserah kamu deh..!"
Saya kaget sekali mendengar perkataan Alia. Cowok tersebut (Dodi? Ardi? atau sebut saja Didi!) mengeluarkan pisau dari sakunya dan kemudian mulai beraksi. Dia merobek baju kami bertiga sehingga kami hanya tinggal mengenakan pakaian dalam. Kami tidak berani berontak karena takut dengan pisau yang dipegangnya. Kemudian Alia pun menanggalkan bajunya, sehingga dia pun hanya mengenakan pakaian dalam saja. Didi kemudian menanggalkan pula bajunya, sehingga dia hanya mengenakan celana dalamnya.
Saya bisa melihat kemaluan Didi menegang dibalik celana dalamnya. Selanjutnya, dia menyelipkan pisaunya di antara kedua susu saya dan kemudian merobek BH saya dengan pisau tersebut.
Dia sempat berkata kepada Alia, "Hmm... boleh juga temanmu ini Lia..!"
Kalian bisa bayangkan bagaimana takutnya saya saat itu. Untungnya, dia beralih kepada Rika dan Yuni, melakukan hal yang sama dengan merobek BH mereka, sehingga kedua susu mereka terbuka menggantung. Saat ini Yuni sedang berteriak menyumpahi Alia. Sementara saya lihat Rika diam saja dan nampak ketakutan, sama seperti saya.
Alia kemudian mengambil sebuah alat suntik dari saku bajunya yang telah berada di lantai dan saya dapat melihat alat suntik tersebut berisi cairan bening.
Sementara Didi asyik menciumi dan meraba-raba tubuh Rika yang telanjang dada, Alia datang menghampiri saya dan kemudian berkata lembut kepada saya, "Re, gue suntik ya..? Enak koq..!"
Walaupun saya merasa takut, tetapi mendengar suara Alia, hati terasa nyaman. Apakah saya memang menyukainya?
Alia kemudian menyuntik susu kiri saya dan saya dapat merasakan aliran cairan bening dari alat suntik tersebut memasuki jaringan pada susu kiri saya. Saya mengerang menahan rasa aneh yang muncul pada susu kiri saya tersebut. Dan kemudian Alia juga menyuntik susu kanan saya. Setelah itu, Alia memeluk saya dan mencium pipi saya. Dalam hati saya, saat itu terasa nyaman dan senang, sesaat menggantikan rasa takut saya. Alia selanjutnya juga menyuntik kedua susu milik Rika dan Yuni. Hanya saja, Alia tidak mencium mereka.
Setelah menyuntik kami, Alia membuka celana dalamnya sehingga tubuh Alia terlihat polos, telanjang bulat. Benar-benar cantik Alia saat itu. Sepasang susunya menggantung indah. Kemaluannya ditumbuhi rambut halus. Tubuhnya benar-benar proporsional. Didi juga menyusul membuka celana dalamnya, menampakkan kemaluannya yang sudah tegang. Saya takut juga melihatnya, karena baru kali itu saya melihat cowok telanjang secara langsung. Anehnya, tidak lama setelah itu saya merasakan kedua susu saya menjadi penuh, lebih berat, dan lubang susunya mengeluarkan cairan. Hal yang sama juga nampaknya dialami oleh Rika dan Yuni. Mungkin pengaruh dari obat yang disuntikkan oleh Alia.
Didi kemudian berjalan mendekati saya, sehingga membuat kaki saya gemetar ketakutan.
Untunglah dicegah oleh Alia, "Di, dia itu bagianku..! Kamu urus aja yang lain."
Entah mengapa, saya lega mendengar perkataan Alia tersebut. Alia kemudian mendekatiku, dan Didi kulihat mendekati Rika.
Kudengar Rika berteriak-teriak, namun Didi membentaknya, "Lo ngga usah ribut..! Ngga bakal ada yang denger..!"
Saya sendiri heran, sebenarnya dimanakah saat ini kami berada.
Sementara Yuni memaki-maki Alia dan Didi. Dalam hati saya merutuk, seharusnya dia merasa untung karena sementara ini tidak diapa-apakan.
Alia membelai rambut saya sambil berkata, "Kamu tau, Re? Kamu cakep deh... dari pertama kita ketemu, gue udah suka ama kamu. Kamu mungil banget. Dan gue bisa liat, rupanya bodi kamu lumayan juga..."
Alia kemudian melepaskan celana dalam saya secara paksa, walaupun saya sendiri sebenarnya tidak terlalu memberikan perlawanan.
Kemudian Alia menggesek-gesekkan jari tangan kanannya ke kemaluan saya, membuat tubuh saya mengejang. Alia mencium bibir saya, dan saya bisa merasakan lidahnya beraksi. Tetapi saya tidak dapat melayaninya, karena selain saya sedang dalam ketakutan, juga saya belum pernah berciuman dengan siapapun. Jadilah aksi sepihak dari Alia. Mungkin karena kurang ...
...puas, Alia kemudian menggunakan tangan kirinya untuk meremas-remas susu saya, sementara mulutnya mulai mengulum puting susu saya yang satunya. Saya terlonjak dan merasakan tubuh saya panas. Alia menyedot cairan aneh yang keluar dari susu saya, sementara remasan tangannya membuat cairan aneh tersebut lebih terpompa keluar dari susu saya. Saya hanya bisa merintih karena saya pun mulai merasa senang.
Sementara saya bisa melihat Didi sedang mengemut susu kanan rika. Bayangkan! Seluruh susu kanan Rika masuk ke mulut Didi. Besar sekali mulut Didi! Mungkin Didi menyedot, mengulum, atau mengunyah. Saya bisa melihat Rika mengerang-erang kesakitan, karena Didi mencengkeram susu kirinya dengan kuat dan kasar, sehingga susu kiri Rika nampak mengembang di antara celah-celah jari Didi dengan cairan mengalir dari putingnya membasahi tangan Didi.
Sementara Alia memperlakukan saya dengan lebih lembut, justru Didi terlihat sangat menakutkan. Dia menarik dan memutar-mutar susu kanan Rika dengan mulutnya secara brutal, sementara tangannya mencengkeram dan meremas-remas susu kiri Rika dengan kasar. Dan dengan kasar pula dia melepaskan celana dalam Rika, sehingga kulit Rika tampak memerah.
Saat itu, Alia mulai menyusuri tubuh saya dengan lidahnya, sehingga saya merasakan geli dan juga senang. Saat itu, rasa takut saya lenyap. Alia kemudian menjilati kemaluan saya sehingga saya terduduk lemas. Enak sekali rasanya. kemaluan saya saat itu sudah basah. Alia menjilat dan mengemut dengan luar biasa (paling tidak menurutku), sehingga saya setengah sadar dibuatnya. Dan saat itulah Alia menghilangkan keperawanan saya dengan memasukkan dua jarinya ke lubang kemaluan saya. Saya merasakan sedikit sakit pada kemaluan saya, dan saya bisa melihat darah mengalir dari situ.
Alia menghentikan aksinya, dan berkata kepada saya sambil tersenyum, "Wah... kamu masih perawan ya, Re..?"
Saya hanya diam saja. Saya mengalihkan pandangan saya untuk melihat Rika, dan saya melihat bagaimana Didi masih mengulum seluruh susu Rika dengan mulutnya. Dan kemudian dia melepaskan susu Rika dari mulutnya, sehingga saya melihat susu kanan Rika basah dan berwarna merah akibat disedot oleh Didi. Kontras dengan kulitnya. Kemudian saya lihat Didi memegang kemaluannya untuk diarahkan ke lubang kemaluan Rika. Rika berusaha meronta-ronta dan berteriak, namun dengan kasar Didi menjebol kemaluan Rika, sehingga saya mendengar Rika memekik pendek dan keras.
Lalu saya melihat Didi menggenjot tubuh Rika sehingga Rika terpekik jerit, mungkin karena kemaluannya masih kering. Tiba-tiba saja pandangan saya terhalang sesuatu, dan kemudian benda tersebut menempel di wajah saya. Lunak dan kenyal rasanya.
Kemudian saya mendengar suara Alia, "Re, isep punya gue dong... please..!"
Entah kenapa saat itu saya menurut saja. Saya mengemut dan meremas-remas susu Alia. Sementara saya merasakan tangan Alia mencengkeram kedua susu saya dan mulai memainkan susu saya dengan meremas-remas dan memutar serta menjepit puting susu saya dengan jarinya. Sekali-sekali puting saya dicubitnya dengan lembut. Saya menjadi lepas kendali karena sensasi yang luar biasa itu.
Saya bisa merasakan jari tangan Alia kemudian memasuki lubang kemaluan saya keluar masuk, sehingga membuat saya semakin bernafsu. Saya semakin kuat menyedot susu Alia, sehingga terdengar desahan-desahan kenikmatan dari Alia. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh jeritan Rika. Saya tersadar dari kenikmatan, dan saya melihat sebuah pemandangan yang paling mengerikan yang pernah saya lihat. Didi ternyata kembali memasukkan susu Rika ke dalam mulutnya, sementara tangan kirinya mencengkeram susu Rika yang lain. Namun apa yang diperbuat Didi..? Dia mengunyah susu rika..!
Ya..! Terdengar bunyi daging dikunyah, dan Didi benar-benar mengunyah susu Rika untuk dimakan. Didi mencincang dan mencabik susu Rika dengan mulutnya. Ukh... tidak sanggup saya melihatnya. Saat itu roh saya serasa terbang. Yuni pun nampak tidak percaya dengan penglihatannya. Hanya Alia tampak tenang-tenang saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Selanjutnya tangan kiri Didi berusaha membetot susu Rika yang lain. Dan kemudian Didi benar-benar mencabik-cabik susu Rika dengan tangannya. Didi pastilah seorang psikopat seks.
Saat itu saya merasa muak dan mual, sehingga saya tidak bereaksi, meskipun Alia sedang bermain dengan tubuh saya. Dan entah bagaimana caranya, Yuni berhasil membuka ikatan tangannya dan kemudian menendang kemaluan Didi sehingga cowok itu tersungkur sementara Alia terkejut atas kejadian yang tiba-tiba itu. Kemudian Yuni menendang kepala Alia dengan keras, sehingga Alia roboh terguling. Yuni kemudian mengambil pakaian yang tergeletak seadanya, membuka pintu dan mengajak saya lari sejauh jauhnya dari tempat tersebut.
Saya begitu ketakutan, sehingga yang ada dipikiran saya hanya kabur sejauh mungkin. Antara sadar dan tidak, kami mencari kantor polisi dan melaporkan kejadian tersebut. Sayangnya, polisi bergerak lambat, sehingga kabarnya Alia dan Didi, juga Rika menghilang. Entah kemana, saya juga tidak tahu. Namun, saya tetap terkenang pada Alia. Gayanya, suaranya, dan wajahnya. Walaupun setelah kejadian tersebut, saya tetap merasa kehilangan. Saya memang menyukainya. Benar-benar menyukainya. Alia, i love you.
TAMAT
















Tidak ada komentar:
Poskan Komentar